Benarkah Tarawikh itu Bid’ah?

Benarkah Shalat Tarawih Berjamaah adalah Bid’ah?

Allah SWT berfirmah kepada Rasulullah SAWW:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Aali Imran: 31)

Dan perintah Allah kepada umat Muhammad:

“…apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr: 7)

Dan firman Allah:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata” (QS Al-Ahzab: 36).

Yang sering dijadikan Dalil sebagai Sunnahnya Shalat Tarawih adalah hadis riwayat Abu Hurairah RA salah satunya dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Shalat Fi Ramadhan Bab Targhib Fi Shalat Fi Ramadhan hadis no. 249 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمر بعزيمة فيقول من قام رمضان إيمانا وإحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه : قال بن شهاب فتوفي رسول الله صلى الله عليه و سلم والأمر على ذلك ثم كان الأمر على ذلك في خلافة أبي بكر وصدرا من خلافة عمر بن الخطاب

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW mendesak orang-orang agar melaksanakan shalat di malam hari di bulan Ramadhan, tapi Beliau tidak pernah memerintahkannya secara tegas. Beliau berkata: “Barang siapa shalat di malam bulan Ramadhan dengan kesungguhan iman dan harapan maka seluruh dosanya yang telah lalu akan diampuni”.

Ibnu Shihab Al Zuhri (salah satu perawi hadis ini) berkata: “Rasulullah SAW wafat ketika hal di atas masih menjadi kebiasaan dan berlanjut pada pemerintahan Abu Bakar dan permulaan pemerintahan Umar bin Khattab”.

Anda lihat sendiri tidak ada disebutkan yang namanya shalat tarawih tapi yang ada itu shalat malam. Dalam hal ini shalat malam yang dimaksud tidaklah berbeda dengan shalat-shalat malam di bulan-bulan lain hanya saja Rasulullah SAW sangat menganjurkannya di bulan Ramadhan. Jika anda melihat seseorang mengutip hadis secara terjemahan dengan kata-kata tarawih maka anda punya alasan kuat untuk meragukannya. Kerana kata sebenarnya dalam bahasa arab adalah Qiyam. Kata itulah yang diartikan secara bebas sebagai tarawih dalam terjemahannya.

******

Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah SAWW pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadis Rasul –baik dalam kitab standart Ahlusunnah maupun Syiah- yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah.

Bahkan dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berkumpul dengan pelaku bid’ahpun dilarang, apalagi melakukan bid’ah. Hal itu karena imbas dari ajaran Islam yang mengajarkan ajaran tauhid, termasuk tauhid dalam penentuan hukum agama. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun dilarang untuk membikin-bikin hukum agama. Beliau hanya berhak menyampaikan hukum Allah saja, tanpa diperkenankan untuk menambahi maupun menguranginya. Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah tauhid penentuan hukum yang menjadi hak preogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menegok kembali hukum ‘Shalat Tarawih’ di bulan suci Ramadhan yang seringnya dilakukan secara berjamaah oleh kebanyakan kaum muslimin. Apakah Rasul pernah mencontohkannya ataukah tidak? Siapa pertama kali yang mempelopori pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan dengan alasan apa? Jika Rasul tidak pernah mencontohkannya –bahkan memerintahkan untuk shalat sendiri-sendiri- maka pelaksanaannya secara berjamaah apakah tidak termasuk kategori bid’ah, sedang Rasul dalam hadisnya perbah bersabda: “Setiap Bid’ah adalah sesat” (kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘buruk/sesat’ (dhalalah)?

Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa; Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada. Ketiga: Atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hazihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan; Bolehkan seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut?

Kini kita lihat pengakuan beberapa ulama Ahlusunnah tentang hakekat hukum shalat tarawih berjamaah itu sendiri. Di sini kita akan mengambil beberapa contoh dari pribadi-pribadi tersebut. Ibn Hajar Al-Qosthalani dalam mensyarahi ungkapan Umar (“Ini adalah sebaik-baik bid’ah”) dalam kitab Shahih Bukhari tadi mengatakan: “Ia mengakui bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul tidak pernah memrintahkanya sehingga shalat sunah di malam Ramadhan harus dilakukan secara berjamaah. Pada zaman Abu Bakar pun tidak pernah ada hal semacam itu.

Begitu pula tidak pernah ada pada malam pertama Ramadhan (di malam hari keluarnya perintah Umar tadi. red). Juga dalam kaitannya dengan jumlah rakaat (shalat tarawih) yang tidak memiliki asal” (Irsyad as-Sari jilid 5 halaman 4). Ungkapan dan penjelasan semacam ini juga dapat kita temukan dalam kitab Fathul Bari, Umdah al-Qori dan beberapa kitab lain yang dikarya untuk mensyarahi Shahih Bukhari. As-Suyuthi dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’” menjelaskan bahwa, pertama kali yang memerintahkan untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah Umar bin Khatab.

Ini pula yang diungkapkan oleh Abu Walid Muhammad bin Syuhnah dalam mengisahkan kejadian tahun 23 H. Sebagaimana juga diakui oleh Muhammad bin Saad sebagaimana yang tercantum dalam jilid ketiga kitab “at-Tabaqat” sewaktu menyebut nama Umar bin Khatab. Juga yang dinyatakan oleh Ibnu Abdul Bar dalam kitab “al-Isti’ab” sewaktu mensyarahi pribadi Umar bin Khatab. Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ibadah yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah.

Sementara, dalam hadis-hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah dengan keras melarang umatnya untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: “Hendaknya atas kalian untuk melakukan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat fardhu (wajib)” (Shohih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi jilid 6 halaman 39, atau pada kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Dengan menggabungkan empat argumen di atas tadi –(1) perintah mengikuti Rasul sehingga mendapat ridho Allah, (2) larangan melakukan bid’ah, (3) shalat tarawih tidak dicontohkan Rasul yang mensicayakan bid’ah dalam peribadatan dan (4) perintah Rasul untuk melakukan shalat sunah di rumah, secara sendiri-sendiri- maka banyak dari ulama Ahlusunnah sendiri yang mereka melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing, tidak berjamaah di masjid ataupun mushalla.

Malah dalam kitab “al-Mushannaf” disebutkan, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa; “Ibnu Umar tidak pernah melakukan shalat tarawih berjamaah”. Dan dalam kitab yang sama, Mujahid mengatakan: “Pernah seseorang datang kepada Ibnu Umar dan bertanya: “Pada bulan Ramadhan, apakah shalat tarawih kita lakukan dengan berjamaah?” Ibnu Umar berkata: “Apakah kamu bisa membaca al-Quran?” Ia (penanya tadi) menjawab: “Ya!?” lantas Ibnu Umar berkata: Lakukan shalat tarawih di rumah!” (Al-Mushannaf jilid 5 halaman 264 hadis ke-7742 dan ke-7743).

Namun, sebagian dari ikhwan Ahlsunnah mengelak bahwa itu (tarawih berjamaah) adalah bid’ah berargumen dengan beberapa dalil. Di sini kita akan sebutkan sandaran mereka dengan kritisi ringkas atas dalil yang mereka kemukakan. Ada dua hadis yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan;

Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: “…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya”. Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343).

Menjadikan hadis di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadis tersebut jelas sekali bahwa, tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadis itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siyar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. Apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengatakan bahwa tarawih adalah; “Sebaik-baik bid’ah”, sebagaimana yang telah kita singung di atas.

Ibn Wahab menukil dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa, suatu saat Rasul memasuki masjid. Belioau melihat para sahabat di beberapa tempat sedang sibuk melaksanakan shalat. Beliau bertanya: “Shalat apa yang mereka lakukan?”. Dijawab: “Sekelompok sedang melakukan shalat dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab”. Rasul lantas bersabda: “Apa yang mereka lakukan benar dan mereka telah melakukan kebaikan.” (Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Menjadikan hadis ini sebagai pembenar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pun tidak benar, karena dalam teks hadis jelas tidak dinyatakan shalat apakah yang sedang mereka laksanakan, shalat tarawihkah ataukah shalat fardhu (shalat wajib). Selain itu, Ibnu Hajar sendiri (penulis kitab “Fathul Bari” tadi) setelah menukil hadis tersebut menyatakan kelemahan hadis tersebut dari dua sisi; pertama: Terdapat pribadi yang bernama Muslim bin Khalid yang lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis.

Kedua: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasul yang mengumpulkan orang-orang agar shalat di belakang Ubay bin Ka’ab, padahal yang terkenal (ma’ruf) adalah sahabat Umar-lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat bersama Ubay bin Ka’ab.

Dari sini jelaslah bahwa, pelaksanaan ‘ibadah shalat tarawih berjamaah’ bukan hanya tidak pernah diperintahkan oleh Rasul, bahkan Rasul sendiri tidak pernah mencontohkannya. Dan terbukti pula bahwa sahabat Umar-lah yang mempelopori ibadah tersebut. Padahal kita tahu bahwa ‘penentuan amal ibadah’ adalah hak mutlak Allah yang dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah. Rasul sendiri tidak berhak menentukan suatu amal ibadah, apalagi manusia biasa, walaupun ia tergolong sahabat. Oleh karenanya, sahabat Umar sendiri mengakui bahwa itu adalah bagian dari Bid’ah. Sedang kita tahu bahwa semua bid’ah adalah sesat, sehingga tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah kepada baik dan tidak baik.

Semoga dalam bulan suci Ramadhan ini kita bisa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi segala macam jenis bid’ah seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Karena bagaimana mungkin kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT namun jalan dan sarana yang kita tempuh adalah melalui perbuatan yang dibenci oleh Allah, seperti bid’ah. Mustahil sesuatu yang menjauhkan dari Allah (seperti Bid’ah) akan dapat mendekatkan kepada-Nya (masuk kategori ibadah). Ini adalah dua hal kontradiktif yang mustahil terjadi. Semoga dengan menjauhi semua bid’ah kita dapat meninggalkan bulan Ramadhan dengan kembali ke fitrah yang suci, melalui Iedul Fitri. Amin

kajian tentang umur Aishah

Pernikahan Nabi Saww. dengan Aisyah: Kajian Ulang Artikel terjemahan; Judul Asal: Was Ayesha A Six-Year-Old Bride? The Ancient Myth Exposed by T.O. Shanavas Seorang teman kristen suatu kali bertanya kepada saya, “Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam.Dia melanjutkan, “Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya, “Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan goncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah. Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu. Nabi merupakan manusia tauladan. Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimanapun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut. Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur di bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam organisasi-organisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima. Jadi, saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis berumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata-mata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya. Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun. Bukti #1: Pengujian Terhadap Sumber Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Madinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Madinah termasuk yang tersohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal di sana dan pindah dari Madinah ke Iraq pada usia tua. Tahzibul-Tahzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat: “Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq”. (Tahzibul-Tahzib, Ibn Hajar Al-`Asqalani, Dar Ihya al-Turath al-Islami, 15th Century. Vol 11, p.50). Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: “Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tahzibul-Tahzib, Ibn Hajar Al- `Asqalani, Dar Ihya al-Turath al-Islami, Vol.11, p. 50). Mizanul-al-I`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanul-I`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-Athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301). KESIMPULAN: Berdasarkan referensi ini, ingatan Hisham sangatlah buruk dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel. KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam: Pra-610M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu. 610M: turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam. 613M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke tengah masyarakat. 615M: Hijrah ke Abyssinia. 616M: Umar bin al Khattab menerima Islam. 620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah. 622M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Madinah. 623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah. Bukti #2: Meminang Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Humbal and Ibn Sa’d), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya”. (Tarikhu’l-Umam wa’l-Mamluk, Al-Tabari (died 922), Vol. 4, p. 50, Arabic, Dar al-Fikr, Beirut, 1979). Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M). Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya. KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable (tak dapat dipercayai) mengenai umur Aisyah ketika menikah. Bukti # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun. Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah” (Al-Isabah fi Tamyizi’l-Sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-Haditha, al-Riyadh,1978). Jika statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun. KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar. Bukti #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’ Menurut Abda’l-Rahman ibn Abi Zanna’d: “Asma’ lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`lama’l-Nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-Risalah, Beirut, 1992). Menurut Ibn Kathir: “Asma’ lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-Nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371, Dar al-Fikr al-`Arabi, Al-Jizah, 1933). Menurut Ibn Kathir: “Asma’ melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma’ meninggal. Menurut riwayat lainnya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma’ meninggal, dia berusia 100 tahun”. (Al-Bidayah wa’l-Nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-Fikr al-`Arabi, Al- Jizah, 1933). Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma’ hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 atau 74 H.” (Taqribu’l-Tahzib, Ibn Hajar Al-Asqalani, p. 654, Arabic, Bab fi’l-Nisa’, al-Harfu’l-Alif, Lucknow). Menurut sebagian besar ahli sejarah, Asma’, Saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma’ wafat pada usia 100 tahun pada 73 H, Asma’ seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah 622M). Jika Asma’ berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun dimana Aisyah berumah tangga. Berdasarkan Ibn Hajar, Ibn Kathir, dan Abda’l-Rahman ibn Abi Zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun. Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar? 12 atau 18? KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah. Bukti #5: Perang BADAR dan UHUD Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-Jihad wa’l-Siyar, Bab Karahiyati’l-Isti`anah fi’l-Ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-Jihad wa’l-Siyar, Bab Ghazwi’l-Nisa’ wa Qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah’ [Pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].” Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr. Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-Maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa Hiya’l-Ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengizinkan dirinya berpatisipasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengizinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.” Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud. KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah. BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan) Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa Arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, Kitabu’l-Tafsir, Bab Qaulihi Bal al-Sa`atu Maw`iduhum wa’l-Sa`atu Adha’ wa Amar). Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. Jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M atau 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat di atas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Surah Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Lantaran itu, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi. KESIMPULAN: Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun. Bukti #7: Terminologi bahasa Arab Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah. Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata ‘bikr’ dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. ‘Bikr’ di sisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaimana kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia berusia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p.210, Arabic, Dar Ihya al-Turath al-`Arabi, Beirut). KESIMPULAN: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya. Bukti #8. Text Qur’an Seluruh muslim setuju bahwa Al-Qur’an adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Qur’an mengizinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun? Tak ada ayat yang secara eksplisit mengizinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri. Ayat tersebut mengatakan: “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5). “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6). Dalam hal seorang anak yang ditinggal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji tahap kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan. Disini, ayat Qur’an menyatakan tentang perlunya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka. Dalam ayat yang sangat jelas di atas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hanbal (Musnad Ahmad ibn Hanbal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambil tugas sebagai isteri. Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar, seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun. Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan, “berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya? Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua. Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran. KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Qur’an. Oleh karena itu, cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata-mata Bukti #9: Izin dalam pernikahan Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi sah (Mishkat al-Masabih, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesahan sebuah pernikahan. Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan. Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun. Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah. KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik. Summary: Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun. Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang Arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat. Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradiksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam. Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata-mata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab. Note: The Ancient Myth Exposed By T.O. Shanavas, di Michigan©2001 Minaret from The Minaret Source: http://www.iiie.net/ Diterjemahkan oleh: Cahyo Prihartono Beberapa tanggapan: Lantas bgmn mensikapi Hadits shohih bukhori & Muslim itu? menolak…? artinya keshahihan kitab hadits itu bisa dipertanyakan donk…. mohon pencerahannnya… By: bob on Maret 5, 2007 at 4:38 pm assalamualaykum… hmmm…. gmn yah ngejawabnya? ya… ana rasa antum diberia akal fikiran oleh Allah untuk memilih kebenaran. untuk masalah hadits shohih bukhori & muslim harus diingat bahwa bukhori muslim itu tidaklah ma’sum, jadi kita tetap harus melihat kembali dan tidak menerima mentah-mentah isi hadits itu. sebagai contoh silahkan antum coba pelajari kembali hadits2 yang ada dalam shohih bukhori ternyata masih banyak hadits yang dho’if baik dari segi sanad atupun matan. ingat yang mengatakan bahwa hadits dalam kitab shohih itu yang mengatakan semua hadisnya shohih adalah bukhori muslim sendiri, dan kita tidak bisa percaya begitu saja. afwan insyaallah akan ana komentari lebih lanjut tapi lagi sibuk neh. syukron. By: luthv on Maret 8, 2007 at 12:58 pm oia…. menurut ilmu ushul salah satu indikator sebuah hadits dikatakan shohih apbila hadits tersebut tidak bertentangan dengan al-Quran dan sunnah yang mutawattir serta lebih kuat serta tidak bertentangan dengan akal sehat. wallahualam. By: luthv on Maret 8, 2007 at 1:01 pm Apa betul Aisyah umurnya 30 tahun alias terlambat kawin (perawan berek)??? • By: az on Maret 13, 2007 at 10:13 am salam mas, hadis ini memang sering dibuat bahan olen para orientalis dan non muslim untuk menyerang pribadi luhur, manusia terbaik pilihan Allah Nabi Besar Muhammad saw. ya karena umat Islam sudah terlalu meluarbiasakan kitab Bukhori-Muslim akhirnya sifat kritis kita terhadap hadis-hadisnya sudah nggak ada lagi, padahal seperti kata mas luth tadi Bukhori adalah manusia biasa yang bisa salah. kadang-kadang dengan tidak kita sadari kita lebih membela hadis-hadis yang masih meragukan tersebut, walaupun dengan resiko pribadi Nabi saw yang agung tercoreng. padahal beliau sudah dijamin dalam al-Qur’an bahwa beliau saw adalah “Pribadi yang paling agung”! harusnya kita menteladani Bukhori yakni menyaring hadis-hadis, bukan hanya hadis Bukhori saja tapi semua hadis, agar kita benar-benar mendapatkan hadis-hadis, yang shohih. Bukankah Bukhori katanya menyaring hadis yang jumlahnya ratusan ribu (ada yang bilang sejuta, yang penting banyaklah) kemudian disaring dan di saring hingga yang dibukukan tinggal sekitar empat ribuan atau enam ribuan termasuk hadis-hadis yang sama. kebetulan mengenai pembahasan diatas, saya kebetulan lagi asyik browsing, akhirnya ndapatin tulisan soal itu di “Sydney Morning Herald”, koran ini kebetulan lagi memberi laporan khusus soal Islam di Sydney-Australi. disitu seorang muslim [Dr Zacharia Matthews] diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan para bule yang non muslim tentang Islam, kebetulan salah seorang penanya menyoal perkawinan Nabi saw dengan Aisyah ra yang berumur 9th. dibawah ini saya kopi-pastekan soal jawab tersebut (untuk diketahui): [How are Islamic men ever going to respect women when the KOran states that a woman's word is worth half that of a man, a man is allowed to lightly beat his wife and the prophet married and slept with a 9 year girl? Is it not time for an intelligent Muslim to stand up and say maybe the prophet and the Koran aren't so perfect? When it comes to the testimony or witness of a man versus a women, it is conditional upon qualification and roles assigned by Islam. For example as some scholars have ruled, if a Muslim woman is an expert on Islamic Finance then she is qualified to act as a witness or give testimony within her filed of expertise. With regard to the Prophet marrying a nine year old, he did not incur any sanction from the people of his time including his enemies since it was an accepted practice. The age of puberty differed esepcially in warmer climates. Standards have changed over time.] sumber: http://blogs.smh.com.au/newsblog/archives/your_say/013032.html alhamdulillah dilalah saya dapatkan jawabannya juga di weblog ini, makasih ya mas! bondet • By: aminsubroto on Mei 4, 2007 at 6:35 pm salaam, diskusi/studi kritis seperti ini yg sangat bagus, seharusnya disajikan kepada kaum muslimin dan selalu diingatkan, jadi kalau ada perlecehan dari pihak lain yang jahil terhadap rasulullah SAW, kita sudah mengerti siasat mereka. Ya Allah fansurna ala kaumil kafirin •

Kesaksian dalam Talak- perlu atau tidak?

Syekh ath-Thusi berkata, “Setiap talak yang tidak disaksikan oleh dua orang Muslim yang adil, walaupun terpenuhi syarat- syarat lainnya, adalah tidak sah. Hal ini ditentang oleh semua fukaha lain dan tidak seorang pun di antara mereka yang menganggap keharusan adanya saksi.”

Masalah tersebut hanya terbatas pada pendapat-pendapat dalam kitab-kitab tafsir ketika menafsirkah firman Allah swt, “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujuklah mereka dengan baik ata.u lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.” ( QS. ath- Thalaq [65 ] : 2) . Ada di antara pentafsir yang menjadikan kesaksian itu sebagai syarat dalam talak dan rujuk dan adapula yang menjadikannya sebagai syarat khusus dalam rujuk yang dipahami dari kalimat: maka rujuklah mereka dengan baik.

Ath- Thabari meriwayatkan hadis dari as- Saddi bahwa ia menafsirkan firman Allah swt: dari persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu kadang-kadang dalam rujuk. Ia pun berkata, “Hadirkanlah saksi dalam menahan itu jika mereka menahan istri-istrinya.” Yang dimaksud adalah rujuk. Di tempat lain disebutkan bahwa persaksian itu dalam rujuk dan dalam talak. la berkata, “(Persaksian itu) adalah ketika dilakukan talak dan ketika dilakukan rujuk.”

Dinukil dari Ibn ‘Abbas bahwa ia menafsirkannya (persaksian itu) dalam talak dan rujuk.
As-Suyuthi berkata, “‘Abdur Razzaq meriwayatkan hadis dari ‘Atha’: Nikah itu dengan saksi, talak itu dengan saksi, dan rujuk itu juga dengan saksi.”

‘Imran bin Hushain ditanya tentang seorang laki-laki yang menalak istrinya tanpa kehadiran saksi dan merujuknya kembali tanpa kehadiran saksi. la menjawab, “Itu merupakan seburuk-buruk perbuatan. la menalak istrinya dengan cara bid’ah dan merujuknya kembali dengan tidak mengikuti sunah. Hendaklah ia menghadirkan saksi dalam talak dan rujuknya. Dan hendaklah ia memohon ampunan kepada Allah.”

Al-Qurthubi berkata, “Firman Allah swt: …dan persaksikanlah …memerintahkan kepada kita untuk menghadirkan saksi dalam melakukan talak. Ada pula yang berpendapat bahwa harus menghadirkan saksi dalam melakukan rujuk. Yang jelas, keharusan persaksian itu adalah dalam rujuk, tidak dalam talak. Kemudian, persaksian itu hukumnya mandub (sunah) menurut Abu Hanifah, seperti firman Al1ah swt, dan persaksikanlah jika kalian melakukan jual beli. ” Sedangkan menurut Imam Syafi’i, persaksian itu wajib dalam rujuk.

Al-Alusi berkata, “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil ketika melakukan rujuk jika kalian memilihnya atau ketika melakukan talak jika kalian memilihnya sebagai upaya melepaskan diri dari kecurigaan.”

Masih banyak pendapat lain tentang penafsiran ayat tersebut.

Ada dua ulama yang mengungkapkan hakikat ini. Mereka adalah Ahmad Muhammad Syakir al-Qadhi al-Mishri dan Syekh Abu Zahrah. Ahmad Muhammad Syakir al-Qadhi al-Mishri, setelah menukil dua ayat pertama surah ath- Thalaq, mengatakan, “Yang tampak dari konteks kedua ayat itu adalah bahwa firman Allah …dan persaksikanlah …berlaku dalam talak dan rujuk sekaligus. Perintah itu menunjukkan wajib karena madlul (yang ditunjukkannya) adalah sesuatu hakiki. Perintah itu tidak ditujukan pada sesuatu yang bukan wajib-seperti mandub-kecua1i dengan adanya qarinah. Sedangkan di sini tidak ada qarinah yang memalingkannya pada selain wajib. Bahkan qarinah-qarinah yang ada di sini menegaskan pengertiannya sebagai sesuatu yang wajib.”

Selanjutnya ia mengatakan, “Barangsiapa yang menghadirkan saksi dalam melakukan talak maka talaknya itu dilakukan sesuai dengan cara yang telah diperintahkan. Seperti itu pula orang yang menghadirkan saksi dalam melakukan rujuk. Barangsiapa yang tidak melakukan demikian, ia telah melalaikan hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan sehingga perbuatannya itu menjadi batal, tidak menghasilkan konsekuensi apa-apa.”

Bahwa talak itu tidak sah tanpa kehadiran dua orang saksi yang adil. Hal itu berdasarkan firman Allah swt tentang. hukum-hukum talak dalam surat ath-Thalaq, “… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar: Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS. ath-Thalaq[65]: 2-3).

Perintah untuk menghadirkan saksi ini datang setelah menyebutkan ditetapkannya talak dan dibolehkannya rujuk. Maka yang pantas adalah memberlakukan persaksian itu dalam talak. Alasan ditetapkannya persaksian itu adalah untuk memberikan pelajaran kepada orang- orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Sehingga hal itu akan menjernihkan dan menguatkan imannya. Sebab, kehadiran saksi yang adil tidak luput dari pelajaran yang baik yang dipersembahkan kepada pasangan suami-istri tersebut. Maka mereka berdua mendapatkan jalan ke luar untuk menghindari talak yang merupakan sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah swt. Ka1au kami boleh memilih untuk diberlakukan di Mesir, tentu kami akan memilih pendapat ini. Sehingga bagi sahnya talak, disyaratkan kehadiran dua orang saksi yang adil.”

Uraian di atas menunjukkan adanya kelompok yang berpendapat bahwa persaksian itu berlaku dalam rujuk saja dan ada pula yang berpendapat bahwa persaksian itu berlaku dalam rujuk dan talak. Tidak ada yang berpendapat bahwa persaksian itu berlaku dalam talak saja kecuali yang saya ketahui dari ucapan Abu Zahrah. Berkenaan dengan itu, setelah menukil teks tersebut, kami harus mendalami dan mengambil petunjuk dari Kitab Allah untuk me- netapkannya.

Allah swt berfirman, “Hai Nabi, Apabila kamu menceraikan istri- istrimu maka hendaklah kamu ceraikan pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka ( diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah. Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah maka sesunguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya maka rujuklah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik, dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar: ” (QS. ath-Thalaq [65]: 1-2)

Yang dimaksud dengan balaghna ajalahunna adalah mereka mendekati akhir masa iddahnya. Sedangkan yang dimaksud dengan amsikuhunna adalah ungkapan kiasan yang berarti rujuklah mereka, sebagaimana yang dimaksud dengan bimufaraqatihinna yang berarti membiarkan mereka keluar dari masa iddahnya dan menjadi ba’in.

Tidak diragukan bahwa firman Allah swt, …dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil menunjukkan perintah wajib seperti perintah-perintah lainnya yang terdapat dalam syariat dan tidak dapat diubah menjadi pengertian lain kecuali dengan dalil lain.
Terdapat beberapa kemungkinan sebagai berikut:

1. Kalimat tersebut menjadi syarat bagi kalimat: maka ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya.

2. Kalimat tersebut menjadi syarat bagi kalimat: maka rujuklah mereka dengan cara yang baik.

3. Kalimat tersebut menjadi syarat bagi kalimat: atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik.

Tidak seorang pun mengatakan bahwa syarat itu berlaku pada bagian yang terakhir. Sehingga berlakunya syarat itu berkisar pada bagian pertama dan bagian kedua. Yang jelas, syarat tersebut berlaku pada bagian pertama. Ha1 itu karena ayat tersebut menjelaskan hukum-hukum talak dan dibuka dengan ka1imat: Hai Nabi, Apabila kamu menceraikan istri-istrimu Dalam ayat tersebut disebutkan beberapa hukum talak sebagai berikut:

1. Talak itu dilakukan pada masa iddah mereka.
2. Menghitung masa iddah.
3. Mereka tidak boleh keluar dari rumah (selama masa iddah).
4. Suami boleh memilih antara merujuk dan menceraikannya ketika mendekati akhir masa iddahnya.
5. Kehadiran dua orang saksi yang adil di antara kamu.
6. Masa iddah perempuan yang tidak tetap masa haidnya ( mustarabah) .
7. Iddah perempuan yang tidak haid padahal dalam usia haid.
8. Iddah perempuan yang sedang hamil.

Apabila Anda perhatikan sejumlah ayat da1am surat ini dari ayat pertama hingga ayat ketujuh, Anda akan menemukan bahwa ayat-ayat tersebut menjelaskan hukum-hukum talak. Sebab, itulah maksud sebenamya, bukan rujuk yang dipahami dari firman-Nya: famsikuhunna (maka rujuk1ah mereka) yang merupakan sisipan saja.

Kemudian, Syekh Ahmad Muhammad Syakir, hakim syariat di Mesir, menulis sebuah buku tentang talak dalam Islam. Isi suratnya sebagai berikut: Saya berpendapat bahwa disyaratkan kehadiran dua orang saksi ketika dilakukan talak. Jika talak dilakukan tanpa kehadiran dua orang saksi, talak tersebut tidak sah.

Saya juga berpendapat bahwa disyaratkan kehadiran dua orang saksi ketika dilakukan rujuk. Saya heran terhadap pendapat mereka yang membedakan di antara keduanya. Padahal dalilnya sama yaitu, “… dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kamu.”

Setelah itu, Dia keluar dari topik pembahasan dengan menje1askan rujuk ketika menjelaskan hukum-hukum talak. Al1ah swt berfirman, “… Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya maka rujuklah mereka dengan baik. “Yakni, apabi1a telah mendekati akhir iddah, kamu boleh menahan mereka dengan rujuk atau meningga1kan mereka untuk berpisah. Kemudian Dia kembali menyempurnakan hukum-hukum ta1ak. Al1ah swt berfirman, ” ..dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kamu. ”

Yakni, dalam talak yang merupakan konteks pembahasan untuk menjelaskan hukum-hukumnya dan dipandang buruk mengembalikannya pada rujuk yang tidak disebutkan kecuali sebagai sisipan saja. Tidakkah Anda perhatikan, kalau seseorang mengatakan, ‘Jika seorang alim datang kepadamu, kamu harus menghormati dan memuliakannya. Hendaklah kamu menyambutnya baik ia datang sendirian maupun bersama pelayan atau temannya. Wajib mengiringi dan bersikap ramah.’ Anda tidak akan memahami kalimat ini kecuali keharusan mengiringi dan bersikap ramah kepada alim itu, bukan kepada pelayan dan temannya walaupun kedua orang itu berjalan di belakangnya. Demi Allah, menurut kaidah-kaidah bahasa Arab dan rasa bahasa ( dzawq) yang benar, ini sangat jelas dan tidak samar bagi Anda. Anda lebih menguasai bahasa Arab kecuali kalau tidak lalai-kelalaian lawan dari ketidakraguan. Ini dari lafaz dalil dan konteks ayat yang mulia.

Terdapat ungkapan yang mendalam dan benar dalam hal hikrnah syariat dan fa1safah Islam serta ketinggian kedudukan dan keluasan wawasannya da1am hukum-hukumnya, yaitu bahwa tidak ada sesuatu yang ha1a1 yang paling dibenci Allah swt kecua1i ta1ak. Agama Islam, seperti yang Anda ketahui tidak menghendaki jenis perpisahan apa pun terutama da1am keluarga. Lebih khusus lagi da1am pernikahan setelah satu sama lain sa1ing memberi.

Pembuat syariat, dengan kebijaksanaan-Nya yang agung, hendak mengurangi terjadinya perceraian dan perpisahan. Maka Dia memperbanyak syarat-syaratnya berdasarkan kaidah yang sudah dikenal bahwa Apabila sesuatu itu banyak ikatannya akan sedikit keberadaannya. Dia menetapkan adanya dua orang saksi yang adil, pertama untuk memastikan dan kedua untuk menangguhkannya. Mudah-mudahan dengan kehadiran dua orang saksi atau kehadir- an suami~istri atau salah satu dari keduanya bagi mereka akan menimbulkan penyesalan dan mereka kembali bersatu-sebagaimana ditunjukkan da1am finnan Allah swt, “. ..kamu tidak tahu barangkali Allah menjadikan sesuatu yang baru setelah itu. ” Inilah hikmah yang mendalam dari ditetapkannya dua orang saksi.

Tidak diragukan bahwa ha1 itu sangat diperhatikan oleh Pembuat syariat Yang Maha bijaksana di samping terdapat faedah-faedah yang lain. Ini semua merupakan kebalikan dari masalah rujuk. Pembuat syariat ingin menyegerakannya, dan dalam menunda-nundanya barangkali terdapat penyakit. Karenanya dalam rujuk tidak diwajibkan satu syarat pun.

Menurut kami, perbuatan, dan isyarat yang menunjukkannya-dalam rujuk tidak disyaratkan redaksi (shigat) tertentu seperti yang di- syaratkan dalam talak. Semua itu untuk mempermudah terlaksananya perkara yang dicintai yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya dan sangat menyukai persatuan mereka, bukan perpisahan. Bagaimana tidak memadai dalam rujuk, bahkan cukup dengan isyarat, menyentuhnya, dan meletakkan tangan padanya dengan maksud rujuk. Ia-yakni, perempuan yang ditalak raj’i masih merupa- kan istri hingga keluar dari iddahnya. Oleh karena itu, ia dapat mewarisi dari suaminya dan suami dapat mevarisi darinya, wajib bagi suami menafkahinya, suami tidak boleh menikahi saudara perempuannya, suami tidak boleh menikah dengan istri kelima, dan berlaku baginya hukum-hukum pernikahan lainnya.

Dari Dalam dan Luar

PERANAN AHLUL BAIT AS MEMELIHARA KESUCIAN AJARAN ISLAM

Oleh: Allamah Syed Murtadha Askari
Penerbit Asal: The World Federation Of Khoja Shia Ithna-Asheri Muslim Communities, 1991
Penterjemah: Muhammad Husayn (Al-Mawaddah Fil-Qurba, 7 Dzul Qai’dah 1421H bersamaan 3 Mac, 2001)

Kandungan:
Pengenalan I Pengaruh Kepercayaan Yahudi dan Kristian Ke Atas (Aqidah) Umat Islam
Pengenalan II Pengertian Sebenar Istilah Yang Samar (mutasyabihat) Dalam al-Qur’an
Bab 1 Tentang “Bentuk” Allah
Bab 2 ‘Wajah’ Allah
Bab 3 ‘Mata’ Allah
Bab 4 ‘Tangan’ Allah
Bab 5 ‘Kaki Allah Dan ‘Betis’Nya
Bab 6 ‘Arasy’ Allah
Bab 7 ‘Kediaman’ Allah
Bab 8 Allah Di Belakang Tabir
Bab 9 Melihat Allah
Bab 10 Bertemu Allah Di Syurga
Kesimpulan

PENGENALAN (I)

Pengaruh Kepercayaan Yahudi dan Kristian ke atas umat Islam.
Kepercayaan Kristian dan Yahudi telah meresap ke dalam masyarakat Islam melalui dua cara:
1. Melalui usaha-usaha pihak Kristian dan Yahudi.
2. Melalui setengah daripada umat Islam sendiri.

Marilah kita sama-sama mengkaji dua aspek ini dengan lebih terperinci:
a) Meresapnya Pengaruh Kepercayaan Kristian dan Yahudi di Kalangan Umat Islam Melalui Usaha Yang di lakukan oleh Orang-orang Kristian dan Yahudi:

Dalam perbincangan kita yang lalu, kami telah menerangkan peranan golongan terpelajar Kristian dan Yahudi mencipta hadith-hadith palsu. Kita tahu bahawa pada ketika Khalifah tidak membenarkan penyebaran hadith-hadith Nabi SAWAW, sebaliknya mereka dengan senang hati membenarkan golongan rahib-rahib Kristian dan Yahudi yang telah memeluk Islam menyebarkan cerita-cerita dari sumber mereka di kalangan umat Islam.

Sebagai contoh, Tamim al-Dari seorang rahib Kristian sebelum memeluk Islam telah diterima olah Khalifah Umar untuk membaca khutbah pada Hari Juma’at di Masjid Nabi SAWAW. Pada zaman Khalifah Usman, dia telah dilantik membaca khutbah dua kali seminggu.

Demikian juga Ka’b al-Ahbar (nama asalnya Mati’) sangat terkenal sebagai Rabbi Yahudi sebelum memeluk Islam. Kemudian dikenali sebagai Ka’b al-Habr atau Ka’b al-Ahbar, kerana “Habr” dalam bahasa Arab bermaksud orang yang terpelajar dan benar. Pada zaman Khalifah Umar, Ka’b al-Ahbar telah bertugas menjadi penasihat Umar, dan Khalifah Uthman. Umat Islam telah banyak merujuk kepadanya dalam soal-soal asas dan tafsir al-Qur’an.1

Ka’b telah berusaha bersungguh-sungguh menyebarkan kepercayaan Israilliyat dari Kitab Taurat yang telah diselewengkan, dan juga dari sumber-sumber Yahudi yang lain kepada umat Islam. Di kalangan umat Islam yang mengikut mazhab Ahlul Bait as telah menyedari hal tersebut, sebagaimana yang dicatat oleh al-Tabari seperti berikut:
“Ibn Abbas diriwayatkan berkata: Ka’b berkata pada suatu Hari Akhirat nanti, matahari dan bulan akan dibawa ke hadapan seperti dua ekor lembu dan dihumban ke dalam neraka.”

Mendengar perkara ini, Ibn Abbas naik marah dan berkata tiga kali: Ka’b pembohong! Ka’b pembohong! Ka’b pembohong! “Itu adalah cerita Yahudi, dan Ka’b mahu menyerapkan ke dalam ajaran Islam. Maha Suci Allah SWT daripada perkara itu. Dia tidak akan menghukum sesiapa yang taat kepadaNya. “Dan Dia telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Surah Ibrahim: 33)

Ibn Abbas berkata: “Perkataan ‘Daibain’ dalam ayat ini jelas menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT. Kemudian beliau meneruskan kata-katanya: “Bagaimanakah Dia (Allah) menghukum dua makhluk langit ini yang telah dipujiNya kerana ketaatan mereka itu? Allah melaknat rahib Yahudi ini dan ajarannya! Sesuatu yang hina menyandarkan sifat buruk itu kepada Allah, dan meletakkan kesalahan kepada dua makhluk yang taat itu!”

Kemudian Ibn Abbas mengulangi tiga kali: “Inna-lllahi-wa-inna-ilaihi-raji’un.” Kemudian Ibn Abbas meriwayatkan hadith yang sebenarnya tentang matahari dan bulan dari Rasulullah SAWAW:

“Allah mencipta dua sumber cahaya. Yang dinamakan matahari seperti bumi, di antara ufuk ia terbit dan terbenam. Dan diperintahkannya supaya sejajar dengan masa. Dan Dia namakan bulan dan menciptanya lebih kecil daripada matahari. Dan kedua-dua mereka kelihatan kecil kerana kedudukan yang tinggi di langit dan jarak yang jauh dari bumi.”2

Kajian Tentang Dua Riwayat:

Daripada dua riwayat, satu daripada Ka’b dan satu lagi daripada Ibn Abbas, kita dapat membuat kesimpulan bahawa:

1. Ibn Abbas menolak riwayat Ka’b dan memetik ayat Qur’an:
“Dan Dia telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang” bahawa kedua-duanya taat kepada Allah dan Dia tidak menghukum mereka yang taat kepadaNya.

2. Dalam keterangan lanjutnya, Ibn Abbas menolak kias Ka’b, iaitu Ibn Abbas menyatakan bahwa matahari dan bulan adalah dua objek besar seperti bumi, dan dia memetik hadith Nabi SAWAW:
“Dan kedua-duanya itu kelihatan kecil kerana kedudukan mereka yang tinggi di langit dan jarak yang jauh dari bumi.”
Jelasnya ini adalah hujah yang terbaik yang dinyatakan oleh Ibn Abbas. Namun pada zaman ini kita mampu menggambarkan lebih lanjut daripada hadith Nabi SAWAW itu:

1. Keterangan tentang ufuk terbit dan terbenam bagi matahari dalam hubungannya dengan bumi memberi satu petunjuk tentang putaran dan peredaran objek langit tersebut.

2. Ia juga menunjukkan bahawa objek-objek tersebut berbentuk bulatan dan mempunyai ufuk terbit dan terbenam. Hal ini tidak mungkin jika ia objek rata.

3. Ia juga satu bukti daripada cara Ibn Abbas memeriksa riwayat dari Ka’b bahawa ia tidak terpengaruh dan menerima autoriti Ka’b sebagai periwayat hadith.

Justeru, semua hadith yang seperti demikian yang diambil daripada kepercayaan Yahudi dan dikaitkan dengan Ibn Abbas seperti mana yang diriwayatkan daripada Ka’b adalah tidak berasas sama sekali dan palsu. Hadith-hadith ini telah direka pada zaman Bani Abbasiyyah kerana Bani Abbasiyyah amat memberikan sanjungan kepada leluhur (keturunan) mereka iaitu Ibn Abbas. Orang ramai mencipta kisah-kisah atas nama Ibn Abbas untuk mendapatkan populariti di istana Bani Abbasiyyah. Sudah menjadi satu kaedah untuk mengaitkan hadith-hadith palsu kepada Ibn Abbas, yang kemudian menjadi sumbangan besar kepada propaganda ajaran Yahudi dan Kristian.

Ibn Abbas telah dapat menggambarkan satu kesimpulan daripada hadith Nabi SAWAW. Kita juga mampu menambahkan kesimpulan berdasarkan kajian kita pada hari ini berpandukan ajaran sains. Tidak mustahil pada zaman akan datang, apabila sains telah membuat kajian lanjut, para ahli ilmuan akan dapat membuat rumusan yang lain daripada hadith-hadith Nabi SAWAW. Tetapi riwayat Ka’b sememangnya cerita tidak berasas dan diambil dari sumber Yahudi dan kemudian berkembang menjadi semakin tidak bermakna pada zaman moden ini.

Dalam perbincangan berikutnya kita akan melihat peranan Ka’b secara lebih luas lagi untuk membuktikan bagaimana beliau berjaya dalam usahanya itu.

Malang sekali, dalam riwayat Ka’b tentang matahari dan bulan yang muncul pada hari Pembalasan nanti seperti lembu jantan, masuk ke dalam sumber-sumber Islam dari sahabat seperti Abu Hurairah dan lain-lainya. Ini telah berlaku walaupun ia telah ditolak dengan keras oleh Ibn Abbas.

Dalam Tafsir Ibn Katsir dan Kanz al-Ummal, telah diriwayatkan daripada Abu Hurairah:
“Pada hari Pembalasan nanti, matahari dan bulan akan berada di neraka dalam bentuk dua ekor lembu jantan.” Seseorang bertanya: “Tetapi dosa apakah yang telah mereka lakukan?” Abu Hurairah menjawab: “Aku hanya menyampaikan kepada kamu apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAWAW, dan kalian bertanya kepada aku tentang dosa mereka?”

Dalam riwayat lain daripada Anas, Ibn Kathir memetik: “Matahari dan bulan akan berada di neraka dalam bentuk dua ekor lembu jantan yang kebingungan.”

Kajian ke atas riwayat di atas: Hadith-hadith daripada Abu Hurairah dan Anas adalah sama yang asalnya diriwayatkan oleh Ka’b al-Ahbar. Mereka telah mengaitkannya secara palsu kepada Nabi SAWAW. Jika kita mengkaji daripada ayat Qur’an, dan daripada hadith-hadith yang sahih daripada Nabi SAWAW, kita akan dapati bahawa riwayat daripada Ka’b itu adalah khayalan daripada imiginasinya berasaskan dongeng Yahudi.

Berasaskan daripada hadith sahih daripada Nabi SAWAW dan disokong pula oleh Ibn Abbas yang mengutuk riwayat tersebut kerana ia jelas sisipan Yahudi, maka tidak diragukan lagi bahawa sumber riwayat tersebut ialah diri Ka’b al-Ahbar sendiri dan bukan daripada sahabat-sahabat Nabi SAWAW.

Bahaya ini telah dikesan oleh sahabat-sahabat Nabi SAWAW. Ibn Abbas adalah di antara sahabat yang mula-mula sekali menentang sisipan cerita Yahudi ini, dan Imam Ali AS turut memberi amaran kepada Khalifah Umar tentang perkara tersebut.

Oleh kerana Ka’b bukan termasuk daripada salah seorang sahabat Nabi SAWAW, beliau tidak dapat mengaitkan terus riwayat tersebut kepada Nabi SAWAW. Maka cara yang paling mudah baginya ialah dengan mencipta jalan dengan mengaitkannya dengan salah seorang sahabat Nabi SAWAW seperti Abu Hurairah dan lain-lain lagi.

Walau bagaimanapun riwayat daripada Anas telah dikelaskan sebagai daif, dan riwayat lain daripada Abu Hurairah pada tajuk yang sama dianggap sahih, ini menguatkan lagi pemalsuan Ka’b. Kemudian dengan masa berlalu, ditambah pula dengan pertolongan sesetengah ilmuan yang mempunyai kepentingan, riwayat hadith seperti itu diterima tanpa dipertikaikan lagi. Melalui tulisan oleh pemeluk Islam dari kalangan Kristian dan Yahudi yang berniat jahat, sahabat-sahabat dan dari kalangan tabi’in, riwayat-riwayat tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat seterusnya.
b) Penyebaran Kepercayaan Kristian dan Yahudi di Kalangan Umat Islam Melalui Usaha Mereka Sendiri.

Bagi menjelaskan perkara ini, kami berikan contoh latarbelakang dua orang sahabat Nabi SAWAW dan juga memetik daripada sebuah Tafsir al-Qur’an:

1. Abu Hurairah, salah seorang sahabat Nabi SAWAW.

Sejarah telah merekodkan bahawa tiga nama yang berbeza sahabat Nabi SAWAW ini. Namun beliau terkenal dengan panggilan Kunyahnya – Abu Hurairah. Beliau dari keturunan kabilah Dus yang berasal dari Yaman. Abu Hurairah menetap di Yaman selama 30 tahun, dan tiba di Madinah selepas Perang Khaybar. Menurut Bukhari, Ibn Sa’d dan lain-lain, beliau hanya bersama Nabi SAWAW pada tiga tahun terakhir. Namun berasaskan fakta sejarah, beliau telah pergi ke Bahrain dengan pasukan tentera yang diketuai oleh Ala’ Hadhrami pada tahun 8 Hijrah, maka ini bermakna jangka masa ia hidup bersama Nabi SAWAW tidaklah lama. Di Madinah beliau sering tinggal bersama-sama orang miskin di Suffah di Masjid Nabawi.

Apabila Muawiyah mengirimkan pasukan tenteranya yang diketuai Busr yang bertanggungjawab ke atas pembunuhan orang-orang Islam seramai 30,000 orang di antara Syria dan Yaman, Abu Hurairah telah dilantik menjadi gabenor Madinah dengan restu daripada Busr.3 Beliau menikmati kedudukan tersebut untuk beberapa lama pada zaman Muawiyah berkuasa.4

Pada ketika inilah beliau berpeluang menyebarkan hadith-hadithnya. Abu Hurairah bukanlah dari kalangan sahabat yang fasih membaca dan menulis. Bukhari meriwayatkan Abu Hurairah berkata:”Abdullah bin Amru Aas tahu membaca dan menulis tetapi aku tidak.” Di antara orang-orang yang beliau banyak mendapat manfa’at ialah Ka’b al-Ahbar yang memberikan kenyataan berikut:
“Di antara orang-orang yang tidak pernah membaca Taurat tetapi amat fasih tentangnya, ternyata Abu Hurairahlah yang terbaik.”5
Ini menunjukkan bahawa selain daripada rabbi Yahudi yang membaca Taurat, Abu Hurairahlah yang terkemuka melebihi yang lain dalam pengetahuannya tentang kitab Taurat.”

Amat menarik, Ibn Kathir dalam catatannya menjelaskan: “Abu Hurairah telah memalsukan hadith, mencampurkan apa yang telah ia dengar daripada Ka’b dan apa yang ia dengar daripada Nabi SAWAW tidak membezakan antara keduanya.”

Beliau menambah lagi: “Sahabat-sahabat kita telah mengabaikan riwayat-riwayat daripada Abu Hurairah.” Beliau juga menyatakan: “Mereka tidak akan menerima setiap riwayat yang dilaporkan oleh Abu Hurairah.”6

Perkara yang paling menyakitkan tentang Abu Hurairah ialah beliau meriwayatkan dua hadith Nabi SAWAW yang saling bertentangan: Bukhari meriwayatkan dalam Kitab al-Tib daripada Abu Hurairah:

“Nabi SAWAW bersabda: “Penyakit tidak akan berjangkit atau merebak.” Kemudian seorang Arab berdiri dan bertanya: “Wahai Rasulullah, kami mempunyai unta yang cantik di padang pasir. Tetapi salah seekor daripadanya mengidap sakit kudis dan yang lain turut berjangkit.” Nabi SAWAW kemudian menyoal Arab tersebut dengan bersabda: “Bagaimanakah unta yang pertama itu kena jangkitan?”
Selepas meriwayatkan hadith ini, Bukhari meriwayatkan hadith yang lain: “Abu Hurairah berkata: “Nabi SAWAW memerintahkan orang yang sakit (kena jangkitan) tidak menziarahi orang yang sihat.” Abu Salmah, sepupu Abu Hurairah bertanya kepadanya: “Wahai Abu Hurairah, tidakkah anda telah meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW tidak percaya kepada merebaknya penyakit kerana jangkitan?”

Dalam jawapannya, Abu Hurairah menghuraikan dalam bahasa orang Habshah! Kemudian sepupu Abu Hurairah berdiri untuk mempertahankan Abu Hurairah dengan berkata: “Aku tidak pernah mendapati Abu Hurairah lupa kecuali dalam hal ini.”

Agak ganjil, Abu Salmah cuba mencari justifikasi tentang kontradiksi hadith Abu Hurairah tersebut. Walau bagaimanapun, satu ungkapan yang masyhur menyebutkan:”Apabila seseorang itu menyukai Abu Hurairah, maka ia akan cenderung menjadi lupa.”

Pengakuan Abu Hurairah:

Amat aneh sekali apabila Abu Hurairah sendiri membuat pengakuan bahawa beliau telah meriwayatkan sebilangan hadith daripada Nabi SAWAW tanpa mendengar sendiri daripada Nabi SAWAW. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan satu peristiwa dalam Musnadnya:

“…dan Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadith dan orang yang mendengarnya bertanya kepada beliau: “Adakah ini daripada Nabi SAWAW atau daripada kantung kamu sendiri?” Abu Hurairah berkata: “Ini adalah daripada kantungku sendiri.”

Bukhari meriwayatkan peristiwa tersebut seperti berikut: “Abu Hurairah ditanya: “Adakah kamu mendengar sendiri daripada Nabi SAWAW?” Dia berkata: “Tidak, ini daripada kantungku sendiri.”
Dalam riwayat yang lain daripada Ahmad Hanbal, kami dapati: “Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadith seolah-olah beliau sendiri mendengar daripada Nabi SAWAW tetapi pada akhirnya beliau mengaku bahawa itu adalah dari kantungnya sendiri.”

2) Abdullah bin Amru al-As, Tokoh Terkemuka Periwayat Hadith Israiliyyat:

Abdullah bin Amru al-As (meninggal pada tahun 65 Hijrah) dianggap sebagai salah seorang sahabat Nabi SAWAW dan disebabkan beliau mewarisi harta yang banyak dalam bentuk emas dari Mesir daripada bapanya (Amu al-As), beliau dikenali sebagai salah seorang putera hartawan di kalangan sahabat-sahabat. Beliau memahami bahasa Suryani (Syriac) iaitu bahasa asal Kitab Taurat.

Dalam Peperangan Yarmuk, beliau mengetuai bala tentera bapanya sebagai pemegang panji-panji dan dia telah memenuhkan belakang dua ekor unta dengan buku-buku Yahudi dan Kristian (kitab-kitab tersebut diambil sebagai harta rampasan perang).7

Dhahabi berkata: “Abdullah telah meriwayatkan daripada ahli kitab. Beliau telah mempelajari buku-buku tersebut dan menunjukkan minat yang mendalam terhadapnya.”8

Ibn Hajar dalam syarahnya tentang Sahih Bukhari berkata: “Abdullah, dalam penaklukan Damsyik, telah memenuhkan belakang unta dengan buku-buku Yahudi dan Kristian sebagai rampasan perang. Beliau membacanya dengan sungguh-sungguh dan meriwayatkan hadith-hadith berasaskan daripada kitab tersebut. Lantaran itu tokoh-tokoh terkemuka daripada kalangan Tabi’in mengelakkan diri daripada mengambil hadith-hadith yang diriwayatkan olehnya.”

Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal kami dapati: “Seorang lelaki datang menemui Abdullah dan berkata: “beritahukan kepadaku apa yang telah engkau dengar daripada Nabi SAWAW dan jangan riwayatkan kepadaku cerita-cerita daripada Taurat dan Injil.”

Dalam riwayat yang lain, kami dapati: “Abdullah diberikan amaran: “Beritahukan kepadaku apa yang engkau dengar daripada Nabi SAWAW dan jangan riwayatkan daripada apa yang kamu dapati dari timbunan (kitab yang kamu isikan) di belakang unta di Yarmuk.”

Para ahli hadith telah mengkelaskan riwayat-riwayat tersebut sebagai “Israiliyyat” kerana ia berasal-usul daripada kitab Taurat atau sumber-sumber Yahudi. Dalam hadith-hadith yang diriwayatkan oleh mazhab selain daripada Ahlul Bait AS, terdapat banyak riwayat hadith yang menyebutkan Allah SWT mempunyai tubuh (bentuk). Riwayat-riwayat ini jelas menunjukkan ia datang daripada sumber Yahudi dan kami banyak menemuinya daripada riwayat Ka’b al-Ahbar atau Abu Hurairah. Kami akan membincangkan perkara itu pada bab yang akan datang dengan lebih terperinci.

3) Maqatil b. Sulayman Balkhi:

Beliau berasal dari Balkh. Beliau telah dibebaskan daripada kabilah Azd dan kemudian mengambil nama Kunyah Abul Hassan. Ketika menetap di Basra dan Baghdad, beliau telah meriwayatkan beberapa hadith daripada Nabi SAWAW dan terkenal sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam bidang al-Qur’an di kalangan bukan Mazhab Ahlul Bait AS.
Di antara kitab-kitab hasil karya beliau ialah:
1. Tafsir al-Kabir – salinan kitab tulisan tangan ada di Mesir.
2. Nawadir Tafsir.
3. Al-Ayat al-Mutashabehat.
4. Al-Nasikh wal-Mansukh.
5. Al-Qira’at.
6. Al-Ashbah wal-Nazair fil Qur’an al-Karim.
7. Al-Jawabat fil-Qur’an.

Ibn Khaldun dalam biografinya tentang Maqatil, meriwayatkan daripada Ibn Hibban bahawa: “Beliau sering menerima huraian tentang al-Qur’an daripada Yahudi dan Kristian yang menafsirkanya mengikut kitab-kitab mereka.”
Dan Ibn Khaldun menyatakan lagi: “Maqatil adalah di antara yang menyatakan sifat-sifat manusia kepada Zat Allah dan ia juga sering berbohong ketika meriwayatkan hadith-hadith.”9

Khatib Baghdadi dalam Tarikh Baghdad berkata: “Pada suatu hari, Muhammad bin Said Kalbi (wafat 156H) ketika dalam perjalanannya telah terserempak Maqatil dan mendengar beliau meriwayatkan hadith yang sanadnya sampai kepada al-Kalbi sendiri. Maka dia berkata: “Wahai Maqatil! Aku adalah Muhammad bin Said Kalbi, dan aku tidak pernah meriwayatkan hadith-hadith seperti mana yang engkau sebutkan itu!”

Maqatil menjawab: “Kami menghiaskan hadith-hadith kami dengan nama-nama periwayat hadith yang masyhur.”

Maqatil bermaksud, beliau mengambil nama-nama tokoh hadith yang masyhur kepada hadith ciptaannya sendiri supaya ia diterima kesahihannya!

Muhamad bin Said Kalbi juga dilaporkan berkata: “Maqatil telah dengan sengaja menyandarkan sanad hadith kepada saya secara palsu sedangkan saya tidak pernah menyebutkannya, dan beliau telah memasukkannya ke dalam Tafsirnya.”

Khatib Baghdadi dalam perbahasannya tentang Maqatil telah meriwayatkan satu peristiwa yang dilaporkan oleh dua orang: “Kami bertanya kepada Maqatil tentang sanad sesuatu hadith, dan dia berkata: “Aku mendengarnya daripada Dhahhak.”

Selepas beberapa hari berlalu, apabila kami bertanya kepadanya tentang sanad hadith yang sama beliau berkata: “Aku mendengarnya daripada Ata.” Pada peristiwa yang lain, beliau mengaitkan sanad hadith itu kepada Isa.
Selepas menyebutkan peristiwa ini, Khatib Baghdadi melaporkan bahawa seseorang telah bertanya kepada Maqatil sama ada beliau pernah menemui Dhahhak yang didakwanya sumber hadith tersebut. Maqatil menjawab:”Benar!”, ada pintu tertutup di antara aku dan dia!”

Baghdadi menerangkan bahawa maksud “pintu tertutup,” yang dinyatakan oleh Maqatil itu adalah pintu kota Madinah tempat Dhahhak tinggal, dan Maqatil tidak pernah sampai ke sana.

Ibn Khallikan berkata: “Dhahhak bin Mazahim yang dinyatakan oleh Maqatil dalam riwayat-riwayatnya telah meninggal dunia empat tahun sebelum Maqatil dilahirkan, dan telah dimakamkan di perkuburan Madinah!” Kemudian beliau menambah: “Maqatil meriwayatkan daripada Mujahid sedangkan beliau tidak pernah menemuinya!”

Khateeb Baghdadi telah merakamkan satu anekdot tentang Maqatil. Beliau menulis: “Seseorang telah datang bertanya Maqatil: “Sahabatku ingin tahu warna bulu anjing Ashab al-Kahfi tetapi aku tidak ada jawapannya.” Maqatil lantas berkata: “Beritahu kepadanya anjing itu mempunyai warna berbintik-bintik. Pasti tidak ada orang yang akan mempertikaikannya!” Beliau kemudian melaporkan daripada khalifah Mansur dan Mahdi Bani Abbasiyyah bahawa Maqatil pada suatu hari telah menawarkan kepada mereka untuk mencipta beberapa hadith yang memuji-muji lelehur mereka. Namun kedua-dua mereka itu menolaknya.10

Setelah meneliti secara ringkas beberapa buah kitab yang menggambarkan kehidupan Maqatil, kami dapati begitu banyak contoh-contoh pemalsuan dan penipuan. Maka kesimpulannya dapat kita buat terhadap Maqatil ialah dia seorang tokoh yang percaya kepada Zat Allah SWT mempunyai bentuk tubuh manusia. Beliau mempelajari tafsir al-Qur’an daripada guru-guru Yahudi dan Kristian dan meriwayatkan kepercayaan mereka dalam Tafsirnya. Namun demikian amat menakjubkan ulama daripada kalangan mazhab bukan Ahlul Bait AS telah menunjukkan sanjungan yang tinggi kepada Tafsirnya.

Ibn Khaldun berkata: “Dalam disiplin ilmu Tafsir, semua orang tunduk kepada Maqatil bin Sulayman!”

Contoh-contoh kisah-kisah yang ditulis oleh Maqatil dalam dokongannya kepada khalifah:

Khateeb Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, melaporkan melalui sanad perawi yang sambung-menyambung: “Maqatil berkata: “Dhahhak telah meriwayatkan kepadaku daripada Ibn Abbas bahawa Nabi SAWAW telah dinasihatkan oleh salah seorang sahabatnya untuk melantik seorang khalifah supaya ia diketahui umum, dan orang ramai akan merujuk urusan mereka kepadanya,”Kami tidak tahu apa yang akan berlaku selepas kamu wafat,”kata mereka.

Nabi SAWAW menjawab: “Jika aku melantik seorang yang akan memimpin kalian untuk taat kepada Allah, dan kalian engkar kepadanya, maka kalian telah engkar perintahku dan perintah Allah. Sebaliknya jika orang yang dilantik itu memerintahkan kalian untuk melakukan dosa-dosa dan kalian taat kepadanya, maka kalian akan menuding kepadanya sebagai pemimpin Pada Hari Pembalasan. Tidak, aku tidak akan melakukan perkara itu – Aku akan menyerahkan perkara itu kepada Allah!”

Penilaian Tentang Hadith Di atas:

Hadith di atas telah dicipta oleh Maqatil untuk menyokong khalifah-khalifah yang mendakwa bahawa Nabi SAWAW tidak melantik penggantinya, sebaliknya umah Islam mempunyai hak untuk melantik khalifah.

Amat menarik sekali Khatib telah memetik hadith tersebut dalam biografi Maqatil untuk membuktikan beliau tidak boleh dipercayai dan penipu. Khatib berhujah bahawa Maqatil dengan beraninya telah mendakwa meriwayatkan hadith daripada Dhahhak walaupun beliau tidak pernah bertemu dengannya. Dhahhak tinggal di Madinah, sedangkan Maqatil tidak pernah berpergian dari Khurasan ke Madinah. Pada kenyataannya Dhahhak telah meninggal dunia empat tahun sebelum Maqatil dilahirkan!

Selepas contoh di atas yang menunjukkan penyerapan pengaruh Yahudi dan Kristian ke dalam aqidah Muslim, kami rasa amatlah secocok mengambil dua contoh kisah daripada kitab Taurat. Kisah-kisah ini akan dapat memperjelaskan lagi kepada kita untuk menilai aqidah yang bertentangan dengan Ahlul Bait AS khususnya yang berkait dengan Sifat-sifat Allah Yang Maha Suci.

1. Penciptaan Adam:

Dalam Genesis, Bab I, ayat 27, digambarkan seperti berikut:
“27: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kisah ini berlanjutan menceritakan bahawa Nabi Adam as dan Hawwa di tempatkan di taman Eden. Kemudian Allah telah ‘menyesatkan’ mereka: “Tetapi pohon ilmu yang mengandungi kebaikan dan kejahatan, janganlah kalian memakannya; kerana pada hari kalian memakannya, kalian akan mati.”11

1. Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

2. Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3. tetapi -tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

4. Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

5. tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

6. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

7. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

8. Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

9. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”

10. la menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

11. firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Ku-larang engkau makan itu?”
12. Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kau-tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

13. Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

14. Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

15. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

16. Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”

17. Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Ku-perintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

18. semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

19. dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

20. Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

21. Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.

22. Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.”

23. Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.

24. la menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan. “12

2. Ya’qub Bergusti Dengan Tuhan:

Pada suatu malam, Ya’qub bergusti dengan Tuhan sehingga terbit fajar, tetapi Tuhan tidak dapat mengalahkannya! Yakub Bergusti dengan Allah (32:22-32)

22. Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok.

23. Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya.

24. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.

25. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu, terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.

26. Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.”

27. Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”

28. Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

29. Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.

30. Yakub menamai tempat itu Peniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!”

31. Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Peniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. .”13

Pengertian bagi kisah-kisah ini:

Terbukti bahwa Tuhan bagi golongan Yahudi adalah bersifat main-main dan cetek. Dia (Tuhan) menipu dan seperti manusia, dia menipu dan berbohong!
Dia berbohong kepada Nabi Adam AS apabila dia memberi amaran kepadanya supaya tidak memakan buah dari pohon larangan yang boleh menyebabkan kematiannya; dan seekor ular telah membuka rahsia pembohongan Tuhan itu kepada Nabi Adam AS, dan memujuknya supaya makan buah daripada pohon larangan itu.

Kemudian Nabi Adam AS menjadi seperti Tuhan yang mengetahui kebaikan dan kejahatan, kemudian apabila dia menyedari bahawa dia berada dalam keadaan telanjang, maka dia bersembunyi dari Tuhan!

Kisah-kisah ini adalah sesuatu yang tidak berasas di dalam kitab Taurat (yang telah diselewengkan itu).

1. Yahudi:

Mereka bertanggungjawab melakukan penyelewengan dan sisipan kepada Taurat dan penyelewengan itu digambarkan dalam pandangan mereka tentang kehidupan dan budaya mereka. Mereka mendidik anak-anak mereka menggunakan cara-cara penipuan, pembohongan dan helah yang sama. Mereka beranggapan diri mereka anak-anak Bani Israel pernah menang gusti dengan Allah sebagai yang termaktub dalam ajaran Taurat yang turut mempengaruhi orang-orang Kristian mempercayai bahawa Tuhan umpama bapa yang mempunyai anak.

Lebih penting lagi, mereka mendakwa diri mereka sebagai bangsa pilihan, maka mempunyai lesen untuk mencapai matlamat mereka dengan apa juga cara termasuklah penipuan, dan pembunuhan. Seterusnya disebabkan mereka percayai bahawa Nabi-nabi yang mengganas seperti yang dicatatkan dalam Bible,” Semua makhluk yang ada di dalamnya dibunuhnya dengan mata pedang, sambil menumpas orang-orang itu. Tidak ada yang tinggal hidup dari semua yang bernafas dan Hazor dibakarnya.”14

2. Kristian

Justeru, satu rumusan dapat dibuat bahawa kepercayaaan anthromorphisme (banyak tuhan) sebagaimana dalam ajaran Taurat mempengaruhi penganut Kristian bahawa Tuhan-tuhan umpama bapa yang mempunyai anak. Di Eropah, di mana agama Kristian dianuti oleh majoriti masyarakat dan kitab Perjanjian Lama (Old Testament) dipakai sebagai kitab pertama dalam Bible, kelahiran dan penyebaran fahaman materialisme turut disebabkan oleh cerita-cerita yang tidak dapat diterima oleh golongan intelektual.

3. Umat Islam:

Di kalangan umat Islam terdapat dua mazhab pemikiran yang besar. Satu mazhab bergantung kepada Ahlul Bait AS dan yang satu lagi bercanggah dengan mereka. Mazhab tersebut bolehlah disebutkan sebagai mazhab pemerintah atau khalifah. Mazhab pemerintah atau khalifah ini mempunyai aqidah tentang zat Allah dalam bentuk fizikal, seperti bentuk manusia. Ketara sekali idea ini diperolehi daripada ajaran Yahudi dan kami akan membahaskannya dalam bab-bab yang akan datang. Insya Allah.

Nota Kaki:

1 Lihat Tafsir Ibn Kathir, hlm 4-17
2 Al-Tabari (Edisi Eropah) – Jilid I/62/63
3 Lihat al-Gharaat oleh Thaqafi dan juga Syarh Nahjul Balaghah oleh Ibn Abil Hadid
4 Lihat Musnad Ahmad bin Hanbal
5 Tadkhiratul Huffaz oleh Dhahabi
6 Tarikh Ibn Kathir – 8/109
7 Usud al-Ghabah -3/234 dan Fathul Bari -1/166
8 Musnad Ahmad Hanbal -2/195, 202, 203, 209
9 Lihat Wafayat al-Ay’an
10 Lihat Tarikh Baghdad
11 Genesis 2, Ayat 17
12 Petikan daripada Genesis 3
13 Genesis 33
14 Yoshua 11: 11

Baca kisah tersebut seperti di bawah:

11:1. Setelah hal itu terdengar kepada Yabin, raja Hazor, diutusnyalah orang kepada Yobab, raja Madon, dan kepada raja negeri Simron, kepada raja negeri Akhsaf,

11:2 serta kepada raja-raja yang di sebelah utara, di Pegunungan, di Araba-Yordan di sebelah selatan Kinerot, di Daerah Bukit dan di tanah bukit Dor di sebelah barat,

11:3 yakni raja-raja orang Kanaan di sebelah timur dan di sebelah barat, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Yebus di pegunungan dan orang Hewi di kaki gunung Hermon, di tanah Mizpa.

11:4 Kemudian keluarlah raja-raja ini bersama-sama semua tentaranya, amat banyak rakyat, seperti pasir di tepi laut banyaknya, beserta sangat banyak kuda dan kereta.

11:5 Raja-raja ini bersekutu dan datang berkemah bersama-sama dekat mata air Merom untuk memerangi orang Israel.

11:6 Lalu TUHAN berkata kepada Yosua: “Janganlah takut menghadapi mereka, sebab besok kira-kira waktu ini Aku menyerahkan mereka mati terbunuh semuanya kepada orang Israel. Kuda mereka haruslah kamu lumpuhkan dan kereta mereka haruslah kamu bakar dengan api.”

11:7 Lalu Yosua dengan seluruh tentaranya mendatangi mereka dengan tiba-tiba dekat mata air Merom, dan menyerbu mereka.

11:8 Dan TUHAN menyerahkan mereka kepada orang Israel. Mereka dikalahkan dan dikejar sampai Sidon-Besar dan sampai Misrefot-Maim, dan sampai lembah Mizpa yang di sebelah timur. Demikianlah mereka dihancurkan, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang dibiarkan lolos.

11:9 Yosua melakukan terhadap mereka seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya: kuda mereka dilumpuhkan dan kereta mereka dibakar dengan api.

11:10. Pada waktu itu Yosua kembali, direbutnya Hazor, dan rajanya dibunuhnya dengan mata pedang. Sebab Hazor pada waktu dahulu adalah yang terutama di antara segala kerajaan itu.

11:11 Semua makhluk yang ada di dalamnya dibunuhnya dengan mata pedang, sambil menumpas orang-orang itu. Tidak ada yang tinggal hidup dari semua yang bernafas dan Hazor dibakarnya.

11:12 Selanjutnya segala kota kepunyaan raja-raja itu dan semua rajanya dikalahkan Yosua dan dibunuhnya dengan mata pedang. Mereka ditumpasnya seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN itu.

11:13 Tetapi kota-kota yang letaknya di atas bukit-bukit puing tidaklah dibakar oleh orang Israel, hanya Hazor saja yang dibakar oleh Yosua.

11:14 Segala barang dari kota-kota itu serta ternaknya telah dijarah orang Israel. Tetapi manusia semuanya dibunuh mereka dengan mata pedang, sehingga orang-orang itu dipunahkan mereka. Tidak ada yang ditinggalkan hidup dari semua yang bernafas.
11:15. Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, hamba-Nya itu, demikianlah diperintahkan Musa kepada Yosua dan seperti itulah dilakukan Yosua: tidak ada sesuatu yang diabaikannya dari segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

11:16 Demikianlah Yosua merebut seluruh negeri itu, pegunungan, seluruh Tanah Negeb, seluruh tanah Gosyen, Daerah Bukit, serta Araba-Yordan, dan Pegunungan Israel dengan tanah rendahnya;

11:17 mulai dari Pegunungan Gundul, yang mendaki ke arah Seir, sampai ke Baal-Gad di lembah gunung Libanon, di kaki gunung Hermon. Semua rajanya ditangkapnya, dan dibunuhnya.

11:18 Lama Yosua melakukan perang melawan semua raja itu.

11:19 Tidak ada satu kotapun yang mengadakan ikatan persahabatan dengan orang Israel, selain dari pada orang Hewi yang diam di Gibeon itu, semuanya telah direbut mereka dengan berperang.

11:20 Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

11:21 Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan, dari Hebron, Debir dan Anab, dari seluruh pegunungan Yehuda dan dari seluruh pegunungan Israel. Mereka dan kota-kota mereka ditumpas oleh Yosua.

11:22 Tidak ada lagi orang Enak ditinggalkan hidup di negeri orang Israel; hanya di Gaza, di Gat dan di Asdod masih ada yang tertinggal.

11:23 Demikianlah Yosua merebut seluruh negeri itu sesuai dengan segala yang difirmankan TUHAN kepada Musa. Dan Yosuapun memberikan negeri itu kepada orang Israel menjadi milik pusaka mereka, menurut pembagian suku mereka. Lalu amanlah negeri itu, berhenti dari berperang.

PENGENALAN (II)

Pengertian Sebenar Istilah Yang Samar (mutasyabihat):

Dalam Bahasa Arab dan Parsi, seperti juga bahasa-bahasa lain, apabila satu perkataan digunakan untuk membawa makna tentang sesuatu yang asal, maka penggunaan perkataan itu bersifat aktual. Contohnya apabila kita berkata: “Tangan pencuri itu telah dipotong,” maka istilah “tangan” dalam contoh ini digunakan untuk maksud sebenarnya iaitu tangan si pencuri itu. Tetapi apabila satu perkataan digunakan sebagai bentuk ucapan yang membawa maksud yang lain yang bukan makna sebenar perkataan itu, ia dipanggil perkataan figuratif atau metapora. Sebagai contoh, apabila perkataan “tangan” digunakan untuk membawa makna “kuasa,” “pihak berkuasa” dan seterusnnya.

Kadang kala dikatakan:
“Ada tangan yang lebih tinggi daripada tangan-tangan lain.”
Dalam contoh ini, maksudnya ialah adalah satu kuasa yang lebih tinggi daripada kuasa-kuasa yang lain di bawahnya. Penggunaan istilah demikian sering dipakai dalam karya sastera dengan tujuan untuk menambahkan lagi keindahan gaya bahasa dalam karya tersebut.

Al-Qur’an dalam gaya bahasanya yang tidak dapat ditiru dan amat indah dan tinggi nilainya, turut menggunakan gaya bahasa tersebut dalam pelbagai tempat. Contohnya:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu menghulurkannya kerana itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra’: 29)

Namun amat jelas terbukti bahawa perkataan-perkataan dalam ayat tersebur tidak dapat disimpulkan secara literal. Makna dalam ayat di atas adalah:
“Janganlah kamu kedekut dan berbelanja boros….”
Contoh lain ialah perkataan “Siraat” dalam Bahasa Arab bermakna “jalan” atau ‘lorong”. Dalam Surah al-Fatihah, jika kita mengambil makna secara literal “Siraat”, maka ayat itu bermaksud:
“Tunjukkan kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (jalan) mereka yang sesat.”

Ayat di atas bukan bermaksud jalan-jalan yang dilalui oleh orang-orang Arab ketika itu. Ayat itu bermaksud cara hidup yang dibawa Nabi Muhammad SAWAW yang memandu kepada cara hidup yang diredhai Allah SWT iaitu jalan atau cara hidup Islam. Kami memohon supaya ditunjukkan kepada kami jalan yang benar dan diredhai dan bukan jalan atau cara hidup yang sesat yang dimurkaiNya.

Kesimpulannya:

Para ahli Bahasa Arab pasti akan mengesahkan bahawa perkataan “tangan terbuka” dalam ayat Qur’an tidak bermaksud tangan fizikal seperti manusia. Ia bermaksud anugerah yang berlimpah-ruah. Begitu juga maksud Siraat tidak merujuk kepada jalan raya yang berdebu tetapi merujuk kepada cara hidup yang benar iaitu Islam.

Walaupun para ahli tafsir daripada kalangan yang bertentangan dengan Ahlul Bait AS membuat kesimpulan demikian namun masih amat memeranjatkan apabila perkataan yang merujuk kepada anggota tubuh manusia seperti “tangan”, “mata” dan “betis” dalam Qur’an telah disalahtafsirkan oleh mereka dengan mengambil makna secara literal yang merujuk kepada anggota tubuh manusia. Mazhab Ahlul Bait AS sebaliknya menafsirkan makna perkataan-perkataan tersebut secara metapora.

Justeru, amatlah penting untuk membandingkan kekuatan hujah di antara dua mazhab tersebut, dan mengkaji bagaimana hujah-hujah kedua mazhab itu disokong oleh nas-nas dari al-Qur’an dan hadith-hadith. Dengan cara ini akan membuatkan kita memahami sifat-sifat Yang Maha Suci yang sebenarnya dalam Islam.]

Memilih satu buku Tawhid daripada setiap mazhab:
Kami telah memilih satu buku daripada mazhab khalifah dan satu buku daripada mazhab Ahlul Bait AS untuk mewakili pandangan kedua-dua mazhab tentang Tawhid. Kitab Tawhid karya Ibn Khuzaimah mewakili mazhab khalifah dan kitab Tawhid oleh Syaikh Sadooq mewakili mazhab Ahlul Bait AS. Sebelum kami meneruskan memetik daripada setiap mazhab, kami rasa amatlah baik untuk memperkenalkan kedua-dua pengarang tersebut supaya kedudukan mereka dapat difahami oleh pembaca.

Ibn Khuzaimah dalam pandangan mazhab khalifah:
Ulama mazhab khalifah telah menggambarkan Ibn Khuzaimah sebagai:
1. Imamul Aimmah
2. Al-Hafidh al-Kabeer
3. Al-Mujtahid al-Mutlaq
4. Bahrul Ulum
5. Rai’sul Muhaddithin
6. Habrul Ulama al-Amilin
7. Ka’bahtul Ulama

Biografi Muhammad bin Isyaq Khuzaimah Nisaburi:

Beliau dilahirkan pada tahun 213 Hijrah dan wafat pada tahun 311 Hijrah. Para ulama telah meriwayatkan hadith daripada beliau termasuklah pengarang kitab hadith Bukhari dan Muslim. Di katakan Ibn Khuzaimah menerima hadith-hadith yang diriwayatkan oleh mereka berdua itu.

Selain daripada karya-karya pendek yang menjawab pelbagai soalan-soalan, Ibn Khuzaimah telah menulis 140 karya besar termasuklah kitabnya berjudul Sahih Ibn Khuzaimah. Terdapat ulama yang berpendapat Sahih lebih besar daripada Sahih Bukhari dan Muslim.

Dalam perbahasan yang ringkas ini, kami bergantung kepada kitabnya berjudul Tawhid yang disyarahkan oleh Muhammad Khaleel Haras al-Azhar, Mesir dan dicetak oleh al-Azhar Universiti Press, tahun 1378H.

Shaikh Saduq pada pandangan mazhab Ahlul Bait AS:

Shaikh Saduq adalah nama gelaran kepada Abu Muhammad bin Ali bin Husayn bin Babawayh Qummi. Beliau wafat pada tahun 381H. Beliau adalah ulama yang masyhur dan rasanya tidaklah perlu untuk diperkenalkan lebih lanjut. Hampir 200 karya besar telah ditulis oleh beliau.

Dalam perbahasan ini, kami bergantung kepada kitabnya Tawhid yang dicetak di Tehran, pada tahun 1381H, dan syarah oleh Syed Hashim Husayni Tehrani.
Kedua-dua kitab tersebut akan menjadi asas dalam perbahasan kita. Sebagai tambahan, kami juga merujuk kepada karya-karya masyhur seperti kitabul Tawhid, Sahih Bukhari, kitabul Imam, Sahih Muslim. Sumber-sumber dari mazhab Ahlul Bait AS pula kami merujuk kepada Kitab Tawhid, Bihar al-Anwar karya Majlisi (wafat 1111H).

Bab 1

Tentang “Bentuk” Allah

1. Daripada Mazhab Khalifah:

Marilah kita mengkaji dua hadith berikut:
a. Ibn Khuzaimah dalam kitabnya Tawhid, bersama dengan Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadith daripada Abu Hurairah daripada Nabi SAWAW:
“Allah mencipta Adam dari bentuknya, tinggi 60 kaki. Kemudian Dia memerintahkannya pergi ke sekumpulan malaikat dan mengucapkan salam kepada mereka.”

Allah berfirman lagi,”Dengarlah kepada mereka berhati-hati, apabila mereka menjawab salam, kerana itu adalah salam kamu dan keturunan kamu akan mengikutinya.”

Maka Nabi Adam AS patuh kepada perintah itu dan mengucapkan salam kepada mereka:”As-salamu-’alaikum”. Malaikat menjawab:”As-salamu-’alaika Wa Rahmatullah.” Dan menambah:”Wa Rahmatullah.”
Maka setiap orang yang memasuki syurga akan dalam bentuk rupa Nabi Adam AS. Manusia akhirnya menjadi lebih rendah dari segi ketinggiannya apabila masa berlalu sehinggalah manusia menjadi rupa yang seperti ini pada hari ini.

b. Abu Hurairah meriwayatkan Nabi Muhammad SAWAW berkata:
“Apabila seseorang bergaduh dengan seseorang yang lain, janganlah memukul wajahnya. Ini kerana Allah mencipta Adam dari bentukNya.”1

Hadith-hadith ini telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Marilah kita membandingkan hadith-hadith ini dengan hadith-hadith yang diriwayatkan dalam mazhab Ahlul Bait AS agar gambaran permasalahan akan menjadi jelas.

2. Ahlul Bait AS menerangkan fakta sebenar:

a. Husayn bin Khalid meriwayatkan:
“Aku bertanya Imam Ridha AS tentang hadith Nabi SAWAW yang masyhur di kalangan orang ramai iaitu Allah SWT menjadikan Nabi Adam AS dari bentuknya. Beliau berkata:
“Laknat ke atas pemalsu hadith tersebut yang meninggalkan bahagian yang lain dari hadith di atas.” Kemudian beliau AS menerangkan:2

“Pada suatu hari Nabi SAWAW melalui satu tempat apabila beliau SAWAW mendengar dua orang lelaki sedang saling mengutuk sesama mereka. Beliau SAWAW mendengar salah seorang berkata:”Semoga Allah menghinakan wajah kamu, dan wajah yang menyamai rupa kamu.”

Pada ketika itu Nabi SAWAW mencelah dan berkata kepadanya:”Janganlah berkata seperti itu kepada saudara kamu kerana Allah (juga) menjadikan Adam seperti rupanya.” (Maksudnya Nabi Adam AS mempunyai rupa bentuk seperti lelaki yang dicercanya itu).

b. Dalam hadith lain yang diriwayatkan oleh Abul Ward kepada Thamamah daripada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Talib AS:
“Nabi SAWAW mendengar seseorang mencerca seseorang yang lain:
Semoga Allah menghinakan wajah kamu dan wajah yang seperti kamu.”
Nabi SAWAW berkata:
“Tutup mulut kamu! Jangan berkata demikian! Kerana Allah menjadikan Adam dalam bentuknya (lelaki itu).

c. Selain daripada dua hadith di atas, marilah kita mengkaji satu lagi hadith yang akan memberikan gambaran yang betul bagaimana Imam-imam Ahlul Bait AS memberikan pandangannya tentang kepercayaan anthropomophisme (kepercayaan banyak tuhan).

Al-Saduq dalam kitabnya Tawhid berkata:
“Imam Musa bin Ja’far AS menerima sepucuk surat dari seseorang yang memintanya memberikan penjelasan tentang aqidah yang mempercayai bentuk tubuh dan wajah pada Zat Allah.” Imam AS menjawab:
“Segala puji bagi Allah! Tidak ada sesuatu pun yang menyamai Dia – tidak ada bentuk dan rupa.”

Pemerhatian dan Perbandingan:

Apabila kita meneliti dua riwayat di atas dan membuat perbandingan, maka kita dapati Abu Hurairah dalam dua riwayat di atas telah membuat dua penambahan dan satu pengurangan.

I. Pengurangan:

Apabila Abu Hurairah meriwayatkan daripada Nabi SAWAW, dia telah meninggalkan peristiwa ketika Nabi SAWAW melarang dua orang yang sedang bertengkar daripada menggunakan bahasa kesat dan melarang salah seorang daripadanya agar tidak bercakap perkara yang buruk tentang wajah manusia kerana ia mencerminkan bentuk wajah Nabi Adam AS. Ini adalah satu pengurangan kerana versi Abu Hurairah memberikan makna perkataan “nya” merujuk kepada Allah sedangkan maksud yang sebenar ialah diri orang itu sendiri.

Abu Hurairah telah meninggalkan bahagian penting dalam hadith disebabkan:
1. Beliau menggunakan kaedah hafalan untuk mengingati hadith kerana beliau tidak tahu menulis dan membaca. Dan jika dia boleh membaca dan menulis, beliau pasti tidak diizinkan oleh khalifah yang melarang orang ramai meriwayatkan hadith-hadith daripada Nabi SAWAW, sehinggalah berakhirnya abad pertama Hijrah.

2. Abu Hurairah telah banyak dipengaruhi oleh Ka’b al-Ahbar yang menyebarkan cerita-cerita yang telah diselewengkan daripada Taurat di kalangan Muslim.

Nampaknya, gambaran apa yang telah Ka’b riwayatkan ada dalam kotak pemikiran Abu Hurairah, kerana ia muncul kira-kira 20 tahun selepas didengar daripada Nabi SAWAW.

3. Kemungkinan kesalahan itu adalah riwayat daripada ahli-ahli hadith yang terkemudian yang meriwayatkan daripada Ka’b yang secara palsu menyandarkan hadith tersebut daripada Abu Hurairah.

4. Dua Tambahan:
Dalam hadith pertama, Abu Hurairah menyandarkan kenyataan berikut kepada Nabi SAWAW:

“Apabila seseorang terlibat dalam pergaduhan dengan saudaranya, maka ia hendaklah mengelakkan daripada memukul wajahnya….”
Ini berkemungkinan satu rekaan daripada Abu Hurairah menggantikan seperti apa yang telah kita rujuk di atas.

Dalam riwayat yang lain, Abu Hurairah bercakap tentang ketinggian Nabi Adam AS:
“Allah menjadikan Nabi Adam AS dalam bentuknya, tingginya 60 kaki….”
Ternyata kenyataan-kenyataan tersebut bukanlah fakta yang benar dan tidak juga sesuai dengan kajian saintifik.

Seseorang dapat dengan mudah melihat cerita-cerita yang dipetik daripada Abu Hurairah menyamai dengan cerita-cerita daripada bab Kejadian (Genesis) dalam Kitab Perjanjian Lama (Old Testaments). Dengan memasukkan cerita-cerita demikian dalam hadith Nabi SAWAW, menyisipkan dan memotong di sana-sini, Abu Hurairah dan orang-orang yang sepertinya telah berjaya memberikan kredibiliti kepada cerita-cerita yang terdapat dalam Taurat. Cerita-cerita ini adalah cerita-cerita “Israiliyyat” yang telah mencemarkan hadith-hadith dan aqidah Islam.

Mazhab khalifah telah mengambil bulat-bulat hadith-hadith tersebut kerana nama seperti Abu Hurairah sudah sebati dengan mereka. Hasilnya apabila perkataan seperti ‘wajah’ dikaitkan dengan al-Qur’an, mereka mengambilnya dengan makna yang literal. Kepada mereka, semua sifat-sifat, perlakuan dan bentuk manusia dapat disesuaikan dengan Allah! Kami akan membahaskan perkara ini dalam bab-bab yang akan datang. Insya Allah.

Nota Kaki:

1 Sahih Muslim – hlm. 2016, 2017.
2 Tawhid al-Sadooq.

Bab 2

‘Wajah’ Allah Sebagaimana Yang Difahami oleh Mazhab Khalifah:

Ibn Khuzaiman dalam karyanya bertajuk “Tawhid” menulis pada halaman 10:
“Bab mengenai wajah Allah, yang Dia telah menerangkan dalam kitabNya seperti ayat berikut:
“Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”(Al-Rahman: 27)
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah.” (al-Qasas: 88)

Oleh yang demikian, Ibn Khuzaimah mencari keterangan lain dalam al-Qur’an dan berkata:
“Maka Allah telah menjelaskan bahawa Dia mempunyai wajah, telah menerangkan Ia mempunyai kebesaran dan kemuliaan, dan telah menyatakan bahawa wajahNya akan kekal selama-lamanya dan tidak akan binasa…..”

Dalam kesimpulannya beliau menambah:
“Apabila Allah telah mengesahkan diriNya (mempunyai wajah) , maka kami juga mengesahkannya, tetapi WajahNya tidak sama seperti wajah makhluk-makhlukNya.”

Dalam bab kesebelas kitab yang sama, Ibn Khuzaimah memetik 14 hadith daripada Nabi SAWAW di mana perkataan ‘wajah’ telah disebutkan, dan beliau telah membuat dakwaan tersebut berasaskan hadith-hadith itu. Sebagai contoh, apabila Nabi SAWAW berdoa dan berkata:
“Aku memohon perlindungan dengan WajahMu yang Mulia….”

Ibn Khuzaimah mendakwa perkataan wajah yang dimaksudkan oleh Nabi SAWAW merujuk kepada wajah dalam maknanya yang literal. Dalam perkataan lain, beliau mendakwa ‘wajah’ adalah sebahagian daripada anggota yang ada pada tubuh Tuhan sama seperti manusia atau juga haiwan.
Sekarang, marilah kita mengkaji apa yang Ahlul Bait AS maksudkan dalam hadith-hadtih mereka:

‘Wajah’ – menurut penjelasan Ahlul Bait AS:

Sebagai satu penjelasan, marilah kita mengkaji satu hadith daripada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Talib AS, di mana beliau AS telah menunjukkan kaedah untuk memahami ayat-ayat Qur’an khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan.
Seseorang merujuk kepada Ali bin Abi Talib AS dengan memetik beberapa ayat Qur’an bagi mengemukakan kemusykilan-kemusykilannya. Di antaranya ialah kami memilih dua ayat berikut:

Maksud secara literal dua ayat berikut:
a. “(Dan pada Hari Pembalasan) Tuhanmu akan datang, dan malaikat berbaris-baris…” (Al-Fajr: 22)

b. “Yang mereka nanti-nantikan tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu..”(Al-An’am: 158)

Kemusykilan yang dikemukakan sama ada Allah SWT akan muncul pada Hari Pembalasan sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat-ayat ini. Imam Ali AS menerangkan:

“Apabila Allah Yang Maha Mulia mewahyukan ayat-ayat ini, maka ia adalah sesuatu yang benar kecuali kedatanganNya tidaklah sama dengan makhluk-makhlukNya. Aku telah menasihatkan kamu sebelum ini bahawa sebahagian daripada ayat-ayat Qur’an tidak dapat diambil maknanya secara literal sebaliknya kamu hendaklah memahaminya secara metafora.
“Kata-kata Allah tidak sama dengan kata-kata manusia, dan perbuatanNya tidak sama dengan perbuatan manusia.

Bagi menjelaskan perkara ini, saya akan memberikan kamu contoh-contoh daripada Qur’an supaya Insya Allah, kamu akan memahami Qur’an dengan cara yang betul. Qur’an menjelaskan Nabi Ibrahim AS berkata:
“Aku akan pergi menghadapTuhanku. Sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (al-Saffat: 99).

“Di sini, ‘pergi menghadap Tuhanku’ tidak bermaksud berjalan dan kemudian bertemu Dia. Tetapi ia bermaksud pasrah kepadaNya dengan bersungguh-sungguh dengan cara beribadat untuk mendekatkan diri kepadaNya. Tidaklah kita dapat melihat perbezaannya antara makna literal dan makna sebenar yang disampaikan secara metafora? Sekali lagi, (kami) kemukakan lagi contoh-contoh ayat yang mengandungi ayat-ayat seperti gaya bahasa di atas dan perhatikan maksud sebenarnya:

a.”Dia menurunkan kamu lapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.” (al-Zumar: 6)

b. “Dan turunkan kepada kamu besi, yang mempunyai daya kekuatan yang hebat…”(al-Hadid: 25)
Nah, jika kita bergantung kepada makna literal, adakah anda akan mengatakan bahawa lapan ekor haiwan dan besi itu diturunkan oleh Allah SWT dari langit tetapi makna demikian bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat-ayat tersebut. Perkataan-perkataan tersebut sebenarnya bermaksud ‘Kami (Allah SWT) ciptakan’ atau ‘Dia jadikan.’ (Sila lihat Tawhid oleh S. Saduq, hlm. 265)

Ali bin Abi Talib AS telah mengajarkan kepada kita dua kaedah asas untuk memahami Sifat-Sifat Allah SWT:
Pertama, perbuatan Allah SWT tidak boleh disamakan dengan perbuatan manusia. Apabila Allah SWT menerangkan dalam al-Qur’an dengan firmanNya:
“Allah telah mendengar…”(Mujadilah: 1) Maka ia tidak boleh disamakan dengan pendengaran manusia, binatang atau makhluk-makhluk lain. Kita (manusia) mendengar dengan bantuan alat pendengaran (telinga). Pendengaran oleh Allah SWT tidak membawa maksud sedemikian.

Allah dalam al-Qur’an menerangkan:
“…..”Aku menjadikan dengan tanganKu” (Sad: 75)
Manusia mungkin juga mampu membuat benda-benda dengan tangannya. Tetapi kedua-duanya mempunyai maksud yang berbeza. Allah SWT tidak mempunyai alat anggota malahan tidak memerlukan alat anggota tubuh badan untuk menjadikan sesuatu. Allah SWT telah mewahyukan kepada Nabi Musa AS:

“Janganlah kamu berdua khuwatir! Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan Aku melihat” (Taha: 46)
Bersama-sama berada dengan seseorang mempunyai maksud yang berbeza dengan apa yang lazim kita fahami dalam kenyataan kita sebagai manusia. Apabila Allah SWT ‘dekat’ dengan seseorang, ia tidak merujuk kepada dekat secara fizikal atau dalam jarak yang hampir di antara yang mendekat dan didekati.

Kedua, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Talib AS, berkata, amatlah mustahak memahami makna literal dan metapora dalam penggunaan bahasa al-Qur’an sebelum seseorang itu melakukan penafsiran atau huraian tentang al-Qur’an. Beliau AS mengambil dua contoh ayat al-Qur’an untuk menjelaskan perkara itu.
Hakikatnya, apabila kita duduk dan membaca sastera atau karya klasik dalam bahasa apa pun, kita dikehendaki untuk benar-benar fasih dalam bahasa tersebut, penggunaan perkataan dan sebagainya. Berasaskan prinsip asas tersebut, marilah kita mengkaji bagaimana mazhab Ahlul Bait AS menjelaskan maksud perkataan ‘wajah’ Allah SWT.

Abu Hamzah berkata:
“Aku bertanya Imam Muhammad al-Baqir AS tentang maksud ayat berikut:
“Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajh Allah.”
Imam AS menjawab:
“Adakah mereka menyangka Allah mempunyai rupa wajah dan setiap orang akan binasa kecuali rupa WajahNya? Maha Suci Allah daripada mempunyai rupa wajah! Maksud sebenar ayat tersebut ialah setiap sesuatu akan binasa kecuali agama Allah, iaitu arah dan jalan yang menuju Allah.”1

Dalam riwayat yang lain daripada Imam Ja’far al-Sadiq AS, ayat ini dihuraikan lebih lanjut:

“Setiap sesuatu akan binasa kecuali anutan jalan yang lurus.”
Kedua-dua huraian itu membawa makna yang sama, iaitu jalan yang lurus atau agama Allah SWT (Islam). Inilah maksud sebenar istilah “Wajah Allah” yang telah diterangkan oleh Ahlul Bait AS.

Marilah kita melihat makna ‘Wajh’ dalam Bahasa Arab selain daripada makna literal yang sering digunakan dalam percakapan harian.
1. Wajh bermakna “permulaan” atau “bahagian paling awal” sebagaimana yang digunakan dalam frasa “Wajhun-Nahar” iaitu permulaan pagi.

2. Wajh bermakna “kebenaran hakiki atau hakikat sebenar sesuatu perkara itu” sebagaimana mereka berkata dalam Bahasa Arab; Asaba Wajhal Masa’lah yang bermaksud Dia datang dengan hakiki sebenar perkara itu.

3. Wajh bermakna “arah, tujuan” seperti: Ittajahat Tijarah” bermaksud dia datang dengan tujuan untuk berniaga.2

Makna-makna ini telah disahihkan oleh tokoh-tokoh ilmuan moden seperti pengarang kitab ‘Mu’jamu Al-Faazil Quran al-Karim”, yang dicetak di Mesir pada tahun 1390H.

Walaupun istilah ‘Wajh’ mempunyai makna yang lebih luas, namun mazhab khalifah tidak mempunyai alasan yang kuat untuk memilih makna bahawa Allah mempunyai anggota seperti manusia. Amatlah jelas mereka ini telah dipengaruhi oleh cerita-cerita Israiliyyat sesat Yahudi dan riwayat-riwayat yang diambil daripada sahabat-sahabat seperti Abu Hurairah.
Dalam perbincangan yang ringkas tadi, kita menyedari bahawa kedua-dua mazhab itu mempunyai pandangan yang berbeza tentang Allah. Mazhab yang pertama (mazhab khalifah) percaya kepada doktrin anthropomorphisme, yang membayangkan Allah seperti kita manusia atau makhluk lain yang mempunyai anggota tangan, kaki dan sendi-sendi. Mazhab yang satu lagi (mazhab Ahlul Bait AS) percaya kepada wujud Allah SWT tidak menyamai makhlukNya.

Terdapat ayat-ayat Qur’an yang memerlukan pedoman suci untuk memahaminya dan pedoman itu datangnya daripada Nabi SAWAW dan Ahlul Baitnya yang suci. Allah berfirman:

“Di antara (isi)Nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya padahal tidak ada orang yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah…” (Ali Imran: 7)

Allah SWT telah mengamanahkan NabiNya SAWAW dengan tugas untuk menyampaikan maksud al-Qur’an:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (Al-Nahl: 44)

Dan Nabi SAWAW telah mengajarkan ilmunya kepada Ali bin Abi Talib AS yang mencatatkan dan menghafalnya dengan penuh keimanan. Selepas kewafatan Nabi SAWAW, umat Islam merujuk kepada Ali AS apabila ditimpa masalah dalam hal memahami al-Qur’an dan beliau AS sering memberikan jawapan yang memuaskan. Ilmu pengetahuan Ahlul Bait AS adalah anugerah daripada Allah SWT. Ia tidak bergantung kepada pendapat peribadi atau tafsiran ulama yang dipengaruhi oleh aliran pemikiran bukan Islam.

Bab berikutnya akan membahaskan perbezaan ini dengan lebih terperinci.

Nota Kaki:

1 Tawhid al-Sadooq.
2 Tiga makna ini telah diambil daripada Mufradul Quran oleh Raghib.

BAB 3

“Mata” Allah Dari Pandangan Mazhab Khalifah

Dalam kitab-kitab tafsir dan hadith, ulama dari mazhab di atas meriwayatkan dari Abu Hurairah, berkata:
“Apabila Nabi SAWAW membaca ayat berikut:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa: 58)

“Aku melihat Nabi SAWAW menggambarkan sifat mendengar dan melihat Allah dengan meletakkan ibu jari di telinga dan jari tunjuk di matanya.”
Apabila Abu Hurairah meriwayatkan hadith di atas, beliau sering mengulangi bagaimana yang ditunjukkan itu dengan meletakkan jari-jarinya sendiri pada mata dan telinga. Beliau melakukan ini untuk menunjukkan Allah mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata.

“Jahmiyyah” adalah satu mazhab yang menolak pengertian seperti itu. Abu Daud ketika menolak aqidah puak Jahmiyyah itu menyatakan:
“Hadith Abu Hurairah yang diriwayatkan itu dengan jelas menolak aqidah Jahmiyyah (yang percaya Allah tidak mempunyai anggota atau tubuh badan.)”

Penjelasan Abu Hurairah itu menyebabkan mazhab khalifah percaya perkataan “Ayn” dalam al-Qur’an yang dikaitkan dengan Allah, hendaklah difahami bahawa maksudnya ialah mata sebenar iaitu sebahagian daripada anggota pada tubuh yang menjadi alat untuk melihat. Justeru, kita dapati Ibn Khuzaimah yang menjadi imam kepada imam-imam seperti mana yang didakwa oleh mazhab mereka, menulis satu bab dalam kitabnya Tawhid,”untuk membuktikan Allah SWT mempunyai mata.” Beliau menulis:

“Kami menjelaskan apa yang Allah berkata tentang diriNya dalam kitabNya dan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAWAW memperkuatkan dalil bahawa Allah mempunyai mata.”

Beliau meneruskan hujah-hujahnya dengan memetik ayat-ayat berikut:
a. (Allah SWT berfirman kepada Nabi Nuh AS)”Dan buatlah bahtera itu dengan (di bawah) mata Kami.” (Hud: 37).

b. “Yang belajar dengan (di bawah) mata Kami (tajri-bi-’aiyunina).”(al-Qamar: 14).
c. “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang daripadaKu dan supaya kamu diasuh di bawah mataKu (wa-li-tus-na-’a ala-’aini).” (Taha: 39)

d. “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (at-Tur: 48)

Ibn Khuzaimah berkata:
“Berdasarkan ayat-ayat ini, maka adalah wajib bagi setiap mukmin untuk menyakini aqidah bahawa Allah mempunyai mata, dan Dia telah mengesahkan untuk diriNya.”1

“Dan barang siapa yang tidak mempercayai Allah telah mewahyukan dalam KitabNya dan apa yang Ia nyatakan tentang DiriNya, maka orang itu bukan seorang muslim. Maksud ayat Qur’an telah menunjukkan bukti yang terang yang telah digambarkan oleh Nabi SAWAW sendiri, sebagaimana Allah telah memerintahkannya dalam Qur’an:

“Kami turunkan kepadamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”(An-Nahl: 44)

“Nabi SAWAW dalam tafsirannya telah menjelaskan dengan terang-benderang bahawa Allah mempunyai sepasang mata! Penjelasan Nabi itu selaras dengan teks al-Qur’an, Qur’an yang sama yang dalam bentuk kitab di antara dua kulit kitab, dan dibaca di masjid-masjid dan di pusat-pusat pengajian.”

Tidak puas dengan hujah di atas, beliau memetik hadith-hadith, di antaranya dari riwayat Abu Hurairah. Akhirnya, beliau meriwayatkan hadith daripada Abdullah bin Umar:
“Nabi SAWAW bersabda:
“Allah tidak buta satu mata seperti Dajjal yang tidak mempunyai mata kanan. Ia terapung seperti buah anggur.”

“Mata” Menurut Pandangan Ahlul Bait AS:

Imam-imam Ahlul Bait AS telah menerangkan maksud sebenar dalam ayat-ayat tersebut. Walau bagaimanapun, kita akan membahaskan perkara tersebut dengan terperinci seperti berikut:

Ibn Khuzaimah telah mengambil perkataaan “Ayn” atau ” ‘ayunina” secara literal, untuk menbuktikan hujahnya bahawa Allah SWT mempunyai mata. Pada hakikatnya perkataan “Ayn” dan kata terbitannya mempunyai banyak makna dalam Bahasa Arab. Rujukan lanjut bolehlah dibuat dengan mengkaji kitab-kitab bahasa arab seperti,”Lisanul Arab.” Dalam Mu’jamul Udaba (2/11) kami dapati seorang ahli gaya bahasa Arab Ibn Faris Ahmed b. Zakariyya (w.369H) telah mengumpulkan setiap bait (rangkap) perkataan yang berakhir dengan kata”Ayn”, setiap satu mempunyai makna yang berbeza. Syed Muhsin al-Ameen telah menuliskan enam puluh bait.

Al-Qur’an telah menggunakan perkataan tersebut dengan dua kaedah dan makna iaitu secara literal dan metapora. Pada dua puluh satu tempat, al-Qur’an menggunakan “Ayn” untuk menunjukkan mata air atau air sungai.

Tetapi yang lebih penting adalah ayat yang dipetik oleh Ibn Khuzaimah untuk mengukuhkan aqidahnya pada hakikatnya mempunyai makna figuratif. Dalam Bahasa Inggeris kita katakan: “to keep an eye on” bermaksud untuk mengawasi; “in the eyes of law”, bermaksud “dari segi undang-undang”; “the eye of a dome”, bermaksud bahagian tengah dan seterusnya. Amat jelas bahawa penggunaan kata-kata itu tidak membawa maknanya secara literal. Begitu juga kata-kata ini telah digunakan untuk maksud secara metapora (kiasan).

Dalam Majma al-Lughat al-Arabiyyah yang dicetak di Mesir, kami dapati:
“Dalam al-Qur’an perkataan “Ayn” telah digunakan dalam dua bentuk sama ada secara aktual atau metapora (kiasan). Sebagai contoh:

a. “Dan berkatalah isteri Fir’aun:”(Ia) biji mata bagiku dan bagimu.” (al-Qasas: 9)

b. “Maka makan, minum dan sejukkan matamu…”(Fa kuli was-rabi wa-qarri ‘aina). (Maryam: 26)

Dengan ini terbukti bahawa ayat-ayat yang menggunakan perkataan “Ayna” dan “Aynin” menggambarkan kegembiraan dan kepuasan hati (bukan maknanya secara literal seperti ‘ia biji mataku’ atau ‘sejukkan matamu’).

Sejarah menjelaskan kepada kita bahawa Allah memerintahkan ibu Nabi Musa AS mencampakkannya ke dalam sungai. Ketika itu Nabi Musa AS masih lagi bayi kemudian dibawa arus sungai tersebut dan sampai ke istana Fir’aun. Nabi Musa AS kemudian dipelihara oleh Fir’aun sebagai anak angkat. Kisah lengkap tersebut diceritakan dalam al-Qur’an seperti berikut:

” Dan berkatalah isteri Fir’aun:”(Ia) biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa’at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyedari.” (al-Qasas: 9)

Pada contoh kedua, ayat tersebut mengaitkan dengan kisah Maryam, ibu kepada Nabi Isa AS. Ketika ia melahirkan Nabi Isa AS, beliau mengeluh kerana beliau tahu orang ramai tidak akan percaya beliau seorang wanita suci, dan Nabi Isa AS dilahirkan tanpa bapa dengan perintah Allah SWT. Maka Allah berfirman:

“Maka makan, minum dan sejukkan matamu (bersenang hatilah) kamu. Jika kamu melihat seseorang manusia, maka katakanlah:”Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seseorang manusiapun pada hari ini.” (Maryam: 26)

Sekarang ayat-ayat yang dipetik oleh Ibn Khuzaimah memerlukan analisa lanjut. Ayat pertama, ditujukan kepada Nabi Nuh AS. Maksud sebenarnya ialah:
“Dan buatlah bahtera itu dengan dibawah mata (pengawasan) Kami.”
Ayat kedua juga bermaksud bahtera Nabi Nuh AS belayar di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah SWT.

Pada ayat ketiga, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa AS: Pengertian sebenar ayat ini ialah:

“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang daripadaKu dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan dan perlindunganKu.”
Pada ayat terakhir, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Muhamamd SAWAW:

Maksud ayat tersebut ialah:
“(Wahai Nabi) – Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan (pengawasan) Kami.”

Akhir sekali, hadith-hadith yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Omar menekankan bahawa Allah SWT tidak buta seperti Dajjal. Nampaknya ia memberikan petanda kepada kita bahawa dia mahukan kita mempercayai Allah mempunyai sepasang mata yang sihat dan tidak rosak (buta)! Namun berdasarkan penjelasan kami yang terang benderang di atas, maka dapatkan kita nilaikan tentang kesahihan hadith tersebut! Kami telah pun menekankan tentang kepalsuan hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan teman-teman sealiran dengannya, dan bagaimana mereka kekal dipengaruhi oleh ajaran Yahudi dan Kristian. Ajaran Islam yang murni telah dicemarkan oleh riwayat-riwayat yang menerima sisipan cerita-cerita dalam Taurat yang tercemar dan lain-lain sumber bukan Islam.

Nota Kaki:

1 Tawhid Ibn Khuzaimah.

Bab 4

“Tangan” Allah Mengikut Riwayat Mazhab Khalifah

Mazhab khalifah telah meriwayatkan dalam kitab-kitab mereka daripada Abu Hurairah daripada Nabi SAWAW seperti berikut:

“Nabi Adam dan Musa telah bertengkar dalam satu perbualan: Nabi Musa berkata:
“Wahai Adam! Allah telah menjadikan kamu dengan kedua belah TanganNya…..tetapi kamu telah membawa semua manusia turun daripada taman syurga disebabkan dosa kamu.”
Adam menjawab:
“Wahai Musa, Allah telah memuliakan kamu dengan menulis Taurat dengan kedua belah TanganNya.”

Dalam riwayat yang lain diriwayatkan daripada Abu Hurairah:
“Allah turun ke langit dunia, dan membuka kedua belah tanganNya dan berkata….”

Tentang “Jari-Jari” Allah

Tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan perkataan jari-jari Allah, justeru Ibn Khuzaimah telah bersandarkan kepada hadith untuk menguatkan dakwaannya tentang Allah SWT mempunyai jari-jari seperti manusia. Hadith-hadith tersebut dapat dibaca dalam kitab Tawheed Ibn Khuzaimah, dan dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmudzi, Sunan Ibn Majah, Tafsir Tabari, Ibn Kathir, dan Suyuti. Salah satu daripda hadith tersebut ialah:

“Abdullah meriwayatkan bahawa seorang rabbi Yahudi datang kepada Nabi SAWAW dab berkata:
“Wahai Muhammad! Kami membaca dalam Taurat bahawa Allah memelihara langit dengan satu jari, pohon-pohon dengan satu jari, air dengan satu jari, bumi dengan satu jari, dan makhluk dengan satu jari! Dan Dia berfirman:”Akulah Raja!”
“Nabi SAWAW tersenyum untuk mengesahkan kata-kata rabbi Yahudi itu, dan bagi menguatkan kenyataannya itu, membacakan ayat berikut:
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya…” (Al-Zumar: 67)

Riwayat-riwayat ini adalah daripada Abu Hurairah dan lain-lainnya yang mengajak golongan ulama daripada mazhab yang bertentangan dengan Ahlul Bait AS memilih makna literal daripada perkataan “Yadullah” (tangan Allah) apabila mentafsirkannya daripada ayat-ayat Qu’ran yang mempunyai perkataan tersebut. Ibn Khuzaimah telah menulis satu bab dalam kitabnya Tawhid yang menyatakan:

“Hujah bahawa Allah Maha Pencipta, Maha Tinggi mempunyai tangan; sesungguhnya Allah SWT mempunyai sepasang tangan sebagaimana yang telah kita pelajari dalam ayat-ayat Qur’an yang menyatakan perkara tersebut.”1

Kemudian beliau menghuraikan selanjutnya dengan memetik ayat-ayat berikut bagi menyokong dakwaannya itu:

1.”Orang-orang Yahudi berkata:”Tangan Allah terbelenggu,” sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki….” (Al-Maidah: 64)

2.”Maka Maha Suci (Allah) yang di tanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.” (Yaasin: 83)

3.”Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali-Imran: 26).
Izinkan kami menghuraikan apa yang telah diterangkan oleh mazhab Ahlul Bait AS:

Jawapan-jawapan Daripada Ahlul Bait AS

1. Muhammad bin Muslim bertanya kepada Imam Muhammad Baqir AS tentang ayat berikut:2

“Allah berfirman:”Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tanganKu….” (Sad: 75)
Imam Baqir AS menjawab:
“Yad (tangan) dalam Bahasa Arab bermaksud kuasa dan anugerah.”
Kemudian beliau AS menghuraikan lanjut dengan contoh-contoh daripada ayat Qur’an dan Bahasa Arab untuk menjelaskan maksud ucapan tersebut. Kami memetik sebahagian daripada contoh-contoh itu:

1.”(Wahai Nabi SAWAW) bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai tangan (dhal-aidi) ; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Sad: 17)

Imam AS menjelaskan bahawa istilah tangan dalam ayat ini menunjukan maksud kiasan (kepada makna kekuatan). Apa yang Allah mahu sampaikan adalah Dia telah menganugerahkan Nabi Daud AS dengan kekuatan. Kemudian Imam AS menghuraikan beberapa lagi contoh kekuatan yang telah dianugerahkan kepada Nabi Daud AS.

2. “Dan langit itu Kami bangun dengan tangan (Kami) sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (Adz-Dzariyyat: 47)
Imam AS berkata:”Dalam ayat ini, tangan bermaksud kuasa.”

3.”Mereka itulah orang-orang yang Allah telah memberikan mereka tangan dengan ruh daripadaNya…”(Al-Mujaadilah: 22)

Dalam ayat ini “tangan” bermaksud kekuatan atau kekuasaan.
Imam AS memetik daripada sastera Arab:

a. Mereka berkata:
“Si-polan dan si-polan mempunyai banyak tangan dengan saya.”
Ini bermakna saya mempunyai hutang budi kepadanya.

b. Sekali lagi, orang-orang Arab berkata:
“Dia ada tangan putih ke atas saya!”
Ini bermakna “Dia ada tanggungjawab kepada saya”.Tangan dalam ayat ini bermaksud sifat murah hati.

c. Muhammad bin Ubaidah merujuk ayat yang sama dari Surah Sad kepada Imam Ridha AS. Jawapan Imam AS seperti berikut:
“Dengan tangan-tangan Kami” dalam ayat ini bermaksud “dengan Kekuasaan dan Kekuatan”.3

e. Suleiman bin Mahran berkata beliau bertanya kepada Imam Ja’far al-Sadiq AS makna firman Allah dalam ayat al-Qur’an:
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya……4″ (Al-Zumar: 67)

Imam AS berkata:
“Ia bermaksud kekuasaan mutlak – tidak ada sekutu dengan yang lain.”
Muhammad bin Ubaidah bertanya tentang makna selanjutnya selepas ayat itu:
“…..dan langit digulungkan dengan (Yameen) kananNya….”

Imam AS menerangkan:
“Allah menggunakan istilah “Yameen” (kanan) yang membawa erti ‘tangan’ dan ‘tangan’ bererti Maha KekuasaanNya. Langit akan digulungkan dengan KekuasaanNya.

Perkataan “tangan” atau “KananNya” tidak membawa makna genggaman tangan kanan. Ia tidak merujuk kepada sebarang anggota tubuh badan seperti yang difahami oleh mazhab khalifah.

Membayang sifat anggota tubuh wujud pada Zat Allah SWT akan membawa seseorang kepada syirik- justeru Imam Ja’far al-Sadiq AS selepas mengemukakan hujah-hujahnya yang menjawab persoalan itu telah membacakan keseluruhan ayat tersebut secara lengkap. Beliau AS membacakan baris terakhir ayat tersebut:
“Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

Pemerhatian:

Mazhab Ahlul Bait AS mengemukakan hujah berasaskan makna sebenar Tawhid, pada masa yang sama bersandarkan kepada penggunaan umum istilah berkenaan di kalangan orang Arab dan juga kesusasteraan mereka.

Raghib Isfahani dalam kitabnya yang masyhur Mufradatul Qur’an berkata:
“Yad bermakna ‘tangan’, iaitu anggota tubuh manusia. Tetapi ia juga mempunyai makna yang lain seperti menguasai, kuasa dan arah.”

Para ilmuan Mesir telah menyenaraikan sembilan makna berlainan untuk perkataan “Yad’, selain daripada makna tangan. Sebagai contoh, ayat berikut:
“Maka Maha Suci (Allah) yang di tangannya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya kamu dikembalikan.” (Yaasin: 83).

Ayat di atas diterjemahkan seperti berikut:
“Maka Maha Suci (Allah) yang di tangannya (Yang Maha Menguasai) segala sesuatu dan kepadaNya kamu dikembalikan.”

Perkara yang paling ganjil ialah apabila para ilmuan yang memilih makna literal tangan dan lain-lain anggota kepada Allah SWT mengambil pula makna yang lain apabila perkataan yang sama ditujukan oleh Nabi SAWAW.

Dalam ayat berikut, yang ditujukan kepada Nabi SAWAW, para penterjemah dan ahli tafsir bersepakat bahawa makna ‘Yad’ bukan bererti ‘tangan’ secara literal:
“Dan janganlah jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu menghulurkannya kerana itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra’: 29).

Tidak ada seorang pun di kalangan mereka yang memilih makna ‘tangan’ secara literal tetapi apabila perkataan yang sama ditujukan kepada Allah, mereka memilih pula makna secara literal dan menolak maknanya secara metapora.
Hal ini jelas menunjukkan pengaruh atau penyisipan ajaran-ajaran Yahudi dan Kristian yang telah tercemar dan kemudian ia diperkuatkan pula oleh sebahagian daripada sahabat-sahabat yang tidak berhati-hati. Namun kisah ini tidak berakhir di sini. Masih ada lagi perbahasan yang menarik selepas ini.

Nota Kaki:

1 Tawhid Ibn Khuzaimah, hlm.53
2 Tawhid al-Sadooq, hlm. 153
3 Tawhid al-Sadooq, hlm. 153-154.
4 Tawhid al-Sadooq, hlm. 160-161.

Bab 5

“Kaki Allah” dan “BetisNya”

Dalam kitab Tawhid Ibn Khuzaimah, beberapa hadith ‘kaki’ Allah telah telah disebutkan yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Hadith-hadith ini juga boleh didapati dalam kitab Hadith Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmudzi, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab tafsir seperti al-Tabari, Ibn Katsir dan Suyuti.

Abu Hurairah meriwayatkan daripada Nabi SAWAW:
“Syurga dan neraka bertengkar, masing-masing ingin membuktikan siapakan yang lebih hebat daripada yang lain.
“Neraka berkata: “Aku mempunyai keistimewaan dengan masuknya orang-orang yang sombong dan berkuasa.”
“Syurga berkata: “Aku tidak tahu mengapa hanya orang yang lemah dimasukkan ke dalamku.”
“Maka Tuhan berfirman kepada syurga: “Engkau adalah rahmatKu, dan melalui engkau Aku menunjukkan rahmat kasih-sayangku terhadap hamba-hambaKu.”
“Dan kemudian Dia berfirman kepada neraka: “Engkau adalah kemarahanKu, dan melalui engkau Aku menghukum orang-orang yang akan Aku kenakan hukuman. Setiap daripada kalian akan dipenuhi.”

“Tetapi neraka tidak akan penuh, maka Allah memasukkan kakiNya ke dalamnya (neraka). “Kemudian neraka berkata: “Cukup! Cukup!
“Maka dengan cara ini neraka akan penuh, kerana Allah tidak menyalahkan sesiapapun. “Maka kepada syurga pula, Dia akan masukan makhluk yang baru untuk memenuhkannya.”

“Betis” Allah

Dalam Sahih Bukhari, Mustadrak oleh al-Hakim, Tafsir Tabari, Ibn Kathir dan Suyuti, kami dapati hadith-hadith yang menyentuh tentang “betis” Allah. Dalam ayat berikut:

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” (Al-Qalam: 42)
“Abu Saeed, salah seorang sahabat Nabi SAWAW berkata beliau mendengar

Nabi SAWAW berkata:
“Tuhan Kami akan menyingkapkan betisNya, kemudian setiap orang Mukmin dan mukminah akan berlutut di hadapanNya, kecuali mereka yang menyembahNya di muka bumi hanya untuk menunjuk-nunjuk atau untuk menarik minat orang lain supaya suka kepadanya maka mereka ini tidak akan dapat melutut dan akan kekal dalam keadaan tegak berdiri.”

Hadith ini telah diriwayatkan secara terperinci oleh Bukhari dalam Bab Tawhid; kami kutip secara ringkas di sini:

“Akan diseru pada Hari Pembalasan:”Setiap orang akan berbaris di belakang sembahan-sembahan mereka. Maka orang ramai akan berkumpul di belakang tuhan-tuhan mereka kecuali penyembah-penyembah Allah akan tetap teguh berdiri menungguNya.
“Kemudian Allah akan muncul dan bertanya kepada mereka:
“Adakah anda mempunyai satu tanda pengenalan di antara kamu dengan Allah yang akan membolehkan kamu mengenaliNya?”
“Ya, mereka akan berkata:”Betis”.
“Kemudian Allah akan menyingkapkan betisNya, apabila melihat hal ini orang-orang Mukmin akan sujud dan akan mengikutNya ke syurga.”

Maka sudah pasti banyak persoalan akan timbul dalam fikiran kita selepas membaca hadith di atas:

1. Apakah tanda pengenalan itu betis Allah?

2. Bilakah pula para ulama mazhab khalifah pertama kali melihat betis itu supaya dengan ini mereka berharap dapat mengenalinya pada Hari Pembalasan sebagai tanda pengenalan?

3. Jika mereka telah pernah melihatnya di dunia, maka bagaimanakah bentuknya?

4. Bagaimanakah pula saiznya?

Penjelasan Daripada Mazhab Ahlul Bait AS:

Marilah kita memetik ayat berikut:
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” (Al-Qalam: 42)

Obaidah bin Zararah berkata:
“Aku bertanya kepada imam Ja’far al-Sadiq AS tentang maksud ayat ini. Beliau AS meletakkan tangan pada betisnya, menyingkapkan kain yang menutupinya, meletakkan tangannya pada kepala dan berkata: “Segala puji bagi Allah Yang Maha Tinggi.”

Syaikh Sadooq berkata tujuan Imam AS melakukan perkara itu adalah untuk menyampaikan maksud bahawa Allah SWT adalah Maha Suci dan jauh daripada mempunyai kaki atau betis.

Seorang daripada sahabat Imam AS bernama Muhammad bin Ali Halabi bertanya tentang makna betis disingkap. Kali ini Imam AS memberikan jawapan terperinci. Beliau AS berkata: “Segala Puji bagi Allah Yang Maha Berkuasa!”

Kemudian Imam AS membacakan ayat tersebut dengan lengkap:
“….dan mereka dipanggil untuk bersujud maka mereka tidak berkuasa; (di dalam keadaan) berpandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) di seru untuk bersujud, dan mereka (ketika itu) dalam keadaan sejahtera. (al-Qalam:42 – 43)

Imam AS berkata:
“Ayat ini bersifat mutasyabihaat (metapora) menunjukkan satu keadaan yang paling sukar. Ia menjelaskan bagaimana pada Hari Pembalasan manusia akan diselubungi dengan malu dan kehinaan, tidak mempunyai alasan lagi untuk diperkatakan. Ayat-ayat ini apabila dibaca keseluruhan akan menjelaskan makna mutasyabihaat yang sebenarnya (bagi frasa betis disingkapkan).”

Shaykh Sadooq dalam kitabnya Tawhid mejelaskan lebih lanjut:
“Apabila Imam AS berkata:”Maha Suci Yang Maha Berkuasa (Allah)”, dan kemudian mengangkat kain yang menutupi betisnya, ia menunjukkan bahawa Allah adalah Maha Suci daripada mempunyai sebarang anggota! Perkataan ‘betis disingkap’ tidak boleh diambil maknanya secara literal.”

Pengertian “Betis disingkap’ Dalam Sastera Arab:

Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi SAWAW:
“Apabila kamu tidak dapat memahami al-Qur’an, carilah penjelasannya daripada sastera Arab. Penggunaannya dalam sastera akan menjelaskan makna ayat tersebut. Tidakkah anda mendengar penyair Arab berkata:”QAMATIL HARBU BINA ALA SAQIN”.

“Perang telah bermula dengan segala kesulitan dan kesusahan…”
Maka maksud ‘betis disingkapkan’ dalam ayat tersebut menunjukkan kesulitan yang teramat sangat, malu, dan tekanan perasaan yang keterlaluan akan terdedah pada hari itu.1

Raghib Isfahani dalam kitabnya Mufradatul Qur’an telah memberikan makna yang sama untuk ayat tersebut, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibn Abbas. Demikian juga ilmuan Mesir telah menyokong tafsiran berkenaan dalam kitabnya “Mu’jam Al-Fadh al-Qur’an al-Karim.”
Maksud seperti itu telah difahami di kalangan orang-orang Arab dan para ulama mereka sepanjang abad ke-14. Malangnya amat sedih sekali mazhab khalifah telah memilih riwayat dari Abu Hurairah dan orang-orang yang sepertinya untuk mendakwa Allah SWT mempunyai anggota kaki dan tangan.

Kata kerja dalam ayat tersebut adalah dalam bentuk pasif yang bermakna ‘betis akan disingkap’…Namun kita dapati para ulama mereka memilih kata kerja dalam ayat tersebut dalam bentuk aktif. Maka ayat itu berbunyi:”Allah akan menyingkap betisNya.”

Kesimpulannya dapat kita katakan:
1. Mazhab ini yang jauh daripada Ahlul Bait AS telah menyalahtafsirkan al-Qur’an.

2. Mereka telah mengaitkan hadith palsu kepada Nabi SAWAW.

3. Mereka telah memperkenalkan fahaman anthromorphisme kepada umat Islam.

Kita amat terhutang budi kepada Ahlul Bait AS yang telah berusaha bersungguh-sungguh memelihara ajaran Islam yang tulen dan juga memelihara makna sebenar ayat-ayat Qur’an dan Hadith.
Segala pujian bagi Allah SWT! Kini kita mengetahui Allah SWT tidak berbentuk, tidak mempunyai tubuh, tidak mempunyai anggota. Kerana apabila Dia mempunyai tubuh badan, maka wajarlah Dia mempunyai tempat tinggal! Marilah kita mengkaji lebih lanjut bahaya yang timbul akibat daripada ajaran mazhab khalifah tersebut!

Nota Kaki:

1 Tafsir al-Suyuti, hlm. 6/25.

Bab 6

“Arasy” dan “Kursi” Pada Pandangan Mazhab Khalifah

Berdasarkan hujah di atas, maka mengikut mazhab khalifah Allah SWT mempunyai tempat tinggal! Apabila mereka membayangkanNya sebagai ‘seorang’ yang mempunyai bentuk tubuh dan anggota, maka mereka akan menempatkanNya pada satu tempat yang menempatkan tubuhNya. Maka kami dapati pemimpin fahaman anthromorphisme iaitu Muhamamad bin Uthman Darimi (wafat 280H) menulis satu kitab bertajuk,”al-Radd ala Jahmiyyah” bahawa:

“Sesungguhnya Allah mempunyai Kursi di atas langit yang ketujuh, dipikul oleh para malaikat. Allah sebagaimana yang Dia sendiri nyatakan tentang diriNya tidak menyamai makhlukNya.”

Kemudian beliau melanjutkan keterangan tersebut pada bab yang ketiga belas dalam buku yang sama di bawah tajuk:
“Kedudukan Allah di atas Kursi, terletak di atas langit, dan wujudnya yang tidak menyamai makhlukNya.”

Ibn Khuzaimah pula menulis perkara yang sama dalam kitabnya Tawhid di bawah tajuk:
“Kedudukan Pencipta kita Yang Maha Tinggi, dan di atas KursiNya, di atas segala sesuatu.”

Dalam hujah-hujah yang dikemukakan oleh Darimi, beliau menolak dakwaan mereka yang berpegang kepada aqidah Allah wujud di mana-mana. Beliau memetik sepotong hadith daripada Nabi SAWAW yang bermaksud :

“Air mani berada di dalam peranakan wanita selama empat puluh malam, dan kemudian malaikat yang bertanggungjawab kepada ruh manusia membawa air mani itu naik ke atas bertemu Tuhan dan bertanya:”Wahai Tuhan, adakah hambamu ini ditakdirkan menjadi lelaki atau perempuan…..?”

Kemudian Darimi berkata:
“Jika yang sebenarnya sebagaimana yang kamu yakini, tentulah Allah berada dalam peranakan wanita bersama dengan air mani. Jika demikian mengapakah malaikat diperlukan untuk membawa naik air mani itu (untuk bertanya kepada Tuhan)?

Selanjutnya dia menambah:
“Allah wujud dan hidup berasingan daripda makhlukNya. Mengapa Dia menempatkan diriNya pada suatu tempat yang kotor, pada saluran keluar manusia, burung atau haiwan? Mengapa pula pada setiap sudut dan tempat terdapat wujudNya?”

Darimi, Ibn Khuzaimah dan lain-lain ulama daripada mazhab khalifah meletakkan aqidah mereka kepada makna literal “Arash” dan “Kursi” Allah daripada ayat-ayat Qur’an dan hadith-hadith. Di sini diberikan beberapa contoh:

“Arsh” dan “Kursi” sebagaimana yang difahami oleh mazhab khalifah:

Bukhari, Tirmudzi, Ibn Majah, Ahmad bin Hanbal, Tabari, Ibn Katsir, dan Suyuti telah meriwayatkan hadith-hadith di bawah di dalam kitab-kitab mereka:
“Nabi SAWAW ketika ditanya: “Di manakah Allah berada sebelum Dia mencipta alam ini?”
Beliau menjawab: “Dia adalah diantara kegelapan, awan yang pekat – tanpa ada angin di bawahnya atau di atasnya. Dan tidak ada makhluk lain. “Kursi’Nya berada di atas air.”

Para ulama itu memetik ayat berikut: “Dan KursiNya berada di atas air….” (Hud: 7). Seperti benda-benda lain, Kursi berada di atas air.

Dalam huraian selanjutnya, mereka memetik hadith di bawah:
“Jarak di antara langit dan bumi adalah 71, 72 atau 73 tahun. Dan seperti itu juga jarak di antara langit kedua dan ketiga sehinggalah langit ke tujuh. Dan di atas langit ke tujuh adalah lautan yang dalamnya di ukur daripada jarak antara dua langit. Di atas lautan adalah lapan kambing sebesar gunung, tapak kaki dan lututnya adalah seluas jarak di antara dua langit. Di belakang mereka adalah Krusi Allah yang tingginya sama dengan jarak di antara dua langit. Di situlah Allah SWT bersemayam.1″

Bunyi Gemerincing “Kursi” Allah

Sila baca riwayat berikut daripada Ibn Khuzaimah, Abu Daud, Ibn Athir dan Alusi dan semoga anda tersenyum!
Riwayat tersebut menyatakan pada suatu hari Nabi SAWAW merapatkan jarinya untuk membentuk kubah kecil dan bersabda:

“Arasy Allah di atas langit seperti ini. Dan ia berbunyi gemerincing seperti pelana unta ketika seseorang menunggangnya.”
Abu Daud dalam Sunannya, meriwayatkan daripada Ibn Basshar, hadith berikut:
“Allah SWT bersemayam di atas ArasyNya dan ‘ArasyNya berada di atas langit. Dan Arasy bergemerincing di bawahNya, seperti pelana unta yang berbunyi apabila seseorang menunggangnya.”

Tabari, Ibn Kathir dan Suyuti meriwayatkan dalam kitab Tafsir masing-masing daripada khalifah Umar: “Seorang wanita datang bertemu Nabi SAWAW dan mengemuka satu permintaan:
“Doakan aku supaya aku berada di kalangan orang-orang yang masuk syurga.”
Nabi SAWAW kemudian memohon dengan nama Allah dan bersabda:
“Kursi Allah sangat luas seperti langit dan bumi dan ia bergemerincing di bawah beban seperti pelana unta yang menanggung beban berat seorang penunggang. Dan Dia melampaui Krusi daripada setiap sudut dengan empat jari!”

Maka, di sini Allah, yang bertubuh gemuk sehingga tidak muat KerusiNya. Semoga Allah menyelamatkan kita daripada kepercayaan yang menyakitkan hati itu. Sekarang marilah kita mengkaji sumber riwayat tersebut.

Riwayat Ka’b al-Ahbar:

Dia berkata:
“Allah menjadikan tujuh langit dan bumi dan jarak di antara langit-langit itu adalah sama dengan jarak antara bumi dan langit dan menjadikannya berat. Kemudian Dia mengangkat “ArasyNya di atas kedua-duanya dan bersemayam diriNya di atasnya. Maka setiap langit bergemerincing disebabkan berat Allah Yang Maha Berkuasa, seperti pelana baru unta bergemerincing apabila ada penunggang menunggang buat pertama kalinya.”

Inilah sumbernya. Ia adalah dari Ka’b al-Ahbar, yang asalnya seorang rabbi Yahudi yang memasukkan cerita tidak masuk akal ini ke dalam hadith-hadith yang dikaitkan kepada Nabi SAWAW.

Apakah “Kursiyy” dan siapakah penjaga pintu?

Dalam tafsirnya, Maqatil membahaskan ayat Qur’an berikut:
“KursiNya luas meliputi langit dan bumi….” (al-Baqarah: 255)
Dia berkata: “Arasy” (atau “Kursi”) di dipikul oleh empat malaikat: “Satu seperti wajah manusia dan dia berdoa untuk rezeki manusia. “Satu malaikat lagi mempunyai wajah haiwan seperti lembu jantan. Dia memohon rezeki haiwan daripada Allah. “Malaikat ketiga seperti seekor helang, mewakili burung. Dia berdoa untuk burung-burung. “Malaikat keempat seperti seekor singa, mewakili binatang liar dan dia berdoa untuk rezeki mereka.2

Riwayat-riwayat daripada mazhab khalifah itu adalah palsu kerana mempunyai sisipan cerita-cerita dongeng. Kami akan membincangkannya pada tajuk tentang hadirnya Allah pada Hari Pembalasan.
Ibn Khuzaimah menulis dalam kitabnya Tawhid memetik daripada ayat-ayat Qur’an untuk membuktikan Allah sendiri telah mendedahkan kepada kita tentang tempat Ia menetap!
a)”Allah Yang Maha Pemurah, bersemayam di atas ‘Arasy”….(Taha: 5)

b)”Kemudian Ia bersemayam di atas “Arasy”…..(al-Furqan: 59)

c)”Dan Dia adalah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan “Arasy”Nya berada di atas air…” (Hud: 7)
Ibn Khuzaimah percaya ayat-ayat ini merujuk kepada sejenis alat perabut yang Allah gunakan untuk bersemayam! Dan Dia tidak bersendirian. Kebanyakan ulama telah mengikuti pendapat ini, dan melupakan bahawa istilah tersebut digunakan dalam al-Qur’an secara metafora untuk membawa maksud kepada kerajaan dan kekuasaanNya.

Pandangan Mazhab Ahlul Bait AS:

Imam Ja’far al-Sadiq AS ketika ditanya tentang maksud ayat berikut:
“Kursiyy”Nya meliputi langit dan bumi.”( Al-Baqarah: 225)
Beliau berkata: “Kursiyy” membawa pengertian ilmuNya dan ayat tersebut membawa pengertian:”IlmuNya meliputi langit dan bumi.”

Dalam riwayat lain daripada Imam Ja’far al-Sadiq AS, kami dapati pengertian berikut: “Langit dan bumi adalah dalam “Kursiyy3″Nya iaitu ilmuNya.”
Seorang lelaki lain datang menemui Imam Ja’far al-Sadiq AS bertanya kepada beliau tentang pengertian “Arsh” di atas air.” Imam AS bertanya: “Apakah yang mereka katakan?” Orang itu menjawab: “Mereka berkata Arsh Allah berada di atas air dan Dia bersemayam di atasnya.”
Imam AS berkata: “Itu adalah satu pembohongan! Sesiapa yang percaya Allah di tempat di suatu tempat dan diusung, telah menyamaikanNya dengan makhlukNya! Dan sudah tentu benda yang menyokongNya atau memikulNya lebih kuat daripadaNya.”

Orang itu bingung mendengar jawapan Imam AS itu dan berdiam diri sebentar, dan kemudian bertanya lagi: “Semoga aku menjadi tebusanmu! Ajarkan aku pengertian sebenarnya.” Imam AS berkata: “Pada banyak tempat ayat-ayat Qur’an, kata Arsh telah digunakan dalam pelbagai dengan pengertian-pengertian yang tertentu. Pengertiannya dalam setiap ayat itu sama ada “kerajaan”, kekuasaan” atau ilmuNya.” Allah berfirman: “…dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.” (Al-Taubah: 129)

Di sini maksud keagungan Allah SWT digambarkan dengan kata “Arasy” yang membawa pengertian kerajaanNya. Dalam ayat yang lain: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang Bersemayam (istawa) di atas Arasy.” (Taha: 5). Pengertian ayat ini ialah KekuasaanNya meliputi kerajaanNya.”

Dan ketika Allah berfirman: “ArasyNya di atas air, Pada hakikatnya Allah SWT menerangkan tentang air dijadikan sebelum langit dan bumi, dan ia adalah makhluk yang pertama yang menyerah diri kepada Allah.”
Pada hakikatnya, Ibn Khuzaimah dan orang-orang yang sepertinya telah tersalah faham maksud perkataan “istawa” yang dibaca bersama perkataan ‘Arsh” dalam ayat Qur’an. Mereka telah mengambil pengertiannya secara literal iaitu bermaksud bersemayam dan menetap. Dalam al-Qur’an, kita dapati ada enam ayat yang menggunakan perkataan tersebut (istawa).

Raghib Isfahani berkata dalam syarahnya:
“Apabila perkataan istawa ditukarkan kepada kata transitif dengan kata penghubung ‘ala’,maka ia membawa pengertian ‘isteela – iaitu menguasai, mengambil dan menggunakan, menakluki, kuasa seperti dalam ayat:” Tuhan Yang Maha Pemurah, istawa (menguasai) di atas Arasy.”

Begitu juga, kita dapati perkataan tersebut digunakan dalam kesusasteraan Arab dengan maksud yang sama. Seorang penyair Bushr bin Marwan, iaitu abang kepada khalifah Abdul Malik Bani Umaiyyah menyatakan dalam rangkap berikut:
“Bushr telah menakluki Iraq tanpa menggunakan pedang atau menumpahkan darah..”(Qad istawa alal-Iraq…)

Perkataan lain yang telah menimbulkan fahaman anthromophisme kepada mazhab khalifah ialah Kursiyy. Mereka telah mengambil pengertiannya secara literal, bermaksud sebagai kerusi atau tempat duduk. Tabari dalam Tafsirnya berkata Kursiyy bermaksud juga ilmu pengetahuan, dan lantaran itu buku-buku ilmu pengetahuan dipanggil Kurrasah, dan orang yang terpelajar digelar “Kurasiyy.” Kitab suci al-Qur’an telah menggunakan perkataan tersebut dengan tujuan membawa pengertian kepada ‘ilmuNya dalam beberapa ayat, sebagai contoh:

i)”Tuhanku meliputi segala sesuatu.” (Al-Anam: 80)

ii)”Tuhan kami meliputi segala sesuatu.” (Al-Araf: 89)

iii)”Ya Tuhan kami!Rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala (Rabbana wasi’at kulli syai’in-rahmatan-wa-’ilman..).” (Al-Ghafir (al-Mu’min): 7)

iv)”Tetapi Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa, tidak tuhan melainkan Dia, segala sesuatu meliputi dalam ilmuNya.”(Taha: 98)

Dalam ayat-ayat yang disebutkan tadi, kata-kata “wasi’a” digunakan bersama dengan “Ilm.” Walaupun dalam ayat yang menggunakan kata-kata “Kursiyy”, kata-kata berikutnya menyatakan tentang ilmu Allah yang luas meliputi segala sesuatu. Marilah kita mengkaji ayat tersebut:
“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” (Al-Baqarah: 255).

Kesimpulan:

Menurut mazhab Ahlul Bait AS, pengertian “Arsh” dan “Kursiyy” adalah kerajaan, kekuasaan dan ilmuNya. Penggunaan perkataan itu adalah secara metapora (kiasan). Maka pengertian ini adalah bertentangan dengan mazhab yang bertentangan dengan mazhab Ahlul Bait AS yang banyak dipengaruhi oleh kepercayaan Yahudi.

Nota Kaki:

1 Sunan Abu Daud – 4/231; Sunan Ibn Majah – 1/69; Musnad Ahmad bin Hanbal – 1/207
2 Tafsir Maqatil – 1/122
3 Tawhid Sadooq – hlm. 327-328.

Bab 7: ‘Kediaman’ Allah

Anthromophisme1 Di kalangan Umat Islam

Kepercayaan ini mempunyai akar yang kuat di kalangan umat Islam masa lalu khususnya puak Wahabi. Maka amatlah penting melakukan kajian ringkas tentang kepercayaan mereka dan membandingkan dengan aqidah yang diajarkan oleh Ahlul Bait AS.

Oleh kerana mereka memberikan sifat manusia kepada Allah, mereka akhirnya telah meletakkan suatu tempat untukNya. Dan kemudian mereka menimbulkan konsep pergerakan, berpindahnya Allah dari satu tempat ke tempat lain.

a. Abu Hurairah meriwayatkan daripada Nabi Muhammad SAWAW:
“Pada satu bahagian malam, atau pada dua pertiga malam, Allah turun ke langit dunia dan menyeru:”Ada sesiapakah yang menyeru kepadaKu agar Aku dapat menyambut doanya, berdoa kepadaKu supaya aku akan memberi? Siapakah yang akan memberikan Yang Maha Memiliki dan Maha Adil?”2

b. Dalam riwayat yang lain daripada Abu Hurairah, Haroon bin Said menambah:
“Kemudian Allah membuka tanganNya dan berkata:”Siapakah yang ingin memberikan pinjaman kepada Yang Tidak Memerlukan dan bukan Penzalim.”3
Bukhari turut meriwayatkan hadith daripada Abu Hurairah dalam bab Tawhid, Da’awwat dan Tahajjud. Sekali lagi ia tidak bersendirian. Riwayat-riwayat seperti ini turut juga dilaporkan oleh Ibn Majah, Tirmidhi, dan Abu Daud yang telah memetik riwayat untuk membuktikan Allah turun dan naik dari langit!

c. Ibn Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah:
“Nabi Muhammad SAWAW bersabda:
“Malaikat berhimpun pada waktu solat subuh dan maghrib. Malaikat yang bertugas pada waktu malam naik ke atas dan yang bertugas untuk waktu siang hari turun ke bawah untuk menjalankan tugas mereka. Dan kemudian malaikat yang bertugas pada waktu malam akan ditanya oleh Allah:”Dalam keadaan apa hamba-hambaKu ketika kalian tinggalkan mereka? Malaikat menjawab:”Kami datang kepada mereka ketika mereka sedang melakukan solat dan kami meninggalkan mereka ketika mereka sedang melakukan solat.”

Ketika memberikan pandangannya Ibn Khuzaimah menambah:
“Hadith ini dengan jelas membayangkan bahawa Allah bersemayam di langit dan malaikat-malaikat terbang dari bumi ke langit untuk sampai kepadaNya. Golongan (Jahmiyyah) percaya sesiapa yang percaya Allah bersemayam di langit dan di bumi adalah pembohong kerana jika ia benar, malaikat-malaikat akan pergi kepadaNya di bumi atau di suatu tempat yang rendah di bumi. Semoga Allah melaknat golongan Jahmiyyah selama-lamanya!”

Darimi menyokong pendapat ini, dengan berasaskan dalil daripada perkataan ‘nazala’ (secara literal membawa pengertian turun) yang digunakan dalam ayat Qur’an. Beliau berkata:
“Ayat-ayat seperti ini boleh dijumpai dalam al-Qur’an dalam banyak tempat. Semuanya dengan jelas menunjukkan Allah menurunkan al-Qur’an dari langit. Jika mereka percaya Allah berada di mana-mana, di bumi dan di bawahnya, maka Dia akan berfirman:”Kami membawakan al-Qur’an” atau “Kami mengeluarkan al-Qur’an.” Ayat-ayat ini secara jelas menekankan kedudukan Allah yang tinggi dan dengan ini tidak memerlukan penjelasan lain lagi.”4
Darimi nampaknya sudah dihantui oleh kepercayaannya bahawa Allah bersemayam pada tempatNya di langit. Membincangkan Mi’raj Nabi SAWAW ke langit, beliau berkata:

“Nabi SAWAW menceritakan pengalamannya kepada orang-orang Islam ketika Mi’raj, bagaimana beliau SAWAW naik dari satu langit ke langit yang lebih tinggi sehingga sampai ke Sidratul Muntaha. Jika pendapat lawan kita betul iaitu Allah berada di mana-mana mengapa ia memerlukan Buraq dan Mi’raj? Mengapa Nabi SAWAW di bawa ke langit dan kepada siapa ia dibawa itu? Kamu katakan bahawa Allah di mana-mana, walaupun di rumah Nabi SAWAW tanpa tirai di antaranya. Maka mengapakah perlu keluar?”

Penjelasan Mazhab Ahlul Bait AS

Persoalan-persoalan tentang tempat, berpindah tempat, bertukar tempat atau turun-naik yang dikaitkan kepada Allah pada hakikatnya tidaklah munasabah. Mazhab Ahlul Bait AS menyatakan bahawa sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat makhluk yang diciptakan bukan sifat Yang Maha Pencipta, Yang Maha Berkuasa.

Imam Ridha AS dengan jelas menyatakan hal tersebut ketika ditanya tentang ayat berikut: “Dan Tuhan kamu akan datang, dan malaikat berbaris-baris…” (Al-Fajr: 22). Beliau AS berkata:”Allah tidak boleh dikaitkan dengan pergerakan, datang, pergi, hadir atau tidak hadir. Dia di atas segalanya itu. Ayat yang ditanya ini sebenarnya menunjukkan perintah Allah yang akan diperlihatkan (pada Hari Pembalasan).”5

Sayyid Abdul Azeem al-Hasani meriwayatkan daripada Abu Ibrahim bin Abi Mahmood bahawa dia bertanya Imam Ridha AS tentang hadith yang masyhur di kalangan orang ramai tentang Allah turun ke langit dunia.

Imam AS berkata:
“Semoga Allah melaknat orang yang menyalahtafsirkan ayat-ayat suci daripada tempatnya yang sebenar! Demi Allah! Nabi SAWAW tidak berkata seperti riwayat tersebut. Apa yang dia katakan ialah:”Allah Yang Maha Tinggi, memerintahkan malaikat turun ke langit dunia pada dua pertiga malam, dan pada malam Juma’at pada satu pertiga malam. Dia (Allah) memerintahkan malaikat mengumumkan:

“Adakah sesiapa yang memohon supaya aku kabulkan?
Adakah sesiapa yang bertaubat supaya aku ampunkan?
Adakah sesiapa yang memohon keampunan maka aku akan maafkan?
Wahai! Sesiapa yang memohon kebaikan, dipersilakan,
Wahai Sesiapa yang memohon keburukan, menghentikannya.
“Malaikat berterusan menyeru sehinggalah terbit fajar, dan apabila masuk waktu subuh, dia kembali naik ke langit.”
“Ini adalah hadith sahih yang diriwayatkan daripada datuk-datukku yang meriwayatkan daripada Nabi SAWAW.”6

Mi’raj Nabi SAWAW

Yunus bin Abd al-Rahman berkata bahawa dia bertanya kepada Imam Musa bin Ja’far al-Kadhim AS: “Mengapakah Allah mengangkat Nabi SAWAW ke langit dan dari sana sehingga ke Sidratul Muntaha, dan kemudian sehingga sampai ke tirai nur, apabila Dia berfirman dan berkata-kata kepadanya, maka bagaimanakah pengertiannya Allah tidak dapat disamakan dengan tempat bersemayam atau tempat?”

Imam AS menjawab:
“Sesungguhnya tidak ada tempat yang dapat dikaitkan dengan Allah atau Dia tertakluk di bawah masa! Dia mengangkat NabiNya ke langit untuk memberi penghormatan kepada malaikat dan kepada makhluk yang tinggal di langit dan untuk memuliakan mereka dengan kehadirannya (Nabi SAWAW). Juga untuk menunjukkan kepadanya kebesaran ciptaanNya supaya dia boleh berhujah kepada manusia di bumi apabila pulang nanti. Apa yang mereka sifatkan Allah dengan sifat-sifat manusia itu amatlah tidak benar sama sekali! Maha Suci Allah daripada apa yang mereka cakapkan!”7

Dalam hadith yang diriwayatkan daripada Abu Baseer, Imam Sadiq AS memberikan penjelasan lengkap tentang pegangan mazhab Ahlul Bait AS dalam permasalahan Tawhid:
“Allah Yang Maha Tinggi, tidak boleh dikaitkan dengan tempat tinggal. Tidak ada pergerakan, diam, melampaui tempat, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dapat dikaitkan kepadaNya, kerana Ia adalah Pencipta kepada masa, ruang, pergerakan, atau diam – tidak bergerak. Maha Suci Allah daripada apa yang mereka katakan kepadaNya.”8

Imam Zayn al-Abidin AS dalam jawapannya yang panjang kepada anaknya Zaid telah memberikan pengertian yang sebenar kepada beberapa ayat yang jika dibaca maknanya secara literal akan membawa maksud Allah bertempat atau mempunyai tempat kediaman. Marilah kita mengkaji ayat-ayat tersebut:

i. Nabi Musa AS berkata:
“Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepadaMu (Wa’ajiltu-ilaika-Rabbi). Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” (Taha: 84)

ii. “Maka segeralah kembali kepada Allah.” (Adz-Dzaariyaat: 50)
Imam AS berkata:
“Ayat-ayat ini tidak menunjukkan sebarang tempat di mana Nabi Musa AS bertemu Allah, atau tempat di mana kita di minta untuk pergi. Ini adalah bentuk gaya bahasa yang bermaksud menuju kepada keridhaan Allah dan petunjukNya.”

Kemudian beliau AS memberikan contoh-contoh berikut:
i)”Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Al-Maarij: 4)

ii)”KepadaNya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang soleh dinaikkanNya.” (Al-Faatir: 10)

“Dalam contoh-contoh di atas, Allah SWT menyatakan tentang beberapa tahap kedudukan di langit. Dengan sampainya mereka ke tahap-tahap tersebut, bermakna mereka telah berjalan di atas jalan Allah (mara ke hadapan di atas jalan yang Allah SWT ridhai).”9

Dalam kitab suci al-Qur’an, terdapat banyak contoh-contoh di mana kata nama susulan tidak disebutkan dalam sesuatu ayat. Dalam Al-Burhan fi Uloom Al-Qur’an, Zarkashi berkata:

“Mereka berkata terdapat kira-kira seribu contoh dalam al-Qur’an yang tidak menyebutkan kata nama susulan. Perkara ini telah diketahui oleh kebanyakan ulama.”

Sebagai contoh, kami kemukakan ayat berikut:
“Dan bertanyalah kepada negeri itu di mana kami berada di situ (Was-alil-qaryatal-lati kunna-fiha)……”(Yusuf: 82)

Perkataan yang tidak disebutkan ialah “Ahl” – membawa pengertian penduduk. Maka apa yang Allah firmankan adalah:
“Dan bertanyalah kepada (penduduk) negeri itu……”
Walau bagaimanpun perkara ini amat difahami oleh para pembaca yang prihatin kepada gaya bahasa yang dituturkan itu.
Berdasarkan cara pertuturan ini, Imam Ridha AS menerangkan ayat berikut:
“Dan Tuhan kamu akan datang…(Wa-ja-a-rabbuka…)”

Kata nama yang tersembunyi atau perkataan yang menyusul sebelumnya ialah ‘Amr’ yang membawa maksud “perintah” atau “ketetapan”, maka ayat ini berbunyi seperti berikut:
“Dan (perintah) Tuhan kamu akan datang…..”
Jelas sekali Imam AS membuat penerangan tu berdasarkan ayat Qur’an yang meletakkan kata ‘Amr’ (perintah atau ketetapan) bersama ‘kedatangan Tuhan.”

i)”Wahai Ibrahim, tinggalkan soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, (Innahu-qad-ja-a-amru-rabbika…) dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.” (Hud: 76)

ii)”Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, kerana itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah di waktu datangnya ketetapan Tuhanmu (lamma-ja-a-amru-rabbika). Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (Hud: 101)

Pada kedua-dua contoh di atas, kata kerja “datang” di sertakan bersama kata susulan sebelumnya iaitu “Amru-Rabbika,” (ketetapan Tuhan kamu). Ini dengan jelas menyampaikan maksud “kedatangan Tuhan”, di bumi atau pada Hari Pembalasan.

Para ulama daripada mazhab khalifah berpegang kepada pengertian bahawa ada kerusi atau takhta untuk Allah, dan kemudian mencari alasan dengan menyatakan terdapat tabir yang memisahkanNya dengan kehidupan makhlukNya. Kami akan membahaskan perkara ini dalam bab-bab yang akan datang.

Nota Kaki:

1 Memberi bentuk dan perwatakan manusia kepada Tuhan – penterjemah.
2 Sahih Muslim – hlm. 522.
3 Sahih Muslim – hlm. 522.
4 Darami, al-Radd ala al-Jahmiyyah – hlm.24,25 dan 26.
5 Tawhid Sadooq – hlm. 162.
6 Tawhid Sadooq – hlm. 162.
7 Tawhid Sadooq – hlm. 175
8 Tawhid Sadooq – hlm. 183-184
9 Tawhid Sadooq.
Bab 8

Allah Di Belakang Tabir

Darami, ketika menolak fahaman Jahmiyyah, menulis satu bab bertajuk “Al-Ihtijab”, dan memetik hadith-hadith berikut yang dikaitkan dengan Nabi SAWAW:

Jabir Ansari berkata:
“Nabi SAWAW berkata Allah tidak pernah berfirman kepada sesiapapun kecuali di balik tabir.”
Jelas sekali hadith ini merujuk kepada ayat Qur’an berikut:
“Dan tidak mungkin bagi seseorang manusiapun bahawa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir…” (Al-Syura: 51)

Mereka mengambil pengertian perkataan “tabir” umpama tabir kain, iaitu tabir yang memisahkan Allah daripada manusia, dan melanjutkan dengan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Di sini diberikan contoh cerita tersebut:

Abu Musa Ashari meriwayatkan daripada Nabi SAWAW:
“Tabir Allah diperbuat daripada “api”!

Zurarah bin Awfa meriwayatkan:
“Nabi SAWAW bertanya Jibril sekiranya dia telah melihat Tuhannya. Jibril menjawab:”Wahai Muhammad! Di antara Dia dengan diriku ada tujuh puluh tabir cahaya, dan jika aku cuba mendekati tabir yang paling dekat, nescaya aku akan terbakar.”

Di samping tiga hadith ini, ada lagi hadith yang diriwayatkan daripada Abdullah bin Omar, yang berkata:
“Allah tersembunyi daripada hamba-hambaNya oleh tabir-tabir yang diperbuat daripada Api, Kegelapan dan Cahaya.”

Pada akhirnya, Darimi membuat kesimpulan:
“Hadith Jibril ini dengan jelas menerangkan Allah berada di belakang tabir, maka ini telah memisahkanNya daripda makhlukNya. Maka jika Dia Maha Berkuasa, berada di mana-mana, maka kewujudan tabir sudah tidak bermakna lagi!”

Ulama dari mazhab khalifah bergantung kepada pengertian literal perkataan Hijab, yang digunakan dalam beberapa ayat Qur’an.

Sebagai contoh, dalam Surah al-Shura: 51, rangkaikata “di belakang tabir” sebenarnya bersifat metapora (mutasyabihat) yang membawa pengertian Allah berkata-kata kepada seseorang manusia (Allah mencipta suara) yang menjadi alat untuk didengar oleh manusia tanpa melihat yang bercakap. Tidak ada tabir bersifat kebendaan yang memisahkan Allah daripada Nabi-nabi, kerana jika hal ini terjadi, maka Allah akan disudutkan kepada satu tempat – ini merupakan satu pemikiran asing yang mencemar konsep Tuhan dalam Islam.

Ayat lain:
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka (Kalla-inna-hum-un-rabbi-him-yauma-dhin-l-la-mahjubun). “(Al-Muthaffifin: 15)
Imam Fakhruddin Razi dalam kitab Tafsirnya (31/96, Cetakan Mesir) berkata:
“Amatlah penting kami mentafsirkan ayat ini untuk membawa pengertian orang-orang kafir dihalang daripada melihat Allah dengan tabir.”
Kemudian dia menambah keterangannya dengan memetik daripada Maqatil yang berkata: “Tabir itu menerangkan bahawa selepas kebangkitan dan hisab, orang-orang kafir tidak akan dapat melihat Allah. Sudah tentu orang-orang beriman akan melihatNya.”

Imam mazhab Maliki, Malik bin Anas berkata:
“Lantaran Allah berada di belakang tabir, tersembunyi daripada musuh-musuhnya, Dia akan menunjukkan rahmatnya kepada ‘teman-teman’nya (orang-orang beriman) supaya mereka dapat melihatNya.”

Dan Muhammad bin Idris Shafie menerangkan ayat berikut:
“Lantaran Allah akan menghijab diriNya daripada musuh-musuhNya untuk menunjukkan murkaNya, maka Dia akan menunjukkan DiriNya kepada mereka yang menjadi teman-temanNya sebagai tanda kepada rahmatNya.”
Ibn Kathir dalam Tafsirnya telah mengambil tafsiran Imam Shafie!
Kini, marilah kita beralih kepada tafsiran oleh Ahlul Bait AS:

Adakah Tabir (Hijab) Bagi Allah?

Sadooq dalam kitabnya Tawhid mengaitkan satu kisah yang menarik daripada Haarith al-Aawar. Dia berkata pada suatu hari Ali bin Abi Talib AS masuk ke pasar, dia mendengar seorang lelaki yang berdiri di belakangnya bersumpah dengan mengucapkan kata-kata berikut:

“Demi Dia yang berada di belakang tabir tujuh langit!”
Ali bin Abi Talib AS memukul orang itu dan bertanya:
“Dan siapakah yang dihijab dengan tujuh langit?”
Orang itu berkata:
“Wahai Amirul Mukminin, maksudku Allah di belakang tabir-tabir itu.

Ali AS berkata:
“Kata-kata kamu itu merupakan kesalahan yang besar. Tidak ada hijab yang memisahkan Allah daripada makhluk-makhlukNya. Dia berada di mana-mana!”
Lelaki itu bertanya Ali bin Abi Talib AS adakah beliau perlu melakukan sesuatu untuk kaffarah dosa yang telah ia lakukan itu.

Ali AS berkata:
“Kaffarahnya ialah dengan memahami dengan jelas bahawa Dia ada bersama kamu di mana sahaja kamu berada!”
Lelaki itu bertanya lagi:
“Adakah aku perlu memberi makan kepada orang miskin?”

Ali AS berkata:
“Itu juga tidak sesuai di sini, kerana kamu telah bersumpah dengan nama yang bukan Tuhan kamu.”

Pemerhatian:

i. Dalam kisah di atas, kita dapati seorang lelaki telah bersumpah dengan perkara bida’ah. Imam Ali AS mengajarnya untuk membayar kiffarahnya dengan memahami hakikat Tawhid yang sebenar. Dia juga menekankan bahawa tidak ada hijab, atau sesuatu yang menghalang – Allah Yang Maha Berkuasa.

Apabila orang yang sama bertanya jika dia perlu membayar kiffarah kerana sumpahnya itu, Imam AS menjelaskan bahawa sumpahnya itu tidak ditujukan kepada Allah – maka ia tidak sah.

Sadooq dalam Tawhidnya meriwayatkan:
“Imam Ridha AS ketika ditanya untuk menerangkan ayat berikut:
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka (Kalla-inna-hum-un-rabbi-him-yauma-dhin-l-la-mahjubun). “(Al-Muthaffifin: 15)

Beliau AS berkata:
“Tidak ada sesuatu tempat khusus boleh di kaitkan dengan Allah yang memenuhinya, dan menganggap hijab yang memisahkan DiriNya dengan makhluk-makhlukNya. Pengertian sebenar ayat tersebut ialah:
“………………mereka akan di halang daripada rahmat Tuhan mereka.”

Kemudian dia ditanya lagi tentang ayat berikut:
“Tiada yang mereka nanti-nantikan (pada Hari Kiamat) melainkan datangnya Allah dalam naungan awan dan malaikat-malaikat dan diputuskan perkaranya…” (Al-Baqarah: 210)

Imam AS berkata:
“Ayat ini tidak boleh difahami secarai literal. Apa yang akan datang dalam naungan awan adalah perintahNya, ketetapanNya. Ia adalah kata kiasan di mana perkataan yang sebelumnya telah ditinggalkan.”
Ulama-ulama daripada mazhab yang bertentangan dengan Ahlul Bait AS telah menjadi mangsa sisipan ajaran Yahudi dan Kristian yang dengan jelas sekali mengabaikan ajaran-ajaran al-Qur’an yang sebenarnya.

Dalam Surah al-Nisa, ayat 108, Allah berfirman:
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah berserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahsia yang Allah tidak redhai.”

Ada ayat lain dalam Surah al-Mujadilah, ayat 7:
“Tidakkah kamu perhatikan, bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahsia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada pembicaraan antara yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maka di manakan hijab itu? Di manakan idea yang memisahkan daripada makhluk-makhlukNya? Malangnya ia akhirnya membawa mereka percaya Allah akan dapat di lihat secara fizikal oleh orang-orang beriman pada Hari Pembalasan!

Bab 9

Melihat Allah!

Mazhab khalifah telah membahaskan melihat Allah SWT:
i. Nabi SAWAW melihat Allah semasa hidupnya;
ii. Orang-orang mukmin melihat Allah pada Hari Pembalasan, sebelum mereka masuk ke syurga;
Orang-orang mukmin melihat Allah ketika mereka berada di syurga.

Ibn Khuzaimah dalam kitab Tawhidnya meriwayatkan hadith daripada Ibn Abbas, Abu Dzar dan Anas yang menyokong kepercayaan bahawa Nabi SAWAW melihat Allah. Sebagai contoh, daripada Ibn Abbas telah diriwayatkan hadith bahawa Allah merahmati Nabi Ibrahim AS dengan mengambilnya sebagai khalil, Nabi Musa AS dengan berkata-kata dengannya, dan Nabi Muhammad SAWAW dengan menunjukkan DiriNya kepadanya. Dalam riwayat-riwayat tersebut nama Ikramah, hamba yang telah dibebaskan oleh Ibn Abbas telah disebutkan. Ikramah sangat terkenal kerana meriwayatkan hadith-hadith palsu yang dikaitkan dengan Ibn Abbas.

Di sudut yang lain pula, kita tahu bahawa Ibn Abbas adalah di antara sahabat-sahabat yang rapat dan menjadi murid kepada Imam Ali AS. Amatlah tidak masuk akal jika Ibn Abbas akan menyatakan perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Ahlul Bait AS. Pada hakikatnya Ibn Khuzaimah telah dipengaruhi oleh pemikiran Ka’b al-Ahbar sebagaimana dalam riwayat yang dipetiknya berikut:

“Allah telah membahagikan dua anugerah istimewaNya di antara Musa dan Muhammad – anugerah berkata-kata secara langsung dan anugerah melihat Allah. Maka Muhammad SAWAW melihatNya dua kali, dan Musa berkata-kata denganNya dua kali.”1

Amat wajar disebutkan di sini bahawa ada di kalangan ulama dan sahabat yang bertentangan dengan mazhab Ahlul Bait AS secara tegas menolak kepercayaan Nabi SAWAW melihat Allah. Di antara mereka ialah Aisyah, isteri Nabi SAWAW. Tetapi Ibn Khuzaimah mengambil hadith yang dianggapnya sahih daripada riwayat Ka’b al-Ahbar sebaliknya menolak hadith Aisyah.

Dalam hadith yang panjang daripada Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibn Majah, Tirmidhi, Ahmad bin Hanbal dan Suyuti, kita akan dapat menyaksikan satu gambaran yang aneh Pada Hari Pembalasan kelak.

“Abu Hurairah berkata: “Di kalangan orang ramai berkata:
‘Wahai Rasulullah, adakah kami akan dapat melihat Tuhan kami Pada Hari Pembalasan kelak?’
“Nabi SAWAW menjawab: ‘Adakah kalian berasa sangsi melihat matahari pada hari yang cerah?’
“Mereka berkata: ‘Tidak sekali-kali wahai Nabi.’
“Nabi berkata: ‘Adakah kalian berasa sangsi melihat bulan penuh pada malam yang cerah?’
“Mereka berkata: ‘Tidak sekali-kali wahai Nabi.’
“Nabi berkata: ‘Maka kalian akan melihatNya pada Hari Pembalasan! Allah akan mengumpulkan semua manusia dan kemudian akan menyeru: “Setiap orang mengikut sembahan-sembahan mereka. “Maka ada yang mengikut matahari dan ada yang mengikut bulan. Ada di kalangan mereka yang mengikut syaitan. Kemudian manusia dari kalangan umatku, bersama dengan golongan munafik tidak bergerak di tempat mereka berdiri. Allah kemudian akan menunjukkan DiriNya dan wajah yang asing bagi mereka dan berkata: “Akulah Tuhan kamu!”

“Mereka menyeru:
“Kami memohon perlindungan daripada Tuhan kami daripada kamu. Kami akan tetap di sini sehinggalah Tuhan kami datang. Dan apabila Dia datang, kami akan mengenaliNya.’
“Kemudian Allah datang dengan wajah yang mereka kenali dan berkata:
“Akulah Tuhan kamu!”
“Mereka akan berkata: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami.”
Kemudian mereka akan mengikutiNya, dan Allah akan meletakkan titian sirat di atas neraka.”

Kemudian Abu Hurairah meneruskan ceritanya tentang api neraka dan menerangkan bagaimana orang-orang beriman akan akhirnya selamat daripada siksaan. Kemudian dia berkata:
‘Seorang lelaki akan tertinggal di belakang dengan wajahnya menghadap api neraka. Dia akan berkata:
‘Wahai Tuhan! Bau yang tidak menyenangkan telah meracun diriku, dan apinya telah melecurkanku. Jauhkan wajahku daripada neraka.”

“Dia terus mengulangi rayuannya itu beberapa kali sehinggalah Allah akan berkata:
“Jika Aku mengikut kehendakmu, kamu akan meminta lebih dari itu.”
“Orang itu akan berkata: ‘Demi kemuliaanMu, aku tidak akan meminta lebih dari itu.’
“Kemudian Allah memusingkan wajahnya daripada api neraka. Tiba-tiba orang itu berkata: ‘Wahai Tuhan, bawakan aku dekat pintu syurga.’
“Allah akan berkata:
‘Tidakkah kamu berjanji tadi bahawa kamu tidak meminta yang lain? Celakalah kamu wahai anak Adam! Kamu berbohong.”
“Tetapi orang itu terus meminta. Maka Allah akan berkata:
“Adakah kamu akan meminta yang lain selepas Aku berikan apa yang kamu minta?”

“Orang itu berkata:
‘Tidak, demi kemuliaanMu, aku tidak akan meminta yang lain.’
‘Dan dia akan membuat janji yang bersungguh-sungguh; dan Allah akan membawanya ke pintu syurga. Apabila dia melihat rahmatNya yang melimpah di Syurga, dia mendiamkan dirinya dan berdiri dalam keadaan takut sebentar, dan kemudian merayu:

‘Wahai Tuhan, izinkan aku masuk ke syurgaMu.’
Allah akan berkata:
‘Tidakkah engkau telah berjanji tidak akan meminta lebih lagi daripada apa yang engkau minta sebelum ini? Celaka bagi kamu wahai anak Adam! Kamu berbohong.” Tetapi orang ini terus merayu dan berdoa sehinggalah Allah tertawa melihatnya – dan akhirnya memberikan keizinanNya. Apabila orang itu masuk ke syurga, dia akan diberikan segala kehendaknya, sehinggalah tiada lagi permintaannya.
“Semua ini, dan berganda-ganda adalah untukmu.”
Abu Hurairah menambah:
“Orang itu merupakan yang terakhir masuk ke Syurga.”
Ini adalah contoh daripada sumber yang dianggap sahih dari mazhab khalifah. Marilah kita mengkaji penjelasan Ahlul Bait AS.

Allah SWT Tidak Boleh Di Lihat Dengan Mata (Penglihatan Tidak Boleh MencapaiNya)

Imam-imam Ahlul Bait AS telah mengajar bahawa penglihatan tidak boleh dikaitkan dengan Allah. Dia tidak dapat dilihat pada Hari Pembalasan, dan Dia juga tidak dapat dilihat di dunia.

Imam Ja’far al-Sadiq berkata:
“Salah seorang yang terpelajar daripada ahlul kitab datang bertemu Imam Ali AS dan mengemukakan soalan:
‘Wahai Ali, pernahkah engkau melihat Tuhanmu ketika kamu menyembahNya?
Imam berkata:
“Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak dapat aku lihat!”
Orang itu bertanya lagi:
“Dan bagaimanakah kamu melihatNya?”
Imam berkata:
“Ingat, mata tidak dapat melihatNya. Namun hati orang yang beriman yang dapat melihatNya.”2

Safwan bin Yahya berkata, Abu Qurrah, salah seorang periwayat hadith mazhab khalifah, memohon izin untuk bertemu Imam Ridha AS. Dalam pertemuan itu, dia mengemukakan beberapa soalan berkaitan dengan hukum-hukum Islam. Kemudian dia berkata:

“Kami mempunyai satu hadith yang menyatakan Allah membahagikan rahmatNya di antara Musa AS dan Muhammad SAWAW. Dengan Musa Dia berkata-kata dan dengan Muhammad SAWAW, dia menunjukkan DiriNya.”

Apabila mendengar hal itu, Imam Ridha AS berkata: “Jika itu benar, siapakah yang menyampaikan ayat-ayat ini daripada Allah:

a) “Mata-mata tidak dapat melihatNya, tetapi Dia mencapai segala penglihatan.” (Al-Anam: 103)
b) “Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya.” (Taha: 110)
c) “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (Al-Shura: 11)
“Adakah bukan Muhammad SAWAW yang menyampaikan wahyu ini?”

Abu Qurrah berkata:
“Benar, Muhammad SAWAW yang menyampaikan wahyu itu.”

Imam Ridha AS berkata:
“Bagaimanakah seseorang yang mengajar manusia bahawa Allah tidak dapat dilihat, tidak dapat dicapai, tiba-tiba pusing ke belakang dan berkata:”Aku telah melihat Dia, mencapaiNya, dan Dia mempunyai bentuk seperti manusia?”Tidak kamu berasa malu atau rasa bersalah mengaitkan Nabi SAWAW dengan perkara-perkara yang tidak pun dilakukan oleh golongan yang tidak beriman (tetapi kamu melakukannya)?”

Abu Qurrah berkata:
“Tetapi Qur’an menyatakan pada malam Mi’raj, Nabi SAWAW melihatNya.”
Kemudian dia membacakan ayat berikut:
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada waktu yang lain.” (Walaqad-ra-aa-hu naz-latan uhra) (An-Najm: 13)
Abu Qurrah berpendapat gantinama ‘nya (hu)’ itu bermaksud ‘Dia’(Allah).
Imam Ridha AS berkata:
“Kamu sepatutnya membaca ayat seterusnya yang menjelaskan apa yang Nabi SAWAW lihat. Dalam ayat 18, surah yang sama, kamu akan dapati:
“Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (An-Najm: 18)

“Tanda-tanda kekuasaan Allah bukanlah Allah. Allah tidak dapat dilihat – kerana penglihatan tidak dapat mencapaiNya dan pengetahuan tidak dapat meliputiNya.”

Abu Qurrah berkata:
“Adakah anda berpendapat bahawa hadith-hadith yang kami riwayatkan adalah bohong belaka?”

Imam Ridha AS berkata:
“Sebarang hadith yang bertentangan dengan al-Qur’an adalah palsu dan telah secara tidak benar dikaitkan dengan Nabi SAWAW. Aku tidak akan menerimanya.”3

Penelitian Riwayat Dari Abu Hurairah

1. Bahawa Allah akan dilihat di Akhirat seperti matahari dan bulan di langit yang cerah;
2. Bahawa Allah akan kelihatan pertama kali dengan wajah yang tidak dikenal, sehingga orang-orang Islam tidak dapat mengenaliNya. Dia akan muncul kembali dengan wajah yang dikenal dan mendapat pengiktirafan di kalangan orang-orang yang beriman;
3. Bahawa seorang lelaki yang menghadap neraka akan berterusan membohongi Allah (dengan janji-janjinya) sebanyak tiga kali;
Bahawa Allah akan tertawa seperti mana kita tertawa.

Abu Hurairah nampaknya cenderung untuk menerangkan bahawa Allah seperti pelawak yang bertukar wajah untuk menghiburkan penonton. Seseorang itu akan berfikir dan membayangkan bagaimanakah rupaNya yang dikenali oleh orang-orang Islam? Pernahkah mereka melihatNya suatu ketika dulu (kerana wajah yang dikenali adalah wajah yang pernah dilihat dulu) Jika benar demikian, bilakah mereka melihatNya? Adakah ketika Dia masih Muda, Tua atau wajah yang dimakan usia?!

Malahan Kitab Perjanjian Lama dan Baru tidak ada cerita-cerita yang sedemikian. Nampaknya ia seperti cerita dongeng seorang wanita tua kepada anak-anaknya untuk menidurkan mereka! Tetapi kesan kepada cerita-cerita ini amatlah besar. Kaum Wahabi dan lain-lain mazhab khalifah masih berpegang teguh kepada kepercayaan bahawa Allah akan dapat dilihat dengan mata pada Hari Akhirat.

Penelitian Daripada Penjelasan Ahlul Bait AS:

1. Bahawa penglihatan hanya dapat mencapai benda-benda yang mempunyai tubuh (jisim) atau jirim.
2. Sebarang kewujudan yang tidak mempunyai tubuh umpamanya ruh, cahaya, tenaga letrik dan sebagainya tidak dapat dilihat. Malahan persoalan untuk melihat kewujudan demikian adalah tidak relevan.
3. Allah bukan tubuh (jisim) atau jirim. Dia adalah Pencipta kepada jirim. Seseorang hanya boleh ‘melihat’Nya melalui penciptaanNya.
4. Tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya, maka Dia tidak boleh disamakan dengan sebarang bentuk kewujudan makhluk-makhlukNya.

Sebarang riwayat yang bertentangan dengan al-Qur’an yang suci adalah palsu dan hendaklah diabaikan.

Nota Kaki:

1 Tawhid Ibn Khuzaimah – hlm. 202
2 Tawhid Sadooq – hlm. 109.
3 Tawhid Sadooq – hlm. 110-112.

Bertemu Allah Di Syurga

Amatlah menyedihkan apabila kita mendapati mazhab-mazhab khalifah mempunyai gambaran yang liar tentang pertemuan dengan Allah di pasar-pasar di Syurga!
Ibn Majah dan Tirmidhi telah memetik perbualan berikut dalam Sunan-sunan mereka:

Abu Hurairah pada suatu ketika berkata kepada Said bin Musayyab:
“Aku berdoa semoga kita berdua dapat saling bertemu di pasar di Syurga!”
Said bertanya:
“Adakah di Syurga mempunyai pasar?”
Abu Hurairah berkata:
“Sudah tentu, ada! Nabi SAWAW memberitahu kepadaku apabila manusia di Syurga mahu memasukinya, mereka akan di tempatkan di suatu tempat mengikut tahap kebaikan mereka. Kemudian mereka akan diizinkan untuk bertemu Allah untuk suatu jangka masa yang menyamai satu hari Juma’at di dunia. Maka mereka akan menemuiNya, dan Dia akan menunjukkan kepada mereka KerusiNya, dan menunjukkan DiriNya pada satu taman di antara taman-taman di Syurga.

“Kemudian Dia akan menetapkan untuk mereka anak tangga daripada cahaya, permata, nilam, dan emas. Paling bawah sekali di kalangan mereka akan di tempatkan pada timbunan wangi-wangian, mereka semua berasa di tempatkan pada kedudukan yang lebih baik!”

Abu Hurairah menyambung:
“Kemudian Aku bertanya kepada Nabi SAWAW:
“Wahai Rasulullah! Akan kita akan melihat Allah?

Dia berkata:
“Adakah kamu berasa sangsi melihat matahari atau bulan penuh?”
Kami berkata:
“Tidak, kami tidak sangsi.”

Dia berkata:
“Maka begitu juga kalian tidak akan berasa sangsi melihat Tuhan kalian, Yang Maha Tinggi.
Setiap orang akan di dizinkan menemuiNya, dan kepada seseorang Dia akan berkata:
“Wahai sipolan! Adakah kamu masih ingat pada suatu hari kamu melakukan perlakuan (dosa) seperti itu?

Dia akan berkata:
“Wahai Tuhan, tidak Engkau mengampunkanku?”
Allah akan berkata:
“Sudah tentu, Aku mengampunkan kamu. Lantaran rahmatKu yang telah membawa kamu kepada kedudukan ini!”
“Kemudian mereka akan diliputi oleh awan yang tebal, dan kemudian turun hujan wangi, bau yang mereka tidak pernah alami sebelum ini.
Allah akan berkata:
“Bersenang-lenanglah menikmati rahmatKu dan ambillah apa sahaja yang kalian kehendaki.”
“Kemudian kami akan pergi ke pasar bersama dengan malaikat. Di pasar tersebut dipenuhi dengan benda-benda yang kami tidak pernah lihat atau dengar atau bayangkan. Kami akan mengambil apa sahaja yang kamu inginkan tanpa perlu berjual-beli! Orang ramai akan menziarahi sesama mereka, yang berada pada kedudukan yang tinggi akan menziarahi mereka pada kedudukan yang rendah, dan pada hakikatnya tidak ada orang yang berkedudukan rendah kerana masing-masing berada pada aturan kedudukan yang paling baik. Tidak ada nada penyesalan.

“Kemudian kami akan kembali ke tempat masing-masing, di mana kami akan menemui pasangan masing-masing. Mereka akan berkata:
“Marhaban, kalian telah kembali dengan wajah yang lebih tampan sejak kalian meninggalkan kami!”

“Kami akan berkata:
“Kami kembali dengan rahmat kerana kami tadi telah bertemu Tuhan kami.”
Cerita asal kisah dongeng ini boleh ditemui dalam riwayat daripada Ka’b al-Ahbar yang dipetik oleh Darimi dalam kitabnya yang menentang mazhab Jahmiyyah:

Ka’b berkata:
“Allah tidak akan melawat Syurga kecuali untuk berkata:”Berwangilah kepada penghunimu.” Kemudian bau wangi akan meningkat di semua tempat. Dan pada suatu jangka waktu yang menyamai kepada Hari Eid ketika di dunia, mereka akan bersiar-siar di taman-taman Syurga. Allah akan kelihatan, mereka akan melihatNya. Angin kencang bertiup dengan bau semerbak wangi, dan permintaan mereka akan dikabulkan oleh Tuhan mereka. Kemudian mereka akan kembali menemui keluarga mereka, dengan wajah tampan telah bertambah tujuh puluh kali.”1

Abu Hurairah nampaknya menokok-tambah kisah ini supaya ia lebih sedap di dengar. Di samping riwayat tersebut, di kalangan ulama daripada mazhab khalifah telah berusaha menafsirkan ayat-ayat Qur’an supaya ia sejalan dengan kisah di atas.

Al-Qur’an menyatakan:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya. Dan muka mereka tidak di tutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.” (Yunus: 26)

Dalam ayat ini, frasa “dan tambahannya” disebutkan selepas ganjaran pahala, ditafsirkan maksudnya sebagai dapat melihat Allah! Tabari memetik daripada sahabat-sahabat Nabi SAWAW, manakala Suyuti memetik daripada sembilan, bahawa Nabi SAWAW berkata:
“Maksud tambahannya yang dijanjikan Allah dalam ayat ini ialah Allah akan menunjukan DiriNya kepada mereka.”2

Selanjutnya Abu Musa Ash’ari meriwayatkan daripada Nabi SAWAW:
“Pada Hari Akhirat, Allah akan mengirimkan utusan kepada penghuni Syurga, mengumumkan dalam suara yang kuat sehingga di dengar oleh seluruh penghuni Syurga:”Allah telah berjanji kalian dengan kebaikan dan tambahannya. Kebaikannya ialah Syurga yang kamu menetap – dan tambahannya ialah melihat Wajah Yang Maha Pemurah.”
Tayalasi, Ahmad Hanbal, Muslim, Tirmidhi, Ibn Majah, Tabari, Suyuti, dan lain-lain penafsir al-Qur’an dan periwayat hadith telah memetik riwayat berikut dari Shuayb:

“Nabi SAWAW membacakan ayat berikut:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya…”
Kemudian berkata:
“Apabila penghuni-penghuni Syurga telah ditempatkan di taman-taman Syurga dan penghuni-penghuni Neraka telah di tempatkan dalam api Neraka, satu utusan akan membuat pengumuman:”Wahai penghuni Syurga, ada satu lagi janji Allah yang akan dipenuhi sekarang!”

Penghuni Syurga akan bertanya: “Dan apakah lagi janji yang belum dipenuhi? Tidakkah Allah telah memberatkan timbangan kami dan menceriakan wajah-wajah kami? Tidak Dia telah menjauhkan kami daripada api Neraka?”
“Apabila mendengar hal ini, Allah akan membuka hijab, dan mereka akan melihatNya. Demi Allah! Dari segala rahmat yang telah diberikan Allah, tidak ada sesuatu yang dapat menandingi nikmat melihat WajahNya.”3

Ibn Kathir dalam kitab Tafsir tentang ayat yang sama menyatakan:
“Di samping pahala yang diberikan kepada orang yang baik, mereka akan diberikan anugerah melihat WajahNya. Dan hal ini telah disokong pernyataan Abu Bakar, dan lain-lain….”
Beliau telah memberikan senarai 15 orang di kalangan sahabat Nabi SAWAW dan lain-lain.

Malahan Fakhruddin Razi cenderung untuk menerima pengertian tersebut apabila membincangkan ayat ini. Dia berkata:
“Kami telah menjelaskan bahawa maksud perkataan “dan tambahannya” dalam ayat ini merujuk kepada melihat Allah.”4

Ada riwayat dari Nabi SAWAW berkaitan dengan ayat berikut:
“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri,
Kepada Tuhannya mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)
Anas bin Malik meriwayatkan daripada Nabi SAWAW:
“Pada Hari Akhirat, golongan lelaki beriman akan melihat Allah setiap Hari Juma’at, dan golongan wanita mukminah akan melihatNya pada Hari Eid Fitr dan Adha.”

Pada riwayat lain yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, kami dapati beliau berkata:
“Nabi membaca ayat ini kemudian menerangkan:
“Demi Allah! Ayat ini tidak dimansuhkan. Mereka akan sesungguhnya melihat Allah. Mereka diberikan nikmat makanan dan minuman, wangi-wangian dan perhiasan. Dan apabila hijab di antara mereka dan Tuhan mereka dibuka, mereka akan melihat Tuhan mereka dan Tuhan mereka melihat mereka. Inilah maksud pengertian Allah dalam firmanNya:
“Bagi mereka rezekinya di syurga itu tiap-tiap pagi dan petang.” (Maryam: 62)

Suyuti telah meriwayatkan daripada Jabir: “Nabi SAWAW berkata:
“Allah akan memberikan anugerah melihatNya kepada semua orang, tetapi untuk Abu Bakr Siddiq akan diberikan yang lebih istimewa.”5

Abdullah bin Umar mengaitkan hadith berikut kepada Nabi SAWAW:
“Maqam yang paling rendah di Syurga ialah orang-orang beriman menerima rahmat Allah dari jarak seribu tahun. Dan maqam yang paling tinggi ialah mereka dapat melihat Wajah Allah pada pagi dan petang.”
Tabari telah memetik kepercayaan yang sama dalam Tafsirnya dan Fakhruddin Razi dalam Tafsir al-Kabir:
“Tidak ada pengertian yang lain daripada ayat tersebut kecuali pengertian melihat dengan mata.”

Malahan para ahli tafsir moden daripada mazhab khalifah seperti Sayyid Qutb (w.1386H) membuat kenyataan yang serupa dalam tafsirnya Fi-Zilal al-Qur’an bahawa pada Hari Akhirat, ada pertemuan fizikal dengan Allah, dan penghuni Syurga akan merasai pengalaman yang hebat itu. Beliau menulis:

“Ayat ini menyatakan suatu pengalaman ringkas di mana kata-kata tidak dapat diucapkan, dan akal tidak dapat menjelaskan. Pengalaman itu berlaku apabila seseorang itu masuk kepada suatu keadaan maknawi ruhiah di syurga dengan segala rahmat dan nikmat yang sangat melimpah. Wajah-wajah yang terang benderang akan mendongak ket atas menyaksikan Wajah Allah! Sungguh ia suatu nikmat yang tidak terhingga. Sungguh ia suatu kedudukan yang agung!

“Apabila seseorang melihat keindahan makhluk di sekelilingnya; cahaya bulan di malam hari atau pada kegelapan, atau fajar di waktu subuh, dia akan berasakan suatu nikmat keindahan dan inspirasi! Apakah keadaannya pada suatu ketika apabila ia dapat melihat bukan ciptaan Allah tetapi keindahan Allah sendiri? Bagaimanakah wajah tidak bercahaya apabila melihatNya?”
“Manusia tidak akan dapat mencapai keadaan itu melainkan dia membersihkan dirinya daripada segala halangan, satu keadaan yang amat luhur di mana ia mengikis segala keraguan tanpa tujuan-tujuan lain melainkan ingin melihat Allah SWT.”
“Mengapa ada setengah orang yang menafikan cahaya yang melimpah dan nikmat ini? Mengapa mereka membatasi diri mereka dengan menghabiskan masa dengan perbahasan akademik dan akal sedangkan hal ini di luar batas akal manusia?

“Marilah kita bangkit untuk menerima nikmat atas rahmat yang besar ini dan membenarkan imiginasi kita melewati keadaan itu. Harapan ini sebenarnya adalah satu rahmat yang agung daripada perkara-perkara lain iaitu melihat dengan pandangan yang sebenar Wajah Allah Yang Maha Agung.”6

Kami akan membawakan kepada anda ajaran-ajaran Ahlul Bait AS berkenaan perkara di atas.

Mazhab Ahlul Bait AS

Abdus Salam bin Swaleh meriwayatkan daripada Abu al-Swalt al-Hirawi dari Imam Ridha AS. Beliau berkata:
“Aku bertanya Ali bin Musa al-Ridha AS:
“Apakah pendapat anda tentang pemikiran yang disebarkan oleh sesetengah ahli hadith bahawa orang-orang beriman akan menziarahi Tuhan mereka di Syurga kelak?”

Imam AS berkata:
“Wahai Aba al-Swalt, Allah merahmati NabiNya SAWAW dengan segala kelebihan daripada makhluk-makhlukNya, termasuklah Nabi-nabi dan malaikat dan telah meletakkan ketaatan kepada Nabi SAWAW seperti ketaatan kepada DiriNya, dan melihat Nabi SAWAW di dunia dan di akhirat seperti melihatNya.”
Allah berfirman dalam Qur’an:
“Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…”(Al-Nisa: 80)

Dan Dia berfirman lagi:
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka….”(Al-Fath: 10)

“Dan Nabi SAWAW berkata:
“Barang siapa melawatku pada masa hidup dan selepas kematianku, akan mendapat pahala seperti melawat Allah.”
“Kedudukan Nabi SAWAW di Syurga amatlah tinggi. Lantaran itu melihatnya atau melawatnya diumpamakan seperti melawat Allah SWT.”

Abu Swalt berkata:
“Wahai cucu Nabi SAWAW, bagaimanakah kami akan memahami hadith yang menyatakan:”Barang siapa yang bersaksi tidak Tuhan melainkan Allah akan dapat melihat Wajah Allah.”

Imam AS berkata:
“Wahai Aba Swalt, barang siapa mengatakan Allah mempunyai wajah (seperti manusia) telah melakukan penghinaan (kepada Allah). Wajah tersebut bererti Rasul dan NabiNya AS, kerana mereka memandu manusia ke jalan Allah, beriman kepadaNya, jalanNya dan keredhaanNya.

Inilah pengertiannya dalam firman Allah:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (al-Rahman: 27)
“Segala sesuatun akan binasa kecuali WajahNya.” (Al-Qasas: 88)

“Balasan yang paling besar sekali kepada orang-orang beriman di Akhirat kelak ialah dapat bertemu para Nabi dan Rasul-rasul Allah. Nabi SAWAW berkata:
“Mereka yang membenci Ahlul Baitku dan keturunanku tidak akan dapat menemuiku atau aku pergi berjumpa dengan mereka Pada Hari Akhirat.”

Beliau juga berkata kepada sahabat-sahabatnya:
“Ada di kalangan kalian yang tidak akan dapat berjumpa denganku selepas mereka memisahkan diri mereka daripadaku di dunia.”
“Wahai Aba Swalt! Allah SWT tidak boleh dikaitkan dengan tempat atau ruang. Dia tidak boleh dicapai oleh penglihatan atau imaginasi!”7

Ibrahim bin Abu Mahmood meriwayatkan daripada Imam Ridha AS ketika ditanya tentang ayat berikut:
“Dan wajah-wajah pada hari ini berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)
Beliau AS berkata: “Pengertiannya wajah-wajah mereka akan berseri-seri dalam mengharapkan balasan daripada Tuhan.”8

Berkenaan ayat berikut:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya.”(Yunus: 26)

Kami ada tiga hadith daripada Imam-imam Ahlul Bait AS yang menerangkan pengertian yang sebenarnya. Amirul Mukminin Imam Ali berkata:
“Pahala yang terbaik dalam ayat ini merujuk kepada balasan di Syurga dan ‘Tambahannya’ merujuk kepada balasan tambahan yang diberikan di dunia.”

Imam Baqir AS berkata:
“Ayat ini menyatakan tentang balasan tambahan, bermaksud Allah akan memberikannya pada ketika hidupnya di dunia bukan pada Hari Akhirat.”

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:
“Tambahannya” akan diberikan di dunia ini, iaitu Allah memberikan rahmatNya kepada orang-orang beriman ketika hidupnya dan ia tidak ditolak daripada balasan yang akan diperolehinya pada Hari Akhirat. Maka Allah memberikan kepada mereka kedua-dua balasan kerana amal baik yang mereka lakukan.”

Amatlah memeranjatkan apabila ulama dari mazhab khalifah selalu memilih pengertian ayat-ayat Qur’an tentang Tuhan mengikut pandangan Yahudi dan Kristian. Marilah kita mengambil contoh maksud perkataan “Nadhirah” yang bermaksud ‘melihat’ secara literal.

Raghib dalam Mufradat al-Qu’ran berkata “Nadhirah” mempunyai dua makna:

i. Orang yang melihat
Orang yang mengharapkan atau menunggu sesuatu dengan penuh harapan
Al-Qur’an sendiri menggunakan perkataan tersebut untuk membawa pengertian “Menunggu sesuatu dengan penuh harapan”. Dalam Surah al-Naml, ayat 35 berbunyi:
“Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu (fa-nadhirah) apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (Al-Naml: 35)

Ahlul Bait AS telah menerangkan dengan jelas bahawa ayat tersebut tidak membawa pengertian melihat Allah dengan mata. Ia hanya menjelaskan bagaimana orang-orang beriman akan menunggu dengan penuh harapan balasan yang akan mereka terima pada Hari Akhirat.

Begitu juga apabila mereka menafsirkan perkataan “Ziyadah” yang bermaksud “tambahannya” yang digunakan oleh Allah dalam al-Qur’an dengan mengikut tafsiran al-Qur’an sendiri.

Allah berfirman:
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertaqwa.” (Al-Nahl: 30)

Mentafsirkan ‘tambahannya’ sebagai melihat Allah adalah jauh sekali dari maksud pengertian sebenar. Pada bab berikut yang merupakan bab yang terakhir dan kesimpulan, kami akan menjelaskan secara ringkas perbandingan di antara dua mazhab tersebut, dan membuktikan bahawa ajaran tulen Islam yang jauh dari sebarang sisipan dan pencemaran sesungguhnya datang dari Ahlul Bait AS yang berasal dari ajaran Rasulullah SAWAW.

Nota Kaki:

1 Darami, al-Radd ala al-Jahmiyyah – hlm. 53
2 Tabari, Tafsir – 11/73 dan Suyuti, Tafsir – 3/305, 306.
3 Sahih Muslim – hlm. 163; Sunah Ibn Majah – 1/67; Musnad Ahmad – 4/333; Tafsir Tabari -11/75; Tafsir Suyuti – 3/305.
4 Tafsir al-Kabir – 17/78, 79.
5 Al-Durr al-Manthur – 6/292.
6 Fi Zilal al-Qur’an, Syed Qutb – Edisi Pertama, Cairo – 29/208 – 210.
7 Tawhid al-Sadooq – hlm. 117 -118.
8 Tawhid al-Sadooq – hlm. 116.

KESIMPULAN: Tawhid – Asas Ajaran Islam

Allah sebagaimana difahami oleh mazhab khalifah:
i. Dia mempunyai wajah, kaki dan tangan dan organ

ii. Dia bersemayam di Arasy, dan tubuhnya melebihi tempat dudukNya sebanyak empat jari di semua sudut (lebih besar daripada tempat dudukNya)

iii. ArasyNya di atas lapan ekor kambing

iv. ArasyNya berbunyi bergemerincing di bawah berat tubuh Allah seperti kekang kuda yang bergemerincing ketika diduduki oleh sipenunggang!

v. Pada suatu ketika, Dia turun ke langit dunia dan menyeru makhluk-makhlukNya supaya berdoa memohon keampunan!

vi. Dia akan hadir pada Hari Akhirat, kali pertama dengan wajah yang tidak dikenal dan kemudian dengan wajah yang dikenal!

vii. Ada di kalangan orang-orang beriman akan mengenal Tuhan mereka apabila mereka melihat betisNya
Allah akan melawat orang-orang beriman secara individu, dan bercakap dengan mereka di Syurga

Mereka Menamakannya Tawhid:

Ibn Khuzaimah, salah seorang tokoh terkemuka mazhab ini telah menyusun hadith-hadith yang menyokong aqidah di atas dan menamakan kitabnya dengan nama “Kitab Tawhid”!

Bukhari dalam “Sahih” juga mempunyai satu bab yang meriwayatkan hadith-hadith di atas dan menamakannya dengan “Kitab al-Tawhid.”
Begitu juga Muslim dalam “Sahih” juga mempunyai “Kitabul Iman!”

Hadith-hadith ini kebanyakannya datang dari Abu Hurairah dan gurunya Ka’b al-Ahbar yang menyisipkan pemikiran Yahudi tentang Tuhan. Lantaran itu, kami mengkelaskan hadith-hadith tersebut sebagai hadith sisipan Israiliyyat.

Sebagai kesannya, mazhab khalifah telah mengambil fahaman anthropomorphic (memberikan bentuk dan perwatakan manusia kepada Tuhan), dan memberikan pengertian literal kepada ayat-ayat Qur’an yang bersifat mutasyabihaat.

Mazhab Ahlul Bait AS

Mazhab Ahlul Bait AS telah mengajar kita bahawa tidak ada sesuatu yang menyamai Allah. Dia Esa, tidak ada anggota, tangan dan kaki, tidak ada ruang atau had batasan boleh di kaitkan kepadaNya. Ahlul Bait AS telah menerangkan pengertian yang sebenar ayat-ayat Qur’an dan Hadith Nabi SAWAW dan membersihkan segala pengertian yang salah dari sebarang pengaruh ajaran Yahudi dan Kristian.

Ulama dari mazhab Ahlul Bait AS telah mengambil riwayat-riwayat daripada Ahlul Bait AS dalam karya-karya mereka seperti kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadith. Hasilnya ajaran asli Islam sentiasa terpelihara.
Kini, amatlah jelas sekiranya usaha yang bersungguh-sungguh dan tidak pernah jemu tidak dilakukan oleh Imam-imam Ahlul Bait AS dan para pengikut mereka, maka aqidah Tawhid yang asli pasti akan hilang. Secara bertentangan maka segolongan ulama Muslim akan terperangkap kepada ajaran-ajaran Tawhid yang jauh dari ajaran Islam yang sebenar.

Amat beruntung sekali, kita menjadi para pengikut Ahlul Bait AS. Mereka telah menyelamatkan kita daripada ajaran yang bertentangan dengan konsep tawhid yang sebenar. Maka kami mengucapkan terima kasih kepada mereka dengan memetik beberapa ayat dari Ziarah Jami’ah:

“Salam ke atas kalian, Wahai Ahlul Bait Nabi, pemegang khazanah ilmu pengetahuan!
“Salam ke atas para pemimpin jalan kebenaran, dan penyuluh ketika dalam kegelapan,
“Salam ke atas kalian yang menyeru kepada Allah, dan kepada kalian yang berpegang kepada Tawhid yang asal,
“Allah memilih kalian sebagai pembantu ke jalanNya, penafsir wahyuNya, dan tiang-tiang kepada TawhidNya,
“Kalian mengajak orang ramai kepada jalanNya dengan bijaksana dan dakwah yang indah,
“Semoga Allah akan menguatkan imanku, selagi aku hidup, di atas walimu, cinta terhadapmu, dan agamamu,
“Dan meletakkan diriku di kalangan mereka yang mengikuti bimbinganmu, jalanmu dan mendapat manfaat daripada petunjukmu.”

Sekian. Wassalam.

Yuhanna

YUHANNA ZIMMI MENCARI KEBENARAN (Kisah pencarian kebenaran seorang Kristian) Oleh: Sayyid Sa‘id Akhtar Rizvi _______________________________________________ Edisi Terjemahan KOLEKSI PEMIKIRAN ISLAM ________________________________________________ MISI ISLAM BILAL, TANZANIA P.O.BOX 20033, DAR AL-SALAM, TANZANIA ¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤ Diterjemahkan dari buku aslinya Yuhanna In Search Of Truth Cetakan Bahasa Inggeris: Tanzania __________________________________________________ __________________________________________________ Hak terjemahan dilindungi undang-undang All rights reserved __________________________________________________ Cetakan Pertama: Oktober, 1994 __________________________________________________ ___________________________________________________ Edisi Bahasa Inggeris Yuhanna In Search Of Truth ___________________________________________________ Edisi Bahasa Melayu Copyright @ KANDUNGAN PERKARA 1. Pengenalan. 2. Perbezaan kepercayaan di kalangan umat Islam. 3. Yuhanna- kajian yang berterusan. 4. Apakah keempat-empat mazhab itu benar? 5. Adakah mazhab Hanafi benar? 6. Adakah mazhab Syafi‘i benar? 7. Adakah mazhab Maliki benar? 8. Adakah mazhab Hanbali benar? 9. Aliran yang paling benar ialah Syi‘ah. 10. Apakah manusia melakukan perbuatan dengan terpaksa. 11. Sadiq- nama bagi Ahl al-Bayt Muhammad (s.a.w). 12. Suatu pemerhatian terhadap Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Uthman. 13. Adakah perlantikan Abu Bakr bagi jawatan khalifah dilakukan oleh Nabi (s.a.w). 14. Sebahagian dalil yang sahih mengenai kekhalifahan ‘Ali (a.s). 15. Al-Qur’an dan masalah khilafah ‘Ali (a.s). 16. Apakah alasan dan hujah yang membuktikan kemaksuman ‘Ali (a.s). 17. Keutamaan dan keistimewaan Imam ‘Ali (a.s). 18. Kelebihan keilmuan ‘Ali (a.s). 19. Keberanian ‘Ali (a.s). 20. Sifat dermawan, simpati dan keperkasaan Imam ‘Ali (a.s). 21. Sifat rendah diri Imam ‘Ali (a.s). 22. Ibadat ‘Ali (a.s) kepada Allah s.w.t. 23. Kritikan terhadap para sahabat. PRAKATA Bismi-Llah al-Rahman al-Rahim Prakata Penterjemah Saya bersyukur ke hadrat Allah s.w.t di atas limpahan hida¬yah dan inayah-Nya, salawat dan salam kepada Nabi Muhammad (s.a.w) dan para Imam Ahl al-Bayt (a.s), para sahabatnya yang tulus ikhlas menjunjung perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan segala daya dan upaya yang ada, saya telah berusaha untuk menyempurnakan sebuah penterjemahan buku yang ditulis dalam Bahasa Inggeris bertajuk “Yuhanna Zimmi in Search of Truth,” untuk dialihbahasakan ke Bahasa Melayu. Biarpun berhadapan dengan pelbagai kerumitan, saya berharap agar buku kecil ini akan dapat memenuhi kehendak para ilmuan yang tercari-cari sesuatu yang pernah hilang di suatu ketika dahulu. Kesukaran mungkin dihadapi oleh umat Islam kerana buku-buku bercorak Islam yang hakiki tidak begitu banyak didapati di dalam Bahasa Malaysia. Jadi, saya mengharapkan semoga keilmuan yang berharga ini dapat dimanfaatkan bagi kepentingan Islam umumnya dan umat Islam di Malaysia khususnya. Sebarang keilmuan yang terkandung dalam buku ini seharusnya dinilaikan dengan fikiran yang lebih terbuka tanpa sebarang prasangka dalam usaha kita mencari kebenaran yang hakiki. Semoga usaha yang tidak sepertinya ini mendapat keberkatan daripada Allah s.w.t. Akhir kata, ucapan salawat dan salam ke atas Junjun¬gan kita Nabi Muhammad (s.a.w) dan para Imam Ahl al-Bayt (a.s) (Allahumma salli ‘`ala Muhammad wa Al al-Muhammad). PENDAHULUAN Pada hari Allah s.w.t, pencipta alam semesta ini mengasaskan kewujudan alam ini, Ia telah menciptakan sebuah alam yang lengkap sempurna, jauh daripada sebarang kekurangan dan kecacatan dengan maksud agar pada suatu hari nanti, semuanya dapat berjalan dengan baik dan menuju matlamat ketauhidan kepada Allah s.w.t jua. Di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya, manusia dicipta dan dianugerahkan dengan akal dan nafsu supaya manusia dapat mempergunakan segala kemudahan dan meneruskan kegiatan hidup mereka di alam maya ini. Walau bagaimanapun, manusia tentulah tidak berupaya menanggapi semua persoalan misteri yang terjadi atau menjalani peringkat-peringkat kehidupan mereka dengan jaya tanpa mengalami saat-saat kematian dan kemusnahan. Justeru itu, Allah menyempurnakan penciptaannya dengan pertolongan dan petunjuk-Nya dengan mengutuskan para rasul dan nabi dari kalangan mereka sendiri untuk memimpin ke arah jalan yang benar dan lurus. Nabi atau utusan Allah, menerusi perutusan wahyu dan kurniaan kekuatan pemberian Allah, berupaya menyingkapkan tabir yang menghalanginya atau dengan kata-kata lain, mampu menyerlah intipati dunia ini ke seluruh pelusuk rantau. Kalaulah seandainya pada hari dan waktu dunia ini ketandusan cahaya kepimpinan Ilahi, tentulah akan berlaku porak-peranda. Jadi, manusia yang tidak ada daya dan upaya ini, dibebaskan daripada sebarang tanggungjawab lalu mereka akhirnya menuduh Allah berlaku tidak adil terhadap mereka. Keadaan ini samalah seperti Allah menciptakan manusia tetapi tidak menyediakan maka¬nan yang mencukupi untuk keperluan mereka. Hal ini tentunya mengaibkan lebih-lebih lagi kepada penciptanya sendiri. Namun begitu, pada hakikatnya Allah telah menyediakan keperluan makanan itu, tetapi hanya manusia sahaja yang tidak mahu berusaha untuk mencarinya. Lantaran itu, kesalahan hendaklah dipertanggungjawab¬kan ke atas bahu makhluk dan bukan kepada Khaliqnya. Golongan Syi‘ah berserta mereka yang mempercayai kesempurnaan Allah berdasarkan akal yang waras menerima hakikat ini dan tidak pernah sekali-kali menyangkalnya. Tiada seorang jua pun yang boleh mengatakan peraturan dan ketetapan Allah ini mesti kekal dari dulu hinggalah sekarang ini, malahan hendaklah berubah. Contohnya, kewujudan alam ini tidak pernah berlaku sebelumnya tetapi itulah peraturan yang telah dilaksanakan. Dunia ini ibarat matahari yang bersinar dan pastinya bersi¬nar. Begitulah juga dengan para nabi yang pasti wujud. Kadang kala matahari terselindung di balik awan, tetapi awan tidak akan dapat menahan sinar matahari. Apabila angin bertiup, awan akan berarak lalu, dan matahari akan kembali seperti sedia kala. Begitulah juga dengan para nabi dan Imam (pemimpin agama) pasti wujud, ibarat logam yang tersembunyi di dalam perut bumi, tentu boleh ditemui seandainya digunakan peralatan yang khusus untuk mencarigalinya. Nabi (s.a.w) telah bersabda dengan penuh rasa rendah dirinya kepada Allah: “Barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya, maka ‘Ali juga menjadi mawlanya.” Sehubungan dengan ini, golongan Syi‘ah menjelaskan bahawa pada masa Nabi (s.a.w) wafat, seorang hamba Allah yang benar-benar beriman kepada-Nya, pasti wujud dan dijaga-Nya agar sesiapa sahaja yang menginginkan jawatan khalifah itu tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengambilnya. Allah sudah tentu memerintahkan Nabi-Nya supaya menjelaskan manusia pilihan Allah dan mengangkat status dan kedudukannya di mata sekalian manusia waktu itu. Nabi (s.a.w) dari mula hinggalah baginda wafat, terus menerus berusaha menerangkan hakikat ini melalui berbagai-bagai cara dan di pelbagai tempat. Ulama Islam telah mengambil inisiatif menca¬tatkan sabda-sabda baginda s.a.w dalam kitab-kitab mereka. Secara ringkasnya, golongan Syi‘ah percaya dan yakin bahawa berdasarkan dalil-dalil hadith dan akal, selepas Nabi (s.a.w) wafat hanya ada seorang sahaja yang layak menjadi pemimpin, wajib ditaati dalam ketundukan kepada perintah Allah s.w.t iaitu Imam ‘Ali (a.s). Hari ini, lebih 120 juta umat manusia dari berbagai-bagai bangsa menjadi pengikut Imam ‘Ali dengan gelaran Syi‘ah ‘Ali. Gelaran ini telah diketahui umum semenjak dari zaman Nabi (s.a.w) dan ‘Ali (a.s) lagi, dan selepas itu ia menjadi begitu berpengaruh hingga menjadi lambang bagi golongan yang melantik ‘Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Nabi (s.a.w). Pada peringkat awal, perselisihan umat Islam hanya berkisar di sekitar masalah penggantian khalifah. Satu pihak mengenali ‘Ali sebagai khalifah yang keempat melalui proses ijma‘ manakala di satu pihak lagi iaitu Syi‘ah mengakui beliau sebagai khalifah yang pertama yang telah ditetapkan oleh Allah (s.w.t) sendiri. Keadaan ini tidak dapat bertahan lama, sebelum pihak yang pertama tadi mula mengambil sikap menyisihkan diri daripada ajaran Tuhan dengan maksud agar pemilihan seterusnya dibuat berdasarkan pili¬han orang ramai (ijma‘). Dengan alasan-alasan yang di luar daripada apa yang dibincangkan ini, mereka mula meletakkan diri mereka kepada kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri manusia, tertipu bukan sahaja dalam masalah furu‘ (cabang) bahkan juga dalam masalah-masalah usul (dasar). Mereka tidak berkemampuan untuk menerangkan hal-hal ketuhanan, dan membawa manusia ke landasan yang sebenarnya kerana yang pastinya manusia itu biar bagaimana luas ilmu atau bijak mana sekalipun, tentu tidak mampu mencapai peringkat ilmu terten¬tu dan memahami kebenaran dengan cara mereka sendiri. Dalam keadaan ketidakmampuan ini, mereka memerlukan pertolongan Ilahi yang hanya dapat dijangkau menerusi manusia pilihan Allah untuk menyelamatkan mereka daripada kekecewaan dan kepincangan. Perbezaannya hanyalah kerana pada mulanya ia memerlukan makanan yang ringkas sahaja dan kemudian bertambah kompleks. Bagaimanapun kedua-dua hal tadi menunjukkan manusia sentiasa memerlukan sesuatu dan Allah sahajalah yang akan menjadi penolongnya. Daripada apa yang telah diperkatakan tadi, jelas menunjukkan bahawa Syi‘ah dalam semua peringkat perkembangannya bergantung harapan kepada Allah kerana mereka mengetahui bahawa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan pada masa yang sama turut meng¬hormati para utusan Allah terhadap segala keputusan yang telah ditetapkannya. Atas dasar inilah, mereka terus berpegang kepada perintah Rasul kerana Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Aku akan pergi meninggalkan kamu semua, tetapi aku telah tinggalkan kepadamu dua ingatanku yang paling berharga (al-Thaqalayn) iaitu al-Qur’an, kitab Allah yang pasti dijaga seperti janji-Nya hingga ke Hari Qiamat dan memeliharanya daripada seba¬rang perubahan dan pemalsuan. Keduanya, pewarisku yang dibersih¬kan Allah dengan sebersih-bersihnya daripada sebarang angkara syaitan seperti yang termaktub dalam kitab al-Qur’an. Kedua-duanya tidak akan berpisah antara satu dengan yang lain kerana jika al-Qur’an sahaja yang wujud tanpa penafsir yang ma`sum (terpelihara daripada dosa dan kesalahan) di sampingnya, pasti ia akan ditafsirkan mengikut sesuka hati individu tertentu yang akhirnya hanya akan menimbulkan masyarakat yang pincang.” Sejarah telah membuktikan golongan penindas dan orang yang alim sering memenuhi maksud mereka dengan kezaliman. Demikianlah sebaliknya kalau hanya para Imam yang ma‘sumun sahaja wujud sedangkan kitab Allah tidak ada, tidak akan ada lagi perintah-perintah Allah yang dapat dilaksanakan oleh para Imam untuk disempurnakan. Justeru itu, Syi‘ah mengambil jalan yang paling baik, meme¬nuhi perintah Allah dengan jalan mengikuti Imam ‘Ali (a.s) dan keturunannya kerana mereka beramal dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi (s.a.w) tanpa sebarang perasaan ingkar. Dalam usaha meningkatkan syiar Islam dan menumpaskan musuh-musuhnya, para pengikut Syi‘ah mematuhi para Imam yang ma‘sumin dengan berkorban seluruh jiwa raga mereka demi kerana Allah dan agama Islam, tanpa sebarang perubahan dibuat dalam usaha penyeba¬rannya ke merata pelusuk dunia. Kalaulah bukan kerana usaha mereka yang bersungguh-sungguh ini, sudah pasti Islam tidak akan dapat diperlihatkan dalam bentuknya yang asal. Apakah Islam ini dapat dimengertikan dengan cara Mu‘awiyah, Yazid dan para pemer¬intah seumpama mereka yang dikatakan memerintah berlandaskan perintah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan umat Islam diwajibkan mentaati menurut perintah Allah, kepada setiap penindas-penindas tadi yang terhunus dengan pedang di tangan-tangan mereka. Bagaimanakah manusia dapat menerima agama dan menyembah Tuhan yang seperti ini? Golongan Syi‘ah dalam mengikuti para pemimpin suci mereka, berupaya memisahkan matlamat dan kehendak individu daripada kemahuan Allah dan membebaskan agama ini dari¬pada tangan mereka yang mengakui beriman kepada Allah sedangkan pada hakikatnya tidak demikian. Syi‘ah melaungkan kepada seluruh dunia bahawa Islam satu-satunya agama yang bebas, tidak menyebe¬lahi mana-mana pihak yang berusaha menentang kebenaran dan keadi¬lan atau menyokong penindasan dan menjadikan orang-orang yang tidak berdosa sebagai tawanan, juga syariat yang dibawanya meme¬nuhi kehendak yang diperlukan manusia. Justeru itu, syariat yang diutuskan oleh Allah ini mestilah dibawa oleh seorang yang ma`sum. Syi‘ah dalam abad ke-14 ini tidak pernah mendapat kekuasaan yang sepenuhnya dan menenangkan dunia dengan kebenaran Islam sebagai sebuah kuasa pemerintah. Bahkan sekiranya pada waktu itu, ia berjaya mendapat sebahagian kuasa atau kedudukan dalam pemerintahan, ketegangan dan perasaan anti-Islam akan wujud dalam masyarakat. Ini mendorong golongan Syi‘ah berfikir dan mencari jalan untuk menyelamatkan keadaan ini yang akhirnya memaksa mereka mengamalkan konsep taqiyyah. Pada masa yang sama, Syi‘ah membuat pengorbanan yang tiada tolok bandingnya dalam usaha menyebarkan ajaran Ilahi oleh para Imam mereka, meskipun berhadapan dengan berbagai-bagai penderi¬taan dan kesengsaraan. Mereka dengan berkat pertolongan Ilahi mampu membangunkan ciri-ciri kemanusiaan dan menyebarkan ajaran agama pemimpin mereka dalam bentuk yang lengkap sempurna kepada seluruh manusia, seterusnya dapat menarik perhatian kalangan cendikiawan dan mereka yang berilmu pengetahuan. Mereka mengemukakan Islam dalam bentuk yang boleh dinilaikan, seterusnya menawarkan bisa racun, melunturkan kesombongan dalam penyebaran dakyah oleh negara-negara kuasa besar. Mereka juga mampu menyatakan ketinggian maksud yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Hadith hinggakan hari ini, walaupun berhadapan dengan rintangan demi rintangan, hampir 130 juta umat Islam bahkan boleh kita katakan 600 juta umat Islam terhutang budi dengan pengorbanan para pejuang kebenaran yang berjaya meletakkan Islam di tempat yang sewajarnya. Salah satu sumbangan paling berharga yang dilakukan oleh Syi‘ah adalah berkait dengan perbincangan, analisis dan peneli¬tian tentang perkara-perkara yang tersebut dalam hadith-hadith Nabi (s.a.w). Hadith-hadith itu dianalisis melalui bentuk soalja¬wab, manakala persoalannya dibincangkan dengan terperinci, dikri¬tik atau diakui dengan jelas untuk mempengaruhi pemikiran orang-orang yang boleh berfikir dan memahami hakikat kebenaran dengan pemerhatian yang mendalam. Di antara mereka yang turut memberikan sumbangan dalam bidang ini ialah penyusun dan pengkritik hadith yang terkemuka iaitu ‘Allamah Abu al-Fath al-Razi yang telah melakukan usaha yang tiada tolok bandingnya dalam memperlihatkan ketulenan ajaran al-Qur’an dan hadith. Perlu dinyatakan di sini bahawa beliau memiliki saham yang besar dalam usaha menghindarkan salahtafsiran terhadap asas Islam menerusi sudut pandangan al-Qur’an dan Ahl al-Bayt (a.s). Ulama besar ini telah membincangkan masalah khalifah dan kepimpinan dalam masyarakat beragama ini dengan cara yang menarik dan memperlihatkan kepada umum bahawa sesiapa sahaja walau dari peringkat apa sekalipun, boleh dan mampu membezakan yang hak daripada yang batil tanpa sebarang perasaan prejudis, untuk memilih dan menentukan jalan yang akan ditempuhi untuk mendekati Allah (s.w.t). Usaha yang tidak ternilaikan daripada tokoh ulama terkemuka tersebut diberi tajuk “Yuhanna Zimmi,” telah sampai kepada kami dengan cara yang sungguh terhormat oleh tokoh akademi terkenal Dr. Syahabi, ketua di pusat pengajian Teologi di Masyad. Dengan berkat Allah, ia telah dapat dicetak dan diterbitkan beberapa kali. Selepas ini, Sighat al-Islam wa al-Muslimin Agha Esyterhardy, salah seorang penulis terkemuka kami telah mengha-silkan kembali buku ini dalam bentuk yang lebih menarik, penuh dengan sumber-sumber keilmuan dan diberi tajuk: “Pembelaan kepada Mazhab Syi‘ah.” Kami sungguh bernasib baik kerana buku ini berjaya diulangcetak beberapa kali dan kini masih lagi diperlu¬kan, tetapi kami tidak dapat memenuhi semua permintaan tersebut akibat kekurangan bekalan. Permintaan yang besar terhadap buku tersebut dan minat yang mendalam di kalangan generasi muda telah mendorong Hujjat al-Islam Agha Faghihi mengambil langkah menterjemahkan buku tadi ke dalam bahasa Inggeris dan syukur al-Hamduli-Llah, usaha ini terlaksana jua. Kini, dengan izin restu daripada Allah s.w.t, terjemahannya dalam bahasa Inggeris telah pun diterbitkan. Semoga Allah meneri¬ma usaha yang dibuat ini sama ada yang berbentuk material mahupun spiritual dalam rangka untuk menjayakan cita-cita ini. Moga-moga Allah s.w.t memelihara golongan Syi‘ah daripada sebarang anasir jahat menerusi perlindungan Imam al-Zaman (moga-moga saya dapat berbakti kepadanya) dan moga-moga kami dengan keizinan Allah mendapat kekuatan ilmu daripada mazhab Syi‘ah. Hassan Saeed 1398H Chehel Sotoon Library and School Jami` Mosque Tehran, Iran. PENGENALAN Nama saya Yuhanna, seorang penganut agama kristian. Selama ini saya telah mengikuti jalan yang salah. Akibat daripada ke¬kecewaan inilah, saya telah memulakan usaha untuk mencari kebena¬ran yang boleh memberikan pengampunan dan seterusnya keyakinan yang luhur dan suci murni. Tuhan telah memberkati saya dan menyi¬nari hidup saya yang dahulunya berada dalam gelap gelita dengan petunjuk-Nya. Akhirnya saya yakin dengan sepenuhnya keimanan kepada Allah, para rasul dan Imam yang suci, hari Akhirat dan menerusi sumber-sumber inilah sahaja yang dapat membawa pencapai¬an keimanan yang total. Lantas saya terus berusaha mengkaji dan memikirkan persoa-lan-persoalan yang selama ini begitu membingungkan orang ramai hinggakan mereka tidak berupaya mencapai kesimpulan terakhir. Di antaranya, ada sebahagian orang mengatakan alam sejagat ini bersifat kekal. Setengahnya pula mempercayai Tuhan itu satu, manakala yang lainnya mempercayai kepada berbilang Tuhan. Bagi mereka yang tidak mempercayai keesaan Tuhan mempunyai pendapat-pendapat yang berlainan mengenai sifat-sifat Tuhan. Ada yang mengatakan Tuhan itu berjisim, manakala sebahagiannya pula mengatakan Tuhan itu bukanlah demikian keadaannya. Ada pula yang mengakui Tuhan mengetahui segala-galanya, sedangkan yang lain pula menafikannya. Terdapat setengah orang percaya bahawa kitab Taurat (Old Testament) itulah satu-satunya kitab Allah, kristian pula mempercayai Bible, kumpulan yang lain kepada Zoroaster dan kumpulan seterusnya kepada Islam dan al-Qur’an. Orang ramai begitu taksub dengan berbagai-bagai kumpulan. Masing-masing dengan prinsip mereka yang tersendiri dan setiap daripada mereka merasakan hanya merekalah sahaja yang berada di pihak yang benar. Saya, Yuhanna yang sedang dalam pencarian ini kebingungan apabila memikirkan jalan mana yang harus diikut. Lalu, saya mengambil keputusan untuk membaca dan seterusnya mengkaji semua kitab suci mereka dan dengan itu dapatlah saya membuat pilihan yang terbaik. Hasil daripada pengkajian yang mendalam terhadap Old Testament, Bible, Zabur, Suhuf Nabi Ibrahim (a.s) dan al-Qur’an, saya dapati hanya al-Qur’an sahaja kitab yang paling sempurna dan lengkap. Justeru itu, saya bertambah minat untuk mencintai Islam. PERBEZAAN KEPERCAYAAN DI KALANGAN UMAT ISLAM Apabila saya menganuti Islam, saya perhatikan terdapat jurang perbezaan yang ketara di antara berbagai-bagai kumpulan Islam tadi. Satu pihak menuduh pihak yang lain sebagai bukan daripada golongan Islam dan begitulah pula sebaliknya. Kini, saya dapati bahawa saya telah berada di suatu persimpangan jalan yang semakin sukar berbanding dengan sebelumnya. Satu golongan daripa¬da umat Islam percaya keesaan Tuhan terletak kepada sifat-sifat kebesaran-Nya. Sekumpulan lain pula percaya segala yang baik itu daripada Allah manakala yang buruk pula adalah daripada perbuatan manusia sendiri. Ada pula yang percaya kita tidak berkuasa ke atas segala perbuatan kita, manakala di satu pihak lagi mengata¬kan sebaliknya. Terdapat juga sebahagian orang yang mengatakan Tuhan boleh dilihat manakala sebahagian yang lain mengatakan tidak boleh dilihat. Ada orang yang percaya al-Qur’an itu kekal, tetapi di pihak lain mengatakan tidak. Setengahnya pula percaya para rasul itu ma‘sumun (terpelihara daripada perbuatan dosa dan salah) [kitab Tanzih al-Anbiya’ tulisan Sayyid al-Murtada telah membahaskannya) manakala sesetengah yang lain tidak mempercayai kesucian dan kemaksuman mereka (seperti yang disebutkan dalam kitab yang sama). Berhubung dengan persoalan khilafah (pemilihan khalifah), sebahagiannya mengatakan Abu Bakr sebagai khalifah yang pertama dan mengatasi yang lain. Golongan yang lain pula memberikan pandangan yang songsang terhadap Abu Bakr dan mereka percaya bahawa Imam ‘Ali (a.s) ialah pengganti Rasulullah (s.a.w). Tidak kurang pula yang cuba memperkecil-kecilkan personaliti ‘Ali (a.s) dan ada pula yang menganggapnya sebagai Tuhan. Terdapat golongan yang memuji Abu Bakr, ‘Umar dan Husayn, manakala yang lain mengutuk ‘Ali (a.s), ‘Uthman dan Hasan. Ada juga orang yang percaya kepada Imam Dua Belas (12), sedangkan yang lain pula menuruti 4, 5 atau 6 Imam. Oleh itu, timbullah berbagai-bagai persoalan agama seperti persoalan halal dan haram makanan tertentu. Contohnya: satu pihak berkeyakinan bahawa memakan burung merpati, arnab atau musang adalah halal, sedangkan di satu pihak lagi menegah dengan menga¬takan bahawa semuanya itu sebagai kotor. Persoalan-persoalan yang timbul dalam mazhab-mazhab Islam ini memberikan kesan yang sungguh besar kepada diri saya. Ketika inilah, saya merasakan bahawa saya patut berhenti sahaja daripada mengikutinya. Namun demikian, keinginan saya untuk mendapatkan kepuasan ruhani menerusi agama tersebut terus mendesak saya daripada pelbagai peringkat. YUHANNA– KAJIAN YANG BERTERUSAN Kini, saya telah terjunam ke dalam lautan pertentangan pendapat yang sungguh dalam apabila saya mengambil keputusan untuk menumpukan perhatian kepada al-Qur’an dan al-Hadith yang telah diyakini oleh seluruh umat Islam. Di dalam proses penye¬lidikan ini, saya cuba mendapatkan pandangan tokoh-tokoh ulama daripada berbagai-bagai mazhab, juga melakukan pengembaraan ke beberapa tempat. Pertama sekali, saya menuju ke Institusi Pengajian Islam Mustansaria di Baghdad, Iraq. Di sini, saya berada bersama-sama dengan empat orang Imam Sunni (Hanafi, Maliki, Syafi‘i dan Hanba¬li) memberikan kuliah agama mereka. Saya turut berdiskusi dengan mereka mengenai Islam tanpa memberitahu niat dan kepercayaan saya. APAKAH KEEMPAT-EMPAT MAZHAB ITU BENAR? Saya telah menemui tokoh-tokoh ulama daripada empat mazhab Sunni (Hanafi, Maliki, Syafi‘i dan Hanbali) dan ini adalah di antara intisari perbincangan kami: Yuhanna: Wahai tuan-tuan yang dimuliakan, saya seorang penganut kristian tetapi kini ingin menganuti Islam. Tolonglah tunjukkan dan beritahukan kepada saya berkenaan dengan cara-cara berwudu’, mandi, sembahyang dan puasa. Terdapat perbezaan yang besar dalam penjelasan mereka terhadap persoalan yang saya kemu¬kakan itu. Yuhanna: Wahai tuan-tuan ulama Islam yang mulia! Dengan nama Allah, saya bermohon agar tuan-tuan dapat menunjukkan jalan yang benar supaya saya dapat mengikutinya untuk mendekatkan diri saya kepada Allah s.w.t. Ulama Sunni: Wahai Yuhanna! Anda bebas memilih salah satu daripada empat mazhab ini. Yuhanna: Jawapan yang anda berikan itu tidak dapat memenuhi maksudku, kerana di antara keempat-empat mazhab terse-but terdapat percanggahan prinsip yang cukup besar. Ulama Sunni: Wahai Yuhanna! Seandainya anda dapati ada sesuatu yang salah dalam keempat-empat mazhab itu, silalah kemukakan kepada kami. Yuhanna: Abu Hanifah mengatakan wudu’ tanpa niat adalah sah, manakala Syafi‘i pula mengatakan tidak sah. Syafi‘i berpen¬dapat Bismillah wajib dibaca dalam sembahyang sementara Maliki pula menyalahinya dalam masalah ini. Ahmad Hanbal menjelaskan sekiranya Imam sakit atau tidak berkeupayaan, dia boleh bersem-bahyang dalam keadaan duduk dan bagi mereka mengikuti Imam, walaupun sekiranya mereka sihat, hendaklah bersembahyang dalam keadaan yang sama seperti Imam (duduk). Mazhab lain mengatakan cara tersebut adalah tidak sah. Di sini jelas menunjukkan terda¬pat kekurangan di antara satu mazhab dengan mazhab yang lain. Ulama Sunni: Mujtahid daripada keempat-empat mazhab telah menetapkan keputusan ijtihad mereka dalam hukum syarak itu. Justeru itu, ijtihad mereka itu adalah benar menurut cara mereka sendiri. Yuhanna: Saya bermohon agar anda memberitahu saya ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad (s.a.w) sendiri supaya saya dapat melaksanakannya seperti yang diperintahkan. Ulama Sunni: Kesemua empat mazhab tadi memang diterima oleh Nabi Muhammad (s.a.w). Jadi, terpulanglah kepada anda untuk membuat pilihan. Yuhanna: Di dalam mazhab-mazhab tersebut terdapat per¬canggahan prinsip yang sungguh dalam. Tentunya Nabi (s.a.w) dalam perkara ini hanya menerima satu mazhab sahaja. Lantaran itu, saya ingin bertanya apakah keempat-empat mazhab ini wujud semasa Nabi (s.a.w) masih hidup? Ulama Sunni: Tidak! Ia hanya wujud selepas seratus (100) tahun daripada kewafatan Nabi Muhammad (s.a.w). Yuhanna: Maksud anda, keempat-empat mazhab itu tidak pernah wujud di zaman Nabi (s.a.w) dan zaman Khilafah, dan kini anda mengkaji ajaran agama yang disampaikan oleh Nabi (s.a.w) menerusi empat mazhab itu. Anda sendiri pun nampaknya tidak tahu yang mana satu ajaran atau kepercayaan yang dianuti oleh Nabi (s.a.w) sendiri. ADAKAH MAZHAB HANAFI ITU BENAR? Sebaik sahaja saya mengemukakan persoalan ini, seorang ulama mazhab Hanafi ternyata cukup terkejut dan kemudiannya berkata: “Yuhanna, anda sudah keterlaluan membuat kenyataan yang merendah-rendahkan kedudukan Islam. Kalau sekiranya anda ingin mencari jalan yang benar, anda haruslah mengetahui bahawa Nabi (s.a.w), ketika baginda wafat itu hanya meninggalkan al-Qur’an dan al-Hadith. Justeru itu, para ulama Islam sahajalah yang boleh memahami kedua-duanya dan seterusnya memberikan hukum-hukum yang berkaitan. Seandainya anda hendak menuruti jalan yang benar, ikutilah ajaran mazhab Hanafi.” Yuhanna: Wahai ulama Hanafi yang dimuliakan! Saya telah mengkajinya dengan berpandukan al-Qur’an dan Hadith. Namun, saya tidak juga berpuashati. (1). Hanafi mengatakan: Sah menyapu kaki terlebih dahulu semasa berwudu’ kemudian diikuti dengan menyapu kepala, membasuh tangan dan akhir sekali membasuh muka. Cara ini dianggap tidak sah dalam mazhab lain. Dengan berpedomankan al-Qur’an, wudu’ mestilah dilakukan dengan membasuh muka dahulu, kemudian diikuti dengan dengan membasuh tangan dan menyapu kedua-dua kepala dan kaki. Tidak ada sebuah hadith pun yang berlawanan dengan apa yang telah diceritakan oleh al-Qur’an itu. Allah (s.w.t) telah berfirman dalam surah al-Ahzab (33): 2 supaya mengikuti ajaran Nabi (s.a.w). Nabi (s.a.w) sendiri ber¬sabda agar dalam setiap ibadat hendaklah mengikut perbuatannya. Hadith dan hujah akal tidak membenarkan kita meninggalkan al-Qur’an dan sebaliknya mengamalkan ajaran mazhab Hanafi. Tambahan lagi, hal tersebut bertentangan dengan kitab-kitab mazhab Sunni sendiri. (2). Hanafi menghukumkan bahawa jika seseorang itu membuang air kecil atau besar dan kemudian mengambil wudu’ dan bersembahyang di tempat yang sama, ia dianggap sah. Bagaimanapun, ini bukanlah cara yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w). Allah s.w.t sendiri telah menyatakan dalam al-Qur’an bahawa mereka yang hampir dengannya ialah orang yang mengharapkan keampunan dan mengamalkan kebersi¬han. (3). Hanafi berpendapat bahawa sekiranya kulit anjing yang telah mati disamak, ia boleh dianggap suci dan harus dibuat sembahyang dengan menggunakan pakaian daripada kulit yang disamak seperti itu. Ini jelas berlawanan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya yang menegaskan bahawa sesuatu benda yang diharamkan dan najis tidak boleh disucikan. (4). Biarpun hukum ini bertentangan dengan perintah Rasulullah (s.a.w), Abu Hanifah mengatakan sah membaca surah al-Hamd yang diterjemahkan ke bahasa Parsi sepanjang masa sembahyang. Nabi (s.a.w) sendiri telah menegaskan bahawa surah al-Hamd merupakan sebahagian daripada sembahyang, dan kerana itu ia hendaklah dibaca dalam bahasa sebagaimana ia diwahyukan. (5) Abu Hanifah mengatakan bahawa membaca doa Qunut dalam sembah¬yang subuh adalah suatu bid‘ah. Al-Hamidi dalam kitab Jami‘ al-Sahihain memetik sabda Rasulullah (s.a.w) yang bermaksud: “Semasa bersembahyang subuh selepas membaca surah dan sebelum ruku‘, aku membaca doa Qunut.” (6) Abu Hanifah mengatakan bahawa jika sekiranya seseorang pen-curi mencuri bijirin gandum dan kemudiannya mengisar gandum itu untuk dijadikan tepung, tepung itu tadi sah menjadi miliknya. Pemilik sebenarnya tidak berhak menuntut kembali dan seandainya dia berbuat demikian, dia bolehlah dianggap seorang yang tidak berperikemanusiaan. Seandainya berlaku serangan, pencuri itu berhak mempertahan¬kan dirinya dengan pedang. Jika dalam pertelingkahan itu, pemilik sebenarnya mati, pencuri itu tidak bertanggungjawab ke atas pembunuhannya. Bagaimanapun sekiranya pencuri itu yang mati, pemilik sebenarnya itu boleh dikenakan hukum penjara. Al-Qur’an dengan keras melarang seseorang daripada memakan makanan yang dicuri. (7). Abu Hanifah juga mengatakan bahawa jikalau seseorang Islam membunuh seorang Yahudi atau penyembah api, dia hendaklah dihukum bunuh, sedangkan al-Qur’an sendiri mengatakan orang kafir tidak berhak menindas atau memerintah orang Islam. (8) Abu Hanifah berkata jika seseorang itu membayar sejumlah wang kepada adik perempuannya dan kemudian membuat perhubungan jenis dengannya, perbuatan itu dianggap sah, sama ada dilakukan dengan sengaja atau diketahui salah dan benarnya. Al-Qur’an dengan tegas melarang perlakuan ini dan jika dilakukan perhubungan jenis secara haram, sama ada dia lelaki ataupun perempuan, dia hendaklah dikenakan hukuman seratus kali sebatan. (9) Abu Hanifah mengatakan bahawa jika empat orang mengemukakan bukti yang menunjukkan seseorang itu terlibat dalam perhubungan jenis secara haram dan orang yang berkenaan mengakuinya, dia hendaklah diampunkan. Bagaimanapun seandainya dia menentang keputusan keempat-empat orang tersebut, dia patut dihukum. Ini jelas bercanggah dengan akal yang waras. (10) Sekiranya seseorang itu terlibat dalam hubungan homoseks dan dibuktikan benar, dia hendaklah dikenakan hukuman yang ringan dan bukannya disebat. Nabi (s.a.w) menjelaskan bahawa seandainya seseorang itu terlibat dengan perbuatan homoseks (seperti yang dilakukan oleh umat Nabi Lut (a.s), kedua-duanya hendaklah dihu-kum bunuh. (11). Abu Hanifah mengatakan seandainya seorang lelaki mengikat tali pertunangan dengan adik perempuan atau ibunya sendiri dan kemudiannya membuat hubungan jenis dengan mereka, dia tidak patut dikenakan hukuman biarpun dia mengetahui perbuatan itu salah di sisi agama. (12). Abu Hanifah juga mengatakan bahawa sekiranya seorang hakim itu berbuat dosa, kemudian dia mengeluarkan hukuman yang terdapat cacat-celanya, hukuman itu tadi tidaklah boleh dianggap batal atau tidak sah. Namun begitu, al-Qur’an dalam konteks ini menje¬laskan bahawa seseorang itu tidak beriman jika dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah dan keputusan Allah (s.w.t). (13). Abu Hanifah mengatakan bahawa jika seseorang lelaki itu berbohong dengan mengatakan wanita itu sebagai isterinya dan ada dua orang saksi yang menyokong kenyataannya di hadapan hakim, hakim boleh memberikan keputusan menyokong tuntutan lelaki terse-but, iaitu wanita tadi telah menjadi isterinya yang sah (walaupun sebenarnya tidak demikian). (14) Abu Hanifah mengatakan bahawa sekiranya seseorang itu mencuri seribu (1000) dirham daripada si A dan seribu (1000) dirham lagi daripada si B dan kemudian mencampurkannya hingga tidak dapat dibezakan hak miliknya, si pemiliknya tidak ada hak untuk menuntutnya kembali. Demikianlah juga sekiranya seorang wanita menemui hakim (kadi) sambil berpura-pura mengatakan dia telah diceraikan oleh suaminya dengan disaksikan oleh dua orang, lalu tuan kadi membuat keputusan menyebelahi wanita tersebut. Dengan cara itu, wanita tersebut tidak lagi menjadi hak suaminya dan dia bebas untuk berkahwin dengan lelaki lain. Daripada keputusan dan hukuman yang diputuskan oleh Hanafi ini menunjukkan bahawa beliau percaya hakim atau kadi merupakan orang yang paling berkuasa. Nabi (s.a.w) bersabda yang bermaksud: “Sekiranya terdapat sebarang konflik atau pertentangan, kedua-dua pihak yang terlibat hendaklah datang berjumpa dengannya. Baginda akan mendengar dan seterusnya menghukumkan dengan cara yang paling adil.” Ini bermaksud bahawa kedua-dua pihak yang terlibat mestilah hadir dan mendengarkannya sebelum sebarang keputusan itu ditetapkan. Keputusan yang bersifat berat sebelah adalah dianggap bertentangan dengan konsep keadilan. Apabila hujah Yuhanna sampai ke peringkat ini, ulama Sunni lalu bangun dan cuba mempertahankan diri mereka dengan mengata¬kan: “Wahai Yuhanna! Abu Hanifah seorang mujtahid dan dia mengeluarkan fatwa-fatwanya dengan berdasarkan ijtihad. Dia bolehlah dimaafkan sekiranya membuat kesilapan.” [Andainya golon-gan Syi‘ah mengutuk Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Uthman, itu pun berda-sarkan keputusan ijtihad mereka sendiri. Jadi, kenapa pula anda semua mengkritik golongan Syi‘ah dalam persoalan ini?] ADAKAH MAZHAB SYAFI`I ITU BENAR? Seorang ulama Syafi‘i mengambil inisiatif dengan menerang-kan: “Yuhanna, jikalau anda ingin mencari kebenaran menurut al-Qur’an dan al-Hadith, ikutilah mazhab Syafi‘i. Syafi‘i berasal daripada kaum Quraisy dan setiap keputusannya adalah berlandaskan kepada hadith-hadith Rasulullah (s.a.w).” Sampai di sini, ulama Hanafi mencelah: “Wahai ulama Syafi‘i, anda bukannya mengikuti Imam anda, sebaliknya cuba untuk menyatakan kepercayaan mazhab anda dengan merendah-rendahkan mazhab lain. Bagaimana anda dapat membuktikan bahawa semua hukum syarak yang diputuskan oleh Syafi‘i itu benar sedangkan kebanya¬kannya tidak diketahui sumbernya. Sebagai contoh: Syafi‘i mengatakan bahawa seandainya seorang lelaki mencabul kehormatan seorang wanita dan kemudian wanita itu melahirkan seorang anak perempuan, lelaki tadi dibolehkan untuk mengahwinkan anak lelakinya dengan anak perempuan itu, ataupun jika wanita itu mempunyai adik perempuan dan lelaki tadi berkahwin dengannya dan seterusnya ingin mengahwini kedua-duanya seka¬li, ia dianggap sah. Bagaimana mungkin orang yang mengikuti mazhab Syafi‘i boleh mengatakan dirinya lebih baik daripada mazhab Hanafi?” Ulama Syafi‘i menyampuk sambil berkata kepada ulama Hana¬fi: “Mazhab anda langsung tidak berasas, tidak diketahui dan juga tidak boleh diterima akal yang waras. Mazhab anda menyata¬kan bahawa jika sekiranya Zayd pergi ke India dan bercadang untuk mengahwinkan anak perempuannya yang berada di Rome dengan seorang lelaki yang berada di India, perkahwinan tersebut boleh berlangsung tanpa dihadiri oleh perempuan tadi. Suami tersebut kemudiannya memanggil isterinya pulang ke India setelah beberapa tahun berlalu dan mendapati isterinya itu telah pun mempunyai tiga orang anak dan masih mengandung lagi. Dalam keadaan serba-salah ini, dia bertanyakan kepada Zayd: Saya telah mengahwini anak perempuan anda semasa dia berada jauh di Rome. Sehingga kini saya belum pernah lagi menyentuh dirinya. Jadi, bagaimana dia boleh melahirkan anak-anak tersebut?” Zayd menjawab: “Sewaktu aku mengahwinkan anda dengannya, malaikat telah meletakkan mani anda ke dalam rahimnya dan kerana itu dia boleh melahirkan zuriat. Inilah dia pendapat mazhab Hanafi.” Sekali lagi ulama Syafi‘i cuba menarik perhatian ulama Hanafi. Abu Hanifah juga ada mengatakan bahawa jika seandainya suami kepada seorang wanita itu menghilangkan diri dan wanita tadi berkahwin dengan lelaki lain dan mendapat anak, kemudian suami pertama tadi kembali semula kepadanya, anak-anaknya yang lahir daripada suami kedua bolehlah dianggap sebagai anak-anak kepada suami yang pertama. Ini jelas berlawanan dengan fikiran yang sihat. Ulama Hanafi yang tidak dapat menjawab soalan tadi terus membalas kembali: “Wahai ulama Syafi‘i, Imam anda pula mengatakan bahawa perhubungan jenis itu dianggap suci sedangkan inibertentangan dengan hadith Nabi (s.a.w). Imam anda juga ada mengatakan bahawa sekiranya seorang wanita yang dicerai talaq tiga, kemudian lelaki itu ingin kembali semula kepadanya, wanita tersebut boleh kembali kepada suaminya tadi tanpa perlu kepada ijab-kabul ataupun saksi. Ini sememangnya bercanggah dengan dengan syariat al-Qur’an kerana di dalam surah al-Baqarah: ayat 299 telah pun menyatakan kedudukannya dengan terang. Syafi‘i juga ada mengatakan bahawa orang ramai hendaklah memberikan sejumlah bayaran sebagai hak untuk dirinya, walaupun ternyata bahawa tidak ada seorang pun yang berhak terhadap pendapatan yang diperolehi oleh orang lain kecuali zakat. Saya, Yuhanna mendengar perbincangan dan perdebatan di antara kedua-dua tokoh ulama Hanafi dan Syafi‘i dengan penuhminat, dan dengan harapan untuk akhirnya dapat menemui kebenaran yang hakiki. Sementara itu, ulama Syafi‘i meneruskan bicaranya kepada ulama Hanafi: “Nampaknya anda tidak menghormati mazhab kami dengan cara menonjolkan keburukan yang terdapat di dalamnya. Perkara yang sama akan berlaku, seandainya kami berbuat demikian terhadap kebodohan dan kesalahan anda, dan ini akan menyebabkan timbulnya kebencian orang ramai kepada mazhab kami dan anda.” Ulama Hanafi membalas: “Anda berbohong. Tidak ada persoalan dalam mazhab kami yang boleh menyebabkan orang lain memben-cinya.” Ulama Syafi‘i menjelaskan: “Abu Hanifah mengatakan bahawa pakaian yang diperbuat daripada kulit yang telah disamak boleh dipakai. Wudu’ boleh dilakukan dengan air perahan kurma. Tanpa melafazkan niat, seseorang itu boleh bersembahyang menghadap Ka‘bah, membaca surah al-Hamd dalam bahasa Parsi, dan di samping membaca surah al-Tawhid, dia boleh menyebutkan beberapa perkataan lain seperti “dua batang pohon yang kehijauan.” Semasa bersembahyang, ruku‘ boleh dibuat memadai dengan menundukkan kepala sedikit, masa di antara dua sajdah hendaklah paling cepat dan selepas Tasyahhud sebelum memberi salam, seki-ranya dia hendak terkentut, bolehlah dia berbuat demikian.” Wahai ulama Hanafi, jadikanlah kewarasan dan kebijaksa¬naan anda sebagai hakim untuk menentukan apakah Rasulullah (s.a.w) atau para Imam telah menetapkan fatwa itu atau menunjukkan kepada sekalian umat Islam cara yang seumpama itu, ataupun adakah ini sahaja caranya untuk beribadat kepada Allah? Adakah semuanya ini berdasarkan kepada kebenaran? Saya, Yuhanna kini dapat merasakan perdebatan tadi sudah sampai ke peringkat yang genting dengan masing-masing pihak saling hentam menghentam antara satu dengan yang lain. Saya pun memberitahu mereka bahawa dengan cara perdebatan seperti itu mereka telah mencemarkan martabat dan kehormatan mazhab masing-masing, dan atas alasan untuk menjelaskan agama yang satu ini, mereka telah mempamerkan dan memperlihatkan kelemahan dan keku¬rangan orang lain. Kesannya telah menyebabkan timbulnya perasaan benci di hati saya terhadap kedua-duanya. Jelaslah kini, bahawa mazhab Hanafi dan Syafi‘i tidak wajar dan tidak layak untuk diikuti. Ulama Maliki yang dari tadinya memperhatikan keresahan saya lalu mengajak saya mengikuti mazhab Maliki. ADAKAH MAZHAB MALIKI ITU BENAR? Ulama Maliki yang turut sama dalam diskusi itu berkata kepada Yuhanna: Kalau anda ingin mencari kepercayaan yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, ikutilah ajaran Malik kerana dia merupakan pengikut Nabi Muhammad (s.a.w). Dia lebih utama berbanding dengan murid-muridnya yang lain termasuklah Syafi‘i sendiri. Malik, dalam masalah hukum syarak tidak mengemukakan pendapatnya sendiri mahupun memindanya. Segala yang diperkatakannya adalah berlandaskan kitab al-Qur’an dan al-Hadith. Perbincangan yang sedang berlangsung itu terganggu apabila ulama Hanafi menghalang sambil bertanya kepada ulama Maliki tersebut: “Anda berpegang kepada pendapat yang mengatakan fatwa-fatwa Malik adalah selari dengan al-Qur’an dan al-Hadith. Sekarang, cuba beritahu saya, ayat al-Qur’an atau al-Hadith yang manakah yang mengatakan bahawa daging anjing itu halal dimakan ataupun yang mengatakan bahawa air liur dan bahagian-bahagian badannya itusuci. Cuba buktikan kepada saya apakah ada hadith yang mengatakan bahawa membaca A‘uzu bi-Llah dan Bismi-Llah sebelum surah al-Hamd itu tidak sah, dan membaca salawat ke atas Nabi Muhammad (s.a.w) dan Ahl al-Bayt baginda (a.s) dalam sembahyang tidak wajib. Kini, ulama Syafi‘i dan Hanafi bergabung bersama-sama menentang ulama Maliki. Perbincangan menjadi semakin sengit dan bertambah runcing berbanding dengan sebelumnya, dan saya merasa bimbang kemungkinan akan berlakunya pertelingkahan. ADAKAH MAZHAB HANBALI ITU BENAR? Sejauh ini, ulama Hanbali yang berada berhampiran mendengar perbincangan tadi secara diam-diam tetapi akhirnya dia memecah¬ kan kesunyian itu dengan berkata: “Wahai Yuhanna! Saya bercakap ini demi kerana Allah supaya saya dapat menceritakan keadilan dan kebenaran. Sekiranya kamu benar-benar ingin mencari kebenaran, ikutilah mazhab Ahmad bin Hanbal.” Ketiga-tiga orang ulama daripada mazhab Syafi‘i, Hanafi dan Maliki segera memotong penjelasan ulama Hanbali itu sambil menyatakan: “Bagaimana anda hendak membandingkan mazhab anda dengan kami sedangkan mazhab anda sendiri tidak mempunyai dasar¬nya. Sebagai contoh, salah satu daripada ajaran mazhab anda ialah Allah itu berjisim seperti manusia dan tinggal di syurga dengan tingginya empat jari daripada syurga. Anda juga mempunyai pegangan bahawa pada setiap malam khamis, Tuhan akan turun ke bumi dan menjelma dengan rupa bentuk seorang lelaki muda yang cantik, memakai sepatu dengan renda daripada mutiara. Penduduk Kota Baghdad mencampakkan bijirin barli ke atas bumbung masjid supaya keldai yang ditunggangi oleh Tuhan dapat memakannya.” Perkara ini juga begitu diketahui umum bahawa ada seorang bertanya kepada Dawud bin Hanbal berkenaan rupa bentuk keldai Tuhan itu. Lantas, dia mengatakan bahawa anda boleh menanyakan apa sahaja yang ingin diketahui asalkan tidak bertanyakan mengenai janggut dan bahagian-bahagian sulitnya, cukuplah. Sehubungan dengan ini, Ahmad bin Hanbal juga banyak membuat kenyataan yang tidak berasas sama sekali antara lain, seandainya terdesak, anda boleh membuat hubungan dengan hamba abdi anda. kalaulah kepercayaan mazhab anda banyak yang tidak dapat dapat diterima akal, lalu bagaimana anda dapat mengatakan bahawa mazhab andalah yang paling benar berbanding dengan mazhab-mazhab yang lain. Saya, Yuhanna merasa sungguh terkejut dengan kekurangan dan kepincangan yang terdapat dalam keempat-empat mazhab tersebut. Apabila memikirkan kebodohan dan berbagai-bagai percanggahan tersebut, saya akhirnya mengambil keputusan untuk tidak menerima dan yakin bahawa inilah agama yang benar tetapi masalah yangtimbul ialah bagaimana untuk menyempurnakan ajaran Islam, sedangkan banyak kerumitan yang parah terdapat dalam mazhab-mazhab tersebut. ALIRAN YANG PALING BENAR IALAH SYI‘AH Sebaik sahaja selesai mendengar perdebatan para ulama tadi, Yuhanna merayu: “Wahai para alim ulama daripada keempat-empat mazhab, saya memohon dengan nama Allah dan Rasul-Nya, beritahu-kanlah kepada saya apakah ada lagi mazhab-mazhab yang lain selain daripada keempat-empat ini dalam Islam?” Ulama Sunni: Selain daripada keempat-empat aliran tersebut terdapat satu lagi mazhab tetapi ia tidak mempunyai asas yang kukuh. Di samping itu, mereka tidak mempunyai ramai pengikut dan digelarkan dengan nama “Syi‘ah.” Mereka mewakili kumpu¬lan minoriti. Di negara-negara Islam, golongan Yahudi, Kristian dan golongan beragama yang lain bebas untuk menyatakan kepercayaan dan anutan masing-masing, tetapi kumpulan ini tidak berbuat demikian kerana mereka daripada golongan Syi‘ah dan takut kemungkinan mereka akan dibunuh. Secara ringkasnya, mazhab Syi‘ah merupakan sebuah mazhab yang tidak berasas dan para pengikutnya juga hanya terdiri daripada kumpulan minoriti sahaja. Yuhanna: Adakah kamu menyisihkan mereka dengan mengatakan aliran mereka salah kerana bilangan mereka yang sedikit atau apakah ada alasan yang lain-lain lagi? Tidakkah anda tahu bahawa al-Qur’an memuji-muji golongan minoriti? Di dalam ayat-ayat al-Qur’an banyak yang menjelaskannya, antaranya Allah telah berfirman yang bermaksud: “Orang-orang yang beriman dan menger¬jakan amal yang saleh, dan amat sedikitlah mereka ini.” (Surah 38: 24) “Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit.” (Surah 11: 40) “Dan sedikit saja daripada hamba-hmba-Ku yang bersyu¬kur.” (Surah 34: 13) “Dan mereka tidak beriman kecuali sedikit sahaja.” (Surah 4: 49) “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah golongan yang banyak dengan izin Allah.” (Surah 2: 249) Di satu pihak lagi, al-Qur’an telah mengutuk kumpulan majoriti di dalam beberapa ayat, sebagai contohnya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu daripada jalan Allah.” (Surah 6:116) “Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerana mereka tidak beriman.” (Surah 36:7) Wahyu Allah ini jelas menunjukkan bahawa pegangan agama itu tidak boleh dikatakan tidak sah atau salah hanya kerana bilangan para pengikutnya sedikit ataupun sebaliknya, dikatakan benar dengan melihat kepada bilangan majoritinya saja. Justeru itu, saya benar-benar mengharapkan agar anda dapat memperkenalkan saya kepada tokoh ulama Syi‘ah supaya saya dapat berbincang dengannya mengenai mazhab tersebut. Ulama Sunni: Jelasnya, tidak ada seorang pun ulama Syi‘ah yang berani menyertai kami dan sekiranya dia berbuat begitu, dia tentu akan dibunuh. Yuhanna: Adakah golongan Syi‘ah ini tidak percaya kepada keesaan Allah? Ulama Sunni: Memang benar, mereka percaya malahan mereka melebih-lebihkan pula sifat-sifat Allah. Yuhanna: Adakah para pengikut Syi‘ah tidak percaya kepada Nabi yang terakhir (Nabi Muhammad (s.a.w)) dan adakah mereka tidak yakin akan kebenaran al-Qur’an? Ulama Sunni: Memang benar mereka percaya kepada kebenaran al-Qur’an, dan bahkan lebih dari itu mereka percaya bahawa Nabi Muhammad (s.a.w), sama ada sebelum mahupun sesudah menjadi rasul adalah ma’sum dan tidak pernah melakukan sebarang kesalahan dan dosa yang kecil ataupun yang besar. Yuhanna: Apakah golongan Syi‘ah tidak percaya akan Hari Akhirat? Ulama Sunni: Tidak, mereka sememangnya beriman dengan semua perkara tersebut. Yuhanna: Adakah golongan Syi‘ah tidak percaya dengan soal-jawab dalam kubur, titian Sirat al-Mustaqim di syurga atau Mizan ( timbangan amalan seseorang di Hari Pengadilan)? Ulama Sunni: Sudah pasti mereka beriman dengan hal-hal tadi. Yuhanna: Apakah para pengikut Syi‘ah tidak mahu menyembah Allah atau adakah mereka menolak untuk melakukan amalan yang diwajibkan Islam seperti kebersihan, sembahyang, puasa, menunai-kan haji dan berjihad di jalan Allah? Ulama Sunni: Tidak sama sekali, bahkan mereka sememangnya menyakini semua itu, lebih daripada yang lain.” Yuhanna: Benarkah Syi‘ah membenarkan minum arak, berzina, makan haram, merampas hak orang lain dan menggunakannya bagi diri mereka? Ulama Sunni: Demi Allah! Semua itu tidak benar sama sekali. Mereka tidak pernah menghalalkan makan benda yang haram. Berband¬ing dengan aliran agama yang lain mereka bahkan cuba mengelakkan diri daripada melakukan perkara-perkara yang boleh membawa kepada dosa dan maksiat. Yuhanna: Kalaulah anda sendiri menerima hakikat bahawa golongan Syi‘ah beriman dengan La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah (Kalimah Syahadat), sembahyang, puasa, haji, zakat dan lain-lain seperti yang diperintahkan oleh Allah, lantas kenapakah mereka patut dihukum bunuh? Saya merasa cukup hairan dengan sikap orang Islam seperti kamu yang sanggup membuat kenya¬taan yang tidak benar mengenai mereka. APAKAH MANUSIA ITU MELAKUKAN PERBUATAN DENGAN TERPAKSA Apabila perbincangan tadi sampai ke peringkat ini, Yuhanna cuba menutup ruang bagi para Ulama Sunni dengan menegaskan kepada mereka bahawa merekalah sebenarnya yang berada di jalan yang salah. Ulama-ulama tersebut cuba mengalihkan tajuk perbin¬cangan dengan mengatakan: Kami menentang mereka kerana mereka menentang sebahagian daripada kepercayaan kami. Yuhanna: Cuba ceritakan di manakah letaknya perbezaan keper-cayaan kamu, sekurang-kurangnya dapat juga saya mengetahuinya. Ulama Sunni: Golongan Syi‘ah percaya bahawa manusia bebas mengikut atau menentang perintah Allah (iaitu kuasa untuk memilih yang baik dan buruk terletak di tangan mereka, sedang Allah menyuruh kita mentaati dan menyembah-Nya, dan menegah kita daripada berbuat zalim, dosa dan kufur kepada-Nya. Kepercayaan ini adalah tidak benar. Mereka juga percaya Tuhan mempunyai musuh-musuh-Nya. Yuhanna: Ini jelas menunjukkan mazhab anda menerima hakikat bahawa apa sahaja perbuatan salah yang dilakukan adalah sejajar dengan kehendak Allah. Ini bermakna, segala perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang kafir selaras dengan kemahuan Allah dan dia sendiri tidak berdaya menurut kehendaknya. Kalaulah demikian, kenapakah Tuhan berulangkali menegaskan: “Berimanlah kepada-Ku dan takutilah kemurkaan-Ku.” Ini bererti bahawa Tuhan mahukan syaitan melakukan kejahatan, peminum arak terus meminum arak sedangkan mereka sendiri tidak berdaya mengawal perbuatan mereka. Jika benar demikian, kenapakah Allah mengingatkan mereka tentang kemurkaan-Nya. Kalaulah manusia tidak berkuasa terhadap setiap perbuatan yang mereka lakukan, justeru itu kenapakah mereka harus menerima kemurkaan dan azab daripada Allah. Sebenar¬nya, keadilan Allah bukanlah demikian sehingga menyebabkan seseorang yang langsung tidak berdaya akan menderita kerana tindakan yang telah dilakukannya. Allah sendiri telah berulangkali member¬ikan amaran agar menjauhkan diri daripada terlibat dalam perkara-perkara maksiat. Banyak contoh yang dapat dipetik daripada al-Qur’an, di antaranya: “Kenapakah mereka melakukan perkara-perkara yang mungkar.” (Surah 2: 20) “Kenapakah kamu melambat-lambatkan kebenaran di atas kepalsuan.” (Surah 3: 71) “Kenapakah kamu menghalang manusia daripada menuju ke jalan yang lurus.” (Surah 3: 99) Begitu juga, terdapat banyak ayat al-Qur’an mengingatkan sekalian manusia supaya menghindarkan diri daripada dosa dan noda. Ayat-ayat tadi jelas membuktikan bahawa Allah (s.w.t) tidak mahu para hamba-Nya terjerumus ke lembah kesesatan. Saya, Yuhanna merasa sungguh hairan dengan kepercayaan yang mengatakan bahawa Allah tidak mengkehendaki orang-orang kafir beriman kepada-Nya, atau dalam keadaan lain, Allah mahukan semua orang kafir memeluk Islam dan beriman kepada-Nya. Apakah Allah mengkehendaki sebahagian daripada para hamba-Nya menjadi penyem¬bah berhala? Saya sendiri masih baru memeluk Islam tetapi menyak¬ini bahawa kepercayaan yang anda anuti itu jelas bertentangan dengan ajaran-ajaran al-Qur’an. Anda semua percaya bahawa Allah mengkehendaki semua musuh-Nya menghalang-Nya. Anda mengatakan para pengikut Syi‘ah yang mempunyai kepercayaan yang bersalahan denganmu patut dihukum bunuh. Nampaknya anda cuba menunjukkan kezaliman anda dengan bertindak sebegitu rupa. Walau bagaimanapun, saya tetap mempun¬yai keyakinan hanya Syi‘ah lah sahaja golongan yang berada di pihak yang benar. Keempat-empat mazhab Sunni tadi cuba menyulitkan keadaan dengan mengatakan: Wahai Yuhanna! Kami tidak mengatakan Syi‘ah berada di pihak yang salah tetapi kami menentang mereka kerana kepercayaan-kepercayaan dalam ajaran mereka yang mengatakan bahawa umat Islam akan berpecah kepada tujuh puluh tiga (73) firqah (puak), tujuh puluh dua (72) daripadanya akan ke neraka manakala satu lagi (dari kalangan Syi‘ah) akan masuk ke syurga. Oleh kerana mereka berpendirian demikianlah menyebabkan mereka layak untuk dibunuh. Yuhanna: Namun begitu, apakah anda percaya bahawa mazhab andalah yang paling diberkati Allah? Ulama Sunni: Kami sendiri tidaklah dapat memastikan apakah mazhab kami yang benar daripada kesemua tujuh puluh tiga (73) firqah tersebut. Yuhanna: Dengan nama Allah, cuba beritahukan kepada saya atas dasar apakah Syi‘ah menetapkan mereka di pihak yang benar? Ulama Sunni: Golongan Syi‘ah berkata demikian kerana mereka berpandukan kepada sebuah hadith Nabi (s.a.w) yang bersabda: “Ahl al-Baytku ibarat bahtera Nabi Nuh (a.s), barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa menyingkirkan diri daripadanya akan tenggelam dan sesat.” Sehubungan dengan ini juga, mereka percaya bahawa Imam ‘Ali (a.s) bersama-sama kebenaran dan kebenaran itu bersama-sama dengan Imam ‘Ali (a.s). Kedua-dua buah hadith tersebut memang terkenal di kalangan semua mazhab Islam. Namun demikian, sebaik sahaja Rasulullah (s.a.w) wafat, umat Islam mulai menentang Ahli al-Bayt (kaum kerabat) Rasulullah (s.a.w) dan mengisytiharkan Abu Bakr sebagai pengganti (khalifah). Golongan Syi‘ah enggan member¬ikan taat setia (bai‘ah) kepada Abu Bakr, sebaliknya terus bersa¬ma-sama dengan Imam ‘Ali (a.s) dan Ahl al-Bayt Rasulullah (s.a.w). Lantaran itu, Syi‘ah menjelaskan bahawa merekalah yang paling benar dari kalangan tujuh puluh tiga (73) kumpulan (mil¬lah) tersebut. Yuhanna: Sekiranya golongan Syi‘ah dapat memberikan hujah-hujah untuk menjelaskan dua keraguanku, tentunya kebenaran mereka dapat diketahui. 1) Benarkah Rasulullah (s.a.w) dan Ahl al-Bayt baginda menentang Abu Bakr, ‘Umar dan para pengikut mereka. 2) Benarkah Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Ahl al-Baytku dan para Imam yang suci ialah para pemimpin yang tulus dan benar selepasku.” Di samping hujah-hujah daripada bahan-bahan Syi‘ah, saya akan merasa yakin seandainya mendapat bukti-bukti dari kalangan kitab Ahl al-Sunnah sendiri. Ulama Sunni: Ya, perkara yang anda jelaskan tadi memang benar, adil dan patut dihormati. Abu Bakr, ‘Umar, ‘Uthman memang bertelingkah dengan Ahl al-Bayt Rasulullah (s.a.w). (Di sini, Yuhanna merasa sungguh kecewa sambil mengemukakan soalan-soalan seterusnya dan berharap akan mengetahui segala kebenaran dan kepastian.) Yuhanna: Wahai ulama mazhab Sunni, saya bermohon dengan nama Allah yang telah berfirman dalam Surah al-Baqarah (2): 159: “Sesungguh¬nya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat melaknati.” Cuba jelaskan apakah terdapat alasan yang kukuh dan hujah yang kuat, sama ada dalam al-Qur’an mahupun hadith bahawa sebaik sahaja Rasulullah (s.a.w) wafat, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Uthman telah memusnahkan jalinan hubungan mereka dengan Ahl al-Bayt, ‘Ali, Fatimah dan `Abbas. Ulama Sunni: Ya, Sahih al-Bukhari, kitab yang paling sahih menyebutkannya dalam dua bentuk: 1) ‘A’isyah berkata: Ayahnya, Abu Bakr bertelingkah dengan ‘Ali selama hampir enam (6) bulan sewaktu isterinya, Fatimah (a.s) masih hidup. 2) ‘Umar berkata: ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas mempunyai hubungan yang tegang dengannya. Yuhanna: Kenapakah ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas menentang kekhalifahan Abu Bakr dan ‘Umar? Terdapat sebahagian penjelasan dalam mazhab anda mengatakan bahawa menurut pandangan Syi‘ah, perlantikan Abu Bakr dan ‘Umar yang dilaksanakan oleh umat Islam daripada mazhab Sunni sebagai pengganti Nabi adalah dianggap tidak sah. Ulama Sunni: Kitab-kitab kami ada meriwayatkan pandangan Syi‘ah tersebut yang ternyata membuktikan bahawa Imam ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas telah berselisih faham dengan Abu Bakr dan ‘Umar. Contohnya, `Umar memberitahu ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas, sebaik sahaja Rasulullah (s.a.w) wafat, bahawa Abu Bakr bangun sambil mengata-kan, dia merupakan orang yang paling layak menggantikan Rasulul-lah (s.a.w). Pada ketika inilah, ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas menuntut warisan mereka. ‘Abbas menanyakan bahagiannya daripada hak kepu¬nyaan anak saudaranya (Nabi (s.a.w)), manakala ‘Ali (a.s) pula bagi pihak bapa mertuanya (Nabi (s.a.w)). Abu Bakr menjawab: Nabi telah bersabda: “Kami para nabi tidak meninggalkan warisan. Apa yang kami tinggalkan hanya berupa sadaqah.” Kedua-dua perkara itu tadi telah disebutkan hanya oleh Abu Bakr seorang sahaja. Allah Maha Mengetahui, apakah Abu Bakr berkata benar ataupun sebalik¬nya. Selepas kematian Abu Bakr, ‘Umar menggantikannya sebagai khalifah. Justeru itu, ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas mengatakan dia (Abu Bakr) sebagai pendusta, manakala mereka berdua pula di pihak yang benar. Jadi, bagaimana ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas boleh menuntut warisan daripada hak kepunyaan Rasulullah (s.a.w) itu? Semua kenyataan ini dibuat oleh ‘Umar sewaktu dihadiri oleh para sahabat Nabi dan tokoh terkemuka yang lain seperti Anas bin Malik, ‘Uthman, ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf, Zubayr, Sa‘id dan lain-lain. Tiada seorang pun bangun menyatakan bantahan mereka terhadapnya dan ini jelas membuktikan bahawa Abu Bakr dan ‘Umar benar-benar menentang Imam ‘Ali (a.s) dan ‘Abbas. Ulama Sunni menyebutkan hal ini dalam kitab-kitab mereka. Yuhanna kemudian mencelah sambil berkata: Wahai tuan-tuan yang mulia! Marilah kita lupakan sebarang prasangka dan sikap berpura-pura dan kembali dalam perbincangan ini dengan fikiran yang tenang dan terbuka mencari kebenaran yang hakiki. 1) Kitab-kitab anda seperti Sahih Muslim dan Sahih al-Bukhari ada meriwayatkan bahawa Abu Bakr dan ‘Umar berbeza pendapat dengan Ahl al-Bayt Nabi (s.a.w) dan keadaan ini terus berlanjutan sehingga ke akhirnya. Kenapa boleh terjadi demikian?. 2) Jikalau prinsip-prinsip utama pegangan Syi‘ah itu, mereka mendapatkannya daripada pimpinan dan tunjukajar kaum kerabat Nabi (s.a.w), apalah salahnya mereka berbuat demikian. Sila berikan hujah daripada kitab-kitab anda? SADIQ – NAMA BAGI AHL AL-BAYT MUHAMMAD (S.A.W) Berbagai-bagai hujah dan dalil menyokong fakta yang mewajibkan umat Islam mempelajari dan mengambil pimpinan daripada Rasu¬lullah (s.a.w) dan Ahl al-Bayt (a.s) kerana mereka memang selayaknya mendapat penghormatan dan kemuliaan. Ini dapat dilihat dalam kitab-kitab karangan Syi‘ah dan Ahl al-Sunnah. Yuhanna mengaitkannya sebagai bahan perbincangan ketika meneruskan soal¬ jawab dengan para Ulama Sunni. Yuhanna: Wahai tuan-tuan yang mulia! Berdasarkan kepada kalimah La Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah, saya menuntut anda semua menceritakan hadith-hadith yang berkaitan dengannya kepada saya, daripada kitab-kitab anda yang telah mengangkat martabat dan status suci Ahl al-Bayt Rasulullah (s.a.w). Ulama Sunni: Ya, Zayd bin Arqam telah meriwayatkan sebuah hadith dalam Sahih Muslim dan Sahih al-Bukhari, iaitu Nabi (s.a.w) bersabda: “Para malaikat turun memberitahuku mengenai saat-saat kepergianku yang kian hampir. Oleh sebab itu, aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sangat berharga (al-Thaqalayn) iaitu al-Qur’an yang menjadi sumber ilmu, dan Ahl al-Baytku (keluarga Rasulullah (s.a.w)) yang dimuliakan Allah dan sudah sepatutnya dihormati oleh sekalian umat manusia.” Dalam kitab Jami‘ al-Sahihain, Nabi (s.a.w) berdoa: “Ya Allah, berkatilah ‘Ali (a.s) dengan sifat dermawan dan jadikanlah kebenaran sentiasa berada di pihaknya.” Sahib al-Kasysyaf (al-Zamakhsyari) mencatatkan sebuah hadith, sabda Nabi (s.a.w): “Fatimah (a.s) adalah kekuatan hatiku, dua cahaya matanya adalah buah hatiku, suaminya adalah sinar kedua-dua mataku.” “Semua Imam menjadi tali penghubung antara Allah dan manusia.” “Barangsiapa mencari petunjuk menerusi mereka akan dirahmati dan diampuni, dan barangsiapa menyingkirkan diri daripada mereka akan musnah.” Malahan Nabi (s.a.w) pernah bersabda: “Ahl al-Baytku ibarat bahtera Nabi Nuh (a.s), barangsiapa menaiki bahtera itu akan selamat.” Yuhanna: Hadith yang bersumber daripada kitab anda itu boleh dipercayai, khususnya di kalangan mazhab anda sendiri. Bagi mereka yang telah mengetahuinya, seandainya mereka cuba menghindarkan diri daripada mengikuti Ahl al-Bayt, nescaya Allah jua yang Maha Mengetahui, apakah Syi‘ah itu di pihak yang benar ataupun sebaliknya. Kedua: Kalau hadith tersebut terdapat dalam kitab-kitab anda sendiri, justeru itu apakah sebabnya anda mengutuk mereka dan mengatakan mereka selayaknya dibunuh. Anda membandingkan Ahl al-Bayt Rasulullah (s.a.w) dengan Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Uthman se-dangkan hadith Muslim jelas mewajibkan (umat Islam) mengikuti Ahl al-Bayt (a.s). Jika Syi‘ah yang berbuat demikian, sudah tentulah mereka berada di pihak yang benar. SUATU PEMERHATIAN TERHADAP ABU BAKR, ‘UMAR DAN ‘UTHMAN Para Ulama Sunni memberikan suatu corak baru dalam perbincangan itu dengan menyatakan bahawa perkataan rafidi (yang digunakan untuk Syi‘ah) diambil daripada perkataan rafd yang bermaksud “menentang perintah dan sabda Nabi (s.a.w).” Justeru itu, mereka layak menerima kutukan kerana melawan dan mengkritik tindakan para sahabat Nabi seperti Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Uthman. Yuhanna: Atas dasar apakah, Syi‘ah menentang ketiga-tiganya? Maulana Rasyid Syafi‘i: Di antara hujah-hujah Syi‘ah ialah mereka mengatakan: “Abu Bakr telah bertindak menyakiti hati Fatimah (a.s) dan barang siapa yang menyakiti Fatimah (a.s) bererti dia menyakiti Nabi (s.a.w). Sekiranya Rasulullah (s.a.w) disakiti nescaya laknat Allah akan ditimpakan ke atas orang yang bertanggungjawab melakukannya.” Yuhanna: Perkara yang sama terdapat dalam hadith Nabi (s.a.w) yang juga didapati dalam kitab-kitab anda. Sahih al-Bukhari, kitab yang paling sahih ada menyebutkan bahawa Nabi (s.a.w) bersabda: “Fatimah (a.s) adalah sebahagian daripada diriku. Barangsiapa menyakiti Fatimah (a.s), dia menyakiti diriku dan barangsiapa bersikap tidak sopan terhadapnya, ia juga bersi¬kap demikian terhadapku.” Hadith-hadith tersebut ada disebutkan dalam kitab anda, dan anda sudah seharusnya beriman dengan hadith-hadith itu. Cuba terangkan secara terperinci, adakah Abu Bakr memang pernah meny-akiti hati Fatimah (a.s) ataupun tidak? Ulama Sunni: Memang benar hadith itu tadi ada tercatat dalam kitab kami. Sahih al-Bukhari juga menyebutkan bahawa sele¬pas kewafatan Nabi (s.a.w), Fatimah (a.s) telah menemui Abu Bakr untuk menuntut hak warisannya, tetapi Abu Bakr menolak tuntutan nya. Atas alasan inilah, Fatimah (a.s) telah berkecil hati terhadapnya dan tidak pernah bercakap dengannya sehinggalah kematian menjemputnya pergi. Fatimah (a.s) telah meninggalkan pesan untuk suaminya Imam ‘Ali (a.s) agar menguburkannya pada waktu malam supaya Abu Bakr dan para sahabatnya tidak dapat menghadiri majlis pengkebumian ataupun mengetahui perkara tersebut. Inilah di antara intisari yang terkandung dalam hadith itu. ‘A’isyah sendiri mengesahkan bahawa selepas Nabi (s.a.w) wafat, Fatimah (a.s) telah datang berjumpa dengan Abu Bakr dan menuntut kebun Fadak (yang Nabi (s.a.w) perolehi semasa Perang Khaybar) dan hanya Fatimah (a.s) sahajalah satu-satunya pewaris kebun tersebut. Abu Bakr menafikan haknya sambil mengemukakan sebuah hadith yang menerangkan bahawa “para nabi tidak mening-galkan sebarang warisan. Apa sahaja yang menjadi milik nabi hanyalah berupa sadaqah untuk diagihkan kepada seluruh umat Islam, termasuklah juga keluarga nabi yang berhak menerima hasil¬nya.” Sepanjang hayat Rasulullah (s.a.w), baginda menggunakan harta itu bagi faedah umum, justeru itu Abu Bakr ingin melaksanakan hal yang serupa. Dengan bertindak demikian, dia telah menafikan semua hak Fatimah (a.s). Kejadian ini digambarkan dengan jelas dalam kitab Sahih al-Bukhari daripada riwayat ‘A’isyah. (Kebun Fadak itu telah diubahkan kepada nama Fatimah (a.s) pada masa Rasulullah (s.a.w) masih lagi hidup, tetapi selepas baginda wafat, Abu Bakr telah meram¬pasnya dari Fatimah (a.s).) Yuhanna: Hadith-hadith tersebut ternyata membuktikan bahawa Abu Bakr memang benar-benar telah menyakiti hati Fatimah (a.s) dan bertindak secara tidak adil terhadapnya. Apabila Fatimah (a.s) disakiti, seolah-olah Nabi (s.a.w) sendiri yang disakiti. Allah berfirman dalam Surah al-Ahzab (33): 57: “Barangsiapa menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” Al-Qur’an dan al-Hadith Nabi (s.a.w) telah menegaskan demi¬kian. Jadi, sesiapa sahaja biarpun mereka itu terdiri daripada kalangan sahabat Nabi sekalipun, mereka juga layak dilaknati sekiranya menyakiti atau bertindak tidak wajar terhadap Rasulul¬lah (s.a.w) dan anak perempuan baginda, Fatimah (a.s). Sampai ke peringkat ini, para Ulama Sunni kebingungan dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mereka kemudiannya cuba mencari helah bagi mengatasi persoalan ini dengan mengalihkan tajuk perbincangan kepada persoalan lain iaitu sama ada kekhalifahan Abu Bakr itu adalah daripada anugerah Allah ataupun ijma‘. Yuhanna: Kenapa anda semua membisu. Sila kemukakan jawapan kepada persoalan ini? Ulama Sunni: Para ulama terdahulu daripada kami telah pun memberikan jawapannya. Mereka mengatakan bahawa khalifah mereka adalah seorang yang adil kerana mereka diisytiharkan menerusi pemilihan orang ramai (ijma‘) dan telah diakui kesahihannya. Jadi, bagi sesiapa yang tidak mahu menerima hakikat ini selayaknya dibunuh Yuhanna: Maksud anda, titik perbezaan persoalan ini adalah oleh kerana pemilihan khilafah ini dibuat secara ijma, ia hendak¬lah dianggap adil dan sah, dan sekiranya Ahl al-Bayt Nabi (s.a.w) menentang keputusan ini, mereka layak dihukum bunuh. Kedua: Anda juga mengatakan bahawa Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Uthman akan ditempatkan di syurga, dan ini perlu kepada bukti. Sebenarnya, perkara ini telah dirakamkan oleh al-Hamidi dalam kitab Jami‘ bain al-Sahihain. Beliau memetiknya daripada ‘Abdul¬lah bin ‘Abbas yang meriwayatkan daripada Nabi (s.a.w) yang telah bersabda: “Apabila umatku dibawa ke hadapanku di Hari Pengadilan nanti, sebahagiannya dimurkai Allah. Lalu, aku bertanyakan sebab-nya, kerana mungkin mereka terdiri daripada para sahabatku juga.” Allah menerusi wahyu kemudiannya memberitahuku: “kamu tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat selepas kewafatanmu yang menjadi faktor penyebab segala kejadian yang buruk. Aku akan menjawab, bahawa sepanjang hayatku aku memang mengetahui gerak-geri mereka tetapi apabila aku mati hanya Engkaulah sahaja Tuhan yang Maha Mengetahuinya. Apa sahaja yang Engkau lakukan, itulah kehendakmu kerana Engkaulah Tuhan yang Maha Adil. Pada ketika itu Allah akan mewahyukan kepadaku iaitu sahabat-sahabat tadilah yang telah melawan segala perintah dan ajaran selepasmu.” Dari bukti ini menunjukkan bahawa mereka bukanlah orang yang layak menerima rahmat Allah dan menduduki syurga-Nya. Sahih al-Bukhari juga meriwayatkan bahawa ‘Umar pernah berkata: “Pemilihan khalifah Abu Bakr dilakukan secara tergesa-gesa (faltah) dan tidak begitu perlu, juga tidak dilakukan menu¬rut pendapat bersama.” “Semoga Allah menyelamatkan umat Islam daripada kejadian ini pada masa yang akan datang. Jika sekiranya didapati sesiapa sahaja mengikuti cara ini, tangkaplah dia dan bunuh.” Yuhanna membuat kesimpulan bahawa pemilihan Abu Bakr bukan-lah dilakukan menurut keputusan Rasulullah (s.a.w) mahupun oleh umat Islam seluruhnya. ADAKAH PERLANTIKAN ABU BAKR BAGI JAWATAN KHALIFAH DILAKUKAN OLEH NABI (S.A.W)? Yuhanna: Adakah Rasulullah (s.a.w) melantik Abu Bakr bagi jawatan khalifah itu hanya untuk beberapa hari sahaja ? Ulama Sunni: Semasa Rasulullah (s.a.w) sedang menderita sakit, baginda telah meminta para sahabatnya yang duduk berdekatan supaya membawakan dakwat dan pena supaya baginda dapat mem-berikan petunjuk dan pimpinan yang berguna untuk membantu mereka selepas kewafatan baginda (s.a.w). Lalu seorang sahabat Nabi berkata: “Oleh kerana Nabi (s.a.w) dalam keadaan nazak (sakit tenat), baginda meracau-racau (hajara).” Yuhanna: Bolehkah anda namakan sahabat yang mengucapkan kata-kata tersebut? Ulama Sunni: Dia ialah ‘Umar yang menyebutkan perkataan tersebut di luar daripada batas kejujuran dan rasa hampirnya kepada Nabi (s.a.w). Yuhanna: Maksudmu, dia (‘Umar) merasa bimbang dan khuatir Nabi (s.a.w) akan menuliskan perlantikan khalifah yang bakal menggantikan baginda. Justeru kerana ragu-ragu yang dia sendiri tidak akan terpilih, lalu dia (‘Umar) menolak permintaan Nabi (s.a.w) (untuk mendapatkan dakwat dan pena). Dengan itu, dia telah mempertahankan dirinya dengan mengatakan bahawa Rasulullah (s.a.w) meracau-racau dan tidak boleh ditaati perintahnya. Wahai para ulama cerdikpandai yang dimuliakan! Aku sedang mencari yang paling benar. Aku bukannya daripada golongan Syi‘ah atau Sunni. Anda mengatakan bahawa Nabi (s.a.w) dalam wasiat baginda tidak melantik sesiapa pun sebagai penggantinya, tetapi hasil pengkajianku daripada kitab Tawrat dan Bible menunjukkan bahawa Allah tidak pernah mengurniakan kenabian (al-Nubuwwah) kepada sesiapa pun juga sehinggalah dia menetapkan siapa bakal penggantinya. Malahan al-Qur’an sendiri telah mengatakan bahawa sudah menjadi kewajipan bagi setiap manusia meninggalkan wasiat apabila sedang sakit tenat dan dengan berbuat demikian dapat meletakkan keluarga anda dalam keadaan yang baik. Di pihak yang lain, kitab-kitab anda al-Bukhari, Muslim dan kitab al-Fara’id telah mencatatkan hadith yang disabdakan oleh Nabi (s.a.w) supaya anda meninggalkan wasiat dan meletakkannya berhampiran ketika sakit. Ini jelas menunjukkan adalah mustahil Nabi (s.a.w) tidak membuat perlantikan pengganti selepasnya sebelum baginda menghem¬buskan nafasnya yang terakhir. Kalau begitu, tentunya ini bertentangan dengan al-Qur’an dan hadith Nabi (s.a.w) sendiri. Mengenai persoalan Nabi (s.a.w) menentang perintahnya sendiri tidak timbul kerana ternyata tidak ada bukti yang dapat membenarkannya, begitulah juga dari segi logik akal. Wahai ulama sekalian! Beritahukanlah kepadaku bagaimanakah Syi‘ah boleh mendakwa bahawa ‘Ali (a.s) sebagai khalifah yang sah selepas Nabi (s.a.w). Para ulama: Mereka mengambil banyak hadith untuk menyokong dakwaan mereka itu. Yuhanna: Aku memohon anda sekalian dengan nama Rasulullah (s.a.w) agar memberitahuku apakah terdapat hadith-hadith tersebut dalam kitab-kitab anda? Mawlana Rasyid Syafi‘i: Ya. Hadith-hadith tersebut memang banyak terdapat dalam kitab-kitab yang menyokong dan menguatkan dakwaan mereka itu. SEBAHAGIAN DALIL-DALIL YANG SAHIH BERHUBUNG KHILAFAH ‘ALI (A.S) Mawlana Rasyid Syafi‘i: Bab-bab berkenaan Khalifah ‘Ali (a.s) ada disebutkan dalam kitab-kitab tersebut: 1) Dalam kitab Ma‘alim al-Tanzil, Nabi (s.a.w) membaca surah al-Syu‘ara’ (26): 214: “Wa Andhir ‘Asyirata-ka al-Aqrabin” (dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang dekat) yang dimak¬sudkan kepada ‘Ali adalah saudaraku dan khalifahku. Nabi (s.a.w) seterusnya meminta orang lain supaya mereka mentaatinya dan tidak menentangnya. ‘Ali (a.s) telah merawikan bahawa Rasulullah (s.a.w) bersab¬da seperti berikut: “Bahawa pada ketika ayat ini diwahyukan kepada Nabi (s.a.w), baginda telah memanggil aku dan memerintah¬kanku supaya membawa semua kaum kerabat ‘Abd al-Muttalib ke suatu ruangan dengan bilangan mereka hampir empat puluh (40) orang. Kemudian, dia menyediakan makanan dan susu dalam sebuah bekas yang besar. Nabi (s.a.w) menyampaikan khutbahnya dengan bersabda: “Wahai kaum kerabat ‘Abd al-Muttalib, aku ditugaskan membawa rahmat dan berita gembira buat anda semua sama ada di dunia ini mahupun di hari akhirat nanti. Allah s.w.t telah memer-intahkanku mengajak dan menyeru anda ke jalan yang benar. Siapa-kah di antara kalian yang mahu menurutiku dan menjadi saudara dan pemimpinku.” Apabila tidak ada seorang jua pun yang mahu menyahut seruan Nabi (s.a.w), ‘Ali (a.s) lantas bangkit dan berkata: “Lab¬baik”” (Aku menyahut seruanmu) Aku bersedia mengikutimu, ya Rasulullah (s.a.w). Orang lain yang hadir dalam pertemuan itu mentertawakan mereka dan terus berlalu pergi. Mereka pergi menemui Abu Talib dan memberitahunya bahawa Muhammad (s.a.w) telah memerintahkannya supaya menuruti perintah anaknya sendiri.” 2) Berdasarkan sumber-sumber Sunni, Ahmad bin Hanbal telah menyebutkan dua buah dalil yang sahih. Abi’l-Bara’ bin Azib berkata bahawa sewaktu dia dalam perjalanan bersama-sama dengan Rasulullah (s.a.w) sebaik sahaja mereka sampai di Ghadir Khum, Nabi (s.a.w) telah mendirikan sembahyang zohor. Sesudah selesai, baginda kemudiannya memegang tangan `Ali (a.s) sambil bersabda kepada sekalian sahabat: “Katakan padaku tidakkah aku lebih berkuasa ke atas setiap mu’min lebih daripada diri mereka sen¬diri.” Mereka yang hadir menjawab: “Benar.“ Kata baginda lagi: “Ketahuilah dan ingatlah sesiapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya (pemimpin) maka `Ali (a.s) juga adalah mawlanya. Ya Allah! Cintailah siapa yang memperwalikan dia dan musuhilah sesiapa yang memusuhi dia dan jauhilah sesiapa yang menyingkirkan dia dan dia ialah `Ali bin Abi Talib (a.s), adikku dan wasiku(warisku). Wilayat (taat setia serta kecintaan kepada `Ali (a.s)) ini telah diwajibkan oleh Allah s.w.t yang Maha Agong lagi Maha Berkuasa. Sekalian anda di sini mempunyai tugas menyampaikan perintah ini kepada setiap mereka yang tidak hadir di sini!” Selesai pengisytiharan Rasulullah (s.a.w), `Umar al-Khattab bangun mengucapkan tahniah kepada Imam `Ali (a.s) dengan kata-katanya: “Tahniah wahai anak Abu Talib, engkau menjadi mawla kepada sekalian orang yang beriman, lelaki dan perempuan.” 3) Tha`labi meriwayatkan daripada Haris bin Nu`man. Selepas peristiwa Ghadir Khum, dia pergi berjumpa Rasulullah (s.a.w) dan secara sinis menanyakan: “Engkau telah menceritakan keesaan Allah dan kenabianmu dan kami beriman dengan semua itu. Kemudian, engkau telah memerintahkan kami mendirikan sembahyang lima waktu, kami melakukannya. Selepas itu, engkau menyuruh kami melakukan haji dan kami tetap mentaatinya. Sekarang, engkau melantik pula sepupu bapa saudaramu sebagai mawla dan menyuruh kami membai`ahnya (taat setia) dengan kata-katamu: “‘Ali (a.s) ialah mawla bagi orang yang menjadikan aku mawlanya.” Cuba jelas¬kan kepadaku adakah perintah ini daripada Allah atau daripada diri engkau sendiri ?” Nabi (s.a.w) lalu bersumpah dengan nama Allah bahawa segala-galanya telah diperintahkan oleh Allah s.w.t. Haris, kemudian berlalu pergi sambil berdoa kepada Allah, jika sekiranya kata-kata yang diucapkan oleh Rasulullah (s.a.w) itu benar, biarlah Allah menurunkan bala’ atau laknat ke atasnya. Belum sempat dia menghabiskan kata-katanya, batu-batu jatuh menimpanya dan membunuhnya. 4) Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan bahawa pada suatu hari Salman telah bertanya kepada Nabi (s.a.w) tentang siapa yang bakal menggantikannya. Nabi (s.a.w) menjawab: `Ali (a.s) ialah warisnya yang bakal melunasi segala hutang dan menyempurnakan tugas-tugasnya. 5) Ibn Maghazali Syafi`i telah meriwayatkan dalam kitabnya al-Manaqib bahawa Nabi (s.a.w) pernah bersabda: “Putera-putera `Ali (a.s) ialah putera-puteraku jua.” Yuhanna: Wahai ulama Sunni sekalian! Bila sahaja anda menyatakan kelebihan Imam `Ali (a.s) dan keistimewaannya daripada kitab-kitab anda, aku dapat membuat kesimpulan bahawa Syi`ah memang berada di pihak yang benar. Anda menentang mereka semata-mata hanya kerana kejahilan dan kedangkalan anda mengenai mereka. Kalau memang hadith-hadith tersebut terdapat dalam kitab-kitab anda, jadi mengapakah anda tidak dapat menerima khilafah dan Imamah `Ali (a.s)? Ulama Sunni: Sebaik sahaja Rasulullah (s.a.w) wafat, umat Islam telah bersatu dan bersetuju melantik Abu Bakr sebagai khalifah. Mereka juga memerintahkan semua orang agar mematuhi keputusan tersebut dan sekiranya ada yang menentang, mereka hendaklah dibunuh. Yuhanna: Kalau dalil-dalil mengenai khilafah `Ali (a.s) sudah jelas dicatatkan oleh kitab-kitab anda, justeru itu apa perlunya kepada keputusan ijma` yang lain. Mawlana Rasyid Syafi`i: Kami tidak sekali-kali meragui kesahihan dalil-dalil tadi. Kami mengakui kebenarannya tetapi kami rasa pendapat atau keputusan itu bertentangan dengan apa yang kami yakini. AL-QUR’AN DAN KHILAFAH `ALI (A.S) Yuhanna: Saya ingin tahu sama ada dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang menegaskan kekhalifahan dan keimaman `Ali (a.s).” Mawlana Rasyid Syafi`i: Sesetengah dalil yang menjadi hujah Syi`ah dalam persoalan ini juga terdapat dalam kitab-kitab kami. Di antaranya: 1) “Inna-ma waliyyu-kumullah …” diceritakan dalam kitab kami Sihah al-Sittah, diturunkan kepada `Ali (a.s) apabila beliau mensadaqahkan sebentuk cincinnya kepada seorang pengemis semasa sedang sembahyang. Dalam ayat tersebut, Allah s.w.t telah menya¬takan `Ali (a.s) sebagai waris dan pengganti Rasulullah (s.a.w). Perkara ini telah diterima oleh umat Islam kerana di antara Nabi Muhammad (s.a.w) dan `Ali (a.s) tidaklah ada perbezaannya. 2) Allah berfirman, surah al-Ahzab (33): 6: “Nabi itu hendaklah lebih utama bagi orang-orang mu’min daripada diri mereka sendiri … dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah antara satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) dalam kitab Allah daripada orang-orang mu’min dan orang-orang Muhajirin.” Jadi, berdasarkan ayat di atas tadi, jelas menunjukkan `Ali (a.s) ialah kaum kerabat yang paling dekat dengan Rasulullah (s.a.w) dan orang yang paling berhak mewarisi baginda. Kalau ada yang cuba membantah dengan mengatakan `Abbas, bapa saudara Nabi lebih layak sebagai pengganti, tentunya ia tidak dapat diterima kerana `Abbas berbeza daripada `Ali (a.s) kerana dia tidak pernah bersama-sama dengan Rasulullah (s.a.w) terutama sekali sewaktu hijrah Nabi (s.a.w). 3) Perintah Rasulullah (s.a.w) lebih utama berbanding dengan yang lain (biarpun ia daripada isteri-isteri Nabi, sahabat-sahabat atau sesiapapun jua) dan al-Qur’an sendiri telah menya¬takan: “Sebahagiannya Kami lebihkan daripada sebahagian yang lain.” 4) Biarpun sekiranya dia seorang mu’min tetapi tidak turut bersa¬ma-sama Rasulullah (s.a.w) berhijrah, dia tidak layak menjadi pengganti baginda. Walaupun `Abbas ialah bapa saudara sebelah bapa kepada Nabi (s.a.w), namun `Ali (a.s) lebih patut mewarisi Nabi (s.a.w) kerana beliau ialah sepupu Rasulullah (s.a.w) daripada kedua-dua belah pihak, bapa dan ibu. 5) Dalam surah al-Baqarah (2): 124, Allah berfirman: “Sesungguh¬nya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (dan saya mohon juga) daripada keturunanku. Allah berfirman lagi: Janji-Ku ini tidaklah mengenai orang-orang yang zalim.” 6) Ibn Mas`ud merawikan daripada al-Humairi yang telah meri-wayatkan sabda Nabi (s.a.w): “Allah hanya memberitahu aku dan `Ali sahaja untuk menyeru sekalian umat manusia kepada kebena-ran kerana mereka tidak pernah menyembah berhala-berhala.“ 7) Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Uli’l-Amr dari kalangan kamu.” Rasul-rasul atau para utusan Allah tidak sekali-kali menyeru manusia kepada sesuatu yang lain selain daripada ketaatan kepada Allah s.w.t semata-mata. Allah s.w.t jua telah memerintahkan umat manusia supaya taat dan patuh kepada segala perintah-Nya. Tentulah wajib bagi kita untuk mentaati para utusan Allah itu kerana hanya mereka sahajalah yang dapat menjadi panduan disebabkan mereka terdiri daripada orang-orang yang bersih dan suci. Perkara ini sudah menjadi kepastian kerana selepas kewafatan Rasulullah (s.a.w), tidak ada seorang pun yang layak menggantikan baginda kecuali `Ali (a.s) dan hanya beliau sahaja seorang yang ma`sum (terpeli¬hara daripada dosa). APAKAH HUJAH YANG MEMBUKTIKAN KEMAKSUMAN `ALI (A.S) Yuhanna: Bagaimanakah cara untuk membuktikan `Ali (a.s) seorang yang ma`sum? Mawlana Rasyid Syafi`i: Syi`ah mempunyai banyak hujah untuk menyokong alas an tersebut. Surah al-Ahzab (33): 33 menyebut¬kan: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahl al-Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Semua mazhab sama ada Syi`ah ataupun Sunni mengatakan ayat ini hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad, `Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn.”`Abdullah bin Marz¬bani telah menceritakan bahawa pada suatu ketika beliau berada bersama-sama Rasulullah (s.a.w) sebelum mendirikan sembahyang subuh, beliau melihat semasa Rasulullah (s.a.w) keluar daripada rumah baginda, beliau akan menyentuh rumah `Ali (a.s) dan berkata: “Assalamu `alai-kum wa rahmatu-llahi wabarakatuh.” `Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn (a.s) membalas “Wa `alai-kum as-salam ya Nabiyyu-llah wa rahmatu-llahi wa barakatuh.” Sekali lagi Rasulullah (s.a.w) menyebutkan “As-salat yarhamkumuLlah”, lalu kemudian membaca ayat: “Innama yuridu-llah ” dan terus menuju ke masjid. Di atas hujah inilah, iaitu: “Allah telah membersihkan mereka daripada segala kekotoran (bermaksud Nabi (s.a.w) dan Ahl al-Bayt (a.s)), mereka dianggap ma`sumun kerana tidak pernah melakukan sebarang dosa dan maksiat sama ada kecil mahupun besar. Ahmad ibn Hanbal dalam kitabnya Sihah al-Sittah telah menceritakan: Ummi Salma berkata: Semasa Rasulullah (s.a.w) berada bersama-samaku, lalu Fatimah pun masuk. Rasulullah (s.a.w) memintanya memanggil suami dan anak-anaknya dan mereka pun segera datang. Rasulullah(s.a.w) pada waktu itu sedang berselimut kain kisa’. Fatimah, `Ali dan dua orang anak mereka turut sama berselimut di dalamnya. Sejurus kemudian, Allah s.w.t mewahyukan ayat al-Tathir (kesucian) kepada Nabi (s.a.w) yang dibawa oleh malaikat Jibril (a.s). Rasulullah (s.a.w) menadahkan tangan berdoa kepada Allah semoga mereka yang berselimut dalam kain kisa’ merupakan kaum kerabat baginda yang paling diberkati. “Ya Allah! Jauhkanlah segala dosa dan kekotoran daripada mereka dan jadikanlah mereka orang-orang yang ma`sumun.” Ummi Salma memohon keizinan Rasulullah (s.a.w) untuk menyer-tainya dan Nabi menjawab: “Tetaplah kamu di situ dan engkau jua daripada kalangan orang yang dirahmati Allah juga.” Ummi Salma mengikut arahan Rasulullah (s.a.w) dan merasa gembira sepanjang hayatnya. Peristiwa ini juga diriwayatkan dalam kitab Sahih Muslim dan Sahih Abu Daud. Yuhanna: Jika anda sendiri sudah mengetahui hadith tadi secara terperinci dan diakui sahih, kenapakah anda menolak per¬lantikan `Ali (a.s) sebagai pengganti Rasulullah (s.a.w.a) bahkan sebaliknya memberikan keutamaan kepada khilafah Abu Bakr yang jelas tidak mempunyai hujah dan dalil yang sahih. KEUTAMAAN DAN KEISTIMEWAAN `ALI (A.S) Maulana Rasyid Syafi`i: Wahai para Ulama Sunni, mengapakah anda membuat dakwaan tersebut sedangkan anda tidak dapat mengemukakan hujah untuk membuktikannya. Di pihak `Ali (a.s), jelas terdapat bukti-bukti yang memperakui kelebihan `Ali (a.s). Para ulama: `Ali (a.s) tidaklah lebih utama daripada orang lain bahkan sama sahaja kedudukannya. Yuhanna: Anda bercakap tidak berasas langsung kerana setiap orang dinilaikan menerusi keilmuan dan perbuatannya. Tidak ada perbuatan yang lebih baik daripada Jihad fi sabili-Llah. Ini kerana Allah telah menyatakan dalam al-Qur’an bahawa orang-orang yang berjihad dan berjuang di dalam perang lebih baik daripada orang-orang yang tinggal diam di rumah. Mari kita lihat, siapakah di kalangan para sahabat Nabi yang berbuat demikian, memiliki banyak ilmu dan merupakan pejuang Islam yang terkemuka. KELEBIHAN ILMU `ALI (A.S) Mari kita bincangkan tentang keilmuan `Ali (a.s) kerana para ulama mazhab Sunni juga mengakuinya. Dalam konteks ini, Rasu-lullah (s.a.w.a) bersabda: “ Ana Madinat al-`ilmi wa `Aliyyun babu-ha ” yang bermaksud ” Akulah kota ilmu dan `Ali ialah pintunya.” Nabi juga bersabda: “`Ali (a.s) melebihi segala yang lain.” `Ali (a.s) mengatakan seandainya aku seorang khalifah, nescaya aku akan menjawabkan segala persoalan dan masalah yang dihadapi oleh para pengikut al-Qur’an dengan berpandukan al-Qur’an sendiri, dan begitulah juga dengan para pengikut kitab al-Tawrat, Bible dan Zabur dari¬pada kitab-kitab mereka sendiri juga. `Ali (a.s) berkata: “Tanyalah kepadaku apa sahaja yang dicip-takan Allah di syurga mahupun di bumi ini kerana keilmuan tentang semua itu telah diberitahukan kepadaku.” Abu Bakr sendiri semasa menjadi khalifah berucap kepada orang ramai, katanya: Janganlah bertanya kepadaku semasa `Ali (a.s) masih ada. Tanyakanlah kepadanya kerana beliau sahaja yang boleh menyelesaikannya. Aku ini, sama sahaja dengan anda semua. Sekiranya aku berbuat salah, tolonglah betulkan dan sekiranya aku benar, ikutilah aku. Kini, tugas untuk membetul dan memimpin umat terletak di tangan Imam. Kalaulah dia sendiri melakukan kesalahan, jadi bagaimanakah para pengikutnya dapat membetulkannya. Abu Bakr dalam masalah-masalah kecil sekali pun merujuk kepada `Ali (a.s). Kitab Syahriyar (mengandungi hadith-hadith sahih) yang menunjukkan keilmuan yang ada kepada `Ali (a.s). Di sini Nabi (s.a.w.a) dikatakan bersabda: ” Ilmu pengetahuan terbahagi kepada 10 bahagian, sembilan darinya ada pada `Ali (a.s) dan bahagian yang ke-10 itu dibahagi-bahagikan kepada umat manusia di bumi ini.” Atha` menceritakan bahawa timbul persoalan menanyakan apakah ada dari kalangan para sahabat Nabi yang lebih bijak daripada `Ali (a.s). Baginda berkata: Dengan nama Allah, saya bersumpah tidak ada seorang pun dapat mengatasi `Ali (a.s) dari segi keil¬muan dan kebijaksanaannya, bahkan untuk menyamainya pun tidakakan ada. Apabila surah Haq ayat 12 diturunkan, Nabi (s.a.w.a) memohon kepada Allah: “`Ali, saudaraku semoga berkekalan memiliki keil¬muan yang tinggi.” Al-Bukhari dalam Sahihnya meriwayatkan Nabi (s.a.w.a) bersabda kepada Fatimah (a.s): ” Wahai anak perempuanku, suamimu adalah makhluk Allah yang paling mulia dari segala-galanya.” Ini menunjukkan sesiapa sahaja, walau sehebat mana sekalipun masih perlu merujuk kepada `Ali (a.s) untuk menambahkan ilmu dan kebijaksanaannya. Contohnya, `Abdullah ibn `Abbas yang dikenali sebagai tokoh ulama’ yang terbilang pada zaman itu merupakan anak murid `Ali (a.s). Asim, qari yang handal pada masa itu juga tidak berupaya menandingi keilmuan `Ali (a.s). Abu Hanifah yang dianggap terulung di antara tokoh-tokoh Sunni adalah murid kepada Imam Ja`far al-Sadiq (a.s) yang memperolehi segala ilmu pengetahuan daripada ajaran datuknya, `Ali (a.s). Malahan boleh dikatakan semua tokoh-tokoh Sunni yang empat iaitu Abu Hanifah, Maliki, Syafi`i dan Hanbali mengakui sumber ilmu yang mereka perolehi itu bersumberkan daripada `Ali (a.s). Sahib al-Kasysyaf menceritakan, `Umar beberapa kali mengakui ” jikalau tidak ada `Ali (a.s), sudah tentu binasalah `Umar.” Dengan hujah-hujah inilah, kebanyakan mazhab Islam menerima `Ali (a.s) sebagai makhluk Allah yang paling utama dan suci dalam kitab-kitab mereka. KEBERANIAN `ALI (A.S) Untuk mencari suatu contoh lain mengenai kelebihan `Ali dan keberaniannya adalah agak mustahil. Di medan perang, kilasan pedang Dhu al-Faqar (pedang `Ali (a.s) daripada pemberian Nabi) tidak ada tandingannya. Rasulullah (s.a.w.a) ketika menyebutkan kepahlawanan `Ali (a.s) menyatakan Darbat `Ali yaum al-Khandak yang bermaksud, sekali libasan pedang Dhu al-Faqar `Ali (a.s) yang membunuh Amr ibn Abd Wudd adalah lebih utama daripada segala ibadat yang ada di syurga dan di bumi. Apabila golongan kafir bertembung dengan `Ali (a.s) dalam medan perang, mereka akan mengatakan bahawa Islam berkembang dan bertambah kuat dengan adanya `Ali (a.s). Penglibatan `Ali (a.s) di medan perang dengan begitu hebat, mendorong wujudnya perkataan berikut: ” La fata illa `Ali, la saifa illa Dhu al-Faqar” yang bermaksud (Tiada pemuda yang serupa `Ali dan tidak ada pedang seumpama Dhu al-Faqar). Peperangan Uhud menyaksikan ramai sahabat Nabi melarikan diri dari medan perang kecuali `Ali (a.s). Nabi (s.a.w.a) berkata kepada `Uthman: ” Engkau termasuk di antara mereka yang melarikan diri. Perasaan sayang kepada nyawamu sungguh besar sehinggakan kamu sanggup meninggalkanku. Hanya `Ali (a.s) sahaja yang tetap teguh bersamaku. Beliau bukan sahaja berjuang melawan golongan kafir itu malahan begitu mengambil berat tentang hal diriku.” Melihatkan kejadian ini, para malaikat berkata di syurga: “Lihatlah bagaimana seorang adik berusaha mempertahankan abangnya di medan pertempuran biarpun bahaya berada hampir dengannya.” Nabi (s.a.w.a) berkata: ” Sudah sepatutnya kerana dia adalah daripada diriku dan aku pula daripada dirinya.” Abu Bakr, `Umar dan `Uthman pada masa itu membiarkan Nabi (s.a.w.a) keseorangan dan lari mendapatkan perlindungan di Madinah. Allah (s.w.t) berfirman sempena peristiwa ini: “Ingatlah suatu masa apabila ketakutan menerpa dan engkau tidak dapat berbuat apa-apa, tidak dapat melihat, menarik nafas dan engkau berlari ke arah bukit-bukau seperti kambing-kambing gunung, dan engkau meragui Penciptamu, begitulah sifat-sifat orang yang menderhakai Tuhannya apabila mereka diuji.” Di medan pertempuran Khandak, Amr ibn Abdawud mencabar orang-orang Islam, tetapi tidak ada seorangpun yang maju ke hadapan menyahut cabarannya kecuali `Ali (a.s) yang berjaya membunuhnya hanya dengan sekali libasan pedang sahaja. Kelebihan dan kehebatan `Ali (a.s) berbanding dengan para sahabat yang lain memang jelas terbukti. SIFAT DERMAWAN, SIMPATI DAN KEPERKASAAN `ALI (A.S) Sifat-sifat pemurah, baik hati dan suka mengambil berat hal orang lain begitu menjiwai hidup `Ali (a.s). Tidak ada seorang pun yang memiliki ciri-ciri tersebut selepas Rasulullah (s.a.w.a) selain dirinya. Contoh, beliau berpuasa bersama-sama keluarganya selama 3 hari berturut-turut dan pada masa berbuka, beliau mensa¬daqahkan semua makanannya kepada golongan miskin. Itulah `Ali (a.s). Surah Hal Ata diturunkan Allah mengambil sempena peristiwa tersebut. Sa`adi Syirazi, pujangga Parsi yang terkenal mengungkapkan beberapa baris ayat, antara lain dia berkata: “Apakah ada lagi orang yang berani memuji `Ali (a.s) sedangkan Allah sendiri telah pun mewahyukan surah Hal Ata untuknya.” Perkara tersebut terdapat dalam kitab-kitab kedua-dua mazhab, Syi`ah dan Sunni. Allah (s.w.t) berfirman kepada malaikat Jibril dan Mikail: “Aku jadikan kamu berdua sebagai saudara. Beritahukan kepadaku, siapakah di antara kamu berdua yang sanggup mengorbankan jiwanya untuk yang lain.” Kedua-duanya mendiamkan diri, lalu Allah menya¬takan: ” Lihatlah betapa beraninya `Ali (a.s) tidur di tempat peraduan Rasulullah (s.a.w.a) di atas bumi itu dan dengan berbuat demikian, dia telah menyelamatkan saudaranya daripada musuh-musuhnya. Turunlah ke bumi dan selamatkanlah nyawa `Ali (a.s) kerana musuh-musuh Allah sedang mengepungnya dan hindarkanlah dari terjadi sesuatu ke atas dirinya.” Ketika malaikat turun, mereka mendapati `Ali (a.s) sedang nyenyak tidur di atas katil Rasulullah (s.a.w.a) dengan memakai pakaian baginda (s.a.w.a). Mereka memuji-muji `Ali (a.s) sambil berkata: “Allah sungguh bangga di atas pengorbananmu, dan kerana perbuatanmu yang mulia itu, kami terselamat dari ujian Allah. Ini adalah selingkar kisah yang berlaku pada malam-malam Hijrah. SIFAT RENDAH DIRI `ALI (A.S) Sifat rendah diri `Ali (a.s) dapat dilihat menerusi makanan yang dimakannya, hanya terdiri dari roti dan barli, manakala pakaiannya pula diperbuat dari daun-daun atau pelepah-pelepah tamar. Beliau tidak suka kepada kehidupan duniawi dan baginya dunia ini tidak mempunyai apa-apa erti. Al-Khwarizmi dalam kitabnya, Manaqib menceritakan Nabi (s.a.w.a) bersabda: ” Wahai `Ali (a.s), Allah telah menghiasi dirimu dengan sifat-sifat yang tidak ada seorang jua pun dapat memilikinya.” IBADAT `ALI (A.S) KEPADA ALLAH (S.W.T) Memang sudah diketahui umum, `Ali (a.s) mendirikan sembahyang (salat) seribu rakaat sehari semalam. Ini boleh dilihat dalam kitab-kitab sejarah (Tarikh). Walaupun keilmuan `Ali (a.s) diakui tidak ada tandingannya, namun orang-orang yang mengingin¬kan jawatan khalifah tidak mendiamkan diri dalam usaha mereka untuk merampas dan menafikan hak Khilafah `Ali (a.s) dengan cara memperkecil-kecilkan kelebihan yang ada padanya. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahawa: “Barangsiapa berada di jalan yang lurus (sirat mustaqim) atau memimpin umat manusia ke jalan yang lurus, dia mestilah diikuti,” dan “Barangsiapa tidak diberikan petunjuk Allah, dia tidak boleh menjadi pemimpin kepada orang lain.” Para Ulama Sunni diam membisu apabila mendengarkan semua cerita yang diambil daripada kitab-kitab mereka itu, dan tidak berupaya lagi mencari jalan keluar untuk menyelamatkan mereka. Lantaran kerana keengganan menerima hakikat ini, mereka berdalih dengan mengatakan: “Pelantikan Khilafah Abu Bakr dilakukan oleh orang-orang yang lebih unggul daripada kami, justeru itu kami menuruti apa yang telah mereka putuskan.” Yuhanna: Allahu-Akbar!!! Kamu tidak ubah seperti penyembah berhala, apabila merekatidak dapat memberikan hujah-hujah yang menyakinkan, mereka berdalih dengan mengatakan mereka hanya menuruti jejak langkah nenek moyang mereka yang dirasakan benar. Sekarang ini, konsep bertaklid tersebut memang jelas salah dan dengan mengikutnya secara membuta tuli, tentulah akan menam-bahkan penyimpangan dan penyelewengan dari hakikat yang sebenar-nya. KRITIKAN TERHADAP PARA SAHABAT Para ulama Sunni di peringkat terakhir ini mengemukakan satu persoalan lagi, “Jika sekiranya golongan Syi`ah dapat meninggalkan perkara ini, kami akan berhenti menentang mereka.” Yuhanna: Apakah persoalan itu? Para ulama: Mereka hendaklah berhenti mengkritik dan mengutuk Abu Bakr, `Umar, `Uthman dan `A’isyah kerana Syi`ah percaya bahawa barang siapa mempunyai hubungan dengan mereka tidak akan dapat memasuki syurga. Ini tentunya tidak dapat diterima. Yuhanna: Apakah Syi`ah mempunyai dalil-dalil untuk membuktikannya? Maulana Rasyid Syafi`i: Syi`ah berhujah dengan peristiwa semasa Abu Bakr menjadi khalifah, dia telah menyingkirkan dan menafikan hak Fatimah (a.s) [satu-satunya buah hati Rasulullah (s.a.w.a)] ke atas tanah Fadak, dan melukakan hatinya dengan cara tersebut. Lantaran itulah, Fatimah (a.s) tidak pernah bertegur sapa lagi dengan Abu Bakr semasa hayatnya masih di kandung badan. Yuhanna: Benarkah apa yang dikatakannya itu? Para ulama: Kami tidak menafikannya kerana kejadian ini juga disebutkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Yuhanna: Hadith Rasulullah (s.a.w.a) menyatakan dalam kitab kamu sendiri yang bermaksud: “Fatimah (a.s) adalah sebahagian daripada diriku. Barang siapa menyakiti hati Fatimah (a.s), juga menyakiti hatiku, dan barang siapa menyakitiku bererti menyakiti Allah (s.w.t).” Al-Qur’an menyebutkan firman Allah [yang bermaksud]: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat.” Kalaulah Sahih Muslim, al-Bukhari dan al-Qur’an semestinya benar, sudah pasti sesiapa sahaja yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya patut dilaknat. Berkenaan dengan ‘A’isyah, memang benar dia melawan ‘Ali (a.s) dalam Perang Jamal atau dengan kata-kata lain menentang Rasulullah (s.a.w.a) juga. Nabi (s.a.w.a) pada masa hayat baginda mengatakan: “Sesiapa memusuhi ‘Ali (a.s), dia juga memusuhi aku dan sesiapa bersahabat dengannya, juga bersahabat den¬ganku.” Dalam Islam, wanita tidak dibenarkan terlibat dalam perang. Jadi, kalau seorang itu menentang Imam (pemerintah yang sah), dia berhak dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Kini, para ulama tadi semuanya mendiamkan diri dan Yuhanna telah pun menemui apa yang dicarinya selama ini. Dengan tenang, beliau meminta para ulama’ Sunni supaya tidak lagi menggelarkan golongan Syi‘ah sebagai Rafidi, kerana merekalah yang sebenarnya berada di pihak yang benar. Mereka mempunyai hujah yang kuat dan kukuh bahawa di antara 73 mazhab dalam Islam, hanya mazhab mereka sahaja yang diberkati Allah (s.w.t). Sesiapa sahaja yang mulanya mengakui hakikat ini tetapi kemudian berpaling tadah tidak mahu berbuat demikian akan selama¬nya berada dalam kesesatan yang nyata. Wahai para Ulama Sunni sekalian, saksikanlah bahawa aku kini telah menerima Islam dan Syi‘ah sebagai peganganku, dan aku berharap moga-moga Allah memberkatiku. Aku bersaksi dengan kalimah suci: “Asyhadu an la ilaha illa-Llah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, wa asyhadu anna ‘Aliyyan wali wa wasi al-Rasul, wa khalifata bi’l-Haq” (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul Allah, ‘Ali adalah wali dan wasi Rasul dan khalifah yang benar). Aku menerima mazhab Syi‘ah dalam Islam. Aku bermohon kepada Allah semoga Dia akan memberikan petunjuk kepadaku untuk menuju kehidupan seterusnya dan aku berharap agar aku jua dimatikan Allah bersama-samanya. BIBLIOGRAFI Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, Beirut, 1382 H. al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, Baghdad, 1959. al-Baladhuri, Ansab al-Asyraf, Tunis, 1384 H. al-Bukhari, Sahih, Beirut, 1377 H. al-Darimi, al-Sunan, Cairo, 1385 H. al-Dhahabi, al-Talkhis, Cairo, 1969. ____________, Mizan al-I‘tidal, Cairo, 1978. al-Fadhl bin Syadhan al-Naisaburi, al-Idah, Beirut, 1990. Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Cairo, 1382H. al-Haithami, Majma‘al-Zawa’id, Baghdad, 1378 H. al-Hakim, al-Mustadrak Bain al-Sahihain, Cairo, 1969. Al-Kasyi, al-Rijal, Baghdad, 1389 H. Ibn ‘Abd al-Birr, al-Isti‘ab fi Ma‘rifah al-Sahabah, Cairo, 1365 H. Ibn ‘Abd Rabbih, ‘Iqd al-Farid, Tunis, 1378 H. Ibn Abu al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, Baghdad, 1382 H. Ibn al-Athir al-Jazari, Usd al-Ghabah, Baghdad, 1969. Ibn Athir, al-Kamil fi al-Tarikh, Cairo, 1956. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, Teheran, 1378 H. al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Baghdad, 1959. Ibn ‘Asakir, Mukhtasar Tarikh Dimasyq, 1386 H. Ibn Hajr al-‘Asqalani, al-Isabah fi Ma‘rifah al-Sahabah, Beirut, 1953. ____________, Fath al-Bari, Cairo, 1965. ____________, Tahdhib al-Tahdhib, Hyderabad, 1328 H. Ibn Hajr al-Makki, al-S.a.wa‘iq al-Muhriqah, Baghdad, 1374 H. al-Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, Beirut, 1987. Ibn Hisyam, Sirah Ibn Hisyam, Beirut, 1987. Ibn Kathir, al-Tafsir, Cairo, 1958. ____________,al-Bidayah wa al-Nihayah, Cairo, 1365 H. Al-Kulaini, Raudat al-Kaafi, Beirut, 1985 H. Ibn Majah, al-Sunan, Baghdad, 1367 H. al-Majlisi, Muhammad al-Baqir, Bihar al-Anwar , Beirut 1993. Malik bin Anas, al-Muwatta’, Tunis, 1972. Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha’ir al-‘Uqba, Tunis, 1376 H. ____________, al-Riyad al-Nadhirah, Cairo, 1389 H. Muhsin al-Amini, al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab, Beirut, 1967. Muslim, Sahih, Cairo, 1967. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, Hyderabad, 1374 H. al-Nasa’i, al-Khasa’is, Beirut, 1959. ____________, al-Sunan, Cairo, 1958. al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, Baghdad, 1395 H, al-Qurtubi, al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Cairo, 1381 H al-Salih al-Hanafi , al-Kaukab al-Durriyy, Tunis, 1367 H. Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, Cairo, 1381 H. al-Syablanji al-Syafi‘i, Nur al-Absar, Cairo, 1367 H. al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, Beirut, 1984. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, Cairo, 1961. ____________, Tarikh al-Khulafa’, Cairo, 1368 _________, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Cairo, 1387 Al-Tabari, Tarikh, Beirut, 1958 al-Turmudhi, Sahih, Cairo, 1382 ____________, Jami al-Turmudhi‘, Cairo, 1380 al-Ya‘qubi, Tarikh, Beirut, 1379 H.

AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Ahmad Tijani; Bab:12345678
Kandungan
Persembahan
Sejarah Ringkas Hidupku
Haji Ke Baitullah
Perjalanan Yang Berjaya
Perjumpaan di Atas Kapal
Pertama Kali Melawat Iraq
Abdul Kadir Jailani dan Musa al-Kazim
Ragu-ragu
Berangkat ke Najaf
Perjumpaan dengan ulama
Perjumpaan dengan Sayyid Muhammad Baqir as-Sadr
Ragu-ragu dan Bingung
Berangkat ke Hijaz
Mulanya Suatu Kajian
Awal Kajian Secara Mendalam
Sahabat Dalam Pandangan Syi’ah dan Sunnah
Pandangan al-Qur’an Tentang Sahabat
Pandangan Rasul Tentang Sahabat
Pandangan Sahabat Di Antara Satu Sama Lain
Mulanya Perubahan
Dialog Dengan Orang Alim
Sebab-sebab Ikut Madzhab Ahlul Bayt
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 1
Persembahan
Buku saya ini adalah suatu hasil kerja yang sederhana. Ia menceritakan
tentang suatu perjalanan… cerita mengenai suatu penemuan yang baru,
bukan teknikal atau penemuan alam semula jadi, tetapi khusus dalam
bidang keagamaan dan pemikiran filosofi. Oleh kerana sebarang
penemuan pada dasarnya bergantung pada yang utamaannya minda yang
sihat dan pemahaman yang jelas, yang membezakan antara manusia dari
makhluk-makhluk lainnya. Saya ingin membaktikan buku ini kepada segala
minda-minda yang sihat itu. Minda yang sihat mengambil kebenaran
untuk diteliti dan mengetahuinya dari timbunan-timbunan yang salah.
Minda yang menimbang segala yang diperkatakan pada neraca keadilan,
dan selalu berpihak kepada yang mempunyai pembuktian.
Minda yang membezakan antara perkataan dan percakapan, dan
mempunyai keupayaan untuk membezakan antara yang logik dan yang
kurang logiknya, dan antara yang sahih dan yang daif. Allah Yang Maha
Tinggi berfirman:
Mereka yang mendengar apa yang diperkatakan dan mengikuti yang
terbaik daripadanya, merekalah yang mendapat pertunjuk dan merekalah
yang mempunyai fikiran. (al-Zumar : 18)
Kepada mereka-mereka yang saya baktikan buku ini, berharap semoga
Allah, segala pujian tertentu bagiNya yang MahaTinggi, membuka minda
kita dihadapan mata kita, untuk memandu kita, untuk memberi petunjuk
kepada hati kita, untuk menunjukkan kepada kita dengan jelas jalan yang
betul supaya kita mengikutinya, dan menunjukkan kepada kita dengan
jelas jalan yang salah, supaya dapat kita menjauhinya, dan terimalah kami
bersama hamba-hambaMu yang sholeh, kerana Engkau Maha Mendengar
dan Mengkabulkan.
Muhammad al Tijani Samawi.
Kata Pendahuluan
Dengan nama Allah yang Amat Pemurah lagi Amat Mengasihani.
Segala pujian tertentu bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Dia menjadikan
manusia daripada tanah, dan dibentukkannya kepada sebaik-baik rupa.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 2
Dia meninggikannya lebih dari makhluk-makhluk yang lain, dan dijadikan
malaikat-malaikat (mukarrabin, terhampir) sujud kepadanya. Dia
menganugerahkan nya dengan akal yang dapat menggubahkan keraguan
kepada keyakinan. Dia memberinya dengan sepasang mata, satu lidah,
sepasang bibir dan menunjukkan dia kepada dua laluan. Dia mengirimkan
kepada mereka Pemberitahu tentang khabar gembira, memperingatkan
mereka, dan menyedarkan mereka, dan menghalang mereka dari
kesesatan bersama dengan syaitan terkutuk.
Dia menyuruh mereka jangan menyembah syaitan, kerana syaitan itu
adalah musuh mereka, dan menyuruh mereka supaya menyembah Allah
[swt] sahaja dan ikutilah jalanNya yang benar dengan kefahaman dan
kepercayaan yang yakin, dan janganlah hanya mengikuti kepercayaan
datuk-datuk mereka, rakan-rakan, dan saudara-mara yang telah
mengikuti orang-orang yang sebelumnya tanpa sebarang keterangan yang
nyata.
Siapakah yang boleh mengatakan sesuatu yang terlebih baik daripada
memanggil mereka kejalan Allah dan melakukan kebaikkan dan
mengatakan bahawa dia adalah salah seorang dari orang-orang Islam,
semoga rahmat Allah, salam dan kesejahteraan keatas pesuruhNya yang
membawa rahmat kepada manusia…..penolong kepada yang tertindas dan
yang lemah….penyelamat kepada semua manusia dari kegelapan dan
kejahilan…dia yang akan menunjukkan mereka kejalan kebenaran, jalan
bagi mereka-mereka yang taat dan sholeh.
Penghulu kami Muhammad ibn Abdullah…rasul bagi orang-orang Islam dan
ketua yang penuh bercahaya. Semoga rahmat dan kesejahteraan keatas
keluarganya yang terpilih lagi suci serta telah menjadi pilihan Allah
daripada orang-orang yang beriman. Firmannya didalam al Quran bahawa
kita disuruh untuk mencintai mereka, setelah mereka disucikan dan
dijadikan mereka ‘maksum’. Dia berjanji bahawa sesiapa yang menaiki
bahtera mereka akan terselamat, dan mereka yang tidak melakukannya
akan binasa.
Semoga rahmat dan kesejahteraan ini juga ditujukan terhadap sahabatsahabatnya
yang mulia, yang menyokongnya, memuliakannya,
mengorbankan diri untuknya dan untuk kemenangan Islam. Mereka
mengetahui yang sebenar, maka mereka memberi sumpah setia kepadanya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 3
dengan bertekad dan tinggal tetap dijalan yang lurus tanpa menukar arah
dan banyak berterima kasih.
Semoga Allah memberi ganjaran kepada mereka diatas jasa-jasa mereka
terhadap Islam dan orang-orang Islam. Semoga rahmat dan
kesejahteraan ini juga kepada pengikut-pengikut mereka dan terhadap
mereka yang tetap tinggal dijalan yang lurus dan mendapat petunjuk
dengan nur ….sehingga kehari pengadilan
Wahai Allah, terimalah permintaan kami, Engkaulah yang Maha
Mendengar dan Maha Mengetahui. Wahai Allah Tuhan kami bukakan lah
hati kami untuk Mu dan Engkaulah yang memberi petunjuk kepada yang
benar.
Wahai Allah bantulah kami untuk menyatakannya, kerana Engkau
menganugerahkan kebijaksanaan kepada sesiapa yang Engkau pilih
daripada kalangan hamba-hamba Mu yang sholeh. Wahai Allah berilah
hambaMu ini kebijaksanaan dan pengetahuan serta masukkan hamba Mu
bersama mereka-mereka yang benar.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 4
Sejarah Ringkas Hidupku
Saya masih ingat bagaimana ayah membawaku untuk pertama kalinya ke
masjid daerah dimana solat Tarawih didirikan didalam bulan Ramadan.Aku
pada ketika itu baru berusia sepuluh tahun. Ayah memperkenalkan saya
kepada para jemaah, yang tidak dapat menyembunyikan perasaan kagum
mereka.
Saya tahu, sabelum itu guru telah mengaturkan untuk saya supaya
mengerjakan sholat al-Ishfa untuk dua atau tiga malam. Telah menjadi
kebiasaan bagi saya untuk solat dibelakang jamaah lelaki bersama kanakkanak
setempat, dan menunggu ketibaan imam pada bahgian kedua al
Quran, i.e surah Mariam. Ayah mempastikan kami belajar al Quran di
madrasah dan juga dirumah. Secara persendirian, yang mengajar kami
adalah seorang buta, yang masih mempunyai talian persaudaraan, yang
boleh membaca al Quran secara hafalan. Memandangkan kepada
kebolehan saya membaca al Quran pada peringkat kanak-kanak lagi, guru
telah cuba menunjukkan pengaruhnya terhadap saya dengan mengajarkan
kepada saya tempat sujud sajadah didalam surah itu. Dia menguji saya
berulang kali untuk mempastikan saya benar-benar faham arahan nya.
Setelah saya lulus ujian dan selesai mununaikan solat serta bacaannya,
sebaik mana yang telah mereka harapkan, semua jamaah datang dan
menggucapkan tahniah kepada saya dan ayah, dan berterima kasih kepada
guru diatas usaha baik dan restunya dan bersyukur kepada Allah kerana
Islam.
Ingatan pada hari-hari berikutnya masih bersama saya hingga kehari ini…
saya menerima banyak sanjungan dan reputasi saya meluas dari daerah
saya hinggalah kesegenap bandar. Malam-malam Ramadan tersebut telah
meninggalkan kesan keagamaan kepada saya hingga kehari ini, dan setiap
kali saya melalui episod kekeliruan, saya merasakan seakan ada suatu
kuasa ghaib yang akan menarik saya dan meletak saya kejalannya semula.
Setiap kali saya rasakan kelemahan pada jiwa saya dan kosongnya hidup
ini, ingatan tersebut akan datang kepada saya dan menaikkan semangat
kerohanian saya dan menyalakan kepada kesedaran saya api kepercayaan
supaya saya dapat memikul tanggung jawab ini. Tanggung jawab yang
diberikan oleh ayah, atau yang lebih tepat lagi guru, untuk menjadi Imam
solat pada umur yang muda, membuat saya merasakan seakan saya belum
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 5
melakukan secukupnya, atau sekurang-kurangnya tidak mencapai tahap
yang diharapkan dari saya.
Maka saya menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja dalam keadaan
ketulusan, tetapi tidaklah sehingga tidak bermain serta keinginan mahu
tahu dan juga meniru sesuatu. Selama tempuh itu saya dikelilingi dengan
pemiliharaan ilahi yang mana saya dapat dibezakan diantara saudarasaudara
yang lain dengan ketenangan dan kesabaran, saya selalu berada
pada jalan yang benar dan terjauh dari segala perbuatan yang tidak
bermoral.
Saya tidak akan lupa untuk menyatakan bahawa ibu saya…semoga Allah
merahmati rohnya…mempunyai pengaruh yang besar terhadap diri saya.
Dia membukakan mata saya semasa mengajar surah yang pendek-pendek
dari al Quran, cara bersolat dan cara-cara berwudhu. Saya diberi
olehnya keutamaan kerana saya adalah anaknya yang pertama, dan
mungkin dia mendapat kepuasan didalam mendidik saya, kerana dia
berkongsi rumah bersama isteri pertama bapa dan anak-anaknya.
Nama Tijani, diberikan kepada saya oleh ibu, mempunyai maksud yang
khas bagi keluarga al-Samawi yang mengikut cara Tariqa Sufi Tijani,
semenjak ianya dilawati oleh anak Shaykh Sidi Ahmed al-Tijani, yang
datang dari Algeria. Kebanyakkan orang di Gafsa – pekan kampong saya -
mengikuti cara sufi Tijani, terutama keluarga yang kaya dan terpelajar
yang telah membantu untuk mengembangkannya.
Kerana nama saya, saya menjadi popular didalam rumah Samawi dan
disekitarnya, terutama dengan mereka yang ada kaitan dengan sufi
Tijani. Maka, ramai orang dewasa yang ada pada malam yang tersebut
diatas dibulan Ramadan, datang untuk mengucapkan tahniah kepada ayah
dan kemudian mencium kepala dan tangan saya dan berkata, ” Ini adalah
berkat dari ketua kita Shaykh Ahmad al-Tijani.” Elok juga dinyatakan
bahawa sufi Tijani berkembang luas di Morocco, Algeria, Tunisia, Libya,
Sudan dan Mesir, dan mereka yang mempercayainya, seakan-akan fanatik
terhadapnya. Mereka tidak menziarahi kuburan ulama lain, kerana
mengikut pada kepercayaan mereka, ulama’-ulama’ tersebut mendapat
ilmu dari satu sama lain, sedangkan Shaykh Ahmed al-Tijani mendapat
pengetahuan terus dari pesuruh Allah Muhammad (saw), walaupun pada
kenyataan nya dia berada 13 abad selepas Rasul Allah (saw)
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 6
Ia telah dikatakan bahawa Shaykh Ahmed al-Tijani pernah berhubung
dengan Rasul Allah yang agung (saw), dengan berkata-kata dengannya
diwaktu dia sedang jaga, tidak didalam tidur. Dipercayai juga bahawa
kesempurnaan sholat yang digubal oleh Shaykh adalah terlebih baik dari
khatam al Quran 40 kali.
Untuk meringkaskan nya saya akan berhenti dari mengatakan tentang
sufi Tijani pada peringkat ini, jika dikehendaki Allah, saya akan
merujukannya ditempat yang lain.
Maka saya membesar dengan kefahaman ini, begitu juga dengan remajaremaja
didaerah saya. Kami semua….segala pujian untuk Allah…. Sunni
Muslim mengikuti ajaran Imam Malik ibn Anas, Imam pada Dar al-Hijra.
Bagaimanapun kami di Afrika Utara, terbahagi kepada penganut-penanut
sufi. Sebagai contoh di Gafsa sahaja terdapat al-Tijani, al-Qadiriyya, al-
Rahmaniyya, al-Salamiyya dan al-Isaiyya. Bagi setiap golonggan
mempunyai pengikut dan penyokong yang boleh membaca cara syair dan
zikir (doa dan pujian untuk Allah) didalam semua keramaian seperti
perkahwinan, berkhatan dan perjanjian (bersumpah). Walaupun terdapat
aspek-aspek negatif, sufi tariqa memainkan peranan yang penting dalam
mengekalkan upacara keagamaan dan penghormatan pada mereka yang
berilmu.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 7
Haji Ke Baitullah
Waktu itu usiaku lapan belas tahun ketika Himpunan Penelitian
Kebangsaan Tunisia (HPKT) memberiku kepercayaan untuk mewakili
negara bersama lima orang lain, di dalam menghadiri Seminar Pertama
Penelitian Arab Dan Islam yang diadakan di Mekah. Ketika itu aku adalah
delegasi yang paling muda, sama ada dari aspek usia atau kematangan.
Dua dari mereka adalah kepala sekolah; ketiga guru di pusat ibu kota;
keempat wakil dari akhbat\r tempatan dan kelima seorang kerabat
Menteri Pendidikan Kebangsaan waktu itu.
Perjalanan kami tidak langsung. Kami transit di Athena tiga hari,
kemudian Amman, ibu kota Jordan empat hari lalu ke Saudi untuk
mengikuti Seminar sambil melaksanakan fardhu haji dan umrah.
Tidak terlukiskan bagaimana perasaanku pertama kali memasuki
Baitullah al-Haram. Degupan jantungku yang kuat seakan-akan ingin
memecah dinding penghalang untuk keluar melihat sendiri Baitul A’tiq ini
yang sejak lama diimpi-impikannya. Air mataku terus mengalir seakan
tidak mahu berhenti. Aku terlena dengan khayalan yang malaikat
membawaku untuk sampai ke bumbung Ka’bah lalu menyahuti seruan
Allah SWT dari sana:”Labbaik Allahumma Labbaik. Inilah hambaMu yang
datang menghadapMu.”
Ketika aku dengar suara talbiah jamaah haji, aku terfikir bahawa mereka
telah menghabiskan usia mereka untuk menyediakan bekal dan harta demi
datang ke Baitullah ini. Tetapi aku datang secara mengejut dan tanpa
persiapan dari diriku sendiri.
Masih teringat dibenakku betapa ayahku menangis dan menciumku ketika
melihat tiket pesawatku dan yakin akan kepergianku untuk menunaikan
fardhu haji. Ketika melepaskan pemergianku, belia berkata:”Tahniah
untukmu hai anakku. Allah telah menginginkanmu pergi haji sebelumku
dalam usia yang sebegini muda. Engkau adalah anakku Sayyid Ahmad
Tijani. Doakan aku di rumah Allah agar aku diampuniNya dan
diberikanNya rezeki untuk pergi haji ke tanah suci.”
Itulah kenapa aku menduga bahawa Allah SWT telah memanggilku dan
melimpahkan kurniaNya kepadaku dengan menyampaikan aku ke tempat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 8
yang sangat diidamkan oleh setiap jiwa. Adakah orang yang berhak
menyahuti panggilan itu lebih daripadaku. Waktu itu aku melebihkan
ibadah tawafku, solatku, sa’iku, bahkan ketika minum air zamzam
sekalipun. Ketika semua orang berlumba-lumba untuk nak ke gunung Jabal
Nur yang terdapat Gua Hira’, tidak seorang pun yang dapat
mengalahkanku kecuali seorang anak muda dari Sudan. Aku rukuk di sana
seakan-akan aku mencium baunya Nabi SAWA dan merasakan nafasnya.
Alangkah indahnya kenangan itu, suatu pengalaman yang sangat
membekas diingatanku dan tidak mungkin akan terlupa selama-lamanya.
Ada satu limpahan kurnia Illahi lain atas diriku dimana setiap delegasi
lain yang melihatku, dia akan menyukaiku dan meminta alamatku untuk
dapat berutus surat. Teman-teman seperjalananku yang dari awal masa
keberangkatan bersikap hina terhadapku, kini mula menyukaiku. Sebelum
ini aku hanya bersabar lantaran sikap mereka. Kerana aku tahu bahawa
penduduk utara memang menghina penduduk yang mempekecil-kecilkan
orang-orang yang datang dari kawasan selatan dan menganggap mereka
sebagai orang-orang yang belum maju. Pandangan mereka terhadapku
akhirnya berubah ketika dalam perjalanan, seminar dan musim haji ini.
Aku telah banyak mengukir prestasi di hadapan para delegasi dengan
syair-syair dan qasidah-qasidah yang aku hafal. Aku juga telah berhasil
membawa pulang berbagai ijazah kecemerlangan di dalam berbagai
pertandingan yang diadakan sempena acara itu. Ketika aku pulang ke
negeriku, aku telah membawa lebih dari dua puluh alamat teman-teman
dari berbagai bangsa.
Kami berada di Saudi selama dua puluh lima hari. Kami berjumpa dengan
berbagai ulama dan mendengar ucapan-ucapan mereka. Aku sangat
terkesan dengan sebahagian kepercayaan Wahabiyyah dan bahkan
berangan-angan agar kaum Muslimin seluruhnya berpegang kepada
kepercayaan ini. Waktu itu aku menyangka bahawa Allah SWT telah
memilih mereka dari sekian banyak hamba-hambaNya ini untuk menjaga
Baitullah al-Haram. Mereka adalah makhluk Allah yang paling suci dan
paling alim di atas muka bumi ini. Allah telah memperkayakan mereka
dengan minyak agar dapat berkhidmat kepada jamaah haji yang datang
sebagai tetamu Allah, dan menjamin keselamatan mereka.
Ketika aku pulang dari haji ke tanah airku, aku memakai pakaian ala
Saudi lengkap dengan lqal melilit kepala. Aku sangat terkejut dengan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 9
sambutan yang telah dipersiapkan oleh ayahku. Orang ramai telah
berkumpul di stesyen keretapi dipimpin sendiri oleh Syaikh Terekat
I’sawiyah, Syaikh Tijaniyyah dan Syaikh Qadiriyyah yang lengkap dengan
gendang kebesaran sufi.
Mereka membawaku mengelilingi jalan-jalan kota Qafsah sambil
mengumandangkan laungan takbir dan tahlil. Setiap kali kami lalu pada
sebuah masjid, maka mereka akan memintaku berhenti sejenak. Orang
ramai yang ada disekitarku berdesak-desak mahu menciumku,
terutamanya orang-orang tua. Mereka menangis kerana sangat
merindukan untuk melihat Baitullah dan berdiri dekat pusara Nabi
SAWA. Mereka belum pernah melihat orang balik haji seusiaku, apa lagi
di kota Qafsah ini.
Itulah hari-hariku yang sangat bahagia. Pemuka-pemuka tempatan datang
ke rumah kami untuk mengucapkan salam dan tahniah sambil meminta doa.
Kebanyakan mereka memintaku membacakan surah al-Fatihah dan doa di
kehadiran ayahku. Sekali-sekali aku berasa malu juga. Setiap kali para
tetamu keluar, ibuku akan masuk sambil meniupkan asap gaharu dan
memohon perlindungan dari tipu daya orang-orang yang jahat dan syaitan
yang terkutuk.
Ayahku mengadakan kenduri selama tiga hari berturut-turut demi Yang
Mulia Tijaniyyah. Setiap hari beliau menyembelih seekor kambing. Dan
orang-orang yang hadir bertanya segala sesuatu hatta perkara yang kecil
sekalipun. Jawapanku rata-rata berkisar antara rasa kekagumanku
terhadap Saudi dan kegiatan mereka di dalam menyebarkan Islam dan
membela kaum Muslimin.
Penduduk kota kami memanggilku dengan sebutan “Tuan Haji”. Jika nama
itu disebutkan maka maksudnya tidak lain kecuali diriku. Dan sejak itu
aku lebih dikenal oleh khalayak ramai terutamanya di kalangan akivisaktivis
agama seperti Jamaah Ikhwanul Muslimin. Aku pergi ke masjidmasjid
dan melarang orang-orang dari mencium nisan kuburan atau
mengusap-usap kayu-kayunya. Aku berusaha menyakinkan mereka bahawa
perbuatan itu adalah syirik kepada Allah. Aktivitiku bertambah luas. Aku
mulai mengajar di beberapa masjid pada hari Jumaat sebelum khutbah.
Aku berpindah-pindah dari masjid Abi Ya’qub ke masjid jamik agung.
Mengingat solat Jumaat didirikan pada waktu yang berlainan. Masjid
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 10
Abu Ya’qub mendirikan solat Jumaat pada waktu Zuhur sementara
masjid jamik pada waktu Asar. Pengajian-pengajian hari Ahad juga
banyak dihadiri oleh pelajar tingkatan atas tempat aku mengajar subjek
teknologi dan ilmu teknik. Mereka sangat suka menghadiri pengajianku,
mengingatkan bahawa aku banyak meluangkan masa untuk menghilangkan
segala kemusykilan yang ada pada benak mereka lantaran indoktrinasi
sebahagian daripada guru-guru falsafah atheis, sekularis dan komunis.
Mereka menunggu dengan penuh kesabaran ketika pengajian itu.
Sebahagian mereka ada yang datang ke rumah. Aku juga telah membeli
beberapa buku agama sebagai bahan bacaan yang akan dapat menambah
pengetahuanku dan dapat menjawab setiap pertanyaan dengan baik.
Di tahun-tahun hajiku itu juga aku telah dikurniakan memiliki separuh
agamaku yang lain. Ibuku sangat menginginkan aku berkeluarga sebelum
tiba akhir hayatnya. Beliaulah yang membesarkan semua anak-anak
suaminya dan menghadiri perkahwinan mereka. Cita-citanya juga ingin
melihat aku berkeluarga. Akhirnya Allah SWT menyampaikan cita-citanya
dan aku mematuhinya untuk mengahwini seorang anak gadis yang belum
aku lihat sebelumnya. Ibuku juga menyaksikan anak pertama dan keduaku.
Kemudian beliau meninggal dunia dalam keadaan redha kepadaku,
menyusuli kepergian ayahku dua tahun sebelumnya. Ayahku juga telah
menunaikan fardhu haji dan bertaubat kepada Allah, Taubatan Nasuha
dua tahun sebelum beliau menghadap Allah SWT.
Revolusi Libya muncul di saat kaum Muslimin dan Arab mengalami
kekalahan yang memalukan dalam peperangannya dengan Israel. Anak
muda pemimpin revolusi itu muncul dan berbicara atas nama Islam. Beliau
solat dengan ummat di masjid dan menyeru akan pembebasan al-Quds.
Beliau sangat menarik perhatianku dan perhatian seluruh pemuda-pemuda
Arab dan Islam yang lain. Rasa ingin tahu kami akhirnya mendorong kami
untuk mengadakan kunjungan kebudayaan ke Libya. Bersama dengan
empat puluh orang terpelajar, kami pun berangkat menuju ke sana pada
awal revolusi itu. Kemudian kami kembali dengan rasa kekaguman yang
luar biasa itu. Kami berasa sangat optimis dengan masa depan yang
diharapkan akan menguntungkan semua umat Islam dan Arab secara
keseluruhan.
Korespondensi aku dengan beberapa teman berjalan di tahun-tahun itu.
Aku telah mengadakan suatu hubungan rapat dengan beberapa orang dari
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 11
mereka yang terus mendesakku untuk datang. di suatu cuti panjang
musim panas, aku berencana ingin mengadakan sautu perjalanan selama
tiga bulan. Perjalanan darat melalui Libya, lalu kemudian ke Mesir. Dari
sana aku akan melalui jalan laut menuju Lebanon, Syria, Jordan, dan
Saudi. Di sana aku akan menunaikan ibadah murah dan memperbaharui
janji setiaku terhadap fahaman Wahabiyyah yang banyak aku
propagandakan di kalangan para mahasiswa dan pelajar serta masjidmasjid
yang dihadiri oleh Jamaah Ikhwanul Muslimin.
Kemasyhuranku menjangkau negeri-negeri yang berhampiran. Seorang
musafir kadang-kala berlalu di tempat kami lalu solat Jumaat dan
menghadiri kuliahku. Ketika pulang dia menceritakan ehwal kami kepada
masyarakat sekitarnya, sehingga sampailah ke telinga Syaikh Ismail al-
Hadifi, pemimpin tarekat sufi yang terkena di kota Tuzer, ibu negeri al-
Juraid dan tempat persemadian Abul Qasim as-Syabi. seorang penyair
yang termasyhur. Syaikh ini mempunyai pengikut dan penggemar di
serata pelusuk Tunisia; bahkan di luar negeri sekalipun di kalangan para
pekerja di Perancis dan Jerman.
Suatu hari menerusi para wakilnya di Qafsah beliau menjemputku untuk
melawatnya. Diutusnya sepucuk surat yang panjang untukku dengan
ucapan rasa terima kasih kerana khidmatku terhadap Islam dan Muslimin.
Mereka mendakwa bahawa kesemua itu tidak akan mendekatkanku pada
Allah sedikit pun jika aku tidak melalui jalannya Syaikh yang arif itu. Ini
berdasarkan hadith yang sangat masyhur di kalangan mereka:”Sesiapa
yang tidak memiliki Syaikh maka syaikhnya adalah syaitan. Mereka
berkata:”Engkau juga mesti memiliki Syaikh yang akan menunjukkanmu
kepada jalan-jalan yang sebenarnya kalau tidak maka separuh ilmumu
bermakna kurang…..”Mereka juga berkata bahawa “Sohib Zaman”, yakni
Syaikh Ismail ini telah memilihku untuk menjadi Khasal-Khas, yakni
kalangan yang paling dekat dengannya.
Mendengar ini hatiku terasa gembira sekali. Aku menangis lantaran
sangat terharunya pada kurnia Allah yang terus mengangkatku dari
makam tinggi ke makam yang lebih tinggi lagi dari kedudukan yang baik
kepada yang lebih baik. Sebelum ini aku pernah mengikut Sayyidi Soleh
Bis Saih dan Sayyidi al-Jilani serta berbagai guru tarekat yang ada. Aku
tunggu waktu perjumpaan yang dijanjikan itu dengan penuh kesabaran.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 12
Ketika kau masuk ke rumah Syaikh aku jumpai berbagai wajah sedang
menantinya dengan penuh semangat. Murid-muridnya ramai yang hadir di
majlis itu. Di antara mereka ada sejumlah orang-orang tua yang memakai
serban serba putih. Setelah acara Tahiyyah (ucapan salam) maka Syaikh
Ismail keluar. Semua yang hadir mencium tangannya dengan penuh
hormat. Dan wakilnya yang membawaku ini menggenggam tanganku sambil
mengatakan bahwa inilah Syaikh Ismail. Aku tidak berasa kagum sama
sekali melihat rupanya – tidak sehebat seperti apa yang aku bayangkan di
benakku. Wakil dan para mengikutnya telah menceritakan berbagai
macam keramat dan mukjizat Syaikh ini sehingga kehebatan dan
ketokohannya terukir besar di dalam bayangan fikiranku. Namun apa yang
aku lihat, beliau hanyalah seorang syaikh biasa yang tidak mempunyai
wibawa dan keagungan. Si-wakil memperkenalkan aku kepadanya di
pertengahan majlis. Beliau menyambutku dan mempersilakan aku duduk di
sebelah kanannya. Setelah makan dan minum maka acara dimulakan.
Kemudian wakil ini memintaku mengambil perjanjian dan wirid dari Syaikh
ini. Setelah itu maka semua yang hadir mengucapkan tahniah sambil
memelukku.
Dari percakapan mereka aku faham bahawa mereka sebenarnya telah
sering mendengar namaku. Sebahagian jawapan Syaikh kepada orangorang
yang bertanya kadang-kadangku sanggah berdasarkan hujah-hujah
al-Qur’an dan Sunnah. Tetapi sebahagian yang hadir menganggapnya
buruk dan bersikap kurang ajar kepada Syaikh kerana kebiasaannya
mereka tidak bercakap jika berada di hadapan kecuali dengan izinnya.
Sikap tidak puas hati mereka ini dirasakan oleh Syaikh. Dengan cara yang
bijak beliau meredakan perasaan mereka seraya berkata:”Sesiapa yang
bersikap berani-api maka pada akhirnya akan cemerlang.” Para hadirin
menganggap ini sebagai ‘isyarat baik’ dari Syaikh, dan akan menjadi
jaminan paling besar bagi kecemerlangan akhirku. Mereka memberikan
tahniah kepadaku. Tetapi Syaikh ini adalah seorang yang pandai dan
terlatih. Beliau tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk
melanjutkan sanggahan yang ‘mengejutkan’ itu. Diceritakankan hikayat
seorang yang Arif Billah (wali) ketika duduk bersama sejumlah ulama.
Kepada salah seorang dari ulama ini si-wali berkata: bangun dan pergilah
mandi. Si-alim pergi dan mandi. Kemudian dia datang semula ke majlis.
Sebelum sempat duduk, si-wali berkata lagi kepadanya: pergi mandi lagi.
Lalu dia pergi dan mengulangi mandinya dengan cara yang paling baik.
khuatir mandinya tadi tidak betul. Kemudian dia datang lagi untuk duduk
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 13
di majlis itu, namun Syaikh tetap sahaja menyuruhnya pergi dan mandi.
Kemudian si-alim ini menangis dan berkata: Ya Tuan Syaikh. Aku telah
mandi dengan cara ilmuku dan amalku. Tiada apa-apa lain dalam diriku
melainkan apa yang akan Allah bukakan kelak melalui kedua tanganmu.
Lalu Syaikh ini berkata: sekarang duduklah.
Aku tahu bahawa yang dimaksudkan dari cerita ini adalah diriku. Para
hadirin juga tahu. Setelah keluarnya Syaikh dari majlis mereka
mencelaku dan menyuruhku berdiam dan wajib hormat bila duduk di
hadapannya. Mengingatkan bahawa Syaikh ini adalah Sohib Zaman. Dan
sikapku ini dikhuatirkan akan melucutkan segala amal-amal baikku selama
ini. Hujah mereka adalah firman Allah seperti berikut:”Wahai orangorang
yang beriman. Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari
suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras
sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian
yang lain supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak
menyedari.” [Al-Hujurat:2]
Aku tahu harga diriku. Aku ikuti perintah dan nasihat-nasihatnya, dan
lebih dari itu aku dekatkan lagi diriku kepadanya. Aku tinggal bersamanya
selama tiga hari dimana aku juga bertanya berbagai masalah kepadanya
yang sebahagiannya sekadar ingin mengujinya. Syaikh ini juga sedar akan
sikapku ini lalu berkata bahawa al-Qur’an memiliki makna zahir dan batin
sehinggalah ke tujuh batin.
Allah juga telah membukakan untukku peti rahsiaNya, dan menunjukkan
kepadaku KursiNya yang khas di mana terdapat salasilah orang-orang
yang soleh dan arif secara musnad dan bersambung kepada Abul Hasan
as-Syazali dan terus kepada sejumlah para wali sehinggalah sanadnya
sampai kepada Imam Ali Karamallah Wajhahu.
Perlulah diberitahu bahawa majlis-majlis mereka adalah bersifat
ritualistik atau kerohanian. Mula-mula Syaikh akan membukakannya
dengan bacaan beberapa ayat al-Qur’an yang mudah secara tajwid.
Kemudian membaca qasidah yang diikuti oleh para muridnya yang hafal
berbagai madah dan zikir yang kebanyakannya mencela dunia dan
mengajak pada akhirat, makna zuhud serta warak. Setelah itu murid
yang duduk di sisi kanan Syaikh akan memulakan bacaan ayat-ayat al-
Qur’an yang baru dan Syaikh serta merta akan membacakan qasidah yang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 14
lain pula diikuti oleh semua yang hadir.
Begitulah seterusnya secara bergilir-gilir walau sekadar satu ayat
sehinggalah para hadiirin seakan tidak sedar. Mulalah mereka
mengoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri mengikut rentak
madah tadi sampaikan tuan Syaikh berdiri dan berdirilah semua yang
hadir sehingga membentuk satu bulatan di mana Syaikh berada di
tengah-tengah. Kemudian mereka menyebutkan “zikir-dada”:
ah..ah..ah..Dan Syaikh di tengah-tengah mereka dan menghadap setiap
seorang dari mereka dengan suara bacaan yang keras sekali.
Kemudian sebahagian daripada mereka melompat-lompat dalam satu
gerakan bak kegilaan sambil mengangkat suara tinggi-tinggi yang
berirama tetapi menakutkan. Setelah keletihan maka majlis menjadi
tenang kembali dengan diakhiri qasidah Syaikh. Dan setelah mencium
kepala Syaikh dan bahunya secara bergilir-gilir maka semua yang hadir
akan duduk semula.
Aku telah mengikuti majlis mereka beberapa kali sebagai tanda simpati
tanpa diiringi dengan sikap rela hati. Aku dapati jiwaku berkecamuk
dengan kepercayaan yang aku pegang selama ini yakni cuba tidak
mensyirikkan Allah seperti bertawasul kepada selain daripada Allah
SWT. Aku jatuh ke bumi sambil menangis tersedu-sedu kerana bingung
dengan dua aliran yang sangat kontradiktif ini; aliran sufi yang penuh
dengan acara-acara ritualistik (kebatinan) di mana jiwa manusia akan
terasa sesuatu kezuhudan dan kedekatan pada Allah SWT melalui para
waliNya yang soleh dan hambaNya yang arif, dan aliran Wahabiyyah yang
mengajarku bahawa kesemua itu adalah syirik pada Allah. Dan syirik
adalah dosa yang tidak diampunkan.
Jika Muhammad Rasulullah SAWA tidak memberi apa-apa manfa’at dan
tidak boleh dijadikan tawasul antara Allah SWT maka apalah ertinya
mereka para wali dan orang-orang soleh itu?
Walaupun Syaikh menempatkan aku pada ‘maqam’ yang tinggi sebagai
wakilnya di Qafsah tetapi jiwaku belum merasa puas sama sekali. Walau
kadang-kadang aku condong kepada tarekat sufi dan sering menyimpan
rasa hormat dan takzim disebabkan para wali Allah dan orang-orang soleh
tersebut, namun aku juga memprotes berhujahkan firman Allah:”Jangan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 15
kamu menyeru bersama Allah Tuhan yang tiada lain selain Dia,”[Al-
Qishos:88]. Jika ada orang berkata bahawa Allah berfirman:”Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan carilah
wasilah yang mendekatkan diri kepadaNya”[Al-Maidah:35] maka aku akan
menjawab seperti apa yang diajarkan kepadaku oleh ulama-ulama Saudi
bahawa wasilah yang dimaksudkan adalah amal yang soleh.
Al-hasil aku hidup waktu ini dengan perasaan yang gelisah dan pemikiran
yang kacau. Kadang-kadang sebahagian murid-murid Syaikh datang ke
rumahku dan mengadakan acara-acara serupa dalam bentuk halaqahhalaqah
sehinggalah para tetanggaku merasa cukup terganggu dengan
suara ‘ah….ah…ah…kami. Setelah aku tahu itu maka aku minta agar
mereka mengadakannya di rumah lain dan aku minta maaf lantaran ingin
keluar negeri selama tiga bulan. Kemudian aku berpisah dengan keluarga
dan kaum kerabatku menuju Tuhanku dengan penuh rasa tawakal
kepadaNya tanpa mensyirikkanNya sekali-kali.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 16
Perjalanan Berjaya
Di Mesir
Aku berada di Tripoli hanya selama masa visa yang mereka berikan
kepadaku melalui kedutaan Mesir di Tunisia sahaja. Di sana aku berjumpa
dengan beberapa orang temanku. Mereka banyak membantuku. Semoga
Allah membalas jasa mereka itu. Dan di dalam perjalananku ke Kaherah
yang memakan selama tiga hari tiga malam, aku menaiki sebuah teksi
bersama empat orang Mesir lain yang pulang kerja dari Libya. Di dalam
perjalanan itu aku banyak bercakap dengan mereka dan membacakan
beberapa ayat-ayat suci al-Qur’an. Mereka menyukaiku dan masingmasing
mengajakku singgah ke rumahnya. Di antara mereka seorang
sahaja yang aku pilih dan bersedia pergi ke rumahnya, lantaran sifat
warak dan taqwa yang nampak dalam dirinya. Namanya Ahmad. Beliau
menyambutku dan menerima hangat kedatanganku. Mudah-mudahan Allah
berkenan membalas jasanya.
Aku berada selama dua puluh har di Kaherah. Aku sempat berkunjung ke
tempat penyanyi terkenal, Farid at-Atharsy di rumahnya yang menghadap
sungai Nil. Aku sejak lama mengkaguminya lantaran berita tentang
peribadinya dan sikap rendah dirinya seringkali aku baca di dalam
majalah-majalah Mesir yang dijual di Tunisia. Sayang aku hanya dapat
berjumpa dengannya selama 20 minit sahaja kerana waktu itu dia akan
berangkat ke Lebanon. Aku juga berkunjung ke tempatnya Syaikh Abdul
Basit Abdus Samad seorang qari al-Qur’an yang sangat terkenal itu. Aku
juga sangat mengkaguminya. Aku hanya sempat bersamanya selama tiga
hari. Kami banyak berdiskusi dalam pelbagai masalah bersama kerabat
dan sahabat-sahabatnya. Mereka juga kagum dengan semangatku,
ketegasanku dan luasnya informasi yang aku miliki. Jika mereka bercakap
mengenai seni, maka aku juga bercakap mengenai seni dengan panjang
lebar. Dan jika mereka bercakap tentang zuhud dan tawasuf, maka aku
katakan yang aku adalah dari tarekat Tijaniyyah dan sekaligus
berperadaban tinggi. Jika mereka bercakap tentang dunia barat, maka
aku ceritakan kepada mereka tentang Paris, London, Belgik, Holand, Itali,
dan Sepanyol yang aku lawati di cuti-cuti musim panas yang lalu. Bila
mereka bercakap tentang haji maka aku katakan yang aku telah pergi haji
dan kini akan pergi menunaikan umrah pula. Aku ceritakan kepada mereka
tempat-tempat yang tidak mereka ketahui hatta oleh mereka yang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 17
pernah menunaikan haji sebanyak tujuh kali sekalipun seperti Gua Hira’,
Gua Thur, dan tempat Nabi Ismail disembelih. Dan bila mereka bercakap
tentang sains dan penemuan-penemuannya, maka aku perincikan kepada
mereka dengan bilangan dan istilah-istilahnya sekali. Dan bila mereka
bercakap tentang politik, maka aku dapat patahkan hujah-hujah mereka
sambil berkata:”Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada Nasir
Salahuddin al-Ayyubi yang telah mengharamkan dirinya dari tersenyum
apalagi tertawa. Ketika orang-orang dekatnya mencela dan berkata:
dahulunya Nabi SAWA sentiasa dilihat dalam keadaan tersenyum, maka
Ayyubi menjawab: bagaimana kamu menginginkan aku tersenyum
sementara Masjidul Aqsa masih berada di bawah tangan musuh-musuh
Allah. Tidak, demi Allah, aku tidak akan tersenyum sehinggalah aku dapat
membebaskannya atau mati kerananya.
Beberapa syaikh dari al-Azhar ikut hadir dalam majlis kami. Mereka
sangat kagum dengan apa-apa yang aku hafal seperti hadith, ayat-ayat
dan hujah-hujah yang kuat lainnya. Mereka bertanya dari universiti
manakah aku dapat sarjana. Aku menjawab aku adalah sarjana keluaran
Universiti Zaitun. yang telah didirikan sebelum Universiti al-Azhar. Aku
katakan lagi bahawa orang-orang dari kalangan Fatimiyyah yang
mendirikan al-Azhar itu sebenarnya berasal dari kota Mahdiah di Tunisia.
Aku juga sempat berkenalan dengan sejumlah ulama dari Universiti al-
Azhar. Mereka pinjamkan kepadaku beberapa buah buku. Suatu hari aku
berada di pejabat salah seorang pegawai pentadbiran al-Azhar. Tibatiba
datang seorang ahli Dewan Kepimpinan Revolusi Mesir dan
menjemputnya untuk hadir dalam suatu perhimpunan kaum Muslimin di
salah sebuah syarikat besi waja Mesir yang besar di Kaherah yang rosak
akibat Perang Oktober ketika itu. Beliau tidak mahu melainkan aku ikut
serta. Di sana mereka memintaku memberikan ceramah kepada para
hadirin. Dan aku lakukan tugas ini dengan mudah lantaran kebiasaanku
dalam memberikan berbagai ceramah di masjid-masjid dan markasmarkas
kebudayaan di negeriku.
Yang penting dari apa yang aku ceritakan dalam bab ini adalah perasaanku
yang mulai membesar dan sikap mengkagumi diri sendiri mulai timbul. Aku
berfikir ketika itu bahawa aku memang telah menjadi seorang alim yang
berpengetahuan tinggi. Betapa tidak. Ulama-ulama al-Azhar sendiri
menyaksikan sendiri hal itu. Antara lain mereka berkata:”Tempatmu
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 18
sudah sewajibnya di al-Azhar di sini.” Dan yang lebih membanggakan
diriku lagi adalah “izin” Rasulullah SAWA yang diberikannya kepadaku
untuk melihat peninggalan-peninggalannya seperti yang dikatakan oleh
pegawai yang mengurus Masjid Saidina Husayn di Kaherah. Beliau hanya
mengajakku seorang untuk masuk ke dalam hujrah iaitu ruang yang tidak
dibuka kecuali olehnya sendiri. Dan ketika kami masuk beliau menutupnya
semula dari dalam. Dibukanya sebuah almari dan dikeluarkannya sehelai
baju Nabi SAWA. Lalu aku cium baju tersebut. Juga diperlihatkannya
kepadaku sejumlah peninggalan yang lain. Setelah keluar dari sana aku
menangis kerana begitu terkesan dengan perhatian Nabi SAWA
terhadapku secara peribadi. Orang ini juga tidak memintaku sebarang
upah. Dia hanya mengambil sesuatu yang sangat sedikit setelah aku paksa
dan mendesaknya. Diucapkannya tahniah kepadaku sambil berkata yang
aku ini adalah di antara orang-orang yang diterima di sisi Nabi SAWA.
Peristiwa ini barangkali sangat memberi kesan kepadaku sehingga aku
berkali-kali berfikir tentang apa yang dikatakan oleh Wahabiyyah
bahawa Nabi SAWA telah meninggal dan selesailah sudah riwayatnya
sebagaimana orang-orang lain yang mati. Aku menolak fikiran seperti itu.
Bahkan aku yakin bahawa iqtiqad seperti itu adalah karut. Seandainya
seorang syahid di jalan Allah tidak “mati”, bahkan hidup mendapatka
rezeki di sisi Tuhannya, maka betapa pula penghulu para nabi dan rasul.
Perasaanku ini bertambah kuat lantaran dahulunya aku memang percaya
akan pelajaran-pelajaran tasawuf yang memberikan hak dan kebenaran
kepada para wali dan syaikh-syaikh mereka “campur tangan” di dalam
perjalanan alam ini. Mereka percaya bahawa Allah SWT telah
memberikan izin kepada mereka lantaran mereka taat kepadaNya dan
patuh pada segala perintahNya. Bukankah ada suatu hadith qudsi
menyebut:”Wahai hambaKu, taatlah kepadaKu nescaya kau akan
menjadi sepertiKu, mengatakan kepada sesuatu: jadilah maka ia akan
menjadi.” Dari situ maka mulailah pertarungan-pertarungan menyala
dalam fikiranku.
Akhirnya aku akhiri kunjungan ke Mesir dengan melawat berbagai masjid
dan solat di dalamnya seperti Masjid Malik, Masjid Abu Hanifah, Masjid
Syafie dan Masjid Ahmad bin Hanbal. Kemudian aku juga melawat
Sayyidah Zainab dan Sayyidina Husayn. Juga tidak ketinggalan Pondok
Tijaniyyah yang menyirat banyak cerita.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 19
Perjumpaan Di Atas Kapal
Aku berangkat ke Iskandariyah pada hari yang telah ditentukan untuk
dapat ikut sebuah kapal Mesir yang akan menuju Beirut. Waktu itu aku
sangat lelah dan fikiranku juga letih. Aku berbaring dan tidur barang
sejenak. Setelah dua atau tiga jam perjalanan, aku dkejutkan oleh suara
sebelahku yang berkata yang berkata : “Nampaknya saudara yang satu ini
sangat keletihan.” Lalu ku jawab : “Ya, memang. Aku sangat letih kerana
perjalanan dari Kaherah ke Iskandariah. Aku mesti sampai ke pelabuhan
dengan seberapa segera dan terpaksa tidur sedikit semalam.”
Dari perbualan kami, aku fahami yang beliau bukanlah orang Mesir.
Seperti biasa rasa ingin-tahuku mendorongku untuk mengenalnya lebih.
Lalu ku kenalkan diriku dan aku juga mengenalnya. Beliau berasal dari
Iraq dan bertugas sebagai pensyarah di Universiti Baghdad. Namanya
Mun’im. Beliau datang ke Kaherah untuk mengambil gelar doktor dari
Universiti al-Azhar.
Perbincangan kami sekitar Mesir, dunia Arab dan dunia Islam yang lain.
Kami juga membincangkan tentang kekalahan Arab dan kemenangan
Yahudi serta berbagai topik lain. Antara lain ku katakan bahawa punca
kekalahan adalah terpecahnya Arab dan Muslimin kepada berbagai
negara, bangsa dan mazhab. Walaupun bilangan mereka banyak tetapi
tidak ada nilai sama sekali di mata musuh-musuh mereka.
Kami juga berbincang tentang banyak tentang Mesir dan rakyatnya. Kami
sepakat tentang punca kekalahan mereka. Ku tambahkan lagi bahawa aku
sebenarnya anti dengan perpecahan yang telah dirancang oleh para
penjajah seperti ini. Tujuan mereka semata-mata ingin dengan mudah
menguasai dan mengalahkan kita. Kita masih membezakan antara Maliki
dengan Hanafi. Dan kuceritakan kepadanya tentang peristiwa pahit yang
kualami ketika masuk ke masjid Abu Hanifah di Kaherah. Waktu itu aku
ikut sembahyang Asar berjemaah. Selepas sembahyang tiba-tiba orang
yang berdiri di sampingku dengan nada marah berkata kepadaku :
“Kenapa kau tidak sedekapkan tanganmu ketika sembahyang tadi?” Ku
jawab dengan penuh adab dan hormat bahawa Mazhab Maliki mengatakan
bahawa tangan mesti lurus ketika sembahyang dan aku ikut mazhab
Maliki”. Kalau begitu sembahyang saja di Masjid Malik!” Katanya geram.
lalu aku keluar dari masjid dengan perasaan kesal dan kecewa.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 20
Tiba-tiba ustaz Iraq ini tersenyum dan berkata kepadaku bahawa dia
bermazhab Syi’ah. aku terkejut mendengarnya. Tanpa mau peduli ku
katakan kepadanya bahawa jika aku tahu anda adalah seorang Syi’ah
maka aku tidak akan mahu bercakap denganmu. “Kenapa?” Tanyanya.
“Kerana kalian bukan orang-orang Muslim. Kalian menyembah Ali bin Abi
Thalib. Orang yang paling moderat dari kalian memang menyembah Allah,
namun mereka tidak beriman dengan Risalah Nabi Muhammada s.a.w.
Mereka mencaci Malaikat Jibril dan berkata bahawa dia telah berbuat
salah. yang sepatutnya wahyu diturunkan kepada Ali tetapi dia turunkan
kepada Muhammad. Aku terus bercakap kata-kata seumpama itu
sementara temanku ini kadang-kadang tersenyum dan sekali-sekali
mengucap.
Setelah selesai dia bertanya kepadaku :
“Adakah anda seorang guru?”
“Ya”. Jawabku.
“Jika guru yang berfikir seperti ini maka tidak hairan kalau orang-orang
awam yang tidak terpelajar juga akan berfikir demikian.”
“Apa maksud anda?” Tanyaku mengulang
“Maaf. Dari mana anda mendapatkan propaganda-propaganda bohong
seperti ini?”
“Dari buku-buku sejarah dan dari ucapan orang banyak.”
“Tinggalkan apa yang dikatakan orang. Tetapi buku sejarah mana yang
anda baca?”
“Seperti buku Fajrul Islam, Dhuhal Islam dan Zuhrul Islam karya Ahmad
Amin dan lain-lainnya.”
“Bila Ahmad Amin jadi hujah kepada Syi’ah? Untuk berlaku adil dan
objektif anda mesti merujuk kepada sumbernya yang asli.”
“Kenapa aku mesti mengkaji sesuatu perkara yang telah dikenal oleh
kalangan khusus dan umum?” jawabku lagi.
“Ahmad Amin sendiri telah berkunjung ke Iraq. Dan aku di antara orang
yang sempat berjumpa dengannya di Najaf. Ketika kami sentuh mengenai
tulisannya tentang Syiah, beliau meminta maaf sambil berkata: aku tidak
tahu apa-apa tentang kalian dan aku tidak pernah berhubungan dengan
Syi’ah sebelum ini. Ini adalah kali pertama aku berjumpa dengan orangorang
Syiah. Kami berkata kepadanya bahawa satu permohonan maaf
kadangkala lebih buruk dari berbuat kesalahan. Bagaimana anda tidak
tahu apa-apa tentang kami lalu anda tulis segala yang buruk tentang
kami.”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 21
Kemudian beliau melanjutkan:
“Ya akhi, jika hukumkan kesalahan Yahudi dan Nasrani melalui al-Qur’an,
walaupun ianya merupakan hujah kuat bagi kita, tetapi mereka tidak
mengiktirafnya. Suatu hujah akan menjadi sangat kuat jika kesalahan
mereka kita buktikan melalui kitab-kitab yang dipercayainya.”
Perkataan ini menyentuh hatiku bagaikan tersiramnya air yang deras ke
dalam kalbu orang yang dahaga. Aku perhatikan diriku berubah dari
seorang yang berasa hasad dan dengki kepada rasa ingin tahu dan
mengkaji. Aku rasakan mantiknya yang sihat dan hujahnya yang kuat. Apa
salahnya jika aku mengambil sikap rendah hati sedikit dan mendengar
kata-katanya. Aku katakan kepadanya:
“Kalau begitu anda di antara orang yang percaya kepada kenabian
Muhammad?”
“Salallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam,” Jawabnya. Semua orang syiah
percaya pada kenabian itu. Anda, ya akhi mesti mengkajinya sendiri
sehingga anda betul-betul membuktikannya dan tidak menaruh prasangka
terhadap saudara-saudara anda orang syiah, mengingat “sebahagian dari
prasangka itu adalah dosa.” Beliau menambah lagi:
“Jika anda benar-benar ingin mengetahui yang hak dengan mata kepala
anda sendiri dan diyakini pula oleh hati anda, saya menjemput anda untuk
melawat Iraq dan ulama-ulama Syiah serta orang-orang awamnya. Waktu
itu anda akan tahu pembohongan orang-orang yang hasad dengki dan
berniat buruk.”
“Memang cita-citaku ingin melawat Iraq pada suatu hari kelak,”Jawabku
spontan.”Aku ingin melihat peninggalan-peninggalan sejarah Islam yang
ditinggalkan oleh orang-orang Abbasiyyah terutamanya Harun al-Rashid
tetapi pertama-tamanya wang perbelanjaanku terbatas dan aku telah
bercadang akan pergi umrah. Kedua, pasport yang aku bawa tidak
mengizinkan aku masuk ke Iraq.”
“Ketika aku katakan yang aku mahu menjemputmu datang ke Iraq
bermakna aku akan menjamin perbelanjaanmu dari Beirut sehingga
Baghdad, pergi dan balik. Dan anda, akan menginap di rumahku, kelak
sebagai tetamuku. Kedua, berkenaan dengan pasport yang anda katakan
tadi tidak boleh masuk ke Iraq, biarlah kita serahkan pada Allah SWT.
Jika Allah SWT telah mentakdirkanmu untuk melawat Iraq, hatta tanpa
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 22
pasport sekalipun anda akan pergi juga. Kita akan berusaha mendapatkan
visa masuk seketika kita sampai di Beirut kelak.”
Mendengar hal ini, aku sangat gembira sekali. Aku berjanji kepadanya
akan memberi jawapan esok, Insya Allah.
Aku keluar dari kamar tidur dan naik ke atas kapal mencari udara baru.
Aku berfikir sesuatu yang baru. Fikiranku melayang-layang di lautan yang
tidak terbatas itu. Aku mengucapkan Tasbih kepada Tuhanku yang telah
menciptakan alam semesta dan memujiNya. Aku ucapkan rasa terima
kasihku kepadaNya yang telah menyampaikan aku ke tempat ini sambil
memohon kepadaNya agar melindungiku dari segala kejahatan dan
menjagaku dari segala kesalahan. Ingatanku juga melayang-layang
merakam kembali berbagai ingatan yang aku alami dan berbagai
kebahagiaan yang aku lalui dari sejak masa kecilku sehinggalah hari ini.
Aku bercita-cita akan masa depan yang lebih baik. Aku berasa seakan
Allah dan RasulNya menganugerahkan kepadaku suatu kurnia tersendiri.
Aku lihat kembali arah Mesir yang sekali-kali masih memperlihatkan
sebahagian pantainya, sambil mengucapkan selamat tinggal kepada bumi
yang di dalamnya aku cium baju Rasulullah SAWA. Betapa indahnya
kenangan itu. Kata-kata orang syiah tadi juga masih terus berdengung di
telingaku dan sangat menggembirakanku. Betapa tidak kerana cita-citaku
untuk melawat Iraq memang ada di dalam benakku sejak masa kecil lagi.
Dan kini nampaknya hampir menjadi nyata. Iraq seperti yang aku
bayangkan adalah tanah airnya Harun ar-Rashid dan Makmun pengasas
Darul Hikmah, pusat di masa berbagai pelajar dari barat datang
menuntut ilmu pada kurun kegemilangan peradaban Islam dahulu.
Sebagaimana ia juga adalah tanah airnya al-Qutb ar-Rabbani wa-Syaikh
as-Somadani Sayyidi Abdul Kadir al-Jilani di mana namanya dikenal di
seluruh pelusuk dunia dan tarekat ajarannya memasuki semua tempat.
Dan ini bagiku adalah anugerah baru dari Allah SWT.
Lama aku berkhayal dan berangan-angan sehinggalah suara pembesar
kapal tiba-tiba mengejutkanku. Suara itu memanggil semua penumpang
kapal agar pergi ke kantin untuk makan malam. Aku pergi ke sana dan
seperti biasa – manusia bersesak-sesak dan hiruk-pikuk. Tiba-tiba orang
syiah tadi memegang bajuku dan dengan perlahan menarikku ke belakang.
Katanya:”Mar yan akhi. Tak perlu anda menyusahkan diri anda. Biarlah
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 23
kita makan sebentar lagi setelah kesesakan seperti itu menjadi reda. Aku
sejak tadi mencarimu. Anda sudah solat?” Tanyanya kepadaku.”Belum”,
jawabku.”Biarlah kita solat dahulu kemudian makan setelah orang ramai
selesai,”ajaknya.
Aku setuju dengan pendapatnya dan kami pergi ke tempat yang agak
kosong untuk berwudhu. Kemudian aku memintanya menjadi imam
lantaran ingin ‘mengujinya’ bagaimana dia solat, untuk kemudian aku
ulangi solatku semula. Setelah dia solat maghrib dan membaca bacaan dan
doanya dengan baik, serta merta aku ubah niatku tadi. Aku berfikir
seakan-akan aku solat berjamaah dengan salah seorang dari sahabat yang
mulia di mana aku belajar darinya, dari sifat waraknya dan taqwanya.
Setelah solat, beliau membaca doa yang panjang yang tidak aku dengar
seumpamanya di negeri kami dan di negeri-negeri yang aku kenal. Setiap
kali aku dengar beliau berselawat ke atas Muhammad dan keluarganya
dan memuji-mujinya hatiku terasa sangat tenteram dan gembira.
Setelah selesai solat aku perhatikan bekas-bekas tangis membekas dalam
kedua belah matanya. Aku juga mendengar beliau mendoakanku semoga
Allah bukakan mata dan hatiku dan membimbingku.
Kami pergi ke kantin. Tempat duduk sudah nampak kosong. Beliau tidak
mahu duduk sebelum aku sendiri duduk. Pelayan menghantarkan kepada
kami dua pinggan makanan. Dan aku lihat temanku ini menggantikan
pingganku dengan pinggannya kerana bahagian dagingku kurang sedikit
daripada bahagian dagingnya. Beliau melayanku seakan-akan aku ini adalah
tetamunya. Diceritakannya kepadaku berbagai riwayat tentang makanan,
minuman dan adab makanan yang tidak pernah aku dengar seumpamanya
sebelum ini.
Aku sangat kagum dengan akhlaknya ini. Beliau juga menjadi imam kami di
dalam solat Isya’ dan membaca doa-doa yang panjang sehingga
membuatku menangis. Aku bermohon kepada Allah agar merubah
prasangkaku kepadanya kerana mengingatkan bahawa sebahagian dari
prasangka itu adalah dosa. Tetapi siapa tahu?!
Aku tidur dan memimpikan Iraq serta seribu satu malamnya. Aku
terbangun setelah beliau membangunkanku untuk solat Subuh. Kami solat
berjamaah dan berbincang-bincang tentang berbagai nikmat Allah yang
dilimpahkanNya kepada kaum Muslimin.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 24
Kami pergi tidur lagi. Ketika aku bangun aku lihat beliau sedang duduk di
atas katilnya sambil memegang tasbih berzikir kepada Allah SWT.
Melihatnya hatiku terasa tenteram dan jiwa ini terasa tenang. Lalu aku
bermohon ampun kepada Tuhanku.
Ketika kami sedang bersarapan di kantin tiba-tiba pembesar suara
mengumumkan bahawa kapal telah menghampiri pantai Lebanon. Dengan
izin Allah kami akan berada di pelabuhan Beirut dalam masa dua jam lagi.
Beliau bertanya kepadaku apa keputusanku? Aku jawab jika Allah SWT
memudahkan perkara visa masuk, maka tiada alasan untuk menolak
jemputan anda; sambil mengucapkan ribuan terima kasih.
Kami turun di Beirut dan bermalam di sana. Dari sana kami berangkat ke
Damsyik dan terus ke kedutaan Iraq. Di sana aku berjaya mendapatkan
visa untuk masuk dengan cepat sekali, tidak seperti mana yang aku
sangkakan. Sekeluarnya aku dari sana, beliau mengucapkan tahniah
kepadaku dan memuji Allah atas kurniaNya.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 25
Pertama Kali Melawat Iraq
Kami berangkat dari Damsyik ke Baghdad dengan sebuah bas milik
Syarikat an-Najaf al-A’lamiyyah yang berhawa dingin. Waktu itu suhu
panas kota Baghdad sehingga empat puluh darjah celsius. Sesampainya
kami di sana, kami segera pergi ke rumahnya di suatu kawasan yang indah,
Mantiqah al-I’qal. Aku masuk ke rumahnya yang berhawa dingin.
Sebentar kemudian dia datang membawa sehelai baju gamis panjang yang
mereka panggil “Dasydasyah.”
Dihidangkan buah-buahan dan makanan lain. Kemudian ahli keluarganya
masuk dan mengucapkan salam kepadaku dengan penuh adab dan hormat.
Ayahnya memelukku yang seakan-akan dia telah mengenalku sejak lama
dulu. Ibunya berdiri di tepi pintu dengan memakai kain panjang (a’baah)
yang hitam sambil mengucapkan salam dan kata-kata selamat datang
lainya. Temanku ini atas nama ibunya meminta maaf kepadaku kerana
tidak bersalaman. Katanya bersalaman antara lelaki dan perempuan ajnabi
adalah haram.
Aku berasakan lebih hairan lagi. Aku katakan kepada diriku: mereka yang
kita tuduh sebagai orang yang telah terkeluar dari agama ini, justeru
lebih menjaganya dibandingkan dengan kita. dan dari beberapa
perjalananku bersamanya, aku lihat dia mempunyai akhlak yang sangat
tinggi dan jiwa yang bersih. Sikap rendah dirinya dan sifat waraknya
belum pernah aku temuinya seumpamanya sebelum ini. Benar-benar aku
rasakan aku bukanlah seorang asing yang bertamu di rumahnya.
Pada waktu malam kami naik ke atas atap rumah. Tempat tidur telah
dibentangkan untuk kami di sana. Aku masih terjaga sehingga larut
malam. Aku merasa seperti tidak percaya, apakah aku dalam keadaan
mimpi atau benar-benar sedar. Benarkah aku kini berada di Baghdad di
sisi maqam Sayyidi Abdul Kadir al-Jailani?
Temanku tertawa dan bertanya apa yang dikatakan oleh orang-orang
Tunisia tentang Abdul Kadir al-Jailani? Mula aku ceritakan kepadanya
tentang beberapa karamahnya yang sangat masyhur di tempat kami.
Begitu jua tempat-tempat yang menggunakan namanya. Beliau adalah
pusat dari suatu bulatan. Sebagaimana Muhammad Rasulullah SAWA
penghulu para Nabi, maka Abdul Kadir al-Jailani adalah penghulu para
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 26
wali. Telapak kakinya di atas pundak seluruh wali. Beliau yang
berkata:”Seluruh orang tawaf sekitar Rumah Ka’bah untuk tujuh kali dan
aku tawaf di sekitar Rumah itu dengan kemahku.”
Aku cuba menyakinkannya bahawa Syaikh Abdul Kadir al-Jailani
mendatangi sejumlah murid-murid dan pencintanya secara nyata,
mengubati mereka dan menolong kesukaran mereka. Waktu itu aku lupa
atau berpura-pura lupa tentang aqidah Wahabiyyah yang aku ketahui, di
mana mereka mengatakan bahawa kesemua itu adalah syirik kepada Allah.
Ketika aku rasakan bahwa temankan ini tidak ghairah (mendengar
penjelasanku), aku cuba menyakinkan diriku pula bahawa apa yang aku
katakan tadi adalah tidak benar, lalu aku tanyakan pendapatnya.
Sambil tertawa teman ini berkata kepadaku:”Tidurlah dan
beristirehatlah dari segala keletihan yang kau alami. Esok, Insya Allah,
kita akan berziarah ke maqam Syaikh Abdul Kadir al-Jilani.”
Mendengar berita ini aku sangat gembira sekali. Sedemikian hingga
kalaulah waktu itu fajar segera menyingsing tetapi rasa letih yang amat
sangat menyebabkan aku tidur sangat nyenyak sehinggalah matahari
terbit dan hilanglah waktu solat Subuh. Temanku memberitahu bahawa
dia berkali-kali cuba membangunkanku tetapi mungkin lantaran terlalu
letih aku tidak mendengarnya.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 27
Abdul Kadir Jailani Dan Musa al-Kazim
Setelah sarapan pagi kami pergi ke maqam Syaikh Abdul Kadir al-Jailani.
Dari jauh aku dapat melihat maqam yang selama ini aku bermimpi untuk
menziarahinya. Aku bergegas seakan-akan aku sangat merindukannya.
Dengan keseronokan yang tersendiri aku masuk ke dalam seakan aku
akan segera berada di pelukannya. Temanku ini mengikuti ke mana juga
aku pergi. Akhirnya aku tenggelam dalam kumpulan penziarah makam ini
yang bagaikan jamaah haji Baitullah al-Haram. Ada di antara mereka
menebarkan segenggaman manisan, sementara para penziarah berebutrebut
untuk mengutipnya. Aku cepat-cepat mengambil dua biji manisan
itu. Yang satu aku makan sebagai berkat dan satu lagi aku simpan dalam
poketku sebagai kenangan.
Aku solat di sana dan berdoa pendek. Kemudian aku minum airnya yang
seakan air zamzam. Aku minta temanku menunggu sejenak lantaran aku
ingin menulis surat ringkas kepada sejumlah sahabatku di Tunisia, dengan
menggunakan poskad yang kesemuanya berlatarbelakangkan gambar
kubah makam Syaikh Abdul Kadir al-Jailani yang berwarna hijau.
Tujuanku semata-mata ingin membuktikan kepada sahabat-sahabat dan
keluargaku di Tunisia betapa baiknya ‘nasibku’ sehingga aku dapat sampai
ke tempat makam yang mereka sendiri belum pernah sampai ke sana.
Sekembalinya dari sana kami makan tengahari di suatu restoran
tempatan yang terletak di tengah-tengah kota Baghdad. Kemudian
temanku mengajakku pergi ke Kazimiah dengan menaiki teksi. Nama ini
aku ketahui setelah mendengar temanku menyebutkannya kepada
pemandu teksi tadi. Setelah beberapa langkah kami berjalan kami
terlihat pada sekumpulan ramai orang lelaki dan perempuan, yang lengkap
dengan bekalannya berjalan ke satu arah. Hal ini mengingatkanku pada
waktu musim haji. Aku masih belum tahu arah tempat tujuan mereka
sehinggalah nampak pandanganku beberapa kubah dan menara keemasan
yang menarik perhatian. Aku faham yang itu adalah salah satu dari masjid
syiah, kerana mengikut pengetahuanku mereka memang menghias masjidmasjid
mereka dengan emas dan perak yang diharamkan oleh Islam.
Aku merasa sangat berat untuk masuk ke dalam. Namun kerana ingin
menjaga perasaan temanku, akhirnya aku ikut tanpa ada pilihan.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 28
Kami masuk dari pintu pertama. Aku perhatikan orang-orang tua
mengusap dan mencium pintu-pintu masuk itu. Mataku terpandang pada
suatu papan besar yang bertulisan “Dilarang Masuk Wanita Yang Tidak
Menutup Aurat”. Di sana juga ada tulisan kata-kata Imam Ali “Akan
datang kepada manusia suatu zaman di mana wanita-wanitanya keluar
dengan memakai pakaian yang tipis…”Kami tiba di makam. Ketika temanku
membaca bacaan izin masuk, aku melihat-lihat pintu itu dan kagum dengan
ukiran-ukiran emas ayat-ayat al-Qur’an.
Temanku masuk ke dalam dan aku juga ikut di belakangnya. Aku sangat
berhati-hati kerana fikiranku masih teringat akan sejumlah buku-buku
yang mengkafirkan syiah. Aku lihat bahagian dalam makam penuh dengan
ukiran dan hiasan yang tidak pernah terbayangkan oleh fikiranku. Aku
sangat terkejut dengan apa yang aku saksikan itu. Aku bayangkan diriku
berada di suatu tempat yang asing dan tidak biasa sama sekali. Kadangkadang
aku melihat dengan jijik pada mereka yang mengelilingi sekitar
kuburan itu sambil menangis dan mencium-cium tiang dan besi-besinya.
Ada sebahagian yang lain berdiri solat dekat dengan kuburan itu. Aku
teringat pada hadith Rasul yang bermaksud:”Allah melaknat kaum Yahudi
dan Nasrani lantaran mereka menjadikan kuburan para wali mereka
sebagai masjid.”
Aku menjauhkan diri dari temanku yang seketika terus sahaja menangis.
Kemudian dia solat. Aku mendekat pada suatu tulisan yang mengandungi
doa ziarah yang tergantung di atas makam. Aku membacanya tetapi
banyak yang tidak mengerti. Ianya mengandungi sejumlah mana yang
asing bagiku. Kemudian aku berdiri di satu sudut yang agak jauh lalu
membacakan al-Fatehah kepada orang yang ada dalam kuburan itu. Aku
berdoa:”Ya Allah, sekiranya orang yang ada dalam kubur ini adalah dari
golongan Muslimin maka kasihanilah dia. Dan Kau lebih mengetahui
dariku.”
Temanku mendekat dan membisikkan kepadaku: seandainya kau
mempunyai apa-apa hajat maka mintalah kepada Allah di tempat ini. Kami
menamakan tempat ini dengan Bab al-Hawaij (Pintu Hajat). Aku tidak
memperdulikan kata-katanya, semoga Allah memaafkanku. Aku terus
memandang orang-orang tua yang memakai serban hitam dan putih,
sementara dahi-dahi mereka nampak hitam bekas tanda sujud. Mereka
nampak lebih berwibawa dengan janggut mereka yang terjulur rapi dan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 29
memberikan semerbak wangi. Pandangan mereka sangat tajam dan
menakutkan. Setiap kali mereka masuk ke tempat itu mereka menangis
tersedu-sedu. Aku bertanya sendiri apakah mungkin airmata itu adalah
airmata yang tidak jujur? Apakah mungkin mereka yang tua-tua itu
salah?
Aku keluar dari sana dengan rasa penuh hairan dan bingung dari apa yang
aku saksikan tadi. Sementara temanku ini keluar sambil mengundurkan
diri agar tidak membelakangi kuburan tersebut. Aku bertanya kepadanya:
“Siapa tuan makam ini?”
“Imam Musa al-Kazim,”jawabnya.
“Siapa Imam Musa al-Kazim?”
“Subhanallah, kalian sebagai saudara-saudara kami Ahlul Sunnah Wal-
Jamaah meninggalkan isi dan berpegang hanya pada kulit semata-mata.”
“Apa maksud anda mengatakan yang kami hanya memegang kulit dan
meninggalkan isi?”, tanyaku dengan geram.
“Ya Akhi!” Dia cuba menenangkan aku.”Sejak kau tiba di Iraq, anda
sentiasa menyebut-nyebut nama Abdul Kadir al-Jailani. Siapa itu Abdul
Kadir al-Jailani sehingga menyebabkan anda memberikan seluruh
perhatian anda kepadanya?”
“Beliau adalah dari anak-zuriat Nabi. Seandainya ada Nabi lain selepas
Nabi Muhammad maka Abdul Kadir al-Jailanilah yang akan menjadi nabi.”
“Ya akhi Samawi. Apakah anda tahu tentang sejarah Islam?”.
“Ya,”jawabku tanpa ragu-ragu.
Padahal aku tidak tahu sama sekali sejarah Islam. Mengingatkan guruguru
kami dahulu melarang kami membaca sejarah. Mereka berkata
bahawa itu adalah sejarah hitam dan gelap, tidak ada guna membacanya.
Aku masih ingat contohnya seorang guru mengajar kami subjek Ilmu
Balaghah. Waktu itu beliau mengajar kami Khutbah Syiqsyiqiyah dari
kitab Nahjul Balaghah himpunan khutbah-khutbah Imam Ali. Aku dan
sebilangan murid-murid yang lain merasa hairan ketika membacanya. Aku
beranikan diri untuk bertanya apakah benar ianya kata-kata Imam Ali.
Guruku menjawab:”Ya. Apakah ada orang lain yang mempunyai balaghah
sedemikian tinggi selain darinya. Kalaulah ini bukan kata-kata Imam Ali
Karamallah Wajhahu, maka ulama-ulama Muslimin seperti Syaikh
Muhammad Abduh, Mufti Besar Mesir tidak akan mahu
mensyarahkannya.” Kemudian aku katakan: Imam Ali telah menuduh Abu
Bakar dan Umar merampas haknya dalam kekhalifahan. Mendengar ini
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 30
guruku melenting dan sangat marah sehingga mengecamku keluar jika
mengulangi soalan yang serupa. Katanya: kami mengajar ilmu Balaghah,
bukn ilmu sejarah. Kita jangan ambil peduli dengan sejarah yang telah
dihitamkan lembarannya oleh berbagai fitnah dan pertumpahanpertumpahan
darah di antara sesama Muslimin. Sebagaimana Allah telah
sucikan pedang kita dari darah-darah mereka, maka kita sucikan juga
lidah-lidah kita dari mencari mereka.”
Aku tidak puas hati dengan hujah guruku di atas. Aku masih menaruh
rasa ‘dendam’ kepada guruku yang mengajar ilmu balaghah tanpa
maknanya itu. Aku berkali-kali berusaha mengkaji sejarah Islam tetapi
aku tidak mempunyai buku rujukan yang cukup. Aku tidak jumpai satu pun
dari ulama kami yang memberikan perhatian kepadanya, yang seakan-akan
mereka sepakat untuk menutup lembarannya. Anda tidak akan dapati
yang mereka mempunyai buku sejarah yang sempurna.
Ketika temanku menanyakanku tentang pengetahuan ilmu sejarah aku
ingin sekadar membantahnya dengan mengatakan: ya. Padahal dalam
benakku aku berfikir tiada gunanya sama sekali, ia adalah sejarah hitam
dan gelap; tiada lain kecuali fitnah, perang dan berbagai kotradiksi.
Temanku bertanya lagi kepadaku:
“Tahukah anda bila Abdul Kadir al-Jailani dilahirkan dan di zaman apa?”
“Kira-kira pada kurun keenam atau ketujuh.”
“Berapa lama jaraknya dengan zaman Rasulullah?”
“Enam abad,”jawabku.
“Jika satu abad ada dua generasi – paling sedikit – maknanya antara
Abdul Kadir al-Jailani dengan Rasulullah dipisahkan oleh dua belas
keturunan.”
“Ya,”jawabku.
“Yang ini adalah Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husayn bin
Fatimah az-Zahra, yang nasabnya sampai kepada datuknya Nabi SAWA
hanya empat ayah sahaja. Atau lebih tepat beliau dilahirkan pada kurun
kedua Hijrah. Mana yang lebih dekat kepada Rasulullah SAWA, Musa
atau Abdul Kadir?”
“Tentu yang ini,” jawabku tanpa berfikir lagi.”Tetapi kenapa kami tidak
mengenalnya dan tidak pernah mendengar tentang dirinya?”
“Inilah perkara yang mesti kita fikirkan. Itulah kenapa aku katakan tadi
bahwa kalian – maaf – meninggalkan isi dan berpegang hanya pada kulit
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 31
sahaja. Maafkan saya mengatakam demikian.”
Kami berbincang sambil berjalan sehinggalah kami tiba di suatu
perhimpunan ilmu di mana para pelajar dan sejumlah ustaza sedang asyik
berdiskusi dan bertukar fikiran. Kami duduk di sana. Temanku nampak
mencari-cari seseorang yang seakan ada janji dengannya. Seorang datang
menghampirinya setelah mengucapkan salam. Aku fahami bahawa dia
adalah teman pelajarnya dari satu universiti. Ditanyanya tentang
seseorang yang dari jawapannya aku fahami bahawa dia adalah seorang
doktor. Dia akan datang dalam masa tidak lama lagi. Kemudian temanku ini
berkata kepadaku: Aku membawamu ke tempat ini kerana ingin
mengenalkanmu dengan seorang doktor pakar ilmu sejarah beliau adalah
pensyarah di Universiti Baghdad. Tesisnya dahulu adalah tentang sejarah
Abdul Kadir al-Jailani. Insya Allah dia akan memberimu manfa’at kerana
aku sendiri bukan pakar dalam bidang ini.
Kami minum air sari buah yang sejuk. Tidak lama kemudian, Doktor pakar
sejarah itu tiba. Sambil berdiri temanku mengucapkan salam kepadanya.
Diperkenalkannya aku kepadanya dan dimintanya agar Doktor ini
menceritakan kepadaku tentang sejarah Abdul Kadir al-Jailani secara
ringkas. Lalu dia sendiri minta izin sebentar kerana beberapa perkara
penting yang mesti dilakukannya. Doktor ini pun memesan lagi untukku
segelas minuman sejuk lain. Lalu mula menanyakan namaku, negeriku dan
kerjaku. Dia juga memintaku bercerita tentang kemasyhuran Abdul
Kadir al-Jailani di Tunisia.
Banyak aku ceritakan kepadanya kisah-kisah berkenaan dengan Abdul
Kadir al-Jailani ini, hingga aku katakan – sebahagian orang percaya
bahawa Abdul Kadir al-Jailani telah memikul Nabi SAWA pada malam
mikrajnya baginda ketika malaikat Jibril berundur dan takut terbakar.
Kemudian Nabi SAWA berkata kepadanya: telapak kakiku di atas bahumu
dan telapak kakimu di atas bahu para wali sehinggalah hari kiamat.
Mendengar ini Doktor itu tertawa. Entahlah apakah kerana riwayat
ceritanya ataukah kerana ustaz Tunisia yang berada di hadapannya.
Setelah diskusi ringkas tentang wali-wali dan orang-orang soleh beliau
berkata bahawa beliau telah mengkaji sepanjang tujuh tahun tentang
Abdul Kadir al-Jailani ini. Beliau telah berangkat ke Lahore Pakistan,
Turki, Mesir, England, dan tempat-tempat lain yang menyimpan manuskrip
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 32
tulisan tangan tentang Abdul Kadir al-Jailani. Semua manuskrip ini dibaca
bahkan digambar. Kesemua manuskrip yang ada tidak membuktikan
bahawa Abdul Kadir al-Jailani
adalah dari keturunan Nabi SAWA. Paling hampir ada sebuah syair yang
dinisbahkan kepada salah seorang dari cucunya, antara lain berbunyi:”
Dan datukku Rasulullah.” Sebahagian ulama mengertikannya bahawa
ucapan itu adalah takwil dari sebuah hadith Nabi yang bermaksud:”Aku
adalah datuk bagi setiap orang yang bertaqwa.” Sejarah yang sohih juga
membuktikan bahawa Abdul Kadir al-Jailani adalah berasal dari Parsi,
bukan Arab. Beliau dilahirkan di suatu negeri di Iran yang bernama Jilan,
dan kepada negeri itulah Syaikh Abdul Kadir dinisbahkan. kemudian
beliau pergi ke Baghdad belajar dan mengajar pada masa di mana akhlak
masyarakat saat itu sudah sangat runtuh.
Syaikh Abdul Kadir al-Jailani adalah seorang yang zahid (mempunyai
sifat zuhud). Masyarakat sekitarnya sangat mencintainya. Selepas
wafatnya maka mereka dirikan suatu tarekat atas nama Syaikh
Qadiriyyah seperti yang biasa dilakukan olen pengikut-pengikut orangorang
sufi. Kemudian beliau menambahkan lagi:”Sungguh, dari segi ini
keadaan orang-orang Arab sangat mengecewakan.”
Tiba-tiba rasa keWahabiyyahan timbul dalam diriku. Aku katakan
kepadanya:
“Kalau begitu anda ini berfikiran Wahabi hai Doktor. Mereka berkata
seperti anda bahawa istilah wali sama sekali tidak ada (dalam Islam).”
“Tidak. Aku tidak sepakat dengan pendapat Wahabiyyah. Yang sangat
mengecewakan kaum Muslimin adalah sikap mereka sama ada i’frat
(berlebih-lebihan) atau tafrit (jumud). Sama ada mereka percaya dengan
semua khurafaat yang tidak bersandarkan pada hujah syarak atau akal
atau mereka menolak sama sekali hatta kepada mukizat Nabi kita
Muhammad SAWA dan hadith-hadithnya. Lantaran tidak sejalan dengan
aqidah ini dan kecenderungan yang mereka percayai. Satu puak terbit dan
yang lainnya tenggelam. Orang-orang sufi berkata bahawa Syaikh Abdul
Kadir al-Jailani misalnya pada suatu masa boleh berada di Baghdad dan
dalam masa yang sama juga boleh berada di Tunisia. Atau beliau
mengubati seorang yang sakit di Tunisia dan dalam masa yang sama juga
menyelamatkan seorang yang tenggelam di dalam sungai Dajlah di Iraq.
Ini adalah sikap berlebih-lebihan. Sementara Wahabi sebagai reaksi
kepada sufi menolak semua ini bahkan mengatakan syirik kepada mereka
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 33
yang bertawasul kepada Nabi SAWA. Ini adalah sikap yang jumud, ya
akhi. Kita sepatutnya seperti yang difirmankan oleh Allah SWT di dalam
kitabNya yang bermaksud:”Demikianlah Kami jadikan kamu sebagai
ummat yang pertengahan agar kelak menjadi saksi kepada ummat manusia
“[Al-Baqarah: 143]
Kata-katanya itu sangat mengkagumkanku dan secara prinsip aku
berterima kasih kepadanya. aku juga menampakkan kepadanya rasa
kepuasanku atas apa yang dicakapkannya. Kemudian beliau membuka
begnya dan mengeluarkan sebuah buku tentang Abdul Kadir al-Jailani,
lalu dihadiahkannya kepadaku. Dijemputnya aku datang ke rumahnya
tetapi aku meminta maaf lantaran beberapa hal. Kami terus berbual
tentang Tunisia dan Afrika Utara hinggalah temanku itu datang. Pada
waktu malam kami pulang ke rumah setelah satu hari penuh kami
berziarah dan berdiskusi. Aku rasakan badan sangat letih sehingga aku
menyerah diri untuk tidur.
Pada waktu subuh aku bangun dan solat. Kemudian aku duduk membaca
kitab yang mengkaji tentang kehidupan Abdul Kadir al-Jailani sehinggalah
aku dapat selesaikan setengahnya sebelum kedatangan temanku. Dia
berulang kali memanggilku untuk bersarapan pagi, tetapi aku menolaknya
sehinggalah aku selesaikan terlebih dahulu buku yang aku baca itu. Buku
tersebut sangat memukauku dan berhasil memasukkan rasa keraguan
dalam diriku. Namun ianya sirna sebelum aku meninggalkan Iraq.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 34
Ragu-ragu
Aku telah berada di rumah temanku selama tiga hari. Dalam masa itu aku
juga sering merenungkan kata-kata yang aku dengar dari mulut mereka.
Bagiku mereka adalah orang-orang asing yang aku temui yang seakan
selama ini mereka hidup di permukaan bulan. Kenapa tiada seorang pun
yang memberitahu kami tentang mereka melainkan perkara-perkara
buruk dan dusta sahaja. Kenapa aku mesti membenci dan mendengki
mereka tanpa terlebih dahulu mengenal mereka. Mungkin ini adalah hasil
dari fitnah-fitnah yang kami dengar tentang mereka, kononnya mereka
menyembah Ali, menempatkan imam-imam mereka setaraf dengan Tuhan,
mempercayai hulul (inkarnasi), menyembah batu selain dari Allah, dan
mereka – seperti yang diceritakan oleh ayahku sepulangnya dari haji -
mendatangi kuburan Nabi untuk melemparnya dengan berbagai kotoran
dan najis lalu mereka ditangkap oleh kerajaan Saudi dan dihukum mati.
Dan berbagai lagi tuduhan yang tidak dapat dimuatkan di sini.
Tidak hairanlah kalau kaum Muslimin mendengar ini lalu bersikap dengki
kepada mereka bahkan membenci mereka dan mungkin juga memerangi
mereka?!
Tetapi bagaimana mungkin aku dapat percaya pada fitnah-fitnah seperti
itu sementara mata dan telingaku sendiri menyaksikan lain dari itu
semua. Kini aku telah berada di sekitar mereka lebih dari seminggu,
namun tidak aku lihat atau aku dengar dari mereka kecuali kata-kata
yang logik yang menembus akal fikiran tanpa hambatan sedikitpun.
Bahkan cara mereka beribadah, solat, berdoa, akhak, dan sikap hormat
mereka kepada para ulama mereka sangat mengkagumkanku hatta aku
sendiri berangan-angan untuk menjadi seperti mereka.
Aku masih bertanya-tanya benarkah mereka membenci Rasulullah
SAWA? Setiap kali aku sebut tentang Muhammad untuk menguji mereka,
serta merta mereka akan mengangkat suara menyebut salawat kepada
Muhammad dan keluarganya.
Mula-mula aku fikir bahawa mereka mungkin berpura-pura tetapi
dugaanku meleset setelah aku buka lembaran-lembaran buku mereka yang
aku baca sedikit. Di dalamnya aku dapati sikap hormat dan memuliakan
Nabi lebih dari apa yang tertulis di dalam kitab-kitab kami sendiri.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 35
Mereka mengatakan bahawa Nabi itu maksum dalam segala hal, sama ada
sebelum baginda diutus sebagai Nabi atau selepas diutus. Sementara kita
Ahlul Sunnah Wal-Jamaah mengatakan bahawa Nabi maksum hanya di
dalam menyampaikan al-Qur’an sahaja. Selebihnya baginda adalah
manusia biasa yang juga bersalah. Seringkali kita juga berdalih atas
kesalahannya dengan membenarkan tindakan atau pendapat sebahagian
sahabat. Kita banyak mempunyai contoh-contoh dalam hal ini. Namun
orang syiah menolak mengatakan bahawa Rasulullah SAWA melakukan
kesalahan sementara sahabat benar semata-mata. Nah, bagaimana
mungkin aku akan mempercayai bahawa orang-orang syiah membenci Nabi
SAWA?
Suatu hari aku bercakap kepada temanku dan memintanya bersumpah
agar menjawab soalan-soalanku dengan tegas. Antara lain:
“Kalian (orang syiah) meletakkan Ali RA pada kedudukan para nabi, setiap
kali aku dengar kalian menyebut nama Ali, maka kalian akan
mengiringkannya dengan sebutan alaihis-salam.”
“Ya, memang benar kami mengucapkan alahis-salam setiap kali kami
menyebut nama Ali atau para Imam dari keturunannya. Itu tidak bererti
bahawa mereka adalah para nabi. Mereka adalah zuriat Nabi Muhammad
SAWA dan keluarganya di mana Allah perintahkan kita untuk
mengucapkan salawat kepadanya. Dengan demikian maka boleh juga kita
ucapkan kepada mereka alahi-mussolatu wa-salam.”
“Tidak, ya akhi. Kami hanya mengkhususkan salawat dan salam kepada
Nabi Muhammad dan para nabi sebelumnya sahaja. Ali dan anak-anaknya
RA tidak termasuk dalam kategori ini.”
“Aku harap anda perlu membaca lebih banyak lagi agar dapat mengetahui
hakikat yang sebenarnya.”
“Kitab apa yang mesti aku baca, ya akhi. Bukankah anda yang mengatakan
bahawa kitab-kitab karya Ahmad Amin tidak hujah kepada syiah.
Demikian juga kitab-kitab syiah tidak hujah kepada kami dan tidak dapat
dipegang. Bukahkah kitab-kitab Nasrani yang dipegang mengatakan
bahawa Isa AS pernah mengatakan dirinya,”Sesungguhnya aku adalah
anak Allah….”Sementara al-Qur’an – kitab yang paling benar – menuliskan
kata-kata Isa bin Maryam…” Aku tidak katakan kepada mereka kecuali
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 36
apa yang Kau perintahkan aku bahawa sembahlah Allah Tuhanku dan
Tuhan kalian.”
“Baik. Sungguh baik. Apa yang aku inginkan hanya ini, yakni penggunaan
akal dan logik serta berhujah dengan al-Qur’an al-Karim dan Sunnah
yang sahih selagi kita sebagai orang-orang Muslimin. Seandainya
percakapan kita dengan orang-orang Yahudi atau Nasrai, maka hujah kita
akan lain lagi bentuknya.”
“Lalu di kitab manakah aku akan dapatkan kebenaran. Setiap pengarang,
setiap puak dan setiap madzhab mengaku dirinya di atas jalan yang
benar.”
“Aku akan berikan kepadamu suatu dalil yang nyata di mana semua kaum
Muslimin dalam berbagai madzhab dan puak tidak akan berselisih
tentangnya. Sayangnya anda juga tidak mengetahuinya. Dan katakanlah,
Tuhanku tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan.”
Apakah anda pernah membaca tafsir ayat berikut:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya berselawat ke atas Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kalian ke atasnya dan
ucapkanlah salam (Al-Ahzab: 56). Para ahli tafsir, sunnah dan syiah
meriwayatkan bahawa sahabat datang kepada Nabi SAWA dan bertanya:
ya Rasulullah, kami tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu
tetapi kami tidak tahu bagaimana cara mengucapkan salawat kepadamu.
Kemudian baginda menjawab – katakanlah, ya Allah, kirimlah salawat
kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala
Muhammad wa-ali Muhammad) sebagaimana kau kirimkan salawat ke atas
Ibrahim dan keluarga Ibrahim di alam semesta. Sesungguhnya Engkau
Maha Terpuji dan Maha Agung. Dan jangan kalian ucapkan salawat
kepadaku dengan salawat yang terputus. Sahabat bertanya, ya Rasulullah
apa itu salawat yang terputus. Baginda menjawab: kalian mengucapkan
salawat kepada Muhammad namun setelah itu kalian diam. Sesungguhnya
Allah itu Maha Sempurna dan tidak menerima melainkan yang sempurna
juga.”
Itulah kenapa para sahabat dan generasi berikutnya tahu bagaimana cara
mengucapkan salawat kepada Rasulullah SAWA secara sempurna.
Hinggakan Imam Syafie pernah berkata di dalam sebuah syairnya:
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 37
“Wahai keluarga Rasulullah mencintai kalian adalah fardhu dari Allah
di dalam al-Qur’an yang diturunkanNya
sudah cukup suatu keagungan bagi kalian
siapa yang tidak bersalawat kepada kalian
maka tiada akan sah solatnya.”
Kata-kata ini benar-benar mengetuk telingaku dan menembus jauh ke
dalaman hatiku. Aku dapati suatu reaksi yang positif berlaku dalam
jiwaku. Secara jujur harus aku akui bahawa aku pernah membaca tulisan
serupa itu dalam sebuah buku. Tetapi aku tidak ingat nama kitab itu
secara pasti. Aku katakan kepadanya bahawa ketika kami mengucapkan
salawat kepada Nabi kami juga mengucapkan salawat kepada keluarganya
dan seluruh sahabatnya. Kami tidak mengkhaskan salam kepada Ali
seperti yang dilakukan oleh orang-orang syiah.
“Apa pendapatmu tentang Bukhari? Apakah beliau orang syiah?”,
tanyanya kepadaku.
“Beliau adalah seorang Imam yang agung dari kalangan Ahlul Sunnah Wal-
Jamaah, Kitabnya adalah kitab yang paling sahih selepas kitab Allah.”
Kemudian beliau berdiri dan mengambil kitab al-Bukhari dari
perpustakaannya. Di carinya halaman yang diinginkannya lalu diberikanya
kepadaku untuk dibaca. Isinya:”Diriwayatkan oleh Fulan bin Fulan dari Ali
alahis-salam. Melihat ini mataku tidak percaya sama sekali. Aku terkejut
bahkan ragu-ragu apakah benar kitab ini adalah kitab Sahih Bukhari.
Berkali-kali aku lihat halaman dan nama buku ini apakah benar ianya
adalah Sahih Bukhari. Ketika temanku ini merasakan keraguankeraguanku,
maka ia ambil kitab tersebut dari tanganku dan dibukanya
lagi halaman lain. Isinya: diriwayatkan oleh Ali bin Husayn alaihimassalam.
Waktu itu juga jawapanku kepadanya hanyalah mengucapkan
kalimah Subhanallah. Kemudian beliau meninggalkanku dan keluar.
Aku terus berfikir dan mengulangi membaca halaman-halaman yang
ditunjukkannya padaku. Aku teliti cetakan mana yang mengeluarkan kitab
ini. Aku dapati ia dicetak oleh Syarikat “al-Halabi dan Anak-anak” di
Mesir.
Ya Ilahi! Kenapa aku mesti membantah dan bersikap sombong. Dia telah
memberikanku suatu hujah yang nyata dari kitab yang paling sahih di sisi
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 38
kami. Bukhari pasti bukan seorang syiah. Beliau adalah di antara imamimam
Ahli Sunnah dan ahli hadith mereka yang agung. Apakah aku mesti
menyerah pada kebenaran ini, yakni mengatakan alaihis-salam ketika
menyebut nama Ali. Tetapi aku takut akan hakikat ini, mengingatkan
mungkin ada hakikat lain yang menyusul yang tidak ingin aku akui. Aku
telah kalah hujah di hadapan temanku ini sebanyak dua kali. Aku telah
mengendurkan kepercayaanku tentang kesucian Abdul Kadir al-Jailani
dan aku menerima bahawa Musa al-Kazim adalah lebih utama darinya. Aku
juga menerima kenyataan bahawa Ali patut menerima kelayakan alaihissalam.
Tetapi aku tidak mahu menerima kekalahan yang lain. Aku yang
sebelum ini dikenal di Mesir sebagai seorang alim, bahkan ulama-ulama al-
Azhar memuji kehebatanku, tiba-tiba hari ini aku dapati diriku kalah dan
tidak berdaya. Dari siapa? Dari mereka yang sebelum ini dan sampai
sekarang masih aku percayai sebagai puak yang salah. Aku tidak terbiasa
mengetahui bahawa kalimat syiah adalah identik dengan cacian.
Sungguh ini adalah sikap sombong dan ego, rasa taasub dan membantah.
Ya Allah, bimbinglah aku. Bantulah aku di dalam menerima kebenaran
walau itu pahit. Ya Allah, bukalah pandangan mata dan hatiku.
Tunjukkanlah aku ke jalan yang lurus. Jadikanlah aku di antara orangorang
yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik. Ya Allah,
perlihatkanlah kepada kami kebenaran, lalu kurniakan kepada kami untuk
mengikutinya. Perlihatkanlah juga kepada kami kebatilan, lalu kurniakan
kami untuk menghindarinya.
Sambil membaca-baca doa ini kami kembali pulang ke rumah. Sambil
tersenyum beliau berkata: semoga Allah membimbing kami dan anda
serta semua kaum Muslimin. Allah telah berfirman di dalam
KitabNya:”Dan sesiapa yang berjuang di jalan Kami, maka Kami akan
menunjukkan kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama
orang-orang yang baik(Al-Ankabut:69).
Kalimah berjuang di dalam ayat ini bermaksud mengkaji ilmu yang
mungkin akan menbawa kepada suatu kebenaran. Dan Allah SWT akan
membimbing kepada kebenaran bagi mereka yang mencari kebenaran itu
sendiri.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 39
Berangkat Ke Najaf
Malam itu temanku memberitahuku bahawa besok Insya Allah kami akan
pergi ke Najaf. “Apa itu Najaf?,”tanyaku.”Satu kota ilmu, tempat maqam
Imam Ali,”jawabnya. Aku merasa sangat hairan bagaimana Imam Ali
mempunyai kuburan yang dikenal. Bukankah syaikh-syaikh kami
mengatakan bahawa Sayyidina Ali tidak diketahui dengan pasti di mana
kuburannya?
Kami berangkat dengan kenderaan umum sehinggalah sampai di Kufah. Di
sana kami melawat Jami’ al-Kufah, salah satu di antara peninggalan Islam
yang terkenal. Temanku menunjukkan kepadaku berbaga tempat
bersejarah seperti Jami’ Muslim bin Aqil dan Hani’ bin Urwah.
Diceritakannya kepadaku secara ringkas bagaimana mereka berdua
syahid. Ditunjukkannya juga kepadaku Mihrab tempat syahidnya Imam
Ali, dan rumah tempat kediaman beliau bersama dua putranya Sayyidina
Hasan dan Sayyidina Husayn. Di rumah itu masih ada telaga tempat
mereka mengambil air minum dan berwudhuk. Untuk seketika aku rasakan
keasyikan jiwa menyaksikan betapa zuhudnya kehidupan Imam dan betapa
sederhananya beliau, seorang Amirul Mukminin dan Khalifah yang
keempat.
Aku juga tidak dapat melupakan sikap rendah diri dan hormat yang aku
saksikan dari penduduk Kufah. Setiap kali kami berlalu pada suatu
kumpulan, mereka akan berdiri sambil mengucapkan salam kepada kami.
Salah seorang dari mereka – ketua sebuah kolej di Kufah – menjemput
juga dengan anak-anaknya dan sempat bermalam. Aku rasakan yang
seakan aku berada di tengah keluargaku. Setiap kali mereka akan
menyebutnya dengan kata-kata “Saudara-saudara kita dari Mazhab Ahlul
Sunnah”. Aku sangat senang dengan ucapan-ucapan mereka. Dan aku
tanyakan kepada mereka beberapa soalan untuk menguji sejauh mana
kejujuran kata-kata mereka.
Kemudian kami menuji Najaf, sejauh sepuluh kilometer dari Kufah.
Setibanya di sana gambaran tentang masjid al-Kazimiah terukir kembali
dalam fikiranku. Menara-menara keemasan nampak mengelilingi kubah
yang diperbuat dari emas tulen. Kami masuk ke Haraam Imam setelah
membaca izin masuk seperti kebiasaan para penziarah syiah. Di sini aku
saksikan sesuatu yang lebih hebat dari yang pernah aku lihat di Jami’
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 40
Musa al-Kazim. Seperti biasa aku membaca Surah al-Fatihah tanpa
menaruh keyakinan bahawa orang yang berada di kubur ini adalah Imam
Ali. Aku seakan lebih percaya tentang kesederhanaan rumah yang dihuni
oleh Imam Ali di Kufah. Aku berkata kepada diriku, jah sekali Imam Ali
akan rela dengan kemegahan emas dan perak seperti ini sementara
orang-orang Islam mati kelaparan di bahagian lain di dunia. Khususnya
setelah aku saksikan beberapa orang miskin yang meminta-minta sedekah
di jalan-jalan sekitar kawasan itu. Jiwaku memprotes: wahai orang-orang
syiah, kalian keliru. Paling tidak akuilah kesalahan ini. Imam Ali adalah
orang yang diutus oleh Rasul untuk menyamaratakan kuburan, lalu apa
ertinya kuburan yang dihiasi dengan emas dan perak ini. Walaupun ini
tidak merupakan syirik kepada Allah, paling tidak ia adalah suatu
kesalahan yang besar yang tidak akan diampuni oleh Islam.
Temanku bertanya kepadaku sambil menghulurkan sepotong tanah kering
apakah aku mahu solat? Aku menjawabnya dengan tegas – kami tidak
solat di sekitar kuburan !? ” Kalau begitu tunggu aku sebentar untuk solat
dua rakaat sunat.”
Sambil menunggu aku membaca beberapa tulisan yang tergantung di atas
maqam. Dari celah-celah besi perak yang berukir aku lihat berbagai wang
yang terhimpun. Dirham, riyal, dinar, dan lerah. Semuanya itu diberikan
oleh para penziarah sebaga tabaruk (mengambil barakah) di dalam kerjakerja
amal yang berkaitan dengan maqam ini. Kerana banyaknya, aku
sangka ia telah terkumpul dalam masa berbulan-bulan. Tetapi temanku
berkata bahawa para petugas yang bertanggungjawab mengutipnya setiap
malam selepas solat Isyak.
Aku keluar dan sana sambil menyimpan rasa geram. Aku bayangkan tentu
lebih baik kalau mereka memberikan sedikit atau membahagibahagikannya
kepada para fakir miskin yang begitu banyak di sana. Di
sekitar maqam aku perhatikan berbagai kumpulan orang solat dan
sebahagian yang lain mendengar ceramah yang disampaikan oleh
penceramah di atas mimbar. Aku dengar sebahagian mereka ada yang
menangis tersedu-sedu dan sebahagian yang lain ada yang memukul-mukul
dada. Aku ingin sekali menanyakan kepada temanku apakah sebabnya
mereka menangis begitu sekali dan memukul-mukul dada. Tiba-tiba satu
jenazah diusung berdekatan kami, dan aku saksikan juga sebahagian
mereka mengangkat kerandanya di tengah-tengah ruangan lalu
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 41
menurunkannya di sana. Aku fikir tangisan mereka mungkin kerana si mati
yang meninggal itu.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 42
Perjumpaan Dengan Ulama
Temanku mengajakku pergi ke suatu masjid yang berada di sisi jamik. Di
dalamnya terbentang permaidani yang indah dan mihrabnya juga terukir
ayat-ayat al-Qur’an yang sangat menarik. Tiba-tiba mataku terpandang
pada sekumpulan anak-anak remaja yang berserban yang sedang duduk
berhampiran mihrab. Mereka sedang belajar bersama-sama sambil
memegang kitab masing-masing. Aku sangat terpesona dengan
pemandangan yang indah ini kerana begitu muda, yang berumur sekitar
tiga belas tahun hingga enam belas tahun. Yang lebih menambahkan
kecantikan adalah pakaian yang mereka pakai itu. Betul-betul mereka
seperti bulan purnama yang bersinar.
Temanku bertanya kepada mereka tentang “Sayyid”. Lalu diberitahu
bahawa beliau sedang solat berjamaah. Aku tidak tahu siapa “Sayyid”
yang dimaksudkan. Cuma aku fikir bahawa beliau pastilah seorang ulama.
Kemudian aku diberitahu bahwa beliau adalah Sayyid al-Khui, pemimpin
Hauzah Ilmiyyah bagi Madzhab Syiah. Perlu diketahui bahawa gelaran
“Sayyid” di dalam Madzhab Syiah adalah gelaran yang diberikan kepada
mereka yang berketurunan Nabi SAWA. Seorang Sayyid yang alim atau
yang belajar ilmu-ilmu Islam akan memakai serban hitam. Sementara
ulama-ulama yang lain akan memakai serban putih dan dipanggil dengan
gelaran “Syaikh”. Orang-orang Sayyid yang tidak alim, biasanya memakai
serban berwarna hijau.
Temanku meminta mereka menemaniku sejenak, sementara dia sendiri
akan pergi berjumpa Sayyid. Mereka menyambutku dengan penuh hangat
sambil duduk mengelilingiku. Aku perhatikan wajah-wajah mereka dan aku
rasakan kebersihan hati mereka. Aku teringat pada sebuah hadith Nabi
SAWA yang bermaksud:”Manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Ibu
bapanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau Kristian atau Majusi.”
Lalu aku katakan juga pada diriku: menjadikan mereka syiah.
Mereka bertanya dari mana aku berasal. Dari Tunisia, ku jawab. “Apakah
di sana ada Hauzah Ilmiah?” Tanya mereka lagi. “Hanya ada universiti dan
sekolah-sekolah biasa.” jawabku. Berbagai soalan dilemparkan kepadaku,
yang kesemuanya menyulitkanku untuk menjawab. Apa yang harus ku
katakan kepada anak-anak tak berdosa seperti ini yang mengira bahawa
dunia Islam semuanya memiliki Hauzah Ilmiah yang mengajar Fiqh, Usu-
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 43
fiqh, Usuluddin, Syariah dan Tafsir. Mereka tidak tahu bahawa dunia
Islam dan negara-negara kita sekarang ini telah maju sangat pesat. Kita
telah gantikan madrasah-madrasah yang mengajar Al-Quran dengan
taman kanak-kanak yang dipimpin oleh paderi-paderi Kristian. Apakah
harus ku katakan bahawa mereka masih ketinggalan berbanding dengan
kita ?
Seorang di antara mereka bertanya : “Mazhab apa yang diikuti di
Tunisia?”. “Mazhab Maliki”, jawabku. Ku perhatikan sebahagian mereka
ada yang ketawa, tetapi aku tidak peduli. “Apakah anda pernah tahu
tentang mazhab Ja’fari?” tanyanya lagi. “Nama baru apa ini? Tidak, kami
tidak tahu selain dari empat mazhab ini. Selain dari mereka bukan
tergolong dari kalangan Islam.”
Sambil tersenyum, dia berkata lagi. “Maaf, sebenarnya mazhab
Ja’farilah yang benar-benar Islam. Bukankah Imam Abu Hanifah berguru
kepada Imam Ja’far as-Shodiq? Itulah kenapa Abu Hanifah berkata :
“Kalau bukan kerana dua tahun, maka Nu’man telah celaka.”
Aku hanya diam saja. Nama itu baru bagiku, nama yang tidak pernah ku
dengar sebelum ini. Namun aku memuji Allah bahawa Imam mereka
Ja’far as-Shodiq tidak pernah menjadi guru kepada Imam Malik. “Kami
ikut mazhab Maliki bukan Hanafi.” Aku cuba menjawab. “Imam empat
mazhab belajar satu sama lain”, sambungnya. “Ahmad bin Hanbal belajar
dari Syafie; Syafie belajar dari Malik dan Malik belajar dari Abu
Hanifah sementara Abu Hanifah belajar sendiri dari Ja’far as- Shodiq.
Dengan demikian maka kesemua mereka adalah anak murid kepada Ja’far
as-Shodiq. Beliau juga adalah orang pertama yang membuka “universiti”
Islam di masjid datuknya Rasulullah s.a.w. Lebih dari empat ribu ahli
hadis dan ahli fikih berguru dengannya.”
Aku sangat terkejut dengan anak muda yang bijak ini, yang hafal dengan
apa yang dikatakannya seperti hafalnya anak-anak kami suatu surah Al-
Quran. Lebih terkejut lagi ketika dia menyebutkan kepadaku sebahagian
buku-buku rujukan sejarah beserta bilangan jilid dan babnya sekali. Dia
begitu lancar berbicara yang seakan seorang guru sedang mengajar
muridnya. Aku merasa lemah di hadapannya. Aku harap-harap kalaulah
aku keluar bersama temanku dan tidak duduk dengan anak-anak seperti
ini. Setiap kali mereka tanyakan kepadaku tentang fikih atau sejarah, aku
tak mampu menjawabnya. Ditanyanya, kepada siapa aku bertaklid? “Imam
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 44
Malik”, jawabku. “Bagaimana anda mentaklid seorang yang telah mati, di
mana jaraknya antara anda dan beliau sekitar empat belas abad. Jika
anda sekarang ingin bertanya kepadanya tentang masalah-masalah zaman
ini, apakah dia akan menjawab anda?” Ku fikir sejenak pertanyaaan ini
lalu ku jawab :”Ja’farmu juga telah mati empat belas abad yang lalu. Lalu
kepada siapa anda mentaklid?” “Kami mentaklid Sayyid al-Khui. Beliau
adalah Imam kami.” Jawabnya yang kemudian diikuti oleh temantemannya
yang lain.
Aku tidak tahu apakah Khui lebih alim ataukan Ja’far as-Shodiq. Aku
coba untuk mengubah topik permasalahan dengan bertanya hal-hal lain.
Aku bertanya bilangan penduduk di Najaf, berapa jauh jarak antara
Najaf dan baghdad, apakah mereka tahu negara-negara selain Iraq.
Setiap kali mereka menjawab, ku ajukan soalan-soalan lain sehingga
mereka tidak sempat bertanya apa-apa dariku. Mengingat aku tidak
mampu menjawab dan kurasakan jahil. Tetapi jauh sekali untuk mengakui
itu walaupun jauh di dalam kalbuku mengakuinya. Segala sanjungan,
kemuliaan dan penghormatan yang ku dapati di Mesir, dalam waktu
sekejap luluh di sini, khususnya setelah berjumpa dengan anak-anak
seperti ini. Di situ aku memahami maksud sebuah syair yang berkata :
Katakan kepada mereka
yang mengaku berfilsafat di dalam ilmu
Hanya sedikit yang kau tahu
Sementara banyak yang kau tidak tahu.
Aku membayangkan bahawa akal anak-anak muda ini lebih tinggi dari akal
syaikh-syaikh yang kujumpai di al-Azhar; dan bahkan lebih tinggi dari
akal ulama-ulama yang ku kenal di Tunisia.
Sayyid Khui masuk disertai serombongan ulama yang menunjukkan
keagungan dan kewibawaan. Anak-anak ini berdiri, dan aku juga ikut
berdiri. Mereka menghadap Sayyid dan mencium tangannya sementara
aku tidak bergerak dari tempatku. Sayyid tidak duduk sehinggalah semua
yang hadir duduk terlebih dahulu. Beliau memulakan kata-katanya :
Massakum Bil Khoir, selamat petang kepada sekelian yang hadir. Kemudia
dijawab dengan kata-kata yang sama oleh mereka. Beliau juga
mengucapkan kata-kata itu kepadaku dan ku jawab dengan jawapan yang
sama.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 45
Kulihat temanku berbisik sesuatu kepada Sayyid, lalu kemudian
mengisyaratkanku agar mendekat dan duduk di sisi kanan Sayyid. Setelah
mengucapkan salam, temanku berkata kepadaku: “Ceritakan kepada
Sayyid apa yang kalian dengar tentang syiah di Tunisia ?” Kukatakan
kepadanya. “Ya akhi, buanglah jauh-jauh segala cerita yang kami dengar
tentang Syiah di sana sini. Yang penting adalah aku ingin tahu dengan
mata kepalaku sendiri apa yang dikatakan oleh Syiah. Aku ada beberapa
pertanyaan yang kuinginkan jawapannya secara terus terang.” Temanku
ini mengisyaratkanku agar aku mengatakan secara terus terang kepada
Sayyid tentang bagaimana pandangan kami terhadap Syiah. Kukatakan
bahawa Syiah menurut pandangan kami lebih berbahaya kepada Islam
dibandingkan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Ini kerana mereka
menyembah Allah dan beriman kepada Rislaah Nabi Musa a.s. sementara
Syiah – yang kami dengar – menyembah Ali dan mengkultuskannya. Ada
juga di antara mereka yang menyembah Allah, tetapi menempatkan Ali
sejajar dengan Rasulullah s.a.w. Ku bawakan cerita yang mengatakan
konon Syiah percaya bahawa Jibril telah berkhianat di dalam
menyampaikan amanah Allah; di mana sepatutnya amanah tersebut
diberikan kepada Ali tetapi Jibril memberikannya kepada Muhammad.
Sayyid menunduk sejenak, lalu kemudian memandangku dan berkata :
“Kami menyaksikan tiada Tuhan selain Allah dan bahawasanya Muhammad
s.a.w. adalah Rasul Allah dan Ali hanyalah seorang hamba Allah.”
Kemudian beliau menoleh ke arah para hadirin dan berkata :”Lihatlah
kepada mereka yang tak berdosa ini, betapa tuduhan-tuduhan yang dusta
mengorbankan mereka. Ini tidak begitu aneh. Kerana saya sendiri pernah
mendengar tuduhan-tuduhan yang lebih berat dari itu dari orang-orang
lain. Fala Haula Wala Quwwata Illah Billah a-A’li al-A’zim. Kemudia beliau
menoleh ke arahku sambil bertanya :
- “Apakah anda membaca AlQuran ?”
- “Aku bahkan telah hafal setengahnya ketika dalam umur kurang dari
sepuluh tahun.” Jawabku.
- “Tahukan anda bahawa semua kelompok Islam yang beraneka ragam ini
sepakat tentang Al Quran al-Karim. Al Quran yang ada di sisi kami adalah
sama dengan Al Quran yang ada di sisi kalian.”
- “Ya, aku tahu.” Jawabku.
- “Nah, bukankah anda telah membaca firman Allah yang
bermaksud :”Muhammad hanyalah seorang Rasul di mana sebelumnya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 46
(telah datang) para rasul (yang lain).” (S: Ali Imran: 144) Dan juga
firmanNya yang bermaksud: “Muhammad adalah Rasulullah dan orangorang
yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir.” (S: al-
Fath: 29). Juga firmanNya: “Muhammad bukanlah ayah salah seorang di
antara laki-laki kalian, namun beliau adalah Rasulullah dan penutup segala
Nabi.” (S: al-Ahzab: 40)
- “Ya, aku tahu ayat-ayat tersebut.” Jawabku.
- “Lalu di mana Ali? Jika Al Quran berkata bahawa Muhammad adalah
Rasulullah, maka dari mana datangnya tuduhan-tuduhan seumpama ini ?”.
Aku diam saja tanpa mempunyai sebarang jawapan. Lalu beliau
menyambung lagi :
- “Tentang pengkhianatan Jibril, oh….(tuduhan) ini lebih buruk dari yang
pertama tadi. Ini kerana Jibril ketika diutus oleh Allah kepada
Muhammad waktu itu umur Muhammad empat puluh tahun manakala Ali
seorang anak kecil yang berumur sekitar enam atau tujuh tahun.
Bagaimana mungkin Jibril melakukan kesalahan dan tidak dapat
membezakan antara Muhammad yang dewasa dan Ali anak yang kecil.”
Kemudian aku terdiam lama merenungkan kata-katanya dan menikmati
logikanya yang benar-benar masuk dalam fikiranku serta menghilangkan
keraguan-keraguanku. Aku tertanya-tanya di dalam benakku kenapa kita
tidak pernah menganalisanya dengan cara mantik seperti itu. Kemudian
Sayyid al-Khui ini menyambung kata-katanya:
“Saya tambahkan kepadamu bahawa Syiah adalah satu-satunya di antara
Madzhab Islam yang mempercayai tentang maksumnya para Nabi dan
Imam. Jika para Imam kami maksum dari segala kesalahan, manakala
mereka adalah manusia seperti kita, maka bagaimana malaikat Jibril,
malaikat muqarrab yang digelar oleh Allah sebagai Ruhul Amin.”
“Lalu dari mana datangnya tuduhan-tuduhan seumpama ini?”, tanyaku
kemudian.
“Dari musuh-musuh Islam yang ingin memecahbelahkan kaum Muslimin
dan memporakperandakan mereka. Kaum Muslimin adalah bersaudara,
sama ada Syiah atau Sunnah. Mereka menyembah Allah yang Maha Esa
dan mensyirikkanNya. Al-Qur’an mereka satu. Nabi mereka satu dan
kiblat mereka juga satu. Syiah dan Sunnah tidak berselisih apa-apa
melainkan di dalam sebahagian perkara fiqh sahaja sebagaimana yang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 47
berlaku di antara mazhab Sunnah sendiri. Malik menyalahi Abu Hanifah,
dan Abu Hanifah menyalahi Syafie dan seterusnya…”
“Jadi, segala apa yang dituduhkan kepada kalian adalah dusta belaka.”
“Alhamdulillah, anda adalah seorang yang berakal dan memahami segala
sesuatu. Anda telah melawat negara Syiah dan hidup di sekitar mereka.
Apakah anda pernah melihat atau mendengar ucapan-ucapan dusta
seumpama itu?”
“Tidak, sama sekali. Yang aku lihat hanya kebaikan sahaja. Al-
Hamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memperkenalkanku dengan
ustaz Mun’im ini di kapal tempoh hari. Dialah sebab kedatanganku ke
Iraq ini dan banyak tahu tentang berbagai hal yang selama ini aku jahil.”
Temanku Mun’im juga tertawa sambil berkata:”Itu juga berkat kuburan
Imam Ali ini.” Kemudian aku pegang tangannya dan berkata:”Di sini aku
telah banyak belajar hatta dari anak-anak muda itu. Aku bercita-cita jika
ada masa aku akan belajar di Hauzah ini seperti mereka.”
“Ahlan Wa-Sahlan,” jawab Sayyid serta merta.”Jika anda ingin belajar
dan menuntut ilmu, maka Hauzah akan menanggungmu dan kami akan
berkhidmat kepadamu.”
Para hadirin menyambut baik gagasan ini, terutama sekali Mun’im yang
nampak lebih berseri. Kemudian aku berkata lagi:”Saya telah berkeluarga
dan mempunyai dua anak.”
“Kami akan menanggung semua keperluan anda dari tempat tinggal, biaya
hidup dan segala yang anda perlukan. Yang penting anda menuntut ilmu
sahaja,”jawab Sayyid.
Aku berfikir sejenak. Lalu aku fikirkan kepada diriku rasanya tidak
mungkin aku duduk belajar lagi setelah lima tahun aku mengajar dan
mendidik generasi muda. Dan tidak mudah untuk mengambil keputusan
dalam waktu yang begitu singkat. Akhirnya aku mengucapkan terima kasih
kepada Sayyid al-Khui atas tawarannya itu. Aku katakan bahawa aku akan
memikirkan hal ini sepulangnya aku dari umrah kelak, Insya Allah. Tetapi
aku perlu dengan sebahagian buku. Kemudian Sayyid berkata:berikan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 48
kepadanya beberapa buah buku. Lalu beberapa ulama yang ada di
sekitarnya berdiri dan membuka beberapa buah almari yang ada. Tidak
lama kemudian mereka memberikan aku buku sebanyak tujuh puluh jilid
lebih dan beberapa set buku lain. Sayyid berkata bahawa ini adalah
hadiah darinya untukku. Melihat ini aku rasakan tidak mungkin dapat
membawanya, apalagi kini akan pergi ke Saudi yang biasanya melarang
segala jenis kitab dibawa masuk ke dalam negeri mereka, kerana khuatir
pada berbagai aqidah yang berlainan dengan madzhab mereka. Tetapi aku
juga tidak mahu kehilangan buku-buku seumpama ini yang tidak pernah
aku lihat sepanjang hidupku. Aku katakan kepada temanku dan kepada
yang hadir bahawa perjalananku sangat jauh, melalui Damsyik, Jordan,
kemudian baru ke Saudi. Dan ketika pulang pula lebih jauh lagi.
Mengingatkan bahawa aku akan melalui Mesir, Libya sehingga Tunisia.
Selain dari beratnya buku-buku tersebut – kebanyakan negara juga
melarang membawa masuk buku.
Kemudian, Sayyid berkata, biarlah aku tinggalkan alamatku dan beliau
kelak akan mengirimnya ke sana. Aku berikan kepadanya kad alamatku di
Tunisia dan aku ucapkan rasa terima kasih kepadanya yang begitu murah
hati. Ketika kau berdiri untuk pulang, beliau juga berdiri sambil
berkata:”Semoga Allah menyelamatkanmu di dalam perjalanan. Jika kelak
anda berdiri di hadapan maqam datukku Rasulullah, maka sampaikan
salamku kepadanya.”
Para hadirin merasa terharu dan aku juga demikian. Aku lihat betapa air
matanya tergenang. Aku katakan kepada diriku, tidak mungkin beliau ini
orang yang salah atau orang yang berdusta. Sungguh berwibawa,
keagungan, dan sikap rendah dirinya menandakan dengan jujur bahawa
beliau adalah dari anak keturunan Nabi SAWA. Lalu aku menjabat
tangannya dan menciumnya walau dia cuba menolaknya. Semua berdiri dan
bersalaman denganku. Anak-anak muda yang mendebatku tadi juga
mengikutiku dan meminta alamatku untuk koresponden. Dan aku tidak
mengabaikan permintaan ini.
Kami menuju Kufah kerana jemputan salah seorang yang hadir di majlis
Sayyid al-Khui tadi. Beliau adalah temannya Mu’nim. Namanya Abu
Syubbar. Kami menginap di rumahnya. Malam itu kami berdiskusi panjang
dengan sejumlah pemuda yang intelektual. Di antara mereka adalah
sejumlah murid Sayyid Muhammad Baqir as-Sadr. Mereka menyarankanku
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 49
untuk berjumpa dengannya, dan pertemuan itu aka diatur esok hari.
Temanku sangat setuju dengan saranan itu, tetapi sayang dia tidak dapat
hadir lantaran ada beberapa urusan penting yang tidak dapat ditinggalkan
di Baghdad. Kami sepakat untuk tinggal di rumah Sayyid Abu Syubbar
tiga atau empat hari sehinggalah Mun’im kembali. Setelah solat Subuh
Mun’im pergi ke Baghdad dan kami pergi tidur setelah satu malam suntuk
kami berdiskusi panjang.
Malam itu aku banyak sekali belajar dari mereka. Aku sangat kagum
dengan berbagai ilmu yang mereka pelajari di Hauzah Ilmiyyah. Selain
dari ilmu-ilmu Islam seperti Fiqh, Syariah, dan Tauhid, mereka juga
belajar ilmu-ilmu seperti ekonomi, sosiologi, dan politik. Begitu juga
dengan ilmu-ilmu sejarah, sastera, astronomi dan lain-lain lagi.
Perjumpaan Dengan Sayyid Muhammad Baqir as-
Sadr
Bersama Abu Syubbar aku ke rumah Sayyid Muhammad Baqir as-Sadr.
Dalam perjalanan, beliau sangat mesra denganku dan bercerita secara
ringkas tentang beberapa ulama yang masyhur dan tentang taklid dan
sebagainya. Setibanya kami di rumah Sayyid Muhammad Baqir as-Sadr,
aku dapati rumahnya penuh sesak dengan para pelajar Hauzah yang
kebanyakannya para pemuda yang memakai serban. Sayyid berdiri
menyambut kedatangan kami. Setelah diperkenalkan, beliau menyambutku
begitu mesra dan mendudukkanku di sisinya. Beliau bertanya tentang
Tunisia dan al-Jazair dan beberapa ulama yang terkenal seperti al-Khidir
Husayn, Thahir bin A’syur dan lain-lain lagi. Aku sangat gembira dengan
percakapannya. Walaupun kewibawaannya yang agung dan penghormatan
yang tinggi yang diberika oleh orang-orang sekitarnya, tetapi aku dapati
diriku tidak begitu kaku seakan-akan aku telah mengenalnya sejak lama
sebelum itu.
Aku banyak belajar dari majlis itu. Aku dengar berbagai pertanyaan
diajukan kepada Sayyid, lalu kemudian dijawabnya dengan bijak. Waktu
itu aku betul-betul mengetahui betapa tingginya nilai mentaklid ulama
yang masih hidup yang menjawab setiap persoalan secara langsung dan
dengan jelas sekali. Aku juga mulai yakin bahawa Syiah adalah kaum
Muslimin yang menyembah Allah SWT dan beriman kepada Risalah Nabi
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 50
kita Muhammad SAWA. Sebelum ini aku meragukan, syaitan juga
menanamkan rasa waswas bahawa setiap apa yang aku lihat adalah suatu
sandiwara semata-mata. Dan mungkin inilah yang dikatakan oleh mereka
sebagai taqiyah, yakni menampakkan sesuatu yang tidak mereka percayai.
Tetapi sikap demikian akhirnya segera lenyap dari benakku kerana tidak
mungkin setiap orang yang aku lihat dan aku dengar di mana bilangan
mereka berjumlaj ratusan semuanya bersandiwara. Untuk apa mereka
bersandiwara? Siapa aku? Apa yang mereka khuatirkan dariku sehingga
harus bertaqiyah di hadapanku? Bukankah di sini ada kitab-kitab mereka
cetakan lama dan baru. Kesemuanya mengesakan Allah dan memuji-muji
RasulNya Muhammad SAWA seperti yang aku baca di dalam berbagai
muqadimmahnya. Sekarang ini aku berada di rumah Sayyid Muhammad
Baqir as-Sadr, seorang marja’ Syiah yang amat terkenal di Iraq dan di
luar Iraq. Dan setiap kali nama Muhammad disebut, maka semua akan
mengangkat suara agak keras membawa salawat: Allahumma Solli ‘ala
Muhammad wa-ali Muhammad.
Waktu solat tiba. Kami pergi ke masjid yang terletak di samping rumah.
Sayyid Muhammad Baqir mengimamkan kami solat Zuhur dan Asar. Aku
rasakan seakan-akan aku hidup di tengah para sahabat yang mulia. Di
antara dua solat diselangi pembacaan doa yang sangat memilukan hati.
Suara pembacanya begitu mengharukan dan memukau. Setelah selesai
membaca doa, semua membaca salawat beramai-ramai. Allahumma Solli
‘ala Muhammad Wa-ali Muhammad. Semua isi doa adalah pujian kepada
Allah SWT dan Muhammad serta keluarganya yang suci dan baik.
Setelah solat, Sayyid duduk di mihrab. Sebahagian orang datang
menyalaminya dan menanyakan berbagai soalan secara perlahan atau
dengan agak keras. Beliau juga menjawab secara perlahan setiap
pertanyaan yang memang diajukan secara perlahan yang akhirnya aku
fahami menyangkut masalah-masalah peribadi. Jika jawapan yang
diharapkan telah didapati maka sipenyoal akan mencium tangannya lalu
pergi. Berbahagialah mereka dengan orang alim yang mulia ini yang
menyelesaikan segala permasalahan-permasalahan mereka dan ikut serta
di dalam dukacita mereka.
Sambutan Sayyid yang demikian hangat serta perhatian yang
diberikannya yang begitu berat membuatku terlupa dengan sanak
saudaraku di kampung halaman. Aku rasakan jika aku berada bersamanya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 51
selama sebulan sahaja maka aku akan menjadi Syiah kerana akhlaknya
yang tinggi, sikap rendah dirinya dan kemurahan hatinya. Setiap kali aku
melihat wajahnya beliau tersenyum dan memulakan percakapan.
Ditanyanya apa kekuranganku. Selama empat hari itu aku tidak
meninggalkannya melainkan waktu tidur sahaja, walau orang-orang yang
datang berziarah atau ulama yang datang mengunjungi cukup banyak
sekali. Aku juga dapati orang-orang Saudi ada di sana. Aku tidak pernah
tahu yang orang-orang Syiah juga ada di Hjaz. Demikian juga ulama dari
Bahrain, Qatar Emiriyyah Arab Bersatu, Lebanon, Syria, Iran,
Afghanistan, Turki dan Afrika. Sayyid berbicara dengan mereka dan
membantu hajat-hajat mereka. Semua yang keluar dari rumahnya nampak
sekali senang dan puas hati. Aku tidak akan terlupa dengan suatu kes
yang aku saksikan dan sangat kagum dengan cara penyelesaiannya. Aku
sebutkan ini sebagai suatu sejarah lantaran menyirat suatu pelajaran
yang sangat penting agar kaum Muslimin tahu betapa ruginya mereka
dengan meninggalkan hukum-hukum Allah.
Empat orang datang menghadap Sayyid Muhammad Baqir as-Sadr. Aku
rasa mereka adalah orang-orang Iraq kerana loghat bahasanya aku
fahami demikian. Seorang dari mereka telah mendapatkan warisan
sebuah rumah dari datuknya yang telah meninggal dunia beberapa tahun
sebelumnya. Kemudian rumah tersebut dijualnya kepada orang kedua
yang juga hadir di sana. Setelah setahun dari tarikh penjualan, datang
dua orang yang mengaku sebagai pewaris yang sah (syari’e) dari simati.
Keempat-empat mereka duduk di hadapan Sayyid, dan masing-masing
mengeluarkan berbagai kertas dan surat bukti. Setelah Sayyid membaca
surat-surat tersebut dan berbicara dengan mereka sejenak maka beliau
memberikan hukum secara adil. Diberinya sipembeli hak untuk
menggunakan rumah tersebut, dan disuruhnya sipenjual untuk membayar
hak waris bahagian dua saudara tadi dari hasil jualan. Setelah itu semua
mereka berdiri dan mencium tangan Sayyid lalu saling berpelukan.
Aku sangat terkejut dan tidak percaya. Aku tanyakan kepada Abu
Syubbar apakah kes itu telah selesai. Ya, jawabnya. Setiap mereka telah
mendapatkan haknya masing-masing. Subhanallah. “Semudah ini ada
dalam waktu yang demikian singkat, hanya beberapa saat sahaja
permasalahan ini dapat diselesaikan!!! Kes seperti ini jika berlaku di
negeri kami, paling tidak ia akan memakan waktu sepuluh tahun
sehinggalah mereka telah mati dan diteruskan kemudiannya oleh anak-
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 52
anaknya. Tambahan lagi, mereka harus membayar kos mahkamah, peguam,
dan sebagainya yang kebanyakannya tidak kurang dari harga rumah itu
sendiri. Bermula dari mahkamah umum, kemudian negeri lalu mahkamah
agung dan akhirnya semua pihak tidak puas hati setelah mengalami
kesusahan, kos yang mahal dan rasuah yang tidak sedikit jumlahnya.
Tambahan lagi permusuhan dan kebencian yang timbul antara sesama
keluarga dan sanak keluarga.”Kami juga punya hal serupa itu atau bahkan
lebih,”kata Abu Syubbar,”Maksud anda?”Tanyaku.”Jika orang
mengangkat permasalahan mereka kepada mahkamah pemerintah, maka
hasilnya seperti yang anda ceritakan tadi. Namun jika mereka mentaqlid
kepada seorang Marja’ agama dan terikat dengan hukum-hukum Islam
maka mereka tidak akan mengangkat permasalahan mereka kecuali
kepada marja’ sahaja, dan marja’ juga akan menyelesaikan perkara
mereka dalam masa beberapa saat sahaja seperti yang anda saksikan
sebentar tadi. Adakah hakim yang lebih baik selain daripada Allah bagi
orang-orang yang berakal? Sayyid Sadr juga tidak mengambil apa-apa
bayaran pun dari mereka. Jika mereka pergi ke mahkamah-mahkamah
pemerintah yang ada maka mereka akan menderita banyak.”
“Subhanallah. Aku masih tidak percaya dari apa yang aku lihat. Kalaulah
mata ini tidak menyaksikannya sendiri maka tidak mungkin aku akan
mempercayai.”
“Begitulah, ya akhi. Kes ini masih ringan jika dibandingkan dengan kes-kes
lain yang lebih rumit dan menyangkut nyawa. Tetapi para marja’ dapat
menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat.”
“Jadi di Iraq ini ada dua pemerintahan, pemerintahan negara dan
pemerintahan ulama, begitu?”Tanyaku hairan.
“Tidak. Di sini ada pemerintahan negara sahaja, tetapi kaum Muslimin
dari Mazhab Syiah yang bertaqlid pada marja’ mereka tidak ada apa-apa
hubungan dengan pemerintahan. Mengingat di sini adalah pemeritahan
Ba’ath bukan pemerintahan Islam. Mereka patuh pada hukum-hukum
seperti kewarganegaraan, pajak, peraturan-peraturan kota dan hal-hal
peribadi lainya. Seandainya berlaku suatu kes antara seorang Muslim
yang beragama, maka pasti ia akan terpaksa mengangkatnya kepada
mahkamah pemerintah. Kerana yang kedua ini tidak suka dengan
keputusan ulama. Namun jika yang bersengketa adalah antara sesama
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 53
Mukmin, maka mereka merujuk kepada para marja’. Apa sahaja yang
dihukumkan oleh marja’ tersebut akan diterima oleh semua tanpa ada
sebarang keberatan. Itulah kenapa kes-kes yang berlaku dapat
diselesaikan dalam waktu sehari sahaja oleh para marja’, sementara di
mahkamah-mahkaman lain memakan masa waktu berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun.”
Kejadian itu menggerakkan jiwaku merasa rela terhadap segala hukum
Allah SWT.
Dari situ aku faham makna firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesiapa
yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka
mereka adalah orang-orang kafir. Sesiapa yang tidak tidak
menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka
adalah orang-orang yang zalim. Sesiapa yang tidak tidak menghukum
dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orangorang
yang fasiq” (Al-Maidah: 44, 45, 47).
Ia juga menggerakkan dalam diriku suatu dendam dan memberontak
terhadap mereka yang zalim yang telah merubah hukum-hukum Allah
SWT yang adil kepada hukum buatan manusia yang zalim. Bahkan mereka
mengejek hukum-hukum Allah dengan cara yang keji. Mereka mengatakan
bahawa hukum Allah adalah barbarisme dan kejam kerana menegakkan
hukum hudud yang memotong tangan pencuri dan merejam penzina serta
membunuh sipembunuh. Dari mana datangnya teori-teori yang asing
seperti ini? Sudah pasti ianya datang dari barat dan musuh-musuh Islam
yang melihat bahawa perlaksanaan hukum-hukum Islam bermakna
penamatan terhadap kekuasaan mereka secara total. Ini kerana mereka
adalah para pencuri, pengkhianat, penzina, penjenayah, dan pembunuh.
Jika hukum-hukum Allah dilaksanakan terhadap mereka maka kita telah
aman dari mereka.
Di hari-hari itu berlaku banyak diskusi antara aku dan Sayyid Sadr. Aku
tanyakan kepadanya berbagai soalan, besar atau kecil dari kesimpulan
yang aku buat setelah berbagai diskusi dengan teman-teman, sama ada
tentang aqidah mereka, tentang sahabat, semoga Allah meredhai mereka,
tentang aqidah mereka terhadap Imam dua belas, Ali dan anak-anaknya
dan lain-lain lagi yang tidak sama dengan aqidah kami.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 54
Aku tanyakan kepada Sayyid Sadr tentang Imam Ali, kenapa diucapkan
ketika azan dengan sebutan Waliyullah? Beliau menjawab:”Amirul
Mukminin Ali AS adalah di antara hamba Allah yang dipilihNya untuk
meneruskan tanggungjawab menyampaikan RisalahNya setelah para
NabiNya. Mereka adalah para wasi Nabi SAWA. Setiap Nabi ada wasi,
dan wasi Nabi Muhammad SAWA adalah Ali AS. Kami mengutamakannya
di atas semua sahabat kerana Allah dan RasulNya mengutamakanNya. Dan
kami mempunyai dalil aqli dan naqli, al-Qur’an dan Sunnah dalam hal ini.
Dalil-dalil ini tidak dapat diragukan kebenarannya, lantaran ia mutawatir
dan sahih di dalam jalur sanad kami, dan hatta di jalur sanad Ahlul
Sunnah Wal-Jamaah. Para ulama kami telah menuliskan berbagai buku
tentang hal ini. Ketika pemerintahan Bani Umayyah cuba menghapuskan
kebenaran ini dan memerangi Amirul Mukminin Ali AS dan anak-anaknya
serta membunuh mereka; bahkan mencaci dan melaknatnya di atas
mimbar-mimbar kaum Muslimin serta memaksa manusia untuk berbuat
serupa, melihat ini maka Syiahnya dan para pengikutnya, semoga
meredhai mereka, menyaksikan bahawa beliau adalah Waliyullah. Sikap ini
sebagai bantahan mereka terhadap penguasa yang zalim saat itu
sehingga kemuliaan sebenarnya dapat dikembalikan kepada Allah,
RasulNya dan orang-orang Mukminin sahaja. Dan supaya ini terjadi
sebagai bukti sejarah kepada segenap kaum Muslimin yang datang
berikutnya, agar mereka tahu tentang kebenaran Ali dan kebatilan
musuh-musuhnya.
Para fuqaha kami mengatakan bahawa syahadah kepada wilayah Ali
sewaktu azan adalah hukumnya sunat, dengan niat ianya bukan dari
bahagian azan dan iqamah. Jika seorang muazin menganggap ianya
bahagian dari azan dan iqamah maka azannya dianggap tidak sah. Perkaraperkara
sunat di dalam ibadah dan muamalat banyak sekali jumlahnya.
Seorang Muslim akan diberi ganjaran jika melakukannya dan tidak akan
berdosa jika meninggalkannya. Sebagai contoh, dalam suatu hadith ada
disebutkan bahawa setelah mengucapkan syahadah kepada Allah dan
Muhammad di dalam azan, maka disunatkan bersyahadah bahawa syurga
itu adalah benar, neraka itu benar, dan Allah akan membangkitkan
manusia dari kuburnya.”
Aku katakan bahawa para ulama kami mengajarkan bahawa Sayyidina Abu
Bakar as-Sidiq adalah khalifah yang paling utama, kemudian Sayyidina
Umar al-Faruq, Sayyidina Uthman, dan kemudian barulah Sayyidina Ali,
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 55
semoga Allah meredhai mereka semua.
Sayyid diam sejenak lalu berkata: Mereka boleh berkata apa sahaja
tetapi jauh sekali untuk membuktikannya secara dalil syariah. Lalu ianya
sangat bertentangan dengan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab
mereka yang sahih dan muktabar. Di sana tertulis bahawa manusia yang
paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Uthman. Tidak ada kata-kata
Ali sama sekali. Justeru Ali dijadikan sebagai manusia awam sahaja.
Namun para ahli sejarah menyebutkannya para Khulafa ar-Rasyidin
sahaja.”
Aku tanyakan juga tentang tanah yang digunakan untuk sujud atau biasa
disebut Turbah Husainiyyah. Beliau menjawab:”Pertama-tama wajib
diketahui bahawa kami bukan sujud kepada tanah, seperti yang disangka
oleh mereka yang bencikan Syiah tetapi kami sujud di atas tanah. Sujud
hanya kepada Allah semata-mata. Apa yang terbukti secara dalil bagi
kami dan juga di sisi Ahlul Sunnah bahawa yang utama adalah sujud di
atas tanah atau di atas sesuatu yang tumbuh dari tanah tetapi bukan
sejenis dari bahan makanan. Selain dari itu tidak sah sujud di atasnya.
Dahulunya Rasulullah SAWA duduk di atas tanah dan menjadikan
sebongkah tanah sebagai tempat sujudnya. Beliau juga mengajarkan
kepada sahabat-sahabatnya demikian juga sehingga mereka sujud di
atasnya, dan di atas hujung bajunya. Hal ini diketahui sangat lumrah
sekali di sisi kami.
Imam Zainal Abidin dan Sayyid as-Sajidin Ali bin Husayn AS mengambil
tanah dari kuburan ayahnya Abu Abdillah al-Husayn as-Syahid sebagai
turbahnya. Ini kerana tanahnya bersih dan suci dan telah disiram oleh
darah Sayyidis-Syuhada’ (Penghulu Para Syuhada – Imam Husayn AS).
Dan para Syiahnya meneruskan kebiasaan ini sehingga ke hari ini. Kami
tidak mengatakan bahawa sujud di atas selainnya bermakna tidak sah.
Sujud akan sah di atas sebarang tanah atau sebarang batu suci,
sebagaimana ia juga akan sah sujud di atas tikar atau hamparan yang
dibuat dari pelepah kurma dan sejenisnya.”
Aku tanya lagi tentang peringatan Sayyidina Husayn AS, kenapa Syiah
menangis dan memukul-mukul dada sehingga berdarah? Bukankah ini
haram di dalam Islam. Nabi juga telah bersabda:”Bukan dari golongan
kami mereka yang memukul-mukul pipi dan mengoyak-ngoyak baju serta
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 56
melakukan seperti perbuatan Jahiliyyah.”
Sayyid menjawab:”Hadith ini memang sahih tetapi ia tidak dapat
diterapkan untuk peringatan Abu Abdillah al-Husayn. Mereka yang
menyeru pada perjuangan Husayn da nmengikut jejaknya, perbuatan ini
bukan sejenis perbuatan Jahiliyyah. Lalu di dalam Madzab Syiah ada
manusia yang beragama, ada yang alim, dan ada juga yang jahil. Kesemua
mereka mempunyai rasa emosi. Jika di dalam mengingati kesyahidan
Husayn dan apa yang terjadi kepada keluarganya serta para sahabatnya,
sama ada yang dibunuh atau yang ditawan lalu perasaan emosinya
menguasai mereka maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi
Tuhannya kerana niat adalah fisabillah semata-mata. Dan Allah
memberikan ganjaran kepada hamba-hambaNya sekadar niat mereka
masing-masing.
Seminggu yang lalu saya membaca suatu kenyataan rasmi dari pemerintah
Mesir sempena kematian Jamal Abdul Nasir. Dikatakan bahawa mereka
telah mencatat lapan belas kes bunuh diri kerana mendengar kematian
Jamal Abdul Nasir. Ada yang terjun dari tingkat atas bangunan yang
bertingkat; ada yang terjun ke bawah rel keretapi dan lain-lain lagi. Ini
saya sebutkan sebagai contoh bagaimana emosi manusia kadang-kadang
boleh menguasai manusia itu sendiri. Jika manusia Muslim boleh
membunuh diri lantaran kematian Jamal Abdul Nasir, walhal dia mati
secara wajar, maka tidak ada hak bagi kita untuk menghukum bahawa
Ahlul Sunnah adalah salah. Dan tidak ada hak bagi Ahlul Sunnah
menghukum saudara-saudara mereka dari Syiah sebagai salah lantaran
menangisi Sayyid as-Syuhada al-Husayn. Mereka meratapi penderitaan
Husayn dan bahkan hingga ke hari ini. Rasulullah sendiri pernah menangis
untuk Husayn, dan Jibril juga menangis kerana tangisnya Rasulullah.”
“Kenapa Syiah menghiasi kuburan wali-wali mereka dengan emas dan
perak sedangkan ia haram di dalam Islam?”, Tanyaku lagi.
“Ini tidak hanya ada di dalam Syiah sahaja,”jawab Sayyid.”Ia juga tidak
haram. Lihatlah masjid-masjid saudara kami dari golongan Ahlul Sunnah,
sama ada di Iraq, Mesir, Turki atau negara-negara Islam yang lain. Ratarata
dihiasi dengan emas dan perak. Begitu juga dengan masjid Rasulullah
SAWA di Madinah al-Munawarah dan Baitullah al-Haram di Mekah yang
setiap tahun dipakaikan dengan perhiasan emas yang baru dengan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 57
perbelanjaan berjuta-juta. Ini tidak hanya ada pada Madzhab Syiah
sahaja.
“Ulama Saudi berkata bahawa mengusap tangan di atas kubur, minta doa
dari orang-orang yang soleh serta mengambil barakah dari mereka semua
itu adalah syirik kepada Allah. Bagaimana pendapat anda dalam hal ini?”
“Jika mengusap tangan di atas kubur dan menyebut nama-nama
penghuninya dengan niat bahawa mereka memberi manfaat atau
mendatangkan mudarat maka tidak ragu-ragu lagi ia adalah syirik. Orangorang
Muslim adalah orang yang muwahid (bertauhid) dan mengetahui
bahawa Allah sahajalah yang memberi manfaat atau mudarat. Mereka
menyeru para wali dan imam AS adalah untuk menjadikan mereka sebagai
wasilah atau perantara mereka kepada Allah SWT. Ini tidak syirik. Kaum
Muslimin, Sunnah dan Syiah sepakat dalam hal ini sejak zaman Rasul
sehingga sekarang melainkan Wahabiyyah atau ulama Saudi yang seperti
anda sebutkan. Mereka telah memfitnah kaum Muslimin dengan aqidah
mereka ini, mengkafirkan mereka dan bahkan menghalalkan darah
mereka. Para jamaah haji Baitullah al-Haram dipukul lantaran mereka
berkata: As-Salamu Alaika Ya Rasulullah. Dan tidak diperkenankan
siapapun untuk menyentuh kuburan suci Nabi Muhammad SAWA. Mereka
telah berdiskusi dengan ulama kami beberapa kali tetapi mereka tetap
degil dan sombong.”
“Sayyid Syarafuddin, seorang di antara ulama Syiah ketika pergi haji ke
Baitullah al-Haram di zaman raja Abdul Aziz Ali Saud, adalah di antara
ulama yang dijemput ke istana raja untuk mengucapkan selamat Hari Raya
Aidul Adha kepada raja. Ketika tiba gilirannya untuk bersalaman dengan
raja, dihadiahkannya kepada raja sebuah mushaf al-Qur’an yang
berkulitkan kulit binantang. Raja menerima hadiah tersebut lalu
diciumnya dan diletakkannya di atas dahi sebagai tanda penghormatan
dan pentakziman. Lalu Sayyid Syarafuddin berkata ketika itu: Wahai
Raja, kenapa anda mencium kulit dan mengagungkannya. Ia hanya berupa
kulit kambing, tidak lebih?” Yang aku maksudkan adalah pentakziman
kepada al-Qur’an al-Karim yang di dalamnya, bukan kepada kulit ini.”
Kemudian Sayyid Syarafuddin menjawab:”Anda bijak hai Raja. Begitulah
juga ketika kami mencium pintu-pintu kuburan Nabi atau dindingdindingnya.
Kami tahu bahawa ia adalah besi yang tidak memberi apa-apa
manfaat atau mudarat. Tetapi yang kami maksudkan adalah orang yang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 58
ada di sebalik besi dan kayu-kayu itu. Kami bermaksud mentakzimkan
Rasulullah SAWA sebagaimana anda bermaksud mentakzimkan al-Qur’an
dengan mencium kulit kambing yang membungkus al-Qur’an ini.”
“Para hadirin mengucapkan takbir sebagai tanda kagum atas Sayyid ini.
Mereka berkata: anda benar, anda benar. Akhirnya Raja terpaksa
mengizinkan para jamaah haji untuk melakukan tabaruk (mengambil
barakah) dari peninggalan-peninggalan Nabi SAWA sehinggalah datang
raja berikutnya. Lalu larangan itu dikenakan semula.”
“Hal yang sebenarnya bukanlah kerana mereka takut kaum Muslimin akan
syirik kepada Allah tetapi ia ada menyirat suatu masalah politik untuk
menguasai kaum Muslimin dan memperkuatkan kerajaan mereka. Sejarah
adalah sebaik-baik bukti atas apa yang mereka lakukan terhadap ummat
Muhammad SAWA.”
Aku tanya juga tentang tarekat-tarekat sufi. Jawabnya singkat:”Ada
yang positif seperti membina diri dan mendidiknya untuk sederhana di
dalam hidup dan bersikap zuhud atas kenikmatan-kenikmatan dunia serta
melatih diri untuk berangkat tinggi ke alam ruh yang suci. Sementara
yang negatif seperti mengasingkan diri dan lari dari realiti kehidupan,
terbatas hanya berzikir kepada Allah secara lafzi (lafaz) dan lain-lain
lagi. Islam seperti yang diketahui membenarkan yang positif dan
membuang jauh-jauh yang negatif. Kita patut katakan bahawa semua
prinsip-prinsip Islam adalah positif.”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 59
Ragu-ragu Dan Bingung
Jawapan Sayyid Muhammad Baqir as-Sadir jelas dan menyakinkan tetapi
apakah mungkin ia akan mempengaruhi orang seumpamaku yang telah
menghabiskan umurnya selama dua puluh lima tahun di dalam prinsip
mensucikan para sahabat dan menghormati mereka terutamanya Khulafa
al-Rasyidin yang Rasulullah SAWA menyuruh kita berpegang teguh
dengan sunnah mereka dan berjalan di bawah bimbingan mereka. Di atas
semua mereka adalah Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq dan Sayyidina Umar
al-Faruq.
Dan sejak kedatanganku ke Iraq tidak pernah aku dengar nama mereka.
Yang aku dengar adalah nama-nama lain yang asing bagiku dan nama dua
belas imam. Mereka juga mendakwa bahawa Rasulullah SAWA telah
menunjuk Ali sebagai khalifah sebelum wafatnya. Bagaimana mungkin aku
dapat mempercayainya bahawa para sahabat yang mulia, manusia yang
paling utama selepas Nabi, bersepakat di dalam menentang Ali
Karamallah wajhahu. Dan sejak kecil lagi kami diajar bahawa para
sahabat RA sangat menghormati Imam Ali dan mengetahui haknya. Beliau
adalah suaminya Fatimah az-Zahra’, ayahnya Hasan dan Husayn dan pintu
kota ilmu. Begitu juga Sayyidina Ali. Beliau tahu haknya Abu Bakar as-
Siddiq, orang pertama yang masuk Islam dan menemui Rasul sewaktu
beliau berada di gua sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’an.
Rasulullah SAWA juga telah menyuruhnya menjadi imam jamaah ketika
baginda sakit dan bersabda untuknya:”Seandainya aku harus mengambil
Khalil (teman dekatku) maka Aku Bakar yang aku akan ambil sebagai
Khalilku.” Itulah kenapa kaum Muslimin memilihnya sebagai Khalifah
mereka. Imam Ali juga tahu tentang keutamaan Sayyidina Umar
kerananya Islam telah diangkat oleh Allah dan Rasul telah memberinya
gelaran sebagai al-Faruq, yakni yang memisahkan antara haq dan batil.
Beliau juga tahu tentang keutamaan Sayyidina Uthman di mana Malaikat
Rahman malu kepadanya dan yang telah menyediakan Pasukan al-U’srah
serta dinamakan Rasulullah sebagai Zun Nurain (yang mempunyai dua
cahaya).
Kenapa saudara-saudara kami kaum Syiah tidak mengetahui semua ini,
ataukah mungkin mereka berpura-pura tidak tahu dan menjadikan mereka
sebagai manusia-manusia diumbang-ambingkan oleh hawa nafsu dan
kerakusan duniawi daripada mengikuti yang haq. Kerana itu maka mereka
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 60
melanggar perintah Nabi setelah wafatnya, padahal sebelumnya mereka
berlumba-lumba untuk menjalankan perintahnya; bahkan ada yang
membunuh anak-anak mereka, ayah-ayah mereka dan keluarga mereka
demi kemuliaan Islam dan kejayaannya. Mereka yang membunuh ayah dan
anaknya lantaran patuh kepada Allah dan RasulNya tidak mungkin akan
dipengaruhi oleh dunia yang fana ini, seperti merebut jawatan khalifah,
lalu berpura-pura jahil dengan perintah Rasulullah dan meninggalkannya.
Kerana alasan-alasan itu aku tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh
Syiah walaupun dalam banyak hal aku yakin dengan hujah-hujah mereka.
Aku bingung dan ragu-ragu. Ragu-ragu lantaran kata-kata ulama Syiah
sangat rasional dan logik. Bingung dan tidak percaya lantaran para
sahabat RA dipandang sedemikian rupa sehingga mereka seperti manusia
biasa bagaikan diri kita ini. Tiada cahaya Risalah menyinari mereka dan
tiada pula bimbingan Muhammad mendidik mereka. Ya Ilahi, bagaimana
mungkin terjadi begini? Mungkinkah para sahabat dalam taraf yang
dikatakan oleh orang-orang Syiah itu? Yang penting sikap ragu-ragu dan
bingung ini adalah mulanya kelemahan dan pengakuan bahawa di sana ada
hal-hal tersembunyi yang harus dibongkar agar dapat sampai kepada
kebenaran.
Temanku Mu’nim datang dan kami pergi ke Karbala. Di sana aku ikut
serta dalam majlis musibahnya Sayyidina Husayan sebagaimana yang
dihayati oleh orang-orang Syiah. Waktu itu aku sedar bahawa Sayyidina
Husayn sebenarnya ‘belum mati.’ Orang-orang begitu ramai dan saling
bersesak-sesak di sekitar kuburannya Sayyidina Husayn. Mereka
menangis teresak-esak yang tidak pernah aku saksikan seumpama ini
sebelum ini yang bagaikan Husayn baru sahaja syahid. Aku dengar para
penceramah menggugah emosi dan perasaan para hadirin dengan
menceritakan tragegi Karbala dengan suara yang mengharukan. Hampir
setiap orang yang mendengarnya tidak dapat menahan diri kecuali ikut
menangis. Aku menangis dan terus menangis. Aku biarkan diriku
melepaskan deritanya yang seakan-akan sebelum ini terbelenggu. Aku
rasakan suatu kelegaan jiwa yang luar biasa yang tidak pernah aku
ketahui sebelum ini. Seakan-akan dahulunya aku berada di barisan musuhmusuh
Imam Husayn, dan tiba-tiba sekarang aku berbalik dan ikut serta
para sahabatnya dan para pengikutnya yang berkorban untuknya.
Waktu itu sipenceramah membawakan cerita al-Hur, salah seorang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 61
komandan pasukan tentera musuh yang diperintahkan untuk memerangi
Husayn. Namun ketika beliau berdiri di barisan peperangan, dia gementar
dahsyat. Ketika ditanya oleh sebahagian temannya: apakah anda takut
mati hai Hur? Hur menjawab: demi Allah tidak. Tetapi aku kini sedang
mempertaruhkan nyawaku di antara syurga dan neraka. Kemudian dia
menyebat kudanya dan pergi ke arah Husayn. Dia berkata: wahai putra
Rasulullah, adakah jalan bagiku untuk bertaubat?
Mendengar ini aku tidak dapat menahan diriku. Aku jatuh dan menangis
seakan-akan aku sedang melakukan peranan Hur. Aku berkata: wahai
putra Rasulullah, apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat? Maafkan aku
wahai putra Rasulullah!
Ketika itu suara penceramah sangat mengharukan. Terdengar suara
tangisan para hadirin menguak suasana. Ketika itu temanku mendengar
suara jeritanku lalu dia datang dan memelukku. Sambil menangis dia
memelukku bagaikan seorang ibu memeluk anaknya. Dia menyebutkan
kata-kata, ya Husayn……ya Husayn…..secara perlahan. Saat-saat itu
benar-benar mengajarku makna suatu tangisan. Air mataku seakan
membasuh semua kalbuku dan jasadku dari dalam. Waktu itu aku baru
faham maksud hadith Rasul:”Jika kalian tahu apa yang aku ketahui maka
kalian tertawa sejenak dan menangis banyak.”
Separuh daripada hari ini aku hanya berdiam diri. Temanku berusaha
menghiburkanku dan mengucapkan takziah kepadaku. Diberinya aku
sedikit manisan, tetapi rasa keinginanku untuk makan hari itu sama sekali
hilang. Aku minta temanku menceritakan kepadaku kisah syahidnya
Sayyidina Husayn kerana aku tidak tahu sama sekali tentang tragedi
Karbala ini. Apa yang aku tahu adalah cerita orang-orang tua kami yang
mengatakan bahawa orang-orang munafiq membunuh Sayyidina Umar,
Sayyidina Uthman dan Sayyidina Ali, mereka jugalah yang membunuh
Sayyidina Husayn. Selebihnya kami tidak tahu lagi. Bahkan pada Hari
Asyura kami menyambutnya dengan sukaria kerana dianggap sebagai hari
raya Islam. Hari itu zakat-zakat harta dikeluarkan, berbagai makanan
yang lazat dihidangkan dan anak-anak pergi meminta wang dari orangorang
tua untuk membeli mainan dan manisan.
Memang ada sebahagian adat dibeberapa daerah di mana penduduknya
menyalakan api, tidak bekerja, tidak berkahwin, dan tidak bersukaria
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 62
pada hari itu. Tetapi itu kami katakan sebagai adat sahaja tanpa
mengetahui makna yang tersirat di sebalik itu. Ulama kami meriwayatkan
berbagai hadith tentang keutamaan Hari Asyura serta berbagai barakah
dan rahmat yang ada di dalamnya. Sungguh aneh perkara itu.
Setelah itu kami berziarah ke kuburan Abbas, adiknya Husayn. Waktu itu
aku tidak kenal siapa beliau. Temanku telah menceritakan kepadaku
tentang kegagahan dan kepahlawanannya. Di sana juga kami berjumpa
dengan berbagai ulama yang tidak aku ingat betul nama-nama mereka,
melainkan gelaran-gelaran tertentu seperti Bahrul Ulum, Sayyid Hakim,
Kasyf al-Ghito’, Ali Yasin, Tabatabai, Fairuz Abadi, Asad Haidar, dan
lain-lain lagi.
Secara jujur harus dikatakan bahawa mereka sebenarnya adalah ulama
yang bertaqwa, berwibawa dan terhormat. Orang-orang Syiah sangat
menghormati mereka dan memberikan khums dan harta mereka kepada
mereka. Dengan wang itu mereka mentadbir urusan Hauzah Ilmiah,
mendirikan berbagai sekolah dan percetakan, serta memberikan biasiswa
kepada para talabah (penuntut) yang datang dari seluruh dunia Islam.
Mereka benar-benar berdikari dan tidak bergantung kepada para
penguasa, sama ada yang dekat atau yang jauh, tidak seperti keadaan
ulama kita yang tidak akan memberikan fatwa atau sependapat kecuali
melihat apa pendapat para penguasanya yang menjamin kehidupan mereka
dan yang dapat menyingkirkan atau melantik seseorang.
Sungguh ia merupakan suatu dunia baru yang aku
temukan atau diketemukan oleh Allah untukku. Kini aku
meyenanginya dan dapat menyesuaikan diri bersamanya
setelah sekian lama aku memusuhinya. Orang alim ini
telah membukakan untukku berbagai pemikiranpemikiran
yang baru. Beliau juga telah membangkitkan
diriku untuk mencintai pengkajian, penelitian, dan
belajar bersungguh-sungguh sehingga harus aku temui
kebenaran yang dicari.
Apa lagi hadith Nabi yang bermaksud, “Bani Israel telah berpecah
kepada tujuh puluh satu firqah, Nasrani telah berpecah kepada tujuh
puluh firqah dan umatku akan berpecah kepada tujuh puluh tiga
firqah. Semuanya di neraka kecuali satu sahaja.” Hadith ini sangat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 63
mengusikku untuk mengetahui lebih jauh tentang suatu kebenaran yang
dimaksudkan.
Kini tidak ada kaitan dengan berbagai agama yang mendakwa bahawa ia
adalah yang benar sementara yang lain salah. Yang aku hairankan dan
membingungkan adalah maksud hadith ini. Lebih menghairankan lagi
adalah sikap kaum Muslimin yang sering membaca dan mengulang-ulangi
hadith ini di dalam khutbah-khutbah mereka tetapi tidak pernah mahu
untuk mengkaji maksudnya agar dapat membedakan mana golongan yang
hak dari yang golongan yang batil.
Anehnya, setiap golongan mendakwa bahawa ia satu-satunya yang kelak
akan selamat. Di dalam urusan hadith itu tertulis, “Sahabat bertanya,
siapa mereka ya Rasulullah?” Nabi menjawab:”Apa yang aku dan sahabatsahabatku
ada di atasnya.” Adakah suatu golongan yang tidak berpegang
kepada Kitab dan Sunnah, atau mendakwa selain dari al-Qur’an dan
Sunnah? Seandainya Imam Malik, atau Abu Hanifah, atau Syafie, atau
Ahmad bin Hanbal ditanya, apakah mereka akan mendakwa selain dari
berpegang kepada al-Qur’an dan Sunnah yang sahih? Ini baru madzhabmadzhab
yang ada di dalam dunia Sunni. Bagaimana pula dengan golongan
Syiah? Madzhab ini juga mendakwa bahawa ia berpegang kepada Kitab
Allah dan Sunnah yang sahih yang diriwayatkan kesemuanya oleh Ahlul
Bayt yang suci.”Dan Ahlul Bayt lebih mengetahui apa isi rumahnya
dibandingkan dengan yang lain,”kata mereka. Apakah mungkin kesemuanya
dalam kebenaran seperti yang didakwa. Ini tidak mungkin sama sekali;
mengingatkan bahawa hadith tersebut bermaksud sebaliknya. Lain halnya
jika dikatakan bahawa hadith tersebut palsu atau dusta. Tetapi ini tidak
mungkin, mengingatkan bahawa hadith tersebut bersifat mutawatir sama
ada menurut Sunnah atau pun Syiah. Apakah mungkin hadith ini tidak
mempunyai makna dan maksud? Tetapi jauh sekali bagi Rasulullah untuk
mengatakan sesuatu yang tiada bermaksud, kerana baginda tidak berkata
sesuatu kecuali merupakan wahyu ; dan setiap hadisnya mengandungi
hikmat dan pelajaran. Nah, kita terpaksa harus mengakui bahawa ada
satu golongan yang benar dan lainnya salah. Hadis ini memang
menimbulkan kebingungan, tetapi ia juga membangkitkan sikap ingin tahu
dan meneliti bagi mereka yang inginkan keselamatan.
Kerana itulah timbul sikap ragu-ragu dan bingung setelah perjumpaanku
dengan orang-orang Syiah. Siapa tahu mungkin mereka mengatakan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 64
sesuatu yang hak dan berkata jujur. Kenapa aku tidak teliti dan kaji.
Islam telah mewajibkanku mengkaji, memperbandingkan dan meneliti
seperti yang disebutkan di dalam Al Quran dan Sunnah. Allah
berfirman :”Mereka yang berjihad di jalan Kami maka Kami pasti akan
menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami: (S: al-Ankabut :69). Dia
juga berfirman: “Mereka yang mendengar suatu perkataan lalu mengikuti
yang terbaik di antaranya, maka mereka adalah orang-orang yang diberi
hidayat oleh Allah dan mereka adalah orang-orang yang berfikir.” (S: az-
Zumar :18)
Dengan keputusan dan azam yang jujur ini aku berjanji kepada diriku dan
teman-teman Syiahku di Iraq. Aku sangat terharu kerana berpisah
dengan mereka. Aku telah sangat mencintai mereka dan mereka juga
mencintaiku. Aku telah tinggalkan teman-teman yang mukhlis dan mulia,
yang telah mengorbankan waktu mereka keranaku dan tiada menyimpan
sebarang maksud. Tujuan mereka semata-mata ingin mendapatkan
keredhaan Allah s.w.t. Di dalam sebuah hadis disebutkan : “Satu orang
yang mendapatkan hidayah Allah di tanganmu adalah lebih baik bagimu
dari apa yang diterbitkan matahari.”
Aku meninggalkan Iraq setelah dua puluh hari berada di sekitar makam
Imam-imam dan Syiah mereka. Kesemua itu berlalu seakan suatu mimpi
indah yang enggan dilepaskan oleh yang tidur. Kutinggalkan Iraq dengan
rasa agak kesal lantaran waktunya yang begitu singkat, dan perpisahan
yang mesti dengan orang-orang yang sangat baik hati dan berpaut cinta
kepada Ahlul Bait Nabi s.a.w.. Aku pergi menuju Hijaz bermaksud
berkunjung ke Baitullah al-Haram dan makam Sayyidul Awwalin Wal
Akhirin Sallallahu Alaihi Wa Alihi at-Tayyibin at-Tahirin.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 65
Berangkat ke Hijaz
Aku tiba di Jeddah. Di sana aku berjumpa dengan temanku Bashir yang
sangat hangat menyambut kedatanganku. Dibawanya aku kerumahnya dan
dihormatinya aku dengan penuh kesempurnaan. Dia menghabiskan masamasa
lapangnya bersamaku pergi bersiar dan ziarah dengan keretanya.
Kami pergi umrah bersama-sama dan kami lalui waktu-waktu kami dengan
amal ibadah dan ketaqwaan. Aku meminta maaf kerana terlambat sampai
lantaran kepergianku ke Iraq sebelum ini. Kuceritakan kepadanya
penemuan atau pembukaan baruku. Dia bersikap terbuka dan ingin tahu.
Katanya: “Memang aku dengar mereka memiliki banyak ulama yang agung
dan mempunyai dalil yang kuat. Tetapi mereka juga mempunyai banyak
golongan yang kafir dan tersesat. Di setiap musim haji mereka
menciptakan berbagai kesusahan kepada kami.” Ku tanya kesusahan apa
yang mereka ciptakan? “Mereka sembahyang di sekitar kuburan.”
Jawabnya. “Mereka juga masuk ke kuburan Baqi’ secara beramai-ramai
lalu menangis. Mereka membawa sepotong batu untuk sujud. Jika mereka
pergi ke kuburan Sayyidina Hamzah di Uhud, mereka akan mengadakan
takziah, memukul-mukul dada dan menangis kuat seakan-akan Hamzah
baru saja meninggal hari itu. Kerana itulah kerajaan Saudi melarang
mereka masuk ke makam-makam ziarah.”
Aku tersenyum saja. Kukatakan kepadanya apakah dengan ini maka anda
menghukumkan mereka telah keluar dari Islam? “Ini dan lain lagi,”
jawabnya. “Mereka datang berziarah ke kuburan Nabi, tetapi pada masa
yang sama mereka berdiri di depan kuburan Abu Bakar dan Umar lalu
mencaci dan melaknat mereka. Sebahagian mereka ada yang melempari
kuburan Abu Bakar dan Umar dengan benda-benda najis dan kotoran.”
Kata-kata ini mengingatkanku pada cerita ayahku ketika beliau pulang
dari Haji tempoh dulu. Katanya orang-orang Syiah melemparkan najis ke
kuburan Nabi. Dan secara pasti ayahku memang tidak melihatnya sendiri.
Katanya dia hanya melihat askar-askar Saudi memukul sebahagian jemaah
haji dengan tongkat. Lalu kemudian diprotesnya kerana sikap penghinaan
terhadap jemaah seperti ini. Dalam jawapannya, askar-askar ini berkata:
“Mereka bukanlah orang-orang Islam. Mereka adalah orang-orang Syiah.
Mereka datang membawa benda-benda najis untuk melemparkannya ke
kuburan Nabi s.a.w. ” Ayahku kemudian berkata: “Ketika itu juga kami
melaknat mereka dan meludahi muka mereka.”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 66
Sekarang ini aku dengar dari temanku orang Saudi yang dilahirkan di
Madinah bahawa mereka datang berziarah ke kuburan Nabi, tetapi
melemparkan benda-benda najis ke kuburan Abu Bakar dan Umar. Aku
meragukan kebenaran dua cerita ini, mengingat kamar kuburan Nabi dan
kuburan Abu Bakar dan Umar yang kulihat semuanya tertutup. Dan tidak
mungkin siapapun akan dapat mendekat untuk memegang dan mengusap
dari pintu atau jendelanya. Apalagi ingin melemparkan sesuatu ke
dalamnya. Pertama-tama, tidak adanya celah-celah. Kedua, ia dijaga ketat
oleh askar-askar yang kasar yang silih berganti berdiri di hadapan setiap
pintu. Apalagi mereka memegang cambuk-cambuk dan memukul setiap
orang yang mendekat atau yang berusaha melihat dalam kamar.
Kebanyakan askar tersebut adalah orang-orang Saudi. Mereka
mengkafirkan Syiah agar mempunyai alasan untuk memukul mereka; dan
supaya kaum muslimin tergugah untuk memerangi mereka atau paling
tidak akan diam atas penghinaan terhadap mereka. Kelak nanti kalau
pulang ke negeri masing-masing, mereka akan mengatakan bahawa Syi’ah
adalah mazhab yang membenci Rasulullah s.a.w. dan melemparkan bendabenda
najis ke kuburannya. Dengan demikian maka mereka telah dapat
melempar dua burung dengan satu batu.
Ini serupa dengan cerita seorang alim yang kupercaya. Katanya: “Ketika
kami sedang tawaf di Baitullah, ada seorang anak muda yang merasa mual
lalu termuntah kerana desakan manusia yang terlalu ramai. Askar-askar
yang menjaga Hajar Aswad lalu datang dan memukulnya. Diseretnya anak
muda ini dengan keadaan yang memilukan lalu dituduh bahawa dia datang
membawa benda najis untuk mengotori Kaabah. Setelah “dibuktikan”
maka anak muda ini dihukum mati pada hari itu juga.”
Kenangan-kenanganku di sana mulai terukir di benakku. Aku sejenak
merenungkan kata-kata temanku Saudi ini yang mengkafirkan Syi’ah.
Sebabnya tiada lain hanyalah kerana mereka menangis, memukul-mukul
dada, sujud di atas tanah dan sembahyang di sekitar kuburan. Aku
tertanya-tanya apakah ini dalilnya untuk menkafirkan orang yang
bersaksi Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah HambaNya
dan UtusanNya, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, puasa bulan
Ramadhan, pergi ke Baitullah al-Haram dan melaksanakan amar ma’ruf
dan nahi a’nil munkar.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 67
Aku tidak ingin membantah temanku dan bertikai dengannya. Aku hanya
berkata: semoga Allah membimbing kita dan mereka ke jalan yang lurus,
dn semoga laknat Allah ditimpakan kepada musuh-musuh agama yang
telah menipu daya Islam dan kaum Muslimin.
Setiap kali aku bertawaf ketika umrah dan ketika berziarah ke Makkah
al-Mukarramah, yang ada hanya segelintir manusia sahaja. Aku sholat dan
memohon kepada Allah dengan segala jiwa ragaku agar dibukanya hatiku
dan dibimbingnya aku ke jalan yang benar.
Aku berdiri di belakang maqam Ibrahim AS. Aku membaca ayat
berikut:”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak akan
menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama
orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu sekalian orangorang
Muslim dari dahulu. Dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya
Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi
atas segenap manusia, maka dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan
berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah
sebaik-baik pelindung dn sebaik-baik Penolong”(Al-Haj: 78)
Lalu aku mula bermunajat dengan Sayyidina Ibrahim atau bapa kita
Ibrahim seperti yang dikatakan di dalam al-Qur’an.”Wahai bapa kami,
Wahai yang menamakan kami dengan Muslimin. Lihatlah anak-anakmu
telah berselisih menjadi Yahudi, Nasrani dan Muslimin. Dan Yahudi telah
berpecah kepada tujuh puluh tiga firqah Nasrani telah berpecah kepada
tujuh puluh dua firqah. Dan kaum Muslimin telah berpecah juga kepada
tujuh puluh tiga firqah. Semua mereka tersesat seperti yang diberitakan
oleh puteramu Muhammad dan satu golongan sahaja yang masih setia di
jalanmu wahai bapa.”
Apakah ini telah menjadi sunnah Allah seperti yang dikatakan oleh
Qadariyyah, sehingga Allah SWT telah menetapkan kepada semua
manusia untuk menjadi Yahudi atau Nasrani atau Muslim, atau atheis,
atau musyrik. Ataukah lantaran kecintaan kepada dunia dan menjauh dari
ajaran-ajaran Allah. Mereka telah lupa kepada Allah lalu Allah melupakan
diri mereka. Akalku tidak berdaya mempercayai bahawa qadha dan qadar
itu menentukan nasib manusia. Bahkan aku condong mengatakan hatta
hampir-hampir pasti mengatakan bahawa Allah SWT setelah menciptakan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 68
kami, Dia juga membimbing kami dan menunjukkan kami mana yang baik
dan mana yang buruk. DiutusNya kepada kami para RasulNya untuk
menjelaskan apa yang kami tidak tahu dan mengajarkan mana yang haq
dari yang batil tetapi manusia telah ditipu oleh dunia dan hiasannya.
Manusia kerana sikap egonya, sombongnya, jahilnya, angkuhnya,
kezalimannya, dan sikap melampaunya menyebabkan berpaling dari
kebenaran dan mengikuti syaitan. Mereka telah lari dari ar-Rahman dan
masuk ke jalan yang lain. Al-Qur’an telah mengungkapkan ini dengan
ungkapan yang sangat baik dan ringkas. FirmanNya:”Sesungguhnya Allah
tidak sekali-kali menzalimi manusia, tetapi manusia itu sendiri yang
menzalimi diri mereka”(Yunus: 44).
Duhai, bapa kami Ibrahim. Tiada cela bagi Yahudi dan Nasrani yang telah
mengingkari kebenaran setelah datangnya bukti-bukti yang jelas dengan
sikap mereka yang angkuh. Lihatlah ummah ini yang telah diselamatkan
oleh Allah dengan datangnya puteramu Muhammad, dan telah dikeluarkan
dari kegelapan menuju terang dan telah dijadikan sebagai ummah yang
terbaik yang pernah diciptakan untuk manusia. Lihatlah mereka juga
bertengkar dan berpecah, bahkan saling mengkafirkan. Rasullullah telah
memperingatkan mereka dan membatasi mereka dengan
sabdanya:”Seorang Muslim tidak diperkenankan meninggalkan saudara
Muslimnya selama lebih dari tiga hari.” Kenapa ummat ini setelah mereka
menjadi sebaik-baik ummat sebelum ini. Dulunya mereka telah memiliki
barat dan timur dan membawa manusia kepada kebenaran ilmu
pengetahuan, kesedaran dan peradaban. Tetapi sekarang mereka telah
menjadi ummat yang hina dan tidak penting. Tanah-tanah mereka
dirampas. Rakyat mereka dihalau. Masjid Aqsa mereka diduduki oleh
segelintir orang-orang Zionis tanpa mereka sanggup membebaskannya.
Kalaulah engkau mengunjungi negara-negara mereka, maka yang kau lihat
hanyalah kemiskinan, kelaparan, ketandusan, penyakit-penyakit
berbahaya, moral-moral yang rosak, ketinggalan dari segi pemikiran dan
teknologi, penindasan, dan kekotoran. Cukup engkau bandingkan antara
tandas-tandas umum mereka di Eropah dengan tandas-tandas umum di
negara-negara kami. Jika seorang musafir masuk ke tandas negara
Eropah maka mereka akan melihatnya bersih dan tidak berbau.
Sementara jika ia pergi ke negara-negara Islam maka ia akan melihatnya
kotor dan berbau. Padahal agama Islam kita mengajarkan bahawa
“kebersihan itu adalah sebahagian dari iman dan kekotoran dari
syaitan.”Apakah iman telah berhijrah ke Eropah dan syaitan datang ke
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 69
mari? Kenapa kaum Muslimin sendiri takut menampakkan aqidah mereka
hatta di negara mereka sendiri, dan tidak berani hatta sekadar
menunjukkan wajah. Mereka takut memelihara janggut mereka atau
memakai pakaian Islam. Sementara orang-orang fasiq secara terangterangan
meminum arak, berzina, dan memperkosa kehormatan Islam
tanpa orang Islam mampu menolak mereka bahkan hatta menyuruh yang
berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari mungkar. Aku dengar sebahagian
negara Islam seperti Mesir dam Morocco, ayah menyuruh anak-anak
perempuan mereka melacur lantaran terlalu faqir dan miskin. Wala Haula
Wala Quwwata Illa Billah al-’Ali al-’Azim.
Ya Ilahi. Kenapa Engkau menjauh dari ummat ini dan meninggalkannya
jatuh ke dalam kegelapan. Tidak….tidak. Aku bermohon kemampunanMu
ya Ilahi dan memohon taubat dari Mu. Merekalah yang menjauh dariMu
dan memilih jalan syaitan. Maha Agung HikmahMu dan Maha Tinggi
KekuasaanMu. Kau telah berfirman:”Barang siapa yang berpaling dari
pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami (Allah) adakan baginya
syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang
selalu menyertainya “(Az-Zukhruf: 36). Engkau yang
berfirman:”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh
telah berlalu sebelum ini beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat
atau dibunuh maka kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang
siapa yang berbalik ke belakang , maka ia tidak dapat mendatangkan
mudarat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur” (Ali Imran: 144)
Tidak syak lagi bahawa kemuduran, keterbelakangan, kehinaan, dan
kemiskinan adalah bukti jelas akan jauhnya mereka dari jalan yang lurus.
Dan tidak syak lagi bahawa kelompok yang sedikit atau kelompok yang
satu dari tujuh puluh tiga kelompok yang ada tidak akan dapat
mempengaruhi perjalanan ummat ini secara keseluruhan. Rasulullah
SAWA telah bersabda:”Kalian menyuruh yang ma’aruf dan mencegah
yang mungkar atau Allah akan menempatkan orang-orang jahat di antara
kalian menguasai kalian, lalu orang-orang yang terbaik di antara kalian
berdoa dan Allah tidak kabulkan.”
Ya Tuhan kami. Kami telah beriman dengan apa yang Engkau turunkan dan
kami telah mengikuti Rasul. Maka golongkan kami bersama orang-orang
yang menyaksikan.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 70
Ya Tuhan kami. Janganlah Engkau palingkan hati-hati kami setelah
Engkau berikan kami hidayah. Kurniakanlah kepada kami rahmat dari
sisiMu. Sesungguhnya Engkau Maha Penganugerah.
Ya Tuhan kami. Kami telah menzalimi diri kami, kalaulah Engkau tidak
mengampuni kami dan mengasihi kami maka kami pasti akan menjadi
orang-orang yang merugi.
Aku berangkat ke Madinah al-Munawarah sambil membawa sepucuk surat
dari temanku Basyir untuk salah seorang kerabatnya di sana. Maksudnya
agar aku dapat tinggal bersamanya di sana kelak. Sebelum itu Basyir juga
telah memberitahunya melalui telefon. Setibanya di sana, aku disambut
dengan hangat dan diajak tinggal di rumahnya. Segera setelah itu aku
pergi berziarah ke kuburan Rasul SAWA. Aku mandi dan mengenakan
pakaianku yang paling baik dan bersih. Tidak lupa juga aku memakai
wangi-wangian yang harum semerbak. Waktu itu para pengunjung tidak
seramai di musim haji kerana itu aku dapat berdiri di hadapan kuburan
Nabi SAWA dan kuburan Abu Bakar dan Umar. Pada musim haji tempoh
hari kerana sesaknya pengunjung aku tidak dapat berdiri seperti ini.
Secara bersahaja aku cuba untuk menyentuh salah satu dari pintu
kuburan Nabi sebagai tabaruk. Tiba-tiba seorang penjaga yang berdiri di
situ menghentakku. Di setiap pintu ada seorang penjaga yang berdiri.
Ketika aku berdiri lama untuk berdoa dan menyampaikan salam temanku,
para penjaga di situ menyuruhku pergi. Aku cuba untuk bercakap dengan
salah seorang dari mereka tetapi tidak ada kesan apa-apa.
Aku kembali ke taman Raudhah. Di sana aku membaca ayat-ayat al-
Qur’an dengan bacaan yang terbaik. Aku ulangi berkali-kali kerana aku
bayangkan seakan Nabi sedang mendengar bacaanku. Aku katakan kepada
diriku apakah mungkin Nabi wafat seperti kematian orang-orang lain. lalu
kenapa kita baca salam kepadanya di waktu-waktu solat kita “Assalamu
Alaika Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullahi Wabarakatuh “. Jika kaum
Muslimin percaya bahawa Nabi Khidhir AS tidak mati dan menyahut
salam kepada setiap orang yang mengucapkan kepadanya bahkan jika
syaikh-syaikh tarekat sufi percaya bahawa syaikh mereka Ahmad Tijani
atau Abdul Kadir al-Jailani dapat kepada mereka secara nyata atau dalam
tidur, lalu kenapa kita meragukan jika Rasulullah SAWA mempunyai
karamah seumpama ini. Padahal baginda Nabi adalah makhluk Allah yang
paling utama.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 71
Sebenarnya kaum Muslimin tidak meragukan kebolehan Rasulullah
seperti ini melainkan puak Wahabbiyah yang aku sendiri mula tidak
menyukainya. Selain dari sebab ini, juga kerana mereka bersikap kasar
dan keras terhadap sesama orang-orang Mukmin yang tidak seaqidah
dengan mereka.
Suatu hari aku berziarah ke Taman Baqi’. Aku berdiri di sana membaca
Fatihah untuk arwah Ahlul Bayt. Berdekatan dengan aku ada seorang tua
yang sedang menangis. Dari tangisannya aku bahawa dia adalah seorang
Syi’ah. Kemudian dia menghadap kiblat dan solat. Tiba-tiba secepat kilat
seorang askar datang menghampirinya yang seakan-akan dia memang
memerhatikan gerak-geriknya dari awal. Dalam keadaan sujud orang tua
ini ditendang dengan kasut sehingga dia jatuh tersungkur. Dia pengsan
tidak sedarkan diri untuk beberapa saat. Kemudian askar tadi
memukulnya lagi dan mencaci hamun kepadanya. Hatiku tidak tergamak
melihat orang tua ini, takut-takut dia akan mati. Aku katakan kepada
askar ini:”Haram bagimu memperlakukan orang tua seperti ini. Kenapa kau
pukul dia ketika solat? Dihentaknya aku sambil berkata: diam kau dan
jangan ikut campur agar tidak aku perlakukan seperti itu kepadamu.
Ketika aku lihat matanya merah padam dan marah kepadaku aku pergi
menghindarinya dengan hati yang sangat kesal lantaran tidak dapat
menolong seseorang yang sedang dianiaya. Aku juga sangat geram kepada
orang-orang Saudi yang memperlakukan manusia menurut kemahuannya
sahaja, tanpa ada yang berani mencegah. Sebahagian penziarah
menyaksikan kejadian itu. Ada yang berkata: La Haula Wala Quwwata Illa
Billahi al-Ali al-Azim Ada juga yang menyokong tindakan itu kerana
kononnya dia solat di sekitar kubur, dan ini hukumnya haram. Aku tidak
dapat menahan diriku melihat sikap orang ini. Aku katakan kepadanya,
siapa yang berkata bahawa solat di sekitar kuburan adalah haram?
“Rasulullah yang melarangnya,”jawabnya.” Kalian berdusta atas nama
Rasulullah,”kataku tanpa sedar. Aku khuatir orang-orang yang berada di
sekitar akan menangkapku atau memanggil askar itu lalau menangkapku
seperti orang tua itu. Akhirnya aku berkata lemah-lembut kepada orang
ini:”Jika memang Nabi SAWA melarang ini, kenapa jutaan jamaah haji
dan penziarah tidak melaksanakannya dan terus mengamalkan perbuatan
yang haram. Mengingat mereka solat di sekitar kuburan Nabi dan
kuburan Abu Bakar dan Umar ketika solat di Masjid Nabawi atau di
berbagai masjid kaum Muslimin yang lain di serata dunia ini. Katakanlah
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 72
bahawa solat di sekitar kuburnya haram, apakah dengan cara kasar ini
kita melarangnya’ ataukah dengan cara yang halus dan lemah lembut?
Izinkan aku menceritakan kisah seorang Badwi yang kencing di Masjid
Nabi di hadapan baginda Nabi dan sahabat-sahabatnya tanpa segan silu.
Ketika sebahagian sahabat berdiri menghunuskan pedang untuk
membunuhnya, Nabi melarang mereka. Katanya:”Biarkan dia dan jangan
kalian bertindak keras. Siramkan setimba air pada air kencingnya, kerana
kalian dibangkitkan untuk mempermudahkan bukan untuk mempersulit;
untuk membawa berita gembira bukan untuk menimbulkan rasa enggan”.
Semua sahabat mematuhi perintahnya. Kemudian Rasulullah memanggil si
Badwi ini dan didudukkannya di sisinya. Disambutnya dengan mesra dan
dikatakan kepadanya dengan lemah lembut bahawa tempat ini adalah
Rumah Allah dan tidak boleh dinajisi. Akhirnya si Badwi masuk Islam.
Pada hari-hari kemudiannya dia datang ke masjid dengan pakaiannya yang
paling suci. Benarlah firman Allah kepada RasulNya:”Sekiranya kamu
bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu” (Ali Imran: 159)
Mendengar cerita ini sebahagian yang hadir merasa terkesan. Salah
seorang dari mereka mengajakku ke tepi dan bertanya siapa aku. Dari
Tunisia, jawabku. Disalamnya aku dan berkata:”Ya akhi, demi Allah,
jagalah dirimu dan jangan bercakap serupa itu lagi di sini. Aku
menasihatimu hanya kerana Allah semata-mata.”
Sejak saat itu aku bertambah benci kepada mereka yang mengaku
sebagai penjaga dua Haram (Khadam Haramain) sementara
memperlakukan tamu-tamu Allah dengan cara kasar seperti itu. Di sana
tidak ada orang yang berani mengeluarkan pendapatnya atau
meriwayatkan hadith-hadith yagn tidak sesuai dengan cara mereka; atau
percaya sesuatu yang tidak sama dengan kepercayaan mereka.
Aku kembali ke rumah temanku yang baru yang masih tidak aku kenal
namanya. Dia membawakan untukku makan malam sambil duduk bersama
di hadapanku. Sebelum mulai makan, ditanyanya ke mana aku pergi. Aku
ceritakan kepadanya apa yang aku saksikan dari awal hingga akhir. Aku
katakan juga kepadanya:” Ya akhi, terus terang aku katakan kepadamu
bahawa aku mulai muak kepada Waahabi dan mulai condong kepada
Syiah.” Tiba-tiba mukanya berubah. Katanya kepadaku:” Jangan kau
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 73
ucapkan kata-kata serupa itu sekali lagi!” Ditinggalkannya aku sendirian
dan tidak kembali sehinggalah aku tertidur. Pagi-pagi lagi aku bangun
setelah mendengar suara azan Masjid Nabawi, aku lihat makanan malam
tadi masih berada di tempatnya. Aku sedar bahawa dia tidak kembali
malam tadi. Aku berasa khuatir kalau-kalau dia seorang agen perisik. Aku
segera berdiri dan bergegas meninggalkan rumah. Sepanjang hari itu aku
berada di masjid saja, berziarah dan bersolat. Aku hanya keluar untuk
berwudhu atau buang hajat.
Setelah solat Asar aku dengar seorang penceramah sedang memberikan
kuliah kepada sekumpulan jamaah di sekitar. Aku ikut serta dalam majlis
itu. Melalui orang yang hadirnya akhirnya aku tahu bahawa beliau adalah
Kadhi Kota Madinah. Aku mendengarkan kuliah tafsir al-Qur’an yang
diajarnya. Setelah masjlis, aku menhadapnya dan bertanya tentang
sesuatu kepadanya. Kataku: Tuan, dapatkah anda memberikan penjelasan
kepadaku maksud ayat “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan kekotoran dari kamu hai Ahlul Bayt dan membersihkan
kamu sebersih-bersihnya ” (Al-Ahzab: 33). Siapa Ahlul Bayt yang
dimaksudkan dalam ayat ini?” Jawabnya segera:” Mereka adalah isteriisteri
Nabi. Sebab ayat ini bermula dengan menyebut mereka,” Hai isteri
Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita lain….”
Aku katakan kepadanya:” Ulama Syiah berkata bahawa ayat ini adalah
khusus untuk Ali, Fatimah, Hasan, dan Husayn. Aku juga telah memprotes
mereka dan aku katakan bahawa permulaan ayat tersebut adalah katakata”
Hai isteri-isteri Nabi….” Mereka menjawab:” Ketika ayat tersebut
berkata kepada isteri-isteri Nabi, dhomir (ganti nama) yang digunakan
semuanya Nun Niswah (menunjuk perempuan). Firman Allah,”Lastunna
init-taqitunna”, “Fala Takhdo’na”, “Wa Qulna”, “Wa urna Fi
Buyutiqunna”, ” wa la tabarrajna”, “Wa aqimmas solah wa atinaz zakat”,
“Wa athi’ nallaha wa rasulahu”. Ketika bahagian ayat itu khusus kepada
Ahlul Bayt, maka dhomir ayat itu pun berubah (menunjuk lelaki).
Firmannya “Li Yuzhiba A’nkum” “Wa Yutohirakum”.
Sambil mengangkat cermin matanya, dia memandang mukaku dan
berkata:” Hati-hati engkau dari jenis pemikiran yang bahaya ini. Orangorang
Syiah mentakwilkan Kalam Allah mengikut hawa nafsu mereka.
Mereka juga mempunyai berbagai ayat yang kita tidak tahu mengenai Ali
dan anak-anaknya. Mereka juga mempunyai al-Qur’an tersendiri yang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 74
dinamakan dengan Mashaf Fatimah. Aku peringatkan engkau jangan
sampai tertipu “.
“Jangan khuatir hai Tuan!” Kataku kepadanya,” Aku sentiasa waspada dan
banyak tahu tentang mereka. Aku hanya ingin mengkaji.
“Anda berasal dari mana?” Tanyanya kepadaku.
“Dari Tunisia”.
“Siapa namamu?”
“At-Tijani”.
Dia tertawa lebar.” Anda tahu siapa itu Ahmad Tijani”, tanyanya. “Syaikh
Tarekat,”jawabku. “Dia adalah boneka kepada penjajah Perancis. Perancis
dapat bertapak di Algeria, dan Tunisia kerana bantuannya. Jika kau pergi
ke Paris, kau pergi ke Perpustakaan Nasional dan baca suatu kamus
Perancis dalam Bab “A”. Di sana kau akan lihat bahawa negeri Perancis
telah memberi medal kehormatan kepada Ahmad Tijani kerana telah
memberikan khidmat yang tidak terhingga kepada mereka. Aku berasa
sangat hairan dengan kata-katanya. Lalu aku ucapkan rasa terima kasih
dan kami pun berpisah.
Aku berada di Madinah selama seminggu di mana aku telah dapat solat
sebanyak empat puluh solat di sana. Aku juga mengunjungi semua tempattempat
ziarah. Selama masa keberadaanku di sana aku sangat menaruh
perhatian. Perasaanku terhadap Wahabiyyah semakin hari semakin muak
dan marah. Aku berangkat dari Madinah ke Jordan. Di sana aku berjumpa
dengan teman-teman yang aku kenal pada waktu musim haji, seperti yang
aku sebutkan di atas.
Di sana aku berada selama tiga hari. Aku lihat rasa dengki mereka kepada
Syiah lebih banyak dari yang ada di Tunisia. Cerita dan kisahnya satu.
Setiap kali aku tanya apa dalilnya, mereka berkata bahawa mereka juga
telah mendengarnya dari orang lain. Tidak satu pun yang aku tanya
pernah duduk bersama orang Syiah atau membaca kitab orang Syiah
bahkan bertemu dengan orang Syiah sekalipun.
Dari sana aku pergi ke Syria. Aku berkunjung ke Jami’ Umawiyyah di
Damsyik. Di sebelahnya ada tempat makam kepalanya Sayyidina Husayn.
Aku juga sempat mengunjungi kuburannya Salahuddin al-Ayyubi dan
Sayyidina Zainab.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 75
Dari Beirut aku terus pergi ke Tripoli. Perjalanan laut memakan waktu
selama tiga hari. Di saat itulah aku benar-benar beristirehat. Aku ulangi
kaset rakaman perjalananku yang hampir habis. Akhirnya aku
berkesimpulan bahawa aku condong dan menaruh rasa hormat kepada
Syiah. Dan sebaliknya merasa benci dan muak kepada Wahabiyyah yang
aku kenal liku-likunya. Aku memuji Allah atas kurnia yang diberikanNya
kepadaku sambil berdoa kepadaNya agar ditunjukkanNya kepadaku jalan
yang benar.
Aku kembali ke tanah airku dengan penuh kerinduan kepada keluargaku
dan teman-temanku. Semuanya aku dapati dalam keadaan baik. Ketika
masuk ke rumah, aku terkejut dengan bungkusan buku yang banyak yang
telah sampai sebelumku. Aku tahu siapa pengirimnya. Ketika aku buka
buku-buku yang memenuhi ruangan rumahku tersebut, hatiku semakin
cinta dan menghargai mereka yang tidak mengingkari janjinya. Aku lihat
buku-buku yang dikirim lebih banyak dari yang dihadiahkannya kepadaku
waktu itu.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 76
Mulanya Satu Kajian
Aku sangat gembira. Aku susun buku-buku itu di ruangan khas yang aku
namakan perpustakaan. Beberapa hari aku beristirehat. Daftar kerja
untuk awal tahun pelajaran baru telah aku terima. Tugasku mengajar tiga
hari berturut-turut dan selebihnya aku cuti.
Aku mula membaca buku-buku itu. Aku baca buku Aqaid al-Imamiyyah dan
Aslus Syiah Wa Usuluha. Hatiku tenang melihat aqidah dan pemikiranpemikiran
yang dimiliki oleh Syiah. Kemudian aku baca kitab al-Murujaat
(Dialog Sunah-Syiah) oleh Sayyid Syarafuddin al-Musawi. Setelah
beberapa lembar aku baca, ianya sangat memikat sehingga tidak aku
tinggalkan kecuali betul-betul terdesak. Kadang-kadang aku bawa kitab
itu ke sekolah. Kitab itu sangat menarik perhatianku lantaran sikap dan
ketegasan orang alim Syiah itu dan kemampuannya di dalam menjawab
setiap soalan yang diajukan oleh seorang alim Sunni Syaikh al-Azhar.
Kitab itu sangat menusuk jiwaku kerana ia berbeza dengan kitab-kitab
lain. Biasanya penulis sebuah buku akan menulis apa sahaja yang ia
kehendaki tanpa ada orang yang akan menyangkal atau mengkritik. Tetapi
kitab ini adalah dialog antara dua alim dari dua madzhab yang berbeza.
Masing-masing membahas secara terperinci setiap apa yang mereka
permasalahkan, kecil atau besar, dengan berpegangkan kepada dua asas
segenap kaum Muslimin, yakni al-Qur’an dan Sunnah sahih yang
disepakati. Buku itu benar-benar mewakiliku sebagai seorang yang sedang
mencari suatu kebenaran. Ia akan menerima setiap kebenaran yang
didapatinya. Itulah kenapa buku itu sangat berguna sekali bagiku dan
mempunyai jasa yang besar yang tidak terhingga kepadaku.
Aku sangat hairan ketika si penulis berbicara tentang ketidakpatuhan
sebahagian sahabat terhadap perintah-perintah Rasul SAWA. Dibawanya
berbagai contoh, antara lain ialah Tragedi Hari Khamis. Tidak
terbayangkan betapa Sayyidina Umar bin Khattab memprotes perintah
Nabi dan mengatakan bahawa Nabi meracau. Mula-mula aku ingat bahawa
riwayat itu mesti dari kitab-kitab Syiah. Lebih menghairankan lagi ketika
aku lihat bahawa orang alim Syiah itu meriwayatkannya dari kitab Sahih
Bukhari dan Sahih Muslim. Aku katakan kepada diriku bahawa jika
memang aku jumpai ini di dalam Sahih Bukhari maka ia akan menjadi
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 77
sebuah pendapat bagiku.
Aku berangkat ke ibu kota. Di sana aku membeli kitab Sahih Bukhari,
Sahih Muslim, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Sahih Tirmidzi, Muwatta
Imam Malik dan kitab-kitab lain yang terkenal. Belum sempat sampai ke
rumah, sepanjang jalan ke Qafsah dengan bas umum, aku buka lembaranlembaran
Kitab Bukhari. Aku cari riwayat Tragedi Hari Khamis, dengan
harapan aku tidak akan menjumpainya di sana. Di luar dugaan aku dapati
ada di sana dan aku baca berulang kali. Teksnya sama dengan apa yang
ditulis oleh Sayyid Syarafuddin.
Aku berusaha untuk tidak mempercayai berlakunya tragedi ini secara
keseluruhan kerana rasanya tidak mungking Sayyidina Umar melakukan
perbuatan yang sangat ‘bahaya’ ini terhadap Nabi SAWA tetapi
bagaimana aku akan mendustakan riwayat yang ada di dalam kitab sahih
kami sendiri, yakni kitab sahihnya Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Bukankah
kita telah mewajibkan diri kita untuk mempercayai bahawa kitab itu
adalah kitab sahih. Meragukan atau mendustakan hatta sebahagian
darinya bermakna kita telah mengabaikannya? Mengingatkan akibatnya
kita akan mengabaikan seluruh kepercayaan kita.
Seandainya orang alim Syiah itu menukilnya dari kitab mereka maka aku
tidak akan mempercayainya sama sekali. Tetapi ketika beliau menukilnya
dari kitab sahih Ahlul Sunnah sendiri yang tidak ada jalan untuk
mencelanya, sementara kita juga mengatakan bahawa itu adalah kitab
yang paling sahih setelah turunya al-Qur’an, maka perkara tersebut
menjadi lain dan menyirat suatu kemestian. Kalau tidak maka bermakna
kita telah meragukan terhadap kesahihan kitab ini. Itu bermakna kita
tidak mempunyai sebarang pegangan di dalam melihat hukum-hukum Allah
SWT. Mengingatkan hukum-hukum yang ada di dalam Kitab Allah datang
secara umum dan tidak terperinci. Dan kerana jarak kita dengan
Rasulullah begitu jauh, maka kita telah mewarisi hukum-hukum agama
kita melalui leluhur kita dengan perantara kitab sahih seperti ini. Dengan
demikian maka kita tidak boleh mengabaikan kitab-kitab seumpama ini
sama sekali.
Aku berjanji kepada diriku ketika mula mengkaji masalah yang panjang
dan rumit ini untuk semata-mata berpegang kepada hadith yang sahih
yang disepakati oleh Sunnah dan Syiah. Aku akan mengabaikan setiap
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 78
hadith yang hanya dipegang oleh satu madzhab sahaja dan ditolak oleh
yang lain. Dengan cara yang adil seperti ini, aku akan dapat menjauhi
diriku dari segala jenis pengaruh-pengaruh yang emosional, sikap taksub
madzhab atau perselisihan kaum dan bangsa. Dalam waktu yang sama aku
akan memohon jalan keragu-raguan untuk dapat sampai ke puncak
keyakinan, yakni jalan Allah yang lurus.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 79
Sahabat Dalam Pandangan Sunnah dan Syiah
Di antara masalah penting yang aku anggap sebagai asas pokok setiap
permasalahan yang akan membawa pada suatu kebenaran adalah masalah
kehidupan para sahabat, tingkahlaku mereka dan kepercayaan mereka.
Mengingat mereka adalah tiang segala sesuatu. Dari mereka kita
mengambil ajaran agama kita. Dan dengan mereka kita bersinar dari
bawah kegelapan untuk mengetahui hukum-hukum Allah SWT. Dahulunya
ulama Islam telah meneliti mereka dan mempelajari kehidupan para
sahabat. Mereka telah menulis berbagai buku tentang ini, seperti Usud
al-Ghabah Fi Tamyiz as-Sahabat, Kitabal-Isobah Fi Ma’rifat as-Sahabat,
Kitab Mizan al-I’tidal dan lain-lain lagi yang berbicara tentang kehidupan
para sahabat secara teliti dan kritikal. Kesemuanya ini adalah dari sudut
pandangan Ahlul Sunnah Wal-Jamaah.
Ada beberapa keberatan timbul yang dapat kita ringkaskan sebagai
berikut. Bahawa para ulama terdahulu kebanyakannya ketika menulis
sejarah, akan mengikut rentak pendapat para penguasa, sama ada Bani
Umaiyyah atau Bani Abbasiyyah. Sementara sikap permusuhan mereka
terhadap Ahlul Bayt Nabi dan bahkan terhadap orang-orang yang
mengikuti mereka tidak dapat disembunyikan lagi. Itulah kenapa adalah
tidak adil jika hanya berpegang kepada kata-kata mereka tanpa melihat
pandangan ulama Muslimin yang lain yang ditekan, dihalau dan diburu oleh
para penguasa itu. Dosanya hanya kerana mereka adalah pengikut setia
Ahlul Bayt dan sumber setiap penentangan terhadap penguasa-penguasa
yang zalim dan sesat.
Kemusykilan yang paling asas adalah masalah sahabat. Mereka telah
berselisih ketika Rasul SAWA ingin menuliskan kepada mereka suatu
wasiat yang akan menjamin mereka dari kesesatan sehingga akhir zaman.
Perselisihan mereka ini telah mengakibatkan ummat Islam tidak
mendapatkan kurnia ini dan menghantar mereka pada kesesatan sehingga
mereka terpecah, berselisih dan hilang kekuatan.
Mereka juga telah berselisih di dalam masalah khilafah sehingga mereka
terpecah kepada penyokong parti yang memerintah dan parti
pembangkang. Akibatnya ummat Islam terkorban dan terbahagi kepada
Syi’ahnya Ali dan Syiahnya Mu’awiyah.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 80
Mereka juga berselisih di dalam menafsirkan Kitab Allah dan hadithhadith
Rasul SAWA. Akibatnya terciptalah berbagai madzhab, puak,
kelompok, dan golongan. Dari sana tumbuh berbagai aliran Ilmu Kalam dan
aliran-aliran pemikiran yang beragam. Juga muncul berbagai aliran
falsafah yang bermotifkan kepentingan politik melulu serta berkaitan
rapat dengan kekuasaan.
Kalaulah bukan kerana sahabat maka kaum Muslimin tidaklah terpecah
dan berselisih. Setiap perselisihan yang berlaku pasti berakar umbi
daripada perselisihan mereka tentang sahabat. Tuhan satu, al-Quran
satu, Rasul satu dan kiblat satu. Semua kaum Muslimin sepakat dalam
semua itu. Perselisihan bermula dan berlaku berkenaan dengan sahabat
sejak dari hari pertama setelah wafatnya Rasul SAWA di Saqifah Bani
Sai’dah sehingga hari ini dan akan terus berlanjutan sampai masa yang
dikehendaki Allah.
Dari diskusiku dengan beberapa ulama Syiah, dalam pandangan mereka
sahabat terbahagi kepada tiga golongan. Pertama, golongan sahabat yang
baik yang telah mengenal Allah dan RasulNya dengan pengetahuan yang
sempurna. Mereka telah membaiat Rasul dan bersedia berkorban,
menemaninya dengan jujur di dalam ucapan, dan ikhlas di dalam tindakan,
tidak berpaling setelah wafatnya bahkan tetap setia dengan janjijanjinya.
Mereka ini telah dipuji oleh Allah di dalam KitabNya di berbagai
ayat al-Qur’an. Rasul juga telah memujinya di dalam berbagai tempat.
Orang-orang Syiah menyebut mereka dengan penuh hormat dan takzim.
Mereka mengucapkan Radhiallah Anhum kepada mereka sebagaimana Ahli
Sunnah juga.
Kedua, golongan sahabat yang memeluk Islam dan mengikut Rasul SAWA
kerana suatu tujuan, sama ada inginkan sesuatu atau takutkan kepada
sesuatu. Mereka meminta jasa kepada Rasul atas keislaman mereka.
Kadang-kadang mereka menganggunya dan tidak patuh pada perintah atau
larangannya. Bahkan berpegang kepada pendapat sendiri di hadapan nasnas
yang jelas. Sehingga Allah turunkan ayat mencela mereka atau
kadang-kadang mengancam mereka; dan Rasul juga telah memperingatkan
mereka di dalam berbagai sabdanya. Orang-orang Syiah tidak
menghormati perbuatan mereka apalagi mensucikan mereka.
Ketiga, golongan munafiq yang menemani Rasul untuk memperdayakannya.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 81
Mereka menampakkan diri sebagai Muslim sementara hati mereka
menyimpan kekufuran. Mereka mendekat kepada Islam agar dapat
memperdayakan kaum Muslimin. Allah telah menurunkan kepada mereka
suatu surah yang sempurna. Disebutkan mereka di dalam berbagai tempat
dan diancamnya mereka dengan siksa api neraka yang paling dahsyat.
Rasul juga telah menyebut mereka dan mengancam mereka. Sebahagian
mereka telah diberitahu nama-nama mereka dan tanda-tandanya. Sunnah
dan Syiah sepakat untuk melaknat dan menjauhkan diri dari mereka.
Tambahan lagi ada satu golongan sahabat yang khusus. Mereka lebih
istimewa lantaran kekerabatan mereka dengan Nabi, ketinggian akhlak,
dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekuasaan yang telah dikurniakan
Allah dan RasulNya kepada mereka sehinggalah tidak satu pun orang
dapat menyainginya. Mereka adalah golongan Ahlul Bayt yang telah
dibersihkan oleh Allah dari segala dosa dan dibersihkan sesuci-sucinya
(S:33:33), diwajibkan bersalawat ke atas mereka sebagaimana yang
diwajibkam kepada Rasul SAWA, disertakan mereka sebagai golongan
yang wajib diberikan khumus (S:8:41), diwajibkan kepada orang-orang
Islam untuk mencintai mereka sebagai imbalan bagi Risalah Muhammad
SAWA (S:42:23), sebagai ulil amri yang wajib dipatuhi (S:4:59), sebagai
orang-orang yang rusukh di dalam ilmu pengetahuan dan tahu memberikan
takwilan kepada al-Qur’an dan membezakan antara yang mutasyabih
dengan yang muhkam (S:3:7), sebagai Ahl Zikr yang dijadikan oleh Rasul
sebagai pendambing al-Qur’an dan wajib berpegang teguh kepadanya
seperti di dalam hadith as-Tsaqalain (Lihat Kanz Ummal, Jilid 1, hlm. 44;
dan Musnad Ahmad, Jilid 5, hlm. 182), sebagai bahtera penyelamat Nabi
Nuh sehingga siapa yang mengikutinya aka selamat dan yang tinggal akan
tenggelam (Lihat Mustadrak al-Hakim, Jilid 3, hlm.151; dan Sawaiq al-
Muhriqah oleh Ibnu Hajar, hlm. 184 dan 234).
Para sahabat mengetahui kedudukan Ahlul Bayt, menghormati bahkan
metakzimkan mereka. Dan Syiah menuruti jejak mereka serta
mendahulukan mereka di atas semua sahabat yang lain. Dalam hal ini
mereka mempunyai dalil-dalil yang sangat bernas.
Sementara Ahlul Sunnah Wal Jamaah walaupun mereka menghormati,
mengutamakan, dan mentakzimkan Ahlul Bayt, namun mereka tidak
menerima adanya pembahagian sahabat seperti ini. Mereka tidak
menganggap orang-orang munafik sebagai sebahagian dari sahabat. Bagi
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 82
mereka sahabat adalah manusia yang paling baik selepas Rasul SAWA.
Jika ada pembahagian, maka pembahagiannya di sisi lain, seperti golongan
orang-orang yang mula pertama masuk Islam, golongan sahabat yang
menderita kerana agama Islam dan sebagainya. Empat Khulafa Rasyidin
ditempatkan pada peringkat pertama, kemudian enam orang yang lain
yang telah dijamin masuk syurga seperti yang diriwayatkan. Itulah
kenapa mereka bersalawat ke atas Nabi dan Ahlul Baytnya maka mereka
akan sebut juga para sahabat secara keseluruhan (Wa Ala Alihi Wa
Sahbihi Ajma’in).
Inilah yang aku tahu dari ulama-ulama Ahlul Sunnah Wal Jamaah dan
begitulah juga yang aku dengar dari ulama-ulama Syiah tentang
pembahagian sahabat. Dan ini mendorongku untuk membuat kajian secara
mendalam tentang sahabat. Aku berjanji kepada Tuhanku – jika Dia
perkenankan – untuk menghindarkanku dari segala jenis taksub dan
emosional agar dapat berlaku objektif di dalam menilai pendapat kedua
madzhab ini, lalu mengambil yang terbaik darinya.
Rujukanku di dalam hal ini:
1. Kaedah mantik yang benar. Iaitu aku tidak akan berpegang kecuali
apa yang disepakati oleh kedua golongan di dalam menafsirkan Kitab
Allah dan Sunnah Nabi yang sahih.
2. Akal. Ia adalah nikmat Allah yang paling besar kepada manusia.
Kerananya maka manusia dimuliakan dan diutamakan di atas segenap
makhluk-makhluk yang lain. Bukankah Allah SWT ketika berhujah
dengan hamba-hambaNya, menyeru mereka supaya berfikir.
FirmanNya “Apakah kalian tidak berfikir”, “Apakah mereka tidak
memahami”, “Apakah mereka tidak meneliti”, “Apakah mereka tidak
melihat”, dan lain-lain lagi (Sila lihat contoh-contoh dalam al-
Qur’an).
Prinsip kajianku mestilah Islami; beriman kepada Allah, para
malaikatNya, para RasulNya, kitab-kitabNya, dan bahawa Muhammad
adalah hambaNya dan RasulNya dan hanya Islam sebagai Din yang ada di
sisi Allah SWT. Aku tidak akan berpegang kepada mana-mana sahabat
walaupun kekerabatannya yang dekat dengan Nabi atau kedudukannya
yang tinggi. Aku bukanlah seorang dari golongan Bani Umaiyyah atau Bani
Abbasiyyah atau Fatimiyyah atau Sunnah ataupun Syiah. Aku juga tidak
mempunyai sebarang permusuhan dengan Abu Bakar, Umar, Uthman atau
Ali bahkan Wahsyi pembunuh Sayyidina Hamzah sekalipun selama ini dia
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 83
telah mengikuti agama Islam. Bukankah Islam mengampuni segala apa
yang telah dilalui di alam kekufuran dan Rasul telah memaafkannya?
Kerana itu aku telah bertekad untuk mengkaji secara mendalam agar
dapat sampai kepada suara kebenaran, dan kerana aku telah mengambil
keputusan untuk membebaskan fikiranku dari segala ikatan maka aku
memulakan penelitianku mengenai sahabat dengan penuh tawakal dan
mengharapkan barakah dari sisi Allah SWT.
1. Perdamaian Hudaibiyyah Dan Sahabat
Ringkasan peristiwa adalah seperti berikut:
Pada tahun keenam Hijrah Rasulullah bersama seribu empat ratus
sahabatnya keluar dari Madinah dengan tujuan umrah. Disuruhnya para
sahabat menyarungkan pedangnya masing-masing. Mereka berihram di
Zul Hulaifah dan membawa binatang korban agar orang-orang Quraisy
tahu bahawa mereka datang untuk umrah bukan untuk berperang. Kerana
sifat angkuhnya, orang-orang Quraisy tidak mahu kelak orang Arab
mendengar bahawa Muhammad telah masuk ke Mekah dan memecahkan
benteng mereka. Diutusnya serombongan delegasi yang diketuai oleh
Suhail bin Amru bin Abdu Wud al-Amiri agar meminta Nabi kembali ke
tempat asalnya. Tahun depan mereka akan dizinkan untuk selama tiga
hari. Orang-orang Quraisy juga meletakkan syarat yang berat yang
kemudiannya diterima oleh Rasul SAWA berdasarkan kemaslahatan yang
dilihatnya dan wahyu Allah kepadanya.
Namun sebahagian sahabat tidak senang dengan sikap Nabi seperti ini.
Mereka menentangnya dengan keras. Umar bin Khattab datang dan
berkata:
“Apakah benar engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”
“Ya”, jawab Nabi.
“Bukankah kita dalam hak dan musuh kita dalam kebatilan?”
“Ya”, sahut Nabi lagi.
“Lalu kenapa kita hinakan agama kita?”, desak Umar.
“Aku adalah Rasulullah. Aku tidak melanggar perintahNya dan Dialah
Penolongku”, jawab Nabi.
“Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahawa kita akan mendatangi
Rumah Allah dan bertawaf di sana?”
“Ya, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu pada tahun ini juga?”, tanya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 84
Nabi.
“Tidak,”jawab Umar.
“Engkau akan datang ke sana dan tawaf di sekitarnya”.
Kemudian Umar datang kepada Abu Bakar dan bertanya:
“Hai Abu Bakar! Benarkah ini adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”
“Ya”, jawab Abu Bakar.
Kemudian Umar mengajukan pertanyaan yang serupa kepada Abu Bakar
dan dijawabnya dengan jawapan yang serupa juga.
“Hai saudara!”, kata Abu Bakar. “Beliau adalah Rasulullah yang
sesungguhnya. Beliau tidak melanggar perintahNya dan Dialah
PenolongNya maka percayalah dengannya.”
Setelah Rasulullah selesai menulis piagam perdamaian, beliau berkata
kepada sahabat-sahabatnya:” Pergilah kalian sembelih binatang-binatang
korban itu dan cukurlah rambut!” Demi Allah tidak satu sahabatpun
berdiri memenuhi perintah itu sehingga Nabi mengucapkannya sebanyak
tiga kali. Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi perintahnya baginda
masuk ke khemahnya dan keluar kembali tanpa bercakap dengan sesiapa
pun. Beliau menyembelih binatang korbannya dengan tangannya sendiri
lalu memanggil tukang cukurnya dan beliau mencukur rambutnya. Ketika
para sahabat melihat ini mereka berdiri dan menyembelih korban mereka
lalu saling mencukur sehingga hampir-hampir mereka saling berbunuhbunuhan….
(Lihat buku-buku sejarah dan sirah. Juga lihat Sahih Bukhari
di dalam Bab as-Syurut fil Jihad, Jilid 2, hlm. 122; juga Sahih Muslim
Bab Sulhul Hudaibiyyah Jilid 2).
Demikianlah ringkasan kisah Perdamaian Hudaibiyyah yang disepakati
oleh Sunnah dan Syiah. Para ahli sejarah dan sirah seperti Tabari, Ibnul
Athir, dan Ibnu Saad menuliskan cerita ini di buku mereka masingmasing.
Begitu juga Bukhari dan Muslim.
Di sini aku terdiam dan terhenti. Tidak mungkin aku baca cerita
seumpama ini tanpa menimbulkan apa-apa kesan dan hairan atas sikap
para sahabat terhadap Nabi mereka. Apakah seorang yang rasional akan
dapat menerima ucapan orang mengatakan bahawa semua sahabat Nabi
telah mematuhi seluruh perintah Nabi dan melaksanakannya. Bukti
sejarah ini menafikan kebenaran ucapan seperti itu. Dapatkah seorang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 85
yang rasional menilai bahawa sikap seperti ini terhadap Nabi adalah
perkara yang kecil, atau dapat diterima atau dimaafkan? Allah
berfirman:”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman
sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima
dengan sepenuhnya (Surah 4: 65).
Apakah di sini Umar tidak berat menerima keputusan Nabi SAWA
ataukah dia bersikap ragu-ragu terhadap perintah Nabi khususnya ketika
dia berkata: apakah engkau benar-benar Nabi Allah yang sesungguhnya?
Bukankah engkau berkata kepada kami…..dan seterusnya. Apakah Umar
juga menerima jawapan Nabi yang memuaskan itu? Tidak. Dia tidak puas
hati dengan jawapan Nabi lalu pergi kepada Abu Bakar dan mengajukan
pertanyaan yang serupa. Apakah dia menerima jawapan Abu Bakar dan
nasihatnya agar mematuhi perintah Nabi? Tidak tahu aku apakah dia
menerimanya lantaran jawapan Abu Bakar atau jawapan Nabi! Kalau tidak
kenapa dia berkata terhadap dirinya,” Lalu aku telah lakukan beberapa
perkara yang ….”Hanya Allah dan RasulNya sahaja yang tahu apa yang
dilakukan oleh Umar. Dan aku juga tidak tahu sebab keengganan sahabatsahabat
lain atas perintah Nabi setelah itu ketika baginda
berkata:”Pergilah sembelih binatang korban dan cukurlah rambut kalian!”
Tidak satupun dari mereka mendengar perintah Nabi ini sehingga beliau
terpaksa mengulangi tiga kali tanpa apa-apa kesan.
Subhanallah! Aku hampir-hampir tidak percaya apa yang aku baca ini.
Apakah sampai tahap ini para sahabat bersikap terhadap perintah Nabi?
Jika cerita ini diriwayatkan hanya oleh golongan Syiah sahaja, maka aku
akan katakan bahawa ini adalah tuduhan Syiah kepada para sahabat yang
mulia. Masalahnya begitu terkenal dan benarnya cerita ini sehingga
semua ahli hadith Ahlul Sunnah Wal Jamaah meriwayatkannya di buku
mereka masing-masing. Dan kerana aku telah berjanji untuk menerima
apa yang telah aku disepakati, maka aku tidak ada pilihan kecuali
menerima dan bingung. Apa yang harus aku katakan? Dengan apa aku
harus memaafkan terhadap sahabat-sahabat yang telah hidup bersama
Nabi selama hampir dua puluh tahun, dari awal masa kebangkitan
sehinggalah Perdamaian Hudaibiyyah di mana mereka saksikan berbagai
mukjizat dan cahaya kenabian. Al-Qur’an juga mengajarkan kepada
mereka, siang dan malam bagaimana semestinya bersikap dan beradab di
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 86
hadapan baginda Nabi dan bagaimana cara bercakap dengannya, sehingga
Allah pernah mengancam untuk menggugurkan amal-amal baik mereka jika
suara mereka diangkat lebih keras dari suara Nabi.
Aku memungkinkan bahawa Umar bin Khatablah yang mempengaruhi
sahabat-sahabat lain untuk mengabaikan perintah Nabi. Ini dapat aku
lihat melalui pengakuannya bahawa dia telah melakukan beberapa perkara
yang tidak mahu disebutkannya atau sebahagian ucapannya yang
berkata:”Aku terus berpuasa, bersedekah, solat, dan membebaskan
hamba kerana takutkan kata-kataku yang aku ucapkan ini…..” dan
seterusnya seperti yang tercatat di dalam berbagai buku (Lihat as-Sirah
Halabiyyah Bab Sulhul Hudaibiyyah, Jilid 1, hlm. 706).
Ini menunjukkan bahawa Umar sendiri sebenarnya mengetahui implikasi
dari sikapnya seperti ini. Suatu cerita yang aneh, dan ajaib, tetapi benar
dan nyata.
II. Tragedi Hari Khamis Dan Sahabat
Ringkasan cerita adalah seperti berikut:
Para sahabat sedang berhimpun di rumah Rasul SAWA tiga hari sebelum
hari wafatnya. Rasul memerintahkan mereka untuk mengambil kertas dan
dakwat agar dituliskan kepada mereka suatu wasiat yang akan
memelihara mereka dari kesesatan. Namun para sahabat berselisih.
Sebahagian mereka enggan mematuhinya dan menuduhnya telah meracau
sehingga baginda marah dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa
menuliskan apa-apa. Perinciannya sebagai berikut:
Ibnu Abbas berkata:”Hari Khamis, oh Hari Khamis. Waktu Rasul merintih
kesakitan, beliau berkata,’mari aku tuliskan untuk kalian suatu pesanan
agar kalian kelak tidak akan tersesat.’ Umar berkata bahawa Nabi sudah
terlalu sakit sementara al-Qur’an ada di sisi kalian. Cukuplah bagi kita
Kitab Allah. Orang yang berada di rumah berselisih dan bertengkar. Ada
yang mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu
pesanan di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya. Ada sebahagian
lain berpendapat seperti pendapat Umar. Ketika pertengkaran di sisi
Nabi semakin hangat dan riuh Nabi pun lalu berkata,”Pergilah kalian dari
sisiku”. Ibnu Abbas berkata:”Tragedi yang paling menyayat hati
Rasullullah SAWA adalah larangan serta pertengkaran mereka di
hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesanan untuk mereka.” [1]
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 87
Kes ini benar-benar berlaku. Para ulama, ahli hadith dan ahli sejarah
Syiah dan Sunnah menuliskan riwayat ini di dalam buku-buku mereka. Dan
ini harus aku terima lantaran ikrarku dan janji yang telah aku buat. Di
sini juga aku berasa hairan di atas sikap yang dilakukan oleh Umar
terhadap perintah Nabi SAWA. Perintah apa itu? Perintah yang akan
menyelamatkan ummat ini dari kesesatan. Tidak syak lagi bahawa wasiat
ini menyirat sesuatu yang baru bagi kalangan kaum Muslimin dan akan
menghapuskan segala keraguan-keraguan yang ada dalam diri mereka.
Kita tinggalkan pendapat Syiah yang berkata bahawa Nabi sebenarnya
ingin menuliskan nama Ali sebagai khalifahnya lalu Umar lebih cerdik dan
segera melarangnya. Ini kerana tafsiran mereka tidak dapat kita terima
secara prinsip Tetapi apakah kita mempunyai kita mempunyai tafsiran
lain yang logik dari peristiwa yang menyakitkan hati ini, sehingga baginda
marah dan mengusir mereka dari kamarnya. Bahkan menyebabkan Ibnu
Abbas menangis sehingga membasahi tanah, dan dikatakannya sebagai
tragedi yang paling besar.
Ahlul Sunnah berkata bahawa Umar merasakan penderitaan Nabi, lalu
kasihan dan semata-mata tidak ingin membebankannya. Namun tafsiran
serupa ini tidak dapat diterima oleh orang-orang awam, apa lagi orangorang
yang alim. Aku berkali-kali berusaha mencari alasan untuk
memaafkan Umar tetapi realiti kejadian enggan menerimanya. Bahkan
hatta kalimat “yahjur” (meracau) telah diganti (semoga Allah melindungi
kita) dengan kalimat “ghalabahul waja” (kerana terlalu sakit). Kita juga
masih tidak akan dapat menemukan alasan apologetik lain atas kata-kata
Umar, “Indakum Al-Quran” (di sisi kalian al-Quran) dan “Hasbuna
Kitabullah” (cukup bagi kami Kitabullah). Apakah beliau lebih arif tentang
al-Quran daripada Nabi yang telah menerimanya, ataukah baginda tidak
sedar apa yang diucapkannya? (semoga Allah melindungi kita). Ataukah
baginda ingin meniupkan api perpecahan dan pertengkaran dengan
perintahnya ini? (Astagfirullah).
Kalau memang tafsiran Ahlul Sunnah ini benar, maka Rasulullah akan tahu
niat baik Umar ini dan berterima kasih kepadanya. Bahkan baginda akan
lebih mendekatkannya daripada harus marah dan berkata,”Keluar kalian
daripadaku”.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 88
Aku juga ingin bertanya kenapa mereka ikut perintah Nabi ketika
diusirnya keluar dari kamarnya dan tidak berkata bahawa baginda sedang
meracau. Sungguh mereka telah berhasil dalam perencanaan mereka
untuk menyekat Nabi dari menuliskan suatu wasiat. Itulah kenapa tiada
sebab mereka harus terus berada di sana. Bukti bahawa mereka
bertengkar di hadapan baginda dan terbahagi kepada dua golongan adalah
isi riwayat berkenaan,”Ada yang berkata dekatkan kepada Rasulullah apa
yang dimintanya agar dituliskannya untuk kalian pesanan itu, dan ada
sebahagian lagi berkata seperti kata-kata Umar, yakni Nabi sedang
meracau.”
Perkara ini tidak sesederhana seperti yang dibayangkan lantaran ianya
berkaitan dengan diri Umar seorang. Kalau memang demikian maka Nabi
akan memarahinya dan berdalih bahawa beliau tidak berkata apa-apa
mengikut hawa nafsunya, dan beliau tidak meracau di dalam membimbing
umat ini. Namun masalahnya lebih serius dari itu dan dilihatnya bahawa
Umar bersama sahabat-sahabatnya telah bersepakat sebelum kejadian
itu. Kerana itu mereka bertengkar dan berselisih di hadapan baginda
sehingga mereka lupa atau pura-pura lupa dengan firman Allah SWT,”Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih
dari suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara
yang keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap
sebahagian yang lain supaya tidak gugur (pahala) amalanmu sedangkan
kamu tidak menyedari” (Al-Quran: 49: 2).
Di dalam kes ini mereka telah melampaui dari batasan “meninggikan
suara” dan “berkata keras”. Mereka telah mengatakan bahawa Nabi telah
meracau. (Semoga Allah melindungi kita). Lalu bertengkar ramai dan
hiruk-pikuk di hadapannya.
Aku hampir memastikan bahawa kebanyakan yang hadir berpihak pada
Umar. Kerana itu maka Rasulullah melihat adalah tidak berguna lagi
menuliskan pesanan itu. Baginda juga tahu bahawa mereka sudah tidak
menghormatinya dan tidak patuh pada perintah Allah atas haknya sebagai
Nabi di mana kaum Muslimin dilarang berkata kasar dan keras di
hadapannya. Nah, jika mereka enggan patuh pada perintah Allah, maka
apa lagi pada perintah RasulNya SAWA.
Kebijaksanaan Rasul memutuskan untuk tidak menuliskan wasiat itu
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 89
kerana ia merupakan celaan pada masa hidupnya, maka bagaimana pula
nanti selepas wafatnya. Kelak orang-orang yang mencelanya akan berkata
bahawa Nabi waktu itu sedang meracau, dan mungkin juga mereka akan
meragukan sebahagian hukum yang disyariatkan Nabi pada masa sakitnya
itu juga kerana keyakinan mereka akan meracaunya baginda.
Aku memohon ampunan dari Allah dan ucapan seperti itu terhadap Nabi
Rasul Allah. Bagaimana aku dapat menyakinkan diriku bahawa Umar bin
Khatab tidak bermaksud sungguh-sungguh ketika mengucapkan itu.
Padahal sebahagian sahabat yang hadir menangis dalam kejadian ini
sehingga air matanya membasahi tanah dan dikatakan sebagai tragedi
Hari Khamis.
Aku berkesimpulan untuk menolak setiap alasan yang diajukan untuk
menjustifikasikan kejadian itu, dan berusaha juga untuk mengingkarinya
secara total agar hati ini dapat tenteram. Tetapi sayangnya semua bukubuku
sahih telah meriwayatkannya dan membuktikan kebenarannya.
Aku lebih condong kepada pendapat Syiah di dalam menafsirkan kejadian
ini, kerana tafsirannya rasional dan mempunyai bukti yang kuat. Aku
masih teringat jawapan Sayyid Muhammad Baqir Sadr ketika aku tanya
bagaimana Sayyidina Umar dari segenap sahabat dapat mengerti maksud
Nabi yang ingin menjadikan Ali sebagai khalifahnya seperti kalian duga.
Bukankah ini adalah bukti kepandaiannya?
Sayyid Sadr menjawab:”Bukan Umar sendiri yang tahu maksud Rasul.
Semua yang hadir juga tahu kerana sebelum itu pun Rasul juga pernah
berkata kepada mereka,”Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat
(thaqalain): Kitab Allah dan Itrahku Ahlul Baytku. Jika kalian berpegang
teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya”.
Di waktu sakitnya baginda berkata kepada mereka,”Biar aku tuliskan
kepada kalian suatu pesanan di mana kalian tidak akan tersesat selamalamanya”.
Semua yang hadir termasuk Umar tahu maksud Nabi yang ingin
menegaskan secara tertulis apa yang diucapkannya di Ghadir Khum
sebelum itu. Yakni berpegang teguh pada Kitab Allah dan Itrah Ahlul
Baytnya. Dan penghulu Itrah adalah Ali. Jadi seakan-akan Nabi ingin
berkata,”Berpeganglah kalian kepada Al-Qur’an dan Ali. Ucapan-ucapan
seperti ini pernah dikatakanya juga di berbagai tempat yang lain seperti
yang diungkapkan oleh berbagai ahli hadith.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 90
Majoriti Quraisy tidak suka dengan Ali kerana beliau adalah yang paling
muda, yang pernah menghancurkan pembesar-pembesar mereka dan
membunuh pahlawan-pahlawan mereka. Tetapi mereka tidak berani
menentang Nabi ke tahap yang pernah berlaku di Perdamaian
Hudaibiyyah, atau penentangan keras mereka terhadap Nabi ketika
baginda menyembahyangkan jenazah Abdullah bin Ubai, seorang munafik,
dan di dalam berbagai kejadian yang telah dicatatkan oleh sejarah. Sikap
seperti ini, seperti yang anda lihat penentangan mereka atas penulisan
wasiat di saat-saat akhir hayatnya, menimbulkan keberanian kepada yang
lain untuk menentang dan bertengkar di hadapan baginda.
Ucapan “al-Qur’an sudah ada di sisi kalian; cukuplah bagi kita Kitab
Allah”, adalah bantahan yang nyata kepada maksud hadith yang menyuruh
mereka berpegang kepada Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bayt Nabi. Seakan
maksud bantahan itu begini:”Cukup bagi kami Kitab Allah dan tidak perlu
kepada Itrah”. Selain itu tidak ada penafsiran lain yang dapat diterima,
melainkan kalau kita katakan bahawa maksudnya adalah taat pada Allah
tanpa perlu taat kepada Rasul. Hal demikian sudah pasti tidak benar dan
tidak dapat diterima.
Jika aku buang jauh-jauh rasa taksub buta dan emosi serta berfikir
secara rasional dan objektif aku mesti menerima tafsiran seperti ini;
adalah lebih mudah untuk menuduh Umar sebagai orang pertama yang
menolak Sunnah dengan kata-katanya,”Cukuplah bagi kita Kitab Allah”.
Jika sebahagian penguasa menolak Sunnah Nabi kerana alasan ianya
kontradiktif, sebenarnya ia hanya mengikut pengalaman sejarah
kehidupan kaum Muslimin sebelumnya. Aku juga tidak mengatakan bahawa
Umar adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas tragedi ini
sehingga umat kehilangan bimbingan yang sepatutnya diterimanya. Agar
lebih adil harus aku katakan bahawa ada sahabat lain yang bersamanya
dan mempunyai pendapat seperti pendapatnya Umar. Mereka
menyebelahi Umar di dalam sikapnya yang menentang perintah Nabi
SAWA.
Aku hairan kepada mereka yang membaca peristiwa ini lalu
menganggapnya ringan yang seakan tidak ada apa-apa makna. Padahal ia
adalah tragedi yang paling besar seperti yang diungkapkan oleh Ibnu
Abbas. Lebih hairan lagi adalah usaha mereka yang cub menjaga
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 91
kemuliaan seorang sahabat dan membenarkan perbuatan salahnya dengan
mengorbankan kemuliaan Rasulullah dan prinsip-prinsip Islam.
Kenapa kita harus lari dari suatu fakta dan berusaha menguburkannya
ketika ianya tidak sejalan dengan kehendak kita? Kenapa kita tidak
menerima dan mengakui bahawa sahabat sebenarnya manusia seperti kita
juga. Mereka juga mempunyai hawa nafsu, kehendak, dan keinginan serta
berlaku benar dan salah. Bagaimanapun rasa hairan ini akhirnya juga
hilang ketika aku baca Kitab Allah yang mengisahkan kepada kita kisahkisah
para Nabi AS dan penderitaan yang mereka alami kerana sikap
ummatnya yang menentang mereka walaupun setelah mereka saksikan
berbagai mukjizat. Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati kami
setelah Engkau berikan Hidayah kepada kami. Kurniakanlah kepada kami
dari sisiMu rahmatMu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
Aku mulai mengerti latar belakang sikap Syiah terhadap Khalifah Kedua
yang dikatakan sebagai orang yang paling bertanggungjawab di atas
segala tragedi yang berlaku di dalam kehidupan kaum Muslimin sejak
Tragedi Hari Khamis yang telah menyekat penulisan wasiat yang kelak
akan menyelamatkan manusia dari kesesatan itu. Hendaklah kita akui
bahawa orang yang rasional yang mengetahui kebenaran adalah bukan
lantaran seorang tokoh yang memahami sikap Syiah seperti ini. Namun
bagi mereka yang tidak tahu kebenaran melainkan kerana tokoh tertentu,
maka perbicaraan ini tidak akan bermanfaat bagi mereka.
III Sariyah (Ekspedisi) Usamah Dan Sahabat
Ringkasan peristiwa adalah seperti berikut:
Rasulullah dua hari sebelum wafatnya telah menyiapkan satu pasukan
untuk memerangi tentera Rom. Usamah bin Zaid yang berusia lapan belas
tahun dijadikan sebagai komandan pasukan tentera perang. Tokoh-tokoh
Muhajirin dan Ansar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, dan
sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah
pasukan Usamah ini. Sebahagian mereka mencela pengangkatan Usamah
(sebagai komandan tentera). Mereka berkata: bagaimana Nabi
menunjukkan seorang muda yang belum berjanggut sebagai komandan
pasukan kami. Sebelum itu mereka juga telah mencela pengangkatan
ayahnya oleh Nabi. Mereka banyak memprotes sehingga Nabi sangat
marah mendengar celaan dan sikap mereka ini. Sambil kepalanya diikat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 92
kerana demam panas baginda keluar dipapah oleh dua orang dalam
keadaan dua kakinya diheret menyentuh bumi (semoga ayah dan ibuku
terselamat lantaran derita yang dialaminya). Baginda naik ke atas
mimbar, memuji Allah dan bertahmid kepadaNya. Sabdanya,”Wahai
Muslimin apa gerangan ucapan-ucapan sebahagian di antara kamu yang
telah sampai ke telingaku berkenaan dengan pengangkatanku terhadap
Usamah sebagai pemimpin. Demi Allah, jika kamu kini mengecam
pengangkatannya; sungguh hal itu sama seperti dahulu kamu telah
mengecam pengangkatanku terhadap ayahnya sebagai pemimpin. Demi
Allah, sesungguhnya ia amat layak memegang jawatan kepimpinan itu.
Begitu juga puteranya – setelah ia – sungguh amat layak untuk itu”.[2]
Kemudian baginda mendesak mereka untuk segera berangkat. Baginda
berkata,”Siapkan pasukan Usamah. Lepaskan pasukan Usamah.
Berangkatkah Sariyyah Usamah”. Baginda mengulang-ulang ucapannya
sedangkan mereka tetap merasa segan dan bermalas-malasan di Jurf.
Sikap seperti ini mendorongku untuk bertanya, alangkah beraninya
mereka terhadap Allah dan RasulNya? Kenapa harus derhaka terhadap
Nabi SAWA yang begitu kasih dan sayang kepada kaum Muslimin? Aku
tidak dapat membayangkannya, begitu juga orang lain, tafsiran apa yang
boleh membenarkan pelanggaran dan pengabaian seperti ini?
Seperti biasa ketika membaca peristiwa-peristiwa yang menyentuh
tentang kemuliaan para sahabat, maka aku berusaha untuk tidak
mempercayai kebenarannya. Namun bagaimana mungkin aku dapat
bersikap demikian sementara para ahli sejarah dan ahli hadith Sunnah
dan Syiah bersepakat dalam meriwayatkannya.]
Aku telah berjanji kepada Tuhanku untuk berlaku adil dan jujur. Aku
tidak boleh bersikap taksub dengan madzhabku, dan menjadikan
kebenarannya semata-mata sebagai ukuran. Dan memang kebenaran
adalah pahit seperti yang dikatakan. Nabi bersabda,”Katakanlah
kebenaran itu walau untuk diriku sekalipun; katakanlah kebenaran itu
walau pahit sekalipun”. Kebenaran dalam hal ini adalah para sahabat yang
telah mengecam Nabi dalam pengangkatan Usamah sebagai pemimpin
mereka, sebenarnya mereka telah tidak patuh pada perintah Tuhan
mereka. Mereka telah mengabaikan nas-nas yang sangat jelas yang tidak
dapat diragukan lagi atau ditakwilkan. Mereka tidak mempunyai alasan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 93
dalam hal ini. Usaha sebahagian orang untuk menjaga kemuliaan sahabat
atau salaf as-soleh dengan mengajukan berbagai alasan yang apologetik
sangatlah rapuh. Seorang yang rasional tidak dapat menerimanya,
melainkan mereka yang tidak berfikir, atau mereka yang taksub buta
yang tidak dapat membezakan antara yang wajib dipatuhi dengan yang
wajib dihindari.
Aku juga sering merenungkan kalau-kalau aku boleh dapatkan suatu
jawapan yang memuaskan tetapi sayang semua itu gagal untuk
menyakinkanku. Aku baca alasan-alasan Ahlul Sunnah yang mengatakan
bahawa mereka sebenarnya adalah tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka
Quraisy. Mereka adalah orang yang pertama memeluk Islam sementara
Usamah masih baru dan tidak pernah ikut serta di dalam berbagai
peperangan yang menentukan seperti Perang Badar, Perang Hunain, dan
Perang Uhud. Usamah juga waktu itu masih terlalu muda. Dan
kebiasaannya jiwa orang-orang tua tidak akan rela berada di bawah
perintah anak muda. Itulah kenapa mereka mengecam Nabi dalam
pengangkatannya ini dengan maksud agar menggantikannya dengan salah
seorang tokoh sahabat lain.
Alasan seumpama ini sama sekali tidak bersandarkan pada hujah akal atau
naql (nas syariat). Seorang Muslim yang membaca al-Qur’an dan
mengetahui hukum-hukumnya akan menolak hujah ini kerana Allah
berfirman:”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan
apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al-Quran: 59:7). Juga
firmanNya:”Dan tidaklah patut bagi lelaki Mukmin dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mukminah, apabila Alllah dan RasulNya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka. Dan barang siapa yang menderhakai Allah dan RasulNya maka
sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Qur’an:
33: 36)
Setelah adanya nas-nas yang jelas ini alasan apa kiranya dapat diterima
oleh orang-orang yang berakal. Apa yang harus dikatakan kepada kaum
yang telah menyebabkan Allah akan marah kerana kemarahan RasulNya.
Mereka telah menuduhnya “meracau” dan bertengkar di hadapanya,
padahal – demi ayah dan ibuku – baginda sedang sakit sehingga mereka
dihalau dari kamarnya.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 94
Tidak sampai di situ. Yang sepatutnya mereka kembali ke jalan yang
benar dan memohon ampun kepada Allah atas apa juga yang telah mereka
lakukan, dan memohon kepada Rasul agar memintakan ampunan bagi
mereka seperti yang diajarkan oleh al-Qur’an, tetapi mereka terus
melakukan protes terhadapnya tanpa mempedulikan kasih sayang yang
diberikannya kepada mereka. Mereka tidak memberikan penghormatan
yang sewajarnya kepada baginda. Dua hari setelah tuduhan yang mereka
lontarkan kepadanya, mereka pula mengecam pengangkatan Usamah
sebagai pemimpin pasukannya sehingga baginda terpaksa mendesak
mereka keluar dengan keadaan yang menyedihkan seperti yang dikatakan
oleh para ahli sejarah. Lantaran terlalu sakit, baginda tidak dapat
berjalan dan terpaksa diapit oleh dua orang. Kemudian baginda
bersumpah kepada Allah bahawa Usamah sebenarnya sangat layak dalam
memimpin. Rasul juga mengatakan bahawa sebelum ini mereka juga telah
mengecamnya kerana mengangkat Zaid bin Harithah sebagai pemimpin
pasukan agar kita tahu betapa sikap seperti ini telah mereka lakukan
jauh sebelum hari itu. Bukti-bukti ini menunjukkan bahawa mereka
sebenarnya bukan di antara orang-orang yang mudah menerima ketentuan
baginda dan berserah sepenuhnya kepadanya. Tetapi mereka tergolong di
antara orang-orang yang rela memprotes dan mengkritik walaupun ianya
bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan RasulNya.
Bukti yang menunjukkan kita atas sikap protes mereka ini adalah
tindakan mereka yang enggan pergi walaupun Nabi sendiri memberikan
bendera kepemimpinan kepada Usamah dan dengan marah-marah
menyuruh mereka segera pergi berangkat. Demi ayah dan ibuku, mereka
tidak juga pergi sehinggalah beliau SAWA wafat dengan hati yang kesal
atas sikap umatnya yang dikhuatirkan kelak akan berbalik ke belakang
dan terjerumus ke neraka; tiada yang selamat melainkan sedikit sekali
bagaikan segelintir binatang ternak seperti yang diumpamakan Nabi
SAWA.
Jika kita ingin jujur di dalam melihat peristiwa ini maka kita akan dapati
bahawa Khalifah Kedua adalah tokoh yang paling berperanan di sini.
Kerana beliaulah yang datang menghadap Khalifah Abu Bakar setelah
wafatnya Rasulullah dan memintanya menyingkirkan Usamah serta
menggantikannya dengan orang lain. Abu Bakar menjawab:”Wahai Ibnu
Khatab, apakah kau suruh aku menyingkirkannya sementara Rasulullah
telah mengangkatnya?”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 95
Di mana Umar dibandingkan dengan Abu Bakar yang mengetahui
kebenaran ini? Ataukah di sana ada rahsia tersendiri yang tidak
diketahui oleh ahli-ahli sejarah. Atau mungkin juga mereka yang
menyembunyikannya lantaran ingin menjaga “kemuliaan” sahabat, seperti
yang mereka lakukan di dalam menggantikan kalimat “yahjur” dengan
kalimat “ghalabahu al-waja”.
Aku sangat hairan dengan sikap para sahabat yang membangkitkan
amarah Nabi pada hari Khamis itu dan menuduhnya telah meracau serta
berkata,”cukup bagi kami Kitab Allah”. Sementara Kitab Allah sendiri
menyatakan:”Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku
(Muhammad) kelak Allah akan mencintai kalian” (Ali Imran: 31). Seakanakan
mereka lebih tahu akan Kitab Allah daripada orang yang
menerimanya sendiri. Kitab Allah daripada orang yang menerimanya
sendiri. Lihatlah hanya setelah dua hari tragedi yang menyayat hati itu
dan dua hari sebelum hari pertemuannya dengan Allah SWT mereka telah
membangkitkan amarahnya lebih banyak dengan mengecam pengangkatan
Usamah dan tidak mematuhi perintahnya. Jika dalam tragedi pertama
baginda terbaring sakit di atas tilamnya, tetapi di kali kedua ini baginda
terpaksa keluar dengan kepala yang berikat dan badan yang berbalut
selimut sambil berjalan bertatih-tatih diapit oleh dua orang. Baginda naik
ke atas mimbar dan berkhutbah lengkap. Mula-mula memuji Allah dan
mengucapkan Tauhid atasNya agar menunjukkan kepada mereka bahawa
dirinya tidaklah meracau.Kemudian diberitahunya bahawa beliau sedar
akan protes dan kecaman mereka. Diingatkannya mereka dengan suatu
peristiwa di mana mereka telah memprotesnya juga empat tahun yang
lalu. Apakah setelah itu mereka masih menganggap bahawa baginda
meracau dan tidak sedar apa yang diucapkannya?
Mah Suci Engkau Ya Allah dan segala puji bagiMu. Bagaimana mereka
begitu berani terhadap RasulMu, tidak setuju dan menentang keras
dengan perjanjian damai yang dilakukannya sehingga beliau sebanyak tiga
kali menyuruh mereka berkorban dan mencukur rambut masing-masing
tetapi tiada siapa pun yang mematuhinya. Di waktu lain mereka menarik
bajunya dan melarangnya menyembahyangkan jenazah Abdullah bin Ubai.
Mereka berkata kepada beliau:”Sesungguhnya Allah telah melarangmu
menyembahyangkan jenazah orang-orang munafik.” Seakan-akan mereka
mengajarkan apa yang diturunkan Allah kepadanya. Padahal Allah
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 96
berfirman di dalam kitabNya:”Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad)
al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka” (Al-Qur;an: 16:44). Dan
firmanNya:”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu
(Muhammad) dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara
manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu” (Al-Qur;an: 4:
105). Dan firmanNya:”Sebagaimana (Kami telah menyempurnaka nikmat
Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu
yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu al-Kitab dan hikmah serta mengajarkan kepada
kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Qur’an: 2: 151)
Hairan sungguh terhadap mereka yang meletakkan diri mereka lebih
tinggi dari diri Rasulullah SAWA. Kadang-kadang mereka tidak patuh
pada perintahnya, atau menuduhnya telah meracau, atau bertengkar di
hadapannya tanpa beradab, dan pada tempat yang lain mengecam
pemilihan Usamah sebagai pemimpin pasukan mereka sebagaimana yang
mereka lakukan terhadap ayahnya Zaid bin Harithah sebelum ini. Apa
yang harus diragukan lagi bagi orang yang meneliti bahawa Syiah
sebenarnya mempunyai alasan yang sangat kuat ketika menyoal sikap
sebahagian sabahat seperti itu. Mereka memang lebih menghormati dan
mencintai Nabi SAWA dan kerabat keluarganya.
Empat atau lima contoh yang aku sebutkan di atas hanyalah sebagai
contoh yang sedikit sahaja. Ulama Syiah telah memperincikannya hingga
ratusan di mana para sahabat telah mengabaikan nas-nas yang nyata dan
jelas. Mereka tidak berhujah melainkan dengan riwayat ulama Ahlul
Sunnah sendiri di dalam berbagai kitab sahih yang muktabar.
Ketika aku ketahui sikap sebahagian sahabat terhadap Rasullullah SAWA
adalah demikian, maka aku merasa bingung dan hairan. Sebagaimana aku
juga hairan melihat sikap ulama Ahlul Sunnah Wal Jamaah yang
menggambarkan kepada kita bahawa para sahabat sentiasa dalam
keadaan benar dan tidak boleh dikritik. Ini bermakna mereka tidak
mengizinkan seorang peneliti untuk sampai kepada suatu kebenaran, dan
membiarkan mereka terus tenggelam dalam suasana pemikiran yang
kontradiktif. Aku ingin membawa beberapa contoh sebagai tambahan
sahaja, yang kiranya akan dapat memberikan gambaran yang sebenar
tentang sahabat. Dan dari sini kita akan memahami sikap Syiah terhadap
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 97
mereka.
Bukhari telah meriwayatkannya di dalam kitabnya Jilid 4 halamn 47, di
dalam Bab as-Sabru ‘ala adza (Sabar dari Gangguan); dan firman Allah
yang bermaksud,”Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan
ganjaran” di dalam Bab Adab. Katanya,”al-A’masy meriwayatkan kepada
kami bahawa beliau pernah mendengar Syaqiq bercerita tentang Abdullah
yang berkata:”Suatu hari Nabi membahagikan sesuatu kepada sahabatsahabatnya
sebagaimana yang biasa beliau buat. Seorang dari Ansar
memprotes dan berkata: pembahagian ini bukan kerana Allah SWT. Aku
katakan kepadanya bahawa aku akan bilang kepada Nabi yang ketika itu
berada di antara para sahabatnya. Aku ceritakan kepadanya apa yang
berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan sangat marah sekali sehingga
aku menyesal memberitahunya hal tersebut:” Baginda Nabi kemudian
berkata:”Nabi Musa AS telah diganggu lebih dari itu, tetapi beliau
bersabar.”
Bukhari juga meriwayatkan dari bab yang sama di dalam fasal Bab at-
Tabassum wa ad-Dhank (Bab Tersenyum dan Tertawa). Katanya Anas bin
Malik meriwayatkan:” Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah yang
pada ketika itu memakai syal Najrani yang bertepi tebal. Datang seorang
Badwi yang tibaa-tiba sahaja menarik dengan kuat syalnya baginda. Anas
berkata, aku lihat kulit leher Nabi lebam akibat tarikan keras yang
dilakukan oleh si Badwi ini. Kemudian dia berkata:”Hai Muhammad.
berikan kepadaku sebahagian dari harta Allah yang ada padamu”. Lalu
Nabi melihatnya sambil tertawa dan menyuruh sahabatnya untuk
memberikannya.
Di dalam bab yang sama, fasal Man Lam Yuwajih an-Nas Bil Atab, Bukhari
meriwayatkan bahawa Aisyah pernah berkata bahawa pernah melakukan
sesuatu dan mengizinkan para sahabatnya untuk melakukan yang serupa.
Tiba-tiba sebahagian sahabatnya menolak melakukan yang sama. Berita
ini sampai ke telinga Nabi lalu baginda berkhutbah dan memuji-muji
Allah. Kemudian baginda berkata:” Kenapa orang-orang ini menghindarkan
dari sesuatu yang aku lakukan. Demi Allah aku lebih tahu dari mereka
tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dibandingkan dengan mereka”.
Siapa yang merenungkan contoh riwayat serupa ini dia akan merasakan
bahawa para sahabat telah meletakkan diri mereka lebih tinggi dari
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 98
kedudukan Nabi sendiri. Mereka percaya bahawa Nabi boleh berbuat
salah dan mereka yang benar. Sebahagian ahli sejarah terikut-ikut di
dalam membenarkan tindakan sahabat walaupun jika ianya bertentangan
dengan perbuatan Nabi atau kadang-kadang menunjukkan bahawa
kedudukan ilmu dan ketaqwaan para sahabat adalah lebih banyak jika
dibandingkan dengan Nabi, seperti yang dikatakan kononya Nabi keliru di
dalam menyelesaikan masalah tawanan perang Badar dan Umar bin Khatab
yang benar, Mereka telah meriwayatkan berbagai hadith palsu yang
kononnya Nabi SAWA bersabda:” Seandainya Allah timpakan kepada kita
suatu musibah, maka tiada akan selamat melainkan Umar bin Khatab”.
Seakan-akan mereka ingin berkata ” Kalaulah Umar tiada maka celakalah
Nabi “. Semoga Allah melindungi kita daripada kepercayaan yang salah
seperti ini. Demi jiwaku, mereka yang mempunyai kepercayaan seperti ini
akan jauh dari Islam sejauh dua kutub barat dan timur. Dia wajib
merujuk kembali akalnya atau menghalau syaitan dari hatinya. Allah
berfirman:” Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan
ilmuNya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan
meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan
memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka
mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Qur’an: 45: 23)
Demi jiwaku. Mereka yang percaya bahawa Rasulullah SAWA boleh
diumbang-ambingkan oleh nafsunya dan lari dari jalan yang benar
sehingga pernah membahagikan sesuatu bukan kerana Allah semata-mata,
tetapi kerana nafsu dan emosinya, dan mereka yang menghindari dari
berbuat sesuatu yang Rasulullah lakukan lantaran menduga yang mereka
lebih bertaqwa dan lebih arif kepada Allah dibandingkan dengan
RasulNya; orang-orang seperti ini memang sangat tidak layak untuk
dihormati oleh kaum Muslimin apalagi menempatkan mereka seperti para
malaikat. Lalu menghukumkan bahawa mereka adalah makhluk yang
terbaik setelah Rasulullah, dan kaum Muslimin mesti mengikut mereka
dan berjalan di bawah naungan sunnah mereka hanya semata-mata
mereka adalah sahabat Rasul SAWA. Hal ini bercanggah dengan sikap
Ahlul Sunnah Wal Jamaah yang menyertakan semua sahabat di dalam
salawat mereka kepada Nabi dan keluarganya. Jika Allah telah tahu
kedudukan mereka dan menempatkannya di posisi yang memang layak bagi
mereka, lalu memerintahkan mereka bersalawat kepada Nabi dan
keluarganya yang suci agar mereka tunduk dan tahu kedudukan Ahlul
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 99
Bayt yang sebenarnya di sisiNya, maka bagaimana kita kemudian
menempatkan mereka, para sahabat lebih tinggi dari kedudukan keluarga
Nabi atau menyamakan mereka dengan orang-orang yang telah
diutamakan oleh Allah di atas semua makhluk alam semesta ini.
Aku membuat kesimpulan bahawa Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah
yang telah memusuhi Ahlul Bayt Nabi, memburu mereka, dan membunuh
mereka berserta para Syiah, dan pengikutnya, mereka ini tahu tentang
keutamaan keluarga Nabi dan kedudukan mereka yang tinggi. Jika Allah
tiak akan menerima solat seseorang melainkan dengan bersalawat ke atas
mereka, maka bagaimana mereka akan memberikan alasan atas
permusuhan dan sikap mereka yang lari dari garis Ahlul Bayt? Itulah
kenapa kita lihat mereka telah mengiringkan sahabat dengan Ahlul Bayt
agar dapat memberikan gambaran kepada orang ramai bahawa antara
sahabat dan Ahlul Bayt sebenarnya adalah sama. Terutama sekali jika
kita mengetahui bahawa “master mind” mereka yang sebenarnya adalah
sebahagian sahabat itu sendiri. Mereka telah mengupah sebahagian
sahabat lain yang lemah akan dan karektor atau bahkan golongan tabi’in
agar meriwayatkan berbagai hadith palsu tentang keutamaan sahabat
khususnya untuk mereka yang pernah menjawat kedudukan khalifah, yang
merupakan sebagai sebab utama naiknya mereka – Bani Umaiyyah dan
Bani Abbasiyyah ke puncak kekuasaan. Sejarah adalah sebaik-baik bukti
atas apa yang aku katakan ini. Lihatkah Umar bin Khatab yang sangat
terkenal dengan penguasaannya kepada semua gabenornya dan akan
memecat mereka serta merta lantaran suatu keraguan yang dilihatnya,
lihatlah betapa beliau sangat berlemah lembut terhadap Muawiyah bin
Abi Sufian dan tidak pernah mengawalnya sama sekali. Dahulunya Abu
Bakarlah yang melantik Muawiyah sebagai gabenor Syam, lalu kemudian
dikekalkan oleh Umar di sepanjang hayatnya. Beliau juga tidak pernah
memprotesnya bahkan menegur atau mengecamnya sekalipun, walau
banyak pengaduan yang dibuat mengatakan bahawa Muawiyah memakai
emas dan sutera yang telah diharamkan oleh Rasulullah SAWA kepada
kaum lelaki. Umar menjawab kepada mereka:” Biarkan dia. Dia adala Kisra
(Raja) Arab”. Dan Muawiyah terus berkuasa selama dua puluh tahun
tanpa ada yang menegur dan memecatnya. Ketika Uthman berkuasa
diberikannya lagi wilayah-wilayah lain untuk ditadbirnya, sehingga dia
dapat menguasai tidak sedikit dari kekayaan negara Islam dan dapat
memobilisasikan kekuatan tentera menentang kepemimpinan Imam Ali.
Kemudian secara kekerasan dan dengan tangan besi, dia dapat menguasai
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 100
semua kaum Muslimin, lalu kemudian memaksa mereka memberikan bai’ah
kepada Yazid, puteranya yang fasik dan kaki botol. Kisah Yazid ini adalah
cerita panjang yang tidak dapat kita muatkan dalam buku yang ringkas
seperti ini. Apa yang penting adalah pengetahuan kita akan mentaliti para
sahabat yang duduk di jabatan khalifah dan yang telah menyiapkan
secara langsung berdirinya suatu kerajaan Bani Umaiyyah berdasarkan
keputusan Quraisy yang enggan menerima Nubuwah dan khalifah di
tangan Bani Hasyim. [3]
Kerajaan Bani Umaiyyah mempunyai hak, bahkan kewajipan untuk
berterima kepada mereka yang telah menyiapkan untuk berdirinya
kerajaannya itu. Paling tidak sebagai ungkapan terima kasih ini adalah
mengupah sejumlah “perawi” yang mahu meriwayatkan berbagai “hadith”
tentang keutamaan para leluhur mereka dengan mengangkatnya lebih
tinggi dari kedudukan Ahlul Bayt, musuh utama mereka. Jika hadithhadith
keutamaan ini dikaji berdasarkan hujah-hujah syariah da akliah
(rasional), maka keabsahannya akan cepat diragukan melainkan jika ada
kelainan di dalam fikiran kita dan tidak mampu membezakan antara
perkara-perkara yang berkontradiktif.
Sebagai contoh, kita banyak mendengar tentang keadilan Umar yang
diceritakan oleh berbagai perawi. Sehingga dikatakan:”Ya Umar, kau
telah berlaku adil maka itu kau dapat tidur”. Atau kononnya Umar
dikebumikan di dalam keadaan berdiri agar keadilan tidak mati
bersamanya, dan berbagai cerita lain yang menarik tentang keadilannya.
Namun sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahawa Umar ketika
membahagi-bahagikan harta Baitul Mal pada tahun dua puluh Hijrah,
beliau tidak mengikut sunnah Nabi. Nabi SAWA telah membahagi sama
rata antara segenap kaum Muslimin dan tidak mengutamakan satu dari
yang lainnya. Begitu juga Abu Bakar di dalam masa kekhalifahannya.
Tetapi Umar menciptakan suatu cara baru mengutamakan golongan yang
sabiqun (Muslimin senior) di atas yang lainnya, dan golongan Muhajirin
Quraisy di atas Muhajirin selain Quraisy, golongan Muhajirin di atas
golongan Ansar, golongn Arab di atas bukan Arab, golongan bebas di atas
hamba-hamba [4] mengutamakan suku Mudhir di atas suku Rabi’ah
dengan memberikan suku pertama tiga ratus dan kedua dua ratus [5]
serta mengutamakan suku Aus di atas suku Khazraj [6].
Di manakah letaknya keadilan dalam sistem kelas seperti ini wahai orang-
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 101
orang yang berfikir? Kita telah banyak mendengar tentang cerita-cerita
Umar. Bahkan dikatakan bahawa beliau adalah sahabat yang paling alim.
Kononnya Allah banyak membenarkan pendapat Umar ketika berlaku
perselisihan antara Nabi dan Umar, dengan menurunkan ayat-ayat yang
menyokong pendapatnya. Namun sejara yang membuktikan kepada kita
bahawa Umar banyak menyalahi ayat-ayat al-Qur’an hatta setelah
turunnya sekalipun. Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya di zaman
khalifahnya:”Ya Amirul Mukminin, aku kini janabah tetapi tidak ada air,
bagaimana hukumnya?” Umar menjawab:”Jangan solat!” Ammar bin Yasir
mengingatkan khalifah agar melakukan tayamum tetapi Umar tidak
peduli. Katanya:”Ya Ammar, engkau hanya bertanggungjawab atas tugastugasmu
sahaja” [7].
Di mana ilmu Umar tentang ayat tayammum yang diturunkan di dalam al-
Qur’an? Mana ilmu Umar tentang sunnah Nabi yang mengajarkan kepada
mereka bagaimana bertayammum sebagaimana baginda ajarkan mereka
tentang wudhu? Di dalam berbagai peristiwa, Umar banyak mengakui
dirinya tidak alim bahkan menurutnya semua orang lebih alim dari dirinya
hatta orang-orang wanita sekalipun. Beliau juga berulang kali mengatakan
demikian,”Kalaulah tiada Ali maka Umar telah celaka”. Sehigga akhir
hayatnya beliau tidak tahu hukum Kalalah, yang sering dihukumkannya di
zaman pemerintahannya seperti yang dicatat di dalam sejarah.
Mana ilmunya hai orang-orang yang berakal? Kita juga sering mendengar
akan kepahlawanan, keperkasaan dan keberaniannya sehingga dikatakan
bahawa kaum Quraisy merasa gentar setelah Islamnya Umar, dan agama
Islam sendiri menjadi kuat. Kononnya Allah telah memuliakan Islam
kerana Umar bin Khatab, dan Nabi tidak menyatakan dakwahnya secara
terang-terangan melainkan setelah Islamnya Umar. Namun sejarah yang
benar tidak menunjukkan kepada kita keperkasaan dan kepahlawanan itu
bahkan sejarah juga tidak pernah menunjukkan kepada kita ada seorang
yang dikenal atau orang biasa sekalipun yang dibunuh oleh Umar di dalam
peperangan seperti Badar, Uhud, dan Khandak dan sebagainya. Bahkan
sejarah membuktikan sebaliknya, di mana Umar pernah lari bersama
sahabat-sahabat lain di dalam peperangan Uhud Hunain. Ketika Rasulullah
mengutusnya untuk membebaskan kota Khaibar, beliau kembali dalam
keadaan kalah. Bahkan di dalam berbagai peperangan sariyyah
(peperangan yang tidak diikuti oleh Nabi) sekalipun, Umar tidak pernah
menjadi komandan pasukannya. Di dalam sariyyah terakhir juga beliau
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 102
hanya ditunjuk sebagai anak buah kepada Usamah bin Zaid, seorang anak
muda berusia belasan tahun. Mana dakwaan keperkasaan tersebut wahai
orang-orang yang berakal?
Kita juga sering mendengar tentang ketaqwaan Umar bin Khataba serta
rasa takutnya yang amat sangat sehingga menangis kerana takutkan Allah
SWT, Konon dikatakan bahawa beliau takut dihisab Allah SWT jika
seekor baghal di Iraq sekalipun tersesat lantaran tidak disediakan jalan
untuknya. Tetapi sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahawa
beliau sesungguhnya seorang yang keras dan kasar. Beliau tidak berhatihati
dan malu untuk memukul orang yang bertanya kepadanya tentang
suatu ayat Kitab Allah sehingga melukai tanpa suatu dosa yang
dilakukannya. Bahkan seorang wanita pernah jatuh dan tergugur
kandungannya lantaran melihatnya dengan penuh ketakutan. Kenapa
beliau tidak takut kepada Allah ketika menghunus pedangnnya dan
mengancam setiap orang yang mengatakan bahawa Muhammad telah mati.
Beliau bersumpah bahawa Muhammd sebenarnya tidak mati, dia hanya
pergi bermunajat kepada Tuhannya seperti yang dilakukan oleh Musa bin
Imran. Umar mengancam akan memukul leher setiap orang yang
mengatakan bahawa Nabi telah mati [8]. Kenapa beliau tidak takut
kepada Allah ketika mengancam akan membakar rumah Fatimah jika
orang-orang yang berada di dalamnya tidak mahu keluar untuk membai’ah
(Abu Bakar) [9]. Dikatakan kepadanya bahawa Fatimah ada di
dalamnya.”Sekalipun ada”, Jawab Umar.Beliau juga “berani” terhadap
Kitab Allah dan Sunnah RasulNya dengan mengamalkan berbagai hukum -
di masa pemerintahannya – yang bertentangan dengan nas-nas al-Qur’an
dan Sunnah Nabi SAWA [10].
Nah di mana letaknya warak dan ketakwaan setelah menyaksikan
serangkaian fakta yang menyedihkan ini wahai hamba-hamba Allah yang
soleh?
Aku ambil sahabat yang besar dan terkenal ini sebagai contoh sematamataa.
Itupun aku ringkaskan sedemikian rupa agar tidak panjang dan
biarlah sederhana. Jika aku ingin tuliskan secara terperinci maka ia akan
memuatkan berjilid-jilid buku. Seperti yang aku katakan di atas, aku
hanya mengetengahkannya sebagaia contoh semata-mata, tidak lebih dari
itu.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 103
Apa yang aku sebutkan di atas, hanya segelintir dari peristiwa yang
berlaku tetapi ia telah memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang
jelas tentang mentaliti para sahabat dari sikap para ulama Ahlul Sunnah
yang kontradiktif. Mereka melarang setiap orang untuk mengkritik dan
meragukan sahabat, tetapi dalam masa yang sama mereka meriwayatkan
di dalam berbagai buku mereka fakta-fakta yang boleh menimbulkan
keraguan dan kecaman. Kalaulah ulama Ahlul Sunnah Wal Jamaah tidak
menyebutkan fakta-fakta yang jelas menyentuh tentang sahabat dan
melukai keadilan mereka, maka mereka akan berjasa di dalam
menghilangkan segala jenis keraguan dari benak kita.
Aku teringat akan perjumpaanku dengan salah seorang ulama dari Najaf
al-Asyraf, Asad Haidar, penulis buku al-Imam as-Sodiq Wal al-mazahib
al-Arba’ah (Imam Sodiq dan Empat Mazhab). Waktu itu kami berbicara
tentang Sunnah-Syiah. Diceritakannya kepadaku tentang ayahnya yang
berjumpa dengan seorang alim dari Tunisia di masa musim haji lima puluh
tahun yang lalu. Mereka berdua berdiskusi panjang tentang kepimpinan
Amirul Mukmimin Ali bin Abi Talib. Orang alim Tunisia ini mendengar
ayahku membilang hadith-hadith yang membuktikan tentang kepimpinan
Imam Ali AS dan haknya di dalam masalah khilafah. Dihitungnya sehingga
empat atau lima dalil. Ketika selesai, ditanyainya apakah dalil selain
ini.”Tidak”, jawabnya. Kemudian dia berkata:”Keluarkan tasbihmu dan
mula hitung”. Orang alim dari Tunisia ini menyebutkan dalil-dalil
berkenaan sehingga seratus, yang hatta ayahku sendiri tidak tahu”.
Syaikh Asad meneruskan:”Jika Ahlul Sunnah membaca kitab-kitab
mereka, maka mereka akan berpendapat seperti kami, dan perselisihan
ini telah selesai sejak dari dulu lagi”.Demi jiwaku. Sesungguhnya ini
adalah kebenaran yang tidak dapat dihindari bagi mereka yang telah
membebaskan dirinya dari taksub buta dan setia kepada dalil yang
bernas.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 104
Pandangan Al-Qur’an Tentang Sahabat
Pertama-tama harus aku ingatkan bahawa Allah SWT telah memuji di
dalam berbagai ayat al-Qur’an tentang sahabat-sahabat Rasul SAWA
yang memang benar-benar mencintainya dan mematuhinya tanpa ada
suatu tujuan atau tentangan atau keangkuhan. Mereka semata-mata
hanya inginkan keredhaan Allah dan RasulNya, dan Allah juga redha
kepada mereka lantaran ketaqwaan mereka kepadaNya. Ini adalah
golongan sahabat yang dinilai tinggi oleh segenap kaum Muslimin lantaran
sikap dan perilaku mereka yang luhur terhadap baginda Nabi SAWA.
Setiap kali mereka disebut, maka kaum Muslimin akan mencintai mereka,
mentakzimkan kedudukan mereka dan mengucapkan kalimah Radhiallahu
A’nhum kepada mereka.
Kajianku bukan pada golongan sahabat jenis ini yang sangat dihormati dan
disanjung tinggi oleh Sunnah dan Syiah. Sebagaimana aku juga tidak akan
menyentuh pada golongan yang dikenal dengan sifat munafiknya dan yang
dilaknat oleh segenap kaum Muslimin, Sunnah dan Syiah. Aku hanya akan
mengkaji pada golongan sahabat yang dipertikaikan oleh kaum Muslimin,
dan yang kadang-kadang dicela dan diancam oleh al-Qur’an. Sahabatsahabat
jenis ini seringkali diperingatkan oleh Rasulullah SAWA di dalam
berbagai kesempatan atau baginda memperingatkan kaum Muslimin dari
mereka. Dan di sinilah letak perbezaan antara Sunnah dan Syiah di dalam
menilai sahabat. Syiah meragukan keadilan mereka da nmengkritik ucapan
dan tindak-tanduk mereka sementara Ahlul Sunnah Wal Jamaah
menghormati mereka walau terbukti mereka telah melakukan berbagai
pelanggaran.
Kajianku hanya pada golongna sahabat jenis ini agar aku dapat sampai -
dari penelitian ini – pada suatu kebenaran atau sebahagian kebenaran
sekalipun. Aku nyatakan ini agar jangan sampai ada orang yang berkata
bahawa aku telah melupakan berbagai ayat yang memuji para sahabat
Rasulullah SAWA, dan hanya mengungkapkan ayat-ayat yang mencela
sahaja. Namun dalam penelitianku, aku menjumpai ada berbagai ayat yang
bernada memuji tetapi ia juga menyirat suatu celaan atau sebaliknya.
Aku tidak akan memuatkan di sini semua hasil penelitianku selama tiga
tahun yang aku telah lakukan. Aku hanya akan sebutkan sebahagian ayat
sahaja sebagai contoh demi ringkasnya tulisan ini. Tetapi bag mereka
yang inginkan perincian dan perluasan, mereka hendaklah menyempatkan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 105
masa untuk mengkaji, membuat perbandingan dan meneliti seperti yang
aku lakukan agar kebenaran yang didapati adah benar-benar hasil titik
peluh sendiri seperti yang dituntut oleh Allah dari setiap kita, dan
seperti yang dituntut juga oleh hati nurani masing-masing. Kerana ia akan
memberikan keyakinan yang sangat mendalam yang tidak akan dapat
digoyahkan oleh sebarang angin yang bertiup. Sudah pasti bahawa
kebenaran yang didapati lantaran kepuasan sendiri (qina’ah nafsiyyah)
adalah lebih baik dari sekadar unsur luar yang mempengaruhi.
Allah SWT berfirman ketika memuji NabiNya,”Dan Dia mendapatimu
sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk” (Al-
Qur’an:93: 7). Ia bermaksud Dia menunjukkanmu kepada kebenaran
ketika kau mencarinya. Allah juga berfirman,”Dan orang-orang yang
berjihad (bersungguh-sungguh) di dalam (mencari) jalan Kami, benarbenar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-kalan Kami” (Al-
Qur’an:29: 69).
I Ayat Inqilab
Allah berfirman,”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul.
Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Al-Qur’an 3: 144)
Ayat ini amat jelas menunjukkan bahawa sahabat akan berbalik ke
belakang setelah wafatnya Rasulullah SAWA dan hanya sedikit yang
masih tetap konsisten seperti yang tersirat di dalam kandungan ayat
tersebut. Ini dapat kita fahami dari ungkapan kalimah “as-Syakirin” yang
menunjukkan masih adanya orang-orang yang tetap dan konsiten dan
tidak berbalik ke belakang. Orang-orang as-Syakirin ini tidak berjumlah
banyak seperti yang difirmankan oleh Allah di dalam ayat lain:”Dan
sedikit sekali dan hamba-hambaKu yang berterima kasih” (Al-Qur’an
34:13).
Serangkaian hadith-hadith Nabi juga menafsirkan ayat ini seperti yang
akan kita sebutkan sebahagiannya. Walaupun Allah tidak sebutka balasan
yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang berbalik ke belakang di
dalam ayat ini dan hanya memuji serta akan memberi ganjaran kepada
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 106
orang-orang yang bersyukur sahaja, namun sudah sangat jelas bahawa
mereka yang berbalik ke belakang sudah pasti tidak akan mendapatkan
apa-apa ganjaran. Hal ini akan kita bincangkan Insya Allah di dalam
melihat hadith-hadith Nabi yang berkenaan dengannya. Ayat ini juga
tidak dapat ditafsirkan kepada orang-orang seperti Tulaihah, Sujah, dan
al-Aswad al-Ansi, lantaran inginkan memelihara kemuliaan sahabat. Sebab
tiga orang di atas telah murtad di zaman baginda sendiri. Nabi telah
memerangi mereka dan mengalahkan mereka. Ayat ini juga tidak dapat
ditasfirkan kepada Malik bin Nuwairah dan para pengikutnya yang enggan
memberikan zakat di zaman Abu Bakar lantaran berbagai sebab. Antara
lain: kerana mereka berhati-hati dan ingin tahu perkara yang sebenarnya.
Mengingat mereka pergi haji bersama Rasulullah di Hujjah al-Wada’ (haji
Nabi yang terakhir) dan di sana mereka telah membai’ah Imam Ali bin
Abi Talib di Ghadir Khum setelah beliau dilantik oleh baginda sebagai
khalifahnya. Abu Bakar juga memberikan bai’ah. Tiba-tiba mereka
terkejut dengan kedatangan seorang utusan sang khalifah (Abu Bakar)
yang memberitahu mereka bahawa Nabi SAWA telah wafat, dan atas
nama khalifah baru, yakni Abu Bakar, mereka meminta harta zakat.
Peristiwa ini juga hampir diabaikan oleh sejarah kerana beralasan ingin
menjaga kemuliaan sahabat. Sedangkan Malik dan para pengikutnya juga
adalah orang-orang Muslim. Hal ini di saksikan sendiri oleh Umar dan Abu
Bakar serta beberapa sahabat yang lain. Mereka membantah Khalid bin
Walid kerana membunuh Malik bin Nuwairah ini. Dan sejarah sendiri
membuktikan bahawa Abu Bakar membayar diat (ganti rugi akibat
pembunuhan) Malik kepada saudaranya Mutammin dari harta Baitul Mal
dan meminta maaf atas pembunuhan ini. Padahal di dalam Islam sangat
jelas bahawa mereka yang murtad wajib dibunuh, diatnya tidak boleh
diberikan dari Baitul Mal dan tidak perlu meminta maaf.
Apa yang penting adalah ayat inqilab ini yang memberi maksud kepada
para sahabat yang hidup di zaman Nabi dan di kota Madinah itu sendiri.
Ianya menunjukkan bahawa mereka akan berbalik ke belakang segera
setelah wafatnya baginda Nabi SAWA. Hadith-hadith Nabi
menerangkannya sejelas-jelasnya tentang hal ini dan tidak menyiratkan
sebarang keraguan. Dan kita akan bincangkan hal ini di dalam perbahasan
kemudian, Insya Allah. Sejarah juga sebaik-baik bukti atas inqilab
(berbalik ke belakang) mereka setelah wafatnya Nabi ini. Dan kita akan
lihat betapa sedikitnya yang selamat ketika kita teliti peristiwaperistiwa
yang berlaku di antara kalangan para sahabat itu sendiri.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 107
II Ayat Jihad
Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya
apabila dikatakan kepada kamu:”Berangkatlah (untuk berperang) di jalan
Allah kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu
puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan akhirat? Padahal
kenikmatan kehidupan di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di
akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang,
nescaya Allah menyiksa kamu dengan siksaan yang pedih dan digantinya
(kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi
kemudaratan kepadaNya sedikitpun. Allah Maha Berkuasa atas segala
sesuatu” (Al-Qur’an 38: 39). Maha Benar Allah Yang Maha Agung.
Ayat ini juga sangat jelas mengatakan bahawa sahabat merasa berat
untuk pergi berjihad di jalanNya. Mereka lebih memilih untuk hidup di
dunia walau mereka tahu kenikmatannya hanya sedikit sekali. Sikap
mereka ini dicela oleh Alla dan diancam dengan azab yang pedih. Dan
Allah akan mengganti mereka dengan orang-orang Mukmin lain yang jujur.
Ancaman penggantian ini tersurat di dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Ini
menunjukkan bahawa mereka seringkali menunjukkan rasa berat di dalam
berjihad di jalan Allah SWT. Di dalam ayat lain Allah berfirman,” Dan
jika kamu berpaling, nescaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum
yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)” (Al-Qur’an 47: 38).
Atau firman Allah yang lain,”Hai orang-orang yang beriman, barang siapa
di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap Mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah,
dan tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah
kurnia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah
Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui” (Al-Qur’an 5:54).
Kalau kita ingin memperincikan ayat-ayat yang menyirat makna seperti ini
dan mengungkapkan kebenaran adanya pembahagian taraf sahabat
seperti yang dikatakan oleh Syiah, khususnya sahabat seperti yang kita
bincangkan ini, maka tak syak lagi ia akan memerlukan suatu buku
tersendiri. Al-Qur’an telah mengungkapkannya dengan nada yang ringkas
dan sangat fasih. Firman Allah,”Dan hendaklah ada di antara kamu
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 108
segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada
ma’aruf dan mencegah dari mungkar. Merekalah orang-orang yang
beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berceraiberai
dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada
mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksaan yang berat.
Pada hari yang di waktu itu ada muka menjadi hitam muram. Adapun
orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka
dikatakan):”Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Kerana itu
rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu?” Adapun orang-orang yang
menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah
(syurga); mereka kekal di dalamnya” (Al-Qur;an 3: 104-107). Maha Benar
Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.
Bagi para pengkaji dan peneliti, mereka tahu bahawa ayat ini bercakap
dengan para sahabat dan mengingatkan mereka dari perselisihan dan
perpecahan setelah datangnya hujah-hujah yang jelas. Ia mengancam
mereka dengan azab yang pedih dan membahagi mereka kepada dua
golongan. Yang satu akan dibangkitkan kelak dengan muka berseri-seri;
mereka adalah orang-orang yang bersyukur yang berhak menerima
rahmat Allah SWT. Yang lain akan dibangkitkan kelak dengan muka yang
hitam dan muram; mereka adalah orang-orang yang telah murtad setelah
mereka beriman. Dan Allah telah mengecam mereka dengan azab yang
pedih.
Jadi, jelas bahawa para sahabat telah berpecah dan berselisih setelah
wafatnya Nabi SAWA. Mereka telah menyalakan api fitnah sehingga
mereka saling berperang dan menumpahkan darah yang mengakibatkan
kemunduran kaum Muslimin dan menjadi sasaran musuh-musuhnya. Ayat
di atas tidak dapat ditakwilkan atau diubah pengertiannya lain dari apa
yang difahami oleh akal.
III Ayat Khusyuk
Firman Allah,”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman
untuk menundukkan hati mereka mengingati Allah dan kepada kebenaran
yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka menjadi seperti
orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan al-Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 109
yang fasik” (Al-Qur’an 57: 16). Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan
Maha Agung.
Di antara kitab al-Dur al-Manthur oleh Jallaluddin as-Suyuti, beliau
berkata,”Ketika sahabat-sahabat Nabi datang ke Madinah, mereka
merasakan kenyamanan hidup dibandingkan dengan penderitaan yang
mereka alami sebelumnya. Seakan-akan mereka menjadi lemah atas
sebahagian kewajipan yang sepatutnya dilakukan sehingga mereka
dihukum seperti yang tersurat dalam ayat ini. Di dalam riwayat lain dari
Nabi SAWA yang bersabda, bahawa Allah SWT melihat keengganan hati
para Muhajirin walau setelah tujuh belas tahun dari turunnya ayat
berikut,”Bukankah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman….”
Nah, jika para sahabat – manusia yang paling baik dalam pandangan Ahlul
Sunnah Wal Jamaah – masih belum mempunyai hati yang khusyuk dan
tunduk ketika mengingati Allah dan kepada kebenaran yang telah
diturunkan sepanjang tujuh belas tahun, sehingga Allah melihat
keengganan mereka dan menegur mereka serta mengingatkan mereka
dari memiliki hati yang keras yang mungkin boleh membawa kepada
kefasikan, maka kita tidak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy yang
masuk Islam pada tahun ke tujuh Hijrah setelah pembukaan Mekah.
Demikianlah sebahagian contoh yang dapat aku simpulkan dari Kitab
Allah. Buktinya sangat kuat menunjukkan bahawa tidak semua sahabat
adalah adil seperti yang dikatakan oleh Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Dan
jika kita teliti di dalam hadith-hadith Nabi, maka kita akan dapati
contoh-contoh lain yang berlipat ganda. Mengingat aku telah berjanji
untuk membuatnya secara ringkas, maka aku tuliskan sebahagian contoh
sahaja, dan biarlah pengkaji-pengkaji lain meneliti permasalahan ini
dengan lebih dalam lagi.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 110
Pandangan Rasul Tentang Sahabat
I Hadith Telaga
Bersabda Rasulullah SAWA: ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang
sekelompok orang yang aku kenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami
dan berkata,”Mari”. Aku tanya,”Ke mana?” Jawabnya,”Ke neraka, demi
Allah”. “Apa kesalahan mereka?” Tanyaku. “Mereka telah murtad
setelahmu dan berbalik kebelakang dari kebenaran, dan aku perhatikan
tiada yang tersisa melainkan (sedikit sekali) seperti sekelompok unta
yang tertinggal”, jawabnya [11].
Rasulullah SAWA bersabda: Aku akan mendahului kalian di Telaga Haudh.
Siapa yang berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang minum tidak
akan dahaga selama-lamanya. Kelak ada sekelompok orang yang aku kenal
dan mereka juga mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka
dipisahkan dariku. Aku akan berkata: apa yang telah mereka lakukan
setelah ketiadaanmu. Dan aku pun berkata: Nyahlah, nyahlah mereka
yang telah berubah setelah ketiadaanku”.
Orang yang merenungkan makna hadith-hadith seumpama ini yang
diriwayatkan sendiri oleh ulama Ahlul Sunnah Wal Jamaah di dalam
berbagai kitab sahih mereka, akan tidak akan ragu lagi membuat
kesimpulan bahawa kebanyakan sahabat telah berubah bahkan telah
berbalik ke belakang setelah wafatnya Nabi SAWA melainkan segelintir
kecil sahaja yang diibaratkan oleh Nabi SAWA seperti sekelompok unta
yang tertinggal. Hadith ini tidak dapat ditafsirkan bahawa ianya
bermaksud kepada golongan orang-orang munafik, mengingat nas itu
sendiri berkata: sahabatku, sahabatku (ashabi). Dan ianya juga sebagai
tafsir atau realisasi dari ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan tentang
sikap mereka yang berbalik ke belakang sehingga diancam oleh Allah
dengan api neraka, seperti yang telah disentuh di atas.
II Hadith: Bersaing Untuk Dunia
Bersabda Nabi SAWA,”Aku akan mendahului kalian dan akan menjadi
saksi kepada kalian. Demi Allah aku kini melihat Haudhku (telaga di
syurga) dan aku juga telah diberikan kunci kekayaan bumi (atau kunci
bumi). Demi Allah aku tidak khuatir kalian akan mensyirikkan Allah
setelahku, tetapi aku khuatir kalian akan bersaing untuknya (dunia)” [12].
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 111
Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAWA. Mereka telah
bersaing dan berlumba-lumba untuk dunia ini sehingga pedang-pedang
mereka dihunuskan, berperang, dan saling mengkafirkan. Sebahagian
sahabat yang besar menimbunkan emas dan perak. Para ahli sejarah
seperti al-Masu’di di dalam kitabnya Muruj az-Zahab dan Tabari dan
lain-lainya lagi mencatatkan bahawa kekayaan Zubair sahaja mencapai
lima puluh ribu dinar, seribu ekor kuda, seribu orang hamba sahaya dan
sejumlah tanah di Basrah, Kufah, Mesir, dan lain-lain lagi [13]. Dan
Talhah mempunyai kekayaan pertanian di Iraq di mana setiap harinya
menghasilkan seribu dinar, konon lebih dari itu. Abdul Rahman bin Auf
mempunyai seratus ekor kuda, seribu unta, dan sepuluh ribu kambing.
Sesuku dari seperlapan hartanya yang dibahagi-bahagikan kepada
isterinya selepas meninggalnya mencapai lapan puluh empat ribu [14].
Ketika Uthman bin Affan meninggal dunia, beliau telah meninggalkan
sejumlah seratus lima puluh ribu dinar, tidak terhitung binatang
ternakdan tanah-tanah subur tidak terkira. Emas dan perak yang
ditinggalkan oleh Zaid bin Thabit sedemikian banyaknya sehingga harus
dipecahkan dengan kapak. selain dari harta dan tanah yang bernilai
seratus ribu dinar [15].
Demikianlah sebahagian contoh yang dapat kita lihat di dalam sejarah.
Kita tidak bermaksud membahasnya secara terperinci dan cukup sekadar
sebagai bukti betapa mereka tergoda oleh kemewahan dunia dan
kenikmatannya.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 112
Pandangan Sahabat Antara Satu Sama Lain
1. Kesaksian Mereka Atas Perubahan Sunnah Nabi
Abu Sai’id al-Khudri berkata,”Pada Hari Raya Eidul Fitri dan Eidul Adha,
Rasulullah SAWA keluar untuk solat. Setelah itu beliau berdiri
menghadap para hadirin yang masih duduk di saf lalu berkhutbah
menasihati mereka dan mengeluarkan perintahnya”. Abu Sa’id
melanjutkan,”Cara seperti ini terus dilanjutkan oleh para sahabat Nabi
sehinggalah suatu hari aku keluar bersama Marwan yang pada waktu itu
merupakan Gabenor Kota Madinah untuk pergi solat Hari Raya Eidul Fitri
atau Eidul Adha. Ketika kami tiba di tempat solat, Marwan terus naik ke
atas mimbar yang dibuat oleh Kathir bin Shalt. Aku tarik bajunya tetapi
ditolaknya aku. Kemudian beliau berkhutbah sebelum memulakan solat.
Aku katakan kepadanya:”Demi Allah, kalian telah mengubah.”Hai Aba
Sai’d! Telah sirna apa yang engkau ketahui”, jawabnya. Aku katakan
kepadanya:”Demi Allah, apa yang aku tahu adalah lebih baik dari apa yang
tidak aku aku ketahui”. Kemudian Marwan berkata lagi:”Orang-orang ini
tidak akan duduk mendengar khutbah kami setelah solat kerana itu aku
lakukan khutbah sebelumnya” [16].
Aku cuba meneliti gerangan apakah yang menyebabkan sahabat seperti
ini mengubah sunnah Nabi. Akhirnya aku temukan bahawa Bani Umaiyyah
- yang majoritinya sebagai sahabat Nabi – terutama sekali Muawiyah bin
Abu Sufian yang kononnya sebagai Penulis Wahyu, sentiasa memaksa
orang untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Talib dari atas mimbarmimbar
masjid. Muawiyah menyuruh para pekerjanya di setiap negeri
untuk menjadikannya sebagai suatu “sunnah” (tradisi) yang mesti diikuti
oleh para khatib. Ketika sebahagian sahabat memprotes ketetapan ini,
Muawiyah tidak segan-silu menyuruh mereka dibunuh atau dibakar.
Muawiyah telah membunuh sebahagian sahabat yang sangat terkenal
seperti Hujr bin U’dai berserta para pengikutnya, dan sebahagian lain
dikuburkan hidup-hidup.”Kesalahan” mereka adalah kerana mereka
enggan mengutuk Ali dan memprotes Muawiyah.
Abu A’la al-Maududi di dalam kitabnya al-Khalifah Wal Muluk (Khalifah
dan Kerajaan) menukilkan dari Hasan al-Basri yang berkata,”Ada empat
perkara dalam diri Muawiyah, yang seandainya ada satu sahaja, sudah
cukup untuk mencelakakannya:
1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 113
sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
2. Dia melantik puteranya sebagai pemimpin setelahnya, padahal
puteranya itu seorang yang pemabuk dan pencandu minuman keras serta
bemain muzik.
3. Dia menganggap Ziyad (Ziyad bin Abihi atau bapanya – seorang anak
zina), padaha Rasulullah SAWA bersabda:”Anak adalah milik bapanya dan
bagi yang melacur dikenakan hukum rejam dengan batu”.
4. Dia membunuh Hujr dan para pengikutnya. Maka celakalah dia kerana
Hujr; maka celakalah dia kerana Hujr dan para pengikut Hujr” [17].
Sebahagian sahabat-sahabat yang Mukmin lari dari masjid setelah
selesai solat kerana tidak mahu mendengar khutbah yang diakhiri dengan
kutukan kepada ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyyah
mengubah Sunnah Nabi dengan mendahulukan khutbah sebelum solat agar
yang hadir terpaksa mendengarnya. Nah, sahabat jenis apa ini yang tidak
takut merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah agar dapat
meraih cita-citanya yang rendah dan mengungkapkan rasa dengkinya yang
sudah terukir. Bagaimana mereka boleh melaknat seorang yang telah
Allah bersihkan dia dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah
untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada RasulNya, dan Allah
wajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya sehingga Nabi
bersabda:”Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak” [18].
Namun sahabat-sahabat ini telah merubahnya dan berkata: kami telah
dengar tetapi kami tidak mematuhinya; yang sepatutnya mereka
bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya, tetapi
mereka caci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun seperti yang
dicatat oleh sejarah. Jika sahabat-sahabat Musa telah berpakat
terhadap Harun dan hampir-hampir membunuhnya “Harunnya”(Alli) dan
mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syiahnya di setiap
tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan
melarang orang menggunakan nama mereka. Tidak sekadar itu, mereka
juga melaknat dan memaksa para sahabat yang agung untuk melaknat.
Demi Allah, aku berdiri hairan dan terpaku ketika aku baca buku-buku
sahih kita dan apa yang dimuatkannya tentang berbaga hadith yang
menceritakan betapa kecintaan Rasul kepada saudaranya dan anak
pamannya iaitu Ali bin Ali Talib serta pengutamaannya dari sahabatsahabat
yang lain. Sehingga baginda bersabda,”Engkau (wahai Ali) di
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 114
sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya sahaja tiada Nabi
selepasku”[19]. Atau sabdanya,”Engkau daripadaku dan aku
daripadamu”[20]. Dan sabdanya lagi,”Mencintai Ali adalah iman dan
membencinya adalah nifak”[21]. Sabdanya,”Aku adalah kota ilmu dan Ali
pintunya”[22]. Dan sabdanya,”Ali adalah wali (pemimpin) selepasku”[23].
Dan sabdanya,”Siapa yang menganggap aku sebaga maulanya
(pemimpinnya), maka Ali adalah maulanya juga. Ya Allah sokonglah mereka
yang mewilanya dan musuhilah mereka yang memusuhinya”[24].
Jika kita ingin menuliskan semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh
Nabi SAWA dan diriwayatkan oleh ulama-ulama kita dengan sanadnya
yang sahih, maka ia pasti memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana
sahabat-sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan hadith ini, lalu
mencacinya, memusuhinya, melaknatinya dari atas mimbar dan membunuh
atau memerangi mereka?
Aku tidak menemukan sebarang alasan atas tindakan mereka ini
melainkan kerana cinta kepada dunia dan berlumba-lumba kerananya atau
kerana sifat nifak ata berbalik ke belakang dan berpaling dari kebenaran.
Aku juga cuba melemparkan tanggungjawab ini kepada sebahagian
sahabat yang terkenal jahat atau sebahagian orang-orang munafik.
Namun sayang sekali, yang aku temukan adalah para sahabat agung dan
yang terkenal. Orang yang pertama mengancam akan membakar rumahnya
berserta para penghuninya adalah Umar bin Khatab, orang pertama yang
memeranginya adalah Talhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu
Bakar, Muawiyah bin Abu Sufian, dan Amru bin As serta lain-lain lagi.
Saya amat terkejut, dan rasa terkejut saya tidak akan ada
kesudahannya, dan mereka yang berfikiran rasional dan bertanggong
jawab akan bersetuju dengan saya, bagaimanakah agaknya ulama’ Sunni
boleh bersetuju pada kebenaran para sahabat semuanya dan bermohon
kesejahteraan kepada Allah untuk mereka dan berdoa’ untuk mereka
semua tanpa pengecualian, walaupun sebahagian mereka berkata,
“Laknatlah kepada Yazid tetapi jangan berlebihan”.. Tetapi dimana-kah
Yazid diantara segala trajedi ini yang mana tiada agama atau logik boleh
terima? Saya merayu kepada manusia Sunni, jika mereka benar-benar
mengikuti hadith Rasul (saw), agar meninjau hukum Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid
dan kekufurannya. Rasulullah (saw) bersabda:” Sesiapa
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 115
yang mencaci Ali, maka dia telah mencaciku, dan sesiapa yang mencaciku,
maka dia mencaci Allah. Dan sesiapa yang mencaci Allah, Allah akan
mencampaknya kedalam neraka” [25].
Demikianlah orang yang orang yang mencaci Ali. Maka, jadi apakah jenis
hukuman bagi mereka yang melaknat dan memeranginya.. Apakah
pendapat ulama’ kita terhadap kesemua kenyataan (fakta) ini, Ataukah
hati mereka telah terkunci rapat?! Katakanlah, ya Allah, lindungilah kami
dari bisikan syaitan dan dari kehadirannya.
1.Para Sahabat Membuat Perubahan juga di Dalam Solat
Anas ibn Malik berkata: Saya tidak mengetahui apa-apa semasa hayat
baginda rasul (saw) lebih baik dari solat. Dia berkata: Tidakkah kamu
kehilangan sesuatu dalam solat?”Al-Zuhri berkata: Saya pergi bertemu
Anas ibn Malik di Damasyik, dan mendapati dia menangis, saya bertanya
kepada dia, “Apa yang membuat kamu menangis?” Dia menjawab, “Aku
telah lupa segala yang aku ketahui melainkan solat ini. Itupun aku telah
sia-siakannya” [26] .
Saya suka untuk menyatakan bahawa bukan para Tabi’in yang merubah
segala sesuatu setelah berlakunya fitnah dan peperangan ini. Di sini ingin
aku nyatakan bahawa orang yang pertama sekali membuat perubahan
didalam Sunnah Rasul Allah (saw) mengenai solat adalah khalifah
Muslimin yang ketika, Uthman bin Affan. Begitu juga Umm al-Mukminin
Aisyah yang terlibat didalam perubahan ini. Al Bukhari dan Muslim,
kedua-duanya menyatakan didalam buku mereka bahawa Rasul Allah (saw)
mengerjakan dua rakaat di Mina, dan Abu Bakar dan Umar serta di masa
awal zaman kekhalifah Uthman. Setelah itu Uthman, yang kemudiannya
mengerjakan solat empat rakaat” [27].
Muslim juga meriwayatkan didalam kitab sahihnya bahawa al-Zuhri
bertanya Urwah, “Mengapa Aisha solat empat rakaat semasa musafir?
Dia menjawab, “Aisyah melakukan takwil sebagaimana yang dilakukan oleh
Uthman” [28]
Umar bin Khatab juga berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas yang
nyata dari Nabi(saw), dan juga di hadapan nas-nas al-Quran. Sebagaimana
dia pernah mengatakan: Ada dua muta’ah yang diperbolehkan pada
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 116
zaman Nabi, , tetapi sekarang saya menegahnya dan menghukum sesiapa
yang melakukannya (dua muta’ah – muta’ah haji dan muta’ah nikah).
Beliau juga berkata kepada orang yang berjunub tetapi tidak menjumpai
air untuk mandi,”janganlah bersolat”. Walaupun terdapat firman Allah
(awj) didalam surah al-Maidah: 6:…”.Lalu jika kamu tidak menjumpai air,
maka bertayammumlah dengan menggunakan tanah yang bersih”.
Al Bukhari menyatakan didalam kitabnya, didalam bab Idza Khofa al-
Junub A’la Nafsihi (Jika Orang Yang Berjunub Takut Akan Dirinya):”
Saya mendengar Shaqiq ibn Salmah berkata: Saya bersama dengan
Abdullah dan Abu Musa, dan Abu Musa bertanya, “Apa yang kamu kata
kepada seorang yang berjunub tetapi tidak menjumpai air?” Abdullah
menjawab, “Dia tidak boleh bersolat sehingga dia menjumpai air” Abu
Musa kemudian bertanya, “Apa pada fikiran kamu tentang apa yang
dikatakan Rasul Allah (saw) kepada Ammar mengenai masalah yang sama
ini?” Abdullah berkata, ” Untuk sebab itu Umar tidak begitu yakin hati
[dengannya]” Abu Musa berkata, “Lupakan mengenai peristiwa Ammar ini,
tetapi apa yang kamu katakan mengenai dengan ayat Quran?” Abdullah
diam dan tidak menjawab. Kemudian dia menerangkan pendiriannya
dengan berkata, “Jika kita izinkan mereka (melakukan tayammum) ini,
maka setiap kali jika dirasakan sejuk, mereka akan bertayammum
sahaja”. Saya berkata kepada Shaqiq, “Pastinya Abdullah membenci
untuk itu” Dia berkata, “Ya”[29].
III Para Sahabat Membuat Pengakuan Terhadap Diri Mereka Sendiri
Anas ibn Malik berkata bahawa suatu hari Rasul Allah (saw) berkata
kepada kaum Ansar: Kamu akan lihat selepas saya kebahilan yang amat
sangat, tetapi bersabarlah sahingga kamu bertemu Allah danRasulNya di
Telaga Haudh. Anas berkata: Kami tidak sabar [30].
Al-Ala ibn al-Musayyab mendengar ayahnya berkata: Saya bertemu al-
Bara ibn Azib (ra), dan berkata kepadanya, “Berbahagialah bagi kamu,
kerana kamu dapat bersahabat dengan Nabi(saw), dan kamu membaiahnya
di bawah pohon(Bai’ah Takhta Syajarah – Bai’ah Ridhwan)”. Barra
berkata, “Wahai putera saudaraku, kamu tidak mengetahui apa yang
telah kami lakukan selepas ketiadaannya” [31].
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 117
Jika sahabat yang utama, yang terjumlah salah saorang dari As-Sabiqun
al-Awwalin ini, yang pernah yang membai’ah Rasul Allah {saw] dibawah
pohon, dan Allah rela kepada mereka kerana Allah mengetahui apa yang
didalam hati mereka sehingga diberikan ganjaran yang besar, lalu dia
mengaku terhadap dirinya dan sahabat-sahabat lain bahawa mereka telah
melakukan “sesuatu” selepas Nabi, maka bukankah pengakuan ini adalah
satu bukti pengesahan kepada apa yang dikatakan oleh rasul Allah (saw)
terhadap para sahabat yang berpatah kebelakang dan berpaling darinya
selepas wafatnya.
Bagaimana seorang yang berakal, selepas segala pembuktian ini, percaya
kepada keadilan bagi semua para sahabat, sebagaimana yang dilakukan
oleh Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
Mereka yang mengatakan demikian jelas telah menyalahi nas dan akal. Ini
bererti hilanglah segala ciri-ciri intelektual yang sepatutnya dijadikan
pegangan di dalam sebuah kajian.
IV Pengakuan Dua Shaykh (Syaikhain) dan Terhadap Diri Mereka Sendiri
Didalam bab bertajuk ,”Manaqib Umar ibn Al-Khattab”, al-Bukhari
menulis didalam bukunya, Apabila Umar ditikam, dia merasa amat sakit
dan Ibn Abbas mahu mententeramkannya, maka dia berkata kepadanya,
“Wahai Amirul Mukminin, jika memang sudah sampai waktunya, bukankah
kamu adalah sahabat Rasulullah yang baik, dan apabila baginda
meninggalkan kamu, dia merasa redha dengan kamu. Kemudian kamu
bersama Abu Bakr, dan kamu adalah sahabat yang baik baginya, dan
apabila dia meninggalkan kamu dia merasa redha dengan kamu. Kemudian
kamu bersama para-para sahabat mereka, dan kamu adalah sahabat yang
baik kepada mereka, dan jika kamu meninggalkan mereka, mereka akan
terus rela kepada kamu.” Kemudian Umar menjawab,” “Adapun tentang
persahabatan dan kerelaan Rasulullah yang engkau sentuh tadi, maka itu
adalah anugerah yang Allah telah berikan kepadaku. Adapun
persahabatan dan kerelaan Abu Bakr dan, itu adalah anugerah dari Allah
(awj) telah dikurniakan kepada saya. Tetapi sebabnya kamu melihat dari
rasa takutku adalah kerana kamu dan para sahabat kamu. Demi Allah, jika
saya mempunyai segunung emas didunia ini, maka aku akan korbankan
untuk menebus diriku dari azab Allah (awj) sebelum aku bertemuNya”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 118
[32].
Sejarah juga mencatatkan beliau pernah di katakan sebagai telah
berkata seperti berikutnya:, “Oh alangkah baiknya jika aku hanyalah
seekor kambing keluargaku. Mereka tentu akan mengemukkan aku kepada
tahap yang mereka suka. Mereka hiriskan sebahagian dariku dan
dipanggangnya sebahagian yang lain. Kemudian mereka tentu akan
memakanku, dan akhirnya dikeluarkan pula sebagai najis. Oh kalaulah aku
menjadi seperti itu dan tidak menjadi manusia” [33]
Nampaknya Abu Bakr juga menyatakan perkara yang sama seperti yang
diatas. Ketika dia melihat seekor burung yang hinggap diatas pokok,
kemudian berkata, “Berbahagialah kamu burung….kamu memakan buahbuahan,
dan kamu hinggap di atas pokok tanpa ada hisab dan balasan. Aku
lebih sukan kalau aku ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi
jalan. Lalu seekor unta berjalan di sana, dan memakanku, kemudian aku
dikeluarkannya pula dan tidak menjadi seorang manusia” [34]. Dia juga
berkata, “Oh kalaulah ibuku tidak melahirkanku…Oh kalaulah aku adalah
hanya sebiji pasir dari satu batu-bata” [35].
Dan ini adalah firman Allah yang memberi khabar gembira kepada hambahambaNya
yang Mukmin: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah, tiada
ketakutan terhadap mereka, dan tiada pula mereka berdukacita. Mereka
yang beriman dan bertakwa. Untuk mereka khabar gembira waktu hidup
di dunia dan di akhirat, tiada bertukar-tukar kalimah (jani-janji) Allah,
demikian itu adalah kemenangan yang besar” [10:62 – 64]
Allah juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan
kami adalah Allah, kemudian mereka dijalan yang lurus, para malaikat
turun kepada mereka berkata: Janganlah takut dan berdukacita, dan
terimalah khabar gembira dengan taman [syurga] yang telah dijanjikan.
Kami adalah wali-wali kamu didunia ini dan diakhirat, dan untukmu di sana
apa-apa yang dihajati oleh jiwamu dan apa-apa yang kamu minta. Sebagai
pemberian dari Tuhan Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.
[41:30 – 32]
Mana boleh dengan dua shaykh ini, Abu Bakr dan Umar, berangan-angan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 119
untuk tidak menjadi manusia, yang mana Allah telah muliakan dan
meletaknya diatas segala makhluk-makhluk yang lain? Walaupun
berimannya seorang Mukmin awam, yang beristiqamah dijalan yang lurus
semasa hayatnya, menerima kedatangan malaikat untuk memberitahu dia
khabar gembira mengenai tempatnya di syurga, dan bahawa dia tidak
perlu takut akan siksaan Allah, atau berdukacita mengenai peninggalannya
didalam hidup, dan bahawa dia mendapat khabar gembira sedang dia
didalam hidup ini sebelum sampai kepada hidupan akhirat. Jadi bagaimana
boleh terjadi pada sahabat yang agung, kejadian yang terbaik selepas
rasul Allah (saw) [sebagaimana kita telah diajari], berangan-angan ingin
menjadi najis, ataupun sehelai rambut atau sebiji pasir?, Seandainya
apabila malaikat telah memberi mereka khabar gembira yang mereka
akan memasuki syurga maka mereka tentu tidak mengharap untuk
memiliki segala emas didunia untuk menebus diri dari siksaan Allah
sebelum menemuiNya.
Allah (awj) berfirman: “Kalau tiap-tiap jiwa yang telah melakukan
ketidakadilan [kezaliman] mempunyai segala-gala yang dibumi ini, dan
memberikannya sebagai tebusan, dan mereka akan meyatakan kekesalan
apabila mereka menyasikan siksaan, dan perkara itu akan ditentukan
diantara mereka dengan keadilan dan mereka tidak akan dianiaya. [10:54]
Allah juga berfirman, “Dan telah dipunyai oleh mereka yang zalim
segalanya yang didunia ini, serta ditambah lagi yang sebanyaknya, mereka
tentunya menawarkan sebagai tebusan {supaya terselamat] dari
kekejaman siksaan pada hari kebangkitan: dan apa yang tiada mereka
fikirkan akan menjadi nyata kepada mereka dari Allah. Dan segala
kejahatan yang telah mereka lakukan akan menjadi nyata kepada mereka,
dan perkara-perkara yang mereka olok-olokkan akan mengelilingi
mereka.” [39:47 – 48]
Aku berharap dengan ikhlas bahawa ayat-ayat Quran ini tidak melibatkan
sahabat besar seperti Abu Bakr al-Saddiq dan Umar al-Faruq…Tetapi aku
kadang-kadang terjebak dengan adanya nas-nas seperti ini. Itulah kenapa
aku dapat melihat beberapa aspek yang menarik tentang pertalian
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 120
mereka dengan Rasul Allah (saw). Namun di situ jug aku dihadapkan
dengan sikap mereka yang enggan melaksanakan perintah-perintah
baginda, khususnya disaat-saat akhir hayat usia baginda yang barakah
itu, telah membuat baginda amat marah sahingga baginda mengusir
mereka semua keluar dari kamarnya. Aku juga teringat rantaian peristiwa
yang berlaku selepas pemergian baginda serta sikap mereka yang
menganggu puteri baginda Fatimah al-Zahra. Sedangkan Nabi (saw)
berkata: “Fatimah adalah sebahagian dari aku, sesiapa yang membuat dia
marah, bermakna dia telah menyebabkan aku marah” [36].
Fatimah pernah berkata kepada Abu Bakr dan Umar: Aku minta
persaksian dari Allah (awj) kepada kamu berdua, tidakkah kamu
mendengar rasul Allah (saw) berkata: Keredhaan Fatimah adalah
keredhaanku, dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku, dan siapa
yang mencintai anakku Fatimah mencintaiku, dan siapa yang mencintai
Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela
maka dia telah membuatkanku rela, dan siapa yang membuat Fatimah
marah, maka dia telah membuatku marah”. Mereka berkata, “Ya, kami
mendengarnya dari rasul Allah (saw)” Kemudian Fatimah berkata,
“Sungguh, aku minta persaksian Allah dan malaikat-malaikatNya, bahawa
kamu telah membuatkan aku marah, dan tidak rela, dan jika aku bertemu
rasul Allah (saw) aku akan mengadu kepada baginda mengenai kamu” [37].
Biar kita tinggalkan cerita yang trajik ini sementara waktu, tetapi Ibn
Qutaybah, yang dianggap sebagai ulama’ sunni yang agung, dan yang
terkemuka dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan menulis banyak buku
sama ada tafsir al-Quran, hadith, bahasa, nahu, dan sejarah. Mungkin
belia juga telah bertukar menjadi Shiah, sebagaimana sesaorang yang aku
kenali pernah berkata apabila aku menunjukkan kepada dia buku Ibn
Qutaybah, “Tarikh al-Khulafa”.
Inilah hanyalah sekadar alasan yang dicari-cari oleh ulama’ kita apabila
mereka harus mengakui fakta-fakta tersebut.Begitu juga al-Tabari
adalah Shiah, dan al-Nasa’i, yang menulis buku mengenai berbagai aspek
Imam Ali adalah Shiah dan Taha Husayn saorang ulama’ yang menulis “Al-
Fitnah al-Kubra” dan menyebut di sana hadith-hadith al-Ghadir serta
mengakui kebenaran-kebenaran yang lain juga dikatakan telah mengikut
Shiah.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 121
Yang sebenarnya adalah, mereka semuanya ini bukanlah Shiah, dan
apabila mereka mengatakan mengenai Shiah, mereka akan mengatakan
segala perkara yang buruk mengenainya, dan mereka membela keadilan
para sahabat dengan segala yang terdaya. Tetapi yang sebenarnya
bahawa apabila sesaorang menyebut kemuliaan Ali ibn Abi Talib, dan
mengaku kesalahan yang dilakukan oleh sahabat yang agung, tiba-tiba
kita tuduh mereka telah bertukar menjadi Shiah. Cukuplah apabila kamu
berkata di hadapan mereka salawat Nabi yang diiringi dengan Wa Alaihi
atau menyebutkan asaihissalam kepada Imam Ali, maka kamu akan dicop
sebagai Shiah. Dengan kedudukan yang begitu, suatu hari, semasa
perbahasan, aku bertanya kepada saorang ulama’ kita, “Apa pendapat
kamu terhadap al-Bukhari?” Dia berkata, “Dia adalah seorang yang
terkemuka didalam hadith dan kami terima bukunya sebagai paling sahih
[betul] selepas kitab Allah, sebagaimana yang dipersetujui oleh semua
ulama’” Aku berkata kepadanya, “Dia adalah Shiah” Dia tertawa dan
berkata, “Jauh sekali Imam Bukhari akan jadi Shiah”. Aku berkata,
“Tidakkah anda yang berkata bahawa sesiapa yang berkata Ali,
alaihissalam diatasnya, adalah seorang Shiah?” Dia berkata, “Ya” Lalu aku
tunjukkan kepadanya dan orang-orang yang bersamanya buku al-Bukhari,
dan dibanyak tempat, apabila nama Ali dan Husayn bin Ali muncul, dia
menulis “Alaihissalam” begitu juga dengan nama Fatimah puteri Nabi dia
menyebutkan Alaihassalam [38]. Dia sangat terkejut dan tidak tahu apa
yang hendak dikatakan.
Mari kita kembali kepada insiden yang dinyatakan oleh Ibn Qutaybah
dalam mana Fatimah dikatakan telah marah pada Abu Bakar dan Umar.
Jika akumeragui kesahihan cerita ini, maka aku tidak boleh meragui
kesahihan buku al-Bukhari, yang kita terima sebagai buku yang benar
selepas kitab Allah. Setelah kita sanggup menerima bahawa ianya adalah
betul, maka Shia mempunyai hak untuk menggunakannya didalam protes
mereka terhadap kita dan memaksa kita kepada apa yang kita janjikan,
ini adalah adil bagi mereka yang rasioanal untuk menerimanya.
Didalam bukunya al-Bukhari menulis didalam bab bertajuk “Keistimewaan
Kerabat Nabi” sebagai berikut: Rasul Allah (saw) bersabda:”Fatimah
adalah sebahagian dari aku, dan sesiapa membuatnya marah,maka dia
telah membuatku marah.” Begitu juga dibab mengenai “Ghazwah
Khaybar” dia menulis: Mengikut pada Aishah, Fatimah (as), puteri
Nabi(saw), menghantar seorang utusan kepada Abu Bakar meminta hak
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 122
pusakanya dari pewarisan Nabi(saw). Abu Bakar enggan untuk memberi
Fatimah (as) walau sedikit sekalipun. Fatimah menjadi amat marah
kepada Abu Bakar dan meninggalkan dia dan tidak pernah bercakap
kepadanya sahinggalah beliau meninggal dunia [39].
Rumusannya, natijahnya adalah satu, al-Bukhari menyatakannya secara
ringkas dan Ibn Qutaybah berkata mengenainya secara khusus, dan inilah
dia: Rasul Allah (saw) marah apabila Fatimah menjadi marah, dan baginda
rela, apabila Fatimah rela, dan bahawa beliau meninggal dunia sedangkan
beliau masih marah dengan Abu Bakr dan Umar.
Jika al-Bukhari berkata: Fatimah meninggal sedangkan beliau masih
dalam keadaan marah kepada Abu Bakar, dan sehingga ajalnya beliau
tidak bercakap dengan Abu Bakar, maka kalimah riwayat Bukhari ini sama
maknanya dengan riwayat Ibnu Qutaibah di atas. Dan jika Fatimah
adalah, “Penghulu Wanita Alam Semesta (Saidati-Nisa Fil-’Alamin)”
sebagaimana dikatakan oleh al-Bukhari didalam bahagian al-Isti’dzan, dan
jika Fatimah adalah wanita yang seorang dari ummat ini yang dibersihkan
dari segala dosa dan disucikankan sebersih-bersihnya, maka itu bermakna
bahawa sikap kemarahan beliau tentunya adalah kebenaran semata-mata.
Itulah kenapa Allah dan pesuruhNya menjadi marah oleh kemarahan
beliau. Oleh kerana itu Abu Bakr berkata, “Aku berlindung kepada Allah
dari kemurkaanNya dan kemurkaanmu wahai Fatimah”. Kemudian Abu
Bakr menangis tersedu-sedu sehingga dadanya sesak. Fatimah juga
berkata: “Demi Allah, aku akan memohon keburukanmu di dalam setiap
doa yang aku panjatkam setelah solat”. Kemudian Abu Bakr keluar sambil
menangis dan berkata: “Saya tidak perlu dengar bai’ah kalian dan
lepaskanlah aku dari bai’ah kalian” [40].
Kebanyakkan ahli sejarah dan ulama’ kita mengakui bahawa Fatimah (as)
telah mendakwa Abu Bakr di dalam banyak kes, seperti kes harta pusaka,
bahagian hak kerabat Nabi, tetapi tuntutan beliau ditolak, dan beliau
meninggal dengan perasaan marah kepadanya. Bagaimana pun, ulama kita
kelihatan melepaskan insiden-insiden ini tanpa mempunyai keinginan untuk
memperkatakannya dengan lebih khusus lagi, alasannya seperti biasa
supaya mereka dapat menjaga kemuliaan Abu Bakar.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 123
Satu perkara yang pelik yang telah aku baca mengenai cerita ini, adalah
apa yang seorang pengarang katakan setelah dia menceritakan secara
agak khusus [mendalam] insiden ini: Jauh sekali, bahawa Fatimah
membuat tuntutan kepada sesuatu yang bukan haknya, dan jauh sekali
Abu Bakr akan melarang Fatimah dari haknya”. Penulis itu beranggapan
bahawa melalui kenyataan-kenyataan yang lemah itu, dia dapat
menyelesaikan masaalah ini dan meyakinkan para penyelidik. Dia kelihatan
seperti berkata sesuatu yang serupa dengan yang berikut: Jauh sekali
Al-Qur’an akan berkata sesuatu yang bukan hak atau jauh sekali Bani
Israel akan menyembah anak lembu.
Kita telah dihantui oleh ulama’ yang mengatakan sesuatu yang mereka
sendiri tidak fahami atau mempercayai sesuatu yang kontradiktif
(bertentangan). Dalam kes ini Fatimah menuntut dan Abu Bakr menolak
tuntutan beliau, jadi sama ada beliau adalah seorang yang penipu –
ampunan Allah – atau Abu Bakr berlaku zalim terhadapnya. Tidak ada
penyelesaian yang ketiga untuk kes ini, sebagaimana sebahagian dari
ulama’ kita mahukan. Jika kemungkinan Fatimah Berbohong adalah
tertolak, kerana oleh pengesahan dari ayahnya didalam kata-kata
baginda: “Fatimah adalah sebahagian dariku, dan sesiapa saja yang
mengganggunya, bermakna menggangguku”. Dari itu, sesiapa yang
berbohong tidak berhak menerima sabda Nabi seperti ini; dan hadith ini
sendiri adalah bukti kemaksumannya dari bercakap dusta dan dari segala
perbuatan yang munkar sebagaimana ayat Tathir yang diturunkan
untuknya, suaminya, dan dua orang puteranya dengan persaksian dari
Aisyah [41] juga sebagai bukti akan kemaksumannya. Jika ini tertolak
maka tiada lagi jawapan lagi bagi orang yang berfikiran rasional kecuali
harus menerima kenyataan bahawa beliau telah dizalimi, dan sikap
menolak dakwaannya ini adalah perkara yang mudah bagi mereka yang
berani hatta membakar rumahnya, jika orang-orang yang enggan
memberikan bai’ah tidak keluar dari rumahnya [42]. Itulah kenapa
Fatimah AS tidak memberikan izin kepada Abu Bakar dan Umar masuk ke
rumahnya. dan ketika Ali membawa mereka masuk, Fatimah juga
memalingkan wajahnya dan tidak mahu melihat mereka berdua [43].
Fatimah telah meninggal dunia, dan berdasarkan wasiatnya, beliau
dikuburkan secara rahsia, dan pada malam hari, supaya tiada seorang pun
dari mereka dapat hadir diperkebumian beliau [44] dan sehingga kehari
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 124
ini, pusara anak perempuan Rasul Allah (saw) tidak diketahui.
Aku sangat suka untuk bertanya mengapa ulama’ kita diam membisu
terhadap fakta ini, dan keberatan untuk melihat kedalamnya, atau pun
untuk menyebutnya. Mereka memberi kita gambaran bahawa para
sahabat adalah seperti malaikat suci dan tidak mempunyai dosa, dan
apabila kamu bertanya mereka mengapa khalifah Uthman boleh
terbunuh? Maka, mereka akan menjawab: bahawa penduduk Mesirlah -
orang-orang kafir – yang membunuhnya, maka tamatlah perkara itu
dengan dua kalimah itu sahaja.
Apabila saya mendapat peluang untuk membuat penyelidikan di dalam
sejarah, saya dapati bahawa tokoh-tokoh utama disebalik pembunuhan
Uthman adalah para sahabat itu sendiri, dan bahawa Aisyah yang
menyeru pembunuhanya di khalayak ramai.Aisyah berkata: “Bunuh Na’thal
[orang tua yang keras kepala] itu. Ia telah kafir” [45]. Di sana kita
mengetahui bahawa Talhah, al-Zubayr, Muhammad ibn Abi Bakr dan para
sahabat yang terkenal lainnya mengepong dia didalam rumah dan
menghalang dia dari mengambil air minuman, supaya mereka dapat
memaksanya untuk meletak jawatan. Lebih lagi, para sejarah menyatakan
bahawa mereka tidak membenarkan mayatnya ditanam di perkuburan
kaum Muslimin, dan akhirnya dia ditanam di “Hashsh Kawkab” tanpa
dimandikan atau dikafankan. Subhanallah. Bagaimana mereka boleh
mengatakan kepada kita bahawa dia dibunuh secara zalim, dan bahawa
mereka yang membunuhnya bukan Muslim.
Ini satu lagi kes yang sama dengan permasalahan Fatimah dan Abu Bakr:
Sama ada Uthman dilayan secara zalim, maka kita boleh menjatuhkan
hukuman kepada para sahabat yang membunuh dia atau mereka yang
mengambil bahagian di dalam pembunuhan itu bahawa mereka adalah
penjenayah yang jahat kerana mereka membunuh khalifah kaum Muslimin
dengan penuh kezaliman dan permusuhan, bahkan membaling batu keatas
jenazahnya, sehingga Uthman dizalimi ketika hidupnya dan setelah
matinya. Atau pun para sahabat telah menghalalkan darahnya kerana dia
telah melakukan berbagai tindakan yang bercanggah dengan Islam,
sebagaimana punca sejarah mengatakan kepada kita. Tidak terdapat
kemungkinan ketiga, melainkan kita menolak fakta sejarah dan menerima
gambaran yang salah bahawa orang-orang “kafir” Mesir yang membunuh
Uthman. Didalam kedua-dua kes ini terdapat penolakkan yang total pada
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 125
kepercayaan umum bahawa para sahabat adalah adil dan benar, tanpa
pengecualian, kerana sama ada Uthman yang bersalah atau pembunuhnya
yang bersalah, tetapi kesemuanya adalah para sahabat, maka andaian kita
ditolak [salah]. Jadi kita hanya tinggal dengan andaian dari pengikut Ahl
al-Bayt, dan bahawa sebahagian para sahabat adalah adil, dan bukan
kesemuanya.
Kita boleh bertanya beberapa soalan mengenai peperangan al-Jamal, yang
telah dimulakan oleh Umm al-Mukminin Aishah, yang memainkan peranan
utama didalamnya. Bagaimana boleh Umm al-Mumineen Aishah
meninggalkan rumahnya yang mana Allah (awj) telah mengarahkannya
untuk tinggal didalamnya. Firman Allah:” Tetaplah kamu didalam rumah
dan janganlah kamu berhias seperti perempuan jahiliyah” [33:33]
Kita juga boleh bertanya, atas hak apa Aishah membolehkan dirinya
mengistiharkan perang dengan khalifah Muslim, Ali ibn Abi Talib?
Bukankah beliau Wali (pemimpin) bagi orang-orang Mukmin dan
Mukminah? Seperti biasa, ulama’ kita, dengan mudah menjawab bahawa
dia tidak suka kepada Imam Ali kerana dia menasihatkan rasul Allah
(saw) untuk menceraikannya di dalam peristiwa al-Ifk. Kelihatan seperti
mereka-mereka ini cuba untuk meyakinkan kita bahawa insiden itu adalah
alasan yang mencukupi untuk dia melanggar perintah Tuhannya dan
suaminya Rasul Allah (saw). Dia menunggang unta, bahawa rasul Allah
(saw) telah melarangnya dari menunggang dan mengingatkannya mengenai
salakkan anjing al-Haw’ab [46]. Aishah telah membuat perjalanan yang
jauh, dari al-Medinah ke Mekah kemudian ke Basrah, hanya untuk
memerangi Amirul Mukminin dan sahabat-sahabat lain yang
membai’ahnya, dan menyebabkan kematian ribuan orang Islam, seperti
yang dicatatkan dalam buku-buku sejarah [47]. Dia melakukan ini semua
kerana dia tidak suka kepada Ali kerana menasihatkan rasul untuk
menceraikannya. Bagaimana pun rasul tidak menceraikannya, jadi mengapa
sampai begini sekali kebenciannya terhadap Imam Ali?
Sejarah telah merakamkan beberapa tindakkan agressifnya terhadap Ali
yang tidak dapat diterangkan dan ini adalah sebahagian darinya. Apabila
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 126
dia {Aisha] sedang dalam perjalanan pulang dari Mekah, Aishah telah
diberitahu bahawa Uthman telah dibunuh, maka dia merasa gembira,
tetapi apabila dia mengetahui bahawa mereka telah melantik Ali sebagai
pengganti, dia menjadi amat marah dan berkata: “Bawa saya kembali”
Makanya dia telah memulakan perang saudara terhadap Ali, yang mana
nama beliau dia tidak suka untuk menyebutnya, sebagaimana dipersetujui
oleh kebanyakkan ahli sejarah.
Tidak terdengar ke Aisha kata-kata rasul Allah (saw): Mencintai Ali
adalah beriman, dan membencinya adalah (tanda) nifaq (munafik)? [48]
Sehinggakan bahawa sebahagian para sahabat pernah berkata: “Kami
mengenali mereka yang munafik dengan kebencian mereka terhadap Ali”
Tidakkah Aisha pernah mendengar kata-kata rasul Allah (saw): Sesiapa
yang menerima aku sebagai pemimpin (wali) mereka, maka Ali adalah
pemimpin mereka? Sudah tentu dia mendengar itu semua, tetapi dia tidak
menyukainya, dan dia tidak suka untuk menyebut namanya, dan apabila dia
mengetahui kematian beliau [Ali] dia sujud dan bersyukur kepada Allah
[49].
Biarlah kita tinggalkan semua ini, kerana aku tidak mahu membincang
riwayat hidup Umm al-Mumineen Aishah, tetapi saya telah cuba untuk
menunjukkan beberapa ramai para sahabat yang melanggar asas-asas
Islam dan melangar perintah rasul Allah (saw) dan mencukupilah untuk
menyatakan insiden yang berikutnya yang berlaku kepada Aishah semasa
perang saudara, dan yang mana telah disahkan oleh semua ahli sejarah
dan sebagai bukti kuat atas kesimpulanku.
Telah dikatakan bahawa apabila Aishah melalui pinggir air al-Hawab dan
mendengar salakkan anjing, dia teringat akan peringatan dari
suaminya,Rasul Allah (saw), dan bagaimana dia menghalangnya dari
menjadi penyebab kepada peperangan “al-Jamal” Dia menangis, dan
kemudian berkata, “Bawalah aku pulang, bawalah aku pulang!” Tetapi
Talhah dan al-Zubayr membawa lima puluh orang dan meminta mereka
bersumpah bahawa tempat air itu bukanlah al-Hawab. Kemudian dia
menyambung perjalanan sehingga sampai ke Basrah. Kebanyakkan ahli
sejarah mempercayai bahawa mereka yang lima puluh orang itu adalah
yang pertama didalam sejarah Islam memberi kesaksian palsu [50].
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 127
Wahai orang-orang yang berfikiran cerdik, tunjukkan kepada kami
bagaimana caranya menyelesaikan kemusykilan ini? Adakah ini benarbenar
para sahabat yang agung, yang kita selalu menghukum mereka
sebagai orang-orang yang adil bahkan mengatakannya bahawa mereka
adalah manusia yang paling mulia selepas Rasul Allah (saw) namun mereka
memberi kesaksian palsu, sedangkan Rasul Allah menganggapnya sebagai
sebahagian dari dosa-dosa yang besar yang boleh membawa ke neraka.
Soalan yang sama timbul lagi. Siapa yang benar dan siapa yang salah?
Sama ada Ali dan pengikut-pengikutnya yang salah, atau Aishah dan
pengikutnya dan Talhah dan al-Zubayr dan pengikutnya yang salah. Tidak
terdapat kemungkinan yang ketiga. Tetapi saya tidak mempunyai
keraguan bahawa penyelidik yang adil akan memihak kepada Ali yang
(disabdakan oleh Nabi) sentiasa bersama kebenaran, dan cuba mematikan
fitnah yang dinyalakan oleh Umm Mukminin Aishah dan dan pengikutnya
yang menyebabkan peperangan saudara yang telah menghancurkan
ummah, dan meninggalkan kesan yang trajik hingga kehari ini.
Untuk keterangan yang lebih lanjut, dan untuk kepuasan diriku, aku
sertakan riwayat-riwayat berikut: al-Bukhari telah meriwayatkan didalam
kitabnya dalam Bab al-Fitnah, fasal al-Fitnah Allati Tamuju Kamauji al-
Bahri (Fitnah Yang Mengamuk Seperti Gelombang Lautan), riwayat
seperti berikut: Apabila Talhah, al-Zubayr dan Aishah pergi ke Basrah,
Ali menghantar Ammar ibn Yasir dan al-Hasan ibn Ali ke Kufah.
Setibanya mereka disana, mereka terus kemasjid dan berkata kepada
para jamaah, dan kami mendengar Ammar berkata: Aishah telah pergi ke
Basrah….dan demi Allah, dia adalah isteri rasul kamu didalam dunia ini
dan juga diakhirat, tetapi Allah (awj) sedang menguji kamu agar Dia tahu
kepada Alikah kalian akan taati, ataukah kepada Aisyah?[51]
Juga Bukhari meriwayatkan di dalam Bab as-Syurut fasal Ma Ja Fi Buyut
Azwaj an-Nabi(Apa Yang Berlaku Di Rumah Isteri-isteri Nabi):” Suatu
ketika Nabi (saw) sedang berucap, dan baginda menunjukkan kerumah
dimana Aishah tinggal, dan baginda berkata: Di sinilah fitnah, di sinilah
fitnah, di sinilah fitnah dari mana munculnya tanduk syaitan” [52].
Al-Bukhari banyak menulis perkara yang aneh mengenai Aisha dan tabiat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 128
buruknya terhadap rasul, sahinggakan bahawa ayahnya telah memukulnya
sahingga berdarah. Dia juga menulis mengenai tuntutannya terhadap nabi
sahingga Allah mengugutnya dengan penceraian dan digantikan dengan
isteri yang lain yang lebih baik dan terdapat banyak lagi cerita-cerita lain
yang akan memakan ruang yang panjang jika dijelaskan.
Selepas itu semua saya bertanya kenapa Aishah berhak mendapat segala
penghormatan dari Sunni; adakah kerana dia isteri rasul? Tetapi baginda
mempunyai isteri yang ramai, dan sebahagian mereka lebih utama dari
Aishah, sebagaimana yang dikatakan oleh rasul sendiri [53] Atau mungkin
kerana dia adalah anak perempuan Abu Bakar! Atau mungkin kerana dia
memainkan peranan yang penting didalam penafian wasiat rasul untuk Ali,
dan apabila dia diberitahu bahawa Nabi telah berwasiat kepada Ali, dia
berkata, “Siapa yang berkata begitu? Aku yang bersama rasul (saw)
memangku kepala baginda di dadaku. Kemudian baginda meminta talam,
semasa aku tunduk baginda meninggal, tanpa aku rasakan apa-apa.Jadi
aku tidak nampak bagaimana dikatakan bahawa Nabi telah berwasiat
kepada Ali?[54]. Atau adakah kerana dia melancarkan peperangan yang
habis-habisan terhadap Ali dan anak-anaknya sesudah beliau [Ali], dan
sehingga menghalang perarakkan jenazah al-Hasan – penghulu pemuda
disyurga – dan melarang persemadian beliau disebelah datuknya,Rasul
Allah dan berkata: “Jangan izinkan sesiapa yang aku tidak suka untuk
memasuki rumahku”.
Entahlah apakah Dia [Aisha] terlupa, atau mengabaikan kata-kata rasul
Allah (saw) mengenai Hasan dan saudaranya: “Allah akan suka kepada
orang yang menyukai keduanya, dan membenci orang yang membenci
keduanya” atau kata-kata baginda: “Aku berperang dengan mereka yang
berperang dengan kamu, dan aku berdamai dengan mereka yang berdamai
dengan kamu”. Dan terdapat banyak lagi sabda-sabdanya yang lain.
Betapa tidak bukankah mereka berdua adalah bunga yang harumnya
semerbak bagi umat ini?
Tidak menghairan sebelumnya dia [Aisha] mendengar banyak lagi katakata
pada penghormatan Ali; walaupun terdapat peringatan dari rasul, dia
telah bertekad untuk memerangi beliau dan memisahkan manusia darinya
serta mengingkari segala keutamaan-keutamaannya. Kerana itulah, bani
Umaiyyah mengasihi dia dan meletakkannya ditempat yang tinggi dan
memuatkan buku-buku dengan kemuliannya dan menjadikannya marja’
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 129
(pakar rujuk) pada ummat Islam kerana dia memiliki setengah dari agama.
Mungkin mereka memberi setengah lagi agama kepada Abu Hurayrah,
yang memberitahu mereka apa yang mereka inginkan. Lantaran itu maka
Abu Hurayrah mereka letakkan sebagai orang dekat, mereka memberikan
kepadanya kekuasaan sebagai gabenor al-Madinah, mereka memberi dia
istana al-Aqiq dan memberi dia gelaran “Rawiat al-Islam(Perawi Islam)”.
Dengan demikian dia memudahkan BaniUmayyah untuk membentuk agama
yang baru yang sempurna, yang tidak memiliki apa-apa dari Kitab Allah
dan Sunnah Rasul melainkan yang sesuai dengan kehendak dan nafsu
mereka dan yang dapat menguatkan kerajaan dan kekuasaan mereka
sahaja.
Agama yang sedemikian sangat sesuai jika dikatakan sebagai bahan
mainan dan olok-olok sahaja yang penuh dengan khurafat dan
kontradiksi.Makanya kebanyakkan dari fakta kebenaran telah lenyap
berkubur dan digantikan dengan kebatilan. Kemudian mereka memaksa
mereka [manusia] atau menggelabui orang ramai dengan cara keagamaan
mereka sehingga agama Allah yang sejati tiada nilai, tiada siapa yang
takut kepada Allah sebagaimana mereka takut kepada Muawiyah.
Apabila kita bertanya kepada sebahagian ulama’ mengenai peperangan
Muawiah menentang Ali, yang telah dipersetujui oleh al-Muhajireen dan
al-Ansar, peperangan yang membawa perpecahan Islam kepada Sunni dan
Shiah dan telah meninggalkan bekas sehingga kehari ini, dengan senang
mereka menjawab dengan berkata: “Ali dan Muawiyah keduanya adalah
para sahabat yang baik, dan keduanya berijtihad secara mereka sendiri.
Bagaimana pun Ali adalah benar, makanya dia berhak dengan dua
ganjaran, tetapi Muawiyah telah tersalah, makanya dia menerima satu
ganjaran. Ianya tidaklah didalam kuasa kita untuk menghukum mereka
atau menyebelahi mereka, Allah (awj) berfirman: Demikian itulah suatu
ummat yang telah terdahulu. Untuknya apa-apa yang telah diushakan dan
untuk mu apa-apa yang kamu usahakan, dan kamu tiada diperiksa tentang
apa-apa yang mereka kerjakan. [2:134]
Sungguh mengecewakan, kita telah diberikan dengan jawapan yang sangat
lemah yang tidak dapat diterima oleh akal yang waras atau pun agama,
ataupun syarak. Ya Allah, aku bersihkan diri dari pendapat yang salah dan
nafsu yang terjerat. Saya bermohon kepada Engkau untuk melindungi
saya dari bisikan syaitan dan kehadirannya.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 130
Bagaimana fikiran yang waras boleh menerima bahawa Muawiyah telah
berkerja keras untuk berijtihad, dan tersalah memberinya satu pahala
kerana tindakannya menentang Imam bagi sekelian kaum Muslimin, dan
kerana pembunuhannya terhadap orang-orang Mukmin yang tidak
bersalah, serta perlakuan jenayah yang lain yang tidak terhitung
banyaknya yang telah dilakukannya? Dia telah dikenali oleh para sejarah
dengan cara pembunuhannya terhadap lawannya dengan cara yang
tersendiri yang sangat terkenal melalui memberi mereka makan madu
yang mengandungi racun, dan dia pernah berkata, “Allah mempunyai bala
tentera yang dari madu”.
Bagaimana mereka ini menghukumnya sebagai seorang yang berijtihad,
dan tersalah, padahal dia adalah seorang ketua kelompok baghi (kelompok
yang memerangi kaum Muslimin yang sah).Terdapat satu hadith rasul
yang masyhur, dan kebanyakkan ulama’ bersetuju tentang kesahihannya,
“Berbahagialah bagi Ammar…….dia akan dibunuh oleh kumpulan yang
baghi”. Dan beliau dibunuh oleh Muawiyah dan pengikutnya.
Bagaimana mereka boleh menghukumkan Muawiyah berijtiihad, apabila
dia membunuh Hijr Ibn Adi dan sahabat-sahabatnya dan menanam
mereka di kawasan sampah di padang pasir Syam kerana mereka enggan
mencerca Ali ibn Abi Talib? Bagaimana mereka boleh menghukumkan dia
sebagai sahabat yang adil apabila dia membunuh al-Hasan, pemimpin
pemuda disyurga, dengan meracuni beliau?
Bagaimana mereka menghukumkan dia sebagai bersih setelah dia
memaksa ummat ini untuk membai’ahnya sebagai khalifah dan membai’ah
anaknya yang rosak akhlak Yazid al-Fasik sebagai pengantinya, dan
menukar sistem shura kepada sistem kerajaan bercorak dinasti
keturunan [55].
Bagaimana mereka menghukumkan Muawiyah telah berijthiad dan
memberinya satu pahala, setelah dia memaksa kepada manusia untuk
mencerca Ali dan Ahl al-Bayt dari setiap mimbar.Dia telah membunuh
para sahabat yang enggan melakukannya, dan menjadikan cercaan kepada
Ali sebagai satu sunnah? Fala Huwl Quwwata Illa Billah al-A’li al-A’zim.
Persoalan ini timbul lagi dan akan timbul lagi seterusnya. Kumpulan mana
yang benar dan kumpulan mana yang salah? Sama ada Ali dan syiahnya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 131
sebagai orang-orang yang zalim dan di pihak yang salah atau Muawiyah
dan pengikutnya yang salah, dan Rasul Allah (saw) telah menerangkan
segala sesuatu di sana.Dalam kedua-dua kes ini, kenyataan tentang
keadilan kepada semua para sahabat tanpa kecuali adalah perkara yang
mustahil dan bertentangan dengan akal yang sihat.
Terdapat banyak contoh di dalam setiap pandangan di atas, dan jika aku
mahu menuliskan secara terperinci, maka saya akan memerlukan berjilidjilid
buku banyaknya. Tetapi saya mahu ringkaskan didalam pengajian ini,
maka saya nyatakan beberapa contoh saja, tetapi syukur kepada Allah,
kerana ianya mencukupi untuk mematahkan kepercayaan-kepercayan
orang-orang sekitarku yang telah membekukan fikiranku untuk sekian
lama, dan menghalang aku dari memahami hadith dan peristiwa sejarah
dengan kriteria akal dan syariah yang telah diajarkani oleh al-Quran dan
Sunnah Nabi SAWA.
Aku akan tetap bertarung dengan jiwaku dan membersihkan diriku dari
setiap debu-debu taksub yang telah menutupiku selama ini. Aku akan
membebaskan diri aku dari rantai dan pengikat yang telah diikatkan
selama lebih dari dua puluh tahun. Hatiku berkata kepada mereka:
Wahai, alangkah indahnya seandainya kaumku mengetahui akan ampunan
Tuhanku kepadaku dan dijadikanNya aku dari golongan orang-orang yang
dimuliakan. Wahai, kalaulah kaumku menemukan dunia yang tidak mereka
ketahui, dan memusuhinya tanpa mereka kenali ini.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 132
Permulaan Perubahan
Aku tinggal selama tiga bulan didalam kebingungan yang tidak selesai,
walaupun didalam tidurku sekalipun. Fikiranku berkecamuk dengan
berbagai bayangan. Aku rasakan jiwaku luluh melihat sikap para sahabat
yang kehidupan mereka terungkap dalam sejarah yang sedang aku
selidiki. Aku berdiri dalam suatu dilemma (pertentangan) yang tidak
mudah, kerana sepanjang hidupku, aku dididik untuk memberi
penghormatan dan menyucikan wali Allah dan orang-orang soleh dan jika
ada sesiapa juga yang mengkritik maka akan dirasakan suatu keresahan
yang agak luar biasa.
Aku pernah membaca suatu ketika didalam “Hayat al-Haywan al-Kubra”
oleh al-Dimiri [56]: Terdapat seorang lelaki yang menunggang bersama
rakan nya didalam satu kafilah, dan semasa didalam perjalanan dia terus
mencaci Umar, dan rakannya cuba menghalang dia dari melakukan itu.
Apabila dia didalam tandas, saekor ular hitam memagutnya, dan dia mati
serta-merta. Apabila mereka menggali kubur untuknya, mereka dapati
ular hitam didalamnya; mereka menggali yang lain dan perkara yang sama
berlaku. Setiap kali mereka menggali lubang yang baru, mereka dapati
ular didalamnya. Lalu seorang ulama’ memberitahu mereka, “Tanamkan dia
dimana sahaja yang kamu suka, walaupun kamu menggali seluruh muka
bumi kamu akan dapati ular hitam didalamnya. Ini adalah kerana Allah
hendak menghukumnya didunia ini sebelum menghukumnya diakhirat,
kerana cacian yang dilakukannya terhadap Sayydina Umar”.
Itulah sebabnya kenapa semasa saya memaksa diri saya menjalani
penyelidikan yang sukar ini, saya merasa takut dan keliru, terutama,
sebagaimana yang telah saya pelajari di Kolej al-Zaytuni bahawa khalifah
yang paling utama secara sah adalah Abu Bakr al-Siddiq kemudian Umar
ibn al-Khattab al-Farooq, pemisah antara yang haq dan yang batil.
Selepas itu Uthman ibn Affan Dhul-Noorayn, yang mana malaikat Rahman
pun merasa malu kepadanya, dan sesudah dia, Ali ibn Abi Talib, pintu
kepada kota ilmu. Sesudah yang empat ini, tinggal yang enam dari yang
sepuluh, yang telah dijanjikan syurga, dan mereka itu adalah Talhah, al-
Zubayr, Sa’ad, Sa’eed, Abdul Rahman, dan Abu Ubaydah. Sesudah
mereka, para-para sahabat yang lainnya, dan setelah kita dinasihatkan
oleh ayat al-Quran “Kita tidak membeza-bezakan diantara mereka
pensuruh-pensuruh Allah (saw)” sebagai suatu kedudukan dimana kita
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 133
mesti mengambilnya sebagai asas bahawa kita tidak harus membezabezakan
penghormatan kita kepada semua para sahabat.
Kerana itulah aku berasa takut terhadap diriku sendiri, dan meminta
ampun kepada Allah didalam banyak keadaan dan situasi, dan
sememangnya saya mahu meninggalkan isu-isu yang membuat saya ragu
terhadap para sahabat Rasul Allah (saw), dan ianya kemudian akan
membuat saya ragu terhadap agama saya.
Namun begitu, di sepanjang setiap diskusiku dengan beberapa orang
ulama’, aku dapati jawapan-jawapan mereka sentiasa menemui banyak
pencanggahan dan tidak rasional. Mereka mula mengingatkanku bahawa
jika aku teruskan dengan penyelidikkanku mengenai para sahabat, Allah
akan mencabut nikmatNya dariku dan mungkin juga aku akan mengalami
kecelakaan. Dan kerana kuatnya bantahan dan penolakan mereka
terhadap apa sahaja pendapatku, maka aku terdorong lagi untuk
meneruskan kajian dan penelitianku agar dapat sampai kepada suatu
kebenaran yang dicita-citakan.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 134
Dailog dengan Ulama’
Aku katakan kepada seorang ulama’ kami: Apabila Muawiyah membunuh
orang yang tidak berdosa dan memalukan orang yang terhormat, kamu
menghukum dia sebagai telah berijtihad namun yang tersalah, dan
mendapat satu pahala. Apabila Yazid membunuh keturunan Rasul Allah
(saw) dan memberi kuasa menggeledah al-Madinah al-Munawwarah
kepada askarnya, kamu menghukum dia sebagai telah berijtihad namun
yang tersalah, dan mendapat satu pahala, sehingga sebahagian kamu juga
mengatakan bahawa “al-Husayn dibunuh oleh pedang datuknya” sebagai
alasan untuk membenarkan perlakuan Yazid. Nah, mengapa pula aku tidak
boleh berijtihad melalui pengajian ini, yang telah memaksaku untuk
meragui niat para sahabat dan untuk membuktikan keburukkan
sebahagian dari mereka, yang tidak sama taranya dengan pembunuhan
yang dilakukan oleh Muawiyah dan Yazid terhadap keluarga Nabi (saw)?
Jika aku benar, aku berhak mendapat dua pahala, dan jika aku tersalah,
aku hanya mendapat satu pahala. Bagaimana pun kritikanku terhadap para
sahabat, bukan untuk menghina mereka atau mencaci mereka, tetapi ini
adalah caranya untuk ku mencapai kebenaran, aku berharap semoga
demikian. Siapakah didalam kumpulan yang benar dan siapakah didalam
kumpulan yang salah. Ini adalah tugasku dan tugas setiap muslim, dan
Allah (awj) mengetahui apa yang didalam diri kita. Ulama’ itu kemudian
menjawab, “O anakku, Ijtihad [penghuraian bagi agama Islam] telah tidak
diizinkan untuk sekian lama”
Aku bertanya, “Siapa yang menutupnya?”
Dia berkata, “Imam madzhab yang empat”.
Aku berkata, “Syukur kepada Allah! Oleh kerana bukan Allah yang
menghalangnya, mahupun pesuruhNya (saw), atau pun khalifah yang
empat, yang mana kita diarahkan untuk mengikutinya, maka tidak ada
halangan pada saya untuk berijtihad, sabagaimana mereka dahulu
lakukan”.
Dia berkata, “Kamu tidak boleh berijtihad melainkan jika kamu
mengetahui tujuh belas cabang ilmu pengetahuan, diantaranya ialah:
Tafsir, Lughah, Nahu, syarf, Balaghah, Hadith, Sejarah dan lainnya”.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 135
Aku menyampuk dengan berkata, “Ijtihad saya bukan untuk menunjukkan
kepada manusia tentang hukum al-Quran dan Hadith nabi (saw), atau
untuk menjadi imam kepada Mazhab yang baru. Bukan! Cuma yang saya
ingin tahu adalah siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai contoh,
untuk mengetahui sama ada Imam Ali yang benar atau Muawiyah, saya
tidak perlu untuk menguasai ketujuh belas cabang ilmu pengetahun. Apa
yang perlu saya lakukan adalah mengkaji corak hidup dan perbuatan
setiap dari mereka untuk mengetahui yang benar”.
Dia berkata, “Mengapa engkau mahu mengetahui semua itu?” “Ini adalah
umat yang telah lama pergi; mereka akan mendapati apa yang mereka
kerjakan, dan kamu akan dapati apa yang kamu kerjakan, dan kamu tidak
akan dipanggil untuk menjawab apa yang mereka lakukan” [ 2:134]
Aku bertanya, “Bagaimana anda membacanya. Apakah La Tusaloon (kamu
tidak akan diminta pertanggungjawaban) atau La Tas-aloon (jangan kamu
tanya)”.
Dia menjawab, “Tentu La Tus-aloon”.
Aku berkata: Alhamdullilah. jika ayat tersebut dibaca dengan La Tasaloon
maka di sana kita dilarang supaya tidak membuat penelitian. Namun
kerana ianya ditulis dengan La Tus-Aloon, maka ianya bermaksud bahawa
Allah (awj) tidak akan menghisab kita untuk atas apa yang mereka
lakukan. Dan ini sesuai dengan firman Allah (awj), “Setiap diri
bertanggungjawab atas apa yang diusahakannya” [74:38]. Dan juga Dia
berfirman, “Dan bahawa seorang manusia tidak memperolehi melainkan
apa yang diusahakannya” [53:39]
Dan Quran yang suci mengesa kita untuk mengetahui umat yang
terdahulu, dan untuk mengambil pengajaran dari sejarah mereka.Allah
telah memberitahu kita mengenai Firaun, Haman, Namrud, Quaroon, dan
mengenai nabi-nabi terdahulu serta pengikut-pengikut mereka, bukan
hanya untuk hiburan, tetapi untuk menunjukkan kepada kita apa yang haq
dan apa yang batil.
Dan untuk pertanyaan anda, mengapa saya ingin mengetahui semuanya
itu? Kerana ianya amat penting bagi saya untuk mengetahui semuanya itu.
Pertama, untuk mengetahui siapa dia wali Allah, supaya saya dapat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 136
mewila’ (setia) mereka, dan untuk mengetahui siapa dia musuh-musuh
Allah, supaya saya harus menentangnya, dan itulah permintaan Quran,
atau pun kewajipan yang dipikulkan kepada kita.
Kedua, adalah amat mustahak bagi saya untuk mengetahui bagaimana saya
harus menyembah Allah [bersolat] dan menghampirkan diri kepadaNya
dengan semua fardhu yang diwajibkanNya, seperti cara yang Dia (awj)
inginkan kita lakukan, bukan sebagaimana Malik atau Abu Hanifah atau
sesiapa saja mujtahid-mujtahid yang lain. Aku dapati bahawa Malik tidak
memilih bacaan Basmallah(Dengan nama Allah yang amat pemurah lagi
amat mengasihani) semasa solat, sedangkan Abu Hanifah menganggapnya
sebagai sesuatu yang wajib.Yang lain mengatakan solat tidak sah
tanpanya. Kerana solat adalah tiang agama, jika diterima amalan lain akan
diterima; tetapi jika ianya ditolak, amalan lain akan ditolak. Makanya aku
tidak mahu solatku ditolak. Shiah mengatakan bahawa semasa wudu’ kita
hendaklah menyapu kaki dengan tangan kita yang basah, sedangkan Sunni
berkata bahawa kita hendaklah membasuhnya. Tetapi apabila kita
membaca Quran kita dapati, “Sapu tangan dan kaki kamu” ini adalah
nyata mengenai sapu. Jadi bagaimana tanggapan tuan – anda inginkan
seorang Muslim yang berfikiran rasional menerima pendapat yang satu
sementara menolak yang lain tanpa suatu penelitian dan kajian?”
Dia berkata, “Kamu boleh mengambil apa yang kamu suka dari setiap
kepercayaan, kerana kesemuanya adalah kepercayaan Islam, dan
kesemuanya datang dari Rasul Allah (saw)”
Aku berkata, aku takut akan menjadi salah satu dari golongan yang
Allah nyatakan:”Maka adakah kamu lihat orang yang mengambil hawa
nafsu menjadi Tuhannya dan Allah menyesatkannya, kerana mengetahui,
dan menutup pendengaran dan hatinya dan adakan tutupan diatas
pemandangannya. Siapa yang dapat menunjukkinya sesudah Allah?
Tidakkah kamu mengambil pelajaran?” [45:23]
Wahai tuan, saya tidak fikir bahawa keempat-empat Mazhab di dalam
Islam itu betul, selagi satu darinya menghalalkan sesuatu sedangkan yang
lain mengharamkannya; dan ia tidak boleh di terima akal bahawa suatu
yang sama diperbolehkan dan ditegah pada masa yang sama. Rasul Allah
(saw) tidak pernah berdebat dahulu sebelum menghuraikan hukum
ahkamnya, kerana ianya adalah wahyu dari al-Quran.Allah berfirman:”Dan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 137
jika sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan
dapati ikhtilaf (pertentangan) yang banyak di dalamnya” [4:82] Oleh
kerana terlalu banyak pertentangannya diantara keempat-empat Mazhab
di dalam Islam, maka ianya bukanlah dari Allah (awj) atau dari RasulNya
(saw), kerana Rasul [saw] tidak mungkin bertentangan dengan al-Quran.
Apabila ulama’ (shaykh) itu mendapati penerangan saya logik (boleh
diterima akal) dan nyata, dia berkata, “Saya nasihatkan awak, demi
kerana Allah, bahawa bagaimana pun sekali keraguan awak, janganlah
meragui keempat-empat khalifah rashidin, kerana mereka adalah
keempat-empat tiang Islam, jika satu darinya runtuh, maka seluruh
bangunan akan runtuh”
Aku berkata, “Astagfirullah. Tuan, jika mereka adalah tiang agama maka
bagaimana pula dengan Rasul Allah (saw)?”
Dia berkata, “Rasul Allah (saw) itu adalah bangunannya, baginda adalah
Islam keseluruhannya”
Saya tersenyum apabila saya mendengar penilaian ini, dan berkata,
“Astagfirullah. Hai tuan, tanpa anda sedari tuan telah mengatakan
bahawa Rasul Allah (saw) tidak dapat berdiri tanpa sokongan dari mereka
berempat, sedangkan Allah (awj) berkata: Dia yang mengutuskan
rasulNya dengan petunjuk dan agama yang hak, supaya agama itu
mengalahkan semua agama. Dan Allah cukup menjadi saksi” [48:28]
Dia mengutus Muhammad dengan pengkhabaran dan tidak melibatkan
mana-mana yang empat itu, atau sesiapa pun, dan dalam hal ini Allah
berfirman: Sebagaimana kami telah menghantar diantara kamu seorang
rasul yang akan membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, membersihkan
kamu dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada kamu dan apa-apa yang
kamu belum tahu” [2:151]
Dia berkata, “Inilah yang kami telah pelajari dari guru agama kami
dahulu, dan kami tidak mempertikaikan mengenai apa yang telah diajari
kepada kami oleh mereka, sebagaimana kamu generasi baru sekarang.
Kamu meragui segalanya, termasuk agama itu sendiri. Ini adalah di antara
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 138
tanda-tanda Hari Kiamat. Rasul Allah (saw) bersabda: Hari Kamat tidak
akan muncul melainkan pada zaman makhluk yang paling jahat”.
Aku berkata, “Tuan, mengapa mesti marah. Aku berlindung kepada Allah
daripada sikap ragu terhadap agama atua membuat keraguan di
dalamanya. Aku beriman kepada Allah yang Esa dan tiada sekutu bagiNya,
kepada malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan semua RasulNya. Aku
beriman bahawa Sayyidina Muhammad adalah hamba dan RasulNya dan
rasul yang terakhir, dan bahawa aku adalah seorang Muslim. Jadi
bagaimana kamuanda menuduh saya dengan semua itu?”
Dia berkata, “Saya patutu menuduh andadengan yang lebih dari itu,
kerana kamu meragui Sayyidina Abu Bakar dan Umar. Sedangkan Rasul
Allah (saw) yang suci bersabda: Jika keimanan ummatku dan keimanan
Abu Bakar diletak diatas neraca, adalah keimanan Abu Bakar itu lebih
berat timbangannya. Rasul (saw) juga berkata sebagai penghormatan
kepada Umar: Aku pernah ditunjukkan kepada ummatku, dan setiap
mereka memakai baju yang panjang tetapi tidak sampai menutup dada,
dan aku ditunjukkan kepada Umar dan dia sedang mengheret bajunya.
Sahabat bertanya: apa takwilnya (tafsirnya) wahai Rasulullah? Nabi
menjawab: Agama. Tiba-tiba kamu datang hari ini, didalam abad keempat
belas [hijri] dan meragui kebenaran para sahabat dan terutama Abu Bakr
dan Umar. Tidakkah kamu ketahui bahawa penduduk Iraq, adalah manusia
yang berpecah belah, kafir dan munafik!”
Apa yang boleh aku katakan kepada orang ini, yang mengaku
berpengetahuan dan ulama ini. Majlis yang tadinya berjalan dengan cara
perdebatan yang baik kini berubah menjadi semacam tuduhan dan luahan
emosi di hadapan sekumpulan hadirin yang mengkaguminya. Aku lihat
bahawa wajah-wajah mereka merah dan mata-mata mereka terbeliak
menunjukkan sikap protes. Tiada cara lain, aku segera pergi ke rumah dan
mengambil kitab al-Muwatta karya Imam Malik dan kitab Sahih al-
Bukhari. Kemudian aku katakan kepadanya, “Tuan, apa yang membuat aku
meragui Abu Bakar adalah Rasul Allah (saw) itu sendiri”.
Lalu aku membuka al-Muwatta dan membaca suatu riwayat yang
bermaksud Malik meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda
kepada para syuhuda Uhud, “Aku menjadi saksi bagi mereka”. Kemudian
Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, tidakkah kami saudara-saudara
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 139
mereka? Tidakkah kami menjadi Muslim sebagaimana mereka? Tidakkah
kami berjihad sebagaimana mereka?” Rasulullah(saw) menjawab, “Ya,
tetapi aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan sesudah aku”.Setelah
mendengarkan itu, Abu Bakr menangis tersedu-sedu dan berkata, “Kami
melakukan banyak perkara setelah kamu pergi”[57].
Selepas itu saya membuka sahih al-Bukhari dan membaca: Suatu ketika
Umar ibn al-Khattab pergi menemui Hafsah dan mendapati bersamanya
Asma bint Umays. Apabila Umar melihatnya dia bertanya, “Siapakah
dia?” Hafsah menjawab, “Asma bint Umays”. Umar berkata, “Adakah dia
orang Habsyah itu? Orang laut itu?” Asma’ menjawab, “Ya”. Umar
berkata, “Kami berhijrah sebelum kamu, maka kami lebih berhak kepada
rasul Allah dari kamu”. Asma’ menjadi amat marah, lalu dia berkata:
“Tidak demi Allah, kamu berada bersama Nabi.Diberinya kamu makan,
dan diajarkannya kamu; sedangkan kami dibumi asing, di Habsyah kerana
Allah dan RasulNya semata-mata, dan setiap kali saya makan atau minum
apa saja, saya teringat akan Rasul Allah [saw]. Kami dahulunya diganggu
dan ditakut-takutkan. Demi Allah, saya akan nyatakan ini kepada Nabi
dan akanku tanya tanpa aku berdusta, menambah atau mengurangkan dari
duduk perkara”.
Ketika Asma’ datang kepada Nabi, dia bertanya,”Ya Nabi Allah, Umar
nyatakan begini dan begini”. Baginda bertanya, “Apa yang kamu katakan
kepadanya?” Asma menjawab, “begini dan begini”. Baginda menjawab,
“Dia tidak lebih berhak ke atasku lebih daripada kamu”. Dia dan para
sahabatnya mempunyai satu hijrah, tetapi kamu, penghuni bahtera,
mempunyai dua kali hijrah”. Asma’ berkata, “Saya mendapati Abu Musa
dan kawan-kawan sekapal datang menemui saya dalam berkumpulan dan
bertanya saya mengenai sabda Nabi tersebut, dan mereka merasa
gembira dengan apa yang diucapkan oleh baginda terhadap mereka [58].”
Setelah selesai membacakan hadith, terlihat perubahan pada wajah
ulama’ dan para hadirin, mereka saling berpandangan dan menunggu reaksi
sang guru yang mati dalil. Apa yang dapat dilakukannya adalah
mengangkat kening, sebagai tanda hairan dan kemudian berkata,
“Katakanlah,Ya Allah, tambahkan untukku ilmu pengetahuan”.
Aku berkata, “Jika Rasul Allah, adalah yang pertama untuk meragui Abu
Bakar, dan tidak menjadi saksi baginya, kerana rasul Allah tidak tahu apa
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 140
yang akan terjadi selepas dirinya; dan jika rasul Allah tidak setuju
dengan keutamaan Umar terhadap Asma bint Umays, tetapi
mengutamakan Asma daripada Umar; maka ini adalah didalam lingkungan
hak saya untuk meragui dan tidak mempunyai keutamaan terhadap
sesiapapun sehingga kebenaran itu nampak jelas dan aku ketahui dengan
pasti.. Dan jelas sekali bahawa dua hadith ini bertentangan dan
menafikan segala hadith yang menyatakan keutamaan Abu Bakr dan
Umar, kerana ianya lebih hampir kepada fakta yang diterima akal
berbanding dengan hadith-hadith keutamaan yang diduga itu”.
Para hadirin berkata, “Bagaimana maksudnya?” Aku menjawab,”Rasul
Allah tidak menjadi saksi bagi Abu Bakar”. Baginda bersabda: Aku tidak
tahu apa yang akan mereka lakukan sepeninggalanku kelak”. Ianya adalah
logik [boleh diterima akal].Sejarah telah membuktikannya, dan al-Quran
yang suci dan sejarah menjadi saksi bahawa mereka telah melakukan
perubahan selepas Nabi. Kerana itulah Abu Bakr menangis, kerana dia
telah berubah dan membuat Fatimah al-Zahra marah, puteri Nabi marah,
sabagaimana kami terangkan dahulu, dan dia berubah sehingga dia
menyesal dan berangan-angan untuk tidak menjadi manusia.
Dan bagi hadith: Jika iman ummat ku dan imannya Abu Bakr diletak
diatas timbangan, imannya Abu Bakr adalah lebih berat,” ianya tidak
betul dan tidak munasabah. Ianya tidak mungkin untuk iman seorang,
yang telah menghabiskan empat puluh tahun umurnya didalam
mempercayai banyak tuhan dan menyembah berhala, menjadi amat berat
dari imannya segala ummat Muhammad, yang mempunyai para wali Allah
yang solihin, syuhada, dan para Imam, yang menghabiskan masa hidupnya
di dalam berjihad di jalan Allah SWT.Bagaimana Abu Bakr boleh sesuai
dengan maksud hadith ini? Jika ianya sahih, dia tidak akan, dihari
kemudiannya berangan-angan untuk tidak menjadi sebagai seorang
manusia. Lebih-lebih lagi, jika keimanannya lebih tinggi dari iman Fatimah
az-Zahra, pemuka wanita alam semesta (Sayyidati Nisa Fil-Alamin) maka
puteri Rasul itu tentu tidak akan marah kepadanya atau mendoakan
keburukan kepadanya”.
Orang alim itu tidak berkata apa-apa, tetapi sebahagian dari hadirin
berkata, “Demi Allah1 Hadith ini membuat kami ragu” Maka ulama’ itu
berkata kepada saya, “Adakah ini yang kamu mahu? Kamu telah membuat
mereka ini meragui agama mereka” Memadailah bagi saya, seorang dari
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 141
para hadirin menjawab dengan berkata, “Tidak, dia benar, kami tidak
pernah membaca keseluruhan buku itu didalam hidup kami, kami mengikut
kamu membuta tuli dan tanpa sebarang bantahan, dan sekarang telah
nampak oleh kami bahawa apa yang al-Hajj katakan adalah benar, dan
adalah tugas kami untuk membaca dan menyelidik!” Mereka yang lainnya
bersetuju dengan beliau, dan itu adalah kejayaan bagi kebenaran dan
keadilan. Ianya bukanlah kejayaan dengan kekerasan, tetapi oleh fikiran
yang logik dan pembuktian. Allah berkata, “Katakan, bawalah hujah-hujah
kamu, jika memang kamu orang-orang yang benar” [27:64].
Aku lanjutkan penelitianku dengan cara yang sangat cermat sepanjang
tiga tahun lagi. Aku ulangi segala yang aku baca dari awal hingga akhir.
Aku baca buku al-Muruja’at (Dialog Sunnah-Syiah) karya Imam
Syarafuddin, dan aku ulangi berkali-kali. Ia telah membuka luas
wawasanku dan menyebabkanku mendapat petunjuk dan hidayah dari
Allah SWT serta cinta kepada Ahlul Bayt AS.
Aku juga membaca kitab al-Ghadir karya Syaikha al-Amini dan aku ulangi
sebanyak tiga kali lantaran isinya yang sangat padat, tepat dan jelas
sekali. Juga kitab Fadak Karya Sayyid Muhammad Baqir as-Sadr dan
kitab as-Saqifah karya Syaikh Muhammad Ridha al-Muzaffar. Dari dua
buah buku ini aku temukan berbagai jawapan yang sangat memuaskan.
Juga aku baca kitab as-Nas wal-Ijtihad yang menambahkan lagi
keyakinanku. Kemudian kitab Abu Hurairah karya Syarafuddin juga, dan
Syaikh al-Mudhirah karya Syaikh Mahmud Abu Rayyah al-Misri. Dari sana
aku baru mengetahui bahawa sahabat yang melakukan perubahan setelah
zaman Rasulullah ada dua kategori. Pertama, yang merubah hukum dengan
kekuasaan yang dimilikinya; kedua, yang merubah hukum dengan
meletakkan berbagai hadith palsu yang dinisbahkan kepada Rasul SAWA.
Kemudian aku baca kitab al-Imam as-Sadiq wal Mazahib al-Arba’ah karya
Asad Haidar. Dari sana aku kenal perbezaan antara ilmu mauhub (yang
dikurniakan) dan ilmu maksub (yang dipelajari). Dari situ juga aku baru
tahu perbezaan antara Hikmah yang Allah berikan kepada orang yang Dia
kehendaki, dan dari sikap berlagak berilmu, dan berijtihad dengan
pendapat peribadi yang menjauhkan ummat ini dari jiwa Islam yang
sebenarnya.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 142
Aku membaca juga berbagai buku karya Sayyid Ja’far Murtadha al-
Amili, Sayyid Murtadha al-Askari, Sayyid al-Khui, Thabatabai, Syaikh
Muhammad Amin Zainuddin, Fairuz Abadi, karya Ibnu Abil Hadid al-
Mu’tazili dalam bukunya Syarah Nahjul Balaghah, Taha Husayn dalam
bukunya al-Fitnah al-Kubra. Dari buku sejarah aku baca kitab Tarikh al-
Tabari, Tarikh Ibnul Athir, Tarikh al-Masudi dan Tarikh al-Ya’qubi. Dan
banyak lagi buku-buku lain yang aku baca sehingga aku merasa betulbetul
puas bahawa Syiah Imamiyyah ini adalah yang benar. Dari situ
kemudiannya aku mengikut Madzhab Syiah, dan dengan rahmat Allah aku
mengikut Bahtera Ahlul Bayt serta aku pegang erat-erat tali wila’
mereka kerana aku dapati Alhamdulillah, merekalah sebaga alternatif
dari sebahagian sahabat yang terbukti kepadaku telah berbalik ke
belakang, dan tiada yang terselamat melainkan sekelompok kecil sahaja.
Kini aku menggantikan mereka dengan Ahlul Bayt Nabi yang telah Allah
bersihkan mereka dari segala dosa dan disucikan mereka dengan sesucisucinya,
bahkan diwajibkan kepada seluruh ummat manusia untuk
mencintai mereka.
Shia bukanlah, sebagaimana yang dikatakan oleh sebahagian dari ulama’
kita, orang Farsi dan Majusi yang mana kuasa dan kebanggaan mereka
telah dihancurkan oleh Umar didalam peperangan al-Qadisiyyah, dan
itulah sebabnya mereka membenci Umar!
Jawapan saya kepada itu bagi mereka yang tidak tahu adalah bahawa
Syiah Ahlul Bayt tidak terhad kepada orang-orang Farsi sahaja, kerana
terdapat Shiah di Iraq, Hijaz, Syria, Lebanon, dan kesemuanya adalah
Arab. Sebagai tambahan kepada itu, terdapat juga Shiah di Pakistan,
India, America, dan kesemuanya ini bukanlah dari bangsa Arab ataupun
Farsi.
Jika kita bataskan Shiah hanya bagi Iran sahaja, maka hujah kita akan
menjadi lebih kuat lagi kerana saya dapati bahawa orang Farsi
mempercayai didalam kepimpinan dua belas Imam, dimana kesemuanya
adalah Arab dari Quraysh dari Bani Hashim, keluarga rasul. Jika orang
Farsi mempunyai sikap fanatik dan membenci orang Arab, sebagaimana
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 143
yang dikatakan oleh sebahagian mereka [ulama’ Sunni], tentu mereka
telah mengambil Salman al-Farisi sebagai Imam mereka, kerana beliau
adalah sahabat yang agung dan dihormati oleh Shia dan Sunni.
Disebaliknya pula saya dapati bahawa kebanyakkan imam-imam Sunni yang
utama adalah orang Farsi, seperti Abu Hanifah, al-Nisa’i, al-Tirmidhi, al-
Bukhari, Muslim, Ibn Majah, al-Ghazali, Ibn Sina, al-Farabi dan banyak
lagi. Jika Syiah berasal dari Farsi, lalu mereka membenci Umar yang
telah menghancurkan keagungan mereka dahulu, jadi bagaimana kita
menerangkan penolakan terhadap Umar oleh orang-orang Syiah Arab
yang bukan Farsi? Itu suatu contoh dakwaan tanpa dalil. Penolakan
terhadap Umar adalah kerana peranannya didalam menyingkirkan Amirul
Mukminin, Ali ibn Abi Talib, dari khalifah setelah pemergian rasul, dan
kerana peperangan saudara yang trajis dan jatuhnya suatu ummah. Bagi
seorang peneliti yang ohjektif dan rasional, memang dia akan mengambil
sikap sedemikian jika tabir sejarah yang menutupinya terungkap, tanpa
perlu memiliki rasa permusuhan sebelumnya.
Adalah benar bahawa Shiah, sama ada mereka itu Arab atau Farsi atau
apa juga bangsanya, tunduk kepada nas-nas al-Qur’an dan Hadith
Nabawi. Mereka patuh pada imam-imam yang menunjukkan mereka jalan
yang lurus. Mereka tidak rela dengan selain daripada mereka (Ahlul Bayt
as) walaupun dengan polisi paksaan dari Umayyah dan kemudian
Abbasiyyah selama tujuh abad. Dimasa itu, mereka memburu Shiah
dimana sahaja; mereka membunuhnya; mereka jadikanya tanpa kediaman;
mereka menafikan hak-haknya dari Baitul Mal dan mereka dilemparkan
dengan berbagai tuduhan dan tohmahan yang menimbulkan rasa marah
orang kepada mereka sehingga ke hari ini.
Bagaimanapun orang-orang Shiah tetap kukuh dengan pendirian mereka.
Mereka bersabar dan dan memegang erat kebenaran yang dipercayai
mereka tanpa memperdulikan cacian sesiapa pun. Dan nilai kekukuhan ini
memang mereka nikmati sehingga kehari ini. Saya mencabar mana-mana
ulama’ kita untuk berdiskusidengan ulama’ mereka. Tentu mereka keluar
setelah itu sebagai seorang yang mendapatkan bimbingan.
Kini, aku telah menjumpai pilihan yang lain, dan syukur kepada Allah yang
memanduku kepadanya, kerana aku tidak akan sampai kesana tanpa
bimbinganNya. Syukur dan puji bagi Allah yang telah memandu saya
kepada golongan yang selamat, yang mana saya mencarinya dengan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 144
bersungguh-sungguh.
Saya tidak mempunyai keraguan bahawa mereka berpegang pada kepada
Ali dan Ahl al-Bayt yang bermakna mereka telah berpegang pada tali
yang sangat kuat yang tidak akan putus selama-lamanya. Terdapat banyak
bukti dari nas Nabi yangdisepakati oleh semua Muslim. Dan akal sahaja
sebenarnya sudah cukup sebagai bukti bagi sesiapa juga yang bijak dan
teliti. Ijmak umat mengatakan bahawa Ali adalah sahabat yang paling
berpengetahuan dan tentunya yang paling berani.Dua ini sahaja telah
cukup sebagai bukti akan keutamaan Ali dibandingkan dengan orang lain
atas hak khilafah.Allah (awj) berfirman: “Berkata nabi mereka kepada
mereka: Sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut menjadi raja
untukmu. Berkata mereka itu: Bagaimanakah ia menjadi raja diatas kami,
sedang kami lebih patut menjadi raja daripadanya, dan dia tidak
mempunyai harta yang banyak? Berkata nabi: Sesungguhnya Allah telah
memilih dia diantara kamu, serta menambahinya dengan ilmu yang luas
dan tubuh yang kuat dan Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa
yang dikehendakkiNya dan Allah Maha Luas kurniaNya dan Lagi Maha
Mengetahui [2:247]
Dan Rasul Allah (saw) bersabda, “Sesungguhnya Ali adalah dariku, dan
aku adalah dari Ali, dan dia adalah wali bagi setiap mukmin selepasku
[59].”
Al-Zamakhshari berkata didalam sebahagian dari syairnya:
Telah banyak keraguan dan perselisihan
Semua mendakwa berada di jalan yang lurus
Aku pegang erat-erat dengan Laila Ha illa-Llah
Dan cinta kepada Ahmad dan Ali
Telah selamat anjing lantaran cinta kepada Penghuni Gua
Bagaimana aku akan celaka dengan cinta pada keluarga Nabi
Alhamdulillah, kini aku telah menemui alternatif. Selepas Rasulullah aku
menjadi pengikut Amirul Mukminin, Singa Allah al-Ghalib al-Imam Ali ibn
Abi Talib, juga kepada kedua-dua pemuka pemuda-pemuda disyurga
cahaya mata Nabi, al-Imam Abu Muhammad al-Hasan al-Zaki dan Imam
Abu Abdullah al-Husayn; dan juga kepada darah dagingnya baginda
Rasulullah SAWA ibu kepada zuriat Nubuwwah, ibu kepada seluruh imam,
sumber Risalah dan Allah, yang mana Allah marah kerana kemarahannya,
wanita alam semesta, Sayyidah Fatimah al-Zahra AS.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 145
Aku telah menukar Imam Malik, dengan gurunya para imam, dan guru
kepada ummah keseluruhan, Imam Ja’far al-Sadiq AS. Aku berpegang
kepada sembilan imam yang maksum dari zuriat Husayn AS, imamimamnya
kaum Muslimin dan wali-wali Allah as-Solihin.
Aku juga telah menukarkan para sahabat yang berpaling seperti
Muawiyah, Amr ibn al-As, al-Mughira ibn Shu’bah, Abu Hurayrah,
Ikrimah, Ka’b al-Ahbar dan yang lainnya kepada para sahabat yang
bersyukur kepada Tuhannya, dan tidak pernah memungkiri janji yang
telah diberikan kepada Rasul Allah seperti Ammar ibn Yasir, Salman al-
Farisi, Abu Dharr al-Ghafiri, al-Miqdad ibn al-Aswad, Khuzayma ibn
Thabit – dhu al-Shahadatain, Ubay bin Ka’ab dan yang lainnya.Segala puji
bagi Allah di atas petunjukNya.
Aku juga telah menukar para ulama tempatku yang telah menjumudkan
akal-akal kami yang kebanyakannya mengikut para penguasa di setiap
zaman dengan ulama-ulama Syiah yang solihin, yang tidak pernah menutup
pintu ijtihad, tidak pernah merasa hina atau meminta kasihan dari
pemimpin-pemimpin yang zalim ini.
Ya, aku telah menukar alam fikiranku yang sempit dan taksub, yang
percaya dengan berbagai khurafat dan kontradiktif dengan alam fikiran
yang cerah, terbuka, bebas dan percaya pada setiap dalil dan hujah. Atas
dengan kata lain, aku telah membasuh otakku dari daki-daki kesesatan
Bani Umaiyyah yang telah membekas sepanjang tiga puluh tahun, dan kini
mensucikannya dengan aqidah orang-orang yang maksum yang Allah
bersihkan mereka dari segala dosa dan mensucikan mereka dengan
sesuci-sucinya.
Ya, Allah. Hidupkanlah kami di atas agama mereka. Matikan kami di atas
sunnah mereka. Bangkitkanlah kami bersama-sama mereka. Kerana
NabiMu telah bersabda,”Seseorang kelak akan dibangkitkan dengan
orang-orang yang dicintainya”.
Dengan demikian maka aku kini kembali ke akar umbi asalku. Ayah dan
paman-pamanku dahulu pernah mengatakan kepada kami bahawa asal
mulanya kami adalah dari golongan sayyid-sayyid yang lari dari Iraq
lantaran tekanan Bani Abbasiyyah. Kemudian meminta perlindungan di
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 146
Afrika Utara sehingga akhirnya menetap di Tunisia yang sehingga kini
masih meninggalkan bekas-bekas sejarah. Di Afrika Utara sendiri banyak
as-Asyraf lantaran keturunannya dari salasilah Ahlul Bayt yang suci.
Namun mereka telah banyak yang tenggelam dalam kesesatan Bani
Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Tiada tersisa dari mereka suatu
kebenaran sedikitpun melainkan sikap hormat dan penuh takzim yang
ditunjukkan orang ramai kepada mereka sahaja. Segala puji bagi Allah
kerana hidayahNya ini. Segala puji bagi Allah kerana petunjukNya
kepadaku ini dan kerana dibukakanNya mataku dan pemahamanku untuk
mengetahui suatu kebenaran.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 147
Sebab-sebab Aku Mengikut Madzhab Ahlul Bayt AS
Banyak sebab yang mendorongku untuk mengikuti madzhab Ahlul Bayt
(Syiah). Dan tidak mungkin bagiku menyebutkan secara terperinci di sini
kecuali sebahagian sahaja.
1. Nas Khalifah
Aku telah berjanji pada diriku ketika memasuki perbahasan ini untuk
tidak berpegang kepada mana-mana dalil kecuali ianya benar dipercayai
oleh kedua madzhab, dan membiarkan mana-mana dalil yang hanya
diriwayatkan oleh satu madzhab sahaja. Lalu aku mengkaji suatu subjek
tentang keutamaan antara Abu Bakar dan Ali bin Abi Talib; dan khalifah
(kekhalifahan) pada dasarnya adalah hak Ali jika dilihat dari segi nas
sebagaimana yang didakwa oleh Madzhab Syiah; sementara madzhab
Sunnah mendakwa bahawa khalifah ditentukan dengan pilihan dan syura.
Mereka yang mengkaji subjek ini jika benar-benar tulus untuk mencari
kebenaran maka mereka akan mendapati bahawa nas yang mengatakan Ali
sebagai khalifah adalah sangat jelas sekali. Seperti sabda baginda
SAWA:”Siapa yang menganggapku aku sebagai maulanya (pemimpin) maka
inilah Ali sebagai maulanya”. Beliau sabdakan ini setelah beliau kembali
dari hajinya yang terakhir yang dikenal dengan Hujjahtul Wada’. Lalu
berduyun-duyunlah orang datang mengucapkan tahniah kepada Ali, hatta
Abu Bakar dan Umar sendiri. Mereka berkata:”Tahniah, tahniah untukmu
wahai putera Abu Talib, engkau telah menjadi maula setiap Mukmin lelaki
dan perempuan”[60].
Nas ini telah disepakati oleh madzhab Syiah dan Sunnah. Yang aku
sebutkan dalam kajianini hanyalah buku-buku rujukan Ahlul Sunnah
sahaja. Itupun bukan semua kerana ianya jauh lebih banyak dari apa yang
aku sebutkan. Untuk mendapatkan dalil-dalil yang lebih terperinci aku
mengajak para pembaca menelaah kitab al-Ghadir karya al-Allamah al-
Amini. Buku ini setebal tiga belas jilid di mana penulisnya telah
menyenaraikan para perawi hadithnya dari golongan Ahlul Sunnah yang
cukup banyak.
Adapun ijmak yang didakwa sebagai asas terpilihnya Abu Bakar di
Saqifah Bani Sa’idah lalu kemudian dibaiah di masjid adalah dakwaan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 148
yang tidak berasas. Bagaimana itu boleh dikatakan ijmak sedangkan
beberapa orang sahabat terkemuka seperti Ali, Abbas, dan Bani Hasyim
yang lain tidak ikut serta membaiahnya. Begitu juga Usamah bin Zaid,
Zubair, Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghaffari, Miqdad bin al-Aswad,
Ammar bin Yasir, Abu Ayyub al-Ansari, Jabir bin Abdullah, Khalid bin
Saad dan banyak lagi [61].
Mana ijmak yang diperkatakan itu wahai hamba-hamba Allah? Seandainya
hanya Ali sendiri yang tidak membaiah, maka itu sudah cukup sebagai
bukti tercelanya ijmak seumpama itu. Ini kerana beliau adalah satusatunya
calon khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAWA, jika
katakanlah tiadanya nas yang terang-terangan menunjukkannya sebagai
khalifah.
Sesungguhnya bai’ah Abu Bakar berlaku tanpa musyawarah. Ianya
berlaku ketika manusia-manusia sekitarnya sedang bingung dan sibuk
terutamanya Ahlul Halli Wal Aqdi (orang-orang yang pakar yang utama
dan berkeupayaan) di mana mereka sedang sibuk mengurus jenazah Nabi
SAWA dan mengkebumikannya. Waktu itu penduduk kota Madinah
sedang dikejutkan dengan wafatnya Nabi mereka, lalu selepas itu mereka
dipaksa untuk membai’ah sang khalifah [62]. Hal ini dapat kita rasakan
dari cara ugutan mereka untuk membakar rumah Fatimah jika orangorang
yang ada di dalamnya enggan memberikan bai’ah. Nah, lalu
bagaimana dapat kita katakan yang ianya berlaku secara musyawarah dan
ijmak?
Umar sendiri telah mengatakan bahawa bai’ah yang diambil waktu itu
adalah tergesa-gesa, di mana Allah telah menjaga kaum Muslimin dari
kejahatan.Beliau mengatakan lagi bahawa siapa sahaja yang mengulangi
cara pembai’atan seperti itu maka mereka mestilah dibunuh atau
bai’ahnya tidak sah dan tidak diperakui [63].
Imam Ali telah berkata tentang haknya ini:”Demi Allah, Ibnu Abi
Qahafah (Abu Bakar) telah memakainya (hak khalifahku) sedangkan
beliau tahu bahawa kedudukanku dengan khalifah ini bagaikan kedudukan
kincir dengan roda”[64].
Sa’ad bin Ubadah seorang pemuka kaum Ansar yang menyerang Abu
Bakar dan Umar di hari Saqifah dan berusaha bermati-matian untuk
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 149
mecegah mereka dari jawatan khilafah, namum beliau tidak mampu
disebabkan beliau sakit dan tidak dapat berdiri, beliau berkata setelah
kaum Ansar membaiah Abu Bakar:”Demi Allah, sekali-kali aku tidak akan
membai’ah kalian sehinggalah aku lemparkan anak-anakku dan aku
lumurkan tombakku serta aku hayunkan pedangku dan aku perangi kalian
bersama-sama keluargaku dan kaumku. Demi Allah, seandainya manusia
dan jin berkumpul untuk membaiah kalian maka aku tetap tidak akan
membai’ah sehinggalah aku berjumpa dengan Tuhanku”. Sa’ad bin
Ubadah tidak solat bersama-sama mereka dan ikut serta berkumpul
bersama-sama mereka bahkan tidak mengerjakan haji bersama-sama
mereka. Seandainya ada sekumpulannya orang mahu memerangi mereka
maka ia akan membantu dan seandainya ada orang yang membaiahnya
untuk memerangi mereka maka ia akan perangi. Begitulah keadaannya
sehingga beliau wafat di Syam pada masa pemerintahan Umar [65].
Jika bai’ah ini dilakukan tergesa-gesa dimana Allah telah memelihara
kaum Muslimin dari kejahatannya seperti yang dikatakan oleh Umar
sendiri, seorang arkitektur yang rancangan ini dan tahu akibat-akibat
yang akan dialami oleh kaum Muslimin kerananya.
Dan jika khilafah ini merupakan “pakaian” Abu Bakar sahaja, seperti
yang diibaratkan oleh Imam Ali mengingatkan bahawa dialah yang tuan
empunya yang sah. Dan diba’iah ini diambil secara zalim seperti yang
dikatakan oleh Sa’ad bin Ubadah, pemuka kaum Ansar yang memisahkan
diri dari jamaah kerananya. Dan jika bai’ah ini tidak sah secara syariat
mengingatkan sahabat-sahabat yang besar seperti Abbas paman Nabi
tidak memberinya, lalu apa hujah keabsahan khilafah Abu Bakar?
Jawabnya: tidak ada hujjah dari kalangan Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
Dengan demikian maka benarlah hujjah Syiah dalam hal ini kerana nas
tentang kekhilafahan Ali nyata ada di dalam Ahlul Sunnah sendiri.
Mereka telah menakwilkannya kerana ingin menjaga kemuliaan sahabat.
Namun bagi orang yang insaf dan adil, maka dia tidak akan mendapatkan
alasan lagi kecuali mesti menerima nas ini terutamanya jika ia mengetahui
peristiwa-peristiwa yang menyelubungi lam sejarah ini [66].
2. Perselisihan Antara Fatimah Dan Abu Bakar
Subjek ini juga disepakati kesahihannya oleh dua madzhab, Sunnah dan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 150
Syiah. Orang yang insaf dan berakal tidak akan dapat lari kecuali harus
mengatakan aygn Abu Bakar telah bersalah walaupun dia tidak
mengiktiraf sikap zalimnya terhadap Penghulu Wanita ini. Mengingatkan
bahawa mereka mengkaji tragedi ini dan mengetahui seluk-beloknya
secara terperinci dia akan tahu pasti bahawa Abu Bakar sengaja
mengganggu Siti Zahra’ dan mendustakannya agar beliau tidak dapat
berhujah dengan nas-nas al-Ghadir dan lainnya akan kesahihan hak
khilafah suaminya dan putra pamanya Ali. Kamu menemui bukti-bukti yang
cukup tentang hal ini. Antara lain apa yang dikatakan oleh ahli-ahli
sejarah bahawa Fatimah Zahra’, semoga Allah mencucurkan
kesejahteraan kepadanya, pernah mendatangi tempat-tempat pertemuan
kaum Ansar dan meminta mereka membantu dan membai’ah Ali. Mereka
menjawab:”Wahai putri Rasulullah, kami telah memberikan bai’ah kepada
orang ini (Abu Bakar), seandainya suamimu dan putra pamanmu
mendahului Abu Bakar maka kami tidak akan berpaling darinya. Lalu Ali
berkata: Apakah aku akan tinggalkan Rasulullah SAWA di rumahnya dan
tidak mengurus jenazahnya, lalu keluar dan melawan mereka tentang
pemerintahan? Fatimah menyahut:Abul Hasan (Ali) telah melakukan apa
yang sepatutnya beliau lakukan; sementara mereka telah melakukan
sesuatu di mana Allah akan menjadi Penghisab dan Penuntutnya [67].
Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan tersilap maka hujahhujah
Fatimah telah menyedarkannya. Tetapi Fatimah tetap marah
kepadanya dan tidak berbicara dengannya sehinggalah beliau wafat. Ini
kerana Abu Bakarmenolak setiap dakwaan Fatimah dan tidak menerima
kesaksiannya bahkan kesaksian suaminya. Ini semua menyebabkan
Fatimah begitu marah kepada Abu Bakar sehingga beliau tidak izinkan
Abu Bakar menghadiri pemakaman jenazahnya seperti yang
diwasiatkannya kepada suaminya Ali agar menguburkankan di waktu
malam secara sembunyi [68].
Tentang pengkebumikan Fatimah AS secara rahsia di waktu malam ini,
aku sendiri – dalam masa-masa pengkajianku telah berangkat ke Madinah
untuk memastikan kebenaran ini. Di sana aku dapati bahawa:
Pertama: Kuburan Fatimah az-Zahra’ tidak diketahui oleh sesiapapun.
Sebahagian berkata: ada di Kamar Nabi (Hujrah Nabawiyah), sebahagian
yang lain berkata di rumahnya berhadapan dengan Kamar Nabi; yang
ketiga berkata di Baqi’ di tengah-tengah kuburan Ahlul Bayt tetapi tidak
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 151
pasti tempatnya.
Hakikat pertama yang aku simpulkan adalah beliau, Fatimah Zahra’ ingin
agar generasi kaum Muslimin di masa-masa berikutnya bertanya-tanya
tentang sebab kenapa beliau meminta agar suaminya mengkebumikannya
di waktu malam dan secara rahsia tidak dihadiri oleh sesiapa pun. Ini
memungkinkan seorang muslim untuk sampai pada kebenaran melalui
pengkajian-pengkajian di dalam sejarah.
Kedua: Aku dapati bahawa orang yang ingin berziarah ke kuburan Uthman
bin Affan terpaksa berjalan cukup jauh untuk sampai ke penghujung
kawasan Baqi’. Di situ dia akan dapati kuburan Uthman berada di bawah
sebuah dinding, sedangkan kebanyakan sahabat dikuburkan di tempat
yang berhampiran dengan pintu masuk Baqi’. Hatta Malik bin Anas, imam
Madzhab Maliki, seorang Tabi’it-Tabi’in (generasi keempat selepas Nabi
SAWA) dikuburkan dekat dengan isteri-isteri Nabi.
Disini jelas bagiku apa yang dikatakan oleh ahli-ahli sejarah bahawa
Uthman telah dikuburkan di Hasy Kaukab, iaitu sebidang tanah yang
dimiliki oleh orang Yahudi. Disebabkan kaum Muslimin pada waktu itu
telah melarangnya untuk dikebumikan di Baqi’ Rasul SAWA. Ketika
Muawiyah menjadi khalifah maka dia telah membeli tanah itu dari orang
Yahudi tersebut lalu dimasukkannya sebagai sebahagian daripada
kawasan Baqi’ agar kuburan Uthman juga termasuk di dalamnya. Bagi
mereka yang berziarah ke Baqi’ maka dia akan melihat hakikat ini dengan
jelas sekali.
Aku berasa bertambah hairan ketika aku mengetahui bahawa Fatimah
Zahra AS adalah orang yang pertama menyusul ayahnya. Antara wafat
Rasul dengan wafatnya Fatimah AS hanya dipisahkan dengan enam bulan
sahaja (mengikut pendapat yang paling lama) tetapi beliau tidak
dikebumikan di sisi ayahnya!
Jika Fatimah Zahra’ yang berwasiat agar dikebumikan secara rahsia, dan
tidak dikuburkan dekat dengan kuburan ayahnya seperti yang disebutkan
di atas, lalu apa pula terjadi dengan jenazah putranya Hasan yang tidak
dikuburkan dekat dengan datuknya Nabi SAWA? (Ummul Mukminin)
Aisyah telah melarangnya untuk dikebumikan di sana. Ketika Husayn
datang untuk mengkebumikan abangnya Hasan di sisi kuburan datuknya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 152
Nabi SAWA, Aisyah datang dengan menunggang baghalnya dan berteriak:
Jangan dikuburkan di rumahku orang yang tidak aku sukai. Bani Umaiyyah
dan Bani Hasyim telah berbaris hampir berperang, tetapi Imam Husayn
berkata kepada Aisyah bahawa dia akan membawa jenazah abangnya
sahaja ke kuburan datuknya, lalu akan dikuburkan di Baqi’. Imam Hasan
berpesan agar jangan tertumpah setitis pun darah kerananya.
Ibnu Abbas mendendangkan syairnya kepada Aisyah:
Kau tunggangi unta [69]
Kau tunggani baghal [70]
Kalau kau terus hidup
Kau akan tunggangi gajah
Sahammu kesembilan dari seperlapan
tapi telah kau ambil semuanya
Ini adalah contoh dari rangkaian hakikat yang sungguh menghairankan.
Bagaimana Aisyah mewarisi pusaka semua rumah Nabi sementara isteriisteri
baginda berjumlah sembilan, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu
Abbas di atas.
Jika Nabi tidak meninggalkan waris seperti yang disaksikan oleh Abu
Bakar dan melarangnya dari Fatimah, lalu bagaimana Aisyah mewarisi
pusaka Nabi? Apakah ada di dalam al-Qur’an suatu ayat yang
memberikan hak pusaka kepada isteri dan menyekatnya dari anak
perempuan? Ataukah politik yang merubah segala sesuatu sehingga
mengharamkan si anak perempuan dari menerima segala sesuatu dan
memberikan kepada si isteri segala sesuatu?
Di sini saya akan bawakan suatu kisah yang disebutkan oleh sebahagian
ahli sejarah dan ada kaitan dengan cerita tentang harta pusaka ini.
Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili di dalam bukunya Syarh Nahjul Balaghah
berkata:”Aisyah dan Hafsah mendatangi Uthman di masa
kekhalifahannya. Mereka meminta agar pusaka Nabi tersebut diberikan
kepada mereka. Sambil membetulkan cara duduknya, Uthman berkata
kepada Aisyah:”Engkau bersama orang yang duduk itu pernah datang
membawa seorang Badwi yang bersuci dengan air kencingnya dan
menyaksikan bahawa Nabi SAWA bersabda:”Kami para Nabi tidak
meninggalkan apa-apa warisan. Maka apa yang kalian minta ini? Dan jika
memang Nabi meninggalkan warisan pusaka, kenapa kalian larang haknya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 153
Fatimah? Lalu Aisyah keluar dari rumah Uthman sambil marah-marah dan
berkata: Bunuhlah si Na’thal ini, dia telah kufur” [71].
3. Ali Lebih Utama Untuk Diikuti
Di antara sebab yang mendorongku untuk mengikut madzhab Syiah ini
dan meninggalkan tradisi para leluhur adalah pertimbangan akal dan naql
(aqliyah dan naqliyah) antara Ali bin Abi Talib dan Abu Bakar.
Seperti yang aku sebutkan pada halaman-halaman yang lalu bahawa aku
sesungguhnya sepenuhnya berpegang kepada ijmak yang sepakati oleh
Ahlul Sunnah dan Syiah. Dan ku telah mengkaji di berbagai kitab dua
madzhab ini, dan tidak aku temui ijmak atau persepakatan pendapat
melainkan berkenaan Ali bin Abi Talib. Sunnah dan Syiah telah
bersepakati tentang keimamahannya Ali sebagaimana yang dicatatkan di
dalam nas-nas berbagai kitab rujukan dua madzhab itu.Sementara
tentang keimamahan Abu Bakar hanya dikatakan oleh sekelompok
tertentu kaum Muslimin sahaja. Di atas telah kami sebutkan ucapan Umar
tentang pembai’ahan terhadap Abu Bakar.
Demikian juga tentang keutamaan dan keistimewaan Abi bin Abi Talib
yang diriwayatkan oleh Syiah di dalam kitab-kitab mereka mempunyai
sanad dan kesahihannya yang tidak dapat digugat seperti di dalam kitabkitab
Sunnah juga. Bahkan ianya diriwayatkan melalui berbagai jalur yang
tidak dapat diragukan lagi. Banyak sahabat telah meriwayatkan hadith
berkenaan keutamaan Ali ini, sehingga Ahmad bin Hanbal
mengatakan:”Tidak satu pun sahabat Nabi yang memiliki keutamaan
sebagaimana Ali bin Abi Talib”[72].
Al-Qadhi Ismail dan an-Nasai serta Abu Ali an-Naisaburi berkata:”Tidak
satupun hadith-hadith keutamaan sahabat yang diriwayatkan dengan
isnad-isnad yang hasan sebagaimana hadith tentang keutamaan Ali” [73].
Melihat kaum Bani Umaiyyah telah memaksa setiap orang yang berada di
Barat dan di Timur untuk mencaci dan melaknatnya serta tidak
menyebutkan tentang keutamaan Ali, bahkan melarang sesiapa pun
daripada menggunakan namanya, bagaimanapun keutamaan-keutamaannya
tetap memancar dan menyerlah keluar. Imam Syafie berkata berkenaan
dengan ini:”Aku sungguh hairan akan seseorang yang kerana dengki
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 154
musuh-musuhnya telah menyembunyikan keutamaannya dan kerana takut
pencinta-pencintanya tidak menyebutkannya namun tetap sahaja ianya
tersebar dan memenuhi buku-buku”.
Berkenaan dengan Abu Bakar juga telah aku kaji dengan teliti di dalam
berbagai kitab dua madzhab itu. Tetapi kitab-kitab Sunnah yang
menyebutkan tentang keutamaan-keutamaannya juga tidak dapat
menyamai atas menyaingi keutamaan-keutamaan Imam Ali bin Abi
Talib.Itupun diriwayatkan sama ada oleh puterinya Aisyah yang kita kenal
sikapnya terhadap Imam Ali, dimana beliau berusaha sekuat tenaga untuk
menonjolkan ayahnya walau dengan menciptakan hadith-hadith yang
palsu; atau diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dimana beliau juga
diantara orang-orang yang menjauhkan diri daripada Imam Ali. Abdullah
bin Umar ini pernah menolak membai’ah Imam Ali setelah semua kaum
Muslimin sepakat untuk mengangkatnya sebagai Imam, dan pernah
berkata bahawa orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abu Bakar
kemudian Umar dan kemudian Uthman, lalu tiada seorang pun yang lebih
utama daripada yang lainnya, semua adalah sama [74]. Yakni, Abdullah bin
Umar ingin menyatakan bahawa Imam Ali adalah manusia awam biasa yang
tidak mempunyai apa-apa keutamaan. Lalu bagaimana Abdullah bin Umar
dapat menyembunyikan dirinya dari hakikat-hakikat yang telah
dinyatakan oleh pemuka-pemuka ummah bahawa tiada suatu hadith pun
berkenaan dengan sahabat yang diriwayatkan secara isnad yang hasan
(baik) sebagaimana hadith tentang keutamaan Ali bin Abi Talib? Apakah
Abdullah bin Umar tidak pernah mendengar satu keutamaan pun tentang
Ali bin Abi Talib? Demi Allah beliau pernah mendengarnya. Tetapi politik,
ya politik, yang pernah memutar belit segala kebenaran dan menciptakan
berbagai keanehan
Orang-orang yang meriwayatkan tentang keutamaan Abu Bakar antara
lain Amr bin As, Abu Hurairah. Urwah bin Zubair dan Ikramah. Sejarah
menyingkapkan bahawa mereka adalah lawan-lawan Ali dan memeranginya.
Sam ada dengan sejata atau menciptakan berbagai keutamaan untuk
musuh-musuh dan lawan-lawannya. Imam Ahmad bin Hanbal berkata:”Ali
banyak mempunyai musuh. Musuh-musuh itu cuba untuk mencari sesuatu
yang mungkin boleh mencelanya, namun tidak mereka menjumpai.
Kemudian mereka mencari seorang yang pernah memeranginya lalu
diciptakanya keutamaan-keutamaan itu sebagai sikap tipu-daya mereka
terhadap Ali”[75]. Tetapi Allah berfirman:”Sebenarnya mereka
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 155
merancangkan tipu-daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Kerana itu
beri tangguhlah orang-orang kafir itu barang sebentar (S:86: 15-17).
Sungguh merupakan mukjizat Allah keutamaan-keutamaan Ali dapat
terserlah atau mencelah setelah enam abad pemerintahan-pemerintahan
yang zalim menzalimi dirinya dan kaum kerabatnya. Dinasti Bani Abbas
tidak kurang dari Bani Umaiyyah di dalam membenci, dengki dan menipuhelah
kaum kerabat Nabi SAWA sehingga Abu Faras Hamdani berkata:
“Apa yang dilakukan oleh putera-putera Banu Harb terhadap mereka
Walau sungguh dahsyat
Tetapi tidaklah sedahsyat kezaliman kalian lakukan
Berapa banyak pelanggaran terhadap agama yang kalian lakukan
Berapa banyak darah keluarga Rasulullah yang kalian tumpahkan
Kalian mengaku sebagai pengikut
Sementara tangan kalian penuh berlumuran darah anak-anaknya yang
suci”.
Setelah ucapan-ucapan itu semua dan setelah segala kekaburan menjadi
terang maka biarlah Allah menjadi Hujjah Yang Unggul, dan manusia
tidak lagi mempunyai alasan di hadapanNya.
Walaupun Abu Bakar adalah khalifah pertama dan mempunyai kekuasaan
seperti yang kita ketahui, walaupun pemerintahan Umaiyyah menyogokkan
segala bonus dan upah kepada setiap orang yang meriwayatkan tentang
keutamaan Abu Bakar, Umar, dan Uthman, walaupun riwayat-riwayat
keutamaan Abu Bakar diciptakan begitu banyak dan memenuhi lembaranlembaran
buku, walau itu semua namun ianya tidak dapat menyamai hatta
sepersepuluh dari keutamaan Ali.
Bahkan jika anda kaji hadith-hadith yang diriwayatkan tentang
keutamaan Abu Bakar maka anda akan dapati bahawa ianya tidak sejalan
dengan apa yang dicatatkan oleh sejarah tentang berbagai tindakannya
yang bercanggah dengan apa yang diperkatakan tentang keutamaan itu;
bahkan bercanggah dengan akal dan syarak. Dan ini telah kami jelaskan
ketika membicarakan hadith yang bermaksud:”Seandainya iman Abu
Bakar ditimbang dengan imannya ummatku maka iman Abu Bakar akan
lebih berat”. Seandainya Rasulullah SAWA tahu bahawa iman Abu Bakar
sedemikian hebatnya maka baginda tidak akan meletakkannya di bawah
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 156
pimpinan komandan tentera Usamah bin Zaid, dan baginda tidak akan
enggan untuk memberikan kesaksian kepadanya sebagaimana yang
baginda pernah berkata kepadanya: sungguh aku tidak tahu apa yang akan
kau lakukan sepeninggalanku kelak, sehingga Abu Bakar menangis” [76].
Baginda juga tidak akan mengutus Ali bin Abi Talib untuk mengambil
Surah Bara’ah yang telah diberikannya kepada Abu Bakar dan
melarangnya membacakannya [77]. Baginda juga tidak akan berkata pada
hari pemberian panji untuk peperangan Khaibar:”Akan aku berikan panji
ini esok kepada seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai
oleh Allah dan RasulNya. Dia terus akan maju dan tidak pernah akan
berundur. Allah telah menguji hatinya dengan keimanan”. Lalu baginda
telah memberikannya kepada Ali dan memberikannya kepada Abu Bakar”
[78].
Seandainya Allah Tahu bahawa imannya Abu Bakar sedemikian tinggi dan
imannya itu melebihi iman semua ummat Muhammad SAWA maka Allah
tidak akan pernah mengecamnya untuk menggugurkan amal-amalnya
ketika beliau mengangkat suara lebih dari suara Nabi SAWA [79].
Seandainya Ali dan sahabat-sahabatnya tahu bahawa Abu Bakar memiliki
keimanan yang sedemikian tinggi maka mereka tiada alasan untuk menolak
bai’ah kepadanya. Seandainya Fatimah Zahra’, Penghulu Semua Wanita,
mengetahui ketinggian darjat imanya Abu Bakar maka dia tidak akan
pernah marah kepadanya dan tidak akan enggan berbicara dengannya,
menjawab salamnya dan mendoakan kecelakaannya pada akhir setiap
solatnya [80]. Lalu beliau tidak mengizinka Abu Bakar (seperti yang
diwasiatkannya) untuk menghadiri pemakaman jenazahnya. Seandainya
Abu Bakar sendiri tahu tentang ketinggian imannya maka beliau tidak
akan memecah (pintu) rumah Fatimah Zahra’ walau mereka telah
menutup pintunya sebagai protes. Abu Bakar juga tidak akan membakar
al-Fuja’ah al-Salami, dan tidak akan menyerahkan kepada Umar atau Abu
Ubaidah perkara khalifah pada hari Saqifah itu [81].
Orang yang mempunyai darjat iman demikian tinggi dan lebih berat dari
iman semua ummat yang ada tentu tidak akan pernah menyesal di akhirakhir
hayatnya atas perbuatannya terhadap Fatimah dan tindakannya
yang membakar al-Fuja’ah asl-Salami serta kekhalifahan yang
dipegangnya. Sebagaimana dia juga tidak akan pernah berangan-angan
untuk tidak menjadi manusia, dan sekadar menjadi sehelai rambut atau
kotoran haiwan. Apakah iman orang seperti ini setaraf dengan iman umat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 157
Islam bahkan lebih berat lagi?
Jika kita kaji hadith yang bermaksud:”Seandainya aku harus mengambil
seorang sahabat (kholil) maka aku akan ambil Abu Bakar sebagai
“kholilku” maka ianya serupa dengan hadith sebelum ini. Mana Abu Bakar
pada hari penyaudaraan-kecil (Muakhoh-sughro) di Mekah sebelum
Hijrah, dan pada hari peryaudaraan-besar (Muakho-kubro) di Madinah
setelah Hijrah. Di dalam dua peristiwa ini, Rasulullah hanya menjadikan
Ali sebagai saudaranya, sehinggalah baginda bersabda:”Engkua adalah
saudaraku di dunia dan di akhirat [82]. Baginda tidak menoleh kepada
Abu Bakar dan enggan mengikat tali persaudaraan-akhirat dengannya
sebagaimana baginda enggan mengikat tali persaudaraan dengannya di
dunia.
Saya tidak berhasrat untuk menjelaskan permasalahan ini dengan lebih
panjang lagi, dan saya cukupkan sekadar membawa dua contoh di atas
yang saya kutip dari buku-buku Ahlul Sunnah sendiri. Adapun Madzhab
Syiah memang menolak kesahihan hadith ini, dan mengatakan dengan
hujah-hujah yang sangat kuat bahwa ianya diciptakan tidak lama setelah
kematian Abu Bakar.
Jika kita tinggalkan sifat-sifat yang utama dan mengkaji tentang dosadosa
yang pernah dilakukan, maka kita tidak akan menemukan satu dosa
pun yang dilakukan oleh Ali bin Abi Talib yang tercatat di dalam buku dua
madzhab ini. Sementara kita menemukan orang-orang selainnya
melakukan dosa-dosa tersebut, sebagaimana yang tercatat di dalam
berbagai buku-buku Ahlul Sunnah seperti Kutub Sihah dan berbagai kitab
sejarah.
Itu bererti bahawa ijmak dua madzhab hanya mengkhususkan Ali sendiri
yang tidak melakukan apa-apa dosa sebagaimana sejarah menegaskan
bahawa bai’ah yang benar hanya bai’ah yang diberikan kepada Ali
semata-mata. Beliau enggan menerima jawatan khalifah, namun dipaksa
oleh Muhajirin dan Ansar. Beliau juga tidak memaksa orang yang enggan
memberikan bai’ah kepadanya. Sementara bai’ah Abu Bakar dilakukan
sangat tergesa-gesa yang Allah telah pelihara kaum Muslimin dari
keburukannya sebagaimana yang diistilahkan oleh Umar. Dan khalifah
Umar dilakukan berdasarkan penobatan yang diberikan oleh Abu Bakar
kepadanya, sementara pengangkatan Uthman sebagai khalifah semacam
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 158
suatu sejarah komedi. Lihatlah, Umar menamakan enam orang sebagai
calon khalifah dan mewajibkan mereka memilih satu di antara mereka.
Beliau berkata: jika empat bersepakat dan dua menentang maka bunuhlah
yang dua; dan jika enam orang ini berpecah tiga – tiga dan membentuk
dua kelompok; maka pilihlahpendapat kelompok yang di dalamnya ada
Abdul Rahman bin Auf. Dan jika masa telah berlalu sementara mereka
belum bersepakat juga maka bunuhlah mereka semua. Ceritanya panjang
dan aneh sekali.
Al-hasil, Abdul Rahman bin Auf memilih Ali dengan syarat memerintah
berdasarkan panduan Kitab Allah, Sunnah Nabi, dan Sunnah Syaikhain,
yakni Abu Bakar dan Umar. Ali menolak syarat ini dan Uthman
menerimanya. Maka jadilah Uthman sebagai khalifah. Ali keluar dari
majlis itu, dan beliau telah tahu natijah yang akan terjadi. Hal ini
diucapkannya di dalam khutbahnya yang terkenal dengan nama as-
Syiqsyiqiyah.
Setelah Ali maka Muawiyah yang “memegang” jabatan khalifah. Di
tangannya khalifah telah digantikan dengan dinasti kekaisaran (raja-raja)
yang berpindah-tangan dari generasi ke generasi Bani Umaiyyah.
Kemudian berpindah pula ke tangan Bani Abbas.
Khalifah berikutnya hanya dipilih dengan ketentuan sang khalifah atau
dengan kekuatan pedang atau penggulingan. Sistem bai’ah yang benar di
dalam sejarah Islam tidak pernah wujud, bermula dari zaman para
khalifah sehingga ke zaman Kamal Atarturk, melainkan bai’ah yang
pernah diberikan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib.
Hadith-hadith Berkenaan Dengan Ali Menyirat Erti Wajib Ikut
Di antara hadith-hadith yang mengikatku dan mendorongku untuk
mengikut Imam Ali adalah hadith yang diriwayatkan oleh berbagai Kitab
Sihah Ahlul Sunnah yang telah dijelaskan kesahihannya; sementara
hadith-hadith di dalam Madzhab Syiah sendiri mereka memiliki hadithhadith
serupa itu berlipat ganda jumlahnya. Namun aku – seperti biasa -
tidak akan berhujah dan berpegang kecuali kepada hadith-hadith yang
telah disepakati oleh kedua madzhab. Di antara hadith-hadith tersebut
adalah:
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 159
1. Hadith:”Aku kota ilmu dan Ali pintunya” (Ana Madinatul ilm wa Aliyyun
babuha) [83].
Hadith ini sahaja sudah cukup untuk menentukan teladan yang mesti
dikuti selepas Nabi SAWA. Mengingatkan bahawa orang yang berilmu
adalah lebih utama untuk diikuti jika dibandingka dengan orang yang jahil.
Allah berfirman:”Katakanlah apakah sama antara orang yang berilmu
dengan orang yang tidak berilmu”. Dan firmanNya:”Apakah seseorang
yang menunjukkanmu kepada kebenaran lebih utama untuk diikuti ataukah
orang yang tidak membimbingmu kecuali ia perlu dibimbing. Maka
bagaimana kalian membuat keputusan?” Jelas bahawa orang alimlah yang
tahu membimbing sementara orang jahil perlu mendapatkan bimbingan,
bahkan ia perlu bimbingan lebih dari orang lain.
Dalam hal ini sejarah telah mencatatkan kepada kita bahawa Imam Ali
adalah sahabat yang paling alim tanpa sedikitpun bantahan. Dahulunya
mereka merujuk kepada Ali di dalam perkara-perkara yang pokok. Dan
kita tidak pernah tahu yang Ali pernah merujuk kepada mereka walau
satu kali sekalipun. Dengarlah apa yang dikatakan oleh Abu
Bakar:”Semoga Allah tidak menetapkanku di suatu tempat yang ada
masalah kalau Abul Hasan (Ali) tidak hadir di sana”. Umar
berkata:”Kalaulah Ali tiada maka celakalah Umar” [84]. Ibnu Abbas
berkata:”Apalah ilmuku dan ilmu sahabat-sahabat Muhammad
dibandingkan dengan ilmu Ali. Perbandingannya bagaikan setitis air
dengan tujuh samudera”.
Imam Ali sendiri berkata:”Tanyalah aku sebelum kalian kehilanganku.
Demi Allah, tiada soalan yang kalian hadapkan padaku sehingga hari
kiamat kecuali aku beritahu kalian apa jawapannya. Tanyalah kepadaku
tentang Kitab Allah. Demi Allah, tiada suatu ayatpun kecuali aku tahu
apakah ianya diturunkan di waktu malam atau siang, di tempat yang datar
atau di pergunungan”[85].
Sedangkan Abu Bakar ketika ditanya, makna Abban dari firman Allah,
beliau berkata:”Langit mana yang dapat melindungiku, bumi mana yang
dapat aku jadikan tempat berpijak daripada berkata sesuatu di dalam
Kitab Allah apa yang tidak aku ketahui.
Umar bin Khatab berkata:”Semua orang lebih faqih daripada Umar, hatta
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 160
perempuan-perempuan”. Ketika beliau ditanya tentang suatu ayat di
dalam Kitab Allah, beliau sangat marah sekali kepada orang yang
bertanya itu, lalu memukulnya dengan cambuk sehingga melukainya.
Katanya:”Jangan kalian tanya tentang sesuatu yang jika nampak kepada
kalian, maka kalian akan terasa tidak enak [86]. Sebenarnya beliau
ditanya tentang makna Kalalah tetapi tidak tahu menjawabnya.
Di dalam tafsirnya, Tabari meriwayatkan dari Umar yang
berkata:”Seandainya aku tahu apa makna kalalah maka itu lebih aku sukai
daripada memiliki seperti istana-istana di Syam”.
Ibnu Majah di dalam Sunannya meriwayatkan dari Umar bin Khatab yang
berkata:”Tiga hal yang jika Rasulullah SAWA telah menjelaskannya maka
itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya: al-kalalah, ar-riba, dan
al-khilafah.
Subhanallah! Mustahil Rasulullah diam di dalam perkar-perkara itu dan
tidak menjelaskan maksudnya.
2. Hadith: “Hai Ali, kedudukanmu di sisiku bagaikan kedudukan Harun di
sisi Musa, hanya saja tiada Nabi selepasku”.
Hadith ini seperti difahami oleh orang-orang yang berakal menyirat
makna keutamaan dan kekhususan Amir al-Mukminin Ali di dalam
menyandang kedudukan wazir, wasi dan khalifahnya Musa ketika beliau
berangkat menemui Tuhannya. Ia juga menyirat erti bahawa kedudukan
Imam Ali adalah umpama kedudukan Harun AS. Kedua-duanya sangat
mirip sekali melainkan kenabian saja seperti yang dikecualikan oleh
hadith itu sendiri. Ia juga bermakna bahawa Imam Ali adalah sahabat
yang paling utama dan paling mulia selepas Nabi SAWA itu sendiri.
3. Hadith: “Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Alilah maulanya
(pemimpin). Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya, dan musuhilah
mereka yang memusuhinya. Jayakanlah mereka yang menjayakannya, dan
hinakanlah mereka yang menghinanya, dan liputilah haq bersamanya
dimana jua dia berada”.
Hadith ini sahaja sudah cukup untuk menolak dugaan orang yang
mengutamakan Abu Bakar, Umar dan Uthman di atas seseorang yang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 161
telah dilantik oleh Rasulullah SAWA sebagai pemimpin kaum Mukminin
selepasnya. Tidak ada makna mereka yang mentakwilkan maksud hadith
ini sebagai pencinta dan pembantu agar memalingkannya dari maknanya
yang asal seperti yang dimaksudkan oleh Nabi SAWA dengan alasan
untuk menjaga kemuliaan martabat sahabat. Ini kerana Nabi SAWA
ketika berdiri berkhutbah dalam keadaan panas terik itu
berkata:”Bukankah kalian menyaksikan bahawa aku adalah lebih utama
dari orang-orang Mukminin terhadap diri mereka sendiri? (Alasta aulabikum
min-anfusakum) Mereka menjawab:”Ya, Rasulullah. Kemudian beliau
SAWA bersabda lagi:”Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya maka
inilah Ali maulanya….”(man kuntu maulahu fa-haza Aliyyin maulahu).
Nas ini sangat jelas di dalam melantik Ali sebagai khalifah untuk
umatnya. Orang yang berakal, adil dan insaf tidak dapat menolak maksud
hadith ini lalu menerima takwilan yang direka-reka oleh sebahagian orang
demi menjaga kemuliaan sahabat dengan mengorbankan kemuliaan Rasul
SAWA. Mengingatkan bahawaa penakwilan seumpama ini bermakna
meremehkan dan mencela kebijaksanaan Rasul yang telah menghimpun
ribuan manusia di dalam keadaan cuaca yang sangat terik dan panas itu
hanya sekadar ingin mengatakan bahawa Ali adalah pencinta kaum
Mukminin dan pembela mereka. Bagaimana mereka akan menafsirkan
ucapan tahniah yang diberikan oleh deretan orang-orang Mukminin
kepada Ali selepas perlantikan itu, yang sengaja diciptakan oleh Nabi
SAWA? Mula dari isteri-isteri Nabi lalu kemudian Abu Bakar, dan Umar
yang berkata:”Tahniah, tahniah untukmu wahai putra Abu Talib. Kau kini
telah menjadi pemimpin orang-orang Mukminin, lelaki atau perempuan”.
Fakta dan sejarah telah menyaksikan bahawa orang-orang yang mentakwil
adalah orang-orang yang berdusta.Celakalah apa yang mereka tulis denga
tangan mereka. Firman Allah:”Dan sesungguhnya sebahagian di antara
mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui” (Al-
Baqarah: 146).
4. Hadith: “Ali dariku dan aku dari Ali. Tiada siapa pun yang mewakili
tugasku kecuali aku sendiri atau Ali”[87].
Hadith ini juga dengan jelas menyatakan bahawa Imam Ali adalah satusatunya
orang yang diberikan kepercayaan oleh Nabi untuk mewakili
tugasnya. Baginda menyatakan ini ketika mengutusnya untuk membacakan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 162
Surah Bara’ah yang mula-mula Nabi serahkan kepada Abu Bakar. Abu
Bakar kembali dan menangis. Katanya: Ya Rasulullah, apakah ada ayat
turun berkenaan dengannya? Rasulullah menjawab:”Sesungguhnya Allah
menyuruhku atau Ali saja yang melaksanakan tugas ini”.
Hadith ini juga mendukung sabda Nabi yang lain kepada Ali:”Engkau hai
Ali menjelaskan kepada umatku apa yang mereka perselisihkan setelah
ketiadaanku” [88].
Jika tiada orang yang diberikan kepercayaan oleh Rasulullah kecuali Ali,
dan beliaulah yang sepatutnya menjelaskan kepada umat ini segala
perselisihan mereka, maka bagaimana orang yang tidak mengetahui makna
kalimat abba dan kalimat kalalah boleh menyingkirkannya? Sungguh ini
merupakan musibah besar yang menimpa ke atas umat ini,dan yang
menghalangnya dari menjalankan tugas penting yang telah ditetapkan
oleh Allah SWT. Tetapi cukup hujjah Allah, hujjah RasulNya dan hujjah
Amirul Mukminin. Mereka yang engkar dan tidak patuh ini mesti
mengajukan hujjah kelak di hadapan Alla SWT. Allah berfirman:”Apabila
dikatakan kepada mereka marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh
Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: cukup untuk kami apa yang
kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.Dan apakah mereka akan
mengikuti juga nenek moyang mereka walau pun nenek moyang mereka itu
tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk” (Al-Maidah:
104).
5. Hadith al-Dar Yaum al-Indzar
Bersabda Nabi SAWA sambil menunjuk kepada Ali:”Sesungguhnya ini
adalah saudaraku, wasiku, dan khalifahku selepasku. Maka dengarlah dan
taatlah kepadanya” [89].
Hadith ini juga terbilang di antara hadith-hadith sohih yang dinukil oleh
ahli-ahli sejarah ketika menceritakan peristiwa-peristiwa pertama yang
berlaku di masa awal kebangkitan Nabi SAWA. Mereka menganggapnya
sebagai bahagian dari mukjizat Nabi SAWA. Tetapi politik telah
merubah dan memalsukan kebenaran-kebenaran dan fakta-fakta.Tidak,
memang aneh. Kerana apa yang pernah berlaku di zaman kegelapan
tersebut kini berulang lagi di zaman sekarang. Lihatlah Muhammad
Husain Haikal. Beliau telah menuliskan hadith ini secara sempurna di
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 163
dalam bukunya “Kehidupan Muhammad” pada halaman 104, cetakan
pertama tahun 1334H tetapi di dalam cetakan kedua dan seterusnya
sebahagian dari isi hadith Nabawi ini, yakni kalimat “wasiku dan
khalifahku” dihapuskan dan dipadam. Mereka juga telah menghapuskan
dari kitab TafsirTabari Jilid 19, halaman 121 bahagian dari sabda Nabi
berikut “Wasiku dan khalifahku” dan menggantikan dengan kalimat
“Inilah saudaraku dan begini dan begitu….!” Mereka lalai bahawa Tabari
telah menyebutkan hadith itu secara sempurna di dalam kitab sejarahnya
Jilid ke-2, pada halaman 319. Lihatlah betapa mereka telah merubahrubah
kalimat dari tempatnya yang asal dan memutar-balik fakta-fakta.
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah
tetap akan menyalakan cahayaNya….
Ketika aku masih mengkaji aku ingin menyaksikan dengan mataku sendiri
apa-apa yang telah terjadi. Aku cari buku Kehidupan Muhammad cetakan
pertamanya. Akhirnya aku temui juga setelah mengharungi berbagai liluliku
yang sulit dan melelahkan. Alhamdulillah, atas semua ini. Yang penting
aku telah saksiakan sendiri perubahan itu. Aku bertambah yakin bahwa
tangan-tangan jahat cuba dengan segala usaha untuk menghapuskan
kebenaran-kebenaran yang memang telah terbukti wujud. Kerana mereka
menganggap bahawa ini adalah hujjah kuat yang akan digunakan oleh
“musuhnya!”
Tetapi bagi seseorang pengkaji yang adil ketika menyaksikan perubahan
seumpama ini dia akan berasa bertambah yakin. Tanpa ragu-ragu lagi dia
akan berkata bahawa sebenarnya di pihak lain tidak mempunyai hujah
yang kuat melainkan berusaha juga untuk menggunakan tipu helaj dan
memutarbelitkan fakta-fakta yang ada dengan cara dan bagaimana mahal
sekalipun.Mereka telah mengupah penulis-penulis tertentu dan
menghulurkan kepada mereka berbagai kekayaan, gelaran, ijazah-ijazah
perguruan tinggi yang palsu, agar mereka dapat menuliskan segala
sesuatu yang mereka inginkan sama ada buku atau makalah-makalah
tertentu. Yang penting tulisan itu mencaci Syiah dan mengkafirkan
mereka, serta membela dengan sedaya upaya (walau itu batil) “kemuliaan”
sebahagian sahabat yang telah menyeleweng dari kebenaran dan yang
telah merubah yang hak menjadi batil selepas ketiadaan Rasulullah
SAWA. Firman Allah SWT:”Demikian pula orang-orang yang sebelum
mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa.
Sesungguhnya Kami telah jelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 164
kaum yang yakin” (Al-Baqarah: 118) Maha Benar Allah Yang Maha Agung.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 165
Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS
1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)
Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian
sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak
akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”
Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku
segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka
berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan
cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang
Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku
ini” [90].
Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh
buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati
bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah dan
keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata
Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”
Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa
menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak
faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai
hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian
lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan
pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.
Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan
di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian Kitab Allah dan
Sunnahku”[91].
Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam
maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam
Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar
mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka
akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat
mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah
mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 166
menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya,
mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan.
Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab
Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-
Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat
diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih
dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada
orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan
ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith
Nabi SAWA.
Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari
kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan
jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita
merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-
Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa
yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka
semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya
ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah
diketahui apa yang mereka lakukan.
Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti?
Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta
sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul
bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa
Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan
gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya
adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang
mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.
Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul
pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak
bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan
oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian
ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak
mempunyai hujah yang kuat lagi.
Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan
jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 167
Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman
bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali
seperti yang nampak jelas.
Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA
yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah
Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami
para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan
adalah sadaqah”.
Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau
berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin
akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:”
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anakanakmu.
Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua
orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum
dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan
firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan
kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku
dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi
sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang
diredhai” (Surah 19:5-6)
Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan
dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah
perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin
Khattab.
Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orangorang
yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang
pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku
dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi
melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah
dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka
nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”
Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam
sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan
kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 168
Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda
menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah
Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah.
Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat
kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi
Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau
berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat
dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau
berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali,
sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku
akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin
Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku
ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya
itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.
Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat
sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar
mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah
mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orangorang
yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka
telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang
mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu
membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia
ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan
kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka
telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.
Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar
sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka
memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan
terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada
yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’)
dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib
sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga
keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin
membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 169
Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang
dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin
mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.
Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan
dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada
Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak
Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak.
Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan
banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas
akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan
tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para
Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah
menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya.
Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan
orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat
berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada
Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya
kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk
orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka
sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling.
Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi
(kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).
Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis.
Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi
Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.
Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia
menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin
yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan
zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan
zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan
untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan
oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat
adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan
sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka
ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat
menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 170
khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi
mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk
membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah
dan membakar mereka.
Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah
perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan
nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid
bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam
itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah
bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam
engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan
berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah.
Tutup mulutmu Khalid”.
Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat
besar yang telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut,
sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita
memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”
Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan
keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung,
pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan
perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah
mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya
setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu
mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri
Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid
sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid:
Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan
perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak
Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak
oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak
membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata
kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh
untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di
waktu malam, Khalid menidurinya [95].
Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 171
pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam
bab Pendapat Umar Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal
menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam
keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan
kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula
sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di
dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan
merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di
mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa
pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.
Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap -
alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud
itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai
“Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan
kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah
lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan
menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan
yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab
Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid
dipanggil dan dimarahi [96].
Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama
seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu
Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya
Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan
ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid
dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie
terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan
dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah,
seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab
Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah
mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan
berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran.
Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.
Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di
dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA
sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 172
perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi
SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan
di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka
aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran
jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka
lakukan kepadanya hukum hudud “.
Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum
Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga
sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau
mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk
membenarkan tindakan Khalid ini dengan menciptakan berbagai
kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya
dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.
Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai
bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu
aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin
Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang
Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang
Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah
mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku
pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukumhukum
Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.
Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi
SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru
mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka. Kabilah ini
tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam).
Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka
dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat
pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan
kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan
diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku
bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin
Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi
Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk
membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat
jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 173
mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian
ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari
apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali
[98].
Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang
disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap
sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai
Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan
membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak
berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja?
Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang
tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji
dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya
untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta
mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu
ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai
Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci
Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di
antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan
neraka Waillah tempat mereka kembali.
Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah
mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh
Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah
kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid.
Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan
tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah
dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah
tersalah takwil?
Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil
terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai
“musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh
kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan
batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak
satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar
sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa
Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 174
lebih dari orang lain.
Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus
Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia
kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang
perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya,
sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah
belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari
waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].
Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian
dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri
Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras
dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat
teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku
hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa
melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu
darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100].
Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si
A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.
Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan
penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut
mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan
begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan
menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk
membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin
Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.
Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah
aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka
yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu
dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari
pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang
membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran.
Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku
masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang
jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 175
Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah
menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada
kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang
paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa
penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah
mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang
tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan
penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain
kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela
serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha
Mengetahui wahai Tuhanku, aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah
keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari
segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka
kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam
Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.
Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orangorang
yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan
di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang
bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang
masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan
ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan
anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka.
kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan
bersama orang yang dia cintai”.
2. Hadith Bahtera
Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi
kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang
menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].
“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan
Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia
akan diampuni”[102].
Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-
Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi
Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 176
agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan
mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat
dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan
tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus
kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan -
pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan
memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah
menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA
sebagai sebab diampuninya mereka.”
Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut
bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama
mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu
tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang
dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan
berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami
adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali
daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung
tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaankeutamaan
mereka”.
Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka,
atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam
amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta
orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali
mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka
menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah
Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.
Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang
Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul
Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya:
Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari
Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama
kami daripada Ahlul Bayt.
Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka
menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang
imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 177
Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan
Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah
meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah
penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash
seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.
Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak
dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan.
Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat
menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah
berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah,
dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak
atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka
itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati
mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang
daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha
terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan
rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa
sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-
Mujadalah: 22).
FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu
sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih
sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran
yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).
3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku
Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati
seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka
jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut
Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku,
diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta
ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka
dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 178
mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].
Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah
hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak
memberikan hak untuk memilih kepada seorang Muslim, bahkan
menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah
keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk
mereka Nabi SAWA.
Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku
meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk
menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang
bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak
dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca
pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara
lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi,
seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan
sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin
Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak
dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran
dengan sempurnanya.
Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi
Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran
dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi
adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang
dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati
bahawa Bukhari telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-
Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan
hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi
sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi yang thiqah.
Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan
Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.
Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang
thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia
telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn
Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 179
telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang
akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan
menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya
Nubuwwah dan berjalan di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.
Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha
bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap
masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan
teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan
hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang
tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang
bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam bukubuku
sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadangkadang
mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan
menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadangkadang
mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran
meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka.
Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan
pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan
ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun
diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!
Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan
mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang
aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang siasia
ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah
berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan
bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti
yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan
bahagia dan membahagiakan orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab
perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.
Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam
meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan
hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya
jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh
baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan
Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 180
wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah
Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku
lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].
Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang
mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan
mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah
mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik
yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini
merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak raguragu
lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah
perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu
tidak menyebutnya.
Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu
sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutuptutupi.
Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa
Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah
betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk
menutupinya.
Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam
meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu
berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).
Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar
nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh
Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi
Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar
kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau
meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal
oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya
terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.
Fala Haula Wala Quwwata illa billa al-A’li al-A’zim.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 181
Musibah Kita: Ijtihad Melawan Nas
Dari kajianku ini dapat disimpulkan bahawa musibah umat Islam
sebenarnya bertolak dari keberanian sahabat berijtihad di hadapan nasnas
yang sangat jelas maknanya. Lantaran itu maka batas-batas hukum
Allah telah dilampaui dan sunnah-sunnah Nabi dilanggar. Para ulama dan
imam yang datang selepas sahabat mengambil qiyas dan ijtihad para
sahabat, dan kadang-kadang menolak nas Nabi jika ianya bertentangan
dengan apa yang dilakukan oleh seseorang sahabat, bahkan menolak nas
al-Qur’an. Aku bukan mahu mengada-adakan atau berlebih-lebihan. Dan
telah aku contohkan di atas betapa mereka membelakangi nas al-Qur’an
dan nas Nabi tentang perkara tayamum, dan berijtihad meninggalkan
solat kerana tiadanya air. Dan Abdullah bin Umar telah menjustifikasikan
ijtihadnya ini dengan cara yang kita sebutkan di atas tadi.
Di antara sahabat pertama yang membuka pintu ini adalah khalifah
kedua, yang menggunakan pendapatnya setelah wafatnya baginda tadi,
walau ianya bertentangan dengan nas Qur’an. Beliau telah
memberhentikan saham muallaf yang telah Allah wajibkan di dalam al-
Qur’an di dalam pembahagian saham zakat. Katanya: kami tidak perlu lagi
dengan kalian.
Adapun ijtihadnya di dalam nas-nasnya Nabi SAWA sungguh banyak.
Beliau telah berijtihad di masa hidupnya baginda sendiri, dan pernah
menentangnya beberapa kali. Di atas telah kita contohkan
pertentangannya dengan Nabi dalam kes perdamaian Hudaibiyyah,
melarang Nabi menulis wasiat, katanya: cukuplah kita dengan Kitab Allah.
Dan juga telah berlaku kepadanya suatu peristiwa dengan Rasulullah
SAWA yang mungkin akan memberikan kepada kita gambaran jelas
tentang peribadi Umar yang merelakan dirinya membantah dan
menentang utusan Allah ini. Insiden ini disebut dengan istilah beritagembira
perihal syurga.
Waktu itu Nabi mengutus Abu Hurairah berkata kepadanya:”Siapa sahaja
yang engkau temui menyaksikan bahawa Tiada Tuhan Selain Allah dengan
keyakinan sepenuhnya, maka berilah beria gembira padanya perihal
syurga. Abu Hurairah keluar untuk membawa berita gembira ini. Di jalan
beliau berjumpa dengan Umar. Umar melarangnya, bahkan memukulnya
sehingga jatuh. Abu Hurairah kembali menemui Rasulullah sambil
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 182
menangis. Diberitahunya tentang apa yang dilakukan oleh Umar
kepadanya. Nabi bertanya kepada Umar alasan apakah yang menyebabkan
ia memperlakukan Abu Hurairah sedemikian? Jawab Umar: apakah anda
telah mengutusnya untuk memberitahu khabar gembira kepada setiap
orang yang mengatakan Lailaha Illallah dengan penuh keyakinan? Ya,
jawab Nabi. Lalu Umar menjawab: Jangan kau lakukan, kerana aku khuatir
manusia nantinya akan bersandar pada Lailaha Illallah saja!! Dan lihatlah
pula puteranya, Abdullah bin Umar, yang khuatir manusia akan bersandar
pada tayamum lalu menyuruh mereka meninggalkan solat.
Bukankah baik seandainya mereka membiarkan nas-nas itu seperti
adanya, dan tidak merubah-rubahnya dengan ijtihad mereka yang tumpul
itu, yang menyebabkan terhapusnya syariah dan terlanggarnya
ketentuan-ketentuan Allah serta terpecahnya umat ke dalam berbagai
madzhab, golongan, dan pendapat.
Dan sikap-sikap Umar terhadap Nabi dan sunnahnya dapat difahami
bahawa beliau sebenarnya tidak sehari pun percaya Nabi itu bersifat
Maksum bahkan beliau melihat bahawa Nabi adalah manusia biasa yang
boleh salah dan benar.
Dan dari sinilah timbulnya gagasan Ahlul Sunnah Wal Jamaah bahwa Nabi
itu maksum hanya di dalam menyampaikan al-Qur’an sahaja. Selainnya
Nabi kadang-kadang melakukan kesalahan, seperti manusia lain. Mereka
berhujah bahawa Umar pernah membetulkan baginda di dalam banyak
perkara.
Jika Rasulullah SAWA seperti yang diriwayatkan oleh sebahagian orang
yang jahil – menerima ajakan syaitan di rumahnya, ketika baginda
terbaring di sana dan (menyaksikan) wanita-wanita memukul gendang
sementara syaitan menari-nari dan bergembira di sisinya, sehinggalah
ketika Umar masuk maka larilah syaitan dan para wanita menyembunyikan
gendang-gendangnya, lalu Nabi berkata kepada Umar: Apabila syaitan
melihatmu berjalan di suatu jalan, maka dia terus lari mencari jalan lain,
jika itu semua berlaku maka tidak hairanlah kalau Umar mempunyai “hakberpendapat”
di dalam urusan agama, dan mengizinkan dirinya untuk
menentang Nabi di dalam urusan politik, dan bahkan agama seperti kes di
atas.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 183
Dan dari gagasan ijtihad dan hak-berpendapat yang bertentangan dengan
nas inilah maka muncullah atau terbentuklah sekelompok sahabat yang
dipimpin oleh Umar bin Khattab. Seperti yang kita lihat, mereka
menyokong pendapat Umar di dalam Tragedi Hari Khamis, walau ia jelas
bertentangan dengan nas Nabi SAWA. Dan dari sini juga kita dapat
simpulkan bahawa mereka sebenarnya tidak pernah menerima nas al-
Ghadir, dimana Nabi melantik Ali sebagai khalifah selepasnya. Sikap
penolakan ini benar-benar ditunjukkannya di saat wafatnya baginda
SAWA. Kes-kes seperti perhimpunan di dalam Saqifah Bani Saidah serta
pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah adalah hasil dari ijtihad seumpama
ini. Ketika kedudukan mereka kukuh dan orang banyak telah lupa akan
nas-nas Nabi yang berkenaan dengan khalifah khasnya maka mereka mulai
berijtihad di dalam segala perkara, sehingga hukum-hukum di dalam al-
Qur’an sekalipun. Mereka telah menghentikan beberapa hukum hudud,
dan merubah beberapa hukum ahkam.
Di antara ijtihad yang bertentangan dengan nas adalah Tragedi Fatimah
Az-Zahra yang dihadapinya setelah tragedi suaminya yang dirampas dari
jabatan khilafah. Kemudian tragedi pembunuhan orang-orang yang enggan
membayar zakat, pengangkatan Umar bin Khattab sebagai khalifah, di
mana Abu Bakar berijtihad dengan pendapatnya dan menjatuhkan konsep
syura yang dijadikannya hujah untuk keabsahan khilafahnya dahulu. Lebih
jauh lagi setelah Umar menjawat jabatan khalifah, dihalalkannya apa
yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya [108] serta diharamkannya apa
yang dihalalkan oleh Allah dan RasulNya SAWA [109].
Ketika Uthman memerintah pada zaman berikutnya, beliau telah pergi
lebih jauh lagi dari dua khalifah sebelumnya sehingga ijtihadnya telah
banyak mempengaruhi kehidupan politik dan agama secara am, dan
mengakibatkan munculnya revolusi menentangnya sehingga beliau
terbunuh akibat ijtihadnya.
Ketika Imam Ali memegang kekuasaan dan menjadi khalifah, beliau
mendapatkan kesukaran yang amat sangat di dalam mengembalikan kaum
Muslimin kepada sunnah Nabi dan pangkuan al-Qur’an. Beliau begitu
bersungguh-sungguh di dalam menghilangkan segala jenis bid’ah yang
telah dimasukkan ke dalam agama, namun sebahagian mereka berteriak:
sunnah Umar, sunnah Umar!!!
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 184
Aku hampir pasti bahawa mereka yang memerangi Imam Ali dan yang
menentangnya adalah kerana Ali AS cuba untuk membawa mereka kepada
jalan yang asal dan mengembalikan mereka kepada nas-nas yang sahih,
mematikan segala bid’ah,dan ijtihad yang telah dilekatkan pada agama
sepanjang seperempat abad. Bid’ah-bid’ah ini telah sebati dengan orang
ramai, khasnya mereka yang mengikut hawa nafsu dan ketamakan dunia,
yang telah menyalahgunakan harta Allah dan memprhambakan hambahambaNya,
yang telah memanipulasi emas dan perak dan mengharamkan
orang-orang yang lemah dari hak-hak mereka yang ditentukan oleh Allah
dan Islam walau kecil sekalipun.
Kadang-kadang kita dapati bahawa para mustakbirin di setiap zaman
sangat cenderung untuk berijtihad, kerana ianya membuka mereka jalan
untuk dapat sampai kepada cita-citanya dengan cara bagaimanapun juga.
Sementara nas-nas ini akan menghambat cita-cita itu dan bahkan
menghalanginya. Lalu ijtihad ini mendapatkan sokongan di setiap zaman
dan tempat, hatta golongan mustadha’fin sekali pun. Ini kerana ianya
mudah dipraktikkan dan tidak memiliki suatu komitmen yang tegas.
Sementara nas memiliki ketegasan dan ketidakbebasan. Orang-orang
politik kadang-kadang menamakannya dengan istilah hukum teokrasi, yang
bermakna hukum Allah. Tetapi kerana ijtihad memiliki kebebasan dan
tidak komitmen, maka mungkin mereka mengistilahkannya dengan hukum
demokrasi yakni kuasa rakyat.
Mereka yang berhimpun di Saqifah setelah wafatnya Nabi SAWA telah
menghapuskan kekuasaan teokrasi yang di asaskan oleh Nabi SAWA
berdasarkan nas-nas al-Qur’an, dan menggantikannya dengan kekuasaan
demokrasi yang dipilih oleh rakyat, untuk memilih ketua yang dianggapnya
layak untuk memimpin. Namun para sahabat waktu itu belum mengenal
istilah demokrasi, kerana ianya bukan bahasa Arab. Yang mereka ketahui
hanyalah konsep syura?
Mereka yang tidak menerima adanya nas di dalam perkara khilafah hari
ini, adalah pendukung-pendukung demokrasi. Mereka sangat bangga
sebagai pendokong demokrasi ini. Mereka mendakwa bahawa Islam adalah
agama pertama yang melaksanakan konsep demokrasi ini. Mereka adalah
pendokong-pendokong ijtihad dan pembaharuan, yang hari ini lebih dekat
dengan konsep-konsep barat. Itulah kenapa hari ini kita dengar dunia
barat memuji mereka dan menamakan mereka sebagai kaum Muslimin
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 185
yang modernis dan toleran.
Adapun Syiah adalah pendokong-pendokong teokrasi, atau kekuasaan
Allah. Mereka menolak ijtihad yang bertentangan dengan nas dan
memisahkan antara kekuasaan Allah dan konsep syura.Bagi mereka syura
tiada kena mengena dengan nas.Syura dan ijtihad boleh dilakukan dalam
perkara-perkara yang tidak ada nas di dalamnya. Bukankah anda lihat
bahawa Allah SWT yang telah memilih RasulNya Muhammad SAWA
tetapi Dia juga berfirman:”Dan musyawarahilah (syura) mereka di dalam
perkara”. Adapun berkenaan dengan pemilihan kepimpinan yang akan
memimpin manusia, Allah berfirman:”Tuhan kamu menciptakan apa yang
Dia kehendaki dan memilih (apa yang Dia kehendaki). Mereka (manusia)
tiada hak memilih”.
Syiah ketika menyatakan bahawa Ali adalah khalifah setelah Nabi
SAWA, ini adalah kerana mereka berpegang pada nas. Dan ketika mereka
sebahagian sahabat, yang dicela adalah mereka yang telah menggantikan
nas-nas dengan ijtihad, lalu mereka mensia-siakan hukum Allah dan
RasulNya serta melukai agama Islam yang sampai sekarang belum
sembuh.
Itulah kenapa dunia barat dan para pemikir mereka cuba
mendiskreditkan Syiah dan menamakannya sebagai madzhab yang fanatik
atau reaksioner. Ini kerana mereka ingin kembali kepada al-Qur’an yang
menghukum potong tangan pada pencuri, merejam si penzina dan
memerintahkan berjihad di jalan Allah SWT. Bagi barat semua ini adalah
barbarisme dan ganas.
Dari kajianku ini juga aku dapat memahami kenapa sebahagian ulama
Ahlul Sunnah Wal Jamaah menutup pintu ijtihad sejak kurun kedua
Hijrah. Ini mungkin kerana ijtihad seumpama itu mengakibatkan
malapetaka bahkan pertumpahan darah yang tidak sedikit ke atas umat
ini. Ijtihad seumpama itu telah merubah umat yang terbaik ini menjadi
umat yang saling berperang, penuh dengan perselisihan dan fanatik
kesukuan dan merubahnya dari Islam kepada Jahiliyyah.
Adapun Syiah masih membukan pintu ijtihad selagi nas-nasnya ada. Tiada
siapapun yang boleh merubahnya. Dan mereka dibantu dengan wujudnya
dua belas imam yang mewarisi ilmu datuknya Nabi SAWA. Mereka
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 186
berkata bahawa semua permasalahan ada hukumnya di sisi Allah, dan
telah dijelaskan oleh Nabi SAWA.
Dan dapat difahami juga bahawa Ahlul Sunnah Wal Jamaah ketika
mengikut para sahabat yang “mujtahidin” yang melarang penulisan sunnah
Nabi SAWA, akhirnya mereka dapati diri mereka terpaksa melakukan
ijtihad dengan pendapat atau qiyas atau istishab atau sad bad zara’ik
dan sebagainya ketika nas-nas Nabi tiada. Sementara kita juga faham
sikap Syiah yang duduk di sekitar Ali, seseorang yang dikatakan sebagai
Pintu Kota Ilmu dan pernah berkata:”tanyakan aku segala sesuatu kerana
Nabi telah mengajarku seribu bab ilmu dan setiap bab dapat membuka
seribu bab yang lain”[110].Sementara orang-orang bukan Syiah berkisar
di sekitar Muawiyah bin Abi Sufian yang mengetahui sunnah Nabi hanya
sedikit sekali.
Imam golongan yang baghi (zalim-pemberontak) ini akhirnya menjadi
Amirul Mukminin setelah wafatnya Imam Ali AS. Dia telah campur
adukkan agama Allah ini dengan pendapatnya lebih dari orang-orang
sebelumnya. Ahlul Sunnah menganggapnya sebagai Penulis Wahyu, dan di
antara ulama yang mujtahid. Bagaimana mereka menghukumkan ijtihadnya
sedangkan dia telah meracun Hasan bin Ali dan membunuhnya sedangkan
Hasan (seperti sabda Nabi) adalah Penghulu Pemuda Syurga. Mungkin
mereka juga akan berkata: Ini juga di antara ijtihadnya, tetapi
tersalah!!!!
Bagaimana mereka menghukumkan ijtihadnya sedangkan dia telah
mengambil baiah dari umat secara terpaksa, sama ada untuk dirinya atau
untuk puteranya Yazid; lalu dia yang merubah konsep “syura” kepada
“kerajaan” dan kekaisaran (konsep kerajaan di Rom). Bagaimana mereka
menghukumkan ijtihadnya dan bahkan memberikannya satu pahala,
sedangkan dia telah mengajak orang ramai melaknati Imam Ali AS dan
keluarga Nabi dari atas mimbar dan bahkan telah menjadi tradisi
Umaiyyah sepanjang enam puluh tahun.
Bagaimana mereka menamakannya sebagai Penulis Wahyu sedangkan
wahyu turun kepada Nabi SAWA sepanjang dua puluh tiga tahun dan
sebelas tahunnya Muawiyah masih dalam keadaan syirik. Ketika beliau
masuk Islam, kita tidak dapati satu riwayatpun yang mengatakan bahawa
Muawiyah tinggal di Madinah, sementara Nabi SAWA tidak pernah
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 187
tinggal di Mekah selepas Pembukaan Kota Mekah (Fathu Makkah).
Bagaimana Muawiyah dapat menyandang gelaran Penulis Wahyu? La Haula
Wala Quwwata Illa Billa Al-’Ali al-’Azim.
Pertanyaan yang terus menggugat: Mana satu kelompok yang benar dan
mana yang batil? Sama ada Ali dan Syiahnya adalah orang-orang yang
zalim dan dalam keadaan batil ataukah Mauwiyah dan pengikutnyapengikutnya?
Sebenarnya Rasulullah SAWA telah menjelaskan segala sesuatu secara
sempurna. Namun sebahagian orang yang mendakwa diri mereka sebagai
Ahlul Sunnah telah mentafsirkannya secara salah. Sepanjang kajianku
dan pembelaanku dahulu terhadap Muawiyah aku dapati bahawa mereka
sebenarnya bukan sebagai pengikut sunnah tetapi pengikut Muawiyah dan
Bani Umaiyyah. Khasnya setelah aku kaji secara teliti sikap-sikap mereka
yang membenci Syiahnya Ali dan bergembira di hari Asyura serta
membela para sahabat yang pernah mengganggu Rasulullah SAWA di
masa hayatnya dan selepas wafatnya. Mereka tetap sahaja membenarkan
kesalahan sahabat-sahabat seumpama ini dan cuba menjustifikasikan
tindakan-tindakan mereka.
Cuba anda renungkan bagaimana anda mencintai Ali dn Ahlul Bayt Nabi
sementara anda juga dalam masa yang sama rela kepada musuh-musuhnya
dan pembunuh-pembunuhnya? Bagaimana anda mencintai Allah dan
RasulNya sementara dalam masa yang sama anda juga membela mereka
yang merubah-rubah hukum Allah dan RasulNya serta berijtihad dan
menakwilkan dengan pendapatnya apa-apa yang ada dalam hukum ahkam
Allah? Bagaimana anda menghormati orang yang tidak menghormati
Rasulullah, bahkan menuduhnya dengan kata-kata yang ‘mempertikaikan’
dalam perlantikannya? Bagaimana anda mematuhi para pemimpin yang
dilantik oleh kerajaan Umaiyyah dan kerajaan Abbasiyyah lalu
meninggalkan para imam yang telah dilantikoleh Rasulullah SAWA lengkap
dengan bilangannya [111] dan nama-nama mereka [112].Bagaimana anda
mematuhi orang yang tidak mengenal Nabi dengan sempurna lalu
meninggalkan Pintu Kota Ilmu dan seorang yang seumpama Harun di sini
Musa?
Siapa yang menciptakan istilah Ahlul Sunnah Wal Jamaah?
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 188
Aku telah cuba mengkaji di dalam sejarah tetapi tidak aku dapati. Yang
ada hanyalah mereka sepakat menamakan tahun pengambil-alihan
kekuasaan oleh Muawiyah sebagai Tahun Jama’ah. Mengingatkan bahawa
umat Islam pada waktu itu terbahagi kepada dua kelompok: pengikut Ali
dan pengikut Muawiyah. Ketika Imam Ali syahid dan Muawiyah
mengambil-alih kekuasaaan setelah perdamaian dengan Imam Hasan,
maka Muawiyah menjadi Amirul Mukminin.Tahun itu dinamakan sebagai
Tahun Jama’ah.
Nah, dengan demikian penamaan Ahlul Sunnah Wal-Jama’ah
menunjukkannya sebagai pengikut Sunnah Muawiyah dan sepakat
menerimanya sebagai pemimpin; bukan pengikut Sunnah Rasulullah
SAWA. Para Imam keturunan Nabi dan Ahlul Baytnya lebih tahu periha
Sunnah datuknya dari bekas-bekas tawanan perang ini. Tuan rumah lebih
tahu akan isi rumahnya. Dan penduduk Mekah lebih tahu akan selok-belok
negerinya. Namun kita telah membelakangi dua belas imam yang telah
disabdakan oleh Nabi SAWA itu dan mengikut para musuh mereka.
Walaupun kita mengakui keabsahan hadith yang bermaksud ada dua belas
imam selepas Nabi, kesemuanya mereka dari kalangan Quraisyu, namun
kita selalu terhenti pada empat khalifah sahaja. Mungkin Muawiyah yang
menamakan kita sebagai Ahlul Sunnah Wal Jamaah bermaksud sebagai
kesepakatan kepada sunnahnya di dalam mencaci Ali dan Ahlul Bayt Nabi
yang berpanjangan sehingga enam puluh tahun. Hanya Umar bin Abdul
Aziz RA sahaja yang mampu menghilangkan sunnah yang buruk ini.
Sebahagian ahli sejarah mengatakan bahawa golongan Umaiyyah berpakat
untuk membunuhnya, walau pun beliau adalah dari kalangan keluarga yang
sama. Ini kerana beliau mematikan sunnah mereka yakni melaknat Ali bin
Abi Talib.
Wahai sahabat-sahabatku. Marilah kita mencari kebenaran di bawah
bimbingan Allah SWT.Buanglah jauh-jauh segala jenis taksub dan fanatik
buta. Kita adalah korban Bani Abbasiyyah, korban sejarah yang gelap,
korban kejumudan berfikir yang dipaksakan oleh generasi sebelum
kita.Tidak syak lagi kita juga adalah korban makar perbuatan Muawiyah,
Amr bin Ash, Mughirah bin Syu’bah dan sejenisnya.
Kajilah fakta sejarah Islam kita agar kalian dapat menemukan kebenaran
dan Allah akan melipatgandakan pahalaNya kepada kalian. Semoga Allah
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 189
menyatupadukan umat yang telah bercerai-berai menjadi tujuh puluh tiga
puak. Marilah kita menyatupadukannya di bawah bendera Lailaha Illallah
Muhammadur Rasulullah, dan patuh pada Ahlul Bayt Nabi yang telah
diperintahkan oleh Rasulullah untuk diikuti. Nabi bersabda:”Jangan kalian
melebihi dari mereka kerana kelak akan celaka, dan jangan ketinggalan
dari mereka kerana kelak akan celaka, dan jangan ajari mereka kerana
mereka lebih tahu dari kalian”[113].
Jika kita amalkan ini maka Allah akan mengangkat murkaNya dari kita,
dan menggantikan rasa takut kita kepada kedamaian, dan menempatkan
kita dibumiNya sebagai khalifah-khalifahNya serta memunculkan kepada
kita pilihanNya Imam Mahdi AS seperti yang telah dijanjikan oleh Nabi
SAWA yang kelak akan mengisi dunia ini dengan keadilan setelah ianya
penuh dengan kezaliman dan penindasan. Dan Allah kelak akan
memancarkan cahayaNya di segenap penjuru.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 190
Teman Diskusi
Perubahan itu adalah bermulanya suatu kegembiraan jiwa. Aku rasakan
jiwaku yang tenang dan dada yang lapang atas madzhab-hak yang aku
temukan ini atau katakanlah agama Islam yang tulen yang tiada keraguan
sama sekali. Aku sungguh berbahagia dan bangga atas nikmat, petunjuk
dan bimbingan yang Allah limpahkan kepadaku. Dan aku tidak dapat
berdiam diri atau menyembunyikan apa yang sedang bergolak di dadaku.
Aku katakan kepada diriku: aku mesti ungkapkan kebenaran ini kepada
orang-orang lain juga. Firman Allah:”Adapun tentang nikmat Tuhanmu
maka ucapkanlah”. Sementara ini adalah nikmat yang paling agung di dunia
dan di akhirat”. Orang yang diam atas kebenaran adalah syaitan yang
bisu”, dan tiada sesuatu selain dari yang hak melainkan kesesatan
semata-mata.
Yang menambahkan keyakinanku lagi untuk menyebarkan kebenaran ini
adalah kedudukan Ahlul Sunnah Wal Jamaah yang tidak berdosa itu.
Mereka mencintai Rasulullah dan Ahli Baytnya. Bagi mereka cukup
dihilangkan tabir yang telah ditenun oleh sejarah sahaja, agar mereka
ikut yang haq. Dan ini berlaku pada diriku sendiri. Allah
berfirman:”Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah
menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah..”(An-Nisa’:94)
Suatu hari aku menjemput empat temanku yang sama-sama mengajar di
kolej. Dua dari mereka mengajar subjek pendidikan agama, yang satu lagi
mengajar subjek bahasa Arab, dan yang terakhir guru dalam bidang
falsafah Islam. Mereka bukan dari Qafsah, tetapi dari Tunis, Jammal,
dan Soseh. Aku ajak mereka untuk sama-sama mengkaji subjek yang
penting ini. Aku beritahu mereka bahawa aku tidak mampu memahami
sebahagian makna (nas) dan ragu-ragu dalam sebahagian masalah. Mereka
pun menerima jemputanku dan bersedia untuk datang ke rumah setelah
tamat waktu kerja.
Aku biarkan mereka membaca kitab al-Muruja’at di mana pengarangnya
menulis berbagaia perkara yang aneh dan asing di dalam agama. Tiga dari
mereka telah menghabiskan buku itu dan yang satu lagi, guru yang
mengajar subjek bahasa Arab, telah menarik diri setelah hadir empat
atau lima kali majlis yang kami adakan. Beliau berkata: orang-orang barat
kini telah sampai ke bulan, sementara kalian masih membahas tentang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 191
perkara khilafah Islamiyyah!!!
Setelah satu bulan mengkaji maka tiga dari mereka telah mengikut
madzhab Syiah ini. Dan aku telah banyak membantu mereka untuk dapat
sampai kepada kebenaran itu dari jalan yang paling dekat, mengingatkan
bahawa pengajianku dulu memakan masa bertahun-tahun lamanya telah
memberikan aku pengetahuan yang cukup banyak dalam bidang ini.
Aku merasakan betapa manisnya hidayah Allah. Aku sangat optimis
dengan masa depan madzhab ini. Setiap kali aku mengajak sebahagian
teman-teman dari Qafsah, dan mereka yang hadir di majlis-majlisku di
masjid, atau mereka yang mempunyai hubungan denganku kerana tarekat
sufi yang sama serta sebahagian murid-muridku yang sering menemaniku,
semua mereka menyahuti ajakanku. Sehingga dalam masa satu tahun
sahaja bilangan kami yang mewila’(ikut) Ahlul Bayt cukup ramai. Kami
mewila’ kepada mereka yang mewila’ Ahlul Bayt dan memusuhi mereka
yang memusuhi Ahlul Bayt. Kami bergembira di hari-hari raya mereka,
sebagaimana kami juga bersedih di hari-hari Asyura dan mengadakan
majlis-masjlis tazkiyah.
Surat pertamaku yang membawa berita kesyiahanku kepada Sayyid al-
Khui dan Sayyid Muhammd Baqir as-Sadr adalah suratku sempena Hari
Raya Eidul Ghadir. Waktu itu untuk pertama kalinya kami merayakan hari
itu di Qafsah. Perkara kesyiahanku dan aktivitiku mengajak orang ikut
madzhab Syiah keluarga Rasul ini telah diketahui oleh kalangan
masyarakat khusus dan umum. Maka mulalah berbagai tuduhan dan fitnah
yang dilemparkan kepadaku. Mereka bilang aku adalah mata-mata Israel
yang bekerja menggoyangkan agama masyarakat; aku mencaci sahabat
dan sumber fitnah serta lain-lainnya.
Di ibu kota Tunisia aku menghubungi dua temanku Rasyid al-Ghannusyi
dan Abdul Fattah Moro. Penentangan mereka terhadapku sangat keras
sekali. Di dalam suatu perbincangan kami di rumah Abdul Fattah, aku
berkata bahawa sewajarnya kita sebagai kaum Muslimin merujuk kitabkitab
kita dan mengulangkaji sejarah kita. Aku ambil contoh kitab Sahih
Bukhari misalnya yang memuatkan berbagai perkara yang bertentangan
dengan akal dan agama. Tiba-tiba saja emosi mereka melonjak sambil
berkata kepadaku: siapa anda sehingga boleh mengkritik Bukhari? Aku
berusaha dengan berbagai upaya untuk menyakinkan mereka supaya dapat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 192
membahas berbagai perkara. Tetapi mereka menolak dan berkata: jika
anda telah ikut Syiah maka jangan syiahkan kami. Kami memikul sesuatu
yang lebih penting lagi dari itu, yakni menentang pemerintahan yang tidak
melaksanakan Islam. Aku bertanya apa faedahnya jika kalian dapat
berkuasa. Mungkin kalian akan melakukan sesuatu yang lebih dari mereka
selagi kalian tidak mengetahui kebenaran Islam ini. Bagaimanapun
pertemuan kami itu berakhir dengan rasa saling jengkel.
Setelah itu bertambahlah tuduhan dan fitnah terhadap kami dari pihak
sebahagian pengikut Ikhwan Muslimin yang waktu itu belum kenal
Harakah al-Ittijah al-Islami. Mereka sebarkan fitnah mengatakan yang
aku adalah agen kerajaan yang berkerja memporak-perandakan agama
kaum Muslimin sehingga mereka lupa akan perjuangan pokok mereka:
menentang pemerintahan.
Mulalah aku mengasingkan diri dari pemuda-pemuda yang aktif dalam
Ikhwan Muslimin dan dari Syaikh-syaikh yang ikut tarekat sufi. Dalam
masa tertentu akhirnya kami hidup terasing dan sangat sukar di sekitar
kampung kami dan di sekitar saudara-mara kami sendiri. Tetapi Allah
SWT akhirnya menggantikan kepada kami dengan orang-orang yang lebih
baik dari mereka. Sebahagian pemuda-pemuda dari berbagai kota datang
kepada kami dan bertanya tentang kebenaran ini. Aku berusaha sebaik
mungkin menjawab soalan-soalan mereka sehingga sejumlah mereka dari
ibu kota Qairawan, Souseh, dan Sayyidi Bu zeid ikut madzhab yang haq
ini.
Di dalam perjalananku ke Iraq di suatu musim panas, aku singgah ke
Eropah. Di sana aku berjumpa dengan sebahagian teman-teman di
Perancis dan Belanda. Di sana juga aku berbincang tentang perkara ini
dengan mereka sehingga mereka mendapat hidayah Allah ini.
Alhamdulillah atas semua ini.
Betapa gembiranya hatiku ketika berjumpa dengan Sayyid Muhammad
Baqir as-Sadr di Najaf al-Asraf. Waktu itu sekumpulan ulama berada di
sekelilingnya. Sayyid Sadr memperkenalkanku kepada mereka dan
mengatakan bahawa aku adalah benih Ahlul Bayt Nabi di Tunisia. Beliau
juga bercerita bahawa beliau menangis terharu ketika membaca suratku
yang membawa berita tentang perayaan kami atas Eidul Ghadir untuk
pertama kalinya serta keluhanku akan berbagai derita, tuduhan dan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 193
fitnah yang dilemparkan kepada kami di Tunisia.
Sayyid berkata antara lain:”Mesti menanggung semua derita ini kerana
jalan Ahlul Bayt sukar dan sulit. Pernah seorang datang kepada Nabi dan
berkata:”Ya Rasulullah aku mencintaimu” Rasulullah menjawab:”Maka
bersedialah akan banyaknya ujian”. Katanya lagi:”Aku juga mencintai anak
pamanku Ali”. Rasulullah menjawab:”Maka bersedialah akan banyaknya
musuh.”Katanya lagi:”Aku mencintai Hasan dan Husayn”. Jawab
Nabi:”Maka bersedialah akan kefakiran dan banyaknya ujian”.Apa yang
telah kita berikan di dalam menyeru jalan kebenaran ini, di mana Abu
Abdillah Husayn AS telah mengorbankan nyawanya, keluarganya dan anak
keturunannya serta sahabat-sahabatnya. Begitu juga Syiahnya di
sepanjang sejarah dan sehingga kini masih terus membayar dengan harga
yang mahal lantaran wila’ mereka kepada Ahlul Bait. Maka sudah
semestinya ya akhi menanggung sedikit kesusahan dan pengorbanan di
dalam jalan yang hak ini. Kalau seseorang mendapatkan hidayah Allah
lantaran usahamu maka itu lebih baik bagimu dari dunia dan seisinya.
Syed Sadr juga menasihatkan ku agar tidak menyendiri dan bahkan lebih
mendekat pada saudara-saudaraku Ahli Sunnah setiap kali mereka
berusaha menjauhiku. Beliau juga menyuruhku agar solat di belakang
mereka sehingga tidak terputus tali hubungan antara sesama, mengingat
mereka adalah orang-orang yang tak berdosa. Mereka adalah korban
sejarah dan propaganda murahan. Dan manusia adalah musuh kejahilan.
Syed Khui juga menasihatiku hampir sama. Begitu juga Syed Muhammad
Ali Thabathabai al-Hakim yang sentiasa menyurati kami dengan nasihatnasihatnya
yang banyak membimbing perjalanan saudara-saudara Syiah
kami di sana.
Begitulah akhirnya aku seringkali berziarah ke Najaf al-Asyraf dan
sempena mengunjungi ulama-ulama di sana di dalam berbagai sempena.
Aku berazam untuk menggunakan masa cuti musim panasku setiap tahun
di “pangkuan” Imam Ali; serta menghadiri pelajaran-pelajaran Syed
Muhammad Baqir as-Sadr yang banyak sekali bermenafaat bagiku. Aku
juga berazam untuk menziarahi tempat-tempat suci Imam dua belas. Dan
Allah telah mencapaikan cita-citaku itu hatta makam Imam Redha
sekalipun yang terletak di Masyhad, suatu negeri yang berhampiran
dengan perbatasan Rusia di Iran. Di sana juga aku berkenalan dengan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 194
berbagai ulama yang agung sambil banyak belajar dari mereka.
Syed Khui, marja’ yang kami taklid, juga memberiku izin untuk
menggunakan wang khumus dan zakat yang kami terima, serta
menggunakannya untuk kepentingan syiah-syiah yang ada di sekitar kami
seperti keperluan buku dan sebagainya. Di sana aku juga telah mendirikan
suatu perpustakaan yang menghimpun buku-buku rujukan serta berbagai
buku dari kedua mazhab. Nama perpustakaan itu adalah Perpustakaan
Ahlul Bait a.s. Dan Alhamdulillah telah banyak memberi faedah kepada
orang ramai.
Allah juga telah menambah kegembiraan dan kebahagiaan kami berlipat
ganda. Sekitar lima belas tahun yang lalu, Allah telah takdirkan nama
jalan tempat tinggalku sebagai Jalan Imam Ali Bin Abi Thalib a.s. Nama
jalan ini telah dipersetujui oleh ketua kampung Qafsah. Aku pun tidak
lupa untuk mengucapkan rasa terima kasihku kepada ketua kampung itu,
seorang yang cukup kuat berpegang dengan agama dan memiliki rasa cinta
yang dalam terhadap Imam Ali a.s. Lalu kuberikan kepadanya kitab Dialog
Sunnah Syiah, yang kemudian dia tunjukkan rasa cintanya dan sikap
hormatnya yang lebih dalam terhadap kami. Semoga Allah membalas
kebaikannya ini dengan setimpal dan mencapaikan apa yang dicitacitakannya.
Sebahagian orang-orang yang menaruh rasa dendam berusaha mengubah
nama jalan ini, namun Allah menginginkannya tetap ada dan kekal.
Begitulah sehingga surat-surat yang datang kepada kami dari segenap
penjuru dunia menggunakan nama jalan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. , yang
kerana namanya maka kota kami yang indah dan nyaman diberkati.
Berpandukan pada nasihat-nasihat para Imam Ahlul Bait a.s. dan ulamaulama
di Najaf, maka kami sentiasa mendekat pada saudara-saudara kami
dari berbagai mazhab yang lain. Kami juga ikut solat berjemaah bersama
mereka. Dengan itu maka ketegangan terasa lebih reda; dan kami juga
berhasil meyakinkan sebahagian pemuda-pemuda di sekitar dari soalansoalan
mereka tentang cara solat, wudhu’ dan akidah kami.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 195
Petunjuk Kebenaran
Di sebuah desa selatan Tunisia, ketika berlangsungnya sebuah kenduri,
wanita-wanita yang hadir sedang asyik membincangkan tentang seorang
isteri dari suami si Fulan. Seorang wanita tua yang berada di sekitar
mereka sangat terkejut mendengar berita perkahwinan dua orang ini.
Ketika ditanya kenapa dia tekejut, dijawabnya bahawa dua suami isteri
tersebut sebenarnya pernah menyusu darinya; dan mereka adalah adik
beradik dari satu ibu susu.
Berita besar ini dibawa pulang oleh wanita-wanita yang hadir kepada
suami mereka. Kaum lelaki yang ada di sekitar ingin membuktikan
kebenaran berita ini. Akhirnya ayah si perempuan menyaksikan bahawa
anak perempuannya memang pernah menyusu dari ibu susu yang terkenal
ini; sebagaimana ayah si lelaki ini juga menyaksikan kebenaran kata-kata
si ibu tua ini. Akibatnya dua suku ini berperang dengan tongkat dan kayu.
Masing-masing menuduh yang lain sebagai sebab musibah yang akan
menyebabkan turunnya bala Allah ini. Apatah lagi perkahwinan itu telah
berusia sepuluh tahun dan telah menghasilkan tiga orang anak.
Mendengar berita ini, si isteri lari ke rumah ayahnya. Dia tidak mahu
makan dan minum. Bahkan dia berusaha bunuh diri lantaran tidak tahan
menerima “bencana” yang sangat besar itu. Bagaimana dia dapat
menerima kenyataan bahawa suaminya adalah saudaranya sendiri dan
telah melahirkan anak-anak pula. Bilangan korban yang luka berjatuhan di
kedua belah pihak, sehinggalah orang tua yang disegani menghentikan
peperangan dan menasihati mereka agar menanyakan para alim ulama
tentang hukumnya dan mencari jalan keluar.
Mulalah mereka pergi ke kota-kota besar yang berhampiran menanyakan
para ulamanya tentang jalan keluar dari perkara ini. Setiap kali mereka
bertanya, jawapan mereka adalah perkahwinan tersebut adalah haram
dan suami isteri wajib dipisahkan seumur hidup. Mereka juga wajib
membayar fidyah dengan membebaskan hamba sahaya atau puasa dua
bulan berturut-turut atau fatwa-fatwa sejenisnya.
Mereka juga pergi ke Qafsah dan menanyakan soalan tersebut kepada
alim ulamanya. Namun jawapan mereka tetap sama. Mengingat ulamaulama
mazhab Maliki menghukumkan muhrim pada setiap anak susuan
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 196
walau sekadar satu titis sekalipun ; berdasarkan pendapat Imam Malik
yang mengkiaskan air susu dengan arak. Dalam hukum arak dikatakan
bahawa “jika banyaknya memabukkan maka sedikitnya juga haram.”
Dengan itu maka menyusui, walau setitis sekali pun adalah berhukum
muhrim.
Seorang yang hadir mencelah dan menunjukkan mereka rumahku.
Katanya: “Tanyakan pada Tijani masalah-masalah seperti ini kerana beliau
mengetahui pendapat semua mazhab.Aku saksikan beliau berhujah
dengan ulama-ulama tadi berkali-kali dan bahkan dapat mematahkan dalil
mereka.”
Ketika ku ajak mereka masuk ke dalam perpustakaanku, si suami
menceritakan segalanya kepadaku secara terperinci, dia juga berkata
demikian: “Tuan, isteriku mahu bunuh diri dan anak-anak tidak terurus.
Kami tidak mendapatkan apa-apa penyelesaian dari kemusykilan ini.
Mereka telah tunjukkanku alamatmu, dan aku sangat yakin kerana melihat
buku-buku yang sebegini banyak di perpustakaan ini yang tidak pernah
aku lihat sebelum ini. Mudah-mudahan saja anda dapat menyelesaikan
perkaraku ini.”
Kemudian aku hidangkan secawan kopi untuknya dan aku berfikir sejenak,
lalu kutanyakan kepadanya bilangan susu yang dia hisap dari si ibu tua
itu. Beliau menjawab: “Aku tidak pasti berapa tetapi isteriku menyusu
dari orang tua itu dua kali atau tiga kali sahaja. Ayahnya juga
menyaksikan bahawa dia hanya dua atau tiga kali saja membawanya pergi
ke tempat orang tua itu.” Lalu ku jawab: “Jika ini memang betul, maka
kalian bukanlah adik-beradik dan perkahwinan kalian adalah sah.”
Mendengar ini lelaki tersebut terus menerpaku dan mencium-cium
kepalaku dan tanganku. Katanya: semoga Allah membalasmu dengan
kebaikan. Anda telah membukakan pintu kedamaian di hadapanku”. Dia
terus pergi dan tidak sempat menghabiskan kopinya, bahkan tidak
bertanya lagi perinciannya atau dalil dariku. Dia hanya meminta izin untuk
pulang agar dapat segera menemui isterinya dan membawa berita
gembira untuknya, anak-anaknya serta kaum kerabatnya.
Namun esoknya dia kembali bersama tujuh orang lelaki yang lain. Katanya:
“Ini ayahku dan ini ayah isteriku. Yang ketiga itu ketua desa dan keempat
Imam Jum’ah dan Jama’ah, kelima Penghulu agama, keenam ketua suku
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 197
dan ketujuh ketua sekolah. Semua mereka datang untuk bertanya
tentang masalah menyusui tersebut dan dengan alasan apa anda
menghalalkannya?
Semua aku ajak masuk ke dalam perpustakaanku dan aku memang
menduga yang mereka akan mendebatku. Ku hidangkan mereka minuman
kopi dan kusambut mereka dengan mesra. Mereka berkata: “Kami datang
untuk bertanya akan fatwamu yang menghalalkan susuan itu sementara
Allah telah mengharamkannya di dalam alQuran dan telah diharamkan
juga oleh RasulNya, dengan sabdanya: “Telah diharamkan dengan susuan
segala apa yang diharamkan dengan cara nasab. Begitu juga Imam Malik
telah mengharamkannya.”
Aku berkata: “Wahai tuan-tuan, kalian Masya Allah lapan orang dan aku
seorang. Jika aku berbicara dengan kesemua kalian maka aku tidak akan
dapat meyakinkan kalian dengan hujahku dan diskusi kita nantinya akan
berlarutan. Aku usulkan kalian memilih salah seorang di antara kalian
sebagai juru cakap sehingga aku senang berdiskusi dengannya dan yang
lainnya menjadi hakim kami.”
Mereka terima usul tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada
penghulu agama sebagai wakil kerana lah yang paling alim dan paling arif
di antara mereka. Maka penghulu pun mulailah memulakan pertanyaannya
mengapa aku menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, RasulNya dan
para Imam?
Aku jawab: “Aku berlindung kepada Allah danri berbuat demikian. Allah
mengharamkan susuan dengan ayat yang mujmal(ringkas) dan tidak
menjelaskan secara terperinci. DiserahkanNya kepada Rasul cara dan
bagaimana perincian hukumnya.”
- “Tetapi Imam malik menghukumkan muhrim hatta dari setitis air
susu.”
- “Aku tahu. Namun Imam Malik bukanlah hujah kepada semua kaum
Muslimin. Kalau tidak maka bagaimana pendapat anda dengan imam-imam
yang lain?”
- “Semoga Allah meredhai mereka. Kesemua mereka mengambil dari
Rasul saw.”
- “Lalu bagaimana nantinya hujahmu di sisi Allah atas taklidmu kepada
pendapat Imam Malik yang bercanggah dengan nas Nabi ini?”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 198
- “Subhanallah” katanya sambil merasa hairan. “Aku tidak pernah tahu
yang Imam Malik, Imam Dar al-Hijrah, menyalahi nas-nas Nabi.”
Yang hadir juga kehairan dengan kata-kataku ini. Mereka sangat terkejut
atas sikapku yang sangat ‘berani” terhadap Imam Malik yang tidak
pernah dilihatnya sebelum ini dari ulama-ulama yang lain. Kemudian aku
menambah lagi:
- “Apakah Imam Malik dulunya dari kalangan sahabat?”
- “Bukan.” Jawabnya.
- “Apakah beliau dari kalangan Tabi’in?”
- “Bukan. Bahkan dari kalangan Tabi’it-Tabi’in, generasi keempat
setelah Nabi saw.”
- “Mana yang lebih dekat kepada Rasul; Imam Malik atau Imam Ali bin
Abi Thalib?”
- “Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah satu dari empat Khulafa’
Rasyidin.”
Salah seorang dari yang hadir berkata :
- “Sayyidina Ali Karramallahu Wajhahu adalah gerbang kota ilmu.”
- “Mengapa kalian tinggalkan gerbang kota ilmu dan ikut seorang
bukan sahabat dan bukan Tabi’in sekalipun. Bahkan seorang yang
dilahirkan setelah berlakunya berbagai pertelingkahan antara kaum
muslimin, dan setelah kota Madinah Nabi dicabuli oleh tentera Yazid dan
diperlakukan sedemikian rupa sehingga sahabat-sahabat yang terbaik
terbunuh, para wanita diperkosa dan sunnah-sunnah Nabi diubah.
Bagaimana seseorang boleh percaya sepenuhnya kepada imam-imam yang
dipersetujui oleh para penguasa saat itu, yang memberikan fatwanya
mengikut persetujuan mereka.”
Salah seorang dari mereka berkata:
- “Memang kami pernah dengar yang anda adalah seorang Syiah yang
menyembah Imam Ali.”
Serta merta sahabat yang duduk di sampingnya manamparnya dengan
agak kuat, lalu berkata:
- “Diam. Apakah anda tidak malu berkata seperti ini kepada seseorang
yang terhormat seperti beliau. Aku banyak kenal ulama, tetapi aku tidak
pernah melihat perpustakkan sebesar ini. Beliau berbicara dengan
pengetahuan yang dalam dan penuh keyakinan.”
Aku jawab:
- “Memang benar saya seorang Syiah. Tetapi Syiah tidak menyembah
Ali. mereka ikut Imam Ali sebagai ganti dari ikut Imam Malik. Kerana Ali
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 199
adalah gerbang kota olmu seperti yang kalian saksikan.”
Penghulu agama berkata: “Apakah Imam Ali menghalalkan perkahwinan
dua adik-beradik susuan?”
- “Tidak. Beliau menghukum-muhrimkannya jika si bayi menyusu
sebanyak lima belas kali dengan kenyang dan berturut-turut atau
sehingga menumbuhkan daging dan tulang.”
Mendengar ini ayah si isteri merasa sangat lega dan berkata:
- “Alhamdulillah. Anakku hanya menyusu dua atau tiga kali sahaja.
Fatwa Imam Ali ini adalah jalan keluar bagi kami dari kemusykilan ini dan
rahmat Allah kepada kami setelah puas kami mencari dan hampir-hampir
putus asa.”
Penghulu berkata: “Berikan kami dalilnya agar kami berpuashati.”
Lalu kuberikan kepada mereka kitab Minhaj as-Sholihin, fatwa Syed al-
Khui. Dibacakannya Bab Hukum Menyusui kepada mereka. Semua mereka
sangat gembira terutama si suami yang takut kalau-kalau saya tida
mempunyai dalil yang memuaskan. Mereka memohon agar aku
meminjamkan buku tersebut kepada mereka agar dapat berhujah kelak di
kampungnya. Lalu ku serahkan buku tersebut setelah mereka meminta
izin untuk pulang.
Setelah mereka keluar dari rumahku mereka berjumpa dengan seseorang
yang akhirnya membawa mereka kepada beberapa ulama-upahan.
Diugutnya mereka dan dikatakan yang aku adalah agen Israel, kitab
Minhaj as-Solihin yang kuberikan itu adalah sesat, penduduk Irak
semuanya kafir dan munafik, dan Syiah adalah Majusi yang menghalalkan
perkahwinan adik beradik. Kerana itu tidak hairan kalau aku menghalalkan
perkahwinan antaara adik beradik susu dan berbagai tuduhan lain yang
mengarut. Sedemikian rupa ancaman mereka sehingga kesemuanya
kembali seperti semula dan tidak percaya akan kebenaran pendapat yang
ku berikan.
Dipaksanya sang suami mengangkat perkara ini ke mahkamah negeri di
Qafsah. Ketua mahkamah meminta mereka pergi ke pusat dan meminta
penyelesaian dari Mufti Besar Negara. Maka pergilah orang yang malang
ini ke sana dan menunggu selama satu bulan penuh untuk dapat
menghadap mufti. Diveritakannya masalahnya dari awal hingga akhir.
Mufti bertanya tentang pendapat ulama yang menganggap sah
perkahwinan mereka. Katanya tiada siapa pun yang mengatakan demikian
kecuali seorang yang bernama at-Tijani as-Samawi. Mufti mencatat
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 200
namaku dan berkata kepada orang ini: “Pulanglah! Aku akan kirimkan
sepucuk surat kepada ketua mahkamah negeri di Qafsah.”
Tidak lama selepas itu tibalah sepucuk surat dari Mufti Besar. Kemudian
wakil orang ini memberitahunya bahawa mufti juga menghukumkan haram
perkahwinan mereka dan dianggap tidak sah.
Itulah apa yang diceritakan oleh orang yang malang dan lemah ini
kepadaku. Dia meminta maaf kerana telah menyebabkanku susah dan
terganggu. Aku juga berterima kasih kepadanya atas timbang rasanya
yang tinggi. Tetapi aku hairan kenapa mufti besar menganggap
perkahwinan seumpama itu tidak sah. Aku minta orang ini mendapatkan
lembaran tulisan yang dikirimkan oleh mufti kepada mahkamah di sini
agar aku dapat memuatnya di akhbar-akhbar Tunisia. Aku ingin katakan
bahawa mufti tidak mengetahu mazhab-mazhab Islam dan jahil akan
perbedaan-perbedaan fiqh mereka di dalam perkara susu-menyusu ini.
Orang ini berkata bahawa dia tidak dapat melihat fail perkaranya, apalagi
untuk mendapatkannya. Akhirnya kami berpisah.
Setelah beberapa hari sepucuk surat panggilan datang kepadaku dari
mahkamah. mereka memerintahkanku agar datang membawa rujukan dan
hujah atas keabsahan perkahwinan “dua adik-beradik susu” ini. Aku
datang dengan membawa berbagai buku rujukan yang telah ku teliti
sebelum ini. Setiap Bab Menyusui ku letakkan tanda agar mudah dapat
mengenalnya kelak. Aku pergi pada waktu dan jam yang ditentukan itu.
Sekretari ketua mengambil kedatanganku dan memintaku masuk ke ruang
bilik pejabat ketua. Di sana aku dikejutkan dengan kehadiran ketua
mahkamah negeri, ketua mahkamah kampung dan wakil dari pusat beserta
tiga anggotanya yang lain. Semua mereka mengenakan pakaian kebesaran
mahkamah yang seakan-akan mereka sedang berada dalam satu
perjumpaan resmi. Aku perhatikan juga di sana ada lelaki yang malang itu
duduk di sisi lain. Aku ucapkan salam kepada semua. Semua mereka
memandangku dengan sikap menghina dan jengkel. Ketika aku duduk ,
ketua mereka berbicara kepadaku dengan nada yang kasar:
- “Anda Tijani Samawi?”
- “Ya.” Jawabku
- “Anda yang memberi fatwa akan sahnya perkahwinan ini?
- “Bukan saya. Tetapi Imam-imam fiqh dan ulama kaum Muslimin yang
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 201
memberikan fatwa akan sahnya perkahwinan tersebut.”
- “Itulah kenapa kami memanggilmu. Anda sekarang dalam tuduhan.
Jika anda tidak dapat membuktikan kebenaran dakwaan anda makan anda
akan dihukum penjara. Dan dari sini anda akan terus diiring ke penjara.”
Aku sedar bahawa aku kini dalam suatu tuduhan. Bukan kerana aku
memberikan fatwa tersebut, tetapi ada beberapa ulama jahat yang
mengatakan kepada penguasa bahawa aku adalah penyuluh fitnah ,
mencaci sahabat dan menyebarkan Syiah Ahlul Bait Nabi. Ketua
mahkamah berkata bahawa jika ada dua saksi yang membuktikan
kesalahanku maka dia akan memasukkanku ke dalam penjara.
Di sisi lain, Jama’ah Ikhwan Muslimin memanipulasi fatwa ini. Mereka
sebarkan kepada kalangan umum dan khusus bahawa aku menghalalkan
nikah antara adik-beradik. Dan ini adalah pendapat Syi’ah. Begitulah
dugaan mereka.
Semua ini aku sedari ketika Ketua Mahkamah mengancamku dengan
penjara. Tiada lain bagiku waktu itu kecuali menentang dan
mempertahankan deri dengan penuh keberanian. Kukatakan kepada ketua:
“Apakah saya boleh bercakap dengan terus terang dan tanpa takut?”
- “Bercakaplah. Tetapi anda tidak mempunyai pembela.”
- “Pertama-tama, aku tidak mengangkat diriku sebagai mufti. Ini
suami perempuan itu berada di hadapan kalian dan tanyakan kepadanya.
Dialah yang datang ke rumahku dan bertanya kepadaku. Sudah tentu aku
wajib mengjawabnya mengikut apa yang aku tahu. Aku tanyakan
kepadanya berapa kali dia minum susu tersebut. Ketika diberitahunya
bahawa isterinya menyusu dua atau tiga kali sahaja maka aku
memberitahu kepadanya hukum Islam yang benar. Dalam hal ini aku bukan
seorang yang mujtahid dan bukan pula seorang yang mengadakan syariat
baru.”
- “Aneh. Anda sekarang mendakwa yang anda tahu akan hukum Islam
dan kami jahil.”
- “Astaghfirullah. Aku tidak bermaksud demikian. Semua orang di sini
tahu apa pendapat mazhab Imam Malik dan hanya berhenti pada
pendapatnya saja, sementara aku menelitinya dalam berbagao mazhab
dan mendapatkan cara penyelesaiannya di sana.”
- “Di mana anda dapatkan jalan penyelesaiannya?” tanya ketua.
- “Sebelum itu bolehkah aku bertanya satu soalan hai ketua?”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 202
- “Tanyakanlah apa yang kau mahu.”
- “Apa pendapat anda tentang mazhab-mazhab Islam yang lain?”
- “Semua benar. Semua mereka mengambilnya dari Nabi; dan
perselisihan yang ada adalah rahmat.”
- “Kalau demikian maka kasihanilah orang yang malang ini (sambil
menunjuk ke arah orang tersebut) yang telah dua bulan lebih berpisah
dengan isteri dan anak-anaknya. Padahal di sana ada mazhab Islam lain
yang memberinya penyelesaian.”
Dengan nada marah ketua itu berkata:
- “Bawakan dalilnya dan jangan berdolak dalik. Kami telah berikan hak
kepadamu untuk membela dirimu; dan sekarang kau mahu membela orang
lain.”
Kuberikan kepadanya kitab Minhaj as-Solihin, fatwa Syed al-Khui.
Kukatakakan kepadanya bahawa ini adalah mazhab Ahlul Bait. Di dalamnya
memuat berbagai dalil. Kemudianbeliau memotong kata-kataku: “Jangan
libatkan kami dengan mazhab Ahlul Bait. Kami tidak mengenalnya dan
tidak beriman kepadanya.”
Aku memang menduga demikian. Kerana itu aku bawa bersamaku
beberapa buku rujukan Ahli Sunnah Wal Jamaah yang telah ku kaji dan
ku susun sejauh pengetahuanku. Kuletakkan Sahih al-Bukhori di bahagian
pertama. Kemudian Sahih Muslim. Lalu kitab fatwa Syaltut, Bidayah al-
Mujtahid Wa Nihayah al-Muqtasid karangan Ibnu Rushd, kitab Zad al-
Masir Fi I’lmi at-Tafsir karangan Ibnu al-Jauzi dan beberapa buku
rujukan lain dari kalangan Ahli Sunnah.
Ketika pengetua menolak kitab Syed al-Khui, kutanyakan keadanya kitab
apa yang beliau pegang dan jadikan rujukan. “Bukhori dan Muslim,”
katanya. Lalu ku ambil kitab Sahih al-Bukhori dan kubukakan halaman
yang telah ku tandakan. “Silakan baca hai yang arif.” kataku
mempersilakan. “Engkau baca.” Mintanya kepadaku. Lalu kubaca: “Telah
diriwayatkan oleh Fulan daripada si Fulan dan daripada A’isyah Ummul
Mukminin yang berkata: “Rasulullah saw meninggal dan tidak menjatuhmuhrimkan
susuan melainkan setelah lima susuan atau lebih.”
Maka pengetua tersebut mengambil buku itu dariku dan membacanya.
Kemudian diberikannya kepada wakil dari pusat yang duduk di
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 203
sampingnya. Lalu dibacanya dan diberikannya pula kepada orang yang
duduk di sisinya. Kemudian aku keluarkan pula kitab Sahih Muslim dan
kubukakan pula hadis yang sama. Lalu kitab Fatwa Syaikh al-Azhar
Mahmud Syaltut, di mana beliau telah menjelaskan berbagai perbezaan
pendapat para imam fiqh tentang perkara susu-menyusu ini. Ada
sebahagian pendapat mengatakan bahawa ia akan jatuh muhrim setelah
lima belas kali susuan; pendapat lain mengatakan setelah tujuh kali
susuan, dan pendapat berikutnya di atas lima kali susuan. Melainkan Imam
Malik yang menyalahi nas dan menjatuh-muhrimkan walau satu titis
sekalipun. Kemudian Syaltut berkata: “Aku condong pada pendapat yang
tengah, yakni tujuh kali susuan atau lebih.”
Setelah ketua mahkamah mengetahui semua itu, beliau berkata:
“Cukuplah.” Kemudian beliau memandang pada suami wanita tersebut dan
berkata: “Engkau pergi dan bawa ayah isterimu ke mari untuk
menyeksikan di hadapanku bahawa anaknya menyusu hanya dua atau tiga
kali saja. Kalau betul maka kau boleh ambil isterimu semula hari ini juga.
Orang yang malang ini pun pergi. Wakil dari pusat dan hadirin yang lain
meminta izin keluar meneruskan tugas masing-masing. Ketika majlis itu
lengang, pengetua tersebut menghadapku sambil meminta maaf. Katanya:
“Maafkan aku hai Ustaz. Mereka telah mengelirukan aku tentang dirimu.
Mereka berkata tentang hal yang aneh-aneh atas dirimu. Sekarang aku
tahu yang mereka hasad dan dengki kepadamu.”
Hatiku sangat gembira melihat perubahan kilat seperti itu. Aku berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanku di tanganmu hai
pengetua yang arif.”
- “Aku dengar anda juga mempunyai buku Hayat al-Hayawan al-Kubro
karya ad-Dumairi?” Tanyanya kepadaku.
- “Ya.” Jawabku.
- “Bolehkah anda pinjamkan padaku? Telah dua tahun aku mencari
buku itu.”
- “Ia adalah milikmu bila saja kau mahu.”
- “Apakah anda mempunyai masa untuk datang ke pejabatku agar kita
berbincang dan belajar darimu.” Pintanya.
- “Astaghfirullah. Saya yang seharusnya belajar darimu. Anda adalah
orang yang lebih tua dan lebih agung dariku. Saya ada empat hari cuti
dalam seminggu. Saya sentiasa hadir menerima jemputanmu.”
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 204
Akhirnya kami sepakat setiap hari Sabtu untuk dapat duduk bersama,
kerana hari itu beliau tidak disibukkan dengan urusan mahkamah. Setelah
beliau memintaku meninggalkan kitab Bukhori dan Muslim serta kitab
Fatwa Syaltut untuk dapat disalinnya semua nas-nas yang ada, beliau
sendiri berdiri dan menghantarku pulang sehingga pintu tanda satu
penghormatan.
Aku keluar dengan hati yang sangat gembira sambil memuji-muji Allah
atas kejayaan ini di mana sebelumnya aku masuk dalam keadaan takut dan
diancam penjara. Kini aku keluar dari mahkamah dan pengetuanya telah
menjadi seorang sahabat yang dekat, menghormatiku dan memintaku
menemaninya agar dapat “belajar”. Semua ini adalah berkat Ahlul Bait
yang tiada akan rugi orang yang berpegang kepada mereka dan akan aman
orang yang merujuk kepada mereka.
Suami yang malang tadi menceritakan semua apa yang dilihatnya kepada
penduduk desanya sehingga berita itu tersebar ke seluruh pelusuk desa
yang ada di sekitarnya. Dia kini kembali bersama-sama isterinya dan
perkara perkahwinannya dianggap sah. Prang-prang mula berkata yang
aku lebih alim dari semua, hatta dari mufti besar sekalipun.
Si suami ini kemudian datang ke rumahku dengan keretanya yang besar,
ingin mengajak aku dan keluargaku ke desanya. Dia memberitahuku
bahawa semua keluarganya sedang menunggu kedatanganku. Mereka akan
sembelih tiga ekor anak unta sebagai tanda kesyukuran dan kegembiraan.
Tetapi aku meminta maaf kerana tidak dapat hadir lantaran kesibukanku
di Qafsah. Kukatakan kepadanya bahawa aku akan mengunjungi kalian di
masa lain Insya Allah.
Lalu pengetua mahkamah tadi pun menceritakan kejadian itu kepada
sahabat-sahabatnya sehingga tersebarlah cerita itu dan Allah telah
menolak tipu daya orang-orang yang menipu. Sebahagian mereka datang
meminta maaf dan sebahagian lagi Allah bukakan hatinya untuk menerima
hidayat dan kebenaran sehingga mereka ikut mazhab Ahlul Bait dan
menjadi orang-orang yang mukhlisin. Semua ini adalah kurnia Allah yang
Dia berikan kepada mereka yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha
Pemberi Kurnia Yang Agung.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 205
Wa Akhiru Da’wana Anil Hamdulillahi Rabbil A’lamin. Wa Sollallahu A’la
Sayyidina Muhammadin Wa A’la A;lihi at-Thayyibin Wat Tahirin.
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 206
Nota Kaki
1. Sahih Bukhari J.2; Sahih Muslim J. 5, hlm. 75; Musnad Ahmad bin
Hanbal J.1 hlm.355; J.5, hlm. 116; Tarikh Tabari, J. 3, hlm. 193; Tarikh
Ibnu Athir, J.2, hlm. 320.
2. Tabaqat Ibnu Saad, J.2, hlm. 190; Tarikh Ibnu Athir, J.2 hlm. 317;
Sirah Halabiyyah, J.3, hlm. 207; Tarikh Tabari, J.3, hlm. 226.
3. Lihat al-Khilafah Wal Muluk oleh al-Maududi dan Yaum al-Islam oleh
Ahmad Amin.
4. Syarah Nahjul Balaghah Oleh Ibnu Abil Hadid, J.8, hlm.111.
5. Tarikh Ya’qubi, J.2, hlm. 106.
6. Futuh al-Buldan, hlm. 437.
7. Sahih Bukhari, J.1, hlm. 52.
8. Tarikh Tabari Dan Tarikh Ibnu Athir.
9. Al-Imamah Wa Siasah oleh Ibnu Qutaibah.
10. Lihat an-Nas Wal-Ijtihad oleh Syarafudin al-Musawi.
11. Sahih Bukhari, J.4 hlm. 94-96; J.3 hlm. 32; Sahih Muslim, J.7, hlm.
66.
12. Sahih Bukhari, J.4, hlm. 100-101
13. Muruj az-Zahab oleh Masudi, J.2, hlm. 341.
14. Ibid.
15. Ibid.
16. Sahih Bukhari, J.1, hlm. 122.
17. Al-Khalifah Wal Muluk oleh al-Madudi, hlm. 106
18. Sahih Muslim, J.1, hlm. 61.
19. Sahih Bukhari, J.2, hlm. 305; Mustadrak al-Hakim, J.3, hlm. 109.
20. Sahih Bukhari, J.1, hlm. 76; Sahih Tirmidzi, J.5, hlm. 300; Sahih
Ibnu Majah, J.1, hlm. 44.
21. Sahih Muslim, J.1, hlm. 61; Sunan an-Nasai, J.6, hlm. 117.
22. Sahih Tirmidzi, J.5, hlm. 201; Mustadrak al-Hakim, J.3, hlm. 126.
23. Musnad Ahmad bin Hanbal, J.5, hlm. 25; Mustadrak al-Hakim, J.3,
hlm. 134.
24. Sahih Muslim, J.2, hlm. 362; Mustadrak al-Hakim, J.3, hlm. 109;
Musnad Ahmad bin Hanbal, J.4, hlm. 281.
25. Mustadrak, al Hakim, jilid 3 ms 121;Khasais, al Nasai, ms 24;Musnad,
Ahmed Hanbal, jilid 6 ms 33;Al Manaqib, al Khawarizmi, ms 81;Al Riyadh
al Nadira, Tabari, jild 2 ms 219;Tarikh, as Suyuti, ms 73.
26. Sahih, Bukhari, jilid 1, ms 74
27. Sahih, Bukhari, jilid 2 ms 154 ;Sahih, Muslim, jilid 1 ms 260
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 207
28.Sahih, Muslim, jilid 2 ms 134
29. Sahih, Bukhari, jilid 1 ms 54
30. Sahih, Bukhari, jilid 1 ms 135
31.Sahih, Bukhari, jilid 3 ms 32
32. Sahih, Bukhari, jilid 2 ms 201
33. Minhaj as Sunnah, Ibn Taymiyya, jilid 3 ms 131; Hilyat al Awliya, Ibn
Abi Nuaym, jilid 1 ms 52
34. Tarikh, Tabari, ms 4;al Riyadh al Nadira, jilid 1 ms 134; Kanz al
Ummal, ms 361
Minhaj as Sunnah, Ibn Taymiyya, jilid 3 ms 120
35. Tarikh Tabari hlm. 41; Riyadh an-Nadhirah, J.1, hlm. 134; Kanzul
Ummal, hlm. 361; Minhaj as-Sunnah Oleh Ibnu Taimiyyah, J.3, hlm. 120
36. Sahih Bukhari, J.2, ms 206
37. al Imamah Was Siyasah, Ibn Qutaybah, jilid 1ms 20; Muhammad
Baqir al Sadr, Fadak dalam Sejarah, ms 92
38. Sahih, Bukhari, jilid 1 ms 127, 130, jilid 2 ms 126, 205
39. Sahih, Bukhari, jilid 3 ms 39
40. Tarikh al Khulafa, Ibn Qutaybah, jilid 1 ms 20
41. Sahih, Muslim, jilid 7 ms 121, 130
42. Tarikh al Khulafa, jilid 1 ms 20
43. Ibid.
44. Sahih, Bukhari, jilid 3 ms 39
45. Tarikh, Tabari, jilid 4 ms 407;Tarikh, Ibn Athir, jilid 3 ms 206; Lisan
al Arab, jilid 14 ms 193; Taj al Arus, jilid 8 ms 141; Al Iqd al Farid, jilid 4
ms 290
46. al Imamah was Siyasah
47. Al Tabari, Ibn al Athir dan ahli sejarah yang lainnya yang menulis
mengenai kejadian didalam dalam tahun ke 36 selepas hijrah
48. Sahih, Bukhari, jilid 1 ms 48
49. Al Tabari, Ibn al Athir, yang menulis kejadian didalam tahun ke 40
hijrah
50. Ibid Tahun 36H.
51. Sahih, Bukhari, jilid 4 ms 161
52. Sahih Bukhari, jilid 2 ms 128
53. Sahih al Tirmidhi; al Istiab, Ibn Abd al Barr, Biography of Safiyya
54. Sahih, Bukhari, jilid 3 ms 68
55. Baca Khalifah Dan Kerajaan oleh Syed Abdul A’la Maududi
56. Hayat al Haywan al Kubra, al Damiri
57. Muwatta, Malik, jilid 1 ms 307; Maghazi,al Qawidi, ms 310
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 208
58. Sahih, Bukhari, jilid 3 ms 307
59. Sahih, al Tirmidhi, jilid 5 ms 296; Khasai’s, al Nasai, ms 87;
Mustadrak, al Hakim, jilid 3 ms 110
60. Musnad, Ahmed Hanbal, jilid 4 ms 281; Siyar al Amin, al Ghazali, ms
12;Tadhkirat al Awas, Ibn al Jawzi, ms 29;Al Riyadh al Nazarah, al
Tabari, jilid 2 ms 169;Al Bidayah wan Nihayah, jilid 5 ms 212;Tarikh, Ibn
Asakir, jilid 2 ms 50;Tafsir, al Razi, jilid 3 ms 63;Al Hawi Lil Fatawi, al
Suyuti, jilid 1 ms 112
61. Tarikh, al Tabari;Ibn al Athir;Suyuti;Baghdadi
62. Tarikh al-Khulafah oleh Ibnu Qutaibah, J.1, ms 18
63. Sahih, Bukhari, jilid 4 ms 127
64. Sharh, Muhammad Abduh, jilid 1 ms 34, sermon as Shaqshaqiyah
65. Tarikh, Qutaybah, jilid 1 ms 17
66. al Saqifah wal Khulafah oleh Abdul Fattah Abdul Maqsood
67.Tarikh, Qutaybah, jilid 1 ms 19;Shahrah, Ibn al Hadid
68. Sahih, Bukhari, jilid 3 ms 36;Sahih, Muslim, jilid 2 ms 72
69. Dengan rujukkan dia menunggang unta semasa peperangan jamal
70. Dengan rujukkan dia menunggang keldai pada hari dia menghalang
pengkemumian al-Hasan bersebelahan datukandanya
71.Sharh Nahj al Balagha, Ibn al Hadid, jilid 16 ms 220 – 223
72. al Mustadrak, al Hakim, jilid 3 ms 107;al Manaqib, al Khawarizmi, ms
3 dan ms 9;Tarikh, Suyuti, ms 168;Al Sawaiq al Muhriqah, Ibn Hajar ms
72;Tarikh, Ibn Asakir, jilid 3 ms 63;Shawahid at Tanzil, al Haskani al
Hanafi, jilid 1 ms 19
73. Qadi Ismail, al-nasa’I dan Abu Ali al-Naisaburi berkata: Tidak ada
para sahabat yang mempunyai sebanyak kemuliaan yang diucapkan
kepadanya sebagaimana Ali
74. Sahih, Bukhari, jilid 2 ms 202
75. Fath al Bari [Sharah al Sahih Bukhari] jilid 7 ms 83;Tarikh, Suyuti,
ms 199;Al Sawaiq al Muhriqah, ms 125
76. Muwatta, Malik, jilid 1 ms 307 ;Maghazi, al Waqidi ms 310
77.Sahih, al Tirmidhi, jilid 4 ms 339;Musnad, Ahmed Hanbal, jilid 2 ms
319;Mustadrak, al Hakim, jilid 3 ms 51]
78. Sahih Muslim
79. Sahih Bukhari, J.4. hlm. 184
80. al Imamah was Siyasah, Qutaybah, jilid 1 ms 14;al Jahiz, ms
301;A’alam al Nisa, jilid 3 ms 1215
81. Tarikh al-Tabari, J.4, hlm.52; Imamah wal-Siyasah, J.1, hlm. 18;
Tarikh Masudi, J.1, hlm. 414
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 209
82. Tazkirah al-Khawas, hlm. 23; Tarikh ibnu Asakir, J.1, hlm.107;
Manaqib al-Khawarizmi, hlm.7; Fusul al-Muhimmah oleh al-Maliki, hlm.21
83. Mustadrak al-Hakim, J.3, ms 48; Tarikh Ibnu Kathir, J.7, ms 358
84. Al-Isti’ab, J.3, ms 39; Manaqib al-Khawarizmi, ms 48; Riyadh
Nadhirah, J.2, ms 194
85. Ibid, J.2, hlm.198; Tarikh al-Khulafa, ms 124; Al-Itqan, J.2, 319;
Fath al-Bari, J.8, 485
86. Sunan ad-Darimi, J.1, ms 54; Tafsir Ibnu Kathir, J.4, ms 232; Ad-
Dur al-Manthur, J.6, ms 111
87. Sunan Ibnu Majah, J.1, ms 44; Khasais Nasai, ms 20; Sahih Tirmidzi,
J.5, ms 300; Jami Saghir oleh Suyuti, J.2, ms 56; Riyadh Nadhirah, J.2,
ms 229
88. Tarikh Ibnu Asakir, J.2, ms 448; Kunuz al-Haqaiq oleh al-Maulawi, ms
293; Kanzul Ummal, J.5, ms 33
89. Tarikh Tabari, J.2, ms 319; Tarikh Ibnu Athir, J.2, ms 62; As-Sirah
al-Halabiah, J.1, ms 311; Syawahid at-Tanzil oleh Hasakani, J.1, ms 371;
Kanzul Ummal J.15, ms 15; Tarikh Ibnu Asakir, J.1, ms 85; Tafsir al-
Khazin oleh Alauddin as-Syafie, J.3, ms 371; Hayat Muhammad oleh
Hasanain Haikal Edisi Pertama
90. Sahih Muslim, J.5, ms 122; Sahih Turmidzi. J.5, ms 328; Mustadrak
al-Hakim, J.3, ms 17
91. Lihat Sunan Nasa’i, Turmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud.
92.Kata-kata “sunnahku” tidak diriwayatkan oleh mana-mana kitab hadith
yang enam (Sahih as-Sittah).Ianya diriwayatkan hanya dalam al-Muwatta
Imam Malik bin Anas. Hatta Tabari ketika meriwayatkan hadith ini beliau
merujuk kepada kitab Imam Malik ini.
93. Sahih Muslim, J.8, ms 151
94. Tarikh Tabari, J.3, ms 280; Tarikh al-Fida, J.1,ms 158; Tarikh al-
Yaqubi, J.2, ms 110; Al-Isabah, J.3, ms 336
95. Tarikh al-Fida, J.1, ms 158; Tarikh Yaqubi, J.2, ms 110; Tarikh Ibnu
Shihnah, J.11, ms 114; Wafayat al-A’yam, J.6, ms 4
96. As-Siddiq Abu Bakar oleh Haikal, ms 151
97. Sahih Bukhari, J.4, ms 171
98. Sirah Ibnu Hisham, J.4, ms 53; Tabaqat Ibnu Saad; Usud al-Ghabah,
J.3, ms 102
99. As-Siddiq Abu Bakar, ms 151
100. Tarikh Tabari, J.3, ms 254; Tarikh al-Khamis, J.3, ms 343
101. Mustadrak al-Hakim, J.3, ms 151; Yanabi al-Mawaddah, ms 30, 370;
Sawaiq al-Muhriqah, ms 184, 234
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 210
102. Lihat Is’af ar-Raghibin dan Jami’ as-Saghir
103. Mustadrak al-Hakim, J.3, ms151; Jami’ al-Kabir oleh Tabrani; al-
Isabah; Kanzul Ummal, J.6, ms 155; al-Manaqib oleh Khawarizmi, ms
34;Yanabi al-Mawaddah, ms 149; Hilyah al-Auliya’, J.1, ms 86; Tarikh
Ibnu Asakir, J.2, ms 95
104.Munaqasyat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan, ms 29
105. Sahih Bukhari, J.7, ms 121; Sahih Muslim, J.5, ms 75
106. Sahih Bukhari, J.3, ms 68; Sahih Muslim, J.2, ms 14
107. Tabaqat Ibnu Saad, Bhg.2, ms 29
108. Seperti perkara talak tiga – lihat Sahih Muslim Bab Talak Tiga, juga
lihat Sunan Abi Daud,J.1, ms 344
109. Seperti perkara larangan atas muta’ah Haji dan muta’ah wanita -
lihat Sahih Muslim Bab haji dan Bukhari bab Tamattu’.
110. Tarikh Ibnu Asakir, J.2, ms 484; Maqtal Husayn oleh Khawarizmi,
J.1, ms 38; Al-Ghadir oleh al-Amini, J.3, ms 120
111. Sahih Bukhari, J.4, ms 164; Sahih Muslim, ms 119
112. Yanabi al-Mawaddah oleh al-Qunduzi al-Hanafi
113. Ad-Dur al-Manthur oleh Suyuti, J.2., ms 60; Usud al-Ghabah, J.3,
ms 137; Sawaiq al-Muhriqah ,ms 148, 226; Yanabi al-Mawaddah, ms 41,
335; Kanzul Ummal, J.1, ms 168; Majma az-Zawaid, J.9, ms 163
AKHIRNYA AKU TEMUI KEBENARAN
Pustaka Pribadi Notaris Herman ALT Page 211

baghdad

Dialog Agama KITAB MUKTAMAR ULAMA’ BAGHDAD Dialog Abad Ke-5 Hijrah MUQAATIL BIN ‘ATIYYAH BIN MUQAATIL AL-BAKRI 5 ¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤ Diterjemahkan dari buku aslinya Kitab Muktamar Ulama‘ Baghdad Karya Muqaatil bin ‘Atiyyah bin Muqaatil al-Bakri Cetakan Bahasa Arab: Qum, 1399 H ____________________________________________ Dr. Ibrahim A. Hassan ____________________________________________ Hak terjemahan dilindungi undang-undang All rights reserved _____________________________________________ Cetakan Ketiga: Oktober, 1994 _____________________________________________ _____________________________________________ Edisi Bahasa Arab Kitab Muktamar Ulama’ Baghdad, cetakan ke 3, Qum, 1399 H ___________________________________________________ Edisi Bahasa Melayu Copyright @ Dr. Ibrahim A. Hassan PRAKATA Bismillahir Rahmanir Rahim Al-Hamdulillahi Rabbi l-‘Alamin. Selawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya yang suci serta para sahabat yang terpilih. Adapun kemudian daripada itu, sesungguhnya Kitab Muktamar Ulama‘ Baghdad adalah tulisan Thiqat al-Jalil Abi al-Hijaa’ Syibl al-Daulat Muqaatil bin ‘Atiyyah bin Muqaatil al-Bakri. Beliau adalah di kalangan mereka yang telah menghadiri muktamar antara Ahl al-Sunnah dan Syi‘ah di Madrasah Nizamiyyah di Baghdad pada bulan Sya‘ban (sebelum 12 haribulan Ramadan, 485 hijrah). Iaitu tarikh kematian Nizam al-Mulk. Kemungkinan muktamar ini telah diadakan pada bulan Sya‘ban di tahun yang sama; iaitu 485 hijrah. Muktamar ini adalah dibawah naungan Sultan Malik Syah Saljuqi dan diselenggarakan oleh wazirnya bernama Khawajah Nizam al-Mulk Abi al-Hasan al-Khurasaani. Kitab Muktamar Ulama‘ Baghdad ini dicetak oleh Hujjatul Islam Sayyid Hidayatullah al-Mustarhami al-Isfahani al-Jarquuni di Qum pada tahun 1399 H (cetakan ke 3/4). Manuskrip buku ini telah didapati di Maktabah Raja Mahmud Abad pada tahun 1300H dengan khat penulis: Muqaatil bin ‘Atiyyah yang asalnya bermazhab Hanafi, kemudian bertukar kepada mazhab Syi‘ah Imam Dua Belas. Buku ini telah diberi kata pengantar oleh Ayatullah al-‘Uzma Abi al-Mu‘aali al-Sayyid Syihab al-Din al-Husaini al-Mar‘asyi al-Najafi. Antaranya beliau berkata: “Sekiranya Ahl al-Sunnah membacanya dengan insaf, nescaya mereka akan dapat manfaatnya”. Akhirnya beliau berkata: “Aku berharap daripada saudara-saudaraku di kalangan Syi‘ah keluarga Rasul s.a.w membacanya dan mengambil pencerahan daripada cahaya-cahayanya, mudah-mudahan Allah menjaga mereka daripada setiap penyakit, memberi taufik kepada mereka bagi mendapatkan ilmu agama dan hukum syarak” Muqaatil berkata: “Sesungguhnya aku telah menghadiri muktamar dan dialog di Baghdad. Aku telah menulis setiap apa yang berlaku di muktamar itu, tetapi aku membuang apa yang tidak perlu dan sekarang aku mengemukakan [kepada anda] apa yang telah berlaku di muktamar itu di dalam buku ini. Muktamar tersebut berlangsung selama tiga hari, diwakili oleh sepuluh orang ulama Ahl al-Sunnah dan sepuluh orang ulama Syi‘ah yang pakar di dalam sejarah, hadis, tafsir dan debat. Nizam al-Mulk sebagai pengerusi muktamar. Ia telah berjalan mengikut syarat-syarat yang telah dipersetujui bersama oleh Ahl al-Sunnah dan Syi‘ah, dihadiri oleh Malik Syah, ketua-ketua tentera, para ulama dan lain-lain selama tiga hari berturut-turut. Muktamar ini diadakan atas desakan Malik Syah yang tidak berpuas hati dengan seorang ulama sunni yang mengkafirkan seorang ulama Syi‘ah bernama al-Husain bin Ali al-‘Alawi, kerana baginya Sunnah dan Syi‘ah adalah muslimun. Beliau adalah seorang yang mempunyai fikiran terbuka dan ingin mengetahui kebenaran. Di samping itu, beliau menghabiskan masanya dengan permainan dan perburuan. Di akhir muktamar, selepas berdialog, beliau mengisytiharkan dirinya sebagai seorang Syi‘ah dengan meninggalkan mazhab moyangnya Ahl al-Sunnah (Hanafi). Kerana beliau yakin bahawa kebenaran adalah di pihak Syi‘ah. Pada muktamar yang sama, Nizam al-Mulk (bapa mentua penulis) mengisytiharkan dirinya sebagai seorang Syi‘ah, kerana kekuatan hujah dan dalil Syi‘ah. Kemudian diikuti pula oleh para hadirin yang lain. Meskipun begitu, terdapat para ulama yang masih kekal dengan mazhab Ahl al-Sunnah kerana mengikuti moyang mereka yang terdahulu. Malik Syah dan Nizam al-Mulk yang berfikiran terbuka tidak memaksa mereka supaya mengikuti mazhab Syi‘ah, kerana ia terserah kepada kehendak mereka. Disebabkan kefanatikan dan kedengkian, golongan Ahl al-Sunnah telah merancang untuk membunuh mereka berdua, kerana mereka berdua, mengikut pandangan Ahl al-Sunnah, menjadi sebahagian faktor berlakunya pertukaran mazhab beramai-ramai daripada mazhab Ahl al-Sunnah kepada mazhab Syi‘ah Imam Dua Belas di Baghdad. Akhirnya mereka telah berjaya membunuh Nizam al-Mulk pada 12 haribulan Ramadan 485 hijrah. Kemungkinan beberapa minggu selepas diadakan muktamar di Madrasah Nizamiyyah. Kemudian mereka membunuh pula Malik Syah Saljuqi. Mereka berdua telah dibunuh pada jalan Allah, kerana mengikuti kebenaran mazhab Syi‘ah, mazhab Ahl al-Bait Rasulullah s.a.w. Semoga Roh mereka diberkati Allah. Terjemahan buku ini adalah khusus untuk mereka yang berpegang kepada mazhab Syi‘ah Imam Dua Belas atau mazhab Ja‘fari SAHAJA. Penterjemah: Dr. Ibrahim A. Hassan 18 hb. Oktober, 1994. KANDUNGAN PRAKATA 3 BAHAGIAN PERTAMA 9 Pendahuluan, Latar Belakang Malik Syah Dan Nizam al-Mulk, Sebab Yang Mencetuskan Dialog, Dialog Raja Dengan Wazirnya Tentang Syi‘ah, Cadangan Bagi Mengadakan Dialog Antara Sunnah Dan Syi‘ah, Demi Kebenaran, Syarat-Syarat Dialog Dan Lain-Lain. Pendahuluan 9 Latar belakang Malik Syah dan Nizam al-Mulk 9 Sebab yang mencetuskan dialog 10 Dialog raja dengan wazirnya tentang Syi‘ah 10 Cadangan bagi mengadakan dialog antara Sunnah dan Syi‘ah 11 Keengganan Nizam al-Mulk untuk mengadakan dialog 11 Desakan raja Malik Syah supaya diadakan dialog 11 Demi kebenaran 11 Penawar dan penyelesaiannya 12 Kekhuatiran Nizam al-Mulik untuk mengadakan muktamar 12 Persedian dialog hanya lima belas hari 13 Syarat-syarat dialog 13 Pembukaan muktamar 13 Dialog tentang sahabat 14 Wazir mahu campur tangan 14 Al-‘Abbasi cuba mendapat Sokongan Raja 15 Rasul Mencaci Abu Bakr dan Umar 15 Raja meminta penjelasan 16 Raja meminta pertukaran tajuk 16 Al-Qur’an 16 Raja meminta penjelasan 17 BAHAGIAN KEDUA 18 Khalifah, Raja Meminta Penjelasan, Mengikuti Mereka Terdahulu, Khalifah Rasulullah, Penyelewengan al-Qur’an, Raja Meminta Pertukaran Tajuk, Sifat Tuhan, Muhkamah Dan Mutasyaabihah Dan Lain-Lain. Khalifah 18 Raja meminta penjelasan 19 Mengikuti mereka terdahulu 19 Khalifah Rasulullah 19 Raja meminta penjelasan 20 Raja meminta pertukaran tajuk 20 Penyelewengan al-Qur’an 20 Raja meminta pertukaran tajuk 21 Sifat Tuhan 22 Raja meminta penjelasan 22 Muhkamah dan mutasyaabihah 23 Raja meminta pertukaran tajuk 24 Penyelewengan dan kebatilan Ahl al-Sunnah 24 Raja meminta penjelasan 25 Rasulullah s.a.w syak pada kenabiannya 25 Raja meminta penjelas Mencaci Rasulullah s.a.w 25 Raja mencelah 26 Khurafat-khurafat Ahl al-Sunnah 26 Raja meminta pertukaran tajuk 27 Mengaitkan perkara yang tidak layak 27 Raja mencelah 28 Raja meminta pertukaran tajuk 28 Syi‘ah mengingkari iman mereka bertiga 29 BAHAGIAN KETIGA 32 Dalil Tidak Berimannya Abu Bakr, Raja Mencelah, Dalil Tidak Berimannya Umar, Raja Meminta Penjelasan, Al-‘Abbasi Cuba Menghalang Raja Dari Menukar Mazhab, Saat-Saat Kesusahan Menimpa Al-‘Abbasi, Raja Meminta Penjelasan Dan Lain-Lain. Dalil tidak berimannya Abu Bakr 32 Raja mencelah 32 Dalil tidak berimannya Umar 33 Raja meminta penjelasan 33 Al-‘Abbasi cuba menghalang raja dari menukar mazhab 34 Saat-saat kesusahan menimpa al-‘Abbasi 34 Dalil tidak berimannya Uthman 34 Raja meminta penjelasan 35 Menjadi khalifah dengan wasiat Umar 35 Hadis sepuluh orang dijamin syurga adalah palsu 36 Raja meminta penjelasan 37 Apakah syaitan memaafkan orang yang bercakap benar? 37 Al-‘Alawi bersedia untuk membawa kitab-kitab rujukan 37 Raja meminta penjelasan 38 Mencaci sahabat 38 Kata-kata semua sahabat adil satu pembohongan 38 Bagaimana kaum muslimin mengambil mereka sebagai khalifah dan mengikuti mereka 38 Raja meminta pertukaran tajuk 39 Kesamaran Ahl al-Sunnah 39 Syi‘ah mengikuti khalifah Rasulullah s.a.w 40 Sebab Ali a.s tidak layak menjadi khalifah 40 Orang ramai adalah lebih alim daripada Allah dan Rasul? 40 BAHAGIAN KEEMPAT 42 Kelayakan Ali A.S Menjadi Khalifah, Raja Meminta Penjelasan, Penentangan Umar Terhadap Rasulullah S.A.W, Raja Meminta Penjelasan, Raja Mencelah, Raja Tertarik Tentang Mut‘ah, Raja Meminta Hadirin Turut Berdialog Dan Lain-Lain. Kelayakan Ali a.s menjadi khalifah 42 Raja meminta penjelasan 43 Penentangan Umar terhadap Rasulullah s.a.w 44 Raja meminta penjelasan 46 Raja mencelah 46 Raja tertarik tentang mut‘ah 47 Raja meminta para hadirin turut berdialog 48 Raja meminta pertukaran tajuk 48 Pembukaan Umar 48 Raja memarahi pembukaan Umar dan seumpamanya 49 Raja meminta al-‘Abbasi menjawab 49 Ikutilah khalifah Rasulullah s.a.w yang sah 49 Pembukaan Ali bin Abu Talib 50 Sebab-sebab kebencian kepada Abu Bakr 50 Raja meminta penjelasan 50 Jenayah Khalid bin al-Walid dan zinanya 51 Umar mahu membunuh Khalid, Abu Bakr menegahnya 51 Raja meminta penjelasan 52 BAHAGIAN KELIMA 53 Ahl Al-Sunnah Merupakan Musuh-Musuh Ali Bin Abu Talib?, Abu Talib Seorang Mukmin, Raja Meminta Penjelasan, Al-‘Abbasi Mengakui Abu Bakr Telah Bersalah, Raja Menjadi Hairan, Abu Bakr Dan Umar Merampas Fadak Daripada Fatimah, Kebenaran Bersama Syi‘ah Dan Lain-Lain. Ahl al-Sunnah merupa musuh-musuh Ali bin Abu Talib? 53 Abu Talib seorang mukmin 53 Raja meminta penjelasan 54 Perasaan dengki Ahl al-Sunnah terhadap Ali bin Abu Talib a.s 54 Raja meminta penjelasan 54 Al-‘Abbasi mengakui Abu Bakr telah bersalah 55 Raja mencelah 55 Raja meminta penjelasan 56 Fatimah a.s memarahi Abu Bakr dan Umar 56 Raja meminta penjelasan 56 Raja menjadi hairan 57 Abu Bakr dan Umar merampas Fadak daripada Fatimah a.s 57 Raja mencelah 57 Rasul s.a.w melantik khalifah-khalifah selepasnya 58 Raja meminta penjelasan 58 Nama-nama Imam Dua Belas 58 Raja meminta penjelasan 59 Bagaimana manusia boleh kekal dalam masa yang begitu panjang? 59 Raja meminta penjelasan 59 Al-‘Abbasi khuatir orang awam cenderung kepada Syi‘ah 59 Raja meminta penjelasan 61 Para imam mazhab empat 61 Mazhab Ja‘fari 61 Mati sebagai seorang jahiliyah 62 Raja meminta penjelasan 62 Kebenaran bersama Syi‘ah 63 Raja mengisytiharkan diri sebagai seorang Syi‘ah 63 Wazir mengisytiharkan diri sebagai seorang Syi‘ah 64 Sebahagian mereka kekal di atas mazhab mereka 64 Rancangan jahat 64 Kematian Nizam al-Mulk dan Malik Syah Saljuqi 64 Sebuah qasidah 65 Aku menghadiri muktamar dan dan menulis buku ini 65 Bibliografi 66 Indeks 68 BAHAGIAN PERTAMA Bismillahir Rahmanir Rahim Pendahuluan, Latar Belakang Malik Syah Dan Nizam al-Mulk, Sebab Yang Mencetuskan Dialog, Dialog Raja Dengan Wazirnya Tentang Syi‘ah, Cadangan Bagi Mengadakan Dialog Antara Sunnah Dan Syi‘ah, Demi Kebenaran, Syarat-Syarat Dialog Dan Lain-Lain. Pendahuluan Segala puji bagi Allah, selawat dan salam kepada Muhammad yang berbangsa Arab diutuskan sebagai rahmat kepada semesta alam dan keluarganya yang suci serta para sahabatnya yang setia. Wa ba‘du, dan selepas itu, maka ini adalah Kitab Muktamar Ulama’ Baghdad sebagai hasil dialog di antara Sunnah dan Syi‘ah yang telah dianjurkan oleh raja yang disegani Malik Syah Saljuqi di bawah penyeliaan seorang alim yang juga disegani wazir Nizam al-Mulk. Latar Belakang Malik Syah Dan Nizam al-Mulk Sesungguhnya Malik Syah bukanlah seorang yang fanatik buta, mengikut bapa-bapa dan moyang-moyangnya dengan perasaan asabiah buta. Malah beliau adalah seorang pemuda yang mempunyai minda terbuka, cintakan ilmu dan para ulama. Pada masa yang sama beliau leka dengan permainan dan perburuan. Wazirnya Nizam al-Mulk adalah seorang lelaki yang bijaksana dan zuhud, mempunyai kemahuan yang kuat, mencintai kebaikan dan ahlinya. Sentiasa ingin mengetahui hakikat sesuatu perkara. Beliau amat mencintai keluarga Rasulullah s.a.w. Beliaulah yang telah mengasaskan Madrasah Nizamiyyah di Baghdad. Beliau telah memberi gaji bulanan kepada ahli ilmu. Dan beliau mengasihani golongan fakir dan miskin. Sebab Yang Mencetuskan Dialog Pada suatu hari seorang alim yang masyhur bernama al-Husain bin Ali al-‘Alawi, seorang pemuka ulama Syi‘ah telah datang kepada Malik Syah. Manakala beliau keluar dari sisi Malik Syah, seorang di kalangan hadirin telah memperolok-olokkannya dan menjeling kepadanya, maka Malik Syah berkata: Kenapa anda telah memperolok-olokkannya? Lelaki itu berkata: Tidakkah anda mengetahui, wahai raja, bahawa dia adalah di kalangan golongan kafir di mana Allah telah memurkai dan melaknati mereka? Raja berkata di dalam keadaan hairan, kenapa? Tidakkah dia seorang muslim? Lelaki itu berkata: Tidak, dia adalah seorang Syi‘ah! Raja berkata: Apakah pengertian Syi‘ah? Tidakkah Syi‘ah satu golongan daripada golongan muslimin? Lelaki itu berkata: Tidak, sesungguhnya mereka tidak mengakui khilafah Abu Bakr, Umar dan Uthman. Raja berkata: Adakah di sana orang Islam yang tidak mengakui kepimpinan mereka bertiga? Lelaki itu berkata: Ya, mereka itu adalah Syi‘ah. Raja berkata: Jika mereka tidak mengakui kepimpinan para sahabat tersebut, kenapa orang ramai menamakan mereka muslimin? Lelaki itu berkata: Justeru itu, aku telah berkata kepada anda bahawa sesungguhnya mereka adalah kafir…, maka raja berfikir dengan serius, kemudian berkata: Wazir Nizam al-Mulk mesti datang bagi menjelaskan hal ini. Dialog Raja Dengan Wazirnya Tentang Syi‘ah Raja telah memerintahkan Nizam al-Mulik supaya datang kepadanya dan bertanya kepadanya tentang Syi‘ah: Adakah mereka muslimun? Nizam al-Mulk berkata: Ahl al-Sunnah berselisih pendapat, maka sebahagian mereka berkata bahawa Syi‘ah adalah muslimun, kerana mereka mengucap “Tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah, mereka sembahyang dan mereka berpuasa. Sebahagian lain pula berkata bahawa sesungguhnya mereka adalah kafir. Raja berkata: Berapakah bilangan mereka? Nizam al-Mulk berkata: Aku tidak menghitung bilangan mereka dengan tepat, tetapi mereka mewakili separuh bilangan muslimin lebih kurang (taqriiban) . Raja berkata: Adakah separuh muslimin kafir? (fa-hal nisfu muslimin kuffaar). Wazir berkata: Ahli ilmu menganggapkan mereka kafir, tetapi aku tidak mengkafirkan mereka. Cadangan Bagi Mengadakan Dialog Antara Sunnah Dan Syi‘ah Raja berkata: Adakah anda, wahai wazir, boleh mengumpulkan para ulama Syi‘ah dan Sunnah supaya kita dapat mengetahui hakikat sebenar? Wazir berkata: Ini adalah satu perkara yang susah, aku khuatir keselamatan raja dan negaranya!. Raja berkata: Kenapa? Keengganan Nizam Al-Mulk Untuk Mengadakan Dialog Wazir berkata: Kerana persoalan Syi‘ah dan Sunnah bukanlah perkara yang mudah, malah ia adalah persoalan hak dan batil. Sesungguhnya darah telah banyak mengalir kerananya, banyak perpustakaan dibakar kerananya, wanita-wanita ditawan kerananya, kitab-kitab banyak dikarang kerananya dan telah berlaku peperangan kerananya. Desakan Raja Malik Syah Supaya Diadakan Dialog Raja yang muda itu merasa hairan tentang keadaan ini, lalu beliau berfikir dengan serius, kemudian berkata: Wahai wazir, sesungguhnya anda mengetahui bahawa Allah telah mengurniakan kepada kita kerajaan yang besar, tentera yang ramai, maka kita wajib bersyukur kepada Allah di atas nikmat ini dan kesyukuran kita itu adalah dengan mengetahui hakikat sebenar; kita menunjuk orang yang sesat kepada jalan yang benar. Demi Kebenaran Pasti salah satu daripada dua golongan ini di atas kebenaran dan yang satu lagi di atas kebatilan, kita mesti mengetahui kebenaran, maka kita mengikutnya dan kita mesti mengetahui kebatilan, maka kita meninggalkannya. Justeru itu, anda hendaklah menyediakan, wahai wazir, muktamar seumpama ini dengan kehadiran para ulama Syi‘ah dan Sunnah, kehadiran ketua-ketua tentera, penulis-penulis dan semua pembesar negara. Apabila kita melihat bahawa sesungguhnya kebenaran itu bersama Ahl al-Sunnah, maka kita masukkan Syi‘ah kepada Ahl al-Sunnah dengan kekuatan. Wazir berkata: Apabila Syi‘ah tidak mahu memasuki mazhab Ahl al-Sunnah apakah anda akan melakukannya? Raja berkata: Kita bunuh mereka! Wazir berkata: Adakah boleh membunuh separuh bilangan muslimin? Penawar Dan Penyelesaiannya? Raja berkata: Apakah penawar dan penyelesaian? Wazir berkata: Anda tinggalkan perkara ini. Dialog di antara raja dan wazirnya yang bijaksana telah berakhir, tetapi raja telah menghabiskan masa satu malam berfikir dengan serius mengenainya tanpa tidur sehingga pagi. Bagaimana perkara yang penting ini tidak dipatuhi? Pada pagi hari raja telah memanggil Nizam al-Mulk dan berkata kepadanya: Baiklah kita memanggil ulama dua golongan itu, kita akan melihat sepanjang perbincangan di antara dua golongan itu, kebenaran di pihak mana. Apabila kebenaran bersama mazhab Ahl al-Sunnah, kita menyeru Syi‘ah dengan hikmah, nasihat yang baik dan kita menggalakkan mereka dengan harta dan pangkat sebagaimana Rasulullah s.a.w telah melakukannya kepada golongan yang dijinakkan hati mereka (muallaf). Dengan itu kita boleh berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin. Kekhuatiran Nizam Al-Mulik Untuk Mengadakan Muktamar Wazir berkata: Pendapat anda itu baik, tetapi sesungguhnya aku khuatir tentang muktamar ini! Raja berkata: Kenapa khuatir? Wazir berkata: Aku khuatir Syi‘ah akan mengalahkan Ahl al-Sunnah dan hujah-hujah mereka mengatasi hujah-hujah kita, justeru itu, orang ramai akan terjatuh di dalam syak dan kesamaran! Raja berkata: Adakah itu boleh terjadi? Wazir berkata: Ya, kerana Syi‘ah mempunyai dalil-dalil yang pemutus, hujah-hujah yang terserlah daripada al-Qur’an dan hadis-hadis yang membenarkan mazhab mereka dan kebenaran akidah mereka! . Persedian Dialog Hanya Lima Belas Hari Raja tidak berpuas hati dengan jawapan wazirnya, lalu berkata kepadanya: Tidak dapat dielakkan daripada mengadakan dialog di antara dua golongan itu supaya kebenaran terserlah kepada kita dan kita membezakannya dari kebatilan. Kemudian wazir meminta tangguh sebulan bagi melaksanakan perintahnya, tetapi raja yang muda itu tidak menerima penangguhan itu. Dan akhirnya beliau menentukan masa hanya lima belas hari sahaja. Di dalam lima belas hari, wazir Nizam al-Mulk telah mengumpulkan sepuluh orang lelaki di kalangan ulama Ahl al-Sunnah yang besar, pakar di dalam bidang sejarah, fikah, hadis, Usul dan debat. Sebagaimana beliau mengumpulkan sepuluh orang ulama di kalangan Syi‘ah yang besar. Syarat-Syarat Dialog Dialog adalah pada bulan Sya‘ban di Madrasah Nizamiyyah di Baghdad dan beliau telah menetapkan bahawa muktamar diadakan dengan syarat-syarat berikut: Pertama: Perbincangan akan berterusan daripada waktu pagi sehingga petang dikecualikan pada masa sembahyang, makan dan rehat. Kedua: Perbincangan mestilah bersandarkan kepada rujukan-rujukan yang dipercayai dan kitab-kitab yang muktabar, bukan secara dengar kata orang atau propaganda. Ketiga: Perbincangan yang berlaku di muktamar ini hendaklah ditulis. Pembukaan Muktamar Pada hari yang ditetapkan, raja, wazirnya dan ketua-ketua tenteranya duduk dan para ulama Ahl al-Sunnah duduk di kanannya. Sementara para ulama Syi‘ah duduk di kirinya. Wazir Nizam al-Mulk telah membuka muktamar dengan Bismillahir Rahmanir Rahim, selawat kepada Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya. Kemudian beliau berkata: Dialog mestilah bersih, dan matlamatnya adalah untuk mencari kebenaran. Justeru itu, janganlah menyebut seorang sahabat Rasulullah s.a.w dengan cacian atau kejahatan. Dialog Tentang Sahabat Pembesar ulama Ahl al-Sunnah bernama Syeikh al-‘Abbasi berkata: Sesungguhnya aku tidak boleh berbincang dengan mazhab yang mencaci semua sahabat. Pembesar ulama Syi‘ah bernama al-Husain bin Ali dikenali dengan al-‘Alawi berkata: Siapakah yang mengkafirkan semua sahabat? Al-‘Abbasi berkata: Kamu Syi‘ahlah yang mengkafirkan semua sahabat (yukaffiruuna kulla al-Sahabat). Al-‘Alawi berkata: Kata-kata anda ini menyalahi kenyataan. Tidakkah di kalangan para sahabat itu adalah Ali a.s, al-‘Abbas, Salman Ibn ‘Abbas, al-Miqdad, Abu Dhar dan lain-lain, adakah kami Syi‘ah mengkafirkan mereka? Al-‘Abbasi berkata: Aku maksudkan dengan semua sahabat itu adalah Abu Bakr, Umar, Uthman dan pengikut-pengikut mereka. Al-‘Alawi berkata: Anda telah bercanggah dengan diri anda sendiri, tidakkah ahli ilmu Mantiq menetapkan bahawa (mujibat juz’iyyah bertentangan dengan (saalibat Kulliyyah), anda berkata pada satu ketika bahawa Syi‘ah mengkafirkan semua sahabat dan anda berkata pula bahawa Syi‘ah mengkafirkan sebahagian sahabat. Wazir Mahu Campur Tangan Di sini Nizam al-Mulk mahu bercakap, tetapi seorang alim Syi‘ah tidak membiarkannya, lalu berkata: Wahai wazir yang mulia, tiada seorang yang berhak bercakap melainkan apabila kami lemah dari menjawabnya. Jika tidak, ia akan bercampur-aduk dengan perbincangan dan mengeluarkan percakapan dari tempatnya, tanpa keputusan. Kemudian seorang alim Syi‘ah berkata: Ternyata, wahai al-‘Abbasi, bahawa kata-kata anda bahawa Syi‘ah mengkafirkan semua sahabat adalah pembohongan yang jelas. Al-‘Abbasi tidak dapat menjawabnya, maka mukanya kemerahan kerana malu, kemudian berkata: Tinggalkan kami daripada perkara ini, tetapi adakah kamu Syi‘ah mencaci Abu Bakr, Umar dan Uthman? Al-‘Alawi berkata: Sesungguhnya di kalangan Syi‘ah ada golongan yang mecaci mereka dan ada golongan yang tidak mencaci mereka. Al-‘Abbasi berkata: Dan anda, wahai al-‘Alawi, daripada golongan mana? Al-‘Alawi berkata: Di kalangan mereka yang tidak mencaci sahabat, tetapi aku berpendapat bahawa sesungguhnya golongan yang mencaci sahabat mempunyai logik mereka. Dan cacian mereka kepada mereka bertiga tidak membawa kepada apa-apa; tidak kafir, tidak fasiq dan tidak pula berdosa kecil . Al-‘Abbasi berkata: Adakah anda telah mendengar, wahai raja, apa yang sedang dikatakan oleh lelaki ini? Al-‘Abbasi Cuba Mendapat Sokongan Raja Al-‘Alawi berkata: Wahai al-‘Abbasi, sesungguhnya percakapan yang anda tujukan kepada raja itu adalah satu kesalahan, kerana raja mengumpulkan kita untuk berbincang dengan hujah dan dalil, bukan dengan hukuman senjata dan kekuatan. Raja berkata: Apa yang dikatakan oleh al-‘Alawi itu adalah betul, apakah jawapan anda, wahai al-‘Abbasi? Al-‘Abbasi berkata: Jelas sekali bahawa barangsiapa yang mencaci sahabat adalah kafir. Al-‘Alawi berkata: Ia jelas di sisi anda dan bukan di sisiku, apakah dalil kekafiran orang yang mencaci sahabat berdasarkan ijtihad dan dalil, adakah anda mengakui bahawa orang yang dicaci oleh Rasul berhak dicaci? Al-‘Abbasi berkata: Aku mengakuinya. Rasul Mencaci Abu Bakr Dan Umar Al-‘Alawi berkata: Maka Rasul telah mencaci Abu Bakr dan Umar. Al-‘Abbasi berkata: Di manakah beliau s.a.w telah mencaci mereka? Ini adalah pembohongan terhadap Rasulullah. Al-‘Alawi berkata: Ahli sejarah di kalangan Ahl al-Sunnah telah menyebut bahawa Rasul telah menyediakan tentera di bawah pimpinan Usamah dan beliau s.a.w telah menjadikan Abu Bakr dan Umar di dalamnya dan bersabda: Allah melaknati orang yang mengundurkan diri daripada tentera Usamah” (La‘ana llahu man takhallafa ‘an jaisyi Usamah) Kemudian Abu Bakr dan Umar telah mengundurkan diri daripada tentera Usamah. Justeru itu, laknat Rasul meliputi mereka. Barangsiapa yang dilaknati Rasul, maka berhak bagi orang muslim melaknatinya pula. Di sini al-‘Abbasi menggelingkan kepalanya tanpa berkata apa-apa. Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah apa yang dikatakan oleh al-‘Alawi itu benar? Wazir berkata: Ahli Tawaarikh telah menyebutnya . Al-‘Alawi berkata: Jika mencaci sahabat adalah haram, kenapakah kamu tidak mengkafirkan Mu‘awiyah bin Abu Sufyan, kamu tidak menghukum kefasikannya dan kejahatannya, kerana dia telah mencaci Imam Ali bin Abu Talib a.s selama empat puluh tahun. Kemudian cacian kepadanya berterusan kepada tujuh puluh tahun? Raja Meminta Pertukaran Tajuk Raja berkata: Potong percakapan ini dan bercakaplah tentang tajuk yang lain. Al-Qur’an Al-‘Abbasi berkata: Di antara bid‘ah-bid‘ah kamu Syi‘ah bahawa kamu tidak mengakui al-Qur’an! Al-‘Alawi berkata: Malah bid‘ah-bid‘ah kamu Ahl al-Sunnah bahawa kamu tidak mengakui al-Qur’an. Dalilnya kamu berkata: Sesungguhnya al-Qur’an telah dikumpulkan oleh Uthman, adakah Rasul jahil apa yang dilakukan oleh Uthman; beliau s.a.w tidak mengumpulkan al-Qur’an sehingga Uthman datang dan mengumpulkannya, kemudian beliau berkata: Bagaimana al-Quran tidak dikumpulkan pada zaman Nabi sedangkan Nabi memerintahkan kaumnya dan para sahabatnya supaya mengkhatamkan al-Qur’an dan bersabda: “Barangsiapa yang mengkhatamkan al-Qur’an baginya pahala”. Adakah boleh Nabi s.a.w memerintahkan supaya al-Qur’an dikhatamkan sedangkan ia belum dikumpulkan, dan adakah kaum muslimin di dalam kesesatan sehingga Uthman menyelamatkan mereka? Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazirnya: Adakah benar kata-kata al-‘Alawi bahawa al-Qur‘an dikumpulkan oleh Uthman? Wazir berkata: Demikianlah ahli Tafsir dan Tawaarikh menyebutnya . Al-‘Alawi berkata: Ketahuilah, wahai raja, sesungguhnya Syi‘ah percaya bahawa al-Qur’an telah dikumpulkan pada masa Rasul sebagaimana kamu melihatnya sekarang, tanpa kurang meskipun satu huruf, tanpa penambahan meskipun satu huruf. Adapun Ahl al-Sunnah berkata: Sesungguhnya al-Qur’an telah ditambah dan dikurangkan, didahului dan dikemudiankan. Sesungguhnya Rasul tidak mengumpulkannya, tetapi Uthmanlah yang telah mengumpulkannya apabila beliau memegang jawatan khalifah. BAHAGIAN KEDUA Khalifah, Raja Meminta Penjelasan, Mengikuti Mereka Terdahulu, Khalifah Rasulullah, Raja Meminta Pertukaran Tajuk, Penyelewengan al-Qur’an, Sifat Tuhan, Muhkamah Dan Mutasyaabihah Dan Lain-Lain. Khalifah Al-‘Abbasi berkata: (Dia telah mengambil peluang): Adakah anda telah mendengar, wahai raja, sesungguhnya lelaki ini tidak menamakan Uthman khalifah, dia menamakannya amir sahaja. Al-‘Alawi berkata: Ya, Uthman bukanlah seorang khalifah. Raja berkata: Kenapa? Al-‘Alawi berkata: Sesungguhnya Syi‘ah percaya kebatilan khilafah Abu Bakr, Umar dan Uthman! Raja berkata: (Dengan hairan dan tanda tanya) kenapa? Al-‘Alawi berkata: Sesungguhnya Uthman telah dilantik melalui enam ahli majis syura yang ditetapkan oleh Umar. Semua ahli majlis syura yang enam tidak melantik Uthman, hanya beliau dilantik oleh tiga atau dua orang daripada mereka. Justeru itu, kesahihan Uthman bergantung kepada Umar. Dan Umar berkuasa melalui wasiat Abu Bakr. Justeru itu, kesahihan Umar bergantung kepada Abu Bakr. Abu Bakr berkuasa melalui perlantikan kumpulan yang kecil di bawah penguasaan pedang dan kekuatan. Lantaran itu, kesahihan khilafah Abu Bakr bergantung kepada senjata dan kekuatan. Lantaran itu, Umar berkata tentang haknya: Baiah orang ramai kepada Abu Bakr adalah secara faltatan jahiliyah . Allah telah menjaga muslimin akan kejahatannya. Barangsiapa yang kembali kepadanya, maka kamu bunuhlah dia. Abu Bakr sendiri berkata: Pecatlah aku, kerana aku bukanlah orang yang paling baik di kalangan kamu sedangkan Ali di sisi kamu. Justeru itu, Syi‘ah percaya bahawa khilafah mereka bertiga adalah batil daripada asasnya. Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah benar apa yang dikatakan oleh al-‘Alawi tentang kata-kata Abu Bakr dan Umar? Wazir berkata: Ya, demikianlah apa yang disebutkan oleh ahli sejarah! Mengikuti Mereka Terdahulu Raja berkata: Kenapakah kita menghormati mereka bertiga? Wazir berkata: Kerana mengikuti mereka terdahulu yang baik (al-Salaf al-Salih)! Al-‘Alawi berkata kepada raja: Wahai raja, katakanlah kepada wazir: Adakah kebenaran lebih berhak diikuti atau orang yang terdahulu (al-Salaf al-Salih)? Tidakkah mengikuti mereka terdahulu (Salaf) yang menyalahi kebenaran itu terkandung di dalam firman Allah dalam Surah al-Zukhruf (43): 23 “Sesungguhnya kami mendapati bapa-bapa kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”?! Khalifah Rasulullah Raja berkata: (Ditujukan kepada al-‘Alawi) Jikalaulah mereka bertiga bukan khalifah Rasulullah, maka siapakah khalifah Rasulullah? Al-‘Alawi berkata: Khalifah Rasulullah adalah Imam Ali bin Abu Talib. Raja berkata: Kenapa dia menjadi khalifah? Al-‘Alawi berkata: Kerana Rasul telah menentukannya sebagai khalifah selepasnya. Rasul telah memberi isyarat kepada khilafahnya pada tempat yang banyak. Di antaranya di satu tempat di antara Makkah dan Madinah bernama Ghadir Khum . Beliau s.a.w telah mengangkat tangan Ali dan bersabda kepada muslimin: Barangsiapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya, wahai Tuhanku, hormatilah orang yang mewalikannya dan tentanglah orang yang bermusuhan dengannya, tolonglah orang yang menolongnya, hinalah orang yang menghinanya”. Kemudian beliau s.a.w turun dari mimbar dan berkata kepada kaum muslimin- Bilangan mereka melebihi seratus dua puluh ribu orang-Berilah salam kepada Ali untuk kepemimpinan muslimin” Mereka telah datang kepada Ali seorang demi seorang seraya berkata kepada Ali: Al-Salamu ‘alaika ya Amir al-Mu’minin. Kemudian Abu Bakr dan Umar datang, lalu memberi salam kepada Ali a.s bagi kepemimpinan muslimin. Umar berkata: Alangkah beruntungnya anda wahai Ibn Abi Talib, anda telah menjadi maulaku dan maula semua mukmin dan mukminat . Justeru itu, khalifah yang sah bagi Rasulullah adalah Ali bin Abu Talib. Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazirnya: Adakah benar apa yang dikatakan oleh al-‘Alawi? Wazir berkata: Ya, demikianlah ahli sejarah dan ahli tafsir telah menyebutnya. Raja Meminta Pertukaran Tajuk Raja berkata: Tinggalkan tajuk ini dan bercakaplah tentang tajuk yang lain. Penyelewengan Al–Qur’an Al-‘Abbasi berkata: Sesungguhnhya Syi‘ah berkata tentang penyelewengan al-Qur’an (tahriif). Al-‘Alawi berkata: Malah ia masyhur di sisi kamu, wahai Ahl al-Sunnah, sesungguhnya kamu berkata tentang penyelewengan al-Qur’an! Al-‘Abbasi berkata: Ini adalah pembohongan yang jelas. Al-‘Alawi berkata: Tidakkah kamu meriwayatkan di dalam kitab-kitab kamu bahawa sesunggunya ayat tentang al-Gharaaniq telah turun ke atas Rasulullah, kemudian ia dimansuhkan dan dibuang daripada al-Qur’an? Raja berkata kepada wazir: Adakah benar apa yang didakwa oleh al-‘Alawi? Wazir berkata: Ya, demikianlah telah disebutkan oleh ahli Tafsir. Raja berkata: Bagaimana dipegang atau dipercayai Qur’an yang diselewengkan? Al-‘Alawi berkata: Ketahuilah, wahai raja, sesungguhnya kami tidak berkata sedemikian. Sesungguhnya ini adalah pendapat Ahl al-Sunnah. Justeru itu, al-Qur’an di sisi kami boleh dipercayai, tetapi al-Qur’an di sisi Ahl al-Sunnah tidak boleh berpegang kepadanya! Al-‘Abbasi berkata: Beberapa hadis terdapat di dalam kitab-kitab kamu dan daripada para ulama kamu? Al-‘Alawi berkata: Hadis-hadis itu, pertamanya: Sedikit, kedua: Ia adalah mauduk dan dipalsukan di mana musuh-musuh Syi‘ah telah menciptakannya untuk mencemarkan imej Syi‘ah. Ketiga: Perawi-perawinya dan sanad-sanadnya tidak benar. Dan apa yang dipindahkan daripada ulama, maka ia tidak boleh dipegang. Sesungguhnya para ulama kami yang besar di mana kami berpegang kepada pendapat mereka, tidak berkata tentang penyelewengan al-Qur’an (tahriif). Mereka tidak menyebut ayat-ayat al-Qur’an tentang pujian kepada berhala-berhala sebagaimana kamu menyebutnya bahawa kamu berkata: Dia berfirman : Itulah al-Gharaaniq yang tinggi Daripadanyalah syafaat diharap-harapkan Raja Meminta Pertukaran Tajuk Raja berkata: Tinggalkan tajuk ini dan bercakaplah tentang tajuk yang lain. Sifat Tuhan Al-‘Alawi berkata: Ahl al-Sunnah mengaitkan kepada Allah perkara yang tidak layak dengan kebesaran-Nya. Al-‘Abbasi berkata: Seumpama apa? Al-‘Alawi berkata: Umpamanya mereka berkata: Sesungguhnya Allah mempunyai jisim seperti manusia ketawa dan menangis, bagi-Nya tangan, kaki, mata, aurat dan kemasukan satu kaki-Nya ke dalam neraka pada hari Kiamat , sesungguhnya Dia turun dari langit kepada langit dunia di atas seekor keldai kepunyaan-Nya! Al-‘Abbasi berkata: Apakah yang menghalangnya daripada perkara tersebut sedang al-Qur’an menjelaskannya di dalam Surah al-Fajr (89):22 “Dan datanglah Tuhan mu; sedang malaikat berbaris”, Firman Allah di dalam Surah al-Qalam (68): 42 “Pada hari betis disingkapkan” dan firman Allah di dalam Surah al-Fath (48):10 “Tangan Allah di atas tangan mereka”. Hadis telah menceritakan bahawa sesungguhnya Allah memasukkan satu kaki-Nya pada neraka! Al-‘Alawi berkata: Adapun hadis tersebut adalah batil di sisi kami, satu pembohongan dan rekaan semata-mata, kerana Abu Hurairah dan orang seumpamanya telah membohongi Rasulullah (s.a.w) sehingga Umar telah melarang Abu Hurairah dari memindahkan hadis dan mencegahnya . Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir-: Adakah benar bahawa Umar telah melarang Abu Hurairah dari memindahkan hadis? Wazir berkata: Ya, dia telah melarangnya sebagaimana di dalam kitab-kitab Tawaarikh. Raja berkata: Bagaimana kita berpegang dengan hadis Abu Hurairah? Wazir berkata: Kerana ulama telah berpegang kepada hadis-hadisnya. Raja berkata: Jikalaulah begitu, ulama mesti lebih alim daripada Umar, kerana Umar telah melarang Abu Hurairah dari memindahkan hadis kerana pembohongannya terhadap Rasulullah, tetapi ulama mengambil hadis-hadisnya yang bohong?! Al-‘Abbasi berkata: Lihatlah, wahai al-‘Alawi, sekiranya hadis-hadis tentang Allah tersebut tidak benar, tetapi apakah yang anda lakukan dengan ayat-ayat al-Qur’an tadi? Muhkamah Dan Mutasyaabihah Al-‘Alawi berkata: Al-Qur’an ada ayat-ayat Muhkamaah yang merupakan Ummu al-Kitab dan ada ayat-ayat Mutasyaabihaah, ada zahir dan batin. Justeru itu, ayat Muhkamah yang zahir diamalkan menurut zahirnya. Adapun ayat Mutasyaabihah diturunkan di dalam bentuk majaaz dan kinaayah. Jikalau tidak, maka maknanya tidak sah pada akal dan syarak. Umpamanya apabila anda membawa pengertian firman Allah di dalam Surah al-Fajr (89):22 “Dan datanglah Tuhan mu; sedang malaikat berbaris” di atas pengertian zahirnya, maka anda bertentangan dengan akal dan syarak, kerana akal dan syarak menghukum kewujudan Allah pada setiap tempat dan setiap tempat tidak sunyi daripada-Nya selama-lamanya. Ayat tersebut pada zahirnya menunjukkan Allah itu berjisim dan jisim baginya ruang dan tempat. Ini bererti jika Allah berada di langit, maka Dia tidak berada di bumi. Jika Dia berada di bumi, maka Dia tidak berada di langit, ini adalah tidak benar pada akal dan syarak. Al-‘Abbasi telah gementar di hadapan logik ini dan tercengang untuk menjawabnya. Kemudian dia berkata: Aku tidak boleh menerima percakapan ini dan wajib di atas kita mengambil pengertian zahir kesemua ayat al-Qur’an. Al-‘Alawi berkata: Apakah anda lakukan dengan ayat-ayat Mutasyaabihah? Anda tidak boleh mengambil pengertian semua ayat al-Quran secara zahir, jika tidak, sahabat anda yang sedang duduk di sisi anda bernama syeikh Ahmad Uthman (Seorang yang buta penglihatannya, di kalangan sepuluh wakil Ahli al-Sunnah) daripada ahli neraka? Al-‘Abbasi berkata: Kenapa? Al-‘Alawii berkata: Kerana Allah berfirman di dalam Surah al-Israa’ (17) 72 “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, nescaya di akhirat nanti ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”, syeikh Ahmad adalah seorang buta di dunia, maka dia di akhirat akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar, adakah anda reda dengan perkara ini, wahai syeikh Ahmad? Syeikh Ahmad berkata: Tidak sekali-kali, sesungguhnya apa yang dimaksudkan dengan orang yang buta (al-A‘maa) di dalam ayat: Orang yang menyeleweng dari kebenaran. Al-‘Alawi berkata: Jikalaulah begitu keadaannya, maka tetaplah bahawa manusia tidak boleh beramal dengan semua ayat al-Qur’am secara zahir. Raja Meminta Pertukaran Tajuk Dari sini perdebatan sekitar zahir al-Qur’an telah berlaku dengan hangat. Al-‘Alawi telah mengalahkan al-‘Abbasi dengan dalil dan hujah sehingga raja berkata: Tinggalkan tajuk ini dan tukarlah kepada tajuk yang Penyelewengan Dan Kebatilan Ahl Al-Sunnah Al-‘Alawi berkata: Di antara penyelewengan dan kebatilan kamu-Ahl al-Sunnah tentang Allah bahawa kamu berkata: Sesungguhnya Allah memaksa hamba-hamba-Nya untuk melakukan maksiat dan perkara-perkara yang haram, kemudian Dia menyeksa mereka kerananya? Al-‘Abbasi berkata: Ini adalah benar, kerana Allah berfirman di dalam Surah al-Nisaa’ (4): 88 “Barangsiapa yang disesatkan Allah” dan di dalam Surah al-Taubah (9): 93 “Dan Allah telah mengunci mati hati mereka”. Al-‘Alawi berkata: Adapun kata-kata anda bahawa ia ada di dalam al-Qur’an, maka jawapannya: Sesungguhnya al-Qur’an ada majaaz dan ada kinayaat. Maka apa yang dimaksudkan dengan al-Dhalaal (kesesatan) bahawa Allah meninggalkan manusia yang celaka dan membiarkannya sehingga dia sesat iaitu sebagaimana kata-kata kita: Sesungguhnya kerajaan telah merosakkan orang ramai”. Ini bererti kerajaan telah meninggalkan mereka dengan keadaan mereka tanpa mengambil berat tentang nasib mereka, ini adalah yang pertama dan kedua: Tidakkah anda mendengar firman Allah di dalam Surah al-A‘raaf (7): 28 “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh perbuatan yang keji”, firman-Nya di dalam Surah al-Insaan (76): 3 “Sesungguhnya Kami telah menunjukkannya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada yang kafir” dan firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90): 10 “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. Ketiga: Tidak harus pada akal bahawa Allah menyuruh kepada kemaksiatan, kemudian Dia menyeksa pelakunya. Ini adalah jauh sekali daripada orang awam melakukannya dan bagaimana dengan Allah Yang Maha Adil dan Maha Tinggi. Maha Suci Allah daripada apa yang dikatakan oleh musyrikin dan golongan yang zalim. Raja berkata: Tidak, tidak, tidak mungkin Allah memaksa manusia melakukan kemaksiatan, kemudian menyeksanya, ini adalah satu kezaliman. Sesungguhnya Allah adalah bersih daripada kezaliman dan kejahatan. Allah berfirman di dalam Surah Ali Imraan (3): 182 “Sungguhnya Allah tidak menganiaya hamba-hamba-Nya”, tetapi aku tidak fikir bahawa Ahl al-Sunnah berpegang kepada kata-kata al- ‘Abbasi? Raja meminta Penjelasan Kemudian raja berpaling kepada wazir sambil berkata: Adakah Ahl al-Sunnah berpegang atau berpendapat sedemikian? Wazir berkata: Ya, ia adalah masyhur di kalangan Ahl al-Sunnah berpegang sedemikian! Raja berkata: Bagaimana mereka berkata dengan apa yang menyalahi akal? Wazir berkata: Bagi mereka takwilan dan dalil-dalil. Raja berkata: Sekalipun ada takwil dan dalil, maka ia tidak masuk akal dan aku tidak berpendapat selain daripada pendapat Sayyid al-‘Alawi bahawa Allah tidak memaksa seseorang ke atas kekafiran dan kemaksiatan, kemudian menyeksanya di atas perkara tersebut. Rasulullah S.A.W Syak Pada Kenabiannya Al-‘Alawi berkata: Kemudian sesungguhnya Ahl al-Sunnah berkata bahawa Rasulullah s.a.w telah mengesyaki pada kenabiannya sendiri. Al-‘Abbasi berkata: Ini adalah pembohongan yang nyata. Al-‘Alawi berkata: Tidakkah kamu melihat di dalam kitab-kitab kamu menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak terlambat Jibrail ke atasku sekali melainkan aku menyangka bahawa dia turun kepada Ibn al-Khattab” (Ma abta’a Jibrail ‘alayya marratan illaa wa zanan-tu anna-hu nazala ‘ala Ibn al-Khattab) sedangkan di sana terdapat beberapa ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahawa Allah telah mengambil perjanjian daripada Nabi Muhammad s.a.w di atas kenabiannya? Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah benar apa yang dikatakan oleh al-‘Alawi bahawa hadis ini ada di dalam kitab-kitab Ahl al-Sunnah? Wazir berkata: Ya, ia ada di dalam beberapa kitab Ahl al-Sunnah . Raja berkata: Ini adalah kafir secara langsung (al-Kufr bi-‘Aini-hi). Mencaci Rasulullah S.A.W Kemudian Ahl al-Sunnah mengatakan di dalam cacian mereka bahawa Rasulullah s.a.w telah membawa ‘Aisyah di atas bahunya bagi membolehkannya melihat ahli musik, adakah ini layak dengan makam Rasulullah dan kedudukannya? Al-‘Abbasi berkata: Ia tidak memudaratkan [nya ] . Al-‘Alawi berkata: Adakah anda akan melakukannya sedangkan anda seorang lelaki biasa, adakah anda membawa isteri anda di atas bahu anda untuk membolehkannya melihat ahli musik?? Raja Mencelah Raja berkata: Orang yang mempunyai sedikit malu dan cemburu tidak akan reda dengan perkara ini, bagaimana dengan Rasulullah yang menjadi contoh “malu dan cemburu” serta keimanan. Adakah benar perkara ini ada di dalam kitab-kitab Ahl al-Sunnah? Wazir berkata: Ya, ia ada di dalam sebahagaian kitab-kitab Ahl al-Sunnah! Raja berkata: Bagaimana kita beriman dengan seorang nabi yang mengesyaki pada kenabiannya sendiri? Al ‘Abbasi berkata: Riwayat ini mesti ditakwil? Al-‘Alawi berkata: Adakah riwayat ini layak ditakwil? Adakah anda mengetahui, wahai raja, bahawa Ahl al-Sunnah mempercayai khurafat-khurafat dan kebatilan-kebatilan? Al-‘Abbasi berkata: Khurafat-khurafat dan kebatilan-kebatilan yang mana anda maksudkan? Khurafat-Khurafat Ahl Al-Sunnah Al-‘Alawi berkata: Aku telah menerangkan kepada anda bahawa kamu Ahl al-Sunnah berkata: 1. Sesungguhnya Allah adalah seperti manusia bagi-Nya tangan, kaki, pergerakan dan diam. 2. Sesungguhnya al-Qur’an telah diselewengkan dan padanya pertambahan dan kekurangan . 3. Sesungguhnya Rasul melakukan perkara-perkara yang tidak dilakukan oleh manusia biasa seperti memikul ‘Aisyah di atas bahunya. 4. Sesungguhnya Rasul telah mengesyaki kenabiannya sendiri. 5. Sesungguhnya mereka yang telah datang sebelum Ali bin Abu Talib telah bersandar kepada pedang dan kekuatan untuk menegakkan diri mereka dan tanpa sandaran yang sah bagi mereka. 6. Sesungguhnya kitab-kitab mereka meriwayatkan bahawa Abu Hurairah dan seumpamanya adalah terdiri di kalangan mereka yang memalsukan hadis-hadis, di kalangan dajal-dajal dan ahli kebatilan yang lain. Raja Meminta Pertukaran Tajuk Raja berkata: Tinggalkan tajuk ini dan tukar kepada tajuk yang lain. Mengaitkan Perkara Yang Tidak Layak Al-‘Alawi berkata: Kemudian bahawa sesungguhnya Ahl al-Sunnah mengaitkan kepada Rasulullah s.a.w perkara yang tidak layak walaupun kepada manusia biasa! Al-‘Abbasi berkata: Seperti apa? Al-‘Alawi berkata: Seperti mereka berkata: Sesungguhnya Surah ‘Abasa (80): 1-2 “Dia bermuka masam dan berpaling, kerana telah datang seorang buta kepadanya” telah diturunkan tentang Rasul ! Al-‘Abbasi berkata: Apakah yang menghalangnya? Al-‘Alawi berkata: Yang menghalangnya adalah firman Allah di dalam Surah al-Qalam (68): 4 “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” dan firman-Nya di dalam Surah al-Anbiyaa’ (21): 107 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainklan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” Adakah masuk akal bahawa Rasul yang disifatkan oleh Allah dengan akhlaknya yang agung dan menjadi rahmat kepada alam semesta melakukan perbuatan yang tidak berperi kemanusiaan terhadap orang buta mukmin? Raja Mencelah Raja berkata: Adalah tidak masuk akal bahawa perbuatan ini keluar daripada Rasul kemanusiaan dan nabi rahmat. Jikalaulah begitu, wahai al-‘Alawi, kepada siapakah ayat ini diturunkan? Al-‘Alawi berkata: Hadis-hadis sahih dari keluarga Rasulullah di mana al-Qur’an telah turun di rumah mereka berkata: Sesungguhnya ayat tersebut telah turun tentang Uthman bin ‘Affan. Ia berlaku apabila Ibn Ummi Maktum berjumpa dengan Rasulullah, lantas Uthman menentangnya dan memalingkan belakangnya kepadanya. Di sini Sayyid Jamal al-Din; seorang ulama Syi‘ah yang hadir di dalam muktamar berkata: Telah berlaku kepadaku tentang kisah ini bersama Surah ini bahwa salah seorang ulama Nasara berkata kepadaku: Sesungguhnya Nabi kami adalah lebih baik daripada nabi kamu Muhammad (s.a.w). Aku berkata: Kenapa? Dia berkata: Sesungguhnya nabi kamu mempunyai akhlak yang jahat bermasam muka kepada golongan yang buta dan memalingkan belakangnya kepada mereka. Sementara nabi kami Isa mempunyai akhlak yang baik menyembuhkan golongan yang buta dan berpenyakit sopak. Aku berkata: Wahai Masihi, ketahuilah sesungguhnya kami adalah Syi‘ah, kami berpendapat bahawa Surah telah turun tentang Uthman bin ‘Affan dan bukan tentang Rasulullah s.a.w. Sesungguhnya nabi Kami Muhammad s.a.w mempunyai akhlak yang baik, sifat yang terpuji sebagaimana Allah berfirman di dalam Surah al-Qalam (68): 4 “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” dan firman-Nya di dalam Surah al-Anbiyaa’ (21): 107 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” Orang Masihi itu berkata: Sesungguhnya aku telah mendengar kata-kata ini daripada seorang khatib di Baghdad! Al-‘Alawi berkata: Apa yang masyhur di sisi kami bahwa sebahagian perawi yang jahat telah mengaitkan kisah ini kepada Rasulullah bagi melepaskan Uthman bin ‘Affan. Justeru itu, mereka telah mengaitkan pembohongan kepada Allah dan Rasul sehingga mereka membersihkan khalifah-khalifah mereka! Raja Meminta Pertukaran Tajuk Raja berkata: Tinggalkan tajuk ini dan bercakaplah tentang tajuk yang lain. Syi‘ah Mengingkari Iman Mereka Bertiga Al-‘Abbasi berkata: Sesungguhnya Syi‘ah mengingkari iman ketiga-tiga khalifah, pendapat ini tidak benar, kerana jikalaulah mereka tidak mukminin, kenapakah Rasulullah s.a.w telah menjalani hubungan perkahwinan dengan mereka (musaaharah)? Al-‘Alawi berkata: Syi‘ah percaya sesungguhnya mereka bertiga tidak mukminin dari segi hati dan batin mereka (qalban wa baatinan) sekalipun mereka menzahirkan Islam secara lidah dan kezahiran . Rasul yang mulia telah menerima Islam setiap orang yang mengucap dua kalimah syahadat sekalipun dia seorang munafik yang sebenar, tetapi beliau s.a.w telah memberi layanan kepada mereka dengan layanan muslimin. Lantaran itu, hubungan perkahwinan Nabi dengan mereka (musaaharah al-Nabi la-hum) dan hubungan mereka dengan Nabi adalah dari bab ini! BAHAGIAN KETIGA Dalil Tidak Berimannya Abu Bakr, Raja Mencelah, Dalil Tidak Berimannya Umar, Raja Meminta Penjelasan, Al-‘Abbasi Cuba Menghalang Raja Dari Menukar Mazhab, Saat-Saat Kesusahan Menimpa Al-‘Abbasi, Dalil Tidak berimannya Uthman Dan Lain-Lain. Dalil Tidak Berimannya Abu Bakr Al-‘Abbasi berkata: Apakah dalil tidak berimannya Abu Bakr? Al-‘Alawi berkata: Dalil-dalil yang kuat tentangnya adalah banyak. Di antaranya: Dia telah mengkhianati Rasulullah pada tempat yang banyak. Di antaranya: Larinya dari tentera Usamah dan penderhakaannya terhadap perintah Rasul di dalam perkara tersebut. Al-Qur’an al-Karim telah menafikan keimanan daripada setiap orang yang menyalahi Rasul, Allah berfirman di dalam Surah al-Nisaa’ (4): 65 “Maka demi Tuhanmu, (mereka pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” Abu Bakr telah menderhakai perintah Rasulullah (s.a.w) dan menyalahinya, maka dia termasuk di dalam ayat yang menafikan keimanan orang yang menyalahi Rasul. Dan tambahan pula bahawa Rasul (s.a.w) telah melaknati orang yang lari atau meninggalkan tentera Usamah. Kami telah menyebut terdahulu bahawa sesungguhnya Abu Bakr telah melarikan diri daripada tentera Usamah: Adakah Rasulullah melaknati mukmin? Tentu sekali: Tidak. Raja Mencelah Raja berkata: Jika begitu, maka benarlah kata-kata al-‘Alawi bahawa Abu Bakr bukan mukmin! Wazir berkata: Ahl al-Sunnah mempunyai takwil tentang larinya Abu Bakr daripada tentera Usamah. Raja berkata: Adakah takwil dapat menolak apa yang dilarang, jikalau kita membuka bab ini, nescaya setiap penjenayah akan menakwilkan bagi setiap jenayah yang dilakukannya? Pencuri berkata: Aku telah mencuri kerana aku seorang fakir. Peminum arak berkata: Aku telah meminum arak kerana aku banyak berdukacita dan penzina berkata …peraturan akan menjadi cacat, orang ramai berani melakukan maksiat, tidak, tidak… takwil tidak akan memanfaatkan kita. Muka al-‘Abbasi bertukar menjadi merah, dia menjadi bingung, dia tidak tahu apa yang dikatakannya. Akhirnya…dia berkata: Apakah dalil tidak berimannya Umar? Dalil Tidak Berimannya Umar Al-‘Alawi berkata: Dalil-dalil adalah banyak, di antaranya: Dia sendiri telah menerangkan bahawa dia bukan seorang mukmin! Al-‘Abbasi berkata: Di tempat mana? Al-‘Alawi berkata: Umar berkata: Aku tidak mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti syak aku pada hari al-Hudaibiyyah (maa syakaktu fi nubuwwati Muhammad mithla syakki yauma al-Hudaibiyyah). Kata-katanya menunjukkan: Dia sentiasa mengesyaki kenabian Nabi kita Muhammad s.a.w, tetapi syaknya pada hari al-Hudaibiyyah adalah lebih banyak, lebih mendalam dan lebih besar daripada syak-syak sebelumnya, wahai al-‘Abbasi, katakanlah kepadaku dengan nama Tuhan anda: Adakah orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) dikira mukmin? Al-‘Abbasi diam dan menggelengkan kepalanya kerana malu. Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah benar kata-kata al-‘Alawi bahawa Umar telah berkata sedemikian? Wazir berkata: Demikianlah telah diceritakan oleh beberapa perawi! Raja berkata: Sungguh hairan… hairan yang sangat, sesungguhnya aku menyangka Umar adalah golongan yang terdahulu memeluk Islam, imannya sebagai iman contoh, tetapi jelas sekarang bahawa asas keimanannya adalah syak dan subahat! Al-‘Abbasi Cuba Menghalang Raja Dari Menukar Mazhab Al-‘Abbasi berkata: Tunggu dahulu, wahai raja, kekalkan anda di atas akidah anda, janganlah anda ditipu oleh al-‘Alawi; pombohong ini. Raja telah menentang dengan mukanya kepada al-‘Abbasi seraya berkata di dalam keadaan marah: Sesungguhnya wazir Nizam al-Mulk berkata: Bahawa al-‘Alawi benar di dalam kata-katanya dan kata-kata Umar ada di dalam beberapa kitab dan ini si bodoh- Iaitu al-‘Abbasi- berkata: Bahawa al-‘Alawi adalah pembohong. Tidakkah ini satu kedegilan yang nyata? Suasana majlis tenang dan menakutkan. Raja telah marah dan tidak senang hati dengan kata-kata al-‘Abbasi… al-‘Abbasi dan para ulama Ahl al-Sunnah menunduk, wazir diam. Tetapi al-‘Alawi mengangkat kepalanya melihat ke arah muka raja untuk melihat keputusan? Saat-Saat Kesusahan Menimpa Al-‘Abbasi Saat-saat kesusahan menimpa al-‘Abbasi, dia berangan-angan supaya bumi terbelah di bawahnya, lantaran itu dia hilang padanya atau malaikat maut datang untuk mengambil nyawanya dengan segera, kerana malu yang amat sangat dan suasana yang menyusahkan. Sesungguhnya terserlah kebatilan mazhabnya. Terserlah khurafat akidahnya di hadapan raja, wazirnya dan semua ulama dan ketua-ketua tentera…, tetapi apakah yang dia akan lakukannya? Sesungguhnya raja telah menjemputnya untuk soal-jawab bagi membezakan di antara kebenaran dan kebatilan. Lantaran itu, dia mengumpulkan segala kekuatannya dan mengangkat kepalanya seraya berkata: Bagaimana pendapat anda, wahai al-‘Alawi, tentang Uthman tidak beriman di hatinya sedangkan Rasul telah mengahwinkannya dengan dua orang anak perempuannya? Ruqiyyah dan Ummi Kalthum? Dalil Tidak Beriman-nya Uthman Al-‘Alawi berkata: Dalil-dalil tentang tidak berimannya Uthman adalah banyak dan mencukupi tentang perkara ini: Sesungguhnya muslimin-sahabat di kalangan mereka- telah berkumpul menentangnya, lalu mereka membunuhnya. Dan kamu berpendapat bahawa Nabi s.a.w bersabda: Umatku tidak berhimpun di atas kesalahan. Maka adakah muslimun- termasuk sahabat-berkumpul untuk membunuh seorang mukmin? ‘Aisyah telah menyamakannya dengan Yahudi, merancang untuk membunuhnya dan berkata: Bunuhlah Na‘lathan-nama seorang lelaki Yahudi, kerana dia telah kafir, bunuhlah Na‘lathan, nescaya Allah membunuhnya . Sesungguhnya Uthman telah memukul Abdullah bin Mas‘ud, seorang sahabat yang mulia sehingga ditimpa penyakit hernia (burut) terlantar di atas hamparan kemudian mati. Dia telah mengusir Abu Dhar al-Ghiffari, seorang sahabat yang mulia di mana Rasul bersabda: Langit dan bumi sukar mendapati orang yang lebih benar percakapannya daripada Abu Dhar”. Dia telah mengusirnya dan menjauhkannya dari Madinah ke Syam sekali atau dua kali kemudian ke Rabdhah- Iaitu tanah kering di antara Makkah dan Madinah sehingga Abu Dhar mati kelaparan dan dahaga di Rabdhah sedangkan Uthman membahagi-bahagikan harta muslimin kepada kaum kerabatnya daripada Bani Umayyah dan Bani Marwan! Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah kata-kata al-‘Alawi itu benar? Wazir berkata: Ahli sejarah telah menyebutnya. Raja berkata: Bagaimana kaum muslimin mengambilnya sebagai khalifah? Wazir berkata: Secara syura. Al-‘Alawi berkata: Nanti dahulu, wahai wazir, janganlah anda berkata apa yang anda tidak tahu! Raja berkata: Apakah yang anda katakan, wahai al-‘Alawi? Menjadi Khalifah Dengan Wasiat Umar Al ‘Alawi berkata: Sesungguhnya wazir telah tersilap di dalam kata-katanya, sesungguhnya Uthman tidak dapat jawatan khalifah melainkan dengan wasiat daripada Umar dan undian tiga orang munafikin sahaja. Mereka adalah Talhah, Sa‘d bin Abi Waqqas dan ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf. Adakah tiga munafikin ini mewakili semua kaum muslimin? Kemudian ahli Tawaarikh telah menyebut bahawa mereka yang telah melantik Uthman telah berpaling tadah daripada Uthman manakala mereka melihat kezalimannya, pencabulannya terhadap para sahabat Rasulullah, mesyuaratnya tentang urusan kaum muslimin dengan Ka‘ab al-Ahbar, seorang Yahudi dan pembahagian harta kaum muslimin kepada Bani Marwan. Justeru itu, tidak hairanlah jika mereka bertiga telah menggalakkan orang ramai supaya membunuh Uthman! Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah benar kata-kata al-‘Alawi? Wazir berkata: Ya, demikianlah ahli sejarah telah menyebutnya! Raja berkata: Bagaimana anda berkata Uthman dapat menjadi khalifah dengan syura? Wazir berkata: Aku maksudkan dengan syura itu adalah mereka bertiga! Raja berkata: Adakah pemilihan tiga orang itu membenarkan syura? Wazir berkata: Sesungguhnya mereka bertiga itu telah dijanjikan oleh Rasulullah dengan syurga. Hadis Sepuluh Orang Dijamin Syurga Adalah Palsu Al-‘Alawi berkata: Nanti dahulu, wahai wazir, janganlah anda berkata apa yang tidak benar, sesungguhnya hadis “sepuluh orang masuk syurga” adalah pembohongan dan rekaan terhadap Rasulullah (s.a.w)! Al-‘Abbasi berkata: Bagaimana anda berkata bahawa ia satu pembohongan sedangkan ia diriwayatkan oleh perawi-perawi yang dipercayai? Al-‘Alawi berkata: Banyak dalil-dalil yang menunjukkan pembohongan hadis ini dan kebatilannya. Aku akan menyebut tiga dalil sahaja untuk anda: Pertama: Bagaimana Rasulullah menjamin seorang dengan syurga sedangkan dia telah menyakitinya, iaitu Talhah? Sesungguhnya sebahagian ahli tafsir dan ahli sejarah menyebut bahawa sesungguhnya Talhah berkata: Jika Muhammad mati, kami akan bernikah dengan isteri-isterinya selepasnya- atau aku akan mengahwini ‘Aisyah. Lantaran itu, Rasulullah merasa terkilan dengan kata-kata Talhah, lalu Allah menurunkan Surah al-Ahzab (33): 53 “Dan tidak boleh menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengahwini isteri-isterinya sesudah dia wafat selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah). Kedua: Sesungguhnya Talhah dan al-Zubair telah memerangi Imam Ali bin Abu Talib a.s dan sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah bersabda tentang hak Ali a.s: Wahai Ali, sesungguhnya peperangan anda adalah peperanganku dan perdamaian anda adalah perdamaianku” . Dan beliau s.a.w bersabda: Barangsiapa yang mentaati Ali, maka sesungguhnya dia mentaati aku dan barangsiapa yang menderhakai Ali, maka dia menderhakai aku” . Beliau s.a.w bersabda: Ali adalah bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali kedua-duanya tidak terpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan kepadaku”. Beliau s.a.w bersabda: Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali yang mana kebenaran berpusing bersamanya di mana dia berpusing” . Adakah orang yang memerangi Rasulullah dan menderhakainya di syurga? Dan adakah orang yang memerangi kebenaran dan al-Qur’an itu seorang mukmin? Ketiga: Sesungguhnya Talhah dan al-Zubair kedua-duanya telah merancang untuk membunuh Uthman, justeru itu, adakah mungkin Uthman, Talhah dan al-Zubair semuanya di syurga. Sebahagian mereka memerangi sebahagian yang lain sedangkan Rasulullah s.a.w bersabda: Pembunuh dan orang yang dibunuh kedua-duanya di neraka” Raja Meminta Penjelasan Raja bertanya kepada Wazir dengan penuh kehairanan: Adakah benar apa yang dikatakan oleh al-‘Alawi? Wazir berdiam diri tanpa berkata apa-apa. Begitu juga al-‘Abbasi dan kumpulannya berdiam diri tanpa bercakap apa-apa. Apakah Syaitan Memaafkan Orang Yang Bercakap Benar? Apakah yang mereka kata? Adakah mereka berkata benar? Adakah syaitan memaafkan orang yang mengakui kebenaran? Adakah nafsu ammarah yang meredai kejahatan sanggup tunduk kepada kebenaran dan kenyataan? Adakah anda terfikir bahawa mengakui kebenaran itu perkara yang mudah dan senang? Tidak! Sesungguhnya ia adalah perkara yang sukar, kerana ia terpaksa mencabut asabiah jahiliyah dan menyalahi hawa nafsu sedangkan manusia adalah pengikut hawa nafsu dan kebatilan melainkan mukminin yang mana bilangan mereka amat sedikit. Al ‘Alawi Bersedia Untuk Membawa Kitab-kitab Rujukan Al-‘Alawi telah memecahkan tabir diam, maka dia berkata: Wahai raja, sesungguhnya wazir, al-‘Abbasi dan ulama mengetahui kebenaran kata-kataku dan kenaran percakapanku serta hakikat hadisku. Sekiranya mereka mengingkari kata-kataku, maka sesungguhnya di Baghdad para ulama yang menyaksikan kebenaran kata-kataku. Sesungguhnya di dalam khazanah Madrasah ini kitab-kitab yang menyaksikan kebenaran kata-kataku, rujukan yang muktabar yang menerangkan kebenaran kata-kataku…. Sekiranya mereka mengakui kata-kataku, maka ini adalah apa yang dikehendaki. Jika tidak, maka aku bersedia sekarang, sekarang membawa kepada anda kitab-kitab, rujukan-rujukan dan saksi-saksi! Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah kata-kata al-‘Alawi itu benar bahawa kitab-kitab rujukan menunjukkan kebenaran kata-katanya dan kebenaran percakapannya? Wazir berkata: Ya. Raja berkata: Kenapakah anda berdiam diri pada permulaannya? Mencaci Sahabat Wazir berkata: Aku benci mencaci sahabat Rasulullah (s.a.w)! Al-‘Alawi berkata: Hairan! Anda benci perkara itu sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak membencinya, kerana Allah telah memperkenalkan sebahagian sahabat yang munafik dan memerintahkan Rasul-Nya supaya berjihad menentang mereka sebagaimana beliau s.a.w berjihad menentang golongan kafir dan Rasul sendiri telah melaknati sebahagian sahabatnya! Kata-Kata Semua Sahabat Adil Satu Pembohongan Wazir berkata: Tidakkah anda mendengar kata-kata ulama: Sesungguhnya semua sahabat adalah adil? Al-‘Alawi berkata: Aku telah mendengar kata-kata itu, tetapi aku mengetahui bahawa kata-kata itu adalah pembohongan dan rekaan, kerana bagaimana semua sahabat adil sedangkan Allah melaknati sebahagian mereka, Rasul melaknati sebahagian mereka, sahabat pula saling melaknati sesama mereka, memerangi sesama mereka, mencaci sesama mereka dan membunuh sesama mereka? Bagaimana Kaum Muslimin Mengambil Mereka Sebagai Khalifah Dan Mengikuti Mereka? Di sini al-‘Abbasi mendapati pintu tertutup di hadapannya, lantas dia datang dari pintu yang lain pula dan berkata: Wahai raja, katakanlah kepada al-‘Alawi bahawa jika ketiga-tiga khalifah itu tidak mukminin, bagaimana kaum muslimin mengambil mereka sebagai khalifah dan mengikuti mereka? Al-‘Alawi berkata: Pertama: Bukan semua kaum muslimin mengambil mereka sebagai khalifah, hanya Ahl al-Sunnah sahaja. Kedua: Sesungguhnya mereka yang percaya dengan khilafah mereka terbahagi kepada dua bahagian: Orang yang jahil dan orang yang degil (mu‘aanid). Adapun orang yang jahil, maka dia tidak mengetahui keburukan mereka dan hakikat mereka, mereka menggambarkan mereka sebagai manusia yang baik dan mukminin. Adapun orang yang degil, maka dalil dan bukti tidak memanfaatkannya selama dia berkeras di atas kedegilannya. Allah berfirman di dalam Surah al-A raaf (7): 146 “Jika mereka melihat setiap ayat-Ku mereka tidak beriman kepadanya” Surah al-Baqarah (2): 6 “Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu memberi peringatan, mereka tidak juga akan beriman”! Ketiga: Sesungguhnya golongan yang telah memilih mereka sebagai khalifah telah tersilap di dalam pemilihan mereka sebagaimana golongan Nasara telah melakukan kesilapan, mereka berkata “Al-Masih itu putera Allah”. Golongan Yahudi berkata: ‘Uzair adalah putera Allah” Surah al-Taubah )9): 30. Manusia wajib mentaati Allah dan Rasul. Wajib mentaati kebenaran bukan mentaati manusia di atas kesalahan dan kebatilan. Allah berfirman: Taatilah Allah dan Rasul…Surah al-Nisaa’ (4):59. Raja Meminta Pertukaran Tajuk Raja berkata: Tinggalkan tajuk ini dan bertukarlah kepada tajuk yang lain. Kesamaran Ahl Al-Sunnah Di antara kesamaran Ahl al-Sunnah dan kesalahan mereka bahawa mereka telah meninggalkan Ali bin Abu Talib (a.s.) dan mereka mengikut pendapat mereka yang terdahulu. Al-‘Abbasi berkata: Kenapa? Al-‘Alawi berkata: Kerana Ali bin Abu Talib telah dipilih oleh Rasul (s.a.w) sementara mereka bertiga tidak dipilih oleh Rasul. Kemudian dia berkata: Wahai raja, sesungguhnya anda sekiranya anda memilih seseorang untuk menduduki tempat anda atau khilafah anda, adakah wajib bagi menteri-menteri dan anggota-anggota kerajaan mematuhi anda? Atau mereka berhak memecat khalifah anda dan memilih orang lain di tempat anda? Raja berkata: Malah, wajib bagi mereka mematuhi khalifahku yang aku memilihnya sendiri, mereka wajib mematuhinya dan mentaati perintahku padanya. Syi‘ah Mengikuti Khalifah Rasulullah Al-‘Alawi berkata: Begitulah yang dilakukan oleh Syi‘ah, sesungguhnya mereka telah mengikuti khalifah Rasulullah yang telah dipilih olehnya dengan perintah Allah iaitu Ali bin Abu Talib dan mereka meninggalkan orang selain daripadanya. Sebab Ali Tidak layak Menjadi Khalifah? Al-‘Abbasi berkata: Tetapi Ali bin Abu Talib tidak layak menjadi khalifah disebabkan umurnya masih muda semantara Abu Bakr seorang yang tua . Di samping itu Ali bin Abu Talib telah membunuh ketua-ketua Arab dan menghancurkan penglima-penglima mereka . Justeru itu Arab tidak meredainya. Begitu juga Abu Bakr tidak meredainya! Orang Ramai Lebih Alim Daripada Allah Dan Rasul? Al-‘Alawi berkata: Adakah anda mendengarnya, wahai raja bahawa al-‘Abbasi berkata: Sesungguhnya orang ramai adalah lebih alim daripada Allah dan Rasul-Nya di dalam menentukan yang paling baik (al-Aslah), al-‘Abbasi tidak mengambil iktibar firman Allah dan sabda Rasul-Nya di dalam pemilihan Ali bin Abu Talib, malah dia mengambil kata-kata orang ramai untuk kepentingan Abu Bakr. Ini bererti bahawa Allah Yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana tidak mengetahui apa yang paling layak dan paling baik sehingga datang golongan jahil, lalu mereka memilih orang yang paling layak? Tidakkah Allah berfirman di dalam Surah al-Ahzaab (33): 36 “Dan tidaklah patut bagi lelaki yang mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan sesuatu ketetapan. Akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang menderhakai Allah dan Rasul-Nya maka susungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”? Tidakkah Allah berfirman di dalam Surah al-Anfaal (8): 24 “Wahai golongan yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”? Al-‘Abbasi berkata: Tidak sekali, sesungguhnya aku tidak berkata bahawa manusia adalah lebih mengetahui daripada Allah dan Rasul-Nya. Al-‘Alawi berkata: Jikalau begitu, kata-kata anda tidak mempunyai makna. Jikalau Allah dan Rasul telah memilih seorang tertentu menjadi khalifah, maka wajib anda mematuhinya sama ada orang ramai meredainya ataupun tidak! Al-‘Abbasi berkata: Tetapi kelayakan Ali bin Abu Talib adalah sedikit? Al-‘Alawi berkata: Pertama: Makna kata-kata anda bahawa sesungguhnya Allah tidak mengetahui Ali bin Abu Talib dengan sebenarnya, maka Dia tidak mengetahui kelayakkannya adalah sedikit, justeru itu Dia telah melantiknya menjadi khalifah. Ini adalah kekufuran yang nyata. Kedua: Sebenarnya kelayakan untuk menjadi khalifah adalah banyak pada Ali bin Abu Talib. Sementara orang lain tidak banyak kelayakan mereka! Al-‘Abbasi berkata: Apakah kelayakannya? BAHAGIAN KEEMPAT Kelayakan Ali A.S Menjadi Khalifah, Raja Meminta Penjelasan, Penentangan Umar Terhadap Rasulullah S.A.W, Raja Meminta Penjelasan, Raja Mencelah, Raja Tertarik Tentang Mut‘ah, Raja Meminta Para Hadirin Turut Berdialog Dan Lain-Lain. Kelayakan Ali A.S Menjadi Khalifah Al-‘Alawi berkata: Sesungguhnya kelayakannya adalah banyak, maka pertamanya adalah penentuan atau pilihan adalah daripada Allah dan Rasul-Nya. Kedua: Ali bin Abu Talib adalah sahabat yang paling alim. Justeru itu, Rasulullah bersabda: Orang yang paling alim di dalam perundangan di kalangan kamu adalah Ali” Umar bin al-Khattab berkata: Ali adalah orang yang paling alim di kalangan kami di dalam bidang kehakiman ” Rasulullah s.a.w bersabda: Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang menghendaki bandar atau hikmat, maka hendaklah dia mendatangi pintunya” Ali a.s berkata: Sesungguhnya Rasulullah telah mengajar aku seribu bab ilmu di mana beliau s.a.w membuka untukku setiap pintu seribu bab” . Ini ternyata orang alim itu diutamakan daripada orang jahil. Allah berfirman di dalam Surah al-Zumar (39): 9 “Adakah sama mereka yang mengetahui dengan mereka yang jahil” Ketiga: Ali a.s tidak berhajat kepada orang lain sedangkan orang lain berhajat kepadanya . Tidakkah Abu Bakr berkata: Pecatlah aku, kerana aku bukanlah orang yang paling baik pada kamu dan Ali adalah pada kamu. Tidakkah Umar berkata lebih daripada tujuh puluh kali: Jikalau Ali tidak ada, nescaya binasalah Umar” . “ Mudah-mudahan Allah tidak mengekalkan aku dengan permasalahan di mana anda tidak ada padanya, wahai Abu al-Hasan” . “Jangan seorang daripada kamu mengeluarkan fatwa sedangkan Ali berada di masjid” Keempat: Sesungguhnya Ali bin Abu Talib tidak pernah menderhakai Allah dan beliau a.s tidak pernah menyembah selain daripada Allah, tidak pernah sujud kepada berhala sepanjang hidupnya sedangkan mereka bertiga telah menderhakai Allah dan menyembah selain daripada Allah dan sujud kepada berhala-berhala. Allah berfirman di dalam Surah al-Baqarah (2): 124 “Janjiku tidak akan dicapai oleh golongan yang zalim”. Adalah jelas sekali bahawa penderhaka adalah seorang yang zalim, justeru itu, dia tidak layak untuk mendapat janji Allah iaitu kenabian dan khilafah. Kelima: Sesungguhnya Ali bin Abu Talib mempunyai fikiran yang sejahtera dan akal yang tinggi, pendapat yang tepat berteraskan Islam. Sementara orang lain mempuyai pendapat yang cetek berteraskan syaitan, Abu Bakr berkata: Sesungguhnya bagiku syaitan yang menggodaku. Sesungguhnya Umar telah menyalahi Rasulullah pada tempat yang banyak. Uthman mempunyai akal yang lemah, keluarganya memberi kesan sampingan yang buruk terhadapnya umpamanya: Marwan bin al-Hakam telah disabdakan oleh Rasulullah s.a.w sebagai Wazagh bin al-Wazagh (cicak anak lelaki cicak) . Rasulullah s.a.w telah melaknati Marwan dan keturunannya melainkan mukmin, maka bilangan mereka adalah sedikit. Begitu juga dengan Ka‘ab al-Ahbar si Yahudi dan lain-lain! Raja Meminta Penjelasan Raja berkata kepada wazir: Adakah benar bahawa Abu Bakr berkata: Sesungguhnya bagiku syaitan yang menggodaku”? Wazir berkata: Ini terdapat di dalam kitab-kitab sejarah . Raja berkata: Adakah benar Umar telah menyalahi Rasulullah? Wazir berkata: Kita akan meminta penjelasan daripada al-‘Alawi apa yang dia masksudkan dengan kata-katanya? Penentangan Umar Terhadap Rasulullah S.A.W Al-‘Alawi berkata: Ya, para ulama Ahl al-Sunnah telah menyebutnya di dalam kitab-kitab muktabar mereka sesungguhnya Umar telah menentang Rasulullah (s.a.w) pada beberapa tempat, di antaranya: Pertama: Ketika Nabi s.a.w mahu mengerjakan sembahyang ke atas Abdullah bin ‘Ubayy, sesungguhnya Umar telah menentang Rasulullah dengan tentangan yang keras (qaasian) sehingga Rasulullah s.a.w terasa terkilan sedangkan Allah berfirman di dalam Surah al-Tubat (9): 61 “Dan golongan yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih” Kedua: Ketika Rasulullah s.a.w memerintahkan supaya dipisahkan di antara ‘Umrah tamattu‘ dan Haji tamattu‘ lalu mengharuskan suami menghampiri isterinya di antara ‘umrah dan haji. Lalu ‘Umar menentangnya dan berkata dengan kata-kata kesat: Adakah kami mengerjakan ihram sedangkan zakar-zakar kami masih mengeluarkan air mani” (a-nuhrimu wa mazaakiiru-naa taqturu maniyyan). Lantas Nabi (s.a.w) berkata: Sesungguhnya engkau tidak akan beriman dengan perkara ini selama-lamanya”. Dengan sabda ini bererti bahawa Nabi s.a.w mengetahui bahawa Umar adalah di kalangan mereka yang beriman dengan sebahagian [hukum] dan kafir dengan sebahagian [hukum]. Ketiga: Tentang nikah mut‘ah bahawa Umar tidak mempecayainya. Apabila dia memerintah dan merampas kerusi khilafah, dia berkata: Dua mut‘ah adalah halal pada masa Rasulullah, tetapi aku mengharamkannya dan aku menyeksa ke atas kedua-duanya [pelakunya]” (Mut‘ataani kaanataa ‘ala ‘ahdi Rasulillah wa ana uharrimu-huma wa u‘aqibu ‘alai-himaa) sedangkan al-Qur’an menyatakan di dalam Surah al-Nisaa’ (4): 24 “Dan isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka. Maka berilah kepada mereka maharnya”. Ahli tafsir menyebut bahawa ayat tersebut diturunkan tentang harusnya mut‘ah. Dan inilah amalan kaum muslimin sehingga pada pemerintahan Umar. Manakala Umar telah mengharamkannya, perzinaan dan kejahatan di kalangan kaum muslimin semakin bertambah. Justeru itu, Umar telah menggantungkan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu perzinaan dan kejahatan meluas! Lantaran itu, dia termasuk di dalam firman Allah Surah al-Maa’idah (5): 44. 45, 47 “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah golongan yang kafir” “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah golongan yang zalim” Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah golongan yang fasik” Keempat: Di dalam peperangan al-Hudaibiyyah sebagaimana telah disebutkan bahawa Umar telah mengesyaki kenabian Muhammad s.a.w. Di tempat yang lain di mana Umar telah menyalahi Rasulullah dan menyakitinya dengan kata-katanya yang kesat terhadap Rasulullah! Raja berkata: Pada hakikatnya aku juga tidak reda dengan nikah mut‘ah! Al-‘Alawi berkata: Adakah anda mengakui bahawa ia adalah daripada perundangan Islam atau tidak? Raja berkata: Aku tidak mengakuinya. Al-‘Alawi berkata: Apakah makna Surah al-Nisaa’ (4): 24 “Dan isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka. Maka berilah kepada mereka maharnya”? Dan apakah makna kata-kata Umar: Dua mut‘ah adalah halal pada masa Rasulullah, tetapi aku mengharamkannya dan aku akan menyeksa ke atas kedua-duanya [pelakunya]”? Tidakkah kata-kata Umar menunjukkan bahawa nikah mut‘ah adalah

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.